Główna bohaterka chodziła do siódmej klasy podstawówki, jednakże odczuwało się jakby chodziła do czwartej klasy. Jej rodzice nagle znikąd się pogodzili, nie dostaliśmy nawet żadnego wytłumaczenia. Nagle na końcu wszyscy się pogodzili bez żadnej głębszej rozmowy. Nie było to zbyt realistyczne, dlatego taka jest moja ocena.
Topless berkisah tentang Amelie seorang remaja yang tidak percaya diri dengan bentuk tubuhnya sendiri. Sampai dia suka sekali mengedit fotonya dengan photoshop agar terlihat “sempurna”.
Dia juga tidak trendi dan modis. Selain itu dia selalu menjadi sasaran bully di kelasnya.
Hidupnya sebagai remaja tambah rumit lantaran kedua orangtuanya yang gak pernah akur. Sahabatnya juga bersikap aneh. Dan cowok bernama Elias yang ditaksirnya tentu tidak akan pernah menyukainya.
Bagaimanakah Amelie menghadapi segala persoalan di masa remajanya?
______________ Pas awal baca aku langsung suka karena isu yang diangkat lewat ceritanya bagus, tentang rasa insecure sama bentuk tubuh sendiri. Aku juga sewaktu remaja pernah mengalami fase itu, lantaran tubuh aku kurus. Dikatain ratalah, tripleklah, kertas ah. Wkwk Tapi aku gak pernah nyampe terpuruk sih, kek yaudah mau gimana lagi emang badannya gini. Dari kecil juga udah dicecoki segala macem vitamin tapi gak ngaruh. 🤣
Amelie ini saking gak percaya dirinya nyampe suka ngedit fotonya gitu, wajahnya dia tapi badannya diganti pake badan model. Nah aku pikir hal ini itu bakal jadi konflik utama gitu, tapi ternyata kurang digali. Tapi nanti bakal ada hubungannya sama endingnya dan berhasil bikin aku ngakak puas. Wkwk
Karena karakternya masih pada remaja tentu saja kelakuannya bikin gregetan dan bikin jengkel. Tapi ya aku bisa apa? Namanya juga remaja banyak labilnya. 😂
Ceritanya dikemas dengan ringan dan enak buat dibaca kalau lagi pengen bacaan santai. Nggak nyampe 200 halaman. Tapi jadinya pengembangan karakternya kerasa kurang, segala persoalan Amelie ini jadi keliatan cepet selesai gitu aja. Hubungan antar tokohnya juga jadi kurang terasa.
Overall novel teenlit ini walau tipis dan ringan tetap banyak ngasih pelajaran hidup yang bagus. Khusunya di fase kehidupan remaja. Kalau lagi ngerasa gak pede sama bentuk tubuh, mungkin cerita Amelie ini bakalan bikin kalian gak merasa sendiri. 🥰
Tentang Amelie, gadis 13 tahun yang tidak percaya diri dengan bentuk tubuhnya yang lebih mirip piramida. Gayanya yang "ketinggalan zaman" menjadi samsak pembullyan di kelas. Perut besar dan payudara kecil itu berada dibalik kemeja ayahnya yang gombrang, jelas membuat Elias, cowo yang disukainya sejak lama, tidak akan suka padanya. Ditambah kedua orang tuanya yang suka bertengkar dan konflik dengan kedua sahabatnya membuat masa remajanya seperti mimpi buruk. _______ 🍂Buku young adult yang mengangkat tema jati diri, asmara, pembully-an, dan sex education
🍂Cerita ini berlatar di sekolahan di luar negeri dan memiliki humor santai. Ditulis dengan bahasa remaja gaul dengan tiap chapter yang ringkas, yang bisa bikin pembaca selesai baca sekali duduk
🍂Secara keseluruhan buku ini menunjukkan fenomena seorang remaja bucin yang bisa melakukan apa saja demi orang yang disukainya
🍂Pembaca akan lihat kalau Amelie bisa se-gila itu dengan Elias, yang katanya primadona di sekolahnya. Bahkan dia sampai membuat hubungan pertemanannya dengan Kira dan Nicki memburuk, demi Elias!😏
🍂Konflik cerita ini juga bisa cukup dilihat dari judul bukunya. TOPLESS. Dimana Amelie mesti menuruti keinginan bodoh dan tabu Elias padahal status mereka sebatas PDKT!
🍂Perasaan pembaca akan dibuat campur aduk. Saat kondisi mulai memanas ga karuan, penulis menyelipkan plot twist yang bikin aku tercengang dan bergumam CERDAS OYY!!😍
🍂Cuman di sini sayang banget sih porsi cerita tentang Elias, Kira, dan Nicki nya sedikit. Apalagi Kira, latar belakangnya kurang dijelaskan. Tapi buku ini cocok buat kalian yang suka baca buku tipis😁
🍂Meskipun kesannya kaya baca cerpen tapi menurutku buku ini bagus karena dari alur dan world buildingnya rapi, tokoh dan penokohan yang realistis tidak berlebihan, dan punya makna hidup yang bisa diambil hikmahnya🌸
This entire review has been hidden because of spoilers.
„Topless” to historia, którą czytało mi się bardzo szybko i przyjemnie. Od razu wciągnęłam się w fabułę, mimo, iż czułam, że książka nie jest przeznaczona dla mojej grupy wiekowej. Od razu polubiłam główną bohaterkę, która zmagała się z takimi samymi problemami, z jakimi ja miałam do czynienia w wieku 12 lat. Doceniam młodzieżówki, które wzbudzają w czytelniku refleksje i pokazują odpowiednią drogę postępowania w trudnych sytuacjach. Cieszę się, że powstają takie pozycje, bo brakuje ich na rynku wydawniczym. Nie mogę tej historii nic zarzucić, ale wiem, że ja już do niej nie wrócę. Nie dlatego, że jest zła, tylko ze względu na to, że nie jest przeznaczona dla mnie - 25-letniej kobiety. W tej historii nie ma już nic, czego bym nie wiedziała, ale chciałabym móc ją przeczytać jako dziewczyna wchodząca w nastoletni okres, dlatego mam nadzieję, że do takich odbiorców właśnie trafi ❤️