El Mira mungkin terlihat seperti remaja perempuan pada umumnya. Dia suka banget sama Zayn Malik, hobi mix and match baju, sampai tampil kece di setiap kelas perkuliahan. Walau begitu, El Mira jelas kasus khusus dan tidak ada seorang pun yang tahu hal itu. Dia bisa melihat jodoh manusia! Termasuk jodohnya sendiri!
Danuja adalah orang yang dilihat El Mira sebagai jodohnya di masa depan. Sayangnya, hati El Mira tidak bergetar untuk Danuja. Malahan, mereka selalu bermusuhan seperti magnet dengan kutub yang sama. Jika memang Danuja si kakak senior galak itu adalah jodohnya, seperti apakah bentuk cinta sebenarnya?
Lewat Danuja, El Mira mencoba menyelesaikan teka-teki jatuh cinta. Hingga kemudian, Semesta menunjukkan pada El Mira bahwa Danuja bukan hanya sekadar jodohnya. Danuja adalah hitam, dan Semesta tidak melulu bercanda dengan keadaan.
Oda Sekar Ayu is a not so sophisticated female writer. She lives double life as a day dreamer and a stress averse corporate slave. As she was born in the month of Arian, she recites the bubbly traits under the sign of Aries. Oda named Marga T, Keynes, Marrie Currie, and Amy Zhang as the most inspirational figures in her writings. You can find her around Bogor and South Jakarta area.
The book is ok until the author try to drag down another author. Your behaviour is not acceptable, Ma'am.
===
Setengah awal tuh page turning. Aku juga suka sama perdebatan Danuja-El Mira. Kek asyik aja gtu mereka tuh. Sarkasmenya selalu dapet. Walaupun aku agak terganggu ya sama pengulangan El Mira yang katanya selalu sinis dan punya muka jutek. Kek terlaluuuuu repetitif. Kek memaksa reader buat percaya aja gtu, padahal dengan omongan dia juga udah keliatan, sih.
Terus inituh definisi hal simpel yang dibuat ribet in a good way yaaaa. Soalnya tuh simpel gitu inti masalahnya tapi eksekusi plotnya tuh keren dan nyambung kemana2. Aku juga suka konsep di cerita ini tuh.
Nah tapi emang transisi dari benci ke sukanya terlaku tiba2 ya menurutku. Kek kmren kamu gk ngerasain apa2 kok skrang jdi cinta. Kurang smooth aja, sih.
Nah setelah bagian di mobil itu, dari sana kek mulai bosen sebenernya krena ngulang hal yg sama.
Tapi overall aku teteo suka, sih. Apalagi aku suka genre magical realism kayak gini, wkwk.
Alasannya sama, lagi nggak mood baca yang slow burn. Apalagi udah sampai halaman segini, tapi nggak ada yang bisa bikin bertahan. Narasinya juga dragging bagiku. Ini beberapa catatan yang sempat aku tulis di notes hp: - Apa cuma perasaanku, Andre voice-nya sama kayak Pingkan, tapi Mira macam udah kelepek2 gitu. - Makin ke sini, karakter Mira malah kayak pmg, habisnya mention soal dia judes dan cuma jadi satu-satunya yang ini dan itu 🤔 - Serius, Elex nggak rekrut proofreader apa gimana, sih 😭 - Akhir bab 3, Mira bilang dia bego. Kalo bego kayaknya agak mustahal bisa masuk akselerasi 😶 - Mira duluan kan ya yang seksis ke Danu, terus dia negur orang lain seksis ke dia. Well xD - Penting banget kayaknya jabatan Danuja as wakil BPM sampe Mira nggak mau ngalah gitu. Dan berapa kali disebut astagaaaa, iya tahu anak ormawa, udah, nyebutnya udah kayak baca dzikir. 😭
Nggak tau bakal dilanjut apa enggak, mungkin iya, mungkin juga enggak. Tinggal lihat mood.
