Dunia Juliette seketika jungkir balik sewaktu dapat tawaran pulang bersama dari Keenan. Tetangga seberang rumah yang diam-diam dia juluki sebagai ‘kulkas pendingin daging’ gara-gara sikap antipatinya terhadap cewek, sekaligus satu-satunya cowok yang dia sukai selama lebih dari empat tahun ini.
Sejak saat itu, mereka yang semula tidak pernah berinteraksi pun jadi sering bertemu karena kebetulan-kebetulan lain yang tak disangka. Buntut-buntutnya, Juliette malah semakin naksir Keenan. Apalagi setelah melihat sikap Keenan yang ternyata cukup manis untuk ukuran cowok cuek dan masa bodoh dengan sekitarnya.
Keenan mungkin adalah sosok ‘Romeo’ bagi Juliette. Tapi bagaimana sebaliknya? Apa Juliette adalah sosok ‘Juliet’ bagi Keenan?
DISCLAIMER: Review ini bersifat SUBJEKTIF. Review ini ditulis berdasarkan pengalaman pribadiku sendiri, yang merupakan seorang ilustrator yang hobi membaca dan sedikit mencoba untuk menulis karanganku sendiri. Jadi kalaupun ada kata-kata yang kurang berkenan atau fakta yang kusebut tak sesuai dengan realita, mohon dimaklumi. Aku sendiri juga masih perlu banyak belajar.
Boy Next Door oleh Kil. Dengan bacaan yang ringan dengan konflik yang nggak begitu berat, novel ini menceritakan seorang gadis introvert, Juliette, yang tak memiliki jaringan sosial yang begitu luas, jatuh cinta dengan cowok jutek dan dingin, Keenan, di masa SMA-nya. Rumah Keenan tepat berada di sebelah rumah Juliette, dan mereka terus bertetangga hingga masa kuliah. Di masa kuliahnya, Keenan, yang seharusnya merupakan seorang cowok 'kulkas pendingin daging', malah menunjukkan sisi ramahnya kepada Juliette. Si gadis pun yang awalnya mau move on malah dibuat baper karenanya. Setelah beberapa kejadian, Keenan dan Juliette pun mulai mengalami masa PDKT-nya.
Sejujurnya, aku jadi tertarik untuk membeli buku ini setelah sedikit membaca deskripsi bukunya karena aku 'agaknya' relate dengan Juliette. Mungkin disebabkan diriku yang juga tipikal introvert dan punya former crush dengan deskripsi yang sama persis? Nggak sama persis juga, sih, karena Keenan itu dijuluki Juli dengan 'kulkas pendingin daging' sedangkan aku menjuluki former crush aku sendiri 'kulkas dua belas pintu', wkwk ('Former crush' karena sekarang sudah jadian, hehe).
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
KELEBIHAN
Bahasa yang ringan dan mudah dimengerti
Pas aku lagi baca buku ini, aku lagi stres-stresnya dengan banyak hal. Jadi memang aku lagi ngebutuhin bacaan ringan yang nggak perlu terlalu memutar otak. Dan bagiku, buku ini adalah pilihan yang tepat. Bahasa yang digunakan juga logat-logat yang ringan dengan campuran kosakata gaulnya di sana-sini. Jadi bawaannya mengalir dengan lancar seperti air terjun Niagara.
Cerita yang ringan tetapi menyenangkan
Mungkin karena akhir-akhir ini aku juga lagi sering-seringnya baca buku non-fiksi atau novel yang jalan ceritanya agak berat, buku ini terasa refreshing banget. Dan menurutku kisah cinta antara Keenan dan Juliette ini memberi kesan lugu dan imut, seperti kisah romansa yang sering terjadi di SMA. Ada kecemburuan, keraguan mengomunikasikan isi hati sehingga berujung kesalahpahaman, sampai tatapan oh-dia-ganteng-banget-aku-suka yang dipancarkan Juliette kepada Keenan. Aku merasa seperti membaca diary seseorang yang mengalami kisah cintanya yang berbunga-bunga, bedanya di sini dalam bentuk novel.
Walaupun konflik yang dibawa ringan, entah kenapa aku bacanya ngalir aja terus sampai halaman terakhir. Rasanya kayak baca komik shoujo. Pembawaan ceritanya lugu, polos, ringan, lucu, dan menyenangkan. Adegan-adegannya juga, walaupun nggak terlalu 'waw' banget, tapi aku bisa tahu di setiap chapter, hubungan Keenan dan Juliette semakin mendekat.
Ilustrasinya!
