Jump to ratings and reviews
Rate this book

Awan-Awan di Atas Kepala Kita

Rate this book
Benjamin Iskandar sedang berulang tahun yang kesembilan belas ketika dia memutuskan bunuh diri, di saat yang sama Kirana Kharitonova kebetulan lewat dan menyelamatkannya.

Benjamin dan Kirana datang dari dunia yang berbeda. Latar belakang mereka berbeda. Kepribadian mereka bagaikan kemarau dan mendung. Harusnya, tak mungkin mereka bisa bersahabat.

Namun, kenyataan berkata lain. Bahkan, setelah rahasia demi rahasia terbuka, kini tak lagi jelas siapa sebetulnya yang sedang berlari, dan siapa yang butuh diselamatkan?

392 pages, Paperback

Published September 28, 2022

11 people are currently reading
130 people want to read

About the author

Miranda Malonka

12 books64 followers
Seorang pecinta kucing yang suka penasaran. Senang menghabiskan waktu dengan mengamati segala hal sambil mendengarkan musik country nonstop. Cita-cita terbesarnya adalah membangun animal shelter dan pergi ke Mars.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
17 (17%)
4 stars
50 (50%)
3 stars
25 (25%)
2 stars
6 (6%)
1 star
1 (1%)
Displaying 1 - 30 of 32 reviews
Profile Image for raafi.
929 reviews451 followers
January 2, 2023
Mixed feeling menjadi frasa yang saya dapati usai membaca baca buku. Tadinya mau diselesaikan sebelum 2022 berakhir tapi nggak bisa karena buku ini tuh bukan tipe yang bisa cepat dikelarin sebagaimana novel young adult pada umumnya.

Sepanjang cerita auranya sungguh kelam. Capek banget juga ngikutin ceritanya. Tapi, entah kenapa kerasa worth-it karena belajar banyak soal hidup-tanpa-gairah. Di sela-selanya bahkan ada "kuliah" tentang eksistensialisme Albert Camus.

Sebagai bacaan pembuka 2023, buku ini cukup mencengangkan sekaligus memberikan arahan yang baik. Sugoi buat penulis! Miranda Malonka tak pernah mengecewakan (walaupun ini baru karya keduanya yang saya baca sih).
Profile Image for Ossy Firstan.
Author 2 books102 followers
October 22, 2022
Kumembaca ini beberapa hari setelah mendengar kabar-kabar duka beberapa mahasiswa bunuh diri dan gosip-gosip KDRT. Dan... Awan-awan membawa isu-isu itu.
Cerita dibuka dengan Ben yang ingin bunuh diri di ulang tahunnya yang ke-19. Entah mengapa, cerita ini memvalidasi apa yang kurasakan dulu, bahwa mungkin memang ada sebagian orang yang menjadikan makna hidup itu suatu masalah besar demi keberlanjutan hidup. Baca ini, jadi ingat, kalau di usia yang sama, kepalaku pun penuh mempertanyakan makna dan arti hidup. Pertanyaan sederhana,"Kenapa aku harus hidup?" yang terus kutanya sampai kini. Pertanyaan yang sampai sekarang aku ga punya jawabannya. Tapi seperti kata Budi Darma, yang meniadakan aku bukan aku, jadi aku nggak punya hak untuk meniadakan diriku sendiri.

Sayangnya, percobaan bunuh diri yang dilakukan Ben digagalkan Kay. Kay adalah gadis blasteran yang tinggal di rumah pohon bersama tantenya, dan telah ditinggal mamanya yang juga bunuh diri. Kai cemas sekali dengan Ben, meskipun Kian (sahabatnya yang lagi kuliah psikologi) udah menasehatinya kalau kita ga bisa bantu semua orang, Kay tetap cemas. Hingga akhirnya Kay kembali bertemu dengan Ben, dan singkatnya, Ben, Kay, dan Kian pun berteman.
selain isu soal Ben yang punya keinginan untuk bunuh diri terus, Kay juga ternyata memiliki masalah. Misalnya, masalah dengan dirinya lewat mimpi-mimpi buruk dan masalah dengan mantan pacarnya yang manipulatif dan beracun itu.

Aku suka membaca novel ini. Koran kehidupan buatan Kay menarik sekali. Aku juga suka dengan ide Kay soal merayakan hal-hal menyedihkan. Hal-hal menyedihkan memang sebaiknya dirayakan agar tidak larut dalam kesedihan. Demikianlah, kutunggu karya selanjutnya dari kaka penulis ^^
Profile Image for Jess.
609 reviews141 followers
August 15, 2023
2.5 / 5

another disappointing read

udah tertarik sama premisnya yg menarik dan cara penulisannya yang bagus dan deep tapi dikecewakan sama karakternya. aku bisa melihat sebenarnya karakter-karakter di buku ini jadi the main topic bahkan jadi important messagenya ke reader tapi entah mengapa hubungan antar karakter sama sekali nggak dapet dipercaya saking cepetnya pace mereka bertemu dan nggak dijelasin secara detail ttg kehidupan mereka. berasa cuman one dimensional character. ini yg bikin ceritanya jadi membosankan apalagi halamannya cukup banyak.
Profile Image for Utha.
824 reviews401 followers
October 2, 2022
3,4

