Jump to ratings and reviews
Rate this book

Memang Jodoh

Rate this book
Novel Terakhir dari Penulis Sitti Nurbaya, Marah Rusli.

Hamli tak pernah mengira, keputusannya untuk menerima beasiswa pemerintah Belanda demi melanjutkan sekolah ditentang oleh orangtuanya. Orangtua yang justru dia harapkan akan mendukung sepenuh hati. Namun, adat Minang yang mengikat erat ternyata membelenggu cita-citanya.

Hamli pun kemudian memutuskan untuk melanggar adat, merantau demi ilmu. Dan ketika dalam perantauan dia bertemu dengan mojang Priangan yang menawan hatinya, pilihan getir terpaksa harus diambil. Hamli rela "dibuang" oleh adat dan orangtua demi cintanya.

Kisah semiautobiografi Marah Rusli ini adalah salah satu karya klasik yang hilang dari ranah sastra Indonesia. Siapa mengira bahwa sang sastrawan besar, Marah Rusli, menyimpan kisah cinta yang sedemikian menyentuh dan abadi? Melalui Memang Jodoh, Marah Rusli sekali lagi mempersembahkan sebuah warisan berharga bagi dunia sastra Indonesia.

548 pages, Paperback

First published May 1, 2013

72 people are currently reading
564 people want to read

About the author

Marah Rusli

4 books32 followers
Marah Rusli, sang sastrawan itu, bernama lengkap Marah Rusli bin Abu Bakar. Ia dilahirkan di Padang pada tanggal 7 Agustus 1889. Ayahnya, Sultan Abu Bakar, adalah seorang bangsawan dengan gelar Sultan Pangeran. Ayahnya bekerja sebagai demang. Marah Rusli mengawini gadis Sunda kelahiran Buitenzorg (kini Bogor) pada tahun 1911. Mereka dikaruniai tiga orang anak, dua orang laki-laki dan seorang perempuan. Perkawinan Marah Rusli dengan gadis Sunda bukanlah perkawinan yang diinginkan oleh orang tua Marah Rusli, tetapi Marah Rusli kokoh pada sikapnya, dan ia tetap mempertahankan perkawinannya.

Meski lebih terkenal sebagai sastrawan, Marah Rusli sebenarnya adalah dokter hewan. Berbeda dengan Taufiq Ismail dan Asrul Sani yang memang benar-benar meninggalkan profesinya sebagai dokter hewan karena memilih menjadi penyair, Marah Rusli tetap menekuni profesinya sebagai dokter hewan hingga pensiun pada tahun 1952 dengan jabatan terakhir Dokter Hewan Kepala. Kesukaan Marah Rusli terhadap kesusastraan sudah tumbuh sejak ia masih kecil. Ia sangat senang mendengarkan cerita-cerita dari tukang kaba, tukang dongeng di Sumatera Barat yang berkeliling kampung menjual ceritanya, dan membaca buku-buku sastra. Marah Rusli meninggal pada tanggal 17 Januari 1968 di Bandung dan dimakamkan di Bogor, Jawa Barat.

http://id.wikipedia.org/wiki/Marah_Ro...

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
135 (32%)
4 stars
157 (38%)
3 stars
88 (21%)
2 stars
28 (6%)
1 star
3 (<1%)
Displaying 1 - 30 of 72 reviews
Profile Image for htanzil.
379 reviews149 followers
February 10, 2014
Marah Rusli (1889-1968), nama sastrawan yang juga disebut sebagai Bapak Roman Modern Indonesia ini sangat dikenal melalui karyanya yang monumental yaitu novel Siti Nurbaya (1920). Novel roman ini menjadi salah satu icon sastra Indonesia dan menjadi salah satu bacaan wajib para siswa ketika mempelajari kesuasteraan Indonesia. Saking populernya novel ini sampai-sampai Siti Nurbaya menjadi idiom yang umum digunanakan masyarakat Indonesia untuk menyatakan pasangan yang dijodohkan orang tuanya secara paksa

Selain Siti Nurbaya karya-karya lainnya yang sudah diterbitkan yaitu La Hami (1952), Anak dan Kemenakan (1956), Gadis yang Malang, terjemahan novel karya Charles Dickens (1922). Selain keempat judul itu ternyata ternyata masih ada karya terakhir Marah Rusli yang masih berupa naskah dan belum pernah diterbitkan yaitu Memang Jodoh

Naskah Memang Jodoh yang merupakan novel autobiografis ini merupakan kado ulang tahun pernikahan ke 50 Marah Rusli dengan Rd. Ratna Kencana (2 November 1961). Naskah asli novel ini ditulis dalam huruf Arab Gundul lalu diketik dengan mesin tik manual dan rampung pada 1961. Naskah ini tersimpan rapih selama puluhan tahun karena memang Marah Rusli sendiri yang mengizinkan naskahnya ini diterbitkan setelah semua tokoh yang ada dalam novelnya inu meningga dunia. Dan untuk itu butuh 50 tahun lamanya sebelum akhirnya di bulan Mei 2013 yang lalu Memang Jodoh diterbitkan.


Seperti dalam novel Siti Nurbaya, dalam karya terakhirnya ini Marah Rusli kembali menggugat adat Padang dalam hal perjodohan terutama di kalangan kaum bangsawan. Namun kali ini bukan berdasarkan imajinasinya semata tetapi berdasarkan apa yang ia alami sendiri selama 50 tahun pernikahannya dengan istrinya, seorang gadis berdarah bangsawan Sunda.

Seperti dalam kehidupan aslinya dimana Marah Rusli adalah seorang keturunan bangsawan Padang maka dalam dalam novel inipun dikisahkan seorang pemuda keturunan bangsawan bernama Marah Hamli. Di awal novel dikisahkan Hamli yang baru saja lulus dari Sekolah Rakjat di Bukittinggi. Awalnya ayahnya menginginkan Hamli melanjutkan studi-nya ke negeri Belanda namun kepergian Hamli ini tidak diizinkan oleh ibunya karena khawatir anak semata wayangnya terpikat oleh gadis barat karena sebenarnya Hamli sudah akan dijodohkan dengan gadis Padang yang sepadan dengan dirinya.

Gagal berangkat ke Belanda, Hamli merantau ke Bogor ditemani neneknya. Di sana ia melanjutkan studinya ke sekolah pertanian di Bogor. Sebelum berangkat Hamli menyadari bahwa dirinya menderita sakit 'pilu' yang menyebabkan dia selalu merasa galau dan rindu akan sesuatu yang tidak dimengertinya.

