"To live, and to fall into decadence - that's the proper process. Is there any path to true human salvation outside of it?"
"Humans can never attain true freedom. The reasons? We live, we're destined to die, and we think."
"What is the attitude that people, humans, should adopt? In a word it is as simple as this: we must honestly acknowledge our desires and dislikes. When we like something, we should come right out and say so. When we love a woman we should let the world know. The conventions of polite society, the taboos on romance, the rules dictating the places of duty and emotion - we should strip ourselves of those fraudulent kimonos and stand with out naked hearts fully exposed."
"Decadence is, in and of itself, always a trifling, undesirable thing, but it does exhibit in an irrefutable manner a great truth about the human condition: each of us is alone. In other words, to be decadent is, always, to stand alone, to be abandoned by others, to be forsaken by parents. To be decadent is to accept a destiny where we have no choice but to stand on our own two feet."
Ini buku pertama Sakaguchi Ango yang saya baca. Karya sesama penulis Buraiha, Dazai, sudah luar biasa terkenalnya dan banyak diterjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa Indonesia, sampai-sampai beberapa penerbit mengeluarkan versi masing-masing dari buku yang sama. Akan tetapi, baru kali ini, seingat saya, ada yang menerbitkan buku-buku Sakaguchi. Penulis Buraiha satu lagi, OdaSaku, maksud saya Oda Sakunosuke, belum ada yang menyentuh di Indonesia. Mau bilang kepopuleran Dazai sepertinya gara-gara Bungo Stray Dogs, tapi Sakaguchi dan OdaSaku juga muncul di situ...
Anyway! Terbitnya enam volume karya Sakaguchi di Indonesia, berkat Nyorangan Books, sangat membahagiakan, walaupun saat membaca esai-esainya ini mungkin yang timbul dalam pikiran Anda adalah "Orang ini kenapa?" Bila mengharapkan tulisan-tulisan yang sangat menguarkan 'kejepangan', mungkin Sakaguchi bukanlah jawabannya. Ia tidak menawarkan prinsip zen, wabisabi, ikigai, atau apalah. Ia justru kerap sinis membicarakan soal Jepang, terang-terangan mengatakan tidak peduli dan tidak tahu dengan budaya tradisional Jepang, tidak keberatan dengan 'meniru' budaya lain. Akan tetapi, saya kira, sebenarnya ia sangat peduli kepada manusia, lebih spesifik lagi 'manusia Jepang'. Sepertinya ia juga tidak berkompromi dengan prinsip 'berguna itu indah'. Pemikiran-pemikiran yang menarik, walaupun saya tidak tahu apakah sarannya bagi bangsa untuk mengalami dekadensi sebelum kembali bangkit lagi itu benar-benar bisa dipraktikkan beramai-ramai.
Oh ya, berdasarkan tulisan di akhir buku, ternyata penerjemah buku-buku Sakaguchi telah berpulang. Beliau sejak tahun 2022 membagikan sejumlah terjemahannya kepada penerbit-penerbit independen di Indonesia. Terima kasih banyak Teh, saya jadi bisa menikmati karya-karya Sakaguchi.
стосовно «війна й одна жінка» - з плюсів: цікавий опис того, як персонажі переживають війну; деякі моменти були неприємними через їхню реалістичність; ставлення персонажів одне до одного дуже підходить до умов в яких вони існують з мінусів: читаючи частину від обличчя чоловіка, я подумала, що Анго вдалось прописати жінку з травматичним досвідом, але коли дійшла до її pov то трохи засмутилась, бо вона все ж виявилась жертвою male gaze (про це кричить той факт, що у чоловіка є імʼя, а у неї - ні)
This was the book that motivated me to get my shit together and continue learning Japanese. It is as universal to the human conditions as Man's Search for Meaning.
This is one of the best and most underrated political essays I have read. The only problem I noticed is that it will be hard for someone to fully understand its significance and meaning without knowing the context. The essay was written after World War 2 by Ango Sakaguchi to give hope to the Japanese people but many of the things said there are true for all of us, regardless of where we live.
You can find the English translation at nanjousachi.com