Jump to ratings and reviews
Rate this book

Menjadi: Seni Membangun Kesadaran tentang Diri dan Sekitar

Rate this book
Kemampuan berpikir adalah sebuah perjalanan--bukan tujuan--yang sebagai konsekuensinya akan menumbuhkan pemahaman tentang diri, kemampuan memecahkan masalah secara lebih efektif, sikap terbuka terhadap pemikiran baru, hingga empati yang lebih baik dalam berhubungan dengan manusia lain.

Lewat Menjadi, Afutami menawarkan peta jalan yang membantu penelusuran tersebut. Alih-alih menggurui, buku ini mengajak kita berkaca lewat perjalanan penulisnya dalam memproses disonansi dari berbagai paradoks kehidupan yang ditemuinya, mulai dari privilese dan ketimpangan, nasionalisme dan humanisme, hingga ekonomi dan lingkungan. Di akhir, Menjadi juga menawarkan opsi konkret untuk mengejawantahkan kemampuan berpikir tersebut ke dalam aksi dan kontribusi nyata. Harapannya, buku ini bisa menjadi teman dalam berproses dan penemuan-penemuan internal yang memerdekakan diri serta membantu membangun hubungan lebih sehat dengan sekitar.

224 pages, ebook

First published October 1, 2022

125 people are currently reading
480 people want to read

About the author

Afutami

1 book14 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
202 (51%)
4 stars
165 (41%)
3 stars
28 (7%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 30 of 92 reviews
Profile Image for Hestia Istiviani.
1,044 reviews1,965 followers
October 31, 2022
ernah nggak baca buku self-improvement yang pendekatannya unik?

"Cogito ergo sum--I think therefore I am" - Rene Descrates.

Sewaktu @afutami mengumumkan kalau dia akan menerbitkan buku pada Maret 2022, aku nggak mau jadi orang yang ketinggalan. Waktu itu masih punya orang dalam. Masih ada orang yang bisa kutanyai, "Bukunya Afu kapan jadi?"

Rupanya, #BukuMenjadi buka pra-pesan akhir September. Aku berhasil menyelamatkan 1 eksemplar sebelum habis terjual.

Penantianku nggak sia-sia. Menjadi adalah sebuah buku yang sebenarnya nggak bisa dikotakkan dalam 1 topik saja. Sebagaimana keilmuan, Menjadi adalah buku yang inter dan multidisipliner.

Bayangkan saja, buku ini membuka bagian pertama dengan pendekatan filsafat sebagai cara berpikir-nya Hegel. Berbeda dengan kebanyakan buku pengembangan diri yang biasa kubaca: selalu ada diagram venn Ikigai.

Ide yang ditawarkan oleh Menjadi memang cukup berat, tetapi layak untuk dibaca. Seperti kutipan Descrates di atas, untuk memahami diri kita sendiri, mulailah bertanya ke dalam hati. Questioning everything.

Apakah saya harus seperti ini? Adakah cara lain untuk menuju titik itu? Mengapa saya mengambil keputusan itu?

Dimulai dari bersikap dan berpikir kritis, kita bisa punya andil untuk "claiming our life." Bukan memasrahkan diri diatur oleh orang lain.

Afu sejak awal mengungkapkan bahwa referensi yang ia tautkan juga berasal dari kelas yang diambil ketika kuliah di Harvard. Selain itu, ada juga yang berasal dari buku (seperti Thinking, Fast and Slow; Atlas of the Heart; Doughnut Economy) ataupun jurnal.

Sejujurnya, aku suka dengan konten Menjadi. Aku seperti punya seorang teman yang cara mengolah informasinya tidak jauh berbeda. That friend yang dengan cepat menghubungkan lokus data di kepalanya menjadi sebuah informasi baru yang bisa digunakan sebagai landasan pengambilan keputusan (data > information > knowledge > wisdom).

#BukuMenjadi bukanlah self-improvement seperti konten motivator LinkedIn yang terlalu banyak "ngecap." Ini buku berbobot yg disajikan dg apik tapi nggak bikin pusing.

That kind of book I would recommend to everyone.
Profile Image for Antariksa.
79 reviews4 followers
December 19, 2022
Ulasan ini aku poskan ulang dengan beberapa revisi dan tambahan di blog: https://antariksakh.com/menjadi-2022/.


Beberapa poin yang aku pikirkan tentang buku ini:

1. Sangat jarang ada orang Indonesia yang bisa nulis dengan perspektif selebar ini. Orang-orang "intelektual" di sini seringkali sudah punya ranah spesialisasi masing-masing. Akibatnya, meski tulisan-tulisan mereka banyak yang bisa tajam menghujam jantung persoalan, namun tidak terlalu menarik buat orang yang bukan pemerhati subjek yang dibahas, sebutlah di bidang-bidang sains, ekonomi, sosiologi, atau kebudayaan. Bukunya Afu ini tampak sudah bebas dari sekat-sekat keilmuan yang kaku itu, dan dari situ dia bisa meramu sebuah "cerita" yang unik, mengupas masalah-masalah masyarakat dengan cermat, tapi juga dengan sisi manusiawi yang semua orang bisa nyambung.

2. Di halaman 127, Afu menyebut tentang "membangun kembali angkatan intelektual Indonesia" yang sempat hilang lantaran Orde Baru. Mirisnya, sampai 24 tahun paska robohnya Orde Baru dan tegaknya Reformasi ini, rasa-rasanya masih belum ada "angkatan intelektual Indonesia" itu, kaum public intellectuals dari orang-orang di generasi Y dan Z. Tapi, membaca Menjadi ini membuatku agak optimis kalau mungkin kelompok orang-orang intelektual itu akan muncul dengan buku semacam ini sebagai pemicunya.

3. Aku suka banget dengan banyaknya alat-alat berpikir atau mental models yang dikenalkan di Menjadi ini, seperti sistem I dan II dalam berpikir, tahap-tahap pendewasaan-nya Kegan, konsep need for cognitive closure, eksternalitas, ekonomi donat, sampai dikotomi reformis-revolusionis dalam manajemen perubahan. Rasa senangku ketika dikenalkan perkakas-perkakas konsep ini buat memperbaiki metode berpikirku mungkin sama dengan bapak-bapak habis belanja dari toko bangunan berupa toolbox yang isinya lengkap banget buat menunjang segala aktivitas pertukangan di rumah.

4. Walaupun buku ini penuh dengan pergumulan dalam proses "menjadi" yang filosofis/etis/spiritual nan tidak duniawi, tapi sebetulnya buku ini juga sekaligus bisa jadi panduan yang bagus buat menentukan arah karir bekerja, rencana studi, esai kontribusi dan personal statement buat aplikasi beasiswa, bahkan mungkin rencana terjun ke politik praktis bagi yang memang berminat ke arah sana. Hehehe. Alat-alat berpikir dalam buku ini memungkinkan untuk dipakai ke arah sana, terutama di bagian C. Jadi, ini buatku satu hal yang perlu digarisbawahi, bahwa berpikir kritis atau refleksi diri atau berfilsafat atau "menjadi" itu bukan hanya kegiatan waktu senggang untuk menunjukkan privilese saja (mungkin istilah yang tepat untuk ini "navel-gazing"). Ia punya nilai yang sangat praktis dan sangat bisa diterapkan sebagai siasat bertahan hidup dan, pada akhirnya, untuk memenangkan the game of life.

5. Pada akhirnya, sesuai anjuran Afu sendiri di akhir buku, aku menemukan titik-titik perseberangan pendapat. Titik perbedaan pendapatku yang terbesar adalah dari soal proses "menjadi" yang digambarkan linear sesuai dengan alur hidup. Buku ini ditulis dengan asumsi bahwa ada titik awal dan akhir yang jelas dalam proses "menjadi." Ini bisa terlihat dari proses dialektika Hegelian yang dikutip Afu dengan tesis-antitesis-sintesisnya. Tapi, bisa juga kita katakan kalau proses pengembangan diri tidaklah seruntut itu. Afterall, life is messy, paradoxical, and full of randomness. Banyak hal yang tidak dapat terjelaskan dalam bentuk narasi (re: narrative fallacy, fooled by randomness), apalagi kalau urusannya dengan pengalaman pribadi (re: survivorship bias, Anna Karenina principle). Tentu saja, tidak bakal ada buku yang bisa menjelaskan semua hal di dunia ini alias the theory of everything. But, for me, the beauty of Menjadi is that for all its useful bits of knowledge and tools for critical thinking, it is ultimately NOT intended as a prescription of how to lead a good life, but rather as a call to action to start/restart our process of being/"menjadi". Ini adalah hasil refleksi penulisnya atas proses "menjadi"-nya, yang bisa jadi sesuai ataupun tidak dengan situasi personal masing-masing pembaca. Akupun jadi merasa terpanggil untuk merespons apa yang sudah ditulis Afu dengan refleksi-refleksiku tentang prosesku sendiri dalam "menjadi."
Profile Image for Lia.
257 reviews1 follower
October 24, 2022
Awal mengenal Kak Afu dari podcast di Inspigo yang membahas Critical Thinking dan podcast lainnya yang membahas tentang krisis iklim yang kemudian membuatku menjadi sangat terkagum-kagum dengan pemikiran Kak Afu. Oleh karena itu, begitu ada info Kak Afu merilis sebuah buku yang membahas hal-hal tsb, tentu saja aku langsung menekan tombol order 🙈

Kesan pertama dari buku ini adalah menarik! Dari mulai sampulnya yang dibuat matte (mungkin untuk menekan cost or else tapi tetap cute!), ilustrasi menarik dan emboss!
Selain itu, isinya juga banyak ilustrasi-ilustrasi dan penuh warna-warni sehingga membuat pembaca tidak cepat bosan ketika membaca buku ini 😍.

Kemudian, pembahasan di dalam buku ini dibagi menjadi 3 bagian.
Bagian A: mengenal diri sendiri, dari mana preferensi atau aspirasi itu berasal + pembahasan tentang critical thinking
Bagian B: membuka jendela pikiran, membahas tentang ekonomi-lingkungan hingga krisis iklim
Bagian C: berisi langkah-langkah konkret untuk membawa keterampilan berpikir yang baru ini ke dunia nyata.

