"Kamu familiar. Bau darahmu familiar." "Aku sama sekali tidak mengenalmu." "Kamu tahu siapa aku, Putri."
Sadira si Putri Matahari dan Hassya sang Pangeran Kegelapan merupakan musuh bebuyutan dari dua negeri yang saling bertolak belakang; yang satu menjadikan matahari sebagai sumber hidupnya, satu lagi akan terbakar apabila terpapar langsung oleh sinarnya. Awalnya Sadira berpikir klan Kegelapan adalah sekumpulan monster sampai tanpa sengaja ia diselamatkan oleh Hassya yang berkulit pucat, tampan, dingin, seenaknya sendiri, namun memiliki sorot mata yang jujur.
Menurut ramalan kuno, apabila mereka bersatu maka kedua bangsa tersebut akan menghadapi kehancuran. Namun Hassya bertekad akan melawan apa pun yang menghalangi mereka dan menjadi pelindung bagi Sadira.
Untuk mencegah kehancuran tersebut, Antya, adik Sadira, dan Linc, si kuda terbang putih, berusaha memanggil penolong dari dunia lain---Laskar dan Sashika, pelajar SMU Surya Ilmu---dunia yang hutannya tidak seindah di negeri mereka serta dipenuhi bangunan pencakar langit.
Dunia yang akan mendukung cinta Sadira dan Hassya sepenuhnya.
Sitta Karina Rachmidiharja merupakan penulis kelahiran Jakarta, 30 Desember 1980 yang karya-karyanya diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, Mizan, dan Lentera Hati Group.
Sebagian besar karyanya akan dirilis ulang oleh penerbit Buah Hati (Lentera Hati Group) mulai 2013, termasuk serial keluarga besar Hanafiah dan Magical Seira.
Ia pernah menjadi juri pada ajang apresiasi sastra Khatulistiwa Literary Award 2008, pengajar pada Coaching Cerpen Kawanku 2009 dan 2010, serta menjadi kontributor cerita dan feature article pada majalah remaja kenamaan seperti CosmoGIRL! , Gogirl!, Spice!, Kawanku, dan lainnya.
Selain menulis, Sitta sangat menyukai fashion, kopi, dan olahraga.
-----------------------------
Serial Magical Seira (akan rilis ulang bertahap 2012-2013):
Magical Seira 1: Seira and The Legend of Madriva Magical Seira 2: Seira and Abel's Secret Magical Seira 2.5: The Sand Castle Magical Seira 3: Seira and The Destined Farewell
Konsep dan plot dasar novel ini sebenarnya lumayan. Roman fantasi yang setting-nya di dunia lain. Tapi sayang sekali eksekusi penulisannya benar2 membuat kepala saya sakit (bukan karena pusing membaca ceritanya tapi karena saya terlalu sering nepok jidat). Banyak detail kejadian yang tidak sinkron, alur cerita yang terburu2, sampai hal2 ganjil yang membuat dahi berkerut.
Contoh detail adegan yang tidak sinkron: Ini yang masih fresh saya ingat karena baru baca semalam. hlm.286 = Hassya: 'Blath si pengkhianat itu!' hlm.287 = Hassya terlalu syok untuk memberi respons atas pengakuan ini. Blath yang selama ini dikiranya setia kepadanya. baru 2 halaman saja Hassya sudah amnesia Blath mengkhianatinya! Tanya kenapa...??
Contoh hal yang ga penting: Kemunculan tokoh dari dunia kita, Sashika dan Laskar, SAMA SEKALI TIDAK PENTING. Tujuannya mungkin untuk memperkenalkan Sai, tokoh Sitta di upcoming novelnya DAN (mungkin) untuk menjaga konsistensi bahwa harus ada benang merah antarsemua novel beliau. Tapi kaitannya dengan Aerial, MAKSA.
Yang membuat saya ingin mengulik2 buku ini adalah karena saya menghadiri workshop Sitta Karina dan beliau mengatakan bahwa salah satu hal yang penting dalam menulis buku adalah SELF-EDITING. Jadi saya agak kecewa karena sepertinya dia tidak melakukannya untuk buku ini.
This entire review has been hidden because of spoilers.
well, sebenarnya dari cover aku mengharapkan sesuatu yang lebih. Tapi yang kudapati mengecewakan. Terutama bagian penokohannya. Terus terang aku paling alergi dengan tokoh bertipe 'putri aurora' yang hanya menunggu pangeran untuk menciumnya dan menyelamatkannya dari nenek sihir. Awalnya aku tokoh 'putri' diceritakan sangat jauh dari kesan 'putri aurora' ini, tapi entah ada angin apa ceritanya malah benar-benar seperti kisah sleeping beaty yang memuakkan. Bagiku penulis malah mengkhianati semangat feminismenya [worried:]. Tokoh lain yang sangat mengganggu adalah 2 orang tempelan yang secara dipaksakan masuk ke dalam cerita tapi tak diberikan porsi untuk 'menguncang' dunia.
Keunggulan buku ini harus diakui adalah covernya yang sangat eye-catching. Dengan kesan komikal yang kuat, pasti menarik pandangan penikmat manga dan (pasti) akan mengharapkan perasaan yang sama saat menikmati manga (seperti saya). Sayang akhirnya mengecewakan karena finishing buku ini terkesan sangat terburu-buru.
Aku menyerah. Buku ini membuat aku terkena reading slump padahal beberapa hari yang lalu sebelum aku mulai membaca buku ini, mood bacaku sangat tinggi.
Ada banyak hal yang tidak kusukai dari buku ini. Sejujurnya, aku sudah pernah membaca buku ini beberapa tahun yang lalu dan ingin mencoba untuk membacanya kembali karena saat itu aku hanya membaca bagian-bagian yang menurutku menarik.
Sayangnya hal ini tidak berjalan dengan lancar dan sesuai harapanku karena ada banyak hal yang membuatku menjadi stuck dan tidak mood untuk membaca buku ini.
Sebelumnya, aku akan coba tulis sinopsis pendek untuk buku ini.
Aerial bercerita tentang dua klan yang bermusuhan, Klan Kegelapan dan Klan Cahaya. Pada suatu hari, seorang pangeran dari Klan Kegelapan menyelamatkan si putri mahkota dari Klan Cahaya dan mereka pun–seperti biasa–jatuh cinta. Sayangnya, persatuan antara kedua klan ini akan menciptakan kehancuran bagi keduanya. Lantas, apa yang harus mereka lakukan untuk mencegah kehancuran tersebut terjadi sekaligus untuk menciptakan perdamaian di antara kedua klan?
Hal pertama yang kurang kusukai adalah gaya penulisan si penulis. Di bagian-bagian awal, aku cukup menyukai gaya tulis Sitta Karina karena cukup cocok dengan novel fantasi. Sayangnya, makin lama gaya tulisnya terasa tidak konsisten sehingga aku sedikit bingung.