Aku suka novel-novel yang diselingi dengan ilustrasi, mungkin karena aku sendiri seorang ilustrator. Style gambarnya lucu, dan bisa menggambarkan suasananya. Props to the illustrator, Laetica Genaya, yang sudah dengan cukup baik menggambarkan ilustrasinya. Sebenarnya ada perdebatan di antara para pembaca novel tentang penggunaan ilustrasi dalam tulisan. Beberapa ada yang nggak suka novel berilustrasi karena gambar yang digunakan bisa menghancurkan imajinasi pembaca, entah karena ilustrasinya kurang cocok dengan selera pembaca, ataupun perbedaan gambaran yang dibayangkan pembaca dengan ilustrasi yang ditampilkan. Tapi karena secara pribadi aku nggak masalah dengan hal tersebut, jadi aku masukkan ini di bagian 'Kelebihan'.
Format packaging dan ukuran margin buku
Bukunya agak kecil dan mudah untuk dibawa kemana-mana. Rasanya kayak bawa buku catatan atau diary. Pas aku masih di tengah-tengah ngebaca buku ini, rasanya gampang untuk diselipin di tas bawaanku saat hendak pergi ke suatu tempat. Aku kurang suka buku yang terlalu lebar marginnya karena sulit dibawa ke mana-mana. Aku juga lebih suka buku fisik ketimbang digital, karena itu desain buku ini benar-benar cocok buat aku.
Packaging yang dipakai juga lucu. Cerita inti dan cerita sampingannya dipisah jadi dua buku. Jujur menurutku itu inovasi yang cukup unik dan menyenangkan. Buku Girl Next Door yang berisi tentang curahan hati versi sudut pandang Keenan benar-benar seperti aku membaca diary; Diary seorang cowok 'kulkas pendingin daging'. Lucu banget, aku suka.
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
KEKURANGAN
Konflik yang kurang 'ngena' dan banyak cliche
Karena juga aku sebut 'bacaan ringan' ini sebagai kelebihan, tentunya ada kondisi di mana kelebihan ini menjadi pedang bermata dua. Karena pembawaan cerita yang ringan, konflik yang dibangun juga tak semenegangkan, semendebarkan, dan semembagongkan itu. Bahkan setelah membaca tiga perempat isi buku pun, konflik yang sedikit aku harap lebih dalam buku ini tak muncul-muncul juga. Rata-rata alur ceritanya mudah ditebak.
Character development yang signifikan pun nggak terjadi terlalu banyak dalam plot. Contohnya aja si Keenan, male lead yang ada di cerita ini. Mungkin karena di sini novelnya menceritakan kejadiannya dalam perspektif Juliette, karakter Keenan jadi sedikit dangkal. Bukan berarti karakter Keenan buruk. Di setiap waktu, seringnya Keenan yang ngebantu Juli. Nggak banyak Juli ngebantu masalah pribadi Keenan.
Dia itu seakan too perfect to be true; seakan dia nggak punya masalah apapun dalam hidupnya. Sementara protagonis cewek kita punya beberapa masalah yang membentuk karakter dia, Nggak pernah sekalipun Keenan menunjukkan sisi kelemahan dia, seperti keadaan dia yang paling terpuruk. Kalau aku pinpoint kekurangan dia apa, mungkin cuma kejutekannya dan dianya yang agaknya kurang bisa jujur.
Tapi seperti yang sebelumnya kusinggung bahwa novel ini seperti membaca diary seseorang yang sedang mengalami kisah cintanya yang berbunga-bunga. Karena itu pembawaan konflik ataupun sifat karakter yang ada nggak diperdalam begitu jauh. Jadi bagi para pembaca yang ingin mencari konflik nggak biasa yang 'menukik tajam', mungkin bakal beranggapan bahwa novel ini memiliki pembawaan yang membosankan.
Kosakata asing
Aku pribadi bisa menyebut diriku sendiri sebagai seorang multilingual dan bisa mengerti bahasa Inggris dan beberapa bahasa lainnya, tapi nggak termasuk bahasa Sunda. Tentunya, pas nemu kosakata Sunda aku cuma bisa manggut-manggut, pura-pura paham. Namun juga, kalau misalnya yang baca ternyata nggak begitu paham bahasa Inggris, pasti bacanya bakal pusing, cuma bisa manggut-manggut sama kayak aku pas baca bahasa Sunda.
Ada beberapa bagian dari isi buku yang kosakata gaulnya juga terdengar asing.
Rujukan yang membingungkan
Di beberapa chapter, sulit untuk mengidentifikasikan siapa yang berbicara, siapa yang melakukan apa.
