Sehabis menyelesaikan buku ini, saya termenung cukup lama. Bukan karena begitu tenggelam dengan ceritanya, tapi saya berusaha mencernanya. Mungkin saya akan menyebut buku ini sebagai buku "tanggung"....
Jujur, ketika menyelesaikan halaman terakhir, saya jadi berpikir sebenarnya inti dari buku ini apa, sih? Membaca blurb-nya, saya kira buku ini akan lebih menjabarkan perjuangan mencari kebahagiaan sekelompok wanita. Atau, persaingan media sosial untuk menunjukkan siapa yang paling bahagia. Bukankah dari judulnya memang seharusnya begitu?
Tapi, nyatanya, buku ini lebih fokus ke penyelesaian luka lama 17 tahun lalu yang menimpa Mi Ho, Se Kyeong, dan Yoo Jin. Bahkan "plot twist" di akhir yang mengungkap identitas Yoo Jin sebenarnya malah membuat saya mengernyitkan dahi. Plot twist yang diberikan penulis malah semakin membuat begitu banyak plot-hole dalam cerita ini bagi saya. Malah membuat saya makin bertanya-tanya, semakin membuat segala sesuatu di dalam cerita ini tidak masuk akal.
Saya mengerti, sih, motivasi Mi Ho menyelidiki kematian di apartemen High Prestige adalah untuk "menyembuhkan" luka lamanya. Tapi, mengingat "plot twist" yang disuguhkan, apakah luka tersebut benar-benar sembuh di akhir? Bukannya malah menumbuhkan "luka" baru lagi bagi Mi Ho? Lalu penyelesaiannya bagaimana? Apakah bisa hanya dengan kata-kata "Mari kita tidak lagi menyalahkan diri sendiri, mari kita bersedih dan berkabung bersama?". Maksud saya, dengan tewasnya Yoo Jin saja, Mi Ho yang memang sudah dihantui perasaan bersalah bertahun-tahun harus membangkitkan luka lama lagi, apalagi ketika ia mengetahui "plot twist" yang sebenarnya? Bukankah ia tidak semakin merasa bersalah?
Karakter Mi Ho bukanlah karakter yang saya sukai. Dia pengecut, tidak memiliki keberanian untuk melawan ketidakadilan yang dimilikinya. Penyesalan yang dirasakannya sungguh terlambat dan tidak ada jalan keluar untuk penyelesaiannya. Jika kalian sudah tau "plot twist" yang dimaksud, kalian akan semakin membenci Mi Ho dan semakin bersimpati dengan Yoo Jin.
Sepertinya penulis keliru membangun cerita sedemikian rupa di buku ini untuk menuju "plot twist" yang dimaksudkan. Plot twist yang ada malah membuat keseluruhan cerita di halaman-halaman sebelumnya tidak berarti. Jadi, apa yang didapatkan Mi Ho dari penyelidikannya? Sungguh tidak bisa saya rasakan. Apalagi, esensi penderitaan yang dialami Na Yeong? Jeong Ah? Ji Ye? Banyak sekali karakter yang sebenarnya tidak perlu ada, ditambah penjabaran yang bertele-tele ke sana kemari, apabila tujuan penulis ya hanya demi perjuangan Mi Ho menyelesaikan luka lama dan berdamai dengan dirinya sendiri.
Selain motivasi dan tujuan cerita yang bagi saya masih blur, saya juga kurang bisa menikmati penuturan cerita di sini. Terlalu banyak kalimat repetitif, walaupun harus saya akui buku ini cukup page-turning (ya lebih seperti karena saya penasaran saja sih, walau berujung kecewa). Kalimat deskriptif yang terlalu repetitif ini membuat mata saya gerah dan melompat-lompat ke bagian yang ingin saya ketahui saja.
Untuk plot hole, saya tidak akan bahas terlalu banyak karena takut spoiler. Sebenarnya kalau "plot twist"nya bukan seperti itu, plot hole tidak akan terlalu banyak. Tapi karena plot twist-nya memaksakan, plot hole jadi semakin banyak saja. Cerita juga tidak ditamatkan dengan jelas, saya sebenarnya kurang suka buku yang terlalu menggebu-gebu di awal namun tanggung di akhir seperti ini. Malah, membuat yang baca termenung di akhir bukan karena tenggelam dalam cerita atau simpati pada karakter, namun karena berusaha mencerna "hah?".
Isu yang diangkat dalam buku ini sebenarnya menarik, seandainya saja bisa dikemas lebih baik. Tentang sisi gelap seorang ibu terhadap anaknya, yang membubuhkan luka dan trauma masa kecil hingga anak tersebut dewasa - yang kemudian sangat mempengaruhi anak itu nantinya dalam kehidupannya saat beranjak dewasa. Pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur yang mana orang-orang menutup mata demi kepentingan mereka sendiri. Tuduhan tak berasas kepada seseorang yang asal saja mereka tunjuk demi keamanan mereka sendiri. Dunia yang sesungguhnya sangat relate dengan realita yang menyedihkan dan menyeramkan.
Sebenarnya inti dari buku ini dan yang dimaksud dengan judul "Happiness Battle" adalah perjuangan Mi Ho dalam mencari kedamaian, ketenangan, dan kebahagiaannya. Ia tidak pernah bahagia selama ia hidup akibat tekanan dari ibunya serta kejadian tujuh belas tahun yang lalu. Kisah ini lebih fokus kepada dirinya yang berusaha menyembuhkan lukanya sendiri.
Yang saya suka, mungkin buku ini sedikit menyindir tren penggunaan media sosial untuk pamer kebahagiaan, kamuflase hal-hal buruk yang mungkin terjadi dalam hidup seseorang. Media sosial sekarang dimanfaatkan untuk ajang pamer kehidupan dan membandingkan kehidupan siapa yang lebih baik. Dan kebahagiaan itu semu. Hanya sebatas di balik layar kaca. Seperti di buku ini. Kita tahu apa yang terjadi di balik semua postingan penuh kebahagiaan yang membuat orang iri dengki tersebut.
Tapi, ada kata-kata yang membuat saya terngiang dalam buku ini.
"Kita tidak perlu memastikan diri kita semakin bahagia, kita hanya perlu menghancurkan kebahagiaan orang lain."