Tadinya Hamli berharap dengan merantau di Bogor maka penyakit pilunya akan sembuh. Namun ternyata Hamli tidak juga kunjung sembuh hingga akhirnya ia bertemu dengan Din Wati, gadis Priangan berdarah biru yang menawan hatinya dan menyembuhkan penyakit pilu-nya. Hamli sadar bahwa cintanya terhadap Din Wati akan mendapat tantangan dari keluarganya karena hal itu melanggar adat Padang yang tidak mengizinkan pernikahan beda suku.

Namun hal ini tidak menghalangi Hamli untuk menikah dengan gadis pujaannya. Dengan didukung oleh neneknya dan restu dari ayahnya, apalagi setelah diyakinkan dengan dua buah ramalan bahwa perjodohan mereka sudah ditakdirkan oleh Tuhan Hamli nekad memutuskan untuk melanggar adat. Ia rela "dibuang" oleh kaum keluarganya demi cintanya pada Din Wati.

Walau kelak Hamli menikah dengan Din Wati, keluarga-nya di Padang tidak menyerah, demi kehormatan keluarga dan untuk mempertahankan adat Padang segala cara diupayakan keluarganya untuk meruntuhkan pernikahan Hamli dengan Din Wati mulai dari penggunaan ilmu hitam hingga memaksa Hamli untuk berpoligami, mengambil istri kedua yang berasal dari suku Padang dimana hal itu adalah sebuah kewajaran dan kehormatan bagi bangsawan Padang.


"..lazim laki-laki kita beristri banyak. Bahkan baik; tanda disukai, dihargai, dan dimuliakan orang..." (hlm 337)

Begitu gencanya usaha yang dilakukan kaum keluarga Hamli di Padang untuk tetap menikahkannya dengan gadis Padang ditambah berbagai kesulian dalam rumah tangga Hamli yang datang silih berganti membuat Hamli bertanya-tanya pada dirinya sendiri, apakah ini akibat dari perbuatannya yang melanggar adat leluhurnya? Sanggupkah Hamli tetap teguh pada pendiriannya untuk tidak berpoligami dan mempertahankan pernikahannya dengan istri yang yang dicintainya?

Lika-liku kehidupan Hamli dan perjodohannya memang sangat menarik untuk disimak. Di novel ini kita tidak hanya disuguhkan sebuah drama pernikahan Hamli dan Din Wati beserta intrik-intrik yang dilakukan keluarganya untuk menghancurkan pernikahan Hamli namun kita juga diajak menyelami adat Padang yang begitu keras mengatur perjodohan dan pernikahan yang merupakan hak mutlak orang tua.

"Tetapi di sana, perwakinan itu semata-mata perkara orangtua dan para ninik mamak yang akan kawin itu serta kaum keluarganya. Anak yang dikawinkan, tak tahu menahu dan tak suka menyuka dalam perkawinannya; melainkan harus menurut dengan buta tuli kermauan orang tuanya, ninik mamaknya, dan kaum keluarganya"

"Keturun bangsawan tinggi Padang dan menurut aturan Padang dia tak boleh kawin dengan perempuan yang tidak berasal dari Padang. Dan kalau anak itu perempuan lebih sulit lagi. Sedangkan laki-lakinya tidak diizinkan kawin dengan perempuan negeri lain, apalagi perempuannya. Sebab, itu suatu kehinaan yang besar di mata orang Padang" (hlm 155)

Dan bagaimana jika si anak tidak mau menuruti perjodohan yang diatur oleh orang tuanya?

"Anak itu sendiri, tidak boleh membantah, kalau dia tak ingin dibuang dari kaum keluarganya"
(hlm 155)

Mengapa demikian kerasnya orang Padang mengatur hal-hal yang menyangkut perjodohan, rupanya inilah alasannya. ;

"Bagaimana jadinya negeri Padang, jika telah ditinggalkan oleh anak-anaknya kelak? Siapa yang akan mengurus negeri dan harta pusaka yang tersimpan itu? Siapa yang akan mengerjakan sawah dan ladang yang terbengkalai? Tidakkah semua itu akan jatuh juga ke tangan orang lain apabila tak ada yang mengurus dan memeliharanya? "
(hlm 172-173)

"Akan jadi apakah kelak adat istiadat kita, pusaka nenek moyang kita yang kita pegang teguh sejak semula? Niscaya akan lenyaplah ia dari tanah air kita ini karena disanggah oleh yang muda-muda. Dan dengan lenyapnya itu, akan hilangkah pula bangsa kita;
lebur dalam bangsa campuran"
(hlm 367)

Masih banyak hal menarik dalam novel ini yang bisa kita pelajari, lewat tokoh Hamli penulis menyampaikan kritik yang tajam terhadap adat Padang yang demikian keras dalam menentukan jodoh bagi kaumnya karena baginya hal tersebut sudah tidak sesuai dengan jaman yang telah berubah. Selain itu kita juga akan melihat bagaimana Hamli begitu teguh dan keras menentang poligami dengan cara yang santun

Tidak hanya adat Padang di novel ini juga kita melihat bagaimana orang Sunda juga mengatur perjodohan bagi anak-anaknya walau tidak sekeras orang Padang dan bagaimana orang Sunda yang diwakli oleh Din Wati dan saudara-saudaranya melihat Padang itu sebagai 'tanah seberang', sebuah tempat yang menakutkan bagi perempuan Sunda.

Selain itu karena novel ini berdasarkan apa yang dialami oleh penulisnya maka peristiwa meletusnya Gunung Kelud pada 1919 yang menelan ribuan jiwa itu terekam dalam novel ini karena pada saat itu penulis kebetulan sedang tinggal dan bekerja di Blitar bersama istri dan anak-anaknya. Hanya saja ada perbedaan mengenai jumlah korban jiwa. Wikipedia mencatat letusan Gunung Kelud tahun 1919 menelan 5.160 jiwa, sedangkan novel ini menyebutkan angka yang jauh lebih tinggi.


"Sesungguhnya bencana letusan gunung Kelud ini telah meminta korban nyawa kira-kira 30.000 orang: selain rumah dan harta benda, kebun, dan hewan yang telah punah"
(hlm 434)

Selain pengalaman penulis saat menghadapi bencana alam Gunung Kelud, di bab terakhir sekaligus penutup novel ini dikisahkan pengalaman Hamli saat Belanda dan tentara sekutu melakukan aksi polisionil nya. Di bagian ini tampak jelas kebencian penulis terhadap pasukan NICA yang selalu ditulis dengan "Anjing NICA". Membaca bab penutup novel ini kita akan disuguhkan dengan penjelasan yang detail tentang perjuangan gerilyawan Indonesia dengan pasukan Belanda dimana Hamli ikut berjuang di dalamnya sehingga bab ini terasa lain dibanding bab-bab sebelumnya yang didominasi lika-liku pernikahannya dengan Din Wati. Bagi saya pribadi bab ini menjadi bab antiklimaks dan terasa agak membosankan.