Setelah membaca buku ini, aku mengamini pernyatan Kak Afu yang terdapat di Pendahuluan bahwa hampir mustahil menaruh buku Menjadi ke dalam satu kategori genre tertentu karena buku ini mengandung self improvement, filsafat, sains, ekonomi, memoar, yang menjadi satu.

Tidak ada solusi pasti yang diberikan oleh Kak Afu, tapi Kak Afu mengajak kita para pembaca untuk bersama-sama berfikir kritis dan mencari solusi yang terbaik serta efisien terutama dalam mengatasi permasalahan ekonomi-lingkungan. Setiap kita punya kesempatan untuk bisa membawa perubahan.

Aku sangat menikmati momen ketika membaca buku ini dan banyak pengetahuan baru yang aku dapat dari buku ini. Yang aku suka, Kak Afu menuliskan buku ini dengan sangat baik sehingga meski topik-topik yang dituliskan termasuk "berat", tapi buatku yang pemula dalam membaca buku dengan topik ini masih bisa mencernanya dengan baik.

Setelah ini, aku jadi tertarik untuk menggali lebih dalam tentang critical thinking dan ingin membaca lebih banyak tentang krisis iklim.

Sebagai penutup, buku ini recommended sekali untuk teman-teman semua!
Profile Image for Meiliana Kan.
242 reviews52 followers
December 8, 2022
Andhyta Firselly Utami, atau yang biasa dikenal dengan Afutami, adalah seorang ekonom lingkungan yang saat ini bekerja di World Bank juga orang yang menginisiasi Think Policy. Aku sudah cukup lama mem-follow Kak Afu di instagram dan aku selalu suka dengan cara Kak Afu menjelaskan hal-hal kompleks yang terasa "jauh", terutama dalam kaitannya tentang krisis iklim dan ekonomi lingkungan yang memang menjadi spesialisasinya, dengan kalimat yang "membumi" sehingga orang-orang yang awam seperti aku bisa dengan mudah menangkap isu yang penting itu. Dan menurutku buku Menjadi, yang terbagi menjadi 3 bagian besar, adalah cara lain Kak Afu untuk menggaungkan isu-isu penting yang terasa "jauh" itu sekaligus wadah untuk menuangkan suara-suara di dalam kepalanya.

Bagian A: Umbi, Serambi, Bahari

Di bagian ini, aku diajak untuk mengenal lebih dalam setiap lapisan dalam diri yang ku miliki serta melihat kembali peran-peran yang melekat dalam diriku. Bagian ini adalah bagian yang terasa paling dekat buatku karena aku pun sering mengalami keresahan dan kebingungan (atau istilah dalam buku ini adalah disonansi kognitif) yang juga sempat di alami Kak Afu. Kadangkala peran atau label yang melekat pada diriku bisa terasa sangat membebani dan membuatku overwhelmed dengan segala ekspektasi yang termuat di dalamnya dan kurasa banyak pembaca lain yang juga akan merasa relate dengan bagian ini. Tentu saja tidak ada orang yang sempurna dan tidak ada orang yang harus sempurna dan penting bagi kita untuk mengetahui cara untuk mengemban peran atau label itu dalam ketidaksempurnaan yang kita miliki dan menemukan esensi dari "menjadi" dalam ketidaksempurnaan itu.

"Pemahaman baru terhadap "diri" sebagai kumpulan proses, pengalaman, label, identitas, maupun peran-peran tersebut bisa sangat memerdekakan. Mereka semua adalah aku, tapi untuk bisa Menjadi dan berpikir dengan jernih, aku mengizinkan diriku untuk memulai dari "diri" di lapisan terdalam dan melepaskan tanggung jawab yang bersifat membebani atau harapan-harapan yang datang dari lapisan-lapisan tambahan."

Di bagian A ini, Kak Afu juga menyuguhkan beberapa teknik yang bisa menjadi alat kita untuk berpikir lebih kritis terhadap hal-hal yang terjadi di sekitar kita dan tentu bisa menjadi alat untuk membuka lapisan-lapisan diri kita. Tapi, apakah setelah kita menguasai kemampuan berpikir kritis maka kita akan menjadi orang yang gemar mengkritik setiap hal? Kak Afu menjelaskan bahwa berpikir kritis itu tidak berbahaya seperti yang orang lain kira.

Bagian B: Membuka Jendela Pikiran

Setelah kita bisa mengenal diri dengan lebih baik, langkah selanjutnya adalah memetakan hal-hal yang ada di sekitar kita dan juga menyadari bahwa dunia ini jauh lebih luas dari yang kita kira. Bagian B ini adalah bagian yang menurutku paling menarik sekaligus paling "daging" isinya. Di bagian ini Kak Afu berbicara tentang privilese, nasionalisme, serta ekonomi dan lingkungan yang berhubungan erat dengan pengalaman hidupnya sejak kecil. Di bagian ini, Kak Afu juga menyinggung tentang gap yang jauh sekali antara orang kaya dan orang miskin di Indonesia.

Bagian B juga menjadi bagian yang paling membuatku merenung lama. Aku jadi kembali merenungi fungsiku sebagai seorang individu juga sebagai warga negara. Aku juga mau ambil bagian untuk meminimalisir masalah-masalah yang kompleks itu tapi bagaimana caranya?

Bagian C: Bergerak dengan Kaki

Bagian C ini cukup menjawab pertanyaan yang timbul saat aku membaca bagian B, karena di bagian C ini Kak Afu berbicara tentang bagaimana kita bisa bergerak dan mengeksekusi hal-hal yang kita rasa penting agar hal itu bisa memberi dampak, tidak hanya untuk kita sendiri tapi juga untuk banyak orang dan lebih baik lagi untuk membuat negeri ini lebih baik lagi.

"Dunia di sekitar kita dibentuk oleh keputusan-keputusan yang lahir dari pemikiran atau persepsi terhadap dunia dari mereka yang berpartisipasi. Ketika kita menolak untuk ikut urun dalam membentuk dunia nyata, kita sedang membiarkan orang lain yang berpartisipasi untuk membentuknya. Mungkin tidak akan selalu jadi masalah kalau orang lain itu punya penilaian yang benar dan kemudian melahirkan tindakan yang benar. Tapi lebih sering mereka yang memimpin, berdiri di depan semata-mata mengedepankan kepentingan pribadi, atau terlalu percaya diri, serta alasan-alasan lain yang bermasalah. Tapi apa artinya berusaha mengubah? Apa yang harus diubah dan ke arah mana? Lewat jalur mana? Bagaimana dengan hal-hal yang tidak jelas-jelas benar dan tidak jelas-jelas salah. Apakah yang abu-abu juga perlu diubah?"

Tanggal 5 November lalu, aku berkesempatan untuk mengikuti peluncuran buku Menjadi ini yang dihadiri oleh Kak Afu (tentu saja!) dan teman-teman Kak Afu yang membagikan cerita mereka yang beresonansi dengan setiap bagian dalam buku Menjadi. Pengalaman itu adalah pengalaman yang sangat membuatku merasakan banyak sekali emosi menyenangkan secara bersamaan. Ada rasa kagum yang timbul setiap kali mendengar pemikiran-pemikiran dari teman-teman Kak Afu yang sebelumnya bahkan tak ku ketahui siapa mereka, ada rasa haru dan juga rasa syukur karena menjadi salah satu orang yang bisa duduk dan menyaksikan secara langsung acara bincang-bincang santai yang isinya "daging" semua itu.

Di acara itu, Kak Afu menceritakan alasan ia menulis buku Menjadi yang berangkat dari suatu keresahan dalam dirinya karena ia merasa banyak sekali buku-buku di luar sana yang mengharuskan kita untuk menjadi sesuatu. Harus jadi kaya, harus punya ini di umur segini, harus mencapai itu di umur segitu. Dan di dalam diri sendiri pun ada dorongan untuk harus begini harus begitu untuk mengikuti ekspektasi dari luar sana. Padahal sebenarnya di dunia ini tidak ada yang harus. Apa pun boleh kita lakukan yang penting kita tahu konsekuensi dari apa yang kita lakukan. Kak Afu juga mengatakan bahwa proses berubah pikiran itu boleh. Karena tidak mungkin orang bisa tahu sesuatu yang benar sejak awal dan tidak ada proses berubah pikiran di dalam prosesnya bertumbuh. Singkatnya, buku Menjadi adalah buku yang bisa menjadi alat bantu kita untuk mengenal diri kita lebih dalam dan berproses sampai akhirnya kita "menjadi", meski kurasa "menjadi" itu sendiri bukan sebuah titik akhir dari perjalanan kita berproses.

Ada sebuah quote yang bilang "never meet your heroes" yang bisa diganti dengan "never meet your idol/bias/etc" yang seolah menjadi peringatan bahwa hal-hal yang kita lihat hanyalah tampilan yang luar dari orang yang kita idolakan yang membuat kita memiliki ekspektasi yang tinggi tapi begitu bertemu kita bisa kaget sendiri dengan kekurangan dari orang-orang tersebut yang tidak pernah mereka tampakan. Tapi rasanya pengalamanku bertemu Kak Afu secara langsung menangkis kata-kata itu. Kak Afu sendiri adalah seorang figure yang secara terang-terangan menunjukkan diri secara apa adanya lewat media sosial atau lewat tulisan-tulisannya di blog. Kak Afu bercerita banyak tentang pencapaiannya juga bercerita banyak tentang rasa sedih dan lukanya. Hal itu pun terkonfirmasi saat aku bertemu secara langsung dengan Kak Afu. Alih-alih merasa kecewa, aku malah semakin kagum dengan sosok Afutami ini, terutama dengan caranya menyuarakan apa yang ingin ia sampaikan dan caranya memperlakukan keluarga, teman-teman, dan juga orang-orang di sekitarnya.

