Sudah banyak cerita mengenai perjuangan anak manusia pekerja keras, ulet, cerdik, dan sebagainya menghiasi peprpustakaan dan memperkaya khasanah literatur kita. Namun, novel Tjong ini membawa kunikan tersendiri, karena tokoh dalam cerita dituliskan secara utuh dan runut, mulai dari perjalanan dari Tiongkok ke tanah Jawa, pergulatan dalam hidup, sumbangsih dalam membela sang Merah Putih, dan bagaimana dia sebagai ayah harus berjuang membebaskan anak-anaknya dari situasi kacau balau revolusi kebudayaan di Tiongkok, kemudian diakhiri dengan keputusan sang tokoh agar jasadnya dikremasi dan dilabuh, di mana keputusan tersebut langka di masa itu, paling tidak di lingkungannya.
HGJ menyajikan tautan cerita kehidupan yang begitu kuat dengan gamblang tanpa menghilangkan detail-detailnya, bahkan berhasil memberi penekanan beberapa detail yang penting, seperti alih bahasa dari Bahasa Hakka dan mendeskripsikan dengan baik “blusukan” Tjong Kie Lin di kalangan Hakka di Jawa Tengah dan Bandung. Menarik pula, HGJ meletakkan cerita ini di dalam konteks sejarah sehingga pembaca, paling tidak saya, ikut kembali ke zaman-zaman tersebut.
Satu hal yang unik dan membuat novel ini menarik disimak adalah bahwa sang tokoh Tjong Kie Lien adalah orang kebanyakan, seperti kita semua, bukan orang yang sukses besar dan malang-melintang sebagai konglomerat. Dia orang yang rela bersusah payah dan jatuh-bangun untuk menghidupi keluarganya.
Dengan cerdik, HGJ mengemas alur cerita dengan siratan pesan bahwa dalam kehidupan, selain kerja keras, Tjong Kie Lin juga mempunyai keberuntungan, yaitu saat menang lotere di Bandung dan bantuan dari mertuanya di kala dia dalam kesulitan. Bukankah memang demikian di dalam kehidupan? Nasib mujur sering membantu kita.
Secara cerdik pula, HGJ memberi sajian bahwa kemandirian adalah karakter sang tokoh yang gigih dalam memerangi dan berdamai dengan kehidupannya. Tidak mungkin kemujuran datang terus-menerus. Apa yang bisa kita lakukan dengan apa yang kita punyai, itu adalah kiat hidup. Dari kisah sang tokoh Tjong, kemujuran akan datang kepada mereka yang siap menerimanya, yaitu yang bekerja keras. Kerja, kerja, kerja, ungkapan yang diulang beberapa kali oleh HGJ di dalam karyanya.
Satu lagi, Pak Tjong mempunyai nilai keluarga yang sangat tinggi. Dia selalu berupaya menyatukan keluarga besarnya, meski sanak-saudara, kakak-adik, bahkan ayah-ibu telah banyak berbuat kesalahan kepadanya. Pak Tjong berprinsip bahwa apapun yang telah terjadi dan telah dilakukan oleh mereka, mereka tetap keluarga. Pesannya kepada anak-anaknya bahwa apapun yang telah terjadi di antara Tjong Kie Lin dan adik-adiknya, yang notabene bukan saudara kandung, anak-anak Pak Tjong tetap harus menghormati dan bergaul dengan para paman dan bibi mereka. Di kemudian hari, di kala sang tokoh mengenal Tuhan, terbukalah wawasan bahwa apa yang menyatukan datangnya dari Tuhan; yang memisahkan datangnya dari kejahatan.
Memang, di balik drama sebuah kehidupan sang tokoh tersirat gelombang ombak cinta kasih yang tak terbendung dari diri Tjong Kie Lin, cinta kasih yang memaafkan dan baik hati, tidak ada iri hati, dendam, ataupun sombong dan kasar. Cinta kasihnya sungguh tak terbendung. Sepeti jasadnya yang telah menjadi abu dan tersebar di lautan luas, begitulah novel ini juga telah menyajikan relung-relung gelombang cinta di dalam kerumitan kehidupan anak manusia. Ya, samudra cinta kasih yang tak bertepi.
Bravo HGJ.