Namun ada satu hal yang menarik yang saya dapatkan di bab terakhir ini adalah tentang nasib anak-anak yang dimanfaatkan oleh tentara Belanda untuk menjadi mata-mata yang nyaris dibunuh oleh para gerilyawan.

"Di sana Hamli melihat beberapa anak kampung yang ditinggalkan oleh tentara gerilya dibawa ke Bumi Jawa untuk dibunuh di sana. Kesalahan anak-anak kecil ini adalah menunjukkan tempat kediaman tentara gerilya kepada Belanda...... Anak-anak ini melakukan pengkhianatan ini karena dibujuk oleh mata-mata Belanda yang banyak sampai ke Pegunungan Selamat dengan sepotong roti, beberapa batang rokok sigaret dan uang beberapa rupiah.

Karena kasihan akan nasib anak-anak yang belum tahu apa-apa ini, Hamli menyarankan supaya anak-anak ini jangan dibunuh, melainkan dididik di Bumi Jawa menjadi mata-mata gerilya melawan Belanda. Pikiran Hamli ini dibenarkan oleh tentara gerilya dan dituruti"
(hlm 522)

Karena seluruh kisah dalam novel ini diangkat dari pengalaman pribadi penulisnya maka kisah tentang anak-anak tersebut bukanlah imajinasi penulisnya melainkan memang fakta yang ada di masa itu.

Dari semua kisah yang tertuang dalam novel ini tentunya ada banyak hal yang dapat kita ambil dari novel ini. Dengan setting kehidupan dan adat masyarakat Minang di masa lampau novel ini juga dapat menjadi sumber yang berharga ketika kita ingin memahami bagaimana kultur budaya dan adat Minang yang begitu mengikat dan mempengaruhi kehidupan masyarakatnya di masa lampau dan hingga kini masih terasa jejak-jejaknya walau sudah tergerus arus zaman dan waktu.

Walau Novel Memang Jodoh ditulis lebih dari 50 tahun yang lampau dengan cita rasa bahasa dan kosakata lama termasuk pantun, peribahasa, dan beberapa perumpamaan melayu yang disisipkan dalam novel ini namun novel ini masih sangat nyaman dibaca di masa kini bahkan cita rasa bahasa lamanya lah yang membuat novel ini menjadi begitu sesuai dengan setting kisahnya sehingga kita seakan terlempar ke awal abad ke 20

Dan yang juga menjadi keistimewaan novel ini, seperti yang diungkapkan Seno Gumira Ajidarma dalam endorsment-nya jika biasanya kisah sastra berlatar belakang Minang selalu mengetangahkan konflik antara adat dan agama, tidak demikian dengan novel ini karena yang dipertentangkan adalah konflik antara adat versus kemerdekaan individual. Perjuangan seorang tokoh yang berjuang membebaskan dirinya dari adat yang membelenggu kebebasan individunya dalam mencari dan memilih pasangan hidupnya.

Akhir kata ada banyak hal yang dapat kita petik dari novel ini, namun yang pasti inilah yang menjadi tujuan utama Marah Rusli menulis Memang Jodoh yang diwakili oleh tokoh Marah Hamli dalam pidatonya kepada anak cucu dan keluarganya di hari ulang tahun pernikahannyya

"Niatku semata-mata ingin mengingatkan kepincangan-kepincangan pelaksanaan adat istiadat, yang tak baik lagi dipertahankan, bahkan seharusnya sudah sejak dulu diperbaiki, diganti, sehingga dapat disesuaikan dengan zaman yang telah beralih dan masa yang telah berubah. Agar mereka selamat di tengah arus pergaulan dunia yang luas seperti kaum-kaum lain yang lebih dulu maju. Semoga penderitaan dalam rumah tangga kami, menjadi peringatan dan penyuluh dalam perkawinan mereka, yang penuh karunia, rahmat, dan nikmat dari Tuhan.Amin!."
(hlm 20-21)

@htanzil

Profile Image for Bayuachmed Maulana.
11 reviews1 follower
January 29, 2014
Apabila mendengar nama Marah Roesli, selalu saja saya teringat akan roman klasik kasih tak sampainya, Sitti Nurbaya, yang telah menjadi novel yang melegenda sampai sekarang. Namun selain novel Sitti Nurbayanya tersebut juga ia telah berhasil merampungkan kisah yang bisa dibilang semiautobiofrafinya, yang sebenarnya telah lama ia selesaikan, yaitu pada tanggal 2 Novembver 1961, sebagai hadiah pernikahan beliau yang ke-50 kepada istrinya Raden Ratna Kancana. Novel ini bisa dibilang harta terpendam dari seorang sastrawan besar bagsa kita, karena untuk bisa membacanya pun orang-orang harus menunggu lebih dari 50 tahun sejak novel ini diselesaikan.

Berbeda dengan novel Sitti Nurbaya dengan kasih tak sampainya, kisah ini menceritakan kegigihan seorang Marah Hamli putra dari bangsawan Padang dan Din Wati putri dari bagsawan Pasundan, untuk terus mempertahankan pernikahan mereka yang terlalu banyak cobaan dan kesengsaraannya. Sindiran yang sangat pas sebenarnya untuk pernikahan masa sekarang, terutama untuk beberapa kalangan yang sangat mudah mengatakan kata talak, bahkan hanya dalam hitungan bulan ataupun hari setelah mereka menikah, sangat ironi.

Membaca kisah ini bagaikan mendengar kisah sebelum tidur dari kakek atau nenek buyut yang sangat sarat dengan berbagai pantangan-pantangan, adat budaya, hal-hal mistis, penjajahan, dan peperangan. Ditulis dengan gaya bahasa Indonesia tatanan lama yang baik dan benar, novel ini pun masih nyaman untuk dimengerti.

Bersetting pada awal tahun 1900an, saat masa penjajahan Belanda, saya seperti diajak untuk melihat sejarah dan budaya suku-suku (terutama Minang dan Sunda) di negeri kita masa itu, merasakan bagaimana keras dan carut marutnya adat Minang dengan sistem matrilinealnya saat itu,dan juga dengan kebiasaan perjodohan antara sesama suku Minang, dan apabila seseorang melanggar dengan menikahi suku di luar Minang, maka hal tersebut sangatlah mencoreng kaum kerabatnya dan merupakan suatu kehinaan yang besar. Selain itu sitem poligami yang pada saat itu sangat dianjurkan di masyarakat Minang, hanya karena melihat dari jabatan, pangkat, dan keturunan, maka lelaki Minang bisa "dijemput" oleh perempuan yang ingin menikahinya, dan si lelaki ini tiada bertanggung jawab atas kehidupan istri dan anaknya kelak. Ssementara kelangsungan seorang anak diserahkan kepada Mamak ( adik lelaki dari pihak ibu ), hal ini lah yang mebuat Marah Hamli berpikir out of the box dengan sistem yang ada saat itu, dan ia berani melanggar adat istiadat yang sangat dijunjung kaumnya tersebut untuk mempertahankan biduk rumah tangganya hanya dengan seorang perempuan yang sangat ia sayangi dan cintai.


