Sabit memang bukan bocah yang naif, meski baru saja masuk SMA. Tapi, jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Saira di hari awal OSPEK telah membuka mata dan hatinya bahwa hidup sama sekali tidak naif. Ini dimulai dari Saira, kakak kelasnya yang berusia dua tahun lebih tua. Mereka ternyata sepupu jauh yang dijodohkan dalam transaksi keluarga besar yang penuh tikungan kepentingan. Puncaknya, mereka harus melawan ayah Saira, sang mantan Letnan Jenderal rezim Orde Baru yang otoriter. Bergandengan tangan, Sabit dan Saira, berusaha menentang itu semua. My Rocket Queen adalah novel tentang pemberontakan anak muda yang dibalut dalam konflik percintaan, peliknya keluarga, sahabat, dan idealisme bermusik.
seorang penulis skenario film asal Indonesia. Salman Aristo mengambil jurusan jurnalistik di Universitas Padjajaran Bandung, dan merintis karier awal sebagai penulis naskah (script writer) di tahun 2004. Bersama istrinya, Ginatri S. Noer, dia menulis skenario untuk film Ayat-Ayat Cinta.
Satu pertanyaan yang muncul setelah menyelesaikan novel ini: kenapa aku nggak paham? 😥
Riuh, adalah gambaran yang pas buat novel ini. Banyak banget yang disampaikan. Musik, situasi politik, buku. Sayangnya, aku gagal paham dengan lika-liku perjodohan Sabit-Saira ini. Kenapa mereka dijodohin, apa pengaruhnya ke politik, Om Mahesa, papanya Sabit, masa depan, dan lain sebagainya yang disebut-sebut di novel ini. Aku gagal menangkap efek atau tujuan dari perjodohan itu, padahal kayaknya itu inti yang penting.
Tapi aku sangat menikmati napas tahun 90-an di novel ini. Seru banget! Diksinya juga luar biasa. Jalinan katanya terasa liar dan indah. Apa mungkin aku terlalu menikmati hal-hal ini sampai gagal menangkap jalan cerita? Wkwk bisa jadi. Nanti kapan-kapan mau baca ulang deh biar paham.
Beberapa kalimat keren yang aku tandai:
"Bersembunyi macam anak band bikin lagu jelek, lalu ngeles itu konsep sama sekali bukan gaya Bahar Salim." - hal 80-
"Dengan ruang pilihan yang begitu sempit, dia amat bebas." -hal 75-
Masih banyak lagi kalimat-kalimat tajam yang indah di novel ini.
Enggak ada deskripsi yang cukup pas bisa menggambarkan buku ini. Beautifully written. Lupa Ending-nya gimana, tapi emang vibe-nya dark memang. Gimana nyebutnya ya, tragic romantic? Dark romance? You name it, lah. Yang pasti bukunya emang bagus. Enggak terlalu puitis dan metaforanya nggak terlalu gagal dipahami. Pokoknya bagus, deh.
Setelah dibuat jatuh cinta dengan setting tahun 1990-an dan unsur musik rock di novel “Brianna dan Bottomwise” karya Andrea Hirata, aku ingin baca lagi dong novel karya penulis lokal dengan setting tahun yang sama. Syukurlah ada “My Rocket Queen” karya Salman Aristo yang diterbitkan oleh @BentangPustaka
#MyRocketQueen terinspirasi dari judul lagu “Rocket Queen” milik Guns n Roses (yang setelah aku dengarkan ternyata asyik juga). Membaca blurb-nya aku mengira isinya mungkin agak berat karena ada unsur pemberontakan di situ. Ah, ternyata aku salah. Isinya memang agak berat sih, karena isu yang diangkat cukup banyak tentang lika-liku masa remaja anak kota – yang mungkin bagiku tidak terlalu familiar.
Sabit – tokoh utama kita – baru masuk SMA dan jatuh cinta sama Saira - senior di sekolahnya. Well, ternyata nasib mempertemukan mereka dalam situasi berbeda yang mengharuskan mereka melalui masa muda mereka tidak seindah yang mereka bayangkan.
