What do you think?
Rate this book


224 pages, Paperback
First published October 1, 2022
Ulasan ini aku poskan ulang dengan beberapa revisi dan tambahan di blog: https://antariksakh.com/menjadi-2022/.
"Kemampuan berpikir kritis adalah kemerdekaan untuk berpikir sendiri.
Keleluasaan untuk mengumpulkan informasi secara utuh, memprosesnya secara terstruktur, sehingga kita dapat membuat keputusan terbaik atau mencari solusi yang paling efektif.
Dengan berpikir kritis, kita sedang mengembangkan kesadaran atas "diri". Ketika memproses input dari luar, menggunakan sistem 2 berarti kita memahami apa yanng menyusun sistem 1 kita. Pada level yang lebih dalam lagi, menggunakan sistem 2 artinya memahami sistem 1 lawan bicara kita. Jadi, kurang tepat apabila berpikir kritis diasosiasikan dengan mereka yang sekedar anti terhadap ide-ide.
Kemampuan berpikir kritis termasuk kemampuan berempati, mengomunikasikan kesimpulan, keputusan, atau tindakan yang diambil tersebut dengan framing yang dapat diterima."
"yang berbahaya adalah ketika kita menginternalisasi label dan ekspektasi sedemikian rupa, sampai merasa ada batasan dalam bagaimana kita harus bertindak atau merespon suatu kejadian, tanpa berpikir ulang tentang dari mana impuls respons itu berasal.
Membebaskan diri dari label dan ekspektasi berarti memiliki keleluasaan untuk mengambil cukup waktu dan melihat pilihan respons lain."
"Poin dari berpikir adalah untuk kemudian menggunakan pemikiran tersebut dengan cara-cara yang membawa kebermanfaatan: mengubah yang belum baik.
Dunia di sekitar kita dibentuk oleh keputusan-keputusan yang lahir dari pemikiran, atau presepsi terhadap dunia, dari mereka yang berpartisipasi. Ketika kita menolak untuk ikut turun dalam membentuk dunia nyata, kita sedang membiarkan orang lain yang berpartisipasi untuk membentuknya."
"Tanpa kemampuan berpikir kritis, manusia cenderung akan membuat keputusan berdasarkan (1) kebiasaan, (2) opini warisan--orangtua, komunitas, kelompok sosial, peer, atau (3) jebakan berpikir, seperti bias dan heuristis berdasarkan asumsi yang tidak diverifikasi."
"Manusia didesain sedemikian rupa sehingga kita lihai menginternalisasi label, indentitas, dan peran yang diciptakan oleh orang lain kepada kita. Kita luar biasa berbakat dalam menjadikan definisi tersebut sebagai "kita."... yang berbahaya adalah ketika kita menginternalisasi label dan ekspektasi sedemikian rupa, sampai merasa ada batasan dalam bagaimana kita harus bertindak atau merespons suatu kejadian, tanpa berpikir ulang tentang dari mana impuls respons itu berasal."