Sangat senang rasanya membuka tahun 2023 dengan sebuah buku yang menurutku bisa dibilang cukup berat, bisa kita lihat dari judulnya : "Menjadi, Seni membangun kesadaran tentang diri dan sekitar", dan terlebih lagi juga karena nyatanya buku ini melengkapi rak buku gramedia kategori social science. Namun meski begitu, di lain sisi buku ini juga ringan untuk dihabiskan dalam waktu kurang dari satu bulan, hal seperti ini tentu saja tidak terlepas dari kejeniusan sang penulis; kak Afu, sehingga buku yang sangat gado-gado nan kompleks ini begitu menyenangkan untuk dibaca. Hats off untuk kak Afu, untuk kerendahan hatinya mau berbagi pengalaman, sudut pandang, buah pikir, dan ilmu yang sangat mahal kepada para pembacanya. Oh ya, tidak lupa juga aku ingin mengapresiasi kak Satwika Kresna sang illustrator yang menyempurnakan kecantikan luar dalam buku ini sekaligus membantu pembaca awam (khususnya seperti aku) untuk lebih mudah memahami beberapa bagian yang "berat" dalam buku Menjadi ini.
Buku ini terdiri dari 224 halaman yang dibagi menjadi lima bagian, yaitu : Prolog, Bagian A : Umbi, Serambi, Bahari, Bagian B: Membuka Jendela Pikiran, Bagian C : Bergerak dengan Kaki, dan terakhir Epilog. Lalu apa saja yang aku suka dari buku ini,dan apa yang aku dapat serta pelajari dari kelima bagian tadi ?
Pertama, yang aku suka dari buku ini (yang juga sudah aku sebut di atas) adalah desain yang sangat cantik dengan warna pastel yangmana cukup kontras dengan tema utama buku, banyak disajikan illustrasi dan grafis yang membantu lebih memahami pembahasan yang beberapa cukup teoritis. Selanjutnya aku juga sangat suka dengan pendekatan sudut pandang personal dan based on pengalaman sang penulis langsung sehingga selama membaca rasanya seperti berdiskusi langsung dengan kak Afu.
Kedua, yang aku dapat dan pelajari dari buku ini antara lain :
1. Bagian A : Umbi, Serambi, Bahari : a. bahwa setiap manusia melewati proses dan tahapan pendewasaan yang sama, namun di jalur waktu yang berbeda-beda (konsep lima tahap pendewasaan Kegan) maka yang terpenting adalah dapat melihat ke dalam diri kita sendiri dan membangun empati terhadap orang lain, sehingga kita tidak cepat menjustifikasi seseorang. b. belajar untuk melihat suatu permasalahan dan menemukan solusinya memang tidak mudah, kita harus berlatih berpikir terstruktur untuk mencari tahu akar permasalahan (salah satunya dengan konsep fishbone #ternayatinikonsepgakcumabuatskripsianhehe) dan tidak terburu-buru dan mudah terprovokasi atas suatu permasalahan.
2. Bagian B : Membuka Jendela Pikiran : a. pada bagian ini aku bertemu dengan satu istilah baru yaitu NFC (Need for Cognitive Closure), bertemu dengan istilah ini aku membangun ulang pengertian tentang "pemikiran terbuka", dan yang aku dapati tertulis seperti ini " ....seseorang dengan pemikiran terbuka memiliki motivasi yang lebih tinggi untuk mencari dan memproses informasi baru, termasuk dalam mengkonstruksi penjelasan-penjelasan alternatif", dan fakta bahwa orang progresif tidak pasti yang berpikiran terbuka dan sebaliknya.b. aku juga belajar memahami tentang privilese lebih jauh, aku diajak berpikir dan berefleksi dan voila ternyata aku cukup ber-privilese dan aku seharusnya lebih bersyukur atas itu. Ada satu paragraf yang aku suka dari subbab privilese ini, yaitu " Let's set one thing straight here : privilese bukan lawan kata dari kerja keras. Seseorang bisa memiliki privilese sekaligus bekerja keras sepanjang hidupnya. Dalam hal ini, keduanya tidak bersifat zero-sum, tapi lebih pada perkalian, di mana lebih besar anka salah satu atau keduanya, semakin besar juga hasil akhirnya." c. di bab ini, juga dibahas jauh mengenai ketimpangan, kesetaraan (equality), dan keadilan (equity), dan kaitannya dengan kebijakan publik. Ada banyak sekali bagian yang aku garis bawahi di subbab ini, tapi mungkin dua kata kunci ini cukup mewakilkan : 1. memahami kebutuhan kebutuhan yang berbeda-beda; 2. memahami rintangan yang menghalangi, dengan pemahaman atas dua kata kunci ini mungkin kebijakan publik yang hadir lebih baik. Dalam bagian ini juga membahas tentang permasalahan yang cukup kritis seperti isu nasionalisme juga isu lingkungan.
3. Bagian C : Bergerak dengan Kaki : setelah pada bagain A kita diajak untuk mengenali ke dalam diri sendiri. lalu pada bagian B kita diajak untuk mengenali sekitar, maka pada bagian C kita diajak untuk "mengambil peran" sekecil apapun peran tersebut dan bagaimana kiat-kiatnya. Pada bagian ini pula aku diajak untuk merefleksinya apa yang disebut dengan growth mindset dan asset-based-approach, yaitu berfokus pada apa yang sudah aku punya saat ini, contoh sederhanaya adalah dengan analogi gelas yang terisi separuh, apakah kita melihatnya sebagai gelas setangah kosong atau gelas setengah berisi. Intinya, di bab terakhir mengajak kita untuk menemukan diri kita yang mungkin selama ini sempat hilang untuk "Menjadi" kembali.
Akhir kata, di luar dari semua aspek yang aku suka (kelebihan dari buku ini) di atas, yang namanya ciptaan apalagi ciptaan manusia pasti ada bagian yang kurang, menurutku pribadi dari buku ini sangat banyak istilah-istilah asing yang baru aku tahu sehingga mengahruskan membaca dua-tiga kali agar lebih paham tentang maksdunya. Selain itu, ada juga bagian yang tidak terlihat dari buku ini yang membuat kita para pembaca untuk sama-sama lebih berhati-hati dengan bias subjektifitas yang hadir mengingat bahwa pendekatan yang dipakai adalah based on pengalaman pribadi penulis (memoar). Tapi mungkin di bagian ini juga kita sebagai pembaca dilatih untuk berpikir kritis, untuk belajar memproses informasi tanpa menelannya mentah-mentah, mencari tahu lebih jauh, serta merefleksikan diri sebagaimana tujuan dari penulis sendiri.
Akhir kata, menurutku buku ini berhasil hadir untuk menjadi teman dalam proses "Menjadi" diri yang lebih baik, bukan semata sebuah pedoman mutlak mengenai baik-atau-buruk, buku ini melatih kita untuk menemukan dan memprosesnya sendiri.
Worth to read, hope you read this book too!