Ada beberapa bagian di mana kata-kata yang digunakan adalah kata-kata baku, tapi ada juga beberapa bagian lain yang ditulis dengan kata tidak baku. Mungkin terdengar aneh karena ini sepertinya bukan masalah besar, tapi kadang aku merasa kurang nyaman karenanya.
Selain itu, gaya penulisan Sitta Karina juga lebih ke "tell" alih-alih "show". Aku merasa diberitahu atau diceritakan mengenai kisah kedua klan ini daripada ditunjukkan dan dilihatkan apa yang sebenarnya terjadi.
Aku cukup mengerti konsep dunia di buku ini, yaitu Klan Cahaya yang selalu mendapat limpahan cahaya matahari dan Klan Kegelapan yang sama sekali tidak mendapatkannya. Akan tetapi, aku sedikit bingung membayangkannya. Mungkin aku cukup paham untuk bagian Klan Cahaya, tetapi untuk bagian Klan Kegelapan? Aku sulit membayangkan dunia dan ciri-cirinya karena minimnya deskripsi yang berisi gambaran mengenai klan tersebut. Alih-alih mendeskripsikan, Sitta Karina hanya menuliskan bahwa Klan Kegelapan atau dataran Kegelapan tidak mendapat cahaya matahari sama sekali sehingga wilayahnya sangat gelap. Kalah itu saja, mah, semua orang juga tahu, kan? Tapi seperti apa, seperti apa dunia yang sangat gelap itu aku sulit membayangkannya. Atau mungkin aku saja yang sedikit aneh dan banyak mau. Entahlah.
Oh ya, beberapa kalimat yang digunakan oleh Sitta Karina bersifat tidak efektif sehingga aku merasa kurang nyaman dalam membacanya. Contohnya, kalimat "Sadira mampu memegang pedang seperti layaknya prajurit bukanlah perkara mudah" dapat diubah menjadi :
a. Sadira mampu memegang pedang seperti prajurit bukanlah perkara mudah.
atau
b. Sadira mampu memegang pedang layaknya prajurit bukanlah perkara mudah.
Ada beberapa reviewer yang menuliskan bahwa Sitta Karina melakukan self-editing untuk buku ini. Sayang sekali ada banyak kalimat tidak efektif yang sepertinya luput dari perhatian.
Hal lain yang kurang aku sukai dari gaya penulisan Sitta Karina adalah point of view yang digunakan. Awalnya, aku berharap bahwa buku ini akan mengikuti dua POV : Sadira, putri dari Klan Cahaya, dan Hassya, pangeran Klan Kegelapan. Tetapi, aku salah. POV di buku ini memang–sejauh aku membaca–fokus pada Sadira dan Hassya. Namun, terkadang ada beberapa paragraf yang melompat ke sudut pandang orang lain, seperti pada Nenna, sahabat Sadira, atau pada Kaien, sahabat Hassya. Sebenarnya bukan masalah, sih, kalau si penulis mau menuliskan buku ini dengan sudut pandang banyak orang. Tapi aku kurang suka cara penulis melompat dari sudut pandang tokoh yang ini ke sudut pandang tokoh yang lain. Rasanya kurang nyaman karena tiba-tiba lompat padahal babnya masih sama.
Hal kedua yang tidak aku sukai adalah tokoh utama. Tokoh utama buku ini tentunya adalah Sadira dan Hassya, yang mana memiliki sifat yang sangat klise dan sering muncul di buku-buku fantasi berlatar kerajaan, yaitu putri yang "berbeda", kuat, dan memiliki jiwa petualang serta pangeran yang tidak tahu harus melakukan apa selain menuruti omongan ayah dan kakak laki-lakinya.
Sadira adalah tipe klasik perempuan yang "berbeda" atau istilahnya "i'm not like other girls" girl. Dia selalu berpikir bahwa dirinya adalah gadis paling luar biasa di Klan Cahaya karena dapat bertarung dan tidak tertarik sama sekali kepada laki-laki. Aku tidak begitu mempermasalahkan jika Sadira memang suka bertarung, tetapi aku tidak suka bagaimana dia berpikir bahwa gadis-gadis lain sangat tidak asyik dan manja karena mereka hanya suka berdandan demi mendapat perhatian dari laki-laki. Girl, please mind your own business and let people enjoy their things. Tidak tertarik pada laki-laki dan terus mengabaikan mereka tidak membuatmu menjadi gadis paling keren di dunia.
Yang kedua, Hassya. Aku lebih menyukai Hassya daripada Sadira walau terkadang aku merasa terganggu dengan apa yang dia pikirkan. Hassya juga memiliki sifat yang cukup klise : dingin, tampan, dan sinis seperti pangeran atau tokoh laki-laki di cerita klise manapun.
Hassya selalu berpikir bahwa dia harus menjaga kejantannya dan senantiasa bersikap layaknya seorang lelaki sejati. Hassya pernah melihat kakaknya, Toireann si putra mahkota, memberi makan kepada burung-burung di balkon kamarnya dan berpikir bahwa tindakan tersebut sangat tidak "laki-laki". Apa sebenarnya maksudmu, Hassya? Padahal di dunia ini, dunia nyata, aku justru lebih sering menemukan laki-laki memberi makan burung daripada perempuan.
Membaca sebuah buku dari sudut pandang tokoh yang merasa bahwa dirinya adalah orang paling spesial adalah hal terakhir yang ingin aku lakukan.
Hal lain yang kurang kusukai adalah kisah cinta antara dua tokoh utama dan alasan peperangan akan terjadi.
Kisah cinta antara Sadira dan Hassya bisa dibilang sedikit "insta love". Mereka baru bertemu satu atau dua kali dan itupun mereka selalu bertengkar. Tetapi, tiba-tiba saja mereka saling memikirkan satu sama lain.
Aku tidak akan terlalu mempermasalahkan "insta love" jika dieksekusi dengan baik. Sayangnya, dalam hal ini, aku kurang paham bagaimana bisa mereka langsung jatuh cinta begitu saja. Aku tahu, mereka masih remaja dan remaja bisa saja merasa tertarik pada seseorang yang baru saja ditemuinya beberapa kali. Tapi, aku kurang suka dengan eksekusinya.
Selain itu, alasan peperangan yang akan terjadi di antara kedua klan sedikit tidak jelas. Aku tahu Klan Kegelapan merasa iri dengan Klan Cahaya karena klan tersbeut mendapat cahaya matahari yang berlimpah sedangkan mereka sendiri tidak. Tetapi, lalu mengapa? Mengapa tidak diam dan nikmati hidupmu saja? Jika mereka–Klan Kegelapan–tahu jika kulit mereka akan melepuh andai mereka berdiri di bawah cahaya matahari, mengapa mereka tetap mengotot ingin mendapatkan cahaya matahari?
Selanjutnya, silsilah keluarga kerajaan di Klan Cahaya. Mari singkirkan Klan Kegelapan terlebih dahulu dan fokus pada silsilah keluarga di klan musuh mereka.
