Kehidupan serba cepat membuat fisik dan mental menjadi rentan terhadap berbagai gangguan. Bila kamu merasa lelah bahkan sakit secara fisik maupun mental, cobalah untuk mundur sejenak dan bertanya kepada diri sendiri, apakah kamu memang menginginkan semua ini?
Buku ini memberikan rencana aksi praktis bagi orang-orang yang ingin menjalani kehidupan yang lebih santai dengan mengurangi kebiasaan sibuk hanya untuk mendapatkan keinginan.
Sesuai dengan judulnya "Filosofi Hidup Santai", buku ini benar-benar mengajakku untuk masuk ke dalam diri. Mengenal tubuh dan jiwa ini bagaimana mereka berproses. Lalu timbul pertanyaan, sebenarnya apa sih, yang aku butuhkan agar bisa hidup santai?
Santai bukan berarti leha-leha atau bermalas-malasan, melainkan santai di sini ialah kita tidak disibukkan dengan hal-hal yang tidak kita ubah seperti fakta. Namun, kita masih bisa mengubah emosi dalam diri saat menghadapi sebuah fakta. Bagaimana mengelola emosi tersebut dengan baik.
Contoh : Kita tidak dapat memilih akan dilahirkan oleh ibu yang mana. Ini fakta. Tapi, secara emosi, meski ada beberapa orang yang pernah bilang menyesal telah dilahirkan oleh Ibu A, maka kita dapat mengubah emosi tersebut dengan cara bersyukur karena beliau akhirnya kita dilahirkan ke dunia. Sehingga perasaan bahagia pun muncul dari hati kita. Daripada terus-terusan menyesal dan menyalahkan ibu yang telah melahirkan kita, bukankah kita bisa bersikap baik terhadap beliau.
Dengan mengubah emosi negatif menjadi emosi positif, maka akan turut meningkatkan bahan kimia (lupa namanya) dalam tubuh kita agar kita menjadi bahagia. Pun sebaliknya, jika emosi negatif dibiarkan begitu saja, maka bahan kimia tersebut menurun dan membuat emosi kita semakin tidak terkontrol.
Oleh karena itu, dalam buku ini disampaikan bahwa kebahagiaan itu cenderung cepat berlalu. Datang dan pergi karena sejatinya ia bisa diciptakan. Berbeda dengan kegembiraan yang sifatnya lebih tahan lama dan munculnya dari dalam diri.
Buku setebal 186 halaman ini sangat mudah dipahami. Dijelaskan dengan lugas, ditambah dengan contoh kejadian, kalimat motivasi, ragam teknik, dan latihan yang bisa langsung dipraktikkan.
Kalau kamu ingin menjadi orang enggak gampang overthinking alias pengen hidup santai, aku sarankan baca buku ini.
‘Hidup santai’ dan ‘Bahagia’ aku rasa jadi satu kesatuan yang tidak bisa kita dipisahkan. Kenapa? karena saat kita sudah mencapai titik kebahagaian dalam arti yang sesungguhnya maka hidup kita bakal lebih santai, bener tidak? tetapi pemikiran ini bisa tidak sama dengan dengan pemikiran orang lain.
Terkadang cara kita menilai sebuah kebahagiaan terlalu jauh. Pada apa yang orang lain punya, pada apa yang orang lain capai dan pada apa yang orang lain lakukan. Hingga sering kita lupa pada diri kita sebenarnya. Padahal kebahagiaan itu amatlah dekat, ada di dalam dada kita. Tepat di dalam hati yang bersyukur.
“Meskipun menetapkan tujuan dan merencanakan masa depan penting, pastikan bahwa Anda memberi diri Anda kesempatan untuk menikmati hidup apa adanya. Bersyukur untuk setiap hari dan luangkan waktu untu menikmati hidup yang Anda jalani saat ini.” - hlm. 142
Buku ini terdiri dari 19 bagian, pembahasan dibuka dengan pentingnya mengatur jalan pikiran dan ditekankan untuk selalu berpikir jujur terhadap diri sendiri. Selain membahas tentang mengukur pikiran, buku ini membahas tentang menemukan kebahagian, bercermin kepada diri sendiri, kekuatan afirmasi positif, menekan amarah, menemukan kekuatan, tetap tenang dalam menghadapi masalah, mencintai diri sendiri, dan bagian penutup terdapat kuis pengukuran kenyamanan serta beberapa latihan.
Buku yang tergolong tipis ini aku rasa padat isi, walaupun ada beberapa pembahasan yang bukan hal baru lagi, tetapi melalui buku ini aku diingatkan kembali bahwa semakin banyak kita membantu orang lain maka kita akan semakin bahagia, selain itu kunci kebahagiaan adalah rasa syukur kita dalam keadaan apa pun.
Filosofi Hidup Santai | Cahyo Satria Wijaya | 186 hlm | @shiramedia