Namaku Minaka Aretha. Orang-orang memanggilku Karet. Cedera berat dan tidak bisa main basket lagi, membuatku harus merelakan mimpiku sebagai pemain basket profesional. Tapi, aku akan mengingat selamanya siapa yang telah menghancurkan harapanku, meski itu membuatku harus mendaftar di kampus dan fakultas yang sama dengan dia. Lihat saja...
Steve? Huh, Setip maksudmu?
Ah, dia hanyalah alat untuk memuluskan rencanaku, tapi tidak disangka terlibat dengan cowok gondrong, tatoan, nan usil itu membuatku harus memikirkan lagi rencanaku. Apa yang harus aku lakukan? Kenapa balas dendam segini saja sulit dilakukan?
Indah atau yang lebih dikenal dengan nama Handi Namire ini adalah penulis novel kelahiran Tegal dan lulusan Universitas Sebelas Maret. Menulis adalah bagian dari hobinya sekaligus terapi untuk menyenangkan diri. Menyukai genre romansa sekalipun penulis mengakui dirinya bukan pribadi yang romantis. Saat ini kesibukannya adalah sebagai ibu rumah tangga, menulis novel sambil sesekali aktif dalam kegiatan literasi di kota kelahirannya.
Beberapa novelnya yang sudah terbit adalah Seventeen Once Again, Rashi & Sketsa Rahasia, Karet dan Setip, The Drummer. Marriage With Benefits adalah salah satu novelnya yang sudah diadaptasi menjadi series dan sudah tayang di Original Series VIU.
Anw, aku cukup tertarik sama judulnya. Dan sebelum baca blurbnya, kupikir ada maksud tersendiri buat pemakaian judul Karet dan Setip ini. Ternyata diambil dari nama mereka. Dan, aku kurang mengerti konflik primer/utama dalam novel ini sebenernya apa. Karena sejujurnya, dari hal 150 ke belakang atau saat kejadian di hotel itu, aku merasa ceritanya jadi nggak fokus. Mau dibilang penyelesaian tapi kenapa malah blabla... Apalagi pas ada konflik dadakan yang blabla...
Tapi, cara penyampaian penulisnya mengalir, jadi aku tetep nyaman bacanya, meski ada hal-hal yang justru baiknya dishowing malah dibuat telling. Dan intinya, aku merasa novel ini bisa jadi novel yang menarik dan ngasih banyak pelajaran ke pembaca, kalo lebih dimatengin lagi
Sebenernya, aku nggak tau harus kasih buku ini rating 3 or 2.8 ㅠㅠ ceritanya sih ngalir, tapi entah kenapa nggak ada feel sama sekali. Iya, sedih banget karena aku menunggu novel ini terbit (cover-nya cakep pula).
Jadi, bagian prolog dan epilog pakai sudut pandang pertama, FL-nya, si Retha alias Karet. Selebihnya (25 bab cerita), pakai sp orang ketiga dan isinya ya flashback gimana Karet bisa masuk kampus di Solo itu terus tekadnya buat balas dendam malah mempertemukan dia dengan Setip alias Steven.
Idk, gaya khas penulisnya sih menempel banget, maksudku terakhir kali baca bukunya masih kerasa lah vibes-nya, cuman beberapa detail yang hmm better dihapus aja atau kadang malah too much information bikin feel antarkarakternya hilang. Terus di sini lebih fokus sama Karet. Kayak kehidupan dia (her background) dan ah nggak tau, rasanya nulis review ini pun masih nano-nano. Bingung mau spill apaan.
I hate the villain. Sumpah, jahat banget syaratnyaaa. Frontal dan mesum, ew. Oh, dan ini nggak ada closure dengan jelas. Yah, kalo aku jelasin udah pasti bakal spoiler. Jadi, ada baiknya baca dan simpulkan sendiri. This book still entertain me, kok. Dan aku senang udah masuk ke gramdig fufufu.