Yang aku ketahui adalah orang tua Sadira bernama Ratu Opal dan Raja Adhyaksa. Sadira memiliki seorang adik bernama Antya dan seorang sepupu bernama Isla. Di sini, aku akan membahas Antya terlebih dahulu karena hal ini bersinambungan.
Antya seharusnya berumur 10 tahun selama kejadian-kejadian di buku ini terjadi. Sayangnya, aku merasa bahwa Antya seharusnya berumur kurang lebih 12 atau 13 tahun.
Pola pikir Antya tidak seperti pola pikir anak berumur 10 tahun, atau tepatnya tidak seperti pola pikirku ketika aku berumur 10 tahun.
Aku yang 10 tahun hanya ingin bermain-main tanpa memikirkan beban dan tugas-tugas sekolah. Intinya, aku saat itu hanya suka bermain-main. Tetapi Antya, dia sudah berpikir macam-macam hal yang berbau politik dan peperangan antara kedua klan. Aku tidak terlalu mempermasalahkannya, sih, tetapi aku kurang yakin anak 10 tahun dapat berpikir sedalam itu mengenai urusan negara bahkan walau dia adalah seorang putri.
Jika Antya dikisahkan sebagai putri berumur 13 tahun, mungkin aku bisa menerimanya karena anak-anak usia tersebut sudah lebih paham terhadap kehidupan daripada ketika mereka masih berumur 10 tahun.
Selain itu, Antya memiliki seorang teman laki-laki bernama Finn yang, katanya, menyukai dirinya. Finn diceritakan sebagai adik Isla. Di sinilah aku merasa bingung dan harus menjabarkan silsilah keluarga mereka secara rinci.
Isla adalah sepupu Sadira dan hal ini disebutkan dengan jelas di bagian-bagian awal. Jika Isla memang adalah sepupu Sadira, berarti dia adalah sepupu Antya juga, bukan? Nah, jika Finn adalah adik Isla, berarti seharusnya, Finn juga sepupu Sadira dan Antya, kan? Ini membuatku sedikit ragu dan merasa aneh karena apakah boleh seseorang menyukai sepupunya lebih dari sebagai sepupu karena dilihat dari cara Antya memikirkan hal ini, itulah yang terjadi.
Baik, ini akan jadi poin terakhir dari review ini karena sepertinya review ini sudah terlalu panjang.
Yang terakhir adalah tokoh Laskar dan Sashika yang sepertinya tidak mengubah apapun di cerita ini.
Jadi, Laskar dan Sashika adalah dua tokoh dari dunia ini, dunia nyata, dunia modern, apapun sebutannya, yang digadang-gadang bakal menjadi penyelamat di dunia Aerial.
Walau aku belum sampai di bagian ini, aku masih mengingatnya karena sudah pernah membaca bagian ini beberapa tahun yang lalu.
[Spoiler Alert !!]
Laskar dan Sashika hanya ditugaskan untuk masuk ke tubuh Sadira dan Hassya untuk menyelamatkan kedua klan tersebut. Sayang sekali, aku yakin mereka tidak melakukan apapun ketika mereka berada di dalam tubuh kedua tokoh utama kita. Walau akhirnya dunia Aerial baik-baik saja, aku merasa bahwa dengan ketidakhadiran Laskar dan Sashika, dunia akan tetap baik-baik saja setelah perang.
[Spoiler End !!]
Ini saja yang akan kutuliskan. Aku yakin review ini terlalu panjang dan tidak ada yang akan membacanya sampai selesai. Mohon dimaklumi jika aku menuliskannya tidak dengan bahasa baku yang benar karena walau aku protes karena buku ini tidak jelas dalam hal kebahasaannya, aku hanya seorang pembaca dengan kemampuan kebahasaan yang masih minim.
Aku akan merekomendasikan buku ini jika kalian tertarik, tetapi tolong ingat selalu bahwa jika kalian merasa tidak nyaman dengan buku ini, jangan lanjutkan. Jika kalian memaksa diri kalian sendiri untuk lanjut membaca padahal kalian tidak suka, kalian akan seratus persen terkena reading slump seperti apa yang terjadi padaku sekarang.
awalnya novel ini aku lewatin begitu aja waktu pertama kali lihat di deretan new entry tempat penyewaan buku langganan aku di palangkaraya. entah kenapa rasanya waktu itu sama sekali gak tertarik hahaha, bukan cuma sekali, berkali-kali. tu buku seakan akan udah kasih performa meyakinkan buat jadi salah satu dari setumpuk buku yang bakal aku sewa, emm, yang biasanya 8 buah buku sekali sewa, baik novel atau komik :p setelah mulai rutin (lagi) sama kesibukan utama sebagai anak kuliahan, akhirnya buku itu terlupakan dengan dramatisnya :D trus, 2 hari yang lalu, aku mampir ke perpustakaan daerah banjarbaru. sebenarnya awalnya cuma nemenin sahabat karib aku bikin kartu anggota. sambil nunggu, aku yang sebenarnya doyan baca tapi jarang tersalurkan ini akhirnya milih buatmojok di tumpukan novel-novel yang kayaknya menarik perhatian banget. tetep aja sih, yang pertama diembat komik ah my goddess! vol. 47 yang sebenernya udah pernah dibaca :D pas mau balik, tiba-tiba si sohib nyuruhin buat pinjam satu buku, nambahin pinjaman dia gitu. dan tiba-tiba tanpa sengaja aku liat novel ini lagi-lagi nyembul, nampakin diri, berharap banget buat aku pinjem :) ya udahlah, better than nothing, dan setelah baca, aku bener-bener nyesel kenapa gak baca novel ini dari dulu :'(
Novel ini bener-bener penuh imajinasi, sarat fantasi, tapi bahasanya bener-bener ringan dan gak ngebetein, aku sampai bisa ngerasain hawa yang ada di ceritanya, bahkan sampai kebawa mimpi segala, alamak --")
Novel terbitan gramedia tahun 2009 lalu ini ditulis oleh Sitta Karina, gadis kelahiran 1980, novel ini bercerita tentang 2 klan yang saling bertentangan, klan cahaya (keturunan bangsa atlantis) yang hidup dengan matahari sebagai sumber hidup dengan klan kegelapan (keturunan bangsa viking) yang terbakar kalo terkena matahari. bangsa ini saling bertikai, mengutuk satu sama lain, sampai akhirnya pangeran kegelapan dan putri cahaya sama-sama jatuh cinta dan berniat mempersatukan bangsa mereka, meskipun di sebuah wilayah perbatasan yang indah bernama Aerial, konon tertulis bahwa jika pangeran dari bangsa kegelapan dan putri dari negeri cahaya bersatu mereka bakalan mengalami yang namanya kehancuran atau exitium. akhirnya, untuk mencegah kehancuran tersebut, adik putri cahaya yang bernama Antya, bersama kuda terbang bernama Linc, dibantu dengan orang-orang terpercaya baik dari bangsa kegelapan maupun bangsa cahaya berusaha memanggil Eripia atau penolong bernama Sashika dan Laskar dari dunia lain, dunia yang hutannya tak seindah dunia mereka, yang hanya dihuni oleh ratusan gedung pencakar langit, Jakarta. berhasilkah mereka semua? baca aja ceritanya ya :)
saya agak kecewa dengan buku-buku Sitta akhir2 ini. Iya, ceritanya masih tetap manis. Saya kira karakter tokoh utama cewek-nya akan mengalami perubahan, ternyata sama saja dengan para tokoh utama cewek lainnya di seluruh bukunya.