RALAT. Per 9 Juli 2024, buku ini nggak akan kulanjut sampai kapan pun. Gws buat penulisnya. Semoga cepat sadar dari sikap buruknya ke orang lain :)
Eeeeeh? Akhirnya endingnya balik ke awal lagi dengan kenyataan yang berubah 180 derajat??? Tapi Andre gimana? OMG! That's so magicaaaal xD
Pernah dengar ungkapan seperti ini? "Bahkan meskipun harus mati berkali-kali, jika dilahirkan kembali, aku pasti akan terus jatuh cinta padamu." Kalau ungkapan dari dr. Strange sih, "I love you in every universe." Nah, itulah inti cerita Teka-Teki Jatuh Cinta ini.
Memang perlu sering baca cerita-cerita sureal ala animasi dan komik Jepang untuk bisa menikmati bagian kedua dari buku ini yaitu bagian time loop dengan maksimal. Misalnya cerita My Tomorrow, Your Yesterday. Jika kamu penikmat seri Supernova, itu mungkin juga akan membantu. Karena bagian Ratu Es, Raja Es, dan Kesatria di bagian akhirnya terdengar begitu magis seperti dongeng yang ditulis oleh Dee.
Kalau cuma suka baca cerita-cerita realis sih mungkin bakal kesusahan menikmati cerita ini secara utuh. Hahaha. I hope buku ini menemukan lebih banyak pembaca yang bisa memahami keindahan magisnya secara hakiki.
Rasanya cerita ini pas banget diadaptasi jadi webtoon. Pas banget. Pasti ngegemesin liat bitter banter Danuja vs Mira divisualkan. Hanya saja mungkin part terakhirnya perlu lebih banyak diwarnai adegan aksi. Terutama bagian ketika Andre menampakkan jati dirinya.
Oh my, this book is a gem! Ya ampun, Semesta. Kasih aku satu Kak Danuja, plis. Minus sinisnya tapi xD
aku udah pernah baca versi watty lama sekali, lalu ceritanya naik cetak aku baca lagi di gramedia digital. aku bingung dulu aku suka sekali ceritanya bikin gemes karena karakter perempuan nya kayak linglung sama kehidupan-kehidupannya di beberapa dimensi. sekarang waktu aku baca lagi aku ternyata sudah ga cukup kuat baca buku yang lumayan tebal begini, tapi aku tetap menikmati ceritanya nostalgia waktu awal-awal kuliah hahaha.
sebenarnya masu kasih rate 3.8 saja, tapi di sini gabisa pakai koma jadi di bulatkan menjadi 4.
Premisnya menarik, tapi eksekusinya kurang menurutku. Bagian pertama di dimensi "Mengapa Aku?" terlalu draggy. Sebagian besar hanya berisi cek cok El Mira dan Danuja. Lalu tiba-tiba Mira yang awalnya naksir Andre jadi naksir Danuja. Perubahan Mira jadi suka Danuja tuh kurang smooth. Bab sebelumnya masih bahas betapa kesalnya Mira ke Danuja, trus bab selanjutnya Mira ngaku naksir Danuja. Dari sini udah spoiler. Dan ga lama dari Mira naksir Danuja, mereka berdua kecelakaan dan meninggal karena mereka cek cok di mobil dan Mira confess ke Danuja.
Lalu di dimensi selanjutnya "Mengapa Danuja", aku jujur ga paham kenapa Danuja kesal ke Mira terus perkara dia mengulang dimensi yang sama terus-terusan sama Mira. Miranya udah bilang ga tau dan dia yang malah ga inget sama dimensi-dimensi sebelumnya, tapi Danuja tetep kekeh nanyain "Kenapa gue Miraa??" Nah yang bikin bingung nih orang nanya mulu, tapi pas Mira mau diskusi, Danuja malah ngehindar. Kek muter-muter di sini :))
Lalu di dimensi ini keungkap kan kalo Andre yang bikin mereka selalu mengulang kehidupan mereka dan hidup di banyak dimensi. Tapi yang bikin gue bingung, kalo Andre pengen Mira balikin cintanya ke Andre, kenapa di dimensi sebelum-sebelumnya Andre keliatan kek nyomblangin Mira sama Danuja??? Andre kek keliatan secara ga langsung deketin mereka. Ngomongin hal-hal baik tentang Danuja ke Mira pas Mira masih sering berantem sama Danuja. Kan aneh. Kalo gak suka mereka deket kenapa kek deketin?