Buku sakit berisi kumpulan orang-orang sakit. Usai baca, hanya bisa mengembuskan napas lega.
Profile Image for Akaigita.
Author 6 books238 followers
December 3, 2022
anu... kalau aku kasih bintang lima buat novel ini boleh rekues cerita Ale versi udah jadi dokter hot ganteng nggak?
Profile Image for Dinur A..
258 reviews97 followers
November 4, 2022
Pertama kalinya nggak bisa bersimpati dgn tokoh-tokoh Malonka. Minim latar belakang tokoh, minim chemistry. Banyak hal juga terasa dipaksakan, seperti Kay yg lulus SMA umur 15 (what??) yang obvious sekali digunakan untuk mem-push urusan legalitas di salah satu konfliknya. Review lengkap mungkin menyusul.
Profile Image for Amaya.
749 reviews58 followers
November 27, 2022
Harus kuakui, keputusan menamatkan buku ini nggak salah. Ben, Kay, bahkan Nat adalah orang-orang yang sakit. Itu fakta yang nggak bisa dihilangkan setelah baca ini. Iyap, aku stres banget waktu maksa namatin ini, tapi sama sekali nggak menyesal.

Mungkin bagi kalian yang baca blurb bukunya berpikir temanya berat banget, mana mention soal bunuh diri lagi. Oke, temanya emang berat. Perasaanku waktu baca ini bahkan memengaruhi sampai ke real life. Rasanya gloomy, mendung terus, uring-uringan, dan nggak tau mau ngapain saking lemasnya. Ben setelah diselamatkan Kay itu kelihatan hopeless banget. Dia ingin mengakhiri hidup karena merasa hidupnya nggak ada makna. Kok bisa, ya, padahal dia ganteng, pintar, kaya pula. Dia nggak punya tekanan apa pun, apalagi soal ekonomi. Kenapa harus pilih mengakhiri hidup? Nah, di sini ceritanya berjalan.

Kay menolong Ben. Dia sampai rela nyariin Ben setelah penyelamatannya di jembatan itu. Apakah Ben langsung menerima? Oh enggak, bahkan Ben agak terganggu kenapa ada orang asing yang sampai mohon2 ke dia buat nggak mengakhiri hidup. Ben kukuh nggak bisa menerima Kay (eksistensi atau perhatiannya), tapi dia jadi penasaran. Kay aneh, merayakan pesta untuk suatu kegagalan. Bukannya pesta identik dengan selebrasi pencapaian baik dan kesuksesan, ya? Di sini titik balik kehidupan Ben. Hidupnya 180 derajat berubah. Dia masih sangsi hidupnya bisa dipertahankan, bahkan masih percaya hidupnya cuma sampai usia 50 tahun. Pemikiran mending-akhiri-sekarang-daripada-nunggu-nanti pun berubah perlahan setelah mengenal dunia Kay.

Kay atau Kirana Kharitonova punya kehidupan yang jauh berbeda dengan Ben. Dia punya banyak teman, kehidupannya berwarna, punya tante yang nggak mengekang, dan bebas melakukan apa pun yang disuka. Ben nggak pernah mengenal orang seperti Kay (atau emang belum sempat kenal jauh sama teman2 yang disebut hanya suka datang kalau butuh itu 👀) dan mengenal Kian, salah satu sahabat Kay, juga banyak membantunya.

Aku suka bagian ketika Ben memiliki keinginan meloncat ketika berada di salah satu mal. Di situ dia menghubungi akun official milik Double K—duo yang terdiri dari Kay dan Kian—lalu mulai mengatakan keinginannya. Ben bilang dia kepengin lompat waktu lihat ke bawah dan Kian yang memang memegang akun itu lantas membalas. Dia mengalihkan perhatian Ben dan bikin dia sibuk dengan beberapa tugas sederhana. Berhasil. Pikiran itu beralih menjadi kesibukan mencari barang2 yang diinstruksikan Kian. Dan yang lebih mengharukan, Kian bawa Ben berobat 🥺 padahal kalau dipikir-pikir ya, Ben ini bukan teman dekat Kian dan mereka nggak pernah kenal secara lebih intens.

Oke, cukup cuap2 soal Ben. Setelah sekitar setengah buku, fokus beralih ke masalah Kay. Memang, Kay kelihatan banget menyembunyikan sesuatu, bahkan hubungannya dengan Nat itu sangat ... ah sudahlah. Rasanya kesal ketika menasehati teman agar menjauhi atau memutuskan pacar toxic-nya, kan? Ya, sama seperti Kian (dan Ben) di sini. Kay keras kepala, berkeras mempertahankan hubungannya dengan Nat, walaupun jelas2 sangat nggak sehat. Tapi, lagi2 kalimat Kian menampar (bahkan sebagai bahan refleksiku juga): "Lo mau jadi temannya, kan? Bersikaplah seperti teman, bukan seperti hakim—apalagi algojo." Tanpa sadar, ketika memberi nasehat atau sekadar masukan ke teman, kita nggak sadar sudah berlaku sebagai eksekutor atau bahkan seperti kata Kian tadi, algojo. Oh ya, konteks kutipan itu aslinya berlaku buat Ben karena merasa Kay terlalu menekan dia setelah aksi penyelamatan itu.