Khusus di Aerial ini, sungguh saya bingung... ada karakter yang benar-benar nggak penting muncul di sini. Maksud saya, untuk apa sih orang-orang ini muncul? Ngga ada mereka, ceritanya tetap bisa berjalan dengan baik kok. Atau mereka dibutuhkan hanya karena ingin Sitta ingin memperkenalkan mereka demi buku selanjutnya? *buku-buku Sitta Karina selalu ada benang merah antar tokohnya, btw*
Eh, bingung, ya, dari tadi saya nulis apaan? Maksudnya sih pengen cerita tapi takut jadi spoiler :p
Secara keseluruhan buku ini bagus kok, khas Sitta seperti biasanya. Walau cerita fantasinya agak common, ya.... Shoujo manga sekali :D
yang saya temukan setelah selesai membaca buku ini : 1. Kover yang oke sangat... jujur, setiap saya mandang kover ini rasanya pengen baca melulu bawaannya..
2. cara penggambaran dunianya cukup enak.. saya bisa membayangkannya dengan mudah..
3. mulanya saya berharap (banget) karakter cewek disini bisa jadi hero bener-bener tanpa embel-embel *mesti ditolongin pangeran tampan mulu*, ternyata enggak. = ='' ujung-ujungnya cerita ini tetep make tema putri disney.. diselamatkan pangeran.. save the kingdom.. and etc..
4. di bab 1.. saya lancar-lancar aja bacanya.. sampai di bab 2, pengganggu, -ralat- penolong dari jakarta dateng.. bkin kepalaku makin pusing karena enggak nemuin sedikit pun kehebohan yang mereka buat kecuali masuk ke raga pangeran dan putri..
sebenernya masih banyak yang ingin saya komentarin.. tapi rasanya segitu aja cukup.. :D tetap berjuang, mba sitta..
This book is a perfect mix of romance an fantasy. A strong female lead who doesn't take shit from anyone. The overall concept of how their realm is divided into two, the light and the dark was already something new and fresh for an Indonesian novel. The romance part is also equally and enchanting. Imagine a Princess from the light realm falling for the Prince of darkness? All things cliche but not really HAHA. It's like Romeo and Juliet with a twist and not ended up dying in the end. Totally recommended!
Bukan benar-benar untuk pecinta fantasi serius karena lebih menekankan kisah cinta antara pangeran kegelapan dan putri cahaya. Mungkin yang menyukai drama percintaan bakal lebih cocok karena semua adegannya terlalu mirip komik cewe (ciuman di kolam, cowo dingin yang sesungguhnya baik hati, cewe tomboy).
Ngomong2 kenapa sang pangeran bisa mencium bau darah si putri? apa "bocor" ya? :) j/k
Gak tau apa Kak Sitta waktu itu nggak kebagian editor waktu mau nerbitin atau gimana, tapi saya ngerasa buku ini all the way messy. Matahari solid? FYI, Matahari itu gas. Saya juga ngerasa kalau bahasanya nggak nyastra, banyak yang aneh, dialog yang cheesy, ga suka deh. Tapi idenya lumayan sih, eksekusinya aja yang kurang.
Jadi, saya mencoba untuk menelusuri buku-buku di dalam rak to-read saya di Goodreads. Salah satunya adalah Aerial karya Sitta Karina ini. Jujur saja, sebagai sebuah novel teenlit, saya rasa Aerial menawarkan premis yang cukup menarik. Sayangnya, eksekusinya tidak memenuhi ekspektasi saya.
Hassya dan Sadira merupakan dua orang dari bangsa yang berbeda, bangsa Kegelapan dan Cahaya. Kedua negeri tersebut telah berperang selama ribuan tahun. Tidak ada satupun dari mereka yang ingin mengalah. Padahal, alasan permusuhan mereka hanya didasarkan pada sejarah masa lalu. Suatu ketika, Hassya dan Sadira bertemu, kemudian mereka menemukan sejumlah rahasia yang ada di antara kedua negeri tersebut, dan entah mengapa, dengan begitu saja keduanya jatuh cinta.
Untuk ukuran novel teenlit, membawa kisah fantasi bisa menjadi suatu hal yang menarik dan tidak biasa. Akan tetapi, ada sejumlah hal yang membuat saya terus mengernyitkan dahi ketika membacanya. Sejumlah rant saya saat membaca buku ini adalah sebagai berikut:
Pertama, penggambaran tata letak negeri Kegelapan dan Cahaya di sini terasa agak janggal. Apabila memang terjadi keadaan siang dan malam yang normal di Negeri Cahaya, maka seharusnya hukum rotasi tetap berpengaruh di sini. Akan tetapi, di sini, negeri Kegelapan sama sekali tidak bisa mendapatkan cahaya matahari. Padahal, dari gambar ilustrasi cover, kedua negeri tersebut tergambar berdampingan.
Asumsi saya, negeri Kegelapan ini memiliki letak yang mirip dengan Kutub Selatan. Jadi berada di titik terjauh dari matahari. Hal ini menyebabkan sinar matahari sulit menembus wilayah tersebut. Akan tetapi, tetap saja terasa tidak masuk akal, bukan?
Kedua, proses jatuh cinta antara Hassya dan Sadira terasa terlalu cepat. Bahkan, interaksi di antara keduanya menurut saya sangatlah minim dan kurang memberikan dampak satu sama lain. Jadi, saya malah agak surprised ketika tiba-tiba saja Sadira merasa cemburu terhadap Hassya dan bagaimana Hassya tiba-tiba bersikap sangat protektif pada Sadira.
Ketiga, saya tidak menangkap urgensi adanya juru penyelamat yang datang dari bumi. Menurut saya, keberadaan Laskar dan Sashi dalam buku ini sangatlah minor, bahkan kalau dihilangkan pun tak apa. Akan lebih baik apabila permasalahan di dunia Aerial ini diselesaikan sendiri oleh Hassya dan Sadira.
Keberadaan dari Laskar dan Sashi menurut saya malah menjadi pemaksaan alur. Saya sih curiganya hal ini dilakukan untuk memunculkan sejumlah cameo, seperti keberadaan Sai dan Keluarga Hanafiah.
Selain itu, ada juga upaya memasukkan informasi yang tidak terlalu relevan seperti cerita Laskar mengingat Goa Cerme. Mengapa informasi tersebut harus dimasukkan? Apakah ini upaya untuk membuat buku ini jauh lebih berisi?