Trus setelah Andre bilang dia mastermindnya, Mira baru sadar root causenya dan inget kehidupan pertama mereka semua di dimensi "Raja, Ratu, dan Kesatria". Nah abis kejadian ini cuma ditunjukin Mira sama Danuja yang berjanji akan "I love u in every universe" dan ga masalah kalo keulang lagi kehidupan mereka. Terus Andre ke manaaa??? Udah gitu doang tugasnya Andre? Ngasih tau kalo dia Raja dan yang menyebabkan dimensinya keulang-ulang terus?
Jujur ga dapet chemistrynya Danuja dan Mira karena mereka cuma adu debat trus tiba-tiba saling suka. Itu pun di dimensi "Mengapa Aku?" Danuja niatnya pengen ngancurin Mira. Trus di dimensi "Mengapa Danuja?" isinya sebagian besar Danuja yang nanyain "kenapa aku mira?" trus tiba-tiba confess dia suka Mira karena Mira seorang Dewi 🫠
Andre dibikin somehow villain juga terasa tiba-tiba. Trus apa hubungannya Andre dan Pinkan kalo gitu? Kenapa di dimensi "Mengapa Aku?" Andre ditakdirkan sama Pinkan?
Cerita Raja, Ratu, Kesatrianya cukup bagus padahal. Tapi kisah Danuja dan Mira capek bacanya.
Cerita romansa remaja yang dikemas dengan sangat rumit, membuatnya menjadi unik dan beda dari cerita romansa remaja (teenlit/young adult) pada umumnya.
Narasinya enak dan nggak biasa, campuran antara hal-hal filosofis dengan hal-hal receh berbasis budaya populer ("Demi selai ubur-ubur", "Sumpah demi Konoha", dan segala yang berkaitan dengan Naruto, Spongebob Squarepants, Avatar Aang--entahlah, mungkin penulisnya suka banget sama hal-hal itu?). Sarkasme El Mira dan Danuja konsisten, banter mereka ngegemesin meskipun ya kebayang sih capek juga kalo ngadepin kesinisan macam itu di dunia nyata. Kalo ada orang di dunia nyata yang mulutnya kayak El Mira atau Danuja, yang ditanya baik-baik tapi jawabnya malah sarkas terus, kayaknya pengin saya tampol aja karena pasti capek ngadepinnya. :)))
Bukunya lumayan tebal jadi kesannya cukup tertinggal lama. Saya suka sih pembangunan chemistry antara El Mira dan Danuja. Kerasa banget betapa mereka punya koneksi yang sangat mendalam antara satu sama lain karena... cuma mereka berdua yang paham tentang berbagai dimensi dan realitas yang telah mereka lalui. Perasaan mereka satu sama lain mengakar dalam karena memang mereka telah terhubung sejak lama....
Jujur cerita ini diakhiri dengan rasa agak menggantung dan ada hal yang belum terjelaskan Tapi kayaknya penulis punya universe buku-bukunya sendiri, jadi mungkin aja cerita mereka akan disebut lagi di buku-buku selanjutnya.
Saya mengapresiasi cerita ini karena saya sadar betul pasti sulit sekali meramu kisah dengan premis yang tampak sederhana tapi ternyata penuh kenyataan rumit seperti ini. Saya juga cukup menikmati membacanya; berasa lagi nonton drama romance-fantasy dengan elemen-elemen filosofis dan penuh persinggungan tentang cinta, kehidupan, dan kematian. Jadi, kendati rating pribadi saya untuk buku ini sebenarnya kisaran 3,5 bintang, saya bulatkan setengah bintang ke atas.
