Actual rating 1.8
Hidup Malissa tidak bisa dikatakan mudah setelah menikah. Suaminya yang merupakan dokter terkenal ternyata tidak pernah mencintainya dengan tulus. Belum lagi ia ditinggalkan dalam kondisi mengurus 2 anak yang masih kecil dan kenyataan bahwa (mantan) suaminya berselingkuh. Dalam satu kejadian, ia menemukan dompet milik seseorang dan seperti takdir (dalam cerita), pertemuan itu mengenalkannya pada sosok Lamar, lelaki yang juga memiliki luka masa lalu.
Aku bingung harus mulai reviu dari mana. Awalnya mau dnf karena banyak banget lubang di cerita ini, feel-nya ambyar, dan karakternya nggak konsisten serta annoying. I felt sorry for the author. Buku pertamanya yang kubaca malah nggak kasih kesan oke sama sekali.
Pertama, info dumping di awal bab. Kalau dibilang nggak banyak tapi ya nggak sedikit, kalau dibilang sedikit tapi ya lumayan. Intinya banyak banget hasil2 riset yang entah mengapa terasa mentah, seolah-olah dituang langsung dengan sentuhan (yang diharapkan bisa meresap ke) fiksi. Terus aku merasa karakternya sengaja dibuat pintar atau bahkan jenius buat alasan kuat agar pemikiran cerdasnya bisa ngajarin pembaca. Well, aku nggak benci kok sama karakter yang jenius, tapi agak kurang suka aja kalo merasa digurui.
Kedua, masih berhubungan soal digurui, kali ini narasinya terlalu banyak mengulang. Jika si karakter sakit hati, maka ada pembanding sakit hati di masa lalunya dengan orang lama. Begitu terus sampai berulang-ulang. Terlalu apa ya, repetitif. So sorry, aku harus skip hampir semua narasi di sebagian buku ini. Aku bukannya benci buku dengan banyak narasi, sih, kadang memang merasa membosankan, tapi kupikir itu wajar, kan? Di sini yang aku rasain bukan perasaan bisa betah begitu, justru jengah. Terlalu sering diulang, terlalu sering membandingkan dengan masa lalu. Terus begitu sampai lama2 kupikir nggak perlu dibaca lagi narasinya.
Ketiga, banyak detail nggak penting yang tercantum. Sayang sekali beberapa bagian nggak di-cut dan malah menambah kesan kepengin baca atau kepengin ngerasain apa yang both Lamar dan Lissa rasakan. Jujur, aku sedih banget, beberapa kali harus narik napas pelan karena ya ini, alih2 dikasih detail yang nggak penting2 banget ke alur, kenapa nggak fokus apa yang bisa terjadi selanjutnya?
Keempat, emosi karakter. Yep, aku rewel kalo soal emosi. Bagiku semua karakternya harus jelas. Setidaknya nggak ambigu ini lagi sedih atau kecewa. Sayangnya emosi karakter tertutup dengan banyaknya detail nggak penting. Seolah penulis lebih senang beralih ke penjelasan lain alih2 dengan ... well, tindakan tokoh (?). Lamar baru kehilangan tunangan, tapi yang terasa malah bukan begitu. Terus apa yang dia pikirkan nggak seperti lelaki yang baru ditinggal mati kekasih hatinya. Kalau nggak disebut-sebut terus sama penulis di setiap kesempatan kayaknya aku bakal lupa Lamar pindah ke Indonesia demi menyembuhkan luka hatinya. Bahkan ini sih, kalau Lamar blm bisa membuka hati itu wajar banget dan yang kutahu biasanya cenderung menutup diri lalu luluh ketika mendapati kehadiran wanita lain yang menarik perhatiannya. Mereka awalnya berteman, kan? Nah, kenapa nggak manfaatin momen itu dulu? Agak aneh kalo Lamar ini cinta mati sama mantan tunangannya dan hancur pas ditinggal pergi, tapi bisa bayangin ciuman sama wanita lain dalam jangka waktu yang ... well, singkat.
Kelima, bagian Lamar ngajak makan malam terus ditolak sama Lissa, habis itu (out of nowhere) dia bilang nggak bisa menjanjikan apa2. Kayak, lu kenapa, Bang? 😭 sumpah ini bagian absurd banget. Oiya, aku nggak suka sama si Lamar ini. Kukira dia biasa aja (nggak berpikiran plin-plan kayak Lissa), eh ternyata malah lebih buruk. Alasan dia nuduh Lissa tuh enggak banget. Pake ngatain manipulatif, egois, pembohong pula. Iya tau dia posisinya kayak ditipu, tapi hey ngomongnya direm, donggg. Udah gitu pas minta maaf pakai pembelaan lagi. Ya Allah, niat kagak sih lu? Idk, baru kali ini rasanya pengin slaps ML di cerita. Lamar justru yang manipulatif tau. Astaga, masih kesel kalo ingat kelakuannya.
Terakhir, karakter2nya nggak ada yang konsisten. Atau memang karakterisasinya nggak detail. Lissa ini parah juga, dari awal kupikir wanita mandiri dan nggak gampang goyah, apa ya istilahnya ... nggak terlalu kepengaruh cinta mendadak? Yah, begitulah. Eh, setelah ketemu Lamar yang dipikirin cuma ciuman (bahkan sampe mikir bisa bercinta). Sigh. Sori, aku cuma ngerasain ilfeel, alih2 simpati.
Sebenarnya tuh, banyak yang bisa diperbaiki di sini. Ide soal penyelamatan lingkungan itu juga bagus, tapi semua kerasa mentah aja. Bahkan alur cerita berasa mentah gitu. Proses jatuh cintanya terlalu cepat dan lompat2 sampai aku nggak berharap lagi akan ada adegan yang bikin jder!
Semua ini murni pendapat pribadi dan aku nggak berniat/bermaksud memengaruhi siapa pun. As Le Mariage's book, RTTFIL cukup kasih gambaran rumah tangga seorang single parent.
Apa aku bakal baca karya penulis yang lain? Hmm, maybe? Karena kesan pertamanya nggak begitu baik, mungkin kalau mood baiknya berlebih bisa baca yang lain.