Entah mengapa, selama membaca buku ini banyak sekali hal-hal yang saya pertanyakan. Sebetulnya, saya masih suka dengan premis yang ditawarkan. Saya cukup penasaran dengan kehidupan di Negeri Kegelapan dan Cahaya seperti apa. Sayangnya, sejumlah "pemaksaan alur" di buku ini membuat saya tidak bisa terlalu menikmati ceritanya.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Bintang lima untuk nostalgia yang diberikan. Ini buku lama yang masih bertahan di rak bukuku. Ada beberapa alasan mengapa aku suka banget buku ini, meski bukunya tentu punya banyak sekali kekurangan. Saat pertama kali aku baca, aku langsung kaget ternyata ada penulis Indonesia yang punya imajinasi untuk menggabungkan genre fiksi dan romance dalam satu buku. Maklum, saat itu, aku ada di masa alergi dengan semua buku terbitan penulis Indonesia, lebih buka baca buku-buku penulis luar negeri baik yang sudah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia atau masih dalam Bahasa Inggris.
Tapi, setelah iseng membeli dan membaca buku ini, aku kaget penulis Indonesia juga ada yang menulis genre fantasy romance seperti ini yang seluruh setting waktu dan lokasinya diluar dunia nyata. Kisahnya sendiri sangat cliche khas bacaan remaja, yang kusuka pada masa itu, meski kalau sekarang dibaca ulang, aku juga berpikir, "kok bisa ya aku suka kisah cinta ginian dulu?"
Menceritakan kisah cinta perempuan dari Klan Cahaya dan laki-laki dari Klan Kegelapan yang sebenarnya kedua klan ini saling berperang untuk memperebutkan sumber daya alam karena kondisi geografis mereka yang berbeda. Jadi, semacam cinta terlarang yang terjadi akibat pertemuan tak disengaja di tanah netral. Meski kelihatannya cliche, jika dipikir-pikir genre dan tema Aerial sendiri punya potensi untuk dikembangkan lebih baik. Dibuat film juga mungkin akan sangat ok, meski aku tidak tahu ya apakah memungkinkan dengan kapasitas CGI perfilman di Indonesia. Sayangnya, aku tidak mengerti korelasinya dengan bab terakhir di cerita yang mengindikasikan cerita Aerial ini adalah dunia lain bagi tokoh yang ada di akhir bab. Bisa dimaklumi, karena Aerial ini juga adalah karya Sitta Karina pertama dan satu-satunya yang kubaca sehingga aku juga agak bingung. Sampai sekarang, aku belum ada rencana untuk membeli atau membaca buku Sitta Karina yang lain karena genre yang kusuka sudah berbeda dengan genre yang kusuka saat masa SMP dan awal SMA.
To be honest, aku cukup suka sama ceritanya. Tokohnya, latarnya, alurnya. Untuk aku, ada dua hal yang menjadi masalah di cerita ini.
Pertama, Sadira dan Hassya terlalu cepat jatuh cinta. Secara, mereka baru bertemu beberapa kali, dan seingatku waktu itu mereka nggak ber.. ber apa ya? Yah, nggak ngomong-ngomong (?) dengan baik lah, berhubung mereka dari dua klan yang bermusuhan. Tapi sewaktu lagi di Pesta Topeng atau apapun itu yang di Negeri Kegelapan, mereka udah bener-bener kayak dekeeettt banget. Dan menurutku ini sedikit kecepetan. Atau aku yang salah baca?
Kedua, Laskar dan Sashi yang menjadi penyelamat atau penolong atau apalah. Aku nggak paham mereka ngaruh apa sama Hassya dan Sadira. Istilahnya, mereka cuma masuk (?) ke tubuh Sadira dan Hassya, dan keduanya sepertinya nggak ngapa-ngapain. Aku bakal prefer kalau penyelamat/penolongnya bukan dari dunia kita ini, sehingga sedikit lebih nyaman untuk dibaca.
Aku bener-bener suka Isla-Toireann dan nggak rela Toireann mati. Karena entah mengapa, aku lebih suka dia ketimbang Hassya, sih... Cukup mengagetkan waktu dia mati. Well, memang beberapa orang yang mati di luar dugaanku banget, sih, seperti perempuan yang dari Negeri Kegelapan yang deket sama Hassya itu dan sahabatnya Hassya, satunya Ginta, yang ikut ke Aerial sewaktu Sadira pertama kali kesana.
Aku nggak betul-betul baca dengan niat seperti waktu biasanya di beberapa bagian. Mungkin kapan-kapan akan aku coba reread.
Aku juga agak bingung ngebayangin dua dunia yang berbeda. Tapi, kalau dikira-kira, sih, bisa.
Kesimpulannya, tiga bintang dulu, karena tipe bacaan seperti ini yang aku suka. Andaikan dua hal yang aku gak suka gak ada, mungkin ini bakal jadi buku yang bener-bener aku sukai. Walaupun aku bacanya memang punya kakakku, sih, bukan punyaku. Aku suka Ginta, by the way.
Novel Aerial ini adalah novel yang bikin aku autobuy semua buku-bukunya Kak Sitta hehe.
Novel remaja dengan genre middle to high fantasy ini menceritakan tentang Sadira dari negeri Cahaya bertemu dengan Hassya dari negeri kegelapan di daratan mengambang misterius bernama Aerial. Kedua negara ini saling bermusuhan, dan hubungan mereka berdua menimbulkan konflik-konflik berkepanjangan yang berefek dengan kelangsungan dua negara.
Dulu waktu baca ini tuh pas kelas 1 SMA rasanya kece banget, jarang ada novel Indo cewek-ceweknya mandiri dan ngelawan kayak Sadira. Tidak hanya dia aja, sepupunya Isla juga kece banget, dan Nenna si sobat yang jago ngerangkai bunga. Sampai sekarang baca ulang untuk kesekian kalinya malah makin amaze hehe. Karakterisasi cowok-cowoknya juga variatif, Hassya itu penyegar banget di tengah-tengah novel-novel karakter cowok yang bersifat kalem dan dingin gitu hehe. Bacotnya Hassya buset, nggak ada lawan hihi, mana elu Pangeran pula.
World buildingnya juga nggak asal-asalan, semua aspek tertata rapi dan dijelaskan melalui narasi yang lincah. Dari pesta, penggambaran istana dan hutan sampek Aerial itu sendiri. Konfliknya juga dibangun dengan rapi dan masuk akal, plus adegan aksinya juga OKE BANGET di mana halus tapi tetap to the point. Narasinya juga penggabungan baku dan non baku, jadi aura remajanya tetap berasa.
Kekurangan yang kurasakan selama baca adalah kegunaan Laskar dan Sashika huhu. Untung waktu itu Kak Sitta bilang bakal ada kelanjutannya mereka, mungkin kalau nggak bilang bakal kesel banget wkwk. Sama Sadiranya juga yang nggak ikut fighting, padahal bisa tuh skill fightingnya dipakai pas konflik besarnya hehe.