Pernah baca novel ini di wattpad, tapi belum sempat baca sampai tamat. Begitu liat ada novel ini di Gramedia Digital langsung baca ulang dari awal deh.
Sekitar 70% dari isi novel ini hanya narasi dari pemikiran El Mira yang absurd. Namun, hal ini menjadi petunjuk untuk konflik utama dalam novel ini. Tokoh El Mira dibuat sangat menonjol, bukan hanya karena novel ini ditulis dari sudut pandangnya tetapi juga karena memuat isi pikirannya yang sebenarnya tidak terlalu penting untuk dibahas. Di akhir kita akan diberi paham kenapa novel ini ditulis begitu. Sebab El Mira adalah kunci dari semua yang terjadi.
Alur novel ini cukup lambat, ditambah dengan betapa menyebalkannya El Mira ini karena tidak membuat alur novel ini maju. Bagian yang lama-lama jadi menyebalkan adalah ketika El Mira yang sering mengajak Danuja bertemu untuk mengemukakan pendapat yang menurutnya penting mengenai konflik yang terjadi di antara mereka. Padahal pendapat yang dikemukakan El Mira ini justru gk penting. Justru pendapat dan teori Danuja lah yang penting tetapi El Mira malah menyepelekan teori Danuja. Selain itu, walau mereka sering berbagi berbagai teori tentang konflik, tidak pernah ada tindak lanjut menjalankan teori yang mereka kemukakan. Alurnya pun jadi lambat dan terasa stuck.
Romansa di antara El Mira dan Danuja sangat tipis. Hanya berupa diskusi dan pertengkaran saja. Tidak ada interaksi romansa yang bisa membuat pembaca berdebar.
Ending dari novel ini juga kurang memuaskan menurutku karena hanya berupa penjelasan mengenai asal-muasal konflik kemudian ditutup dengan penerimaan dari para tokoh. Pembaca pun tidak mendapat solusi yang memuaskan dari konfliknya.
Kemudian, tokoh Andre di akhir cerita menjadi terasa janggal, seakan dia tokoh yang disulap untuk jadi plot twist. Sebab dari awal kemunculannya tidak ada pertanda apa pun. Berbeda dengan El Mira dan Danuja yang masih punya hint dari awal cerita.
dulu sempet ngikutin cerita ini pas masih di wattpad. kalau nggak salah udah beberapa kali republish juga di sana. sampe akhirnya aku berhenti baca wattpad, di suatu hari keinget cerita apa ya yang ceweknya bisa lihat jodoh?
dari sana lanjut ubek2 wattpad akhirnya ketemu ternyata mau diterbitin! (pada waktu itu) pas ada kesempatan ke gramedia, menelusuri rak buku, ketemu deh buku ini dan cuss langsung beli
kynya memang ekspektasi aku sama buku ini ketinggian deh soalnya aku sukaa sama karya kak oda yg lain (alfa&omega sama petjah) tapi ternyata aku nggak begitu suka sama buku ini
bercerita tentang el mira, yang bisa melihat jodoh orang. "jodoh" yang dilihat berupa lintasan cahaya yang terhubung antara perempuan dan laki laki. el mira melihat jodohnya adalah laki laki yang sama sekali tidak dicintainya, danuja.
hampir setiap saat mereka bertemu, mereka bertengkar. danuja ternyata juga melihat dimensi yang sama dengan el mira. bedanya, yang dilihat danuja adalah kematian.
⚠️ spoiler ⚠️ dari sanalah mereka kerap kali menghabiskan waktu bersama. sampai akhirnya kecelakaan itu terjadi. dan el mira (beserta yang lainnya) mengulang kehidupan, mengulang waktu.
aku jujur nggak melihat adanya chemistry antara el mira dan danuja. mungkin karena segalanya terjadi begitu saja? terlalu cepat? tiba tiba benci, tiba tiba cinta, tiba tiba berpolitik.
juga dengan kata2 yang sering sekali aku temukan hampir di setiap bab, atau lebih parahnya, setiap paragraf. selai ubur ubur, tuan krab, bikinni bottom, dsb.
mungkin ekspektasiku terlalu tinggi. atau mungkin genre yang seperti ini bukan kesukaanku.
