Dalam buku ini Buya HAMKA menunjukkan dua hal penting secara umum: pertama bahwa masuknya Islam ke bumi Melayu-Nusantara ini sudah lebih dahulu daripada pendapat umum sejarawan bahwa Islam masuk ke dunia Melayu-Nusantara pada abad ke 12 Masehi, ditandai dengan bukti Batu Nisan Fatimah. Hal kedua yang dikemukakan HAMKA adalah bahwa pada masa lampau Islam mengakar dengan cukup kuat di dalam benak masyarakat Melayu-Nusantara. Bahkan tidak hanya itu, perjuangan mengusir penjajah dalam tulisan ini didasarkan kepada semangat keagamaan (Islam) hingga membuahkan hasil kemerdekaan Republik Indonesia. Tentu saja hal ini berseberangan dengan pendapat para sejarawan Indonesia secara umum.
Haji Abdul Malik Karim Amrullah, known as Hamka (born in Maninjau, West Sumatra February 17, 1908 - July 24, 1981) was a prominent Indonesian author, ulema and politician. His father, syekh Abdul Karim Amrullah, known as Haji Rasul, led and inspired the reform movement in Sumatra. In 1970's, Hamka was the leader of Majelis Ulama Indonesia, the biggest Muslim organizations in Indonesia beside Nahdlatul Ulama and Muhammadiyah. In the Dutch colonial era, Hamka was the chief editor of Indonesian magazines, such as Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat, and Gema Islam.
Membuka wawasan tentang sejarah Indonesia, bagaimana panji-panji islam ditegakkan di Indonesia, serasa merasakan bagaimana perjuangan orang-orang di masa lampau. Suka duka mereka. Bagaimana islam di sumatra, jawa, madura, makassar , bagaimana majapahit , dijelaskan juga tentang tasawuf dan wahabi . Membaca ini itu kayak membaca suatu hal yang ga diterangkan di buku-buku pelajaran sekolah. Ooh ternyata begini, ternyata begitu. Siapa saja orang2 besar pahlawan kita. Intinya membaca ini jadi lebih menghargai jasa mereka,lebih mencintai Indonesia, teladan dari mereka yang sangat berjuang demi agama Allah tetap tegak dan banyak sekali pelajaran yang dapat diambil.
Bahasanya hidup, membangunkan antusias seseorang yang berminat akan sejarah. HAMKA menguraikan penjelajahannya menggali tanah airnya yg secara bersamaan berpedoman pada agama yg diyakininya. Bisa dikatakan sasuatu antitesa dari sejarah kita yg semakin menampakan tendensi menghapuskan peranan Islam dalam sejarah nasional.
1/ Hamka bukan sekadar mensharahkan sejarah tetapi membetulkan pembacaan terhadap sejarah. Dia tidak membuat kajian baharu tetapi mengajak kita melihat dari kaca mata yang betul terhadap bahan-bahan sejarah yang sedia ada. Dia membantu kita meluruskan peristiwa yang telah banyak terpesong, tokoh yang digelapkan, hakikat sebenar sesuatu peristiwa dan pelajaran yang sepatutnya kita ambil daripadanya. Mungkin ada sesetengah fakta dan susur masa boleh diragukan tetapi Hamka telah membuka pintu untuk kita masuk dan melewatinya dengan pandangan yang betul.
2/ Hamka memberi satu pandangan yang menjernihkan tentang sejarah dan kaitannya dengan tasawwuf, terutama sekali bila banyak hikayat-hikayat kita menulis perkara yang dianggap 'tidak masuk akal' seperti masuk dalam peti kaca (Raja Suran) dan pendewaan kepada raja yang Hamka jelaskan kenapa dan bagaimana ia menjadi. Secara tidak langsung Hamka berjaya membersihkan pandangan-pandangan pihak yang mengatakan karya persuratan kita seperti itu: penuh tahyul dan terlalu mengagungkan raja.
3/ Pada bahagian penutup buku ini, Hamka membuat satu timeline atau susur masa perjalanan sejarah kita yang dimulakan dengan pengajian/perbahasan fiqh kemudian kalam dan tasawwuf. Perjalanan ini menunjukkan bahawa kita ada satu tradisi keilmuan yang mencakupi segenap perkara yang akan menjadikan kita betul-betul seorang insan yang sempurna jika kita betul-betul memilihnya.
Sebuah uraian sejarah yang coba diungkap oleh Buya Hamka, melalui sudut pandang yang jauh berbeda dari sejarah yang terdapat pada buku pelajaran kita di sekolah. Beliau fokus pada perkembangan sejarah Islam di Nusantara yang tidak dapat dilepaskan dari berdirinya Negara Republik Indonesia. Melaui kisah Kerajaan-Kerajaan Islam, Buya menguraikan bahwasanya Islam masuk ke Nusantara bukanlah pada abad ke 12 seperti yang umum kita baca, namun jauh lebih awal yakni pada abad pertama lahirnya Islam itu sendiri, sekitar abad ke 7 M.