Overall aku enjoy banget baca Aerial, aku tunggu kelanjutannya ya Kak hehe.
i won't say that i'm fed up with this book, Aerial is just mediocre and a little bit disappointing for me.
dari sudut pandang karakter, Sadira sayangnya sama sekali tidak mencerminkan "perempuan kuat" yang digadang-gadang di awal. dirinya memang berjiwa petualang dan berkemauan keras, namun perempuan galak bukan berarti perempuan berkarakter kuat. banyak karakter yang entah kenapa diimplikasikan sebagai karakter penting, sementara saya pribadi tidak merasa mereka benar-benar berbeda satu sama lain. yang ada di benak saya ketika membaca adalah mereka hanya sekumpulan orang yang diberikan peran berbeda tanpa spesifikasi karakter yang tajam maupun khas.
kehadiran dua anak dari dunia modern bagi saya tidak terasa penting. memang di buku kehadiran mereka digadang-gadang menjadi kunci pemecahan masalah. namun kalau boleh memberi saran bagi Kak Sitta Karina, akan lebih baik untuk memasukkan tokoh sepenting itu sejak awal, dan bukan menjelang akhir cerita. kalaupun dirasa bingung harus memasukkan keduanya dimana karena awal cerita yang berfokus pada dimensi tempat Sadira dan Hassya tinggal, mungkin penulis bisa membuat chapter pengenalan atau chapter apapun di awal buku tentang dua anak modern - yang saya lupa namanya - itu. alasannya adalah agar pembaca merasa telah mengetahui atau setidaknya mengenal sedikit dua karakter penting tadi. dimasukkannya kedua anak modern ini, bagi saya pribadi, terasa seperti 'dilemparkan' begitu saja ke dalam cerita, karena mereka benar-benar masuk ke dalam cerita di tengah konflik tanpa ada glimpse tentang mereka sebelumnya (sinopsis tidak termasuk ya).
sekian opini dari saya. semoga bisa menjadi masukan dan acuan!
Di bab awal aku uda ngerasa "oke nihh cerita". Tapi memasuki bagian tengah dan akhirnya kok aku ngerasa terutama di bagian 'si penolong' berasa di paksa untuk masuk dlm cerita begitu saja. Jadi sedikit terganggu . Padahal untuk bab awalnya udah membuatku berdebar2 menunggu bagaimana mereka menyelesaikan masalah yg sudah dr jaman nenek moyang mereka.
untuk karakter tokohnya tergolong padat dengan peran mereka masing-masing, walaupun ada beberapa tokoh yg membuat aku bingung dgn tujuann dan misi mereka yang kurang dijelaskan secara detail. seperti Keir misalnya.
Overall secara keseluruhan utk alurnya oke, cocoklah untuk mengisi waktu senggang dgn membaca buku ini di sela2 kegiatan.
ANOTHER MY FANTASY NOVEL FROM INDONESIAN NOVELIST! sayang banget dan suka banget sama buku ini karena emang sebagus itu ceritanya. ceritanya benar-benar berbeda dari novel-novel fantasi kebanyakan. apalagi, ini penulis Indonesia! setiap karakter digambarkan cukup baik dan menyenangkan sekali untuk menamatkan buku ini. konfliknya pun saya rasa cukup ringan untuk dibaca sebagai selingan di setiap harinya.
Buku yang cocok untuk mendeskripsikan kalimat, "Perbedaan itu indah". Ceritanya ringan dan mudah dibayangkan karena penulisnya benar-benar menjelaskan setting tempat dengan jelas. Tipikal cerita yang disukai remaja-remaja penggila fantasi tapi dibumbui dengan romansa.
Mungkin agak kurang sreg aja dengan percintaan bocah SMA yang sudah sampai cium bibir, haha. Tapi tak apa, namanya anak muda, cintanya meluap-luap.
Bukunya udah gue baca tahun 2013 pas smp. Tapi karena gue kangen dan gue lagi jauh dari tanah air, jadi gue pilih baca disini. Semoga engga termasuk baca buki ilegal yaaa....❤️❤️💕
Aerial. Perbatasan antara kerajaan Cahaya dan Kegelapan. Sesuai namanya, kerajaan Cahaya dilimpahi matahari yang cukup, sedangkan kerajaan Kegelapan hanya... gelap, hitam pekat, tidak disinari matahari. Seperti yang bisa ditebak, kedua kerajaan tersebut bermusuhan.
Sadira, putri kerajaan Cahaya nekat pergi ke Aerial karena jiwanya yang pemberontak (tidak sesuai dengan putri-putri yang anggun) dan malah bertemu dengan Hassya, pangeran Kegelapan, dan kawan-kawannya.
Bisa ditebak lagi, they fall in love.
Mengingatkan saya akan trilogi Magical Seira.
Dan jujur aja, Magical Seira jauh lebih seru.
Di Aerial, alurnya terlalu berbelit, muter-muter gak jelas, meskipun intinya tetap di situ-situ aja; "Perang ini tidak boleh terjadi!"
Dan pada akhirnya, ternyata si penyihir malah mau minum darah Putri Cahaya. Ha ha ha. Lah katanya mau perang kok malah jadi pengen minum darah? Sangat unexpected.
Dan ada apa dengan Laskar dan Sashi? Mungkin kayak Magical Seira yang bagian Seth bersatu di tubuh Abel. Tapi nyatanya pas bagian Laskar & Sashi... mereka kesannya kayak numpang di tubuh Sadira & Hassya. Mereka tidak ikut berbuat apa-apa.
Untuk penokohan, lumayan bagus sih. Saya suka Sadira, meskipun Sashi yang (katanya) anak Pecinta Alam, tapi kok kesannya kayak tipikal cewek manja plus fragile deh. -_-
Menurut saya Sadira & Sashi itu kayak Seira yang dibagi dua. Sadira itu Seira yang menjelma menjadi pengganti Io, dan Sashi itu Seira yang manja dan harus bersikap sebagai princess.
Kalo Hassya malah gabungan dari Abel & Seth. Pendiam, tapi sekalinya ngomong nyablak.
Oh iya, ini ada bagian yang saya nggak ngerti. Bagian di mana Sadira melihat Isla, sepupunya, menyelinap keluar untuk bertemu dengan seorang pemuda yang ternyata (Sadira kira) Hassya.
Padahal itu Toireann, kakaknya.
Yang gak ngertinya, nanti dijelaskan bahwa Hassya adalah adik tiri Toireann, bahkan mereka tidak mempunyai hubungan darah sama sekali. Otomatis tidak ada kemiripan, kan?
Pertanyaan: kenapa Sadira mengira Toeriann itu Hassya? Padahal deskripsi mengenai Toeriann dan Hassya sudah jelas, kalo Toeriann memiliki rambut panjang sedangkan Hassya memiliki rambut cepak?