Okay waktu baca blurb-nya, aku mikirnya, 'oh cerita fantasi', dan aku putuskan untuk membaca buku ini, toh genre fantasi bukan hal yang baru untukku. Di awal cerita lumayan enjoy tuh, walau masih nggak bisa memahami obrolan mengenai dimensi antara Danuja dan Mira, cuma setelah 'kejadian' itu, aku udah bener-bener nggak paham dan kayak hah-hoh doang. Semakin sulit mencerna obrolan yang terjadi antara Danuja-Mira-Andre, masalah dewa-dewi, raja-ratu-kstaria juga masih belum terlalu paham. Otakku mungkin nggak bisa mencerna cerita ini, jadi yah rating yang aku kasih nggak begitu bagus, bukan salah penulisnya, salahku sih yang nggak bisa mencerna jalan ceritanya sehingga nggak paham sama inti dari buku ini. Cuma aku notice ada beberapa typo, memang tidak banyak,, tapi tidak juga sedikit sehingga cukup menganggu. Terus setiap Mira menceritakan Nadhira, itu selalu berulang-ulang ya, ditambahin keterangan bahwa Nadhir adalah teman dekatnya waktu SMA, aku rasa sekali atau dua kali nggak papa, tapi kalo nggak salah ada empat sampe lima kali nama Nadhir dibawa dan ditambahkan embel-embel dia adalah teman dekatnya Mira di SMA. Terus obrolan-obrolan romance antara Danuja sama Mira nggak tau ya, di aku tuh kayak kurang nge-feel gitu, karena kayak aku harus mencerna ini Danuja gombal beneran atau sekedar sarkas. Jadinya setiap dia gombal, kayak manggil sayang atau cantik, aku nggak yang merasa baper atau gimana gitu
Selesai dan suka. Suka banget. Makanya rating 5. Yah walau agak janggal karena kebanyakan sumpah demi konoha. Tapi selain itu perfect.
Berawal dari Mira yang bingung kenapa bisa Danuja yang jadi jodohnya karena mereka sama sekali ngga akur. Yah benci benci jadi cinta gitu. Cuma ini berubah benci jadi cinta nya smooth banget. Pas banget. Suka nggak maksa.
Pas Mira Danuja kecelakaan terus baca bab selanjutnya. Langsung kayak hah ini apaan. Maksudnya ini gimana. Dan semakin penasaran lalu baru sadar oh ini genre nya fantasi. Oke pas sadar fantasi langsung mulai mikir agak keras. Gimana ini ceritanya. Baca ini cocoknya malem-malem biar ga keganggu apapun dan bisa konsen memahami isi cerita ini.
Waktu Danuja ngegombal, aku yang teriak-teriak. Padahal dia cuma bilang Mira cantik dan manggil El Mira Sayang. Ngga jelas banget emang aku. Disini romance nya tipis banget, setipis tisu dibagi sepuluh. Makanya kalau ada yang sweet dikit berasa pengen teriak-teriak.
Endingnya suka.
Aku juga akan memilih selalu mengingat kamu meski harus mati dan mengulang kembali lalu mati dan mengulang kembali.
Membaca novel ini semenjak dirilis di Wattpad. Mbak Oda Sekar Ayu membuat saya bertanya-tanya tentang perkembangan setiap babnya. Ceritanya agak susah dimengerti karena menggunakan eksistensi waktu dan bagaimana Danuja & Mira menjabarkannya dengan banyak diksi yang saya sebagai orang awam sastra susah mengerti. Karakter Danuja dan Mira konsisten hingga akhir sehingga tidak bertanya-tanya atau heran. Saya pikir, cerita ini hanyalah teenlit pada umumnya. Mahasiswi yang jatuh cinta pada Kakak Tingkatnya, atau sebaliknya. Ternyata, lebih berat daripada itu. Karena menggunakan perumpamaan dan beberapa kalimat yang jarang ditemukan membuat novel ini sedikit-banyak susah dimengerti. Tetapi, awal-klimaks-ending dari cerita ini sangat apik dan rapi. Plot twist yang tidak terduga dan kalau kita resapi "Ah! Karena itu..." akan ada banyak "Ah!" pada setiap rentetan kata. Mba Oda, welldone! Menunggu karyamu selanjutnya 🌻
Mira yapping is the mood. Tapi dia terlalu banyak mikir tanpa pernah nyampe ke konklusi, bikin yapping-nya terasa kayak information overload. Agak aneh sih kalau dia ternyata pernah akselerasi.