Novel ini bisa dibilang adalah adalah sindiran berkelas dan bentuk perlawanan yang elegan melalui tulisan dari seorang Marah Roesli kepada kaum kerabatnya di negeri Minangkabau yang terlalu menjunjung adat istiadat negerinya tersebut, yang mana adat tersebut sangat mengganggu biduk rumah tangganya bersama Raden Ratna Kencana. Karena sejak Marah Roesli memutuskan untuk menikahi Raden Ratna Kencana, ia kemudian dibuang dari adat Minang (tidak berhak mendapat hak waris, dan tidak berhak meneruskan garis keturunan sukunya).

Setelah membaca novel ini, saya seperti mengenal sosok Marah Roesli, asal usul nya, sosoknya yang santun dan baik hati, sedikit cerita kehidupannya, dan yang paling penting digambarkan disini adalah romantisme percintaanya dengan istrinya seorang 'nyai" dari tanah Pasundan yang akhirnya menjadi istrinya satu-satunya yang menemani beliau sampai akhir hidupnya.




Profile Image for Truly.
2,764 reviews13 followers
July 8, 2013
.......
......
......

Pesta perkawinan Hamli dan Din Wati bukanlah pesta perkawinan ala 1001 malam walau keduanya merupakan orang terpandang dan keturunan bangsawan. Perbedaan latar belakang membuat pernikahan mereka harus dirahasiakan dari kedua belah pihak. Bagi keluarga Hamli, ia sudah mencoreng adat dengan tidak menikahi perempuan dari tanahnya. Bagi kerabat Hamli, Din Wati telah mencuri hak para perempuan.

Sementara bagi kerabat Din Wati, sosok Hamli sebagai seorang pelajar sungguh tak layak bersanding dengannya. Latar belakang keluarganya dianggap tidak jelas. Belum lagi trauma para kerabat akan nasib salah satu anggota keluarga yang mengalami siksa ketika menikah dengan seorang yang berasal dari Padang. Sang kerabat mengalami siksa bathin dan fisik. Ipar perempuannya merebut perhiasan dan pakaian yang dibawanya dari rumah orang tua hanya dikarenakan sang suami tidak bisa memberikan perhiasan dan pakaian yang sama. Tak ketinggalan aneka tugas berat yang harus dikerjakannya. Puncaknya saat sang suami menikah lagi dengan salah satu perempuan Padang dengan alasan adat.

Meski banyak pihak yang menentang pernikahan mereka Hamli dan Din Wati tetap bertekat menjalani ikatan suci mereka seumur hidup dengan sabar dan iklas. Berbagai cobaan seperti fitnah mengenai asal-usul Din Wati, aneka lamaran yang masih terus mengalir ke Hamli tidak ditanggapi dengan serius. Dengan tegas Hamli menyatakan hanya akan menjadikan Din Wati satu-satunya istrinya. Dan kepada seluruh keturunannya akan diberikannya pesan untuk mengikuti tindakannya.

.......
......
......

http://trulyrudiono.blogspot.com/2013...

-------->
Kuis buat buku ini dimenangkan oleh TIKA
Cuplikan jawabannya

"... Jadi, kalau menikah nanti aku ingin suamiku berasal dari tempat dan budaya yang berbeda. Selain supaya bisa pulang kampung (ke kampung halaman suami :D), juga supaya aku bisa mengenal kekayaan budaya Indonesia (atau mungkin dunia? xD). Lagipula, kalau di dalam Islam, Allah itu kan menciptakan manusia dengan berbagai suku dan budaya yang berbeda, supaya bisa saling mengenal. Jadi ya perbedaan budaya justru sesuatu yang aku inginkan...."
Profile Image for Rahmi Kasri.
29 reviews
December 14, 2013
This book had opened my eyes on the old culture of my own tribe. It gives a good illustration on what had happened during that time. It's a good book, thought the story might had been outdated now. Some citations maybe inaccurate. I guess the grandson or whoever publish the book might had been apart from the culture of the ethnic itself.
Profile Image for Biondy.
Author 9 books234 followers
September 2, 2014
Judul: Memang Jodoh
Penulis: Marah Rusli
Penerbit: Qanita
Halaman: 536 halaman
Terbitan: Mei 2013

Novel Terakhir dari Penulis Sitti Nurbaya, Marah Rusli.

Hamli tak pernah mengira, keputusannya untuk menerima beasiswa pemerintah Belanda demi melanjutkan sekolah ditentang oleh orangtuanya. Orangtua yang justru dia harapkan akan mendukung sepenuh hati. Namun, adat Minang yang mengikat erat ternyata membelenggu cita-citanya.

Hamli pun kemudian memutuskan untuk melanggar adat, merantau demi ilmu. Dan ketika dalam perantauan dia bertemu dengan mojang Priangan yang menawan hatinya, pilihan getir terpaksa harus diambil. Hamli rela "dibuang" oleh adat dan orangtua demi cintanya.

Review

Kesimpulan saya setelah membaca buku ini adalah: menikah itu rempong. Banget. Apalagi kalau hidup di Padang pada zamannya Hamli. Pada masa itu pernikahan bukanlah hak si anak, tapi adalah sebuah kewajiban dan hal ini diatur oleh para orang tua, bahkan tanpa persetujuan si anak.

Hamli sendiri merasa gerah akan peraturan pernikahan ini. Pada saat dia telah merasa cocok dan bahkan telah menikah dengan Din Wati, si "mojang Priangan yang menawan hatinya", masih saja urusan menikah masih mengikutinya. Permasalahannya, di tempat asalnya, seorang lelaki Padang harus menikah dengan sesama orang Padang dan seorang lelaki Padang dianggap mulia apabila beristri banyak. Padahal Hamli sangat keras menolak poligami.

Selain itu, seorang suami dianggap sebagai seorang "pendatang" yang tak punya hak apa-apa atas istri dan anak-anaknya, sehingga dia tidak punya tanggung jawab atas mereka. Apabila seorang suami meninggal, harta bendanya tidak diwariskan pada anak istrinya, tapi pada kemenakannya. Seluruh hal ini dirasa Hamli tidak masuk akal.

Novel ini bukan hanya berkutat pada kisah cinta Hamli dan Din Wati serta terbuangnya Hamli dari keluarganya. Novel ini lebih dari itu. Novel ini memberi kita gambaran tentang adat-istiadat Padang pada zaman dulu, serta bagaimana Marah Rusli menentang adat yang dirasanya sudah tidak sesuai lagi.