Aku cukup kaget ternyata isi buku ini cukup berani (syukurlah dilabeli 18+) karena selain bercerita tentang mimpi, cinta, dan gejolak masa muda, beberapa kata kasar, pergaulan anak remaja kota dengan miras, narkoba, musik, balapan liar, dan beberapa aksi kriminal mewarnai isi buku ini. Bagiku yang tumbuh di kota kecil sih cukup kaget ya. Namun, semakin aku baca, ngerasa wajar dan masuk akal untuk cerita di buku ini.
Novel in tipis. Hanya 190 halaman, tetapi isinya cukup padat. Dengan sampul yang kece, gaya bercerita yang lincah, beberapa kejutan alur cerita, aku bisa mengatakan bahwa novel ini adalah kisah cinta dan mimpi anak remaja yang berbeda dibandingkan buku-buku lainnya yang pernah aku baca. Secara keseluruhan, aku puas sih dengan novel “My Rocket Queen” ini.
Ah, jadi ingin baca cerita nuansa tahun 90-an lagi kan. Kok rasanya nagih ya? Hehehe...
Novel ini bentuk dan isinya nge-rock banget. Tipis dan padat. Tiap bab-nya pendek-pendek, temponya cepat, sat set. Saking sat-setnya ngerasa terlalu sinetron pas bagian perjodohan Sabit dan Saira. Bayangkan: Cewek yang ditaksir Sabit ternyata Saira, kakak kelasnya, yang ternyata sepupu jauhnya, yang ternyata dijodohokan dengannya, dan ternyata ada udang di balik batu.
Yakni, konflik orangtua mereka yang, entah kenapa, bangunannya terasa agak rapuh. Padahal konflik itulah point utamanya. Minimal untuk memahami dengan mudah bahwa perjodohan Sabit-Saira sebagai solusi 'politik' masing-masing keluarga. Hanya ini saja yang masih mengganjal dan jadi lubang di sepanjang pembacaanku. Sisanya oke dan nge-rock!
My Rocket Queen ini keutuhan yang nikmat jika mengintip dari dunia Sabit dan Saira sendiri. Dunia remaja '90-an yang amburadul tapi jenius. Kesukaan, gairah, pergaulan, perlawanan, pertanyaan soal hidup, sekaligus roman picisan yang berkelindan mana yang tabu dan tidak. Karakternya kuat.
Ditambah bahasanya gaul dan ringan meski banyak istilah yang mungkin hanya anak musik saja yang tahu. Dialog dan guyonannya sama sekali tidak norak. Segar dan cukup mengejutkan sebagai novel tentang "pemberontakan anak muda yang dibalut dalam konflik percintaan, peliknya keluarga, sahabat, dan idealisme bermusik."
Bab di novel ini ditutup dengan ending yang hangat. Terima kasih. Happy or sad, tergantung dari mana caramu melihat. Begitulah.
"Rocket Queen" adalah judul salah satu lagunya Guns n' Roses yang jadi favorit Saira di novel ini, perempuan yang ditaksir Sabit. Dan itulah yang jadi musabab judul cerita ini.
My Rocket Queen ini novel orisinal perdana Mas Salman Aristo, penulis skenario Garuda di Dadaku. Suprisingly, buku ini nyaman banget dibaca. Selain potongan per babnya yang cakep, novel ini juga menyediakan playlist yang bisa kalian dengerin dengan scan barcode di halaman depan/belakang buku.
Bercerita tentang lika-liku hubungan Sabit-Saira dengan latar tahun 90-an, novel ini menyinggung banyak lini; musik, politik, keluarga, kenakalan remaja, sampai inklusivitas.
Menunggangi tema musik rock lewat sudut pandang remaja laki-laki pada masanya, aku belajar banyak istilah. Ternyata risetnya mendalam, karena narasi deskriptif yang sedetail itu tentang musik Rock—sampai aku pusing sendiri, haha. Hal yang kusuka juga, novel ini memilih Slank sebagai salah satu tolok ukur musik rock dan culture "pemberontakan lewat karya" di Indonesia. Figur mentok.
Pengalaman membaca beberapa novel pop, ini adalah salah satu yang bermutu dan tetap asik, bukan sekadar haha-hihi-halu belaka.