Sebagai penutup, aku ingin mengatakan bahwa aku bukanlah orang yang ambisius, bahkan aku merasa kalau ambisiku minus dan seringkali aku merasa bersalah karena hal itu. Di salah satu IG live nya Kak Afu aku pernah bertanya, "apakah tidak memiliki ambisi itu salah?" Dan jawaban Kak Afu kurang lebih sama seperti apa yang membuatnya tergerak menulis buku Menjadi. "Di dunia ini tidak ada yang "harus". Punya ambisi pun bukan suatu keharusan dan ambisi itu sendiri tidak melulu harus hal-hal besar. Bisa saja punya ambisi untuk berbuat baik, punya ambisi untuk menjadi seorang ibu, atau lain-lain."

Membaca buku Menjadi dan mengikuti peluncuran bukunya secara langsung menjadi sebuah pengalaman yang sedikit banyak membuatku punya ambisi untuk terus belajar mengupas lapisan-lapisan diri, dan melihat dunia dengan lebih kritis tanpa lupa berempati, juga membuatku berambisi untuk lebih banyak lagi melakukan hal-hal baik. Terima kasih Kak Afu telah menulis dan menerbitkan buku ini ✨️✨️

p.s. Aku tidak yakin apakah review ini cukup jelas menggambarkan isi bukunya (karena kesannya seperti aku hanya menumpahkan kekagumanku saja, jadi maaf ya kalau review kali ini lebih subjektif dari review-reviewku biasanya 🤣🤣
Profile Image for Savira Qurrata.
28 reviews
February 10, 2023
Disclaimer: ini perspektif gue sebagai awam tentang topik yang diangkat buku-nya ya ✌🏼 I follow Afu in social medias tapi bukan yang ngikutin konten ybs secara in-depth but I am genuinely interested to her book.

✨ Seni membangun kesadaran tentang diri dan sekitar

Bukunya mengupas hal-hal fundamental terkait cara berpikir dan cara mempertanyakan ragam hal dengan menawarkan konsep-konsep baru (buat gue) yang cukup eye-opening dan intriguing. Gue juga jadi lebih tahu hal-hal yang selama ini cuma pernah denger atau tahu sekilas. Menurut gue bukunya bukan menawarkan jawaban utuh tapi jadi bikin makin banyak bertanya dan makin pengen ngulik, which is a good thing! Gue masukin beberapa buku referensi yang dipake ke Goodreads gue dan ngebookmark beberapa link referensi untuk dibaca next time.

Di sisi lain (sharing this to set expectation of potential readers), bagi gue bukunya tidak ringan dan tidak pula menghibur yang sampe gue ada momen ketawa or mengulum senyum. Ada beberapa pilihan kata yang bikin gue 'Wait brb cek KBBI' seperti eskapisme, inheren, paradoks, paradigma, internalisasi dll. However, it is still an important book to read. Gue merasa ini perasaan yang mirip pas gue tahun lalu ngide Satu Kuartal Satu Sastra Lokal. Reading Bumi Manusia and Ronggeng Dukuh Paruk wasn't the most pleasant experience but I think it was important and I learned a lot from these books. Nah kurang lebih gitu deh.

Karena konsep yang dikenalkan dan dibahas banyak gue juga melihat ada tendensi bakal bikin overwhelming. Gue pribadi juga ada kok momen yang 'hah masih ga ngerti maksudnya apose'. Terus gimana? I let it go, I move on from the chapter/sub-chapter, and continue to read what sparks interest in me, AND THAT IS FINE. Gue mencuri filosofi ini dari Mark Ronson 'the point of reading is to serve you, not for you to serve the book'. Highly recommend to check his Youtube video: How to Read Faster.

Gue juga apresiasi beberapa details di bukunya seperti ilustrasi untuk mendukung ide yang dijelasin, aktivitas yang bisa dikerjain buat 'latihan', QR buat baca referensi yang dikutip, dan upaya Afu buat 'mengikat' argumennya di beberapa bagian buku dengan ngerefer ke chapter tertentu yang di rasa relevan sehingga pembaca bisa revisit agar bisa lebih ngerti.

All in all it is a book I recommend my younger sisters to read as I believe it will equip them with mindset and skill to help them make better decisions for their life and I think the book may ignite the fire in you to do something matter for you right after you finish the books.

Setelah baca buku ini gue jadi refleksi ulang tentang pengalaman gue sejauh ini dan bagaimana gue ingin menavigasi 2023 yang sepertinya akan jadi salah satu tahun terpenting di hidup gue (ambil master, career break setahun penuh, dan hidup di negeri orang) dan tentunya pengen belajar lagi. Oh ya banyak framework yang ditawarkan juga sangat ingin gue ulik dan pake untuk keperluan pribadi.

Thank you Afu for writing Menjadi. I am one of many who's touched by the book.

Profile Image for Agoes.
512 reviews37 followers
December 30, 2022
Picked up this book as my final book to read in 2022. Saw some posts here and there on social media, so I decided to give it a try. Went reading with no expectations and after finishing it, I am convinced that "Menjadi" is definitely a better book than the ones written by young-and-educated high-profile people (e.g. Iman Usman, Jerome Polin, etc).

The author definitely reads. And she also seems to write her own stuff. I guess this is the biggest differentiator because most of the books on Gramedia are written by ghostwriters (I know some people who create the persona of "smart" don't actually write anything themselves and even rarely read books).

So, what's this book about?
It's a book of reflection on how she becomes the current version of herself, divided into three parts.

The first part, as an introduction, felt a bit tedious. Too much psych theory and less about her. It is basically a self-help section, with summaries from various thinkers. We can get this from other books or even from Twitter threads.

But the second part - this is where the author really shines.

It is engaging. Felt like it really was written from the heart. You can feel it in the word she chose. In this part, she describes the dialectical journey she had from her time as a student up until she met with people from various fields. It was a treat, such a great journey.

Nationalism. Economics. Environment. All are important topics --- highlighted in such a way that makes the reader feel enticed to learn more about them.

The third part is much shorter. It gives some kind of small direction on where to go after we absorb all of this information. How do you drive change? How do you prepare for it? Since she is also still in the process of "Menjadi", it makes sense that this part is still under development.

In terms of pricing, this book is a bit pricey (138k IDR for less than 250 pages). This seems to be because of the materials used in the book (all three sections used different colors for the margins) and the illustrations are also in color. It's beautiful. But this book doesn't really need the colors. The contents are already good. If the publisher wants to reach a wider audience, they can consider printing a black-and-white version at a more affordable price.

Btw. "Menjadi" means "Becoming" (Michelle Obama's book) in English. Not sure if this is intentional or not.
Profile Image for cozyreading.
50 reviews11 followers
January 28, 2023
topik yang dibahas dalam buku ini sangat luas, dan penyampaian mba afutami di beberapa bagian cukup teoretis, jadi aku agak struggle buat memahami pembahasan2 yang cukup berat. jadi maybe someday aku bakal baca ulang lagi buku ini buat belajar lebih memahami lagi apa yang sebelumnya aku belum faham.

tapi buku ini bener2 worth to read. pengembangan diri level lanjut deh ini mah.. bab favorit aku adalah pembahasan tentang privilese dan ketimpangan, juga bab tentang mengenali jalan buntu. it’s mean a lot for me. thankyou mba afu!🌸✨
Profile Image for syarif.
296 reviews63 followers
January 17, 2023
“Kemampuan berpikir kritis adalah kemerdekaan untuk berpikir sendiri”

Kalian suka penasaran gak sih gimana cara pikir orang-orang yang kritis? 🤔terutama merespon perubahan yang ada di sekitar? 🌞 atau sesimpel kenapa ya orang-orang pada bisa dan berani melemparkan pertanyaan mind opening di kelas? ✍️👀

Bacaan ini adalah salah satu tool untuk membuka jalan ke arah sana🦉🪄 berisi kumpulan proses diri yang disajikan secara sistematis dari cara melatih kemampuan berpikir kritis, memilah masalah, mengembalikan fokus, hingga sampai ke tahap pengambilan keputusan secara tepat.

Isi buku ini sangat komprehensif 👏 dengan call-to-action yang interaktif 🙋‍♂️, sitasi 💁‍♂️, dan rangkuman tiap bab 🙆‍♂️ colourful pula 🧸 diperkaya lagi dengan cuplikan perjalanan hidup ka afu dengan background pendidikan serta sepak terjang karirnya yang tidak main-main tentunya!!. Daging semua 🥩 namun tidak sampai bikin pusing dalam melahapnya (salut🎉 karna gak semua org jenius bisa menyampaikan sesuatu yang ’berbobot’ dengan ringan). Buku ini aku nobatkan sebagai penghuni wajib meja kantorku 👨‍💻❣️ in case perlu asupan ambisius 🤓📈📈📈.
Profile Image for Khalisha.
48 reviews
June 10, 2025
Sebenarnya buku ini menceritakan tentang perjalanan "Menjadi" milik Kak Afu, tapi tapi jugaa bisa jadi teman di proses "Menjadi" milik para pembaca!

Dua bagian buku ini yang paling kusuka "kyk merk makanan yh" yaituu di bagian yang menjelaskan kalau selama proses "Menjadi" kita akan terus berdialektika dann di bagian yang menjelaskan tentang previlese, bikin jadi sadar dan bersyukur atas privilege apa aja yang telah dimiliki.

Kak Afu juga naro refrensi-refrensi di catatan kaki atau pakai kode qr jadi pembaca bisa dengan mudah mengakses informasi yang lebih valid *teori penemuan informasi David Ellis
Profile Image for Deago.
250 reviews21 followers
June 1, 2023
tak hanya bercerita tentang perjalanan hidupnya,
afu juga menguraikan filosofi hidup dan dasar pemikirannya lewat penulis dan peneliti besar seperti Daniel Kahneman, Jonathan Haidt, Hegel, Kate Raworth, Ronald Heifetz dan Marshall Ganz.

Dinarasikan dalam kalimat sederhana dan penuh harapan. I hope I could respect my mind as much as afu did and make a meaningful contribution.

