"Kelewat pemilih sih!" "Kepinteran, mana ada yang berani deketin?" "Karier mulu, akhirnya nggak laku, kan?"
Di usia akhir dan jelang tiga puluhan, empat perempuan single berjuang untuk mengganti status KTP mereka menjadi "kawin". Sang entrepreneur Joana Rompies, postdoctoral candidate Dr. Jessica Winoto, Bu Dosen Choirunnisa Chalid, dan Mbak PNS cum influencer mukbang Hanum Ikkhlasia adalah mereka yang mengemban cap sebagai "perawan tua" yang "pemilih", "kepinteran", dan "terlalu mandiri". Bersama, mereka berupaya menjawab definisi "settling down" sambil sesekali melemparkan kritik untuk tuntutan keluarga, stereotipe gender, dan stigma masyarakat lewat cara-cara yang mereka kenal: menertawakan diri sendiri, menganggap biasa hal yang absurd, dan tentunya, online dating apps!
Margareta Astaman selalu punya mimpi gila: Dia ingin hidup sebagai tukang cerita. Sebuah pekerjaan idealis yang bahkan tidak bisa didefinisikan dalam KTP.
Bocah yang akrab dipanggil Margie ini sudah tergila-gila pada mengarang, bahkan sebelum dia bisa membaca. Bungsu dari tiga perempuan bersaudara kelahiran Jakarta, 14 Desember 1985 ini suka berjalan bolak balik bicara sendiri tentang cerita yang dia karang, usai mendapat inspirasi dari buku yang dibacakan ayahnya. Belajar menulis adalah satu hal yang dia sangat syukuri sebagai bocah karena dengan semangat ambil untung yang tinggi, dia bisa menjual coretannya pada nenek dan tante.
Menjelang remaja, Margie sempat setuju bahwa insinyur adalah profesi yang lebih penuh kepastian sehingga mengambil jurusan IPA di SMU Santa Ursula, dan bahkan sempat ikut pelatihan Olimpiade Biologi. Namun saat Margie mendapat pelatihan jurnalistik pertamanya, dia kembali teringat akan mimpi gilanya: menjadi seperti ‘tukang cerita’ Lima Sekawan, Enid Blyton.
Gadis yang menguasai bahasa Inggris, Perancis , Mandarin (dan tentunya Indonesia ) ini kemudian mulai aktif mempublikasikan tulisannya di majalah dan publikasi lain. Setelah lulus dengan predikat ‘teladan’, Margie memutuskan untuk semakin menggilai mimpinya dengan melanjutkan studi ke fakultas Jurnalisme Nanyang Technological University, Singapura.
Di sana, Margie menjadi penulis sekaligus project manager bagi majalah sekolahnya serta membuat dan mendesain portal jurnalisme bernama Journalism Wiki (www.world-journalism.org).
Kegilaan Margie bercerita semakin menjadi ketika dia mengenal alat story-telling yang luar biasa ampuh: kamera. Dunia fotografi telah membantunya memuaskan hobi lain, yaitu jalan-jalan gratis. Dengan modal kamera pinjaman, Margie telah melanglang berbagai negara, menjadi kontributor untuk kantor berita kawat Reuters, Majalah hidup dan mengadakan pameran di Asian Civilizations Museum, Singapura.
Margie bahkan yakin dia bisa gila betulan jika tak bisa lagi bercerita. Maka ketika ia kehilangan pendengar setianya, Margie terpaksa memulai blog http://margarittta.multiply.com, alat bercerita dunia maya yang juga telah membuahkan sebuah buku kumpulan blog berjudul ‘Have a Sip of Margarita.’
Margie kini memuaskan obsesinya bercerita lewat pekerjaannya sebagai Country Editor untuk MSN Indonesia dan Lifestyle Editor untuk MSN Singapura. Dia juga adalah blogger tamu untuk Kompasiana dan blogging mentor bagi pemegang beasiswa dari program Beswan Djarum, memacu setiap orang untuk mengingat apa yang selalu jadi perhatiannya, dan menggilainya bersama.
Buat yang butuh bacaan ringan dan menghibur, menurutku buku ini adalah buku yang tepat! Bukunya page turner karena menurutku seru aja mengikuti 'petualangan' tokoh-tokohnya dan penokohannya menurutku juga oke. Tiap tokoh punya karakter masing-masing yang kuat.