Saya rasa seluruh perasaan penulis akan masalah yang tertuang di novel ini dapat disimpulkan dengan kutipan yang berada pada halaman pertama buku ini.

"Bagaimana aku dapat bekerja dengan baik untuk bangsa dan negara, kalau aku selalu dibisingkan dengan perkara kawin saja? Sedangkan hatiku rasanya penuh cita-cita untuk memperbaiki yang belum sempurna dan menambah yang masih kurang."


Sebuah kutipan yang masih relevan hingga hari ini. Khususnya bagi orang-orang yang terus didesak dengan pertanyaan, "Kapan nikah?"

Buku yang menarik dan saya rekomendasikan bagi yang suka membaca tentang budaya. Sebaiknya persiapkan diri dulu untuk membaca gaya bercerita lama di buku ini, serta gaya cerita yang Melayu banget dengan penggunaan kalimat panjang-panjang, pantun, seloka, dan peribahasa.

Buku ini untuk tantangan baca:
- Membaca Sastra Indonesia 2013
- 2013 Read Big Reading Challenge
- 2013 New Authors Reading Challenge
- 2013 Serapium Reading Challenge
- 2013 Indonesian Romance Reading Challenge
Profile Image for Dita Anggita.
58 reviews
December 28, 2025
Memang Jodoh, buku yang ditulis Marah Rusli sebagai hadiah ulang tahun pernikahannya yang ke-50 untuk istrinya. Atas wasiat penulisnya, buku ini baru terbit 50 tahun kemudian setelah dirinya meninggal.

Memang Jodoh bisa disebut sebagai semi autobiografi penulis melalui tokoh Hamli; seorang bangsawan Padang yang melanggar aturan adatnya dengan menikahi perempuan Sunda serta tidak mau beristri banyak. Cukup satu; Din Wati yang berhasil mengobati penyakit pilunya.

Ya. Penyakit pilu.

Kisah ini bermula saat Hamli lulus sekolah Rakyat dan hendak meneruskan sekolahnya di Belanda. Namun, karena ditentang ibunya; takut Hamli menikah dengan nona Belanda, akhirnya dia melanjutkan sekolah di Jawa; sekolah pertanian Bogor. Hamli ini sejak remaja sudah kena penyakit pilu. Penyakit yang membuatnya murung, sedih tak berkesudahan, sampai-sampai membuatnya ingin mengakhiri hidup.

Di Bogor, karena penyakitnya tak kunjung sembuh, dia memutuskan untuk mengembara untuk mengobati penyakit pilunya. Akan tetapi, setelah pertemuannya dengan Radin Asmawati atau Din Wati, penyakit pilunya berangsur sembuh seiring dengan persahabatan mereka. Dengan izin neneknya, Hamli menikahi Din Wati melewati segala rintangan dan hambatan.

Perkawinan mereka bukan hanya ditentang bangsa Padang, tetapi juga kaum kerabat Din Wati yang trauma dengan tabiat orang seberang terhadap perempuan Jawa. Untungnya pihak orang tua Din Wati, dan ayah Hamli tak berkeberatan sehingga pernikahan dapat berlanjut. Mereka percaya dengan pertanda yang menunjukkan Hamli dan Din Wati memang jodoh.

Membaca ini seperti membaca peta Indonesia pada masa lampau; terutama di Sumatra bagian Padang. Di mana kaum tua berusaha mempertahankan adat, dan kaum muda merasa adat sudah tidak sejalan dan merugikan. Capek banget melihat Hamli dikejar-kejar kawin dengan banyak perempuan. Untungnya Hamli kuat iman, meski harus dibuang bangsanya.

Penggunaan bahasa dalam novel ini sangat tinggi, perlu konsentrasi, tapi indah. Terselip pantun dan peribahasa.

Aku suka novel ini, kecuali bagian inkarnasi yang muncul dari bangsa Sunda. Religius tapi banyak takhayul yang dipercaya. Mungkin terpengaruh dari pewayangan kali, ya.

#bookreview
Profile Image for Nur Astri.
35 reviews21 followers
February 20, 2014
semacam menapaki masa lalu,zaman nenek buyut saya yang juga lazim berpoligami. namun, kekuatan adat minang seratus tahun lalu benar - benar mengejutkan saya. Membaca buku ini membuat saya bersyair dengan pantun melayu, sambil membayangkan dibalik pembuatan roman Sitti Nurbaya yang sangat mahsyur itu.
Profile Image for Kurnia Dwi Aprilia.
216 reviews4 followers
July 12, 2020
Novel ini ditulis Marah Rusli sebagai kado anniversary pernikahannya yg ke-50 tahun. So sweet banget ya 😊.

Latar bahasanya adalah bahasa Indonesia lampau tingkat tinggi yg penuh rangkaian kata kesusastraan lama. Sedangkan latar waktunya dimulai sejak sekitar 100 tahun yg lalu. Sehingga asyik sekali rasanya bisa mengetahui kehidupan orang pada masa itu dengan segala bentuk dan budayanya (My favorite and that's why I always like historical fiction and biography).

Over all, isi novel ini semacam autobigrafi Marah Rusli sendiri yg berisi tentang banyak hikmah perjalanan hidupnya. Tentang budaya Padang, tentang pertemuan jodohnya, tentang hal-hal mistis dan magis yg pada zaman itu masih sering terjadi, tentang letusan gunung di Blitar, juga ditutup dengan sedikit cerita mengenai peperangan saat perebutan kemerdekaan RI.

Penulis roman pertama di Indonesia yg berjudul Siti Nurbaya ini adalah seorang keturunan bangsawan Padang yg melanjutkan sekolahnya di sekolah pertanian di Bogor. Tersebab hal tsb, bertemulah beliau dengan jodohnya yg merupakan seorang bangsawan Pasundan.

Meski jodohnya memang digariskan Tuhan, namun tak sedikit aral melintang yg hendak memisahkan pertalian jodoh mereka. Terutama halangan dari Budaya Padang pada masa itu yg mewajibkan laki2 Padang HARUS menikah dengan Perempuan Padang. Terlebih seorang bangsawan seperti Marah Hamli, wajib hukum baginya memiliki istri seorang Padang, bahkan tak hanya seorang melainkan lebih dari seorang. Semakin banyak istrinya, maka akan semakin dipandang mulia kedudukannya. Oleh karena Hamli tidak mengindahkan budaya Padang yg semestinya dijalankannya, maka dia 'terbuang' dari sanak keluarga dan tanah kelahirannya. Namun berkat kesetiaan Marah Hamli kepada istrinya, Din Wati, perjodohan mereka tetap langgeng hingga maut memisahkan.