Berikut beberapa kutipan yang cukup berkesan bagiku:

"Kemampuan berpikir kritis adalah kemerdekaan untuk berpikir sendiri.
Keleluasaan untuk mengumpulkan informasi secara utuh, memprosesnya secara terstruktur, sehingga kita dapat membuat keputusan terbaik atau mencari solusi yang paling efektif.

Dengan berpikir kritis, kita sedang mengembangkan kesadaran atas "diri". Ketika memproses input dari luar, menggunakan sistem 2 berarti kita memahami apa yanng menyusun sistem 1 kita. Pada level yang lebih dalam lagi, menggunakan sistem 2 artinya memahami sistem 1 lawan bicara kita. Jadi, kurang tepat apabila berpikir kritis diasosiasikan dengan mereka yang sekedar anti terhadap ide-ide.

Kemampuan berpikir kritis termasuk kemampuan berempati, mengomunikasikan kesimpulan, keputusan, atau tindakan yang diambil tersebut dengan framing yang dapat diterima."



"yang berbahaya adalah ketika kita menginternalisasi label dan ekspektasi sedemikian rupa, sampai merasa ada batasan dalam bagaimana kita harus bertindak atau merespon suatu kejadian, tanpa berpikir ulang tentang dari mana impuls respons itu berasal.
Membebaskan diri dari label dan ekspektasi berarti memiliki keleluasaan untuk mengambil cukup waktu dan melihat pilihan respons lain."


"Poin dari berpikir adalah untuk kemudian menggunakan pemikiran tersebut dengan cara-cara yang membawa kebermanfaatan: mengubah yang belum baik.
Dunia di sekitar kita dibentuk oleh keputusan-keputusan yang lahir dari pemikiran, atau presepsi terhadap dunia, dari mereka yang berpartisipasi. Ketika kita menolak untuk ikut turun dalam membentuk dunia nyata, kita sedang membiarkan orang lain yang berpartisipasi untuk membentuknya."



Profile Image for ichi.
61 reviews1 follower
April 5, 2023
Buku yang isinya sangat padat sampai kadang saya sulit membedakan antara bagian mana yang ditujukan bagi para beginners dan bagian mana yang ditujukan bagi para experts. Saya suka buku ini, tentu banyak ilmu baru yang didapat dan menciptakan "oh, iya juga" serta "saya bisa mengadaptasi pola pikir ini" moment, akan tetapi membacanya seperti berjalan di gang kecil yang kurang familiar sehingga sulit mengingat arah mana yang harus saya tempuh ketika ingin kembali ke bagian yang menarik. Bagi orang awam, ini bukan jenis buku yang nyaman untuk dibaca, sebab jelas-jelas Afu mengajak kita untuk menelusuri pemikirannya yang belum semua orang bisa relate terhadapnya. Mungkin sementara ini, yang penting saya tahu kemana harus mencari jawaban ketika suatu saat membutuhkannya.

Ide-ide serta perspektif yang dibawakan Afu cukup unik dan menarik, tetapi bikin otak tergelitik (maksudnya terengah-engah karena capek mikir: but I guess that's the point of Menjadi).

Yang saya suka dari buku ini adalah pemaparan berbagai kerangka berpikir (baik yang sudah pernah saya pelajari sampai yang baru sekali saya dengar namanya) terasa pas, terarah dan tidak berlebihan. Tentunya saya sangat mengapresiasi ilustrasi yang ditambahkan secara ciamik di sepanjang buku, konsisten dari awal sampai akhir. Oh, juga berbagai referensi yang dicantumkan sehingga pembaca dapat melakukan eksplorasi sendiri terhadap apa yang mereka butuhkan.

Bagi yang ingin membaca buku ini, saya sarankan siapkan kertas dan pena (untuk mencatat) atau highlighter dan page markers (untuk menandai bagian yang penting). Personally saya memberikan 3.5 bintang untuk buku ini, jadi mari bulatkan ke 4 bintang. Selamat menyelami pemikiran dan dunia Kak Afu!
Profile Image for Latifah Rizky.
116 reviews11 followers
March 10, 2023
Memulai tahun dengan menyelesaikan Menjadi oleh Afutami adalah pilihan yang tepat. Beberapa kali aku berhenti dan termenung, beberapa kali meneteskan air mata—perasaan campur aduk dengan kata-kata penulis yg mampu menemukan beberapa gagasan yg terlalu sulit diungkapkan dan hanya mengendap di kepalaku. Terutama dengan penjelasan logis dan pendekatan yang beragam.

Buku ini adalah nonfiksi multidimensional yang mencakup berbagai bahasan seperti filsafat, sains, psikologi, memoar, dan self-improvement sekaligus. Dimulai dengan mengupas “bawang” diri, melebarkan perspektif, membuka jendela pikiran, dan mengubah arah perjalanan.

Kini, aku merasa, sudah tidak ada alasan lagi untuk tidak membaca buku soal cara berpikir dan memaknai hidup karena terhalang “bahasa”. Menurutku, buku ini menjadi salah satu wajib baca bagi semua yang ingin menemukan diri dan menjadi lebih baik, terutama buat young readers. Kupikir aku akan menjadikan buku ini bacaan wajib untuk memulai tahun mulai sekarang. Aku nggak bisa memikirkan buku soal berpikir lain yang semudah ini dimengerti (sependek pengetahuanku). Selamat membaca!
Profile Image for Rendy Bambang Junior.
32 reviews
May 26, 2025
Jujur saya membeli buku Menjadi karena kagum dengan sosok Afutami dan dampak sosialnya. Setelah membaca bab awal buku ini, saya merasa bahasanya cukup sulit untuk dipahami banyak orang.

Namun ada yang menarik. A (nice) surprise karena buku ini bukan masuk kategori biografi ataupun self-help. Buku ini semacam kombinasi rasa yang unik yang belum saya dapatkan sebelumnya.

Masuk ke bab berikutnya, saya merasa semakin bisa relate dengan apa yang dialami oleh penulis. Saya punya keresahan yang tinggi tentang lingkungan sejak saya SMA, namun bedanya keresahan saya belum dikonversi menjadi aksi ataupun dampak apapun.

Terima kasih atas bukunya yang memberikan saya kerangka berpikir, membawa saya ke dalam perjalanan hidupmu sambil melakukan refleks, apa yang bisa saya lakukan ke depannya.

Catatan:
- Masalah: teknis vs adaptif, adaptif yg perlu merubah perspektif orang sehingga sulit
- Setiap orang sedang dalam proses pendewasaannya masing2
- Konservatif vs liberal hanya beda di bobot apa yang menurut mereka penting (fondasi moral), eg apakah otoritas penting
- Storytelling terdiri dari: ethos (speaker credibility, trust), pathos (listener emotion, values), logos (content, logic)
- Tidak bisa bandingkan dengan orang lain karena tidak fair, ada ketimpangan struktural
- 45% kekayaan Indonesia di 1% orang, dan 1% kekayakaan Indonesia ada di 40% orang termiskin
- Storytelling lagi: cerita sendiri, disambungkan dengan isu, digeneralisasi jadi cerita "kita"
Profile Image for Lulu Khodijah.
437 reviews10 followers
August 6, 2024
Lumayan berat yah 👀

Dimulai dari memikirkan ulang siapa diri ini, terlepas dari berbagai peran dan label yg menempel. Kemudian lihat sekeliling, ada masalah apa? Penyebabnya apa?
Penyelesaiannya gmn?

Semacam cheat sheet kali ya agar selalu memanfaatkan otak kita untuk berpikir, yg ujungnya bs membawa kemanfaatan.

Banyak menyinggung ttg kebijakan publik, isu2
ekonomi&lingkungan. Istilah yg baru dan tidak familiar tp lumayan menambah wawasan 👌
Profile Image for Rien.
50 reviews5 followers
February 10, 2023
Untuk ukuran buku yang bobotnya cukup berat dari segi konten, Kak Afu menyajikannya dengan bahasa yang ramah dan mudah.

Menjadi nggak mengambil jalur mainstream buku self-development pada umumnya yang kadang terkesan preaching atau kadang terlalu megeneralisir.

Dalam buku Menjadi, Kak Afu terasa seperti teman pembaca dalam mengenali diri lewat kisah dan pengalamannya sendiri.

Mulai dari pembahasan kesadaran berpikir, mengambil peran, dan memulai aksi, alih-alih mendikte pembaca dengan what to do atau how to do, Kak Afu menawarkan kerangka berpikir yang aplikatif, seakan-akan membantu mengurai benang-benang kusut di kepala kita terkait diri dan keberperanan.

Sesuai judulnya, buku 'Menjadi' terasa tepat sasaran untuk membantu perjalanan setiap pembaca dalam mengenal, menemukan, dan 'Menjadi' diri yang harapannya akan terus berproses.
6 reviews
November 12, 2022
Menjadi. (Afutami; p. 214)
⭐ 8/10

The reason why I read this book in the first place was because the author is advocating climate crisis, a crisis that is not treated as a crisis.

Then I realized that I couldn't not read page after page.

I personally have my own issue regarding fulfillment in my own life; am I happy enough?; do I feel fulfilled and content?; what is my purpose?; isn't it silly to still question my life at this age?; etc.. and voila! This book exposes me on how it is normal to have different pace with other people, comparing myself to others is useless and unnecessary, and how to see the power in me by recognizing my current asset.

After all, there is still a void within but at least I know that it's normal.. It is normal to have the feeling of being unfulfilled and good that I want a change.

The following are things I take randomly from this book for my personal interests:
1. That I can use the asset-based approach to remind myself that I'm already enough and have a potential to give and help myself and community.
2. That I need to find a community that has the same resonance on making a more efficient change (re: climate crisis) in this little role and capacity of mine.
3. That I can resume my hobbies as activities that help me to take shelter after all energy is used.
4. That being myself who likes to grow positively and progressively is good and that's the "self" that is identified as my anchor. And that rejection and/or failure are normal to happen in life and can literally help me grow up positively and progressively.
5. That I can't stop figuring out what's the best life choices I have to make and trying to make it happen for the common good.