Politik rokok sebenernya menarik, teorinya ngena, tapi pembahasannya nggak pernah tuntas. Lebih terasa kayak formalitas biar dagangan di Circuit Biscuit laku, bukan sebagai bagian penting dari cerita.
Awal cerita, aku nyantol banget—sejatuh cinta itu sama Mira-Danuja. Tapi setelah insiden kecelakaan di mobil, cerita mulai muter-muter. Kesan yang muncul: penulis lagi ngulur waktu buat nyampe ke ending. Dan sumpah-serapah Mira yang diulang-ulang terus... awalnya terasa sarkas, tapi makin ke sini jatuhnya cuma julid.
There are just too many repetitive phrases that quickly become tiresome, like “semesta” and “demi selai ubur-ubur Bikini Bottom.” They sound more cringe than charming after a while. Another thing that didn’t sit well with me was how suddenly Danuja started getting close to El Mira—it felt forced and unnatural, like the story was rushing to make something happen. I bought this book because I was dying to know whether what El Mira saw was really her destined soulmate. Unfortunately, the story’s resolution didn’t feel satisfying enough to justify the buildup. And honestly… I still don’t understand, are they trapped in a time loop, or what?
Ngikutin waktu masih on going di wattpad sampe digantung berapa lama waktu itu sama kak oda wkwk lupa. Terus akhirnya di selesaiin juga, dan dibukukan. Aku udah agak lupa sama ending di wattpad gimana, tapi seingetku agak atau mungkin emang nggak sama ya sama ending di buku? Tapi tetep suka dua-duanya sihh. Walaupun gantung ye but gwenchana gwenchanaa. Yang penting mah sang dewi dan kesatria masih akan terus saling memilih dan mencinta, lagi dan lagi.
Big no buat penulis problematik yang fitnah penulis lain karena merasa idenya sangat unik dan tidak mungkin ada yang sama di muka bumi ini. Ceritanya juga sangat tidak masuk akal. Bagaimana bisa melihat lintasan cahaya di bawah terik matahari? Di atas kepala pula lintasan cahaya itu. Emang bisa cahaya lintasan cahaya berhenti tanpa menabrak benda?
Au ah pening. Udah cukup aku aja yg baca novel nggak masuk akal ini, kamu jangan.
Nggak ngerti ini intinya apa. Percakapan serius yang lagi menjelaskan tentang Ratu, Raja dan Kesatria malah dikacaukan dengan sumpah serapahnya Mira yang mengganggu banget. Mira dan Danu berantemnya pun nggak tau sikon, lagi serius aja bisa kepotong dulu percakapannya pake cekcok gak penting. Capek sendiri bacanya pengen cepet-cepet beres.
Udah pernah baca 2 karya penulis, petjah dan alfa omega and so far bagus sih aku menikmati bacanya. Tapi, untuk karya yg ini aku kurang menikmati, bukan berarti jelek tapi ga masuk aja di aku heheh.
Suka sama karakterisasi El-Mira. She is unintentionally funny everytime she says,"Sumpah Demi Konoha." Her dynamic with Danuja as annoyance to lovers is fine. Slowburn tp gak bikin boring. Cuma bbrp kali sebel sama Danuja dan his mainsplaning act. Though it might necessary for the sake plot and characterisation development sake. Another thing is i don't like the ending choice. I hope they fight so they won't trap in another different dimention again.
This entire review has been hidden because of spoilers.