Sebetulnya, aku nggak begitu tahu apa ini emang bukunya yang membosankan atau karena aku lagi reading slump. Tapi beberapa hal yang aku sadari ketika baca ini:
1. Aku ngerasa ceritanya tujuannya kurang. Kayak nggak mateng gitu. Apalagi Karet juga keliatan bingung apa yang dia mau dari Hera. Emosi Karet kurang di eksplor aja. Mau dibikin evil, gak evil, mau dibikin baik ya nggak baik. Iya, dunia ini nggak cuman hitam dan putih, tapi stand point Karet yg bingungin bikin aku bingung juga.
2. Aku juga rada gagal paham sebetulnya bukunya itu mau dibawa ke mana. Karena semuanya serba nanggung. Mau romance ya nanggung karena chemistru nya juga kureng, mau soal balas dendam juga kureng karena gk dieksplor, mau bangkitin semangat karet juga kurang karena terlalu rush.
Sebetulnya narasi dan gaya berceritanya tuh buku yang kusuka banget,sih,tapi mungkin emang bagian plot dan karakterisasinya aja yg gk bgtu masuk di aku.
Unexpected. Rasanya itu kata yang paling cocok untuk mendeskripsikan novel ini. Tema balas dendam di sini dikemas jadi sesuatu yang berbeda. Makin unik dengan mengangkat kegiatan UKM paduan suara yang jarang dilirik orang. Karakterisasi Karet dan Setip juga kuat. Gaya penulisan yang mengalir juga menambah daya tarik, membuat saya betah membaca. Alih-alih menampilkan romansa yang umumnya manis dan menampilkan sesuatu yang biasanya mengesankan 'happily ever after', bagi saya hubungan Karet dan Setip tergolong logis dan lebih dekat dengan kenyataan. Kadang, di hidup ini ada hal-hal yang tak berjalan sesuai dengan ekspektasi. Keputusan Karet untuk memutus kontak dengan Setip pun bagi saya bisa dimaklumi, meski bagi saya eksekusi ending-nya kurang mulus. Novel ini terbilang ringan dan menghibur bagi saya.
mari kita bahas masalah balas dendam, di awal aku merasa deskripsi rasa cinta retha ke basket nggak begitu kuat sehingga aku merasa keputusannya untuk rela jauh2 ke luar kota hanya untuk balas dendam adalah hal yang sangat sia-sia dan nggak masuk akal, apalagi eksekusi balas dendamnya juga nggak banget menurutku. lalu di bagian retha memutuskan untuk pindah ke SBY dan ikut CMS juga menurutku masih ngawang, karena nggak ada keterangan waktu seberapa lama dia pergi, soalnya kayak tbtb dia sama steve menjauh. trus juga sebetulnya ak menantikan detail mengenai mantan suaminya retha dan juga closure mengenai hubungan ibu dan ayah tirinya
Lagi lagi selalu suka sama karya Handi Namire. Kali ini dibikin gemes sama tingkahnya Retha. Dia mau balas dendam tapi malah salah sangka. Dan berakhir 'pacaran' sama Steve.
Banyak kegilaan sejak mereka 'pacaran'. Yah walau berasa kurang menurutku. Pengen lebih banyak cerita tentang Retha dan Steve. Masih pengen ada bagian Retha dan Steve pacaran beneran. Harusnya ini buku halamannya sampai 400an. Karena cuma 200an jadi berasa pendek banget. Karena ngga nyangka aja tiba-tiba udah ending. Walau endingnya sesuai harapan. Tetep aja kurang.
Plot twist yang wow! Dari pertengahan sampai akhir cerita. Alurnya cukup melting, latar belakang Retha alias Karet bisa tersampaikan dengan baik. Tapi yang paling nempel benar-benar bagian alurnya, sih.
Tapi menurut aku penyampaian latar suasananya agak kurang sedikiiitt lagi, biar nyampe ke hati. Penggambaran karakternya Setip juga kurang gereget, tapi overall udah oke.
Mungkin alur awal ke pertengahannya agak lambat sih, bisa dicepetin aja biar ga kerasa.
Buku yang bagus! Cerita unik, tema fresh, tinggal dipoles aja tipis-tipis. Good work!