Lebih jauh lagi Buya mencoba menguraikan kejayaan Bangsa di Nusantara saat masa kerajaan Islam, memiliki wilayah kekuasaan yang jauh berbeda dengan batas negara di Asia tenggara yang kita ketahi saat ini. Sehingga kita mampu memahami bahwa Indonesia dengan Negara Lain di Asia tenggara memiliki hubungan persaudaraan yang erat dan sudah seharusnya memiliki kerjamasa yang positif sebagai bangsa serumpun.
Disisi lain kita diajak untuk bepikiran luas sebagai sebuah bangsa, tidak terlauh jauh menonjolkan satu identitas suku, atau wilayah. Namun kita satu bangsa besar yang punya kelebihan pada berbagai wilayah yang harus dihargai bersama. Mulai dari kerajaan Islam di wilayah Barat, Pasai, Malaka, Siak, Aceh, Bantam, Mataram, Demak, hingga ke timur seperti Ternate, Tidore, Makasar juga perjuangan berbagai Daerah dan etnisnya : Minangkabau, Bugis, Jawa, Melayu, Madura, Aceh dan lainnya. Disini kita memahamai akan kayanya nusantara dengan pahlawan yang meperjuangkan bangsanya.
Benarlah kata orang bahwa sejarah adalah milik para pemenang dan sejarah diciptakan untuk kepentingan yang berkuasa. walau Buya Hamka sendiri belum dikatakan sebagai seorang ahli sejarah, namun beliau telah mencoba ikut membuka rahasia sejarah Bangsa di Nusantara melalui sudut pandang anak bangsa sendiri untuk kepentingan bangsa-bangsa di Nusantara.
Membaca 'Dari Perbendaharaan Lama' membuat saya sadar akan sejarah yang selama ini masih tersembunyi. Diantara fakta yang cukup menarik yang bisa saya dapatkan dari buku sejarah karya HAMKA ini adalah fakta tentang keruntuhan Majapahit. Selama ini kita menganggap majapahit runtuh oleh ekspansi kerajaan islam, padahal nyatanya bukan.
Selain itu, HAMKA juga menuturkan tentang Wahabi di Indonesia. Ternyata Wahabi adalah penggerak yang ditakuti oleh kompeni Belanda karena penentangannya terhadap penjajahan. Wahabilah yang menjadi sebab Indonesia bertahan dari penjajahan.
Sayang, buku ini terlalu berat bagi saya karena gaya penuturan klasik.
Sebuah buku yang meninjau sejarah bangsa dengan melihat cerita epic dan kepahlawanan dari putera terbaik bangsa, yang menunjukan bahwa inilah sejarah bangsa yang besar yang sengaja hendak di kecilkan oleh sekelompok golongan.
Bangsa ini besar dengan peran pahlawan-pahlawan besar yang kerap tidak dijumpai di buku-buku sejarah. tetapi jasa mereka tetap dikenang oleh sebagian orang hingga tersebarlah dari mulut ke mulut. Ini bukan sekedar apologi belaka.
Ini pula yang ingin Buya Hamka jelaskan di buku ini, bahwa nampak pada hari ini, kita lihat kenyataan bahwa zaman sekarang merupakan refleksi dari zaman lampau. sehingga mempelajaari sejarah berarti mempelajari asal usul mengapa hari ini seperti ini. apatah ada lagi yang menyampaikan bahwa “Sejarah itu berulang, hanya tokoh, tempat dan waktu saja yang membedakannya” semakin menguatkan rasa optimisme bahwa kelak kejayaan dan peradaban akan berada di tangan kita.
Sejarah pun akan kembali kepada asal usulnya. walaupun ditutup-tutupi dan tidak di publis, pada saatnya sejarah akan mencari kebenarannya sendiri. dan dengan sendirinya klaim yang mengatakan “Sejarah adalah milik para pemenang” akan terdegrradasi. karena yang menang, bukanlah pemilik mutlaq sejarah. yang menang hanya karena keberuntungan momentum yang sedang berada di pihaknya. bahwa sejarah pun mungkin dipunyai oleh mereka yang di klaim sebagai pihak yang kalah.
Membaca “Dari perbendaharaan lama”, terasa sangat berbeda ketika saya (harus) mendengarkan guru sejarah SMP atau SMA. ini lebih menarik karena dilandasi oleh semangat mengungkap fakta sejarah. benar-benar menggetarkan hati dan fikiran.