Saya suka novelnya. Jadi tau, ternyata begitu Budaya Padang asli pada masa itu. Dan mungkin hingga hari ini pun masih ada yg membekas. Semacam budaya perempuan 'membeli' laki2, perempuan pewaris marga, perempuan sebagai pemegang kekuatan dalam keluarga, juga tentang perjodohan laki2 Padang yg harus menikah dengan perempuan Padang. Kalau menurut teman saya, yg kebetulan juga adalah orang Padang yg dilahirkan dari rahim seorang ibu Jawa dan ayah Padang, budaya tersebut hingga hari ini masih 'terlihat'. Namun mungkin kembali lagi ke bagaimana individu yg menjalaninya dan tentu besar sekali pengaruh dari lingkup keluarganya juga. Selain itu, kalo kata teman saya, filsafat minang kan "Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah" kitabullah kan alqur'an, agama dong, berarti harusnya agama berada di urutan pertama dalam menentukan segala sesuatu. Sebenernya bukan hanya di Padang sih, di mana pun pedoman utama kita ya Al-Quran. Cuma, selama ini menurut pandangan saya, orang Padang itu kebanyakan agamis, jadi ngga nyangka aja ada latar belakang budaya yg semacam itu di masa lampaunya.
Profile Image for Sampaguita Syafrezani.
100 reviews
August 16, 2023
Cerita yang kaya tentang budaya, sejarah dan tata kehidupan masyarakat Indonesia sebelum dan menjelang kemerdekaan. Perkawinan adat memang menjadi fokus permasalahan yang dikupas dalam novel ini. Berikut perjalanan pernikahan yang berliku dan betapa mahal harga yang harus dibayar Hamli untuk mempertahankan prinsip dan pandangan baru. Pandangan yang mengguncang adat yang sudah mapan dan dipertahankan mati-matian oleh pemangku adat dan tetua-tetua di kampung halaman Hamli. Pertentangan prinsip yang membuat seseorang dibuang dari kampung halamannya sendiri.

Namun, layaknya hutang yang terus mengejar Hamli. Masalah perkawinan yang memaksanya beristri lebih dari satu, karena Ia keturunan bangsawan dan orang terpandang, terus mengikutinya bahkan sampai lanjut usia. Meski di awal cerita pun kita sudah dibertahu penulis, bahwa Marah Hamli tetap bersetia pada Din Wati selama 50 tahun perkawinan dan sampai akhir hayatnya. Namun, kepastian dari akhir cerita ini, tak lantas menyurutkan minat untuk membaca. Penasaran. Ingin rasanya merasakan kehidupan Hamli dalam setiap kalimat yang dicipta penulis.

Novel ini juga bisa menjadi rujukan sejarah dan sumber pustaka bagi pembaca yang ingin mengetahui kehidupan di masa silam, bagaimana pola pekerjaan dan kehidupan bermasyarakat di akhir abad ke 19 dan awal abad 20. Ada pula kisah ledakan besar Gunung Kelud yang menghancurkan Kota Blitar. Hingga apa yang terjadi pada rakyat saat menyelamatkan diri dan mempertahankan diri dari penjajah. Ada pula peristiwa-peristiwa di luar nalar yang dikisahkan. Mungkin di masa kini dianggap takhayul dan mitos. Bahkan dianggap "menyimpang" jika dibaca atau ditelaah oleh kelompok "garis keras". Tak mengapa. Dari kisah ini, kita bisa mengerti bahwa jika sesuatu itu tak dapat dilihat, didengar atau tak bisa dijangkau akal, bukan berarti tak ada, pasti salah atau sesat. Pengetahuan kita tak seberapa.

Dari segi bahasa, sungguh nikmat menikmati susastra lama, dengan pilihan kata dan rasa bahasa yang sangat berbeda. Meski terbilang kuno dan lampau, tak ada salahnya kita mempelajari bagaimana bahasa santun yang menurut Pak Remy Sylado berakar dari Bahasa Melayu Tinggi, yang dipelajari tokoh Hamli sejak bersekolah di Bukit Tinggi.

Jika cukup betah menikmati karya ini, mari kita nikmati kisah selanjutnya "Anak dan Kemenakan".
Profile Image for Ahmad  Zufar.
24 reviews
October 17, 2025
Merupakan novel pertama yang saya pilih untuk dibaca setelah sekian lama tidak membaca buku fiksi. Mengetahui buku ini atas rekomendasi rekan kerja, ketika sedang memaparkan bimbingan pemustaka. Isi dari buku ini bukan tentang cara mencari jodoh bagi kaum lajang, melainkan tentang kisah yang mengkritik adat lokal dalam menentukan sebuah perjodohan. Ditulis menggunakan gaya Bahasa Indonesia era 1950an tidak menjadi penghalang untuk menikmati cerita. Kisah yang tertuang memberikan pelajaran seputar cinta, emosi, kesabaran dan perjuangan. Yang menjadi poin menarik adalah cerita ini merupakan semi otobiografi sang penulis dan wasiat penulis adalah agar buku ini diterbitkan ketika seluruh tokoh yang terlibat sudah wafat, agar tidak menyinggung tokoh-tokoh yang terlibat, meskipun penamaan tokoh sudah disamarkan. Memang betul ada beberapa ulasan yang merasa bosan, ketika sepanjang cerita selalu berisi terkait perjodohan kapan pun dan di manapun latarnya. Namun, saya memilih sudut pandang lain terkait cerita yang selalu berisi perjodohan ini. Saya memandang ini sebagai betapa kentalnya adat perjodohan di masa lalu, sampai sang tokoh utama selalu dibayang-bayangi oleh perjodohan ke manapun ia pergi. Hal ini justru menjadi poin kritik penulis cerita terhadap sebuah adat yang dianggapnya sangat kaku dan tidak lagi relevan. Selain itu, ada beberapa bagian terkait latar waktu yang melompat cukup jauh, tetapi tidak mengubah esensi cerita. Hal ini mungkin didasari oleh penulis yang ingin lebih menggarisbawahi poin-poin krusial saja. Melalui kisah yang tertuang, saya memahami jika sastra bukan hanya media untuk menuangkan perasaan semata. Sastra menjadi sebuah media, elemen, ujung tombak dan menanggapi isu sosial dan realitas yang hidup di dalamnya
Profile Image for Rika Febriani.
14 reviews
March 16, 2024
Novel ini bisa dikatakan sebagai memoir Marah Rusli dengan sedikit bumbu fiksi. Dalam novel ini diceritakan adat minangkabau yang sangat keras perihal perkawinan. Memang yang menjadi latar novel ini adalah era tahun 1900an. Hamli, sebagai pemuda keturunan bangsawan Minang diwajibkan oleh adat menikah dengan perempuan minang juga. Berbagai cara dilakukan oleh keluarganya, bahkan sampai mengizinkan berpoligami. Namun, Hamli dalam hidupnya bertemu dengan perempuan Sunda bernama Din Wati dan menjadi satu-satunya istrinya. Dalam keluarga Din Wati sendiri juga timbul keraguan atas adat Minang ini.

