"Paaak...Pengin mulih wae, Pak.. "
"Mulih Paaaaakk.. "
"Karo si Mbah wae Paaak
Muliiiiiiiihhh.. "
"Mulih Paaaaaakkk..
Muliiiiiiiiiihhh.... "
Jawa, tahun 1751.
Akibat tidak dapat membayar hutang untuk modal bertani kepada lintah darat akibat banjir dan gagal panen, Parto dijual sebagai budak kepada orang Belanda. Parto, orang desa yang polos dan lugu, tidak pernah membayangkan akan apa artinya menjadi seorang budak orang Belanda pada masa itu, kebebasan dan kehidupan seperti apa yang akan hilang darinya. Tidak pula ia tau bahwa ada tanah asing di samudera yang lain tempat orang-orang Jawa dibawa dan tidak pernah kembali. Parto yang tidak ingin Wulan, anak semata wayangnya yang masih berumur sepuluh tahun, bersedih karena hidup jauh dari ayah dan orangtuanya satu-satunya, membawa Wulan turut serta dengannya ke Batavia. Nasib kemudian membawa Parto dan Wulan ke Tanjung Harapan, Afrika Selatan.
Buku ini penting karena sebelumnya belum pernah ada novel yang menceritakan tentang kehidupan para budak dari Nusantara di Tanjung Harapan, salah satu koloni Belanda pada abad ke 18. Ada beberapa POV yang digunakan oleh penulis dalam bercerita, yaitu POV Parto, Wulan, Lastri (Nenek Wulan), dan Wage (kakek Wulan). Dari keempat POV ini penceritaan dari POV Wulan sangat menarik, karena disampaikan seperti gabungan puisi dan prosa. Tulisan ini menurut saya sangat Jawa sekali. Melalui tokoh-tokohnya, pembaca dapat memahami pola pikir wong Jowo yang paling murni, kepasrahan kepada sang pencipta, serta doa-doa dan harapan-harapan yang dipanjatkan melalui ritual-ritual dan perayaan-perayaan seperti kelahiran, pernikahan, dan kematian. Sangat berbeda dengan masa kini di mana tradisi dan ritual-ritual tersebut telah hampir kehilangan arti.
Cerita tentang perbudakan tentunya selalu menjadi neraka bagi perempuan muda seperti Wulan. Dari awal cerita saya terus takut akan apa yang akan dihadapi Wulan saat dia beranjak dewasa, dan sangat menyesali kepolosan Parto yang membawa Wulan ikut serta. Dan tentu saja semua kekhawatiran itu terjadi dan membawa kepedihan yang begitu besar bagi Wulan, Parto, dan keturunan-keturunan mereka nantinya dalam cara yang amat kejam. Kita akan menyaksikan seberapa kejamnya kehidupan sebagai budak, yang tidak ada bedanya dengan properti lainnya seperti hewan ternak dan perabotan. Kita juga akan dibawa turut nelangsa dalam kerinduan pada kampung halaman dan ketidakberdayaan untuk mencapainya.
Buku ini penting dan sangat menarik sekali dibaca sebagai karya fiksi berlatar sejarah perbudakan di Nusantara.