Yang sebenarnya, Kay terlalu memikirkan orang lain. Bagi dia, kegundahan orang lain adalah tanggung jawabnya, sampai2 pikirannya memberat dan dia bermimpi buruk. Gosh, aku baru sadar udah nulis banyak banget soal buku ini. Singkatnya, setelah baca ini, aku jadi punya bahan refleksi ketika menghadapi orang yang punya pikiran untuk mengakhiri hidup. Apa yang nggak boleh kita lakukan dan berusaha membantu mereka berobat. Asli, walaupun keras kepala, Ben itu sebenarnya bersikap realistis. Dia menjabarkan kenapa dan apa alasan berdiri di jembatan dengan batu2 di tas.

Soal teknis, sih, nggak ada yang mengganggu. Cuma sedikit struggle di awal karena pindah2 kepala terus jadi kurang bisa fokus ini part siapa, ini part siapa. Ada salah penyebutan nama (harusnya Ben jadi Ale) juga satu kali. Terus Koran Kirana bagian wawancara dia sama Kian itu agak apa istilahnya ya, hmm mentah barangkali karena bahasa psikologinya masih kental. Dan ini entah hanya perasaanku aja, karakter Kay ini mirip sama Sylvia. She used to care others, tapi sebenarnya ada yang salah dengan dirinya sendiri.

YA yang worth untuk dibaca (pastikan memerhatikan tw-nya, ya).
Profile Image for Winda Fabiola.
163 reviews35 followers
December 30, 2022
What did I just read... Jujur bingung. Mixed feelings. But first thing first, ini bukan novel yang bisa bikin senyum-senyum. Novel ini dark. Mengutip caption di postingan IG penulisnya, yang kebetulan emang di capslock, berikut adalah trigger warning novel ini:

TRIGGER WARNING: SUICIDE ATTEMPT, DEPRESSION, ABUSE

Mantep kan. So please read with care. Be mindful. Gak semua tema cocok untuk semua orang, se-hype apapun itu. Personally, I like this novel. I'm still figuring out, apa yang penulisnya coba sampaikan lewat tulisannya, karna, to be very honest, I don't get it. I like this novel, but I don't understand. Well, sejak kapan bunuh diri, depresi, dan tindak abusive jadi hal yang bisa dipahami? I may understand about suicide attempt and depression. Been there, done that. Ha. But it doesn't mean I understand. Tolong digarisbawahi: ngerti bukan berati paham. But it doesn't stop me from liking this novel.

Let's start. Ini novel dark bgt. Dari awal, kita udah diajak ketemu sama orang yang mau loncat dari jembatan. Seratus halaman pertama itu challenging, at least for me. Bukan karna topiknya, tapi karna cara Kay (FL) memaksa masuk ke kehidupan Ben (ML). Anyway, disini yang mau bunuh diri itu Ben, dan Kay adalah orang yang menggagalkan upaya tersebut. Si Kay ini beneran annoying bgt. Sumpah. To the point aku teriak: YOU'RE NOT BEFRIENDING HIM, YOU'RE JUDGING HIM. Yalord, mau marah. Pake bgt. I mean, girl, you interfered a stranger's life. A total stranger. Whatever your backstory is, you have no right over a stranger's life. Astaga, aku sinis bgt. Tp sumpah, itu annoying. Jangankan stranger, kl pun kenal, interfering someone's life, kl ganggu personal space orang tsb, itu annoying. Terus buat apa kita punya the so called personal space or boundaries? Ini aku kutip salah satu dialognya, antara Kay dan Ben:

“... Dan gue berkewajiban menyelamatkan lo.”
“Lo nggak berkewajiban apa-apa. Nggak ada yang berhak mengatakan gue dilarang bunuh diri. Hidup gue bukan hidup lo.”

Whatever your opinion is, I second Ben's. My life, not yours. You have no right over it. If I were Ben, kl ada stranger modelan Kay tiba-tiba interfering my life dan bikin aku gak nyaman, sudah pasti barang tentu aku akan menghindar mati-matian. Cut the ties! Like I always did. Tapi ya gimana ya, ini kan Ben. Gak akan jadi novel “Awan-Awan di Atas Kepala Kita” kl Ben responnya kaya aku.