Typo/Kesalahan tik, tapi nggak banyak
Ini aku taruh paling terakhir karena, seperti yang kusebutkan, nggak banyak. Ada beberapa kata yang salah tik dan eja, contohnya kata 'keenan' yang harusnya 'Keenan', kata 'si' yang harusnya 'di', atau kata 'tebakkanku' yang harusnya 'tebakanku'. Tapi karena nggak banyak, jadi nggak begitu mengganggu.
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
Secara keseluruhan, novel Boy Next Door adalah buku yang ringan untuk dibaca di kala sibuk atau stres dengan banyak hal. Dan menurutku juga sangat direkomendasikan bagi para pembaca yang masih baru-baru aja mulai baca, karena kuyakin sulit kalau langsung disuguhi novel-novel berat. Ceritanya ringan dan manis. Pembawaan ceritanya juga masuk akal. Dan yang aku suka di sini adalah konfliknya yang nggak bertele-tele dan super singkat, padat, dan penyelesaian yang super jelas dan menyenangkan.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Penasaran karena ada bookstagram yang ngereview, trus pas baca sinopsisnya relate banget soal nge-crushin orang diem-diem bertahun-tahun wkwk. Tapi alasan baca karena penasaran sama mini booknya yang nyeritain POV si cowok. Aku pernah baca buku yang ada bonus POV si cowoknya (Call Me Miss J-nya kak Orizuka) dan aku suka banget. Kebetulan karakter cowok di buku itu (Raya) dan di buku ini (Keenan) sama-sama cuek soal cewek (bedanya kalo Keenan emang tipe cuek karena nggak mau pusing, si Raya cuek soalnya ansos), aku jadi punya ekspektasi soal buku ini.
Penggambaran karakter Juliette jadi orang yang biasa-biasa menurutku bagus. Hidupnya ya gitu-gitu aja bisa bikin empati dan realistis, sebelum akhirnya Keenan masuk ke radar hidupnya (dan vice versa). Tapi buat karakter si Keenan, sayangnya aku merasa nothing special about him :( Kehadiran Keenan rasanya serba 'kebetulan', kebetulan di minimarket yang sama, kebetulan kampusnya sama, kebetulan sama-sama telat, kebetulan tetangganya. Iya sih yang namanya kebetulan nggak bisa ditebak, tapi sepanjang aku baca jadi merasa nggak ada yang stand out dari Keenan. Kayak... sama Keenan ya karena kebetulan itu Keenan.
Mungkin niatnya novel ini dibikin cerita ringan aja, jadi konfliknya juga nggak yang complicated. Sayangnya menurutku konfliknya kurang dieksekusi jadi kesannya nanggung. Mau dibilang Juli merasa kalah saing, cemburu, atau insecure sama Rachel, nggak dieksplor. Tentang misunderstanding antara Juli sama Keenan rasanya kurang greget. Mau dibilang Keenan vs Leo kayaknya enggak. Masalah keluarga dan beda pendapat sama Mama juga bukan. Masalahnya kayak diusut permukaannya aja gitu rasanya, nggak tuntas.
Hal yang aku suka dari buku ini adalah ilustrasinya, cakep banget lho! Aku suka banget novel yang ada ilustrasi nyempil kayak gini. Selain itu, cara penulisnya ngasih judul ke tiap bab juga unik-unik. Misalnya di bab X, 'Lelucon memang banyak ragamnya, aku salah satu jenisnya' atau di bab XXVI 'Sekali lagi, hidup apa? Hidup fiksi!' itu kreatif banget. Terus cetakan bukunya floppy banget, ukurannya juga pas buat dibaca dimana-mana karena agak kecil dan nggak bikin sakit pergelangan tangan.