All in all, I'm not good at finding the appropriate criticism in this book, more because I have lack of knowledge for many issues it presents, but did enjoy it. But I can assure myself that at some points I'll come back to this book and the author's platforms to be exposed to her thoughts and community.
Profile Image for Nabila Idzni Bayani.
6 reviews1 follower
January 24, 2023
Ketika membaca bab-bab awal buku Menjadi, aku banyak bertanya apakah buku ini cocok untuk menjadi sebuah memoar atau self-help? Namun setengah jalan aku yakin bahwa buku ini merupakan kolaborasi antar keduanya, yang mana jauh lebih masuk akal ketika membaca catatan penulis tentang ‘expert generalist’.

Dalam perjalanannya membaca buku Menjadi, aku merasa seperti diawang-awang antara cerita personal dan ‘how to’ praktis. Ada beberapa subbab yang aku sangat suka, seperti ketika berbicara tentang ‘berempati’ (yang mungkin alasannya juga subjektif), yang menurutku masih kurang sentuhan cerita penulis. Mungkin akan menjadi lebih menarik untuk melihat proses penulis memproses keraguannya, kegundahannya, bagaimana ia memproses ke-menjadi-annya. Mungkin ini juga bersifat subjektif, namun buku ini kurang bisa membentuk sebuah pertanyaaan reflektif, untuk pengalaman membacaku.

Namun, terlebih dari itu, Menjadi menyediakan buku yang mudah ditelan untuk khalayak luas, yang mengingatkanku kepada buku paket pelajaran sekolah, dan dimanjakan dengan figur-figur grafis yang membantu pembaca dalam mengimajinasikan teori-teori yang disuguhkan. Menurutku buku ini lebih cocok menjadi buku ‘101 dalam seni berpikir’ sehingga buku ini bukanlah jadi buku akhir, melainkan buku awal dalam perjalanan pembaca membaca lebih banyak lagi. Aku juga sangat berterima kasih atas banyaknya referensi-referensi bacaan berikutnya yang tertera di buku ini, banyak yang secara personal aku tandai untuk nantinya kubaca lebih lanjut.

Setelah membaca buku ini, seperti ada titik terang pada dunia literasi Indonesia, di tengah angka literasi Indonesia yang cukup rendah. Bisa jadi model buku yang seperti inilah yang ternyata jauh lebih cocok dan berdampak untuk masyarakat Indonesia. Sehingga kuharap lebih banyak lagi yang dapat membaca buku ini, terutama anak-anak muda, sebagaimana aku mengharapkan aku di masa SMA-kuliah dapat mendapatkan kemewahan untuk membaca buku ini.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Juni Rahamnita.
22 reviews53 followers
November 14, 2022
Membaca buku ini seperti membaca buku kumpulan rumus atau rangkuman rumus-rumus yang kita sering temui ketika duduk di bangku sekolah. Afu meracik dan menyajikan banyak teori dan framework dari berbagai sumber yang selama ini (sepertinya) sudah bercokol lama di kepalanya.

Aku suka bagaimana Afu mengatur alur sistematika berpikirnya di dalam buku ini(ah, aku juga ingin memberi credit juga ke editor yang juga berjasa dalam penyusunan buku ini). Benar jika Afu mengupas satu persatu lapisan di kepalanya seperti bawang. Tapi dengan cara yang terbalik. Yang menurutku menarik adalah karena Afu mengupasnya dari dalam. Jika bawang dikupas dari luar ke dalam, buku ini mengupas dari dalam ke luar. Mengenali diri, mundur satu langkah untuk mengenali diri dan lingkungan, mundur lagi untuk melihat lebih luas dunia yang ada di sekitar kita, lalu melangkah.

Namun sayang, ada beberapa hal yang kurang berkaitan denganku. Afu membahas dunianya yang berkutat di sektor ekonomi-lingkungan. Sedangkan duniaku adalah pendidikan, teknologi, seni, dan budaya. Sehingga ini membuat aku berpikir + belajar untuk memahami eko-ling sambil berusaha mengaplikasikan framework(rumus) ke sektor yang aku minati. Oh tentu saja hal ini tidak mengurangi nilai dari buku ini.

Menyenangkan sekali bisa membaca isi kepala seseorang yang begitu kompleks, bercabang, dan multitopik yang disampaikan dengan cara yang komperhensif dan sistematis.
Profile Image for ALVI.
2 reviews
January 28, 2023
Sangat senang rasanya membuka tahun 2023 dengan sebuah buku yang menurutku bisa dibilang cukup berat, bisa kita lihat dari judulnya : "Menjadi, Seni membangun kesadaran tentang diri dan sekitar", dan terlebih lagi juga karena nyatanya buku ini melengkapi rak buku gramedia kategori social science. Namun meski begitu, di lain sisi buku ini juga ringan untuk dihabiskan dalam waktu kurang dari satu bulan, hal seperti ini tentu saja tidak terlepas dari kejeniusan sang penulis; kak Afu, sehingga buku yang sangat gado-gado nan kompleks ini begitu menyenangkan untuk dibaca. Hats off untuk kak Afu, untuk kerendahan hatinya mau berbagi pengalaman, sudut pandang, buah pikir, dan ilmu yang sangat mahal kepada para pembacanya. Oh ya, tidak lupa juga aku ingin mengapresiasi kak Satwika Kresna sang illustrator yang menyempurnakan kecantikan luar dalam buku ini sekaligus membantu pembaca awam (khususnya seperti aku) untuk lebih mudah memahami beberapa bagian yang "berat" dalam buku Menjadi ini.

Buku ini terdiri dari 224 halaman yang dibagi menjadi lima bagian, yaitu : Prolog, Bagian A : Umbi, Serambi, Bahari, Bagian B: Membuka Jendela Pikiran, Bagian C : Bergerak dengan Kaki, dan terakhir Epilog. Lalu apa saja yang aku suka dari buku ini,dan apa yang aku dapat serta pelajari dari kelima bagian tadi ?

Pertama, yang aku suka dari buku ini (yang juga sudah aku sebut di atas) adalah desain yang sangat cantik dengan warna pastel yangmana cukup kontras dengan tema utama buku, banyak disajikan illustrasi dan grafis yang membantu lebih memahami pembahasan yang beberapa cukup teoritis. Selanjutnya aku juga sangat suka dengan pendekatan sudut pandang personal dan based on pengalaman sang penulis langsung sehingga selama membaca rasanya seperti berdiskusi langsung dengan kak Afu.

Kedua, yang aku dapat dan pelajari dari buku ini antara lain :
1. Bagian A : Umbi, Serambi, Bahari : a. bahwa setiap manusia melewati proses dan tahapan pendewasaan yang sama, namun di jalur waktu yang berbeda-beda (konsep lima tahap pendewasaan Kegan) maka yang terpenting adalah dapat melihat ke dalam diri kita sendiri dan membangun empati terhadap orang lain, sehingga kita tidak cepat menjustifikasi seseorang. b. belajar untuk melihat suatu permasalahan dan menemukan solusinya memang tidak mudah, kita harus berlatih berpikir terstruktur untuk mencari tahu akar permasalahan (salah satunya dengan konsep fishbone #ternayatinikonsepgakcumabuatskripsianhehe) dan tidak terburu-buru dan mudah terprovokasi atas suatu permasalahan.

2. Bagian B : Membuka Jendela Pikiran : a. pada bagian ini aku bertemu dengan satu istilah baru yaitu NFC (Need for Cognitive Closure), bertemu dengan istilah ini aku membangun ulang pengertian tentang "pemikiran terbuka", dan yang aku dapati tertulis seperti ini " ....seseorang dengan pemikiran terbuka memiliki motivasi yang lebih tinggi untuk mencari dan memproses informasi baru, termasuk dalam mengkonstruksi penjelasan-penjelasan alternatif", dan fakta bahwa orang progresif tidak pasti yang berpikiran terbuka dan sebaliknya.b. aku juga belajar memahami tentang privilese lebih jauh, aku diajak berpikir dan berefleksi dan voila ternyata aku cukup ber-privilese dan aku seharusnya lebih bersyukur atas itu. Ada satu paragraf yang aku suka dari subbab privilese ini, yaitu " Let's set one thing straight here : privilese bukan lawan kata dari kerja keras. Seseorang bisa memiliki privilese sekaligus bekerja keras sepanjang hidupnya. Dalam hal ini, keduanya tidak bersifat zero-sum, tapi lebih pada perkalian, di mana lebih besar anka salah satu atau keduanya, semakin besar juga hasil akhirnya." c. di bab ini, juga dibahas jauh mengenai ketimpangan, kesetaraan (equality), dan keadilan (equity), dan kaitannya dengan kebijakan publik. Ada banyak sekali bagian yang aku garis bawahi di subbab ini, tapi mungkin dua kata kunci ini cukup mewakilkan : 1. memahami kebutuhan kebutuhan yang berbeda-beda; 2. memahami rintangan yang menghalangi, dengan pemahaman atas dua kata kunci ini mungkin kebijakan publik yang hadir lebih baik. Dalam bagian ini juga membahas tentang permasalahan yang cukup kritis seperti isu nasionalisme juga isu lingkungan.

3. Bagian C : Bergerak dengan Kaki : setelah pada bagain A kita diajak untuk mengenali ke dalam diri sendiri. lalu pada bagian B kita diajak untuk mengenali sekitar, maka pada bagian C kita diajak untuk "mengambil peran" sekecil apapun peran tersebut dan bagaimana kiat-kiatnya. Pada bagian ini pula aku diajak untuk merefleksinya apa yang disebut dengan growth mindset dan asset-based-approach, yaitu berfokus pada apa yang sudah aku punya saat ini, contoh sederhanaya adalah dengan analogi gelas yang terisi separuh, apakah kita melihatnya sebagai gelas setangah kosong atau gelas setengah berisi. Intinya, di bab terakhir mengajak kita untuk menemukan diri kita yang mungkin selama ini sempat hilang untuk "Menjadi" kembali.