Makin ke belakang, kisahnya Ben - Kay ini makin ruwet. Masing-masing dengan pola pikir yang berbeda. Masing-masing dengan caranya menghadapi dunia. Kita akan sedikit diperkenalkan dengan kehidupan Ben, Kay, dan Kian, yang adalah sahabatnya Kay. Nantinya dia juga akan jadi temennya Ben. Kalau ada tokoh yang mungkin bisa sedikit kupahami jalan pikirnya, itu adalah Kian. Dia yang mungkin paling “normal” diantara mereka. Akan ada lagi beberapa tokoh lain, yang juga gak bisa kupahami. If you ask me, “So what did you like from the story, when you can't even understand the character?”, jawabannya adalah: justru karna itu aku suka. Novel ini mengajarkan aku bahwa gak semua orang (tokoh, whatever) bisa kita pahami. And that's fine. Karna memang seperti itu adanya. Isi kepala orang dan isi hati orang itu beda-beda. Mustahil untuk kita bisa memahami semuanya. But it doesn't always mean bad. Okay, to be fair, sometimes it is. Karna akupun capek karna harus selalu explaining myself. Tapi ya memang gitu kenyataannya. Realitanya. Gak semua hal bisa dipahami.

Hal lain yang bikin aku suka novel ini adalah plot twist-nya, which I won't say. Kl dibilang spoiler dong🙏🏻 Also, ada hal-hal yang membuatku merasa kena sentil:

Tapi memangnya berapa banyak orang di dunia ini yang rela diberitahu kebenaran tentang dirinya sendiri? Bukankah kebenaran, apalagi yang meresap dan terlupakan di alam bawah sadar, berubah jadi menakutkan ketika dipanggil naik ke alam pikiran yang sadar? —Pg. 39

“Tapi untuk apa melakukan itu semua, kalau kita nggak bisa memaknainya?” —Pg. 81

“Yang lo anggap support bisa aja bikin orang lain makin down.” —Pg. 93

“Gue nggak pengin bawa payung, tapi gue ingin merasa ingin bawa payung.” —Pg. 178

Kita tidak bisa memaksakan semua orang untuk sesuai standar pribadi kita. —Pg. 374

Tolong digarisbawahi kutipan dari hlm. 93, karna itu maha penting. Kadang, sesuatu yang kita upayakan sebagai support malah bisa membuat orang lain makin down. Please be mindful:)

Dari lima kutipan di atas, yang paling nyentil itu kutipan dari hlm. 178. Bukan soal payungnya, tapi soal ingin merasa inginnya. Ingin merasa ingin. Frasa ini... saking mati rasanya:')

Tadi kubilang novel ini dark, dan gak bisa bikin senyum. Tapi sebenernya ada sih part yang bikin aku kaya emoji: 🥺🥺🥺, yaitu Interlude I, hlm. 153 - 168. Isinya apa? Just a simple 54321 Grounding Technique. Kembali ke saat ini. Disini. Menapak. Yang otomatis terlintas dipikiranku pas baca part ini adalah: so THIS is why we should learn about psychology.

Now after writing this, aku tau kenapa aku suka novel ini: because this novel offers hope. Bunuh diri, depresi, dan abusive. Dari tiga itu, kl ditanya mana yang paling gak bisa kupahami, jawabannya adalah yang terakhir. Abusive. Sampe kapanpun aku gak akan bisa memahami apalagi membenarkan tindak abusive. Tapi itu bukan berarti aku memahami dan membenarkan aksi bunuh diri. Atau memahami sepenuhnya soal depresi. Aku ngerti. Yaudah. I can't always save someone. And I won't force it. Yaudah.

This is a complicated novel. Sama sekali gak ringan, membingungkan, dan seperti yang udah kubilang berkali-kali: dark. But in a very unique way, this novel offers hope. I have no plan to re-read this novel, at least for now. Karna aku sepenuhnya sadar, ketika baca novel ini, emosi yang kurasain didominasi emosi negatif. Mungkin ini hanya akan jadi novel yang kubaca sekali seumur hidup, I don't know. But still, it doesn't mean I dislike this novel. I like it:)
Profile Image for Rei Pusvita.
78 reviews7 followers
October 26, 2022
Akan kuberi 5 bintang andai penyelesaiannya lebih gemintang. Awal mula kisahnya sungguh bikin berdebar-debar dalam makna sesak!!! Penasaran, lanjut, lanjut, mulai menerka karakternya gimana gitu, ternyata betul, terus berpikir kesal dengan karakter yang tau-tau muncul... terus ending!

Cepat sekali kubaca kisah ini. Keren. Tapi lebih keren, sekali lagi, kalo endingnya memuaskan (versiku). Cyattt!
Profile Image for Fitra Aulianty.
154 reviews4 followers
October 28, 2022
Bagian yang kusuka dari buku ini:
1. Kamu menyelamatkan orang lain untuk menyelamatkan dirimu sendiri
2. Konsep koran Kirana Today menarik

Yang gak kusuka:
1. Latar belakang Ben gak disebutin, padahal dia tokoh utama juga
2. Endingnya seambigu kehidupan Kay

Overall menarik buat menambah persepsi tentang kehidupan.
Profile Image for shira.
122 reviews1 follower
July 17, 2023
"Jawaban untuk problema eksistensial kita bukanlah mencari-cari seribu satu alasan untuk tetap hidup, melainkan memilih tetap hidup meskipun ada seribu satu alasan untuk mati."