Ada beberapa kalimat yang cukup ngena buatku sih, kayak: Kalau aku boleh memberi peringkat untuk diriku sendiri beserta seluruh paket kehidupanku selama dua puluh tahun ini, aku akan memberikannya peringkat rata-rata. Tidak menarik, tapi juga tidak membosankan. Singkat cerita, ya... biasa saja. (Page 2)
And I never dare to try it, because fictional love is still superior for me. (Page 38)
Ya ampun, lucu sekali. Rambutnya yang diacak, tapi hatiku yang berantakan. (Page 78)
Kalau begini ceritanya sih, mereka tidak bisa dibilang anak tiri karena terpisah dari kampus utama. Justru malah anak emas yang diasingkan supaya anak yang lain tidak iri. (Page 81)
Serius deh, aku tidak pernah merasa secanggung ini seumur hidupku. Bohong. Kalau di depan Keenan aku canggung terus. (Page 90)
"Katanya, berbagi tuh, bukan cuma tentang materi atau barang, tapi juga perasaan. Nggak harus selalu cerita bahagia yang dibagi, tapi yang sedih juga boleh dibagi. Siapa tau bisa ngurangin beban yang lagi dirasa. Emang sih, apa yang kita rasain akan selalu jadi tanggung jawab kita, tapi kan nggak seua kepala bsa nanggung beban itu sendiri." (Page 122)
Cih, jatuh cinta. Jangan mau. Rasanya tidak enak. (Page 177)
"I love reading romance books. The reasons are simple, actually. Because it's fun, romantic, and importantly, it's fiction. I can trust them. They'll never hurt me. Although sometimes they break my hearts, they always put them back together." (Page 188)
Jangan mau jatuh cinta. Apalagi sendirian. Karena orang-orang yang bernasib sial sepertiku, nantinya harus puas dengan patah hati. (Page 203)
I agree that fictional love is indeed superior. But once you meet and have wonderful moments with the right person, you'll start adoring and enjoying the realistic one. Like what I do right now. (Page 234)
Bercerita soal Juliette, cewek introvert yg nggak punya interaksi sosial yg seru, tipikal mahasiswi kuliah-pulang, naksir cowok jutek si Keenan dari SMA yg juga tetangga seberang rumah tapi sangat minim interaksi dulunya. Mereka ternyata satu kampus, dan mulai saat itulah interaksi keduanya berkembang.
Ini jenis buku yg ringan banget, tapi jadi agak tricky, karena saking ringannya, nggak ada konflik yg ngena. Bisa bosan karena pakai pov 1 dari sudut pandang Juliette, kebanyakan narasi daripada dialog dan nyeritain soal keseharian dia, kucingnya, mamanya, dan ya ... Keenan.
Awkward & gemas. Dua kata itu cocok buat buku ini karena interaksi Keenan-Juliette kerasa banget awkward-nya, tapi juga gemas di waktu yg sama. Both of them tuh amatir soal percintaan. Untuk penokohan, semua sebatas sudut pandang Juliette aja. Tapi Keenan tengilnya kerasa haha.
Gaya narasinya mudah dipahami. Meskipun di beberapa scenes, ada yg kurang jelas soal siapa yg lagi bicara, siapa yg berinteraksi dengan siapa.
Buat yg baru mulai baca buku, barangkali buku ini cocok. Tapi untuk penyuka buku ringan tapi tetap seru, aku pikir buku ini kurang. Oh iya buku ini juga punya ilustrasi gemes.
Boy Next Door is another book that makes me feel like cewek gila nggak waras karena senyam-senyum sendiri gara-gara kelakuan Keenan! Oknum satu ini benar-benar ya... Lo nggak lagi jatuh cinta nih, tapi kalo baca buku ini pasti lo bakal ngerasain gimana rasanya jatuh cinta, terus ada percikan-percikan kembang api di dada lo gitu... terus deg-degan karena ketemu sama crush lo gitu... pasti bakal ngerasain sih... Ditambah ada ilustrasinya, bikin gue makin bisa ngebayangin gimana kejadian di cerita itu... apalagi di loteng!!! (astagaa momen ituuu berbahayaaaa)
Tulisan Kil sendiri udah bagus dan rapi. Mudah dipahami sih yang pasti dan gak bikin pusing wkwkkw. Karena buku ini ringan dan bikin jatuh cinta, jadi cocok buat kalian yang suka genre young adult, sweet fluffy bikin giung diabetes!
Kayaknya ini novel ter-fluffy yang aku baca tahun ini. Bacain POV Juliette yang naksir Keenan secara diem-diem seru banget, ikut berdebar dan salting brutal 😆 monolognya Juliette juga selalu bikin senyum-senyum karena lucu.
Buat yang lagi kena reading slump boleh banget sih dicoba baca ini, ringan, ga ngebosenin dan fluffy parah 🫶🏻
Damn ga pernah se relate ini sama karakter buku sebelumnya.. have never been in a relationship and always falls for fictional love. Hopefully i could meet the right person and enjoying realistic love like u yaa, juliette
Oh, also sudah dari dulu suka banget sama ilustrasi ka genaya dan ternyata dia jadi ilustrator buku inii huu
KAK KILLLL BERHASIL BUAT AKU TERGILA GILA SAMA BUKU INI!!!!! KEREEENN BANGEEETT!! aku udah reread buku ini 2 KALI loh :p dan reaksi aku masih sama. buku ini alurnya enteng banget (ilove romance books 🩷). kenann bakal masuk top cowoku sih wlellelelelelele. POKOKNYA INI SERU BINGITS! KALIAN YANG BACA BAKAL TERGULING GULING AHHAHAHAHHA 💥😵💫🥹🌟🤚🏻💨😮