Apa Sadira butuh kacamata minus 7 kayak saya?
Dan sebenarnya masih banyak yang saya gak ngerti, sampe-sampe saya heran; apakah mbak Sitta Karina menulis ini saat struggling against writer's block atau gimana?
Lalu buku ini kayaknya hasil first draft, deh. Bukan hasil revisi yang panjang. Kenapa? Karena dari awal mbak Sitta menceritakannya secara terburu-buru.
Dan menurut saya ending-nya juga sudah pas, tidak perlu sekuel. Lah ini kenapa harus ada Ambrosia? Mana bukunya belum terbit lagi. -_-
Jujur, saya awalnya berharap lebih sama Aerial karena cerpen "Dongeng Padang Rumput" yang dimuat di majalah CG! jaman SMP dulu.
Tapi apa daya, ekspektasi sama realita memang beda.
Dan semoga untuk di Ambrosia, gak ada embel-embel nama "Hanafiah" atau "Syadiran" atau nama pengusaha lainnya deh.
Saya memang menyukai buku-buku Hanafiah (apalagi Pesan dari Bintang), tapi kalo dikait-kaitkan terus... jadi bosen.
Jangan-jangan untuk novel fantasi aja jadi companion novel Hanafiah. Duh lebih baik jadi stand-alone novel, deh, jangan dikait-kaitkan lagi.
Dan sebenarnya di Aerial ini saya lebih suka Toeriann dan Isla, loh. Mereka tampaknya lebih dewasa dan yah, meskipun pada akhirnya membuat saya agak kecewa.
Saya berharap mbak Sitta Karina mau membuat cerpen tentang Toeriann dan Isla, seperti bagaimana mereka bertemu dan jatuh cinta. Ya secara mereka berdua nggak bisa masuk Aerial.
The romance between Hassya and Sadira has quite a lot of plothole imo,,, like they suddenly this they suddenly that. Too fast-paced for me, but it does have a great way of describing the situations!
Review: Aerial Judul buku: Aerial Pengarang : Sitta Karina Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama Tahun terbit: 2009 Tebal: 319 halaman
Isi novel Dua negeri di atas awan, Negeri Kegelapan dan Negeri Cahaya sudah ditakdirkan untuk bermusuhan. Yang menjadi penyebab adalah kondisi yang berbeda dari dua negara itu. Negeri Cahaya mendapatkan kemakmuran melebihi Negeri Kegelapan. Negeri Cahaya hangat dan indah dengan musim semi yang menghasilkan berton-ton anggur dan gandum. Rakyatnya pun ramah dan senantiasa tersenyum. Sedangkan Negeri Kegelapan sebaliknya.
Negeri Kegelapan tidak sedikit pun merasakan hangatnya sinar mentari. Bahkan, kulit mereka pun langsung melepuh ketika terkena sinar surya. Suatu hari, Sadira, putri Negeri Cahaya yang berjiwa petualang, mengunjungi Aerial. Ini adalah tempat yang konon terkutuk, namun sebenarnya indah. Aerial adalah satu-satunya jalan menuju Negeri Kegelapan.
Ketika berjalan di sebuah danau di Aerial, secara tak sengaja dia bertemu Hassya, pangeran Negeri Kegelapan. Dari kejauhan, Hassya mampu mengendus bau darah Sadira yang berbeda. Dia sangat ingin menghisapnya. Di sisi lain, petualangan ini membuat Sadira ketagihan dengan bahaya.
Dari petualangan itu pula, Sadira mengenal Hassya. Ketika Sadira menghadapi bahaya, Hassya yang pertama datang menyelamatkan. Singkat cerita, Hassya akhirnya jatuh cinta kepada sang putri Matahari. Dua insan yang sedang jatuh cinta itu ingin menyatukan Negeri Matahari dan Negeri Kegelapan. Keinginan tersebut ditentang oleh dua kubu yang bertikai.
Review Melalui Aerial ini, Sitta Karina dapat menggambarkan secara gamblang tentang Aerial, kerajaan kegelapan dan kerajaan Cahaya, dengan daya imajinasinya. Akan tetapi, alurnya terlalu kompleks sehingga tidak megena pada bagian akhir, yaitu bagian ketika cerita melibatkan penjaga dari dunia lain. Bahasa yang digunakan dalam novel ini cukup unik dan menarik. Banyak bahasa yag terasa asing bagi pembaca. Namun, dengan adanya glosarium, pembaca dapat mengerti dan memahami alur cerita yang rumit dan mengundang rasa penasaran. Cerita dalam novel ini terasa menyenangkan. Novel ini cocok untuk remaja-remaja yang sedang mempunyai daya imajinasi tinggi Dapat membuat pembaca ikut berpikir dan mempunyai kosa kata baru tentunya. Dalam novel ini ditemukan kisah yang patut diteladani dan yang tidak pantas diteladani. Yang kurang sreg dalam novel ini kayaknya tokoh Laskar dan Sashika cuma sekadar tempelan dalam novel ini. Maksud saya kalau kedua tokoh ini tidak berpengaruh terhadap akhir cerita.
Ini adalah buku pertama karangan Sitta karina yang saya baca dan saya hanya memberi rating satu. Kenapa? Alasannya simple karena novel ini seperti tidak ada self-editing dan tidak kebagian editor. Buku ini cukup berantakan, mulai dari alur, pedokohan dan ending. Alas an lain yang membuat saya memberi rating satu adalah banyak kejadian dibuku ini yang tidak bisa dilogika.
Konsep dan plot dasar novel ini sebenarnya lumayan. Roman fantasi yang setting-nya di dunia lain. Tapi sayang sekali eksekusi penulisannya benar-benar berantakan.
Buku ini alurnya terlalu berbelit, muter-muter tidak jelas, meskipun intinya tetap di situ-situ aja; "Perang ini tidak boleh terjadi!"
Tokoh utama terlalu mudah jatuh cinta. Padahal dia baru bertemu hasya lalu di halaman berikutnya mereka jatuh cinta. Padahal dijelaskan jika Sadira adalah putri yang tidak mudah ditakhlukkan.
Dialog antar tokok memakai bahasa gaul dan itu menurut saya “nggak banget”. Tapi karena buku ini berlabel teenlit jadi saya sedikit maklum. Namun, bukan hanya di dialog saya yang memakai bahasa gaul, dinarasipun bayak terdapat bahasa gaul seperti: nggak, ama. Kalau narasi memakai bahasa gaul menurut saya “super nggak banget”
Beberapa kejadian juga tidak bisa masuk logika seperti saat Sadira yang cemburu meliat Hassya bertemu dengan Isla secara diam-diam, dan ternyata itu bukan Hassya, tapi kakaknya, Toireean, Lalu terungkaplah kalau Hassya sebenarnya anak pungut. Bukan adik kandung Toireean. Logikanya mereka tidak mirip, karena tidak ada hubungan darah.