Kalimat ini benar-benar menjadi reminder untukku. Membaca buku ini setelah pernah mengalami hal yang sama sangat membuat perasaanku tidak karuan hhh. I still think about dying even today but like whats written in this story, I choose to live no matter how hard it is.

The story is beautifully written and full of meaningful words.
Profile Image for Itsmidnightblue.
46 reviews1 follower
December 28, 2022
Beneran greget sama si Kay yang pas itu masih mau aja balikan sama cowok abusive gitu. Untung di ending dia sadar walaupun harus hampir [sensor] dulu.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Journalz.
28 reviews2 followers
July 9, 2023
Dimulai dengan Ben, seseorang yang sudah tidak tahu lagi dimana dia bisa menemukan makna hidup, dia beranggapan hidup yang tidak mempunyai makna tidak pantas untuk dijalani yang kemudian termanifestasi menjadi sebuah rencana bunuh diri terjun dari jembatan ketika hari ulang tahunnya.

Rencana untuk mengakhiri hidup tersebut digagalkan oleh Kay, perempuan blasteran dengan bandana dan tas gitarnya yang tak pernah lepas dari badannya. Kay menarik Ben yang ingin menghempaskan diri ke sungai dibawah jembatan dengan keadaan dikerumuni oleh orang-orang yang tidak juga berkeinginan untuk menolong mereka.

Setelah drama di jembatan tersebut, berkali-kali bertemu dengan Kay membuat Ben mendapat beberapa sinyal untuk setidaknya memberi kesempatan pada hidup sekali lagi, untuk mencoba mencari sebuah alasan untuk hidup yang ternyata membawanya pada masalah yang lebih besar yang tidak ia lihat di mata dan aura Kay yang selalu terang benderang itu.

Ini buku kedua dari Miranda Malonka yang aku baca, kayaknya emang khas ya penulis yang satu ini, di buku Surat-surat yang tak pernah dikirim bahkan ada tokoh yang mati...

Tokohnya sakit-sakit semua, tapi sembuh diakhir cerita, cuman masih penasaran aja sama tokoh jahat di cerita ini, apa sebabnya dia jadi sejahat itu, sampai akhir ga diceritain.

Aku rasa POV ketiga cocok banget karena bisa lebih memahami ke dalam perasaan tiap-tiap tokoh. Pandangan sinis Ben tentang hidup juga sedikit-sedikit aku mengerti.

Aku suka konsep koran Kay, cuaca dan bab baru dalam hidupnya. Aku juga suka tentang kegagalan yang seharusnya juga dirayakan, dan juga wacana tentang psikologi yang ada di bukunya.

Aku juga tertarik dengan pandangan Albert Camus yang menganggap kalo hidup nggak ada maknanya pun masih pantas untuk dijalani, mungkin kedepannya aku pengen baca buku beliau.

Overall menurutku bagus, aku suka tipe novel yang isinya gini, yang kek ringan kelihatannya eh ternyata gak begitu, banyak insight yang bisa diambil.

Ada beberapa quot yang sedikit menyentilku....

Kita semua jelas takut mati. Hanya saja kita terlalu sombong untuk menyadari bahwa kita bisa mati setiap saat. Semua orang pura-pura bisa hidup seribu tahun, saking takutnya pada kematian. Semua orang menjalani hidup tanpa rela mengakui bahwa mereka bisa mati detik ini juga. Fakta bahwa hidup ini sangat singkat, sementara orang kayaknya selalu buang-buang waktu, betul-betul di luar logika gue. p. 201

Kita selalu tahu apa yang diinginkan orang lain, tapi kita jarang banget tahu apa yang kita sendiri inginkan. p. 201
Maksud gue, kita nggak hidup di dunia mimpi. Hidup kita memang bukan film epik atau novel hebat: hidup kita payah, melelahkan, nggak ketebak, dan kayaknya sial melulu. Gue nggak bisa dapetin semua yang gue mau terlalu banyak keterbatasan yang menghalangi gue dari berbagai aspek. Aspek duit, aspek geografis, aspek keluarga... daftarnya bisa berlanjut terus. Tapi itulah hidup. p. 85

Kita mungkin nggak bisa menyelamatkan semua orang asing yang lewat di jalan, tapi setidaknya kita sudah berusaha jadi orang baik untuk orang-orang di sekitar kita dan membuat hidup mereka jadi lebih baik. p. 43
Tapi memangnya berapa banyak orang di dunia ini yang rela diberitahu kebenaran tentang dirinya sendiri? Bukankah kebenaran, apalagi yang meresap dan terlupakan di alam bawah sadar, berubah jadi menakutkan ketika dipanggil naik ke alam pikiran yang sadar?
p. 39
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Tira Lubis.
298 reviews4 followers
May 22, 2023
3,9⭐

*TW : Percobaan bunuh diri, depresi, toxic and abusive relationship*

Ben memutuskan bunuh diri saat ulang tahunnya yg ke-19. Saat ia mencoba melompat ke sungai, Kay yg kebetulan lewat menyelamatkan Ben. Sejak saat itu Kay terus menerus menemui Ben dan meyakinkan dia untuk tidak bunuh diri.