Walau kesan yang ditimbulkan adalah kekakuan adat minang, namun novel ini menjadi tonggak dalam kesusastraan Indonesia karena kekentalan adat dalam latar ceritanya.

Hal menarik yang terasa yang mungkin ini adalah fiksi, mengenai ramalan tentang kehidupan kembali. Diceritakan bahwa Din Wati akan melahirkan anak yang merupakan perwujudan dari guru kebatinan ayahnya. Kemudian kematian ayahnya: Radin Jaya Kesuma  dan ibunya Ratu Maimunah  yang seperguruan dalam ilmu kebatinan, dan kemudian terlahir kembali dan berkumpul menjadi keluarga yang sama. Proses reinkarnasi dalam cerita tentang adat minang merupakan suatu hal yang aneh.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Anton.
157 reviews10 followers
March 14, 2024
Novel ini ditulis berdasarkan cerita hidup penulisnya, Marah Rusli, sastrawan besar dari Padang, Sumatera Barat yang lebih terkenal karena karyanya yang lain, Sitti Nurbaya. Terentang hampir 40 tahun, Sitti Nurbaya terbit pada tahun 1922 sedangkan Memang Jodoh terbit pada tahun 1961, tetapi kedua novel ini bertema serupa, gugatan terhadap tradisi di Padang.

Dalam Memang Jodoh, Marah Rusli pun menceritakan hal sama. Kali ini dengan gaya bercerita orang ketiga meskipun sebenarnya novel ini berkisah tentang perjalanan hidupnya sendiri. Mulai dari lulus Sekolah Raja (setingkat SMA?), sekolah di Bogor, Jawa Barat, lalu lika-liku perjodohannya dengan seorang gadis Sunda yang kemudian jadi istrinya.

Novel ini penuh dengan gugatan Marah Rusli terhadap tradisi di tanah kelahirannya sendiri. Selama membaca novel ini, aku pun baru tahu, ternyata sebegitu kaku tradisi Padang pada zaman itu. Bagus untuk belajar tentang kolotnya tradisi di masa lalu dari pelaku sekaligus korban tradisi itu sendiri.
Profile Image for Riend.
7 reviews
February 26, 2023
Ketika Adat sudah tak sejalan dengan jaman. Pemuda bangsawan Minang yang bersekolah di IPB diawal 1900. menentang kewajiban adatnya, dan memilih dibuang kaumnya demi pilihan pasangan hidupnya. Padajaman itu, laki-laki minang, terutama bergelar, berpendidikan harus menikah berkali-kali. Marah Hamlimenentangnya.

Buku ini adalah kado ulang tahun pernikahan Marah Roesli untuk istrinya, Raden Ratna Kancana, seorang bangsawan Pasundan. Meskipun novel ini bukan biografi beliau, tapi ini cerita bagaimana akhirnya beliau menentang sanak saudara, ninik mamak yang secara adat mengatur hidup kemenakannya. Dipilihkan istri, berkali-kali, dipaksa menikah, bahkan bisa dilakukan tanpa sepengetahuan ybs. Mind blowing sekali adat jaman dulu.

Sesuai gelar Marah Roesli, Bapak Roman Modern Indonesia, novel ini yaaa berkisah tentang cinta Marah Hamli dan Radin Asmawati. Ditulis dengan kata yang puitis, dan selipan pantun-pantun dan istilah Minang. Easy read walaupun 500 halaman.
Profile Image for andrea kartika.
20 reviews
June 7, 2023
well-written story🫶 gapunyaa ekspektasi apapun dgn buku ini sebenarnya karena dikiranya akan mirip dengan Siti Nurbaya, ternyata sangat menarik! saya suka penggambaran karakter Hamli yg tegas, menjunjung kesetaraan gender, dan pekerja keras, begitu pula dgn Din Wati yang teguh dan kuat dgn prinsip hidupnya. Memang Jodoh menyajikan perspektif baru mengenai adat Minang dalam kacamata seorang laki-laki, yg pastinya memberikan pengetahuan baru bagi saya! bahasanya rapi, mudah dimengerti, walaupun ada beberapa kalimat yg tidak memiliki unsur inti. saya merekomendasikan novel klasik ini sebagai pengisi waktu luang💘👑
Profile Image for Wendy Caleb.
14 reviews2 followers
August 15, 2017
Baru belakangan ini saya mulai meminati tulisan-tulisan sastrawan lama Indonesia. Ternyata bagus. Isinya bukan melulu drama emosional dan intrik yang biasa ada pada novel pop, tetapi juga membuka pandangan pembacanya ke suasana bumi Indonesia di masa lalu, walaupun hanya segelintir. Di sini kita bisa belajar mengenai masa lalu negeri kita, yang niscaya dapat kita gunakan untuk memperbaiki yang masih berkekurangan.
Profile Image for Fandhy Achmad Romadhon.
22 reviews1 follower
August 29, 2022
Sejenis buku yang ditulis dengan gaya biografi penulisnya. Membahas seputar tradisi pernikahan di budaya masyarakat Minang perihal adat istiadat dan kebiasaan yang menjadi tolak pikir Ramli untuk menuliskan kisahnya perihal penolakan dia atas kebiasaan perkawinan dalam budaya minang.

Akhirnya hal ini membawa dia ke Tanah Pasundan, dan menemukan jodohnya disana. Buku yang membuktikan bahwa jikalau Sudah jadi jodoh, segala rintangan pun akan terlewati juga.
Profile Image for Nur Islah.
65 reviews6 followers
January 8, 2020
Kalau jodoh memang tak kemana.

Kisah cinta antara Marah Rusli dengan seorang wanita bangsawan Sunda. Sebagai anak bangsawan Padang, sangat tabu bagi seorang Marah menikah dengan perempuan yang bukan sebangsanya. Sehingga, dengan berbagai upaya, keluarga berusaha memisahkan Rusli dengan istrinya.