Kayaknya satu-satunya yang kurang cocok sama aku ada di bagian melankolisnya. Kisah cinta yang terlalu mulus dan drama tipikal remaja; egosentris dan agak sembrono ketimbang berani.
Tapi aku cukup yakin novel ini akan jadi pengalaman baik untuk dibaca dengan bijaksana.
Ketika cerita cinta berbalut nuansa 90an dihadirkan, seketika nostalgia bermunculan. Iya, tahun 90an saya masih SD-SMP tapi dibesarkan dengan om pencinta musik membuat saya mengenal beberapa referensi lagu yang disajikan Salman Aristo. Latar belakang sebagai jurnalis musik membuat Salman Aristo lancar menulis cerita cinta berbalut musik 90an. Alur ceritanya juga cepat, tidak pakai basa-basi. Namun saya jadi merasa diburu-buru untuk menyelesaikannya, seperti tidak diberikan jeda. Buku ini bukti tertulis gejolak anak muda dalam menyikapi masalah hidup, seperti percintaan, pertemanan, dan keluarga.
Agak merasa kurang nendang di bagian penutup cerita, tetapi overall ceritanya cukup segar, khas anak-anak 90an yang mungkin pembaca baru kita belum pernah tahu tentang bagaimana menarik dan hebohnya dunia musik, gaya hidup anak-anak jaman itu. Penuh dengan referensi musik khas 90an, kehidupan anak tongkrongan yang penuh dengan narkoba, balapan liar dan tentu saja gejolak cinta akan lawan jenis yang menarik.
Buku sama artinya dengan keajaiban bagi pencintanya. Melalui hobi Saira, Salman Aristo juga menyelipkan beberapa penulis kecintaan tanah air: Chairil Anwar, Arswendo Atmowiloto, Arifin C. Noer dan Jajang C. Noer, serta W.S. Rendra. Sebagai pembaca sekaligus pembelajar, tentu senang menjumpai bacaan fiksi yang sarat nutrisi semacam ini.
A novel filled with knowledge and conflict. About family, about romance, about youth rebellion. The novel is full of surprises and has a satisfying ending. Don't think you're only going to find out about teenage romance, it's much, much more than that!
Untuk ukuran penulis skenario kawakan maka buku ini menjadi tidak istimewa. Entahlah, padahal senjatanya cukup bagus: 90-an, musik, aktivisme. Entahlah?
Sebetulnya ingin memberi rating 3,5 karena jalan ceritanya agak membosankan. Kurang terhubung juga dengan karakter utamanya si Sabit yg menurutku terlalu "liar" dan mungkin belum sempat mendalami karakternya lebih jauh, kita sudah dijerumuskan ke dalam konflik perjodohan dengan Saira. Konflik dgn teman-temannya aja udah terasa terlalu maksa. Tapi konflik makcomblang orangtuanya lebih membingungkan lagi dengan bumbu korupsi, beking politik, perselingkuhan, narkoba, penembakan anak orang n so on. Sepertinya seluruh permasalahan duniawi lengkap ditumpahkan di tengah keluarga ini. Itu yang bikin napas agak capek ngikutinnya.
Novel ini terbantu karena latarnya yg menarik. Jakarta di awal tahun 90-an. Meski hanya dari potret remaja begajulannya yg hobi rusuh tawuran, nelen pil BK, dan ikut aksi balap liar. Pilihan diksinya yg ciamik juga membantu, sehingga bisa kutamatkan novel ini.
Udah lama baca ini tapi baru sempet review sekarang. Kisah cinta anak muda yang 'berani banget', mengingat gimana terkekangnya para remaja di era 90-an, makanya mereka jadi hobi memberontak. Persis kayak Sabit dan Saira. Vibe rock n roll-nya kental banget. Cakeeep!
Segalanya tentang novel ini keren sih. Narasinya cakep, world buildingnya juga. Yang aku sayangkan, kalau dilihat secara premis, di sini tujuannya Sabit nggak ada yang tercapai, bikin aku ngerasa 'kosong' di ending. Alurnya juga cepet buanget. Jujur nggak puas sama ending-nya, tp kekecewaanku bisa 'ketutup' dengan keunggulan lain yang ada di novel ini.
This entire review has been hidden because of spoilers.