Ben yg awalnya terganggu dengan kehadiran Kay, lama-kelamaan menjadi terbiasa dan mulai melupakan keinginan buruknya, karena ia merasa mempunyai teman yg tulus padanya. Karena selain Kay ada juga Kian dan Nina yg secara tidak langsung membantu Ben untuk 'sembuh'.

Tapi disaat Ben sudah mulai 'sembuh', justru malah Kay yg mengalami sesuatu hal yg membuat ia ingin menyusul ibunya.

Dari awal baca karena udah tau TW-nya jadi aku udah siap-siapin hati baca buku ini. Tapi selain di awal adegan Ben yg mencoba bunuh diri sampe ketengah tuh masih oke dibacanya, belum ada sesuatu yg membuat buku ini 'berat' untuk dibaca.

Tapi mulai dari tengah ke akhir tuh baru mulai kerasa berat. Masalah-masalah yg dialami tokohnya terutama Kay mulai bermunculan dan itu lumayan bikin aku shock sih. Kay yg awalnya terlihat sangat positif dan selalu ceria ternyata menyimpan masalah pribadi yg cukup berat yg bahkan tidak dibaginya dengan Kian sahabatnya.

Aku suka 'koran kehidupan' buatan Kay. Jadi menurut dia kenapa kita sibuk ngurusin headline di koran sementara kita nggak pernah ngecek headline kita sendiri. Apa yg lagi berlangsung dalam hidup kita? Apa yg kita rasakan? Kejadian apa yg berpengaruh buat kita? Bener juga ya kan?

Aku juga suka sama sosok Kian, bisa dibilang dia disini yg paling 'waras' dibanding yg lain. Disaat Ben 'sakit' dia juga bantu dan disaat Kay yg 'sakit' apalagi dia support Kay banget.

Endingnya cukup oke. Ben akhirnya bisa melupakan keinginan bunuh dirinya, dan Kay terbebas dari toxic relationship-nya. Cuma aku berharapnya bakal ada penjelasan tentang latar belakang Ben kenapa dia merasa bosan dengan hidupnya juga penjelasan tentang ibunya Kay.

Overall baca buku ini memang butuh kesiapan mental ya karena TW-nya lebih dari satu. Tapi tetep worth to read. Kita bisa banyak belajar dari buku ini, tentang persahabatan, tentang keluarga, tentang kepedulian terhadap orang lain, tentang kesehatan mental. Pokoknya coba baca deh biar tau sensasinya kayak apa. Tapi pastikan untuk tau TW di buku ini ya, karena mungkin ada beberapa orang yg nggak bisa baca dengan TW di buku ini.
Profile Image for Harumichi Mizuki.
2,442 reviews73 followers
May 7, 2024
This... This is so fetch! (Mean Girls, apa sih artinya itu? 😂🤣)

Benjamin Iskandar atau Ben berulang tahun yang ke-19 ketika ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan lompat di jembatan yang di bawahnya ada sungai kotor. Tapi usahanya digagalkan oleh Kay, gadis keturunan Rusia yang juga musisi. Alasan Kay menyelamatkannya, ia tak ingin melihat Ben mati bunuh diri seperti ibu kandungnya.

Harta berlimpah bukan jaminan bahagia. Ben justru merasa hampa karena orangtuanya jarang ada bersamanya, dan para teman-temannya palsu serta hanya memanfaatkannya. Karena itu ia berpikir tak ada gunanya melanjutkan hidup.

Kay dengan grasa-grusu menarik Ben ke dalam hidupnya. Ia mengenalkannya pada Kian, partner grup musiknya di Double K, yang juga mahasiswa psikologi. Kian yang mendorong Ben untuk berobat ke psikiater. Berkat Kay, Ben mulai menemukan alasan untuk hidup dan mengurangi sikap sinisnya.

Namun, di balik keceriaannya, Kay ternyata menyimpan sisi kelam. Dia terjebak dalam hubungan abusif dengan Jonathan atau Nat, sepupu Kian yang kaya raya. Saking kayanya dan kuatnya pengaruh keluarga Nat, Kian menganggap percuma saja melaporkan Nat ke polisi. Rumit. Tak hanya itu, Kay juga menyimpan rahasia yang lebih gelap lagi soal hubungannya dengan Nat. Kali ini giliran Ben yang berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan Kay.

*

Orang kaya nggak selalu bahagia. Orang yang tampak selalu bahagia bukan berarti baik-baik saja. Dan di balik wajah tampan seorang lelaki, bisa saja tersembunyi sosok setan durjana. Buku ini penuh paradoks yang membuat ceritanya terasa begitu nyata. Aku sempat kaget saat penulis membuat seolah Nat bisa berubah dengan begitu mudah setelah melihat Kay masuk RS. Jadi, ngeri karena ternyata memang seperti itulah pelaku kekerasan dalam hubungan memanipulasi orang lain dengan membuatnya merasa menyesal. Sudut pandang Kay yang begitu terjebak dalam cintanya pada Kay, kekacauan logikanya yang dimanfaatkan Nat, membuat pembaca bisa lebih paham inilah yang sebenarnya dirasakan oleh korban toxic relationship.