Negeri Cahaya dan Negeri Kegelapan berseberangan, dibatasi Aerial. Tapi Negeri Cahaya ada malam dan siang, sedangkan Negeri Kegelapan ya gelap total. Matahari hanya menyinari Negeri cahaya, sedangkan Negeri Cahaya dan Negeri Kegelapan satu daratan. Bagaimana itu bisa terjadi? Apakah ada hokum fisika atau kimia yang bisa menjelaskan? Apa bisa satu daratan memiliki kondisi fisik yang cukup berbeda?
Keunggulan buku ini harus diakui adalah covernya yang sangat eye-catching. Sayang akhirnya mengecewakan karena finishing buku ini terkesan sangat terburu-buru.
Tapi, buku ini recommended untuk remaja yang menyukai kisah percintaan penuh rintangan dan untuk pecinta fantasi romance.
Saya sebenernya beli buku ini di suatu bazaar buku di Gramedia, dan saat itu saya lagi gandrung genre fantasy, jadi waktu saya lihat cover yang fantasy sangat ini, buku ini langsung saya sambar. Ditambah lagi, saya baru saja selesai baca buku Sitta Karina yang lain, yang judulnya Circa, dan di akhir buku itu sempat ada cuplikan bab pertama buku ini. Jadi saya penasaran deh.
Lalu saya baca kan. Semakin lama saya baca, saya semakin gagal paham. Pertama, buat apa orang-orang Kegelapan butuh matahari? Mereka kan nggak bisa sama sekali berada di bawah matahari, tapi kok ngotot ingin merasakan matahari?
Laluuuuuu Sadira. Dia awalnya menjanjikan, berpotensi jadi karakter cewek kuat (meskipun saya nggak suka sama sekali pas dia menjelek-jelekkan kegiatan 'perempuan'), tapi ulala... akhirnya sama aja. Dia berakhir jadi karakter cewek biasa yang butuh diselamatkan dan (kalo saya nggak salah ingat) malah tidak sempat menggunakan kemampuan berpedangnya.
Duh.
Hassya. Katanya dia dingin, tapi kok dia gitu? Sedikit-sedikit dia ngamuk, emosi. Dingin? Oh, sure.
Dan karakter dari Jakarta itu, aduuuhh... jadi sebenarnya apa yang mereka lakukan? Apa yang membuat mereka harus sengaja dipanggil? Oke, saya sempat merasa 'Ih, ini si Sai ya?' saat lihat karakter Sai yang muncul sebelumnya di Circa, bagi saya ini sentuhan yang asik.
Tapi Laskar dan Sashika? Setelah mereka dipanggil, mereka nggak melakukan apapun yang notable tuh, dalam menghentikan perang? Jadi buat apa dong sebenernya mereka?
Lalu karakter kakak Hassya (yang saya nggak berani nulis namanya karena namanya rumit dan saya takut salah tulis) itu, sebenernya dia KEREN. Karakter yang mendingan dibanding yang lain gitu. Dan dasarnya saya ini preferensinya aneh, saya seneng-seneng aja dengan apa yang terjadi pada si kakak.
Ini buku fantasi lokal pertama yang kubaca. Dan cukup banyak momen mengerutkan dahi sih. Misalnya, di cover kerajaan Cahaya dan Kegelapan berseberangan, yang membatasi Aerial. Tapi kerajaan Cahaya ada malam dan siang, sedangkan kerajaan Kegelapan ya gelap total. Sumber cahayanya sama seperti bumi yaitu matahari, tapi rotasinya bagaimana ya, kok daratan yang berdekatan ga kena matahari sama sekali?
Sadira pernah cemburu liat Hassya nemuin Isla diam-diam, eh ternyata itu bukan Hassya, tapi kakaknya, Toireean, kakaknya Hassya. Lalu terungkaplah kalau Hassya sebenarnya anak pungut. bukan adik kandung Toireean. Logikanya sih mereka ga mirip ya, secara nggak ada hubungan darah.
Kalau dalam membaca cerita ini otak dibebaskan dari logika, okelah kita coba. Tapi, di tengah2 muncul 2 tokoh dari SMA Surya Ilmu, masuk ke dunia antah berantah ini... hmmmm, maksa?
Narasinya juga dibuat agak puitis romantis ky sastra, tapi dialognya cheesy dan pakai bahasa gaul. AH GAGAL BANGET LAH. Gado2 abis ini Sitta Karina nulisnya, soalnya ngejlimet, campur aduk, plot muter-muter.
Mungkin diriku tidak cocok baca fantasi lokal. Jadinya terlalu membandingkan dengan fantasi luar yang biasa dibaca.
Oke, pertama, komentar tentang keseluruhan cerita, terutama cerita romansa antara Sadira-Hassya, udah diomongin sama Sai halaman 250.
Kedua, halaman 205 paragraf ke-10, it's super nonsense. satu hal pun nggak pernah mereka lakuin buat kedamaian kedua bangsa dan, nggak, pacaran diem-diem nggak termasuk perjuangan. Jadi, bisa kita ganti tokoh utamanya jadi Toireann sama Isla?? Atau, Antya sama Ginta, deh...
Ketiga, hmmmm... kayaknya, menggunakan Bangsa Viking sama Atlantis jadi akar sejarah cerita ini sama nggak masuk akalnya kayak perjuangan Sadira-Hassya (plus koalisinya). Nggak ada tautan yg jelas dan penjelasan runut gimana dari dua bangsa itu beranak pinak sampai ke kedua bangsanya Sadira-Hassya. Penulis juga nggak ngambil budaya/kebiasaan/adat/ciri fisik Bangsa Viking maupun Atlantis sebagai acuan keturunan. Jadi, ini nonsense juga.
Keempat, Imogiri di Jawa Tengah. Uh... should I explain more?? Semoga semua lulus pelajaran geografi, ya, teman-teman...
ini novel butuh imajinasi yang tinggi. karena novel fantasi gitu deh, namanya aneh-aneh, tokohnya banyak dan ada mantera-manteranya. tapii, jangan salah. justru novel ini keren banget kawan! menceritakan pangeran kegelapan, hassya dan putri cahaya, sadira yang saling jatuh cinta. sedangkan kalau klan kegelapan dan klan cahaya bersatu, maka akan terjadi exitium, atau kehancuran. namun dua sedjoli romantis mengalahkan romeo juliet ini nggak pantang menyerah, mereka tetap memperjuangkan hubungan mereka walau klan kegelapan dan klan cahaya harus berperang sekalipun. untuk itulah dipanggil dua orang penolong dari dunia lain (dunia manusia maksudnya)yang merupakan jiwa penjaga mereka, yaitu sashika dan laskar. endingnya seru deh, aerial, daratan anti gravitasi (yang ada di cover) yang memisahkan daratan kegelapan dan cahaya akhirnya menyatu. ada banyak nyawa berguguran demi menyatukan hal yang tidak tersatukan :")