Buku ini bercerita soal 4 orang sahabat namanya Jo, Hanum, Jess, dan Icha. Keempatnya memiliki latar belakang dan usia yang berbeda namun punya 1 kesamaan yakni masih belum menikah di usia yang (menurut masyarakat) sudah ketuaan untuk melajang. Keempatnya juga memiliki profesi berbeda, tapi yaa nyambung-nyambung aja satu sama lain. Masing-masing punya permasalahan terkait percintaan yang ternyata ga bisa selesai begitu aja.
Misalnya, Icha. Dia punya pacar posesif banget namanya Ario. Hubungan mereka toxic banget hingga akhirnya Icha berhasil lepas dan bertemu dengan Dhito—sosok yang bagi Icha kyk prince charming. Apakah hubungan mereka berjalan lancar? Nggak. Atau mungkin Jo, si cewek entrepreneur perusahaan konstruksi yang independen. Setelah menjadi pengguna aktif tinder sekian lama dan 'alergi' terhadap komitmen, Jo luluh pada satu cowok. Lalu gimana kelanjutannya? Yaaaa begitu deh. Jess dan Hanum juga memiliki kisahnya masing-masing. Buku ini bercerita dari sudut pandang orang ketiga dan bergantian gituu, jadi kita akan tau cerita keempat sahabat ini. Terutama dalam perjalanan mereka menemukan jodoh—sampai ke 'orang pintar' loh😅
Buku ini seru sihh menurutku! Berhasil menggambarkan fenomena di masyarakat dengan baik dan lucunya juga ga maksa. Interaksi para tokohnya juga menghibur banget, seperti Jo yang sering mengeluarkan celetukan berbahasa Medan terlebih ketika berinteraksi dengan keluarganya. Namun, secara teknis menurutku ada beberapa yang perlu dibenahi sihh, misalnya masih ada typo dan mungkinn baiknya ada footnote translatenya sih utk bahasa inggris serta bahasa daerah di beberapa percakapan.
Recommended? Menurutku iya! Harus coba baca sihhh~ apalagi buat yang suka metropop
“Gue kurang apa sih kok nggak ada cowok yang mau macarin gue?”
Ketika aku putus terakhir kalinya usia 26 tahun, salah satu kekhawatiran yang muncul tentu perihal bakal ada yang mau nggak ya sama aku?
Some of you might know me from social media. Gimana aku cukup progresif, dengan berani bilang nggak mau punya anak & pengin punya penghasilan sendiri. Belum lagi seabrek aktivitasku di luar kantor.
Being independent, smart, & badass in the same time rupanya dirasakan juga oleh 4 sahabat: Jo, Jess, Icha, & Hanum. Di atas kertas mereka nggak kurang satu apapun. Mereka bisa menjadi partner hidup yang seru. Sayangnya, selalu ada hal yg perlu disembunyikan agar ego lelaki nggak terluka karena pencapaian mereka (asli, ini konyol).
Jess diminta maminya buat nggak bilang kalau dia sedang S3. Jo “dipaksa” pindah industri dari kontraktor ke kuliner, Icha “harus” tunduk pada aturan posesif kekasihnya.
Mereka berempat kecapekan dirongrong tekanan sosial bahwa usia 30an sudah kudu nikah. Demi menyenangkan hati semua orang, yasudahlah coba beragam cara. Mau yang biasa saja atau modern? Mereka jajal semuanya!
Keseruan petualangan The Overqualified Leftover Club dibalut dalam bahasa yang renyah khas warga Jaksel. Tapiii, yang jadi pembeda TOLC dengan novel metropop nge-hits lainnya adalah keindonesiaan masing-masing tokoh beserta aturan adatnya.
Jo yang berdarah Manado-Ambon kadang melempar gurauan dengan bahasa Manado. Sedangkan Jess yang merupakan peranakan Tionghoa harus mau dijodohkan dengan lelaki dari suku tertentu oleh maminya. Belum lagi Hanum yang orang Minang dan Icha yang sangat nJawani.
Barangkali itu yang bikin aku betah menyelesaikan TOLC dalam sekali duduk 🤣 Campuran antara pesan moral dengan guyonan satir terjalin dengan rapi. Nggak dipaksakan sama sekali.
Empat orang perempuan, usia dan latar belakang berbeda. Tapi mereka memiliki kesamaan, harus segera menemukan calon suami.
