Aliansi Demokrasi Rakyat (ALDERA) memang memainkan peranan penting dalam interaksi perlawanan atas rezin. Pilihan bergerak bersama rakyat yang dimulai dengan membangun gerakan-gerakan perlawanan atas perampasan tanah di Jawa Barat, telah membangun solidaritas gerakan ini dan menjadi gerakan politik adiluhung sebagai pengontrol sekaligus penantang langsung kebijakan Soeharto.
Ada setidaknya dua hal yang menubah pandangan saya dari buku ini. Pertama adalah keterlibatan kampus-kampus swasta yang sangat besar dalam panggung perlawanan terhadap rezim Orde Baru. Sebelumnya, pikiran saya masih terjebak dalam hegemoni pendidikan negara, bahwa perguruan tinggi swasta tidak lebih baik daripada perguruan tinggi negeri, baik itu dari segi iklim akademiknya (tergantung kredibilitas kampusnya sendiri) ataupun dari segi iklim kritisime mahasiswanya terhadap penguasa. Dari situ, saya tidak akan lagi memandang remeh kepada mahasiswa-mahasiswa dari perguruan tinggi swasta karena pada hakikatnya kita semua sama, sebagai mahasiswa dengan tanggung jawab untuk berpikir kritis dan berpihak kepada rakyat. Mungkin memang terlihat redupnya api perlawanan di kalangan mahasiswa, khususnya dari perguruan tinggi swasta. Tapi menurut kesimpulan saya setelah membaca buku ini, bukan hanya api perlawanan di kampus swasta saja yang redup, namun juga api perlawanan kampus negeripun perlahan akan redup jika kita melihat kondisi ekonomi yang tidak adil seperti sekarang. Kampus-kampus negeri bertahan lebih lama kerena mereka seolah mendapat warisan alamamater dari masa lampau tentang kejayaan-kejayaan seniornyanya. Padahal jika kita lihat, mahasiswa-mahasiswa kampus negeri yang sadar aan isu sosial dan ikut andil dalam memperjuangkan keadilan juga tak bisa dibilang banyak, mungkin tak separuh dari seluruh angkatannya, bahkan untuk mahasiswa soshum sekalipun. Sisanya dari mereka tak meras perlu untuk memikirkan politik ataupun isu-isu sosial lainnya selama mereka lebih memilih untuk menyiapkan diri untuk pasar kerja setelah lulus kuliah. Jadi sepertinya kondisi ekonomi-politik sekarang betul-betul memiliki peran vital dalam mengubah jati diri mahasiswa Indonesia yang semestinya punya tanggung jawab sebagai pihak yang kritis menjadi hanya sekadar calon pekerja, baik itu dari kampus swasta ataupun kampus negeri.
Kedua adalah buku ini juga banyak menyampaikan tentang peristiwa-peritiwabersejarah pada masa itu dengan latar tempat yang familiar untuk saya. Banyak latar tempat peristiwa itu cukup sering saya lalui. Seperti Tragedi Semanggi 1 dan 2 yang berlokasi di depan Universitas Atma Jaya, peristiwa Kudatuli yang terjadi di Jalan Diponegoro sampai Salemba, dan banyak lagi. Dengan pengetahuan itu, saya seperti merasakan hal yang berbeda ketika berada ataupun hanya sekadar lewat di tempat-tempat itu. Seolah, saya tak lagi hanya merasakaan tempat itu sebagai suatu jalan dengan gedung-gedung menjulang ataupun kios-kios yang berjejeran di pinggirnya, namun seperti suatu rasa yang tidak bisa dijelaskan. Seperti rasa antusias ketika berada di museum. Seperti itu.
ALDERA merupakan singkatan dari Aliansi Demokrasi Rakyat, yaitu sebuah organisasi yang vokal terhadap isu-isu Orde Baru melalui gerakan mahasiswa di seluruh Indonesia.
Buku ini seperti koran wawancara atau reportase berita yang mencakup latar belakang ALDERA dari awal berdiri hingga tujuan-tujuan yang ingin mereka capai dalam mengakhiri masa pemerintahan Orde Baru.
Selain menampilkan reportase berita, buku ini juga memuat daftar nama anggota, serta gambar kegiatan organisasi yang terjadi pada masa 1993-1998. Salah satu peristiwa penting yang dimuat adalah kasus penculikan Pius Lustrilanang selaku salah satu pendiri ALDERA. Di situ Pius menceritakan kronologi bagaimana ia diculik, ditahan, dan diancam oleh 'kaki tangan' pada masa tersebut terkait gerak politiknya.
Dari sekian banyaknya yang disekap, hanya Pius yang berhasil keluar dengan selamat karena dia punya power untuk berbicara di depan KOMNAS HAM dan kongres media dari luar negeri.
Entahlah, bagaimana jika Pius tidak punya power, apakah ia bisa selamat?
Sy sangat berharap dengan buku ini sbnrnya, untuk mendapatkan gambaran suasana dan kondisi pergerakan mahasiswa dan kaum muda di masa2 akhir Soeharto. Sayang sekali, justru buku ini terlalu berfokus kepada perkembangan organisasi Aldera. Betul ada gambaran kondisi tadi, tp porsinya menurut saya masih kurang. Pdhal di awal sudah lumayan naik karena langsung menceritakan tentang penangkapan Pius, sayang sekali ke akhir2 menurun dan monoton. Contoh simple misalnya ketika membicarakan ada kaderisasi Aldera kepada kaum muda, kenapa tidak dibahas sekalian apa yg menjadi materi kaderisasi misalnya. Yah ini hanya masukan saja hehehehe.
Awalnya beli karena bukunya berserak dimana-mana aja. Ternyata ini bukunya banyak membahas sekjen Aldera yg diculik Kopassus di markasnya. Saat itu penculikan dianggap cuma rahasia umum tapi baru ketika sekjen Aldera bersuara di Komnas HAM dan di Belanda barulah hal ini dianggap fakta. Terjadinya tepat beberapa bulan sebelum Orba lengser. Banyak peristiwa politik transisi Orba ke Reformasi diceritakan disini. Menarik tapi banyak pengulangan peristiwa dan cara bertutur yg membuat pembaca kurang nyaman untuk tidak skip-skip. Tapi aku senang membaca kisah-kisah yg menyakitkan dalam sejarah demokrasi di Indonesia.
Buku inspiratif yang menunjukkan bahwa gerakan mahasiswa yang turut melengserkan Soeharto 1998 silam tidak lahir dari keadaan hampa, melainkan sudah bergerak selama bertahun-tahun. Selain itu, buku ini juga membahas tokoh-tokoh penting dalam ALDERA dan organisasi-organisasi terkait serta aktivisme mereka dalam memperjuangkan permasalahan agraria dan hal lainnya yang menjadi konflik antara penduduk biasa dengan rezim Orde Baru.