Akhir kata, di luar dari semua aspek yang aku suka (kelebihan dari buku ini) di atas, yang namanya ciptaan apalagi ciptaan manusia pasti ada bagian yang kurang, menurutku pribadi dari buku ini sangat banyak istilah-istilah asing yang baru aku tahu sehingga mengahruskan membaca dua-tiga kali agar lebih paham tentang maksdunya. Selain itu, ada juga bagian yang tidak terlihat dari buku ini yang membuat kita para pembaca untuk sama-sama lebih berhati-hati dengan bias subjektifitas yang hadir mengingat bahwa pendekatan yang dipakai adalah based on pengalaman pribadi penulis (memoar). Tapi mungkin di bagian ini juga kita sebagai pembaca dilatih untuk berpikir kritis, untuk belajar memproses informasi tanpa menelannya mentah-mentah, mencari tahu lebih jauh, serta merefleksikan diri sebagaimana tujuan dari penulis sendiri.

Akhir kata, menurutku buku ini berhasil hadir untuk menjadi teman dalam proses "Menjadi" diri yang lebih baik, bukan semata sebuah pedoman mutlak mengenai baik-atau-buruk, buku ini melatih kita untuk menemukan dan memprosesnya sendiri.

Worth to read, hope you read this book too!
Profile Image for Yuniar Ardhist.
146 reviews18 followers
January 16, 2023
Buku yang mungkin lebih cocok untuk dibaca usia pembaca lebih muda dari saya. Bukan, bukan karena saya merasa lebih paham, saya juga belajar beberapa, termasuk bagaimana mendetilkan sesuatu, membuat konstruksi berpikir, adalah dari tulisan Afu di sini.

Hanya, ada beberapa dimensi berpikir yang susah saya detilkan cerita, yang mungkin tidak semudah itu bisa mengarahkan pada cara berpikir dan pengambilan keputusan yang sama dengan penulis.

Buku ini menawarkan salah satu contoh, peta perjalanan seorang Afutami hingga berada di titik ini. Saya juga menyadari bahwa cara dan jalan yang ditempuh seseorang bisa berbeda. Maka, saya meletakkan buku ini sebagai inspirasi.

Terutama kawan-kawan muda, perlu membaca buku ini. Agar mendapatkan dorongan dan getar semangat dari seorang Afu, tokoh pemikir muda yang caranya berpikir dianggap memiliki pengaruh dan perubahan bagi sekitar.
Profile Image for Nur.
9 reviews
August 28, 2023
Satu hal yang sangat pop up buat buku Menjadi ini adalah, betapa personal-nya buku ini bagi penulis. Buku ini bagus, but for me it's too personally dengan kisah Kak Afu yang sedikit banyak punya concern yang berbeda denganku. Tapi bukan berarti nggak ada yang bisa diambil, malah banyak dari pertanyaan-pertanyaan selentinganku yang terjawab secara memuaskan melalui buku ini. Ini beberapa diantaranya.

Q1. Gimana caranya masyarakat Indonesia lebih sejahtera, rantai kemiskinan terputus, status sosioekonomi bisa lebih baik?
Jawabannya adalah dengan sekolah, tapi harus sampai pendidikan tinggi. Dan nggak boleh cuma satu generasi, tapi harus sampai minimal dua generasi. Contoh, ada orang bernama A, ia berasal dari keluarga yang kurang dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Tapi beliau ada kemauan untuk sekolah dari SD hingga lulus S1 tepat waktu dengan beasiswa. Lalu A dapat pekerjaan menjadi PNS dengan gaji yang bisa dibilang lumayan. Si A punya kesadaran untuk menyekolahkan anak dan memberikan 'sedikit' privilege untuk sang anak agar lebih bisa mendapat akses belajar yang lebih baik dibanding A dulu. Oleh karenanya, anak A memiliki skills bagus dan sekolah sampai pendidikan tinggi yang cukup 'prestige'. Anak A lulus dan bekerja di perusahaan start up dengan posisi penting sehingga bisa mendapatkan income yang lebih besar. Intinya (dan secara pragmatis), minimal dua generasi dan insyaallah bisa diubah dengan pendidikan sebagai pondasinya.

Q2. Krisis iklim lagi booming, tapi bukannya isu ini udah dari dulu ya, terus yang bisa masyarakat sipil lakuin apa, apakah ada dampaknya?
Jawaban singkatnya adalah prioritaskan area yang potensi dampaknya tinggi dan berada dalam kontrol kita. Kak Afu membagi dalam tiga level agar lebih praktis.
1. Kurangi jejak karbon sendiri. Misal memilih transportasi publik, mematikan listrik yang tidak terpakai, atau alat elektronik yang hemat energi.
2. Bergerak bersama komunitas. Bantu sebarkan kesadaran tentang isu ini (karena aku juga belum sepenuhnya sadar hehe). Lakukan kegiatan positif dan fundraising secara berkelompok.
3. Desak pemerintah untuk jalankan aksi iklim. Ini aku rasa kurang bisa dilakukan buatku.
Terlihat klise tapi apakah sudah kita coba lakukan?

Q3. Dengan jurusan dan karir yang sudah kita pilih, apakah sudah sesuai perannya, dan apa sudah cukup berdampak?
Secara personal, sebagai dokter yang kurang suka di rumah sakit, aku seringkali berpikir 'Berarti sia-sia ga ya aku sekolah kedokteran kalo ga ketemu pasien?'. Ada juga yang bilang 'Cape-cape sekolah kedokteran tapi ujung-ujungnya di puskesmas'. Tanpa sadar pemikiran ini cukup mempengaruhi keyakinanku buat memilih langkah selanjutnya. Tapi Kak Afu secara logis menjawab kegoyahanku ini dengan 'Memilih Teori Perubahanmu Sendiri'. Singkatnya, kita bisa memilih peran yang berbeda sesuai dengan teori perubahan yang kita percaya. Ada lima langkah dalam mempertimbangkan peran ini:
1. Kita mau bergerak di sektor mana. Pemerintahan kah, bisnis, akademi, atau aktivis kah. Pilih yang sesuai dengan yang kita inginkan atau yang kita percaya paling efektif.
2. Bergerak dalam level apa. Akar rumput, nasional, atau internasional? Karena perubahan bisa dan perlu didorong di berbagai level, pilih yang sesuai dengan hati nurani kita.
3. Berubah dengan cara sentralisasi atau desentralisasi. Sebenarnya bukan itu yang penting, tapi yang lebih penting selaras adalah nilai atau pertimbangan moral tentang apa yang perlu diubah. Masalah bergerak dengan cara apa, itu dapat dilakukan dengan keduanya.
4. Kita lebih cenderung pada perubahan langsung atau tidak langsung? Pilih yang sesuai dengan kita.
5. Untuk bisa mengambil peran dan turut serta dalam perubahan itu, pilih menjadi generalis atau spesialis?
Kak Afu memilih untuk jadi expert generalist dengan pendekatan T-shaped. Dimana kita perlu knows a little bit of everything, agar bisa nyambung dengan berbagai macam orang, but a lot of something, agar bisa expert dan memberi peran yang signifikan dalam kontribusi kita.

Namun pada akhirnya (juga sebagai penutup), 'dampak yang terukur' itu hanyalah sebuah mitos. Dampak secara abstrak adalah suatu makna. Dan makna bukanlah sesuatu yang bisa diukur hanya dengan angka. Tapi dalam bentuk lain yang bisa jadi belum ditemukan metode pengukurannya. Bentuk apa pun yang kita pilih, kalau berangkat dari kepedulian yang tulus, maka itu cukup.

Oiya sebagai tambahan, buku ini adalah salah satu buku yang bikin aku sebagai pembaca jadi lebih penasaran dan semangat buat nyari dan ngulik lebih dalem tentang beberapa hal yang jadi highlight buku ini. Itu keren sih jujur.
Profile Image for Gabriella Gianova.
4 reviews
January 2, 2025
In my humble opinion, Afu wrote this book to raise awareness on inequality, late-stage capitalism, the climate crisis and tried to argue that we all have collective responsibility to be political and fight for a better world because systemic change is urgently needed. That's why at the beginning she explained a lot about critical thinking, since that ability is very much needed to be alert about these pressing global issues.

As a fellow professional working in public policy and sustainable development field, I resonate a lot with Afu's personal struggles and experiences. She's doing a good job in simplifying these complicated issues to appeal to wider audience. But to be frank, I still think this book is quite challenging to read unless you have basic knowledge about economic and environmental issues.

Throughout the chapter B, Afu tried hard to emphasize the urgency of those issues and why we need to be political and act now. However, I am convinced that not everyone grasps the same level of urgency and immediately gets inspired to act. We can't deny that some people just want a quiet and peaceful life away from political matters. Only on the last pages of the book Afu wrote that everyone has a choice and that she respects everyone's choice (although it ends with her kinda gaslighting the reader, stating that if we choose to be silent in the face of injustice, we have chosen the side of the oppressor).

Terlepas dari itu semua, Menjadi adalah buku yang menarik karena Afu mampu mengaitkan isu-isu global tersebut dengan perjalanan hidup pribadinya dalam proses "Menjadi" tanpa terkesan awkward atau gak nyambung. Semua mengalir dengan natural. Ilustrasi, infografis, flowchart, dan contoh-contoh praktis juga memudahkan pembaca dalam memahami konteks. Membaca social science tidak pernah se-menyenangkan ini. Definitely a book I'd recommend to people, especially to those working in the sustainable development field.

Secara pribadi aku mau berterima kasih kepada Afu karena buku ini memberikan jawaban atas pergolakan hidupku selama beberapa tahun terakhir. Bertahun-tahun bekerja di bidang kebijakan publik membawaku sampai di titik jenuh karena merasa semuanya sia-sia. Perubahan sistemik tidak akan terjadi kecuali ada political will dari otoritas tertinggi, dan political will untuk menyejahterakan rakyat dan pembangunan berkelanjutan tidak nampak sama sekali dari rezim ke rezim. Banyak konsepsi sudah tertuang dalam regulasi, namun implementasinya nol besar. Oligarki, KKN, deforestasi, land-grabbing, ketergantungan terhadap fossil fuel, unsustainable economic growth, dan lain sebagainya terus berlanjut.