6 reviews
September 1, 2025
sudah lama sekali aku baca buku ini, waktu itu, di perpustakaan sekolah smp, entah kenapa dari sekian banyak buku aku tertarik untuk membaca buku memang jodoh ini, ternyata aku suka dengan baca menulis marah rusli, buku ini juga jadi ngebuka mata aku tentang kebiasaan, budaya jaman dulu, tentang hal-hal yang bersyukurnya sudah ga berlaku di jaman modern ini.
Profile Image for oatmeal77155.
366 reviews
August 21, 2024
Nope. Seperempat buku cukup menarik untuk pemahaman budaya pernikahan maupun relasi sanak-saudara di minangkabau. Pencampuran ideologi Islam yang masih terikat erat dgn mistis. Sayangnya cukup membosankan di bagian menengah hingga akhir.
Profile Image for Syarif Al Bahri.
1 review5 followers
September 8, 2017
Bagus isinya. Menceritakan banyak hal tentang adat istiadat padang. Tapi gaya bahasanya melayu lama. Bagi sebagian orang mungkin agak membosankan.
Profile Image for Oni.
661 reviews11 followers
May 6, 2023
Marah Roesli memang paten.
Profile Image for Lisa Nahar.
124 reviews
November 7, 2024
Sangat gamblang dalam mengkritisi karakter orang dan adat istiadat Padang.
Profile Image for Doni Lu.
7 reviews
July 11, 2025
Crazy to think how author writing about himself. Good story!
Profile Image for Komang Ira Puspitaningsih.
2 reviews3 followers
January 4, 2014
Novel “Memang Jodoh” karya Marah Rusli, adalah sebuah novel semi autobiografi yang bercerita tentang kisah hidup Marah Hamli dan Nyai Radin Asmawati selama lima puluh tahun perkawinannya. Perkawinan yang merupakan buah perjodohan sejati. Novel ini sarat dengan muatan budaya Minangkabau yang melatari sebagian besar plot dalam novel. Diceritakan Marah Hamli adalah pemuda Padang keturunan bangsawan. Ibunya, Anjani, sebenarnya berasal dari Jawa tetapi telah bersuku Melayu sehingga harus menjunjung tinggi adat Minang. Sedangkan ayah Hamli, adalah seorang bangsawan yang harus menjaga dan melaksanakan adat istiadat Minang. Dan sebagai seorang pemuda bangsawan Padang, merupakan sebuah aib bagi keluarga besar Hamli jika Hamli beristrikan bukan “urang awak”.

Dengan setting waktu antara awal tahun 1900an, saya dapat membayangkan bagaimana masyarakat Minang memegang teguh aturan adat yang berlaku. Setiap orang yang melanggar adat berarti sebuah aib besar bagi keluarganya. Bahwa budaya matrilineal yang mereka gunakan kemudian membentuk sebuah system yang carut-marut. Misalnya, bahwa orang yang bertanggung jawab pada keberlangsungan seorang anak Minang diserahkan kepada “mamak” (saudara laki-laki ibu), karena “mamak” inilah yang memiliki hubungan darah dengan “bundo kanduang”. Sedangkan status ayah dalam sebuah keluarga Minang tetaplah dianggap sebagai orang luar, tidak memiliki hubungan darah dengan ibu (sebagai pewaris keluarga), hanya sebagai pemberi benih keturunan. Sistem yang seperti ini kemudian berdampak pada timpangnya relasi ayah-anak yang seringkali ditemui di Sumatra Barat. Juga dengan kebiasaan penjodohan yang direncanakan bagi para bujang dan upik di Minang, yang sebagian besar diatur para tetua adat. Penjodohan yang bagi para tetua adat amatlah penting untuk menjaga bibit bobot dan bebet keturunan suku mereka kelak. Masih acap kali dapat kita temui di Sumatra Barat, sebuah perkawinan dimana kedua marapulai belum saling mengenal hingga pesta dilangsungkan. Tidaklah menjadi suatu hal yang aneh jika di Minang kemudian banyak terjadi kasus poligami. Karena laki-laki diposisikan hanya sebagai pemberi benih keturunan dan tidak memiliki tanggung jawab langsung pada anak-anaknya.

Semua keganjilan-keganjilan budaya Minang inilah yang diuraikan secara apik oleh Marah Rusli dalam novel “Memang Jodoh”. Di bagian awal novel, memang telah disebutkan, bahwa segala macam kesusahan yang ditimbulkan dalam pernikahan mereka yang ditentang oleh adat keluarga Minang, merupakan hal yang melatarbelakangi sebagian besar tulisan-tulisan yang diciptakan oleh Marah Rusli. Dan novel “Memang Jodoh” kemudian menyingkap tabir atas segala macam rintangan dan halangan yang dialami oleh pengarangnya sendiri berkenaan dengan sistem sosial masyarakat adat yang berlaku di ranah Minang. Secara garis besar, novel ini adalah bentuk perlawanan dari Marah Rusli pada adat Minang yang sempat mengganggu biduk rumah tangganya bersama Raden Ratna Kencana. Karena sejak Marah Rusli memutuskan untuk menikahi Raden Ratna Kencana, ia kemudian dibuang dari adat Minang (tidak berhak mendapat hak waris, dan tidak berhak meneruskan garis keturunan sukunya).

Sebagai sebuah novel semi autobiografi, novel ini menguraikan dengan jelas asal-usul dari Marah Rusli. Gelar Marah yang ia sandang menunjukkan bahwa darah bangsawan ia dapat dari ayahnya yang bergelar Sultan Pangeran, yang masih memiliki kekerabatan dengan Istana Pagaruyung di Batusangkar. Marah Rusli kecil tumbuh besar bersama ibunya karena ayahnya menikah lagi dengan perempuan lain. Hal itulah yang kemudian membentuk pendirian di dalam diri Rusli bahwa ia tidak akan berpoligami, karena ia melihat langsung penderitaan ibunya yang ditinggal sang ayah.

Setelah membaca “Memang Jodoh”, saya merasakan benar bahwa Marah Rusli adalah pribadi yang sangat santun. Narasi-narasi yang ia gunakan hampir-hampir tanpa konflik. Ia hanya membuat sebuah gambaran, dan sangat minim narasi persuasif yang menggiring opini pembaca. Marah Rusli sepenuhnya sadar, bahwa dibuangnya ia dari tanah Minang semata-mata adalah akibat sistem adat, ia sama sekali tidak membenci keluarganya. Maka untuk melakukan protes melalui novel-novel yang ia ciptakan pun, Marah Rusli sama sekali tidak ingin membuat konflik yang nyata.

Saya ingat pada bagian awal novel, ketika menceritakan bagaimana Nyai Radin Asmarawati telah diberitahukan bahwa ia kelak akan berputra Ajengan Kiai Naidan yang akan mengalami inkarnasi kembali. Marah Rusli pun menceritakannya tanpa menyinggung kepercayaan keagamaan tertentu. Saya sendiri memang pernah mendengar dari para tetua adat di Minang, bahwa sesungguhnya dahulu para leluhur orang Minang sangat memercayai adanya reinkarnasi atau kelahiran kembali. Namun setelah agama Islam masuk dan kemudian Sumatera Barat dan kemudian menjadi basis Islam yang cukup kuat, ajaran tentang reinkarnasi kemudian tidak diturunkan kembali ke generasi berikutnya.
Displaying 1 - 30 of 72 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.