Endingnya bikin aku pingin puk-puk Ben. Tapi justru kepahitan itulah yang membuat kisah ini begitu realistis dan apa adanya. Dalam dunia nyata, sedalam apa pun perasaan kita pada orang lain, tak semuanya bersambut seperti di film-film.

Ini kedua kalinya aku mencicip karya Miranda Malonka di iPusnas. Yang pertama adalah Orbit Tiga Mimpi. Dan aku ingin memiliki keduanya! Argh! 😫 Semoga ada rezeki buat mengamankannya ke rak buku. Huhuhu.
Profile Image for Ifa Inziati.
Author 3 books60 followers
Read
June 14, 2023
Kesan pertama saya di bab-bab awal masih bertahan sampai bab terakhir. Buku ini bukan untuk saya. Saya membacanya seperti pesan layanan masyarakat Posyandu yang dibuka dengan dua ibu-ibu, lalu salah satunya bertanya, "Anaknya kenapa, Bu?" dan si ibu menjawab, "Kurang gizi, Bu." yang ditanggapi dengan, "Ayo, rutin ke Posyandu!" ketika kenyataannya nggak ada ibu-ibu yang mau segamblang itu cerita kekhawatiran tentang anaknya, apalagi ke orang asing.

Buku ini, menurut saya, juga bukan buku penulis yang memperlihatkan keahlian bercerita beliau sesungguhnya. Saya menikmati Orbit Tiga Mimpi dan beberapa pendapat Sylvia dalam Surat-Surat Yang Tak Pernah Dikirim sejalan dengan saya. Jika ingin mencicipi karya beliau, saran saya bisa dimulai dari salah satu dari dua buku itu dulu.

Asumsi saya, naskahnya barangkali sudah lama ditulis tapi baru terbit sekarang, jadi ada beberapa hal yang terasa outdated (semoga cuma saya yang merasa begini). Mungkin... mungkin saja, kalau ini fiksi penggemar dari fandom yang tokoh-tokohnya sudah saya kenal, saya akan lebih bisa mengikuti ceritanya. Jika kamu tipe pembaca yang suka diberi informasi baru terutama tentang kesehatan mental, bisa jadi kamu cocok dengan novel ini.

***

Sebenernya belum selesai, tapi tandai 'Read' dulu biar bertahan sampai akhir.

Oke, mungkin sedikit ulasan buat bab-bab awalnya:

This story reeks of manic pixie dream girl. Kay reeks of manic pixie dream girl. I thought people don't make this kind of story anymore—even John Green doesn't write this kind of story anymore. Everything feels orchestra-ed and all the messages are shoved down my throat. Maybe I'm not the right reader for this conceptual book, maybe I prefer more organic way of introduction since here Ben dan Kay are opened up to each other too quickly. I think if you have so much burden and trauma in your life, you would be hesitant to tell others that you're not okay. What makes me turn the page is the writing style. One thing though; sometimes it starts with a verb (?) like 'memegangi pagar, Kay bergegas ....' (contoh) which I admit halts me temporarily from reading.

I'll be back once I finish this (I hope so).
Profile Image for Lelita P..
632 reviews58 followers
June 23, 2025
Menimbun buku ini hampir 3 tahun lamanya. Alasannya karena buku ini di-branding gelap dan depresif. Berhubung kondisi mental saya juga seringnya lelah, saya otomatis defensif terhadap "buku berat".

Tapi ketika membaca dan menamatkannya, ternyata bukunya nggak se-dark dan sedepresif yang saya kira. Malah menurut saya masih banyak part yang cukup fun ala kehidupan remaja.

Sebenarnya bagi saya yang paling menarik dari buku ini adalah

Kendati karakter-karakternya tidak lovable sama sekali, novel ini tetaplah novel remaja filosofis yang penuh daging, variasimenyegarkan di ranah literatur teenlit/young adult dalam negeri. Tapi tidak disarankan membaca ini dalam kondisi mental yang kurang baik.
Profile Image for Achame.
178 reviews1 follower
May 31, 2023
Baca novel ini terasa seperti membaca jurnal jadi agak nyerempet nonfiksi. Di novel ini difokuskan ke gimana si yang dirasakan pelaku sicidal attempt dan gimana kita sebagai orang terdekatnya must do. Topik yang diangkat cukup berat ya dan penjelasan2nya juga ilmiawi. Tapi untuk ukuran young adult kurasa porsi fantasi dan realitanya ga seimbang ya di novel ini. Lebih banyak realitanya. Young adult tapi ya agak2 nyerempet kuliah psikologi lah guys hahaha...

Buatku plotnya terasa garing karena tidak ditonjolkan trauma apa yang mentrigger kedua MC ini buat ngelakuin hal itu. Cuma di mention tapi ga bener2 di tunjukkin oh ini loh yang buat mereka gitu. Di novel ini memang kita pembaca dibuat lebih memahami perasaan tiap tokohnya. But, come on it's still a fiction. Buatku kurang si percikan2 konfliknya.