Dalam perjalananku, aku juga telah gagal membedakan allies dengan confidants, dan bom waktu tersebut akhirnya meledak. At the end I lost them, both allies and confidants. Perlahan-lahan mulai memungut kembali kepingan-kepingan yang berserakan. Mulai membangun kembali antusiasme yang hilang. It's hard, but this book gave me new outlook and perspectives. Bahwa perjuangan saya selama ini tidak sia-sia, walaupun hasilnya tidak selalu dapat dikuantifikasi. Banyak pelajaran berharga yang saya dapat dari buku ini. Terima kasih, Mbak Afu.
Profile Image for Sheira Sharma.
133 reviews6 followers
July 20, 2024
"berpikir kritis bukan tentang menjadi kritikus, apalagi secara tidak konstruktif. turunan dari berpikir kritis justru adalah kemampuan berempati."

gue tertarik dengan judul ini karena populer sekali di kalangan mutualan gue di goodreads, apalagi mayoritas dari mereka ngasih bintang 5. jadi gue makin penasaran, sebenarnya apa "sesuatu" yang di tawarkan oleh buku ini?

sesuai dengan tag line (?) bener nggak sih istilahnya tag line? itu deh pokoknya, "seni membangun kesadaran diri dan sekitar." buku ini ngajak pembaca untuk "sadar" tentang apa yang ada di dalam diri dan juga di sekitar; isu politik dan lingkungan jadi salah satu contohnya.

gue suka sekali dengan pembahasan di bab a: umbi, serambi, bahari, tentang berpikir kritis. mbak afu menjelaskan kalau "diri" adalah kombinasi sistem berpikir 1 dan 2. sistem 1 itu otomatis, cepat, dan langsung muncul di permukaan. nggak jarang juga kalau keputusan yang di ambil dari sistem 1 itu cenderung salah dan merugikan. berbeda dengan sistem 2 yang rasional, lamban, tapi penuh usaha dan perhitungan.

kemampuan untuk mengaktifkan sistem 2 secara sadar ini lah yang di namakan "berpikir kritis" meski mungkin kondisi mental dan fisik mendorong kita untuk malas mengaktifkannya. kebanyakan orang itu males aktifin sistem 2 karena males mikir, padahal di otak kita sebenarnya ada tuh sistem 2 tapi nggak di pakai aja karena melulu pakai sistem 1 yang cepet dan nggak ribet.

mbak afu juga ngasih beberapa cara untuk melatih kemampuan berpikir kritis atau mengaktifkan sistem 2, salah satunya adalah membuat review buku atau film. hal yang kelihatannya sederhana, tapi membantu meningkatkan kemampuan berpikir kritis.

selain itu pembahasan tentang isu politik, lingkungan, dan lain-lain cukup membuka pandangan gue tentang kedua hal tersebut. terutama isu lingkungan ya, karena gue pribadi masih minim pengetahuan. tapi karena itu juga, kadang gue bingung banget bacanya karena ada beberapa istilah yang nggak gue mengerti dan pemaparan data-data yang entahlahhh, kadang gue merasa hilang aja di tengah-tengah proses membaca.

but so far, Menjadi adalah satu buku non fiksi indonesia yang wajib untuk di baca. gua pribadi baca di ijak, kebetulan nggak pakai ngantri jadi buat kalian yang mau baca gratis bisa langsung ke ijak.

gue akan menutup review ini dengan sebuah kutipan dari poster seorang warga amerika serikat yang penulis temukan saat beliau sedang bekuliah di sana, berikut terjemahannya:

"aku ingin teman-temanku memahami bahwa 'tidak ikut-ikutan politik' atau 'membenci politik' adalah sebuah praktik privilese. privilesemu mengijinkanmu untuk memiliki eksistensi yang tidak politis. kekayaan, ras, abilitas, dan gender yang kamu miliki memungkinkanmu untuk hidup tanpa takut menjadi target kebencian, serangan, deportasi, atau genosida. kamu tidak ingin politis, tidak ingin berjuang, karena kehidupan dan keamananmu tidak di pertaruhkan."
Profile Image for Rizkana.
248 reviews29 followers
December 29, 2025
"Tanpa kemampuan berpikir kritis, manusia cenderung akan membuat keputusan berdasarkan (1) kebiasaan, (2) opini warisan--orangtua, komunitas, kelompok sosial, peer, atau (3) jebakan berpikir, seperti bias dan heuristis berdasarkan asumsi yang tidak diverifikasi."


Sesuai subjudulnya, seni membangun kesadaran tentang diri dan sekitar, buku ini ditulis dalam tiga bagian yang tujuannya menuntun pembaca untuk pelan-pelan berpikir dan mengenali dirinya.

Dari segi penyampaian dan struktur buku, gagasan penulis bisa diikuti dengan cukup jelas. Di beberapa bagian juga ada semacam ilustrasi, bagan alir, dan kotak pengayaan yang memungkinkan pembaca untuk langsung mencoba menerapkan gagasan yang baru saja dibahas. Komponen pendukung seperti ini membuat pembaca bisa ambil jeda dari pembahasan dan langsung mengukur tingkat pemahamannya. Jadi, dari segi tampilan, buku ini tidak melulu berisi teks, tidak melelahkan untuk mengikuti alur paparan penulis.

Dari segi konten, untuk buku nonfiksi, argumen dan gagasan penulis juga didukung oleh data terkini dan perkembangan teori. Pembaca yang tertarik mencari tahu lebih jauh juga bisa menelusuri daftar referensi di bagian akhir. Selain itu, beberapa pengalaman pribadi penulis juga menjadi salah satu sumber dari gagasan yang disampaikan, membuatnya agak terasa personal dan kurang netral.

Satu hal saja yang agak mengganggu untuk saya, pemilihan diksinya yang menggunakan kata aku. Mungkin ini bisa menjadi strategi untuk mendekatkan penyampaian topik serius ke target pembacanya, yang sepertinya dikategorikan untuk pembaca muda. Murni perkara rasa dan preferensi, untuk saya, pemilihan kata "Aku" ini jadi membuat saya melihat buku ini kurang serius, meski isi kontennya serius.

"Manusia didesain sedemikian rupa sehingga kita lihai menginternalisasi label, indentitas, dan peran yang diciptakan oleh orang lain kepada kita. Kita luar biasa berbakat dalam menjadikan definisi tersebut sebagai "kita."... yang berbahaya adalah ketika kita menginternalisasi label dan ekspektasi sedemikian rupa, sampai merasa ada batasan dalam bagaimana kita harus bertindak atau merespons suatu kejadian, tanpa berpikir ulang tentang dari mana impuls respons itu berasal."
Profile Image for Martin Dennise silaban.
15 reviews
July 6, 2023
Buku ini benar-benar mengajakku untuk berefleksi tentang banyak Hal. Dimulai dari diri sendiri. Tentang identitas yang kerapkali kulekatkan pada diri. Tentang cara berkenalan yang sungguh naif dengan melekatkan beragam atribut peran dan tempat bekerja seakan-akan itulah diriku.

Afu pun juga mengajak pembaca nya untuk melihat proses-proses pelik, proses menjadi seperti judul buku ini, proses patah-tumbuh, maju-berhenti, layu-berkembang sebagai satu proses yang dilalui untuk Menjadi.

Juga tentang apa yang ia alami serta tentang bagaimana semua proses yang dialaminya itu berkontribusi dalam cara pandang dan sikap nya pada beragam hal.

Namun ia mengingat kan bahwa sikap dan cara pandang ini pun adalah sebuah proses menjadi. We are never known how we are in tomorrow, one week, one month, or one year later.

Keresahannya tentang privilege dan ketimpangan, Nasionalisme dan Humanisme, Ekonomi dan Lingkungan telah membawa aku juga pada kegelisahan yang sama. Pada peristiwa-peristiwa kecil yang tampak lazim serta lumrah.

Dari cerita tentang kurir yang bertugas mengirimkan Paket ke rumah-rumah yang bekerja hampir 10 jam setiap hari demi mendapatkan 115.000, perihal identitas ke-Indonesiaan kita yang kerapkali tidak bisa jujur dengan segala hal yang telah terjadi di masa lampau, tentang cara berpikir modern pada sistem ekonomi yang selalu keliru mengasosiasikan kemiskinan dan kesejahteraan.

Segala keresahan itu akhirnya harus dicari jalannya. Afu, menawarkan perihal pertanyaan apa yang kita akan lakukan? Dengan cermat ia menawarkan beragam cara agar pembacanya bisa melakukan tindakan-tindakan nyata yang sederhana namun konkrit dalam keseharian kita.

Memulai dari yang ada pada kita saat ini, memulai dari rencana perubahan kita, memulai dari yang terdekat. Perubahan maupun tindakan kecil untuk perubahan itupun harus dilihat sebagai perjalanan panjang dimana kadang kita harus berhenti, kadang kita harus menemui jalan buntu, oleh karena itu, Afu pun menyarankan agar proses itu dipenuhi juga oleh teman sejawat dan tempat berteduh yang dapat kita kunjungi ketika kita merasa bahwa perjalanannya cukup melelahkan dan kita butuh berhenti untuk memulihkan diri.
Profile Image for Nab.
1 review
January 1, 2023
Di bagian penutup buku ini mba Afu membagi pembaca kedalam tiga jenis pembaca, setelah dilihat aku masuk yang pertama: Mereka yang mengikuti perjalanan penulis dan pemikirannya di media sosial, atau mungkin pendengar podcast yang mengundang penulis. Oops, itu aku! Hahahaha. Jadi ulasan satu ini berasal dari seseorang yang sedang belajar dan mau membagikan kesaannya setelah membaca Menjadi (dengan harapan, siapa tahu, ada yang teracuni juga hahaha).

Buku ini berisi berbagai pemikiran penulis tentang proses yang sudah dilalui. Tujuannya mengajak pembaca untuk melalui atau mendalami proses berpikir. Aku suka pembawaan buku ini, mungkin karena temanya juga memoir, pembawaanya pun ngga terkesan menggurui, rasa-rasanya kayak lagi diajak diskusi bareng. Kita akan diajak mengenali diri sendiri dulu, lalu melihat keluar, dan akhirnya menentukan jalan yang ingin diambil. Di sini juga kita akan diberika beberapa “alat” untuk membantu mengasah kemampuan berpikir.

