Hmm, akhir2 ini agak bingung mau nulis reviu buat buku yang kurang menimbulkan spark. Antara nggak mau spill kekurangannya lebih banyak dari kelebihannya karena takut malah kelihatan kayak haters, tapi di lain sisi nggak bisa buat nggak jujur.
Oke, pertama, soal alurnya sendiri. Cepat ya, bisa dibilang. Belum sampai halaman 100 udah luluh aja si Dewa ini. Agak khawatir masih banyak halaman nanti mau dibawa ke mana, tapi yaaah, kecewa nggak kecewa, karena terlalu cepat, feel-nya hilang. I excpected something emotional. Dewa trauma nyentuh dapur. Oke. Tapi, waktunya terlalu cepat. Jaraknya keterlaluan express karena apa ya, beberapa buku yang aku baca, biasanya karakter yang punya trauma minimal "hilang" selama bertahun-tahun. Oke, kalaupun nggak harus setahun, minimal ya 9 atau 10 bulan, kek.
Trauma emang nggak bisa disepelekan, lama atau sebentar, tapi masalahnya Dewa tuh ngegas terus. Eh, Dewi juga, deh. Dialog2 di sini kebanyakan pakai tanda seru, jadi terkesan ngegas banget yang ngobrol. Idk, menurutku trauma Dewa agak terlalu cepat aja terjadi. Kalau ibarat bangunan, semennya masih basah gitu.
Kedua, soal emosi. Ya, di awal udah kusinggung dan emang emosinya nyaris 0. Okelah Dewa pasti ngerasa sesuatu waktu lihat Dewi, begitupun sebaliknya, tapi haruskah baru sehari saling pandang (apalagi setelah pisah bertahun-tahun), langsung kepercik keinginan memiliki? Ini Harlequin, kah? Karena kalau iya, aku nggak bakal komen lagi. I mean, yeah, janggal aja rasanya. Proses sukanya terlalu cepat, sampai2 aku sendiri nggak paham, mereka suka karena cinta atau cuma lust?
Ketiga, semua rencana Dewa waktu balik ke Jakarta itu enggak banget, kayak kesannya dipaksa cepat selesai. Sama sekali kurang memuaskan. Aku jadi Dewi jelas pengin nendang Dewa, sih, soalnya annoying, seenaknya banget datang lagi, nagih janji. Cih.
Dan hal lainnya, banyak banget yang kurasa kurang dikasih boncabe biar nendang di lidah. Aku bahkan nggak bisa menangkap apa yang coba penulis kasih dari emosi atau karakterisasi para karakter di sini, selain semua orang suka banget ngomong ngegas (plislah, ada Renjana lho, di situ, apa nggak pengang kuping dia?) dan suka tiba2 marah. Nggak jelas si Dewi gimana, Dewa gimana, karena waktu coba memahami karakternya, tiba2 dikasih kejutan lewat dialog dan sikap karakter yang berlawanan.
So far itu aja, sih, dan kayaknya emang mood bacaku agak menurun jadinya pengin cabein buku yang kubaca. Hal2 mengenai masakan dan Renjana cukup entertaining.