Overal, novel ini bisa jadi referensi buat kamu yang lagi pengen baca novel bertrma teenange mental health. TW: ingat di novel ini mengandung suicidal attempt, toxic relationship, dan pemikiran misoginis. Jadi bijak2 lah waktu baca novel ini.
Profile Image for Icha.
55 reviews1 follower
August 10, 2024
Banyak yg gak aku pahami dari novel ini meskipun aku udah bersabar dan mencoba baca sampe habis untuk paham 🥲

Aku gak paham sama Kay yg merasa bertanggung jawab tapi ujungnya melepas tanggung jawab dan gak kepikiran itu sama sekali, aku gak paham kenapa momennya Ben gak banyak (?) selain aksi heroiknya di klimaks cerita. Menurutku porsi Ben nih kurang. Aku jg ngerti-gak-ngerti sama Kay yg sepertinya dewasa sebelum usianya tapi in the end dia paling childish, jujur aku jd ga bisa bersimpati sama Kay.

Banyak narasi yg gak aku pahami, mungkin emang akunya aja yg gak ngerti cara mereka saling menimpali omongan 🥲 I blame myself for that 😭 overall buku ini sebenernya oke karena ngangkat isu trauma yg gak disadari, orang kaya yg ternyata hidupnya gak sebahagia yg dibayangin kebanyakan orang, kehidupan orang yg suram dan gak bisa memandang sesuatu secara positif dan sebaliknya ada orang yg positif mulu sampe gak nyadar dia sebenernya lagi teracuni oleh mindset memaksa itu, dan terakhir tentang toxic relationship. Tapi again, sampe akhir aku gak bisa memahami manusia-manusia rumit di novel ini dan cara mereka berpikir serta berkomunikasi 🥲 I'm sorry I've tried my best
Profile Image for Salsaparilla.
68 reviews
September 24, 2023
Lagi-lagi mereka jadi membagikan pikiran mereka ke aku...

Buku yang bagus. Aku terhibur sama perkembangan Ben, senang sekali lihat dia perlahan sembuh. Sementara itu, Kay... Ah, sudahlah. Nat lo asli jahat banget!

Pada endingnya aku merasa, "Akhirnya selesai." tapi sekedar itu, tidak dilanda rasa terharu atau puas. Mungkin karena pikiranku lagi ke mana-mana juga. Tapi yah, sekedar itu.

Poin plus untuk Kirana Today (walau aku kadang agak malas membacanya), juga development Benjamin Iskandar. Ben sudah jadi karakter favoritku sepertinya. Oh ya apakah kesembuhan Ben termasuk spoiler? Sepertinya tetap kutandai saja, karena aku sebal lihat spoiler bertebaran di kolom review!
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Arutala.
506 reviews1 follower
February 15, 2024
Betapa berharganya untuk bisa menyelami perasaan di sekeliling kita kendati mereka tidak memberi umpan balik. Dan betapa hidup menjadi begitu misterius tanpa pernah kita sadari pada akhirnya. Ben yang ingin mengakhiri hidup namun justru menjadi sosok penyelamat bagi hidup Kay.

Bacaan yang mengangkat ide tentang kesehatan mental mungkin ada beberapa, namun untuk novel ini eksekusinya menurut saya sangat manusiawi, heroik yang sederhana, dengan karakter-karakter yang bernuansa optimis pun dialog-dialog yang bernada pesimis agresif itu. Tarik ulur hubungan persahabatan antara Ben dan Kay absurd tapi realistis. Menarik dan mencerminkan keresahan anak muda yang mendambakan eksistensi namun butuh pegangan.
Profile Image for Bila.
315 reviews21 followers
December 1, 2022
Buku yang melelahkan untuk dibaca karena tokohnya SAKIT SEMUA 🤧🤧 dan topiknya cukup berat. Masalah demi masalah datang terus berdatangan hampir tanpa jeda. Tokoh-tokohnya ga begitu bikin simpati - yang ada malah bikin pusing. Lalu, bagaimana Ben pulih rasanya kok terlalu cepat yak, kek harusnya ada step by step tapi rasanya ada yang terlompati (baru kerasa ada progresnya bukan ujug-ujug di akhir).

No, aku ga akan rekomendasikan buku ini untuk kalian yang lagi banyak pikiran.
Profile Image for Alvina.
732 reviews119 followers
November 6, 2022
Capek baca buku ini, hahahah. Capek karena karakter-karakternya, capek karena filosofi hidup tokoh tokohnya, tapi ya udahlah ya hidup emang isinya capek dan capek.
Profile Image for kana.
89 reviews4 followers
February 5, 2024
Promising premise but horrible excecution.
Profile Image for Aletta reads books.
98 reviews2 followers
March 22, 2024
Sebenernya banyak quotes yg bagus dan relate di aku, cuma gatau knp aku g connect sm alur ceritanya, dan kaget endingnya ga sesuai harapan🙃🙃
Displaying 1 - 30 of 32 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.