Di bagian yang membahas privilese entah kenapa membawa rasa tenang sendiri ke aku. Selain itu, buatku yang baru belajar, aku juga suka gimana mba Afu membawa isu lingkungan dan kebijakan publik dengan bahasa yang ngga membingungkan. Meskipun topik pembicaraan di dalamya agak berat, tapi ternyata aku masih bisa mengikuti dengan baik.

Membaca Menjadi ngga lantas membuat aku jadi paham betul apa yang mau aku lakukan dalam hidup atau tahu-tahu jadi si super kritis! hahahaha. Tapi, buku ini jelas sudah membantu membuka jendela pikiranku, membantuku berproses. Singkatnya, mengingatkan untuk mawas diri. Bagiku yang butuh banyak belajar, aku mau berterima kasih untuk mba Afu karena sudah melahirkan buku ini! Dan buat teman-teman yang kebetulan baca ulasanku satu ini, you probably should try this one, I had a wonderful ride!Afutami
Profile Image for Nazmi Nariyah Tamara.
1 review
January 14, 2023
#BukuMenjadi adalah memoir, lebih dari sekadar buku self-improvement.

Terdiri dari 3 bagian utama,
- Bagian A membawaku kembali untuk mengenali diri sendiri. Aku cukup senang dibawa menyelam untuk menata ulang apa yang aku pikirkan dan rasakan tentang diriku sendiri. Mengenal diri sendiri tidaklah memiliki akhir. Setiap harinya aku terpapar informasi baru, melahirkan ide-ide baru sehingga dapat memengaruhi siapa diriku, jalan mana yang aku pilih.
- Bagian B, seperti judulnya. Aku belum sampai jauh memikirkan ketimpangan, nasionalisme, ekonomi, dan lingkungan. Padahal keempat hal tersebut secara tidak langsung dapat memengaruhi siapa diriku, apa peranku, bagaimana dampak jika aku tidak berperan dalam empat hal tersebut. Empat topik dikemas dalam satu bab, seperti sudah membaca ringkasan dari empat buku social/science, penyajiannya sederhana dan to the point.
- Bagian C berisi penekanan terkait bagian A dan bagian B. Tidak. Ini bukan penekanan yang memberatkan, bukan pula mendikte. Bagian ini mengingatkan bahwa aku tidak sendiri, aku butuh ruang untuk berteduh, serta aku harus hati-hati juga pelan-pelan dalam beraksi barangkali didepan sana ada jalan buntu dan aku harus merubah arah.

Seperti yang penulis katakan, buku ini menjanjikan "berpikir kritis", aku setuju. #BukuMenjadi terlalu sayang jika hanya dibaca sekali dan tidak di praktekan.

Penyajian buku yang unik. Cara penulisan menggunakan perumpamaan dan berisi banyak kosa kata Bahasa Indonesia yang baru aku ketahui. Tidak membosankan karena dilengkapi dengan beragam grafis (gambar maupun diagram), penuh dengan warna. Terdapat barcode yang berisi referensi lebih utuh, hal ini menarik karena menambah pekerjaanku saat membaca, aku jadi tidak mengantuk. Cover kertas yang eye-catching.

Terima kasih kak Afutami sudah menuangkan apa yang kakak pikirkan, apa yang telah kakak lakukan, dan apa yang ingin kakak sebarkan.

I highly recommend this book!
Profile Image for Vinka Maharani.
147 reviews6 followers
August 4, 2023
"Menjadi" mengajak pembaca untuk menelusuri proses berpikir dan menawarkan framework yang dapat kita pakai untuk memecahkan masalah. Terlebih, untuk menghadapi problematika yang terasa masif, rumit dan biasanya kita memilih menyerah pada status quo saja. Afutami dengan luwes memaparkan teori-teori di ranah ilmu sosial, memberikan diagram-tabel dengan contoh sekaligus yang kosong untuk dapat diisi dan diterapkan langsung oleh pembaca. Diselipkan pula beberapa tulisan Afu yang relevan, lalu juga catatan kaki yang disuplai dengan QR code yang memudahkan pembaca untuk mengakses sumber tersebut lebih lanjut, jika menghendaki.

Buku ini adalah salah satu buku yang saya sudah saya 'imani' sejak masih dalam proses, karena saya sudah percaya pada sang penulis. Bagaimana pun bentuk bukunya, pasti akan saya beli dan dengan senang hati saya nikmati. Tak salah, ketika membaca "Menjadi", ia merupakan perjalanan yang mengasyikkan, membuat penasaran dan menambah banyak referensi untuk diselami di kemudian hari.

Mengutip ulasan yang saya tuliskan untuk klab buku Buibu Baca Buku:
"Buku ini cocok direkomendasikan untuk seseorang yang sedang merasa 'kecil' saat menghadapi masalah yang kompleks, yang jauh lebih besar dibanding dirinya sendiri. Perasaan seolah-olah tidak berdaya dan tidak bisa punya andil, tetapi jengkel dan gemas dengan kondisi tersebut. Buku ini akan menjadi alat pembantu, kotak peralatan yang siap sedia, menemanimu untuk mempreteli masalah besar tadi, memahaminya sehingga kemudian mengerti dimana kamu berdiri dan menentukan sikap ke depannya."

Jika kamu sedang membutuhkan amunisi tambahan untuk berpikir, menganalisa, mengkritisi, memetakan masalah dan merumuskan apa yang akan kamu lakukan, buku ini cocok untukmu.

Instagram || YouTube || Newsletter
Profile Image for Henzi.
217 reviews20 followers
November 19, 2022
Pembahasan peran versus diri itu nyata adanya. Hampir setiap saat—baik informal maupun formal—kapan pun dan di mana pun, ketika memperkenalkan diri kepada orang lain, kebanyakan orang (termasuk saya sendiri) cenderung menyantolkan label/peran sebagai bagian dari jati diri ini. Sampai dengan saat ini, saya masih berpikir bahwa peran itu sendiri adalah sebuah wujud dari eksistensi diri, padahal seharusnya ia tidak tertaut dengan diri.

Saya mempunyai seorang teman, yang merasa “minder” ketika ia tidak sedang mempunyai peran resmi dalam kehidupan bermasyarakat. Ia merasa tidak pantas untuk bertemu dengan orang baru, bahkan dengan kawan lamanya hanya karena peran yang sebelumnya ia jabanin “copot”. Dan… sampai sekarang itu masih berlangsung. Peran masih dianggap sebagai bagian dari diri yang TIDAK terpisahkan. Tanpa peran rasanya malah ngga afdol, ngga nyata, serasa identitas diri hilang.

Saya suka kutipan dari Afu yang menegaskan kepada kita untuk memisahkan peran dengan diri. Sebagaimana yang tertulis di halaman 203, “… ada risiko nyata alam bawah sadar kita mencampuradukkan ‘peran’ atau ‘label’ kita di organisasi atau masyarakat dengan ‘diri’. Sehingga, ketika peran atau label kita diserang, ‘diri’ kita terpengaruh di level personal dengan sangat mendalam. Padahal, ketika atasan atau bawahan di kantor bersikap tertentu padamu, mereka berinteraksi dengan ‘peran’-mu. Tentu, ‘peran’ ini BUKANLAH ESENSI DARI DIRIMU (yang ini harus kamu tentukan sendiri). Pada akhirnya, keduanya adalah entitas terpisah.”

Namun, untuk setiap individu yang menjalani, apakah ini konsekuensi dari proses menjadi? Dikarenakan goal untuk menjadi tiap individu berbeda, sehingga itu juga—secara ngga langsung—mempengaruhi “keutuhan” diri (yang melibatkan peran) dalam pandangan pribadi masing-masing. Baik “sudah” menjadi atau belum, tidak perlu dicampuradukkan sebagaimana yang tercantum dalam kutipan di atas.
Profile Image for Nitaf.
143 reviews2 followers
January 12, 2023
Bisa dibilang buku ini seperti gado-gado buatku: gurih, cukup bernutrisi, dan gampang dicerna. Seperti gado-gado pula, buku ini menghadirkan ragam isu mulai dari "kedirian", logical fallacies, kebijakan publik terkait ekonomi-lingkungan, dan pengalaman-pengalaman pribadi Kak Afu yang khas, yang membuatku lebih memahami konteksnya secara lebih personal dan terasa genuine.

Pengalaman membaca Menjadi jadi lebih seru karena buku ini mengingatkanku akan buku pelajaran SD dengan visual-visualnya: banyak ilustrasi, tabel dan diagram, serta kolom reflektif. Bagaimana buku ini dicetak dengan berwarna juga menambah kemenarikan buku ini. Selain itu, ketersediaan beberapa barcode dari referensi yang digunakan dalam buku ini terasa "fresh" dan "kekinian", rasanya sangat cocok dalam menyasar pangsa pasar anak-anak muda.

Aku suka dengan bagaimana Kak Afu menjelaskan konsep-konsep ilmiah dengan bahasa yang mudah dipahami dan tidak berbelit-belit. Aku juga salut pada keberanian Kak Afu dalam menyadari privilesenya–yang tersebar di sepanjang buku ini–dan menyatakan "posisi yang ia pilih" dalam perubahan yang ia gerakkan.

Sayangnya, kekurangan dari Menjadi buatku adalah bagaimana aku kurang "sreg" terhadap definisi ataupun contoh dari "empati" dan "introver". Aku paham dengan maksud Kak Afu dalam menggalakkan empati sebagai turunan dari berpikir kritis, tapi buatku lebih cocok rasanya jika menggunakan istilah "welas asih" (compassion) dalam konteks yang dimaksud. Dan tentang introver, walau hanya mendapat porsi yang "secuplik", hanya saja aku menangkap bahwa penggunaannya agak mirip dengan definisi mainstream yang menyamakannya dengan pemalu.
Displaying 1 - 30 of 92 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.