Jess, doktor lulusan UK, didesak maminya untuk segera menikah. Segala macam upaya dan jalur perjodohan dijalani Jess, tapi dia belum juga menemukan pasangannya. Ketika Jess mengikuti ajang perjodohan senilai tujuh juta rupiah, dia merasa menemukan pria impian. Tapi kok cowok itu nggak membalas pesan dan telpon Jess?
Jo, pengusaha konstruksi baja. Dia menikmati waktu lajangnya sambil sesekali kencan dengan pria yang ditemuinya via aplikasi. Suatu waktu Jo terkena Covid, dan dirawat oleh dokter yang juga teman lamanya. Kedekatan mereka membuahkan hasil. Hanya saja Jo tiba-tiba dihadiahkan kursus bisnis makanan dan diminta berpindah agama.
Icha, putri dari pemilik pesantren yang terkenal. Pacarnya, Ario, adalah cowok posesif dan toxic. Padahal Icha seorang dosen yang mengajarkan tentang kesetaraan gender. Sekarang dia kewalahan dengan tingkah Ario setelah memutuskan cowok itu.
Hanum, yang termuda dari keempatnya. Seorang PNS dan content creator kuliner halal. Meski belum memikirkan tentang jodoh, tapi tidak ada salahnya mencari kekasih untuk menjadi pacarnya.
Perjalanan keempatnya mencari jodoh lumayan seru. Rangkaian kisah keempat perempuan ini menarik untuk dibaca, page turning. Dan saya suka dengan epilognya, bahwa bukan hanya pernikahan yang bisa dirayakan.
Realistis banget memanng cerita Jo, Jess, Icha dan Hanum ini. Menjadi Perempuan yang mandiri, pintar dan berhak menentukan hidupnya sendiri itu tetap sampe sekarang dianggap perawan tua, terlalu berlebihan, dll.
Bahkan di tahun 2023. Ah...begitulah... Semoga makin banyak perempuan yang mampu menjadi dia yang berhak atas hidup dan tubuhnya sendiri, gak harus mengikuti kata orang, tau apa yang dia mau, bukan selalu diburu menikah karena usia.
Buku ini tentang para wanita macam saya. Yang belum bisa memenuhi kriteria wanita sempurna menurut norma sosial hanya karena mereka belum menikah. . Ada dua tokoh yang saya relates banget: Jo, pengusaha baja sukses, diusia hampir 40 tahun dianggap perawan tua yg kerja cuma maiiiinn. Hanya krn suka swipe di situs kencan. Dan malas berkomitmen. . Jess, mahasiswi postgraduate dari universitas ternama di UK, terpaksa ikut segala macam ruwatan enteng jodoh dan dianggap jadi perempuan terlalu keminter membuat para lelaki ketakutan. . Tidak mudah memang mengubah norma sosial yang sudah dipercaya selama berabad-abad. Sama susahnya dengan menemukan lelaki yang bisa “mengatasi” perempuan macam ini. . Jangan berharap ada kisah cinta cinderella diakhir novel. Patah hati sekali tidak sertamerta dibalas dengan cinta manis mendayu-dayu. Dalam hidup, sayangnya patah hari sering terjadi berkali-kali. . Cinta sejati, mungkin hanya cinta pada diri sendiri. Itu yang penting. . Mungkin sudah saatnya menulis kisah sendiri?
"Perempuan menghadapi hal seperti ini terus-menerus, dipertanyakan kemampuannya, seumur hidupnya."
Aku suka bagaimana Kak Margareta Astaman berusaha empowering para perempuan dengan novel ini, menyiratkan pesan bahwa menjadi wanita seutuhnya itu adalah wanita yang sudah bahagia dan merasa cukup, tidak perlu dipaksakan untuk mengikuti norma sosial. Ceritanya khas novel metropop, ringan dan mengalir begitu saja tanpa ada plot cerita yang berat atau membingungkan.
Namun, sayangnya aku tidak bisa bersimpati secara penuh kepada para tokoh utama karena kurangnya pendalaman karakter. Selain itu, aku juga merasa bahwa beberapa adegan di dalam novel tidak tersampaikan dengan baik karena suasana kurang dibangun sehingga sering kali aku merasa hampa saat membaca buku ini.
Perempuan. Usia menjelang atau melewati 30 tahun. Belum menikah. Apa salahnya?
Kita akan mengikuti perjalanan Jess, Jo, Hanum, dan Icha sebagai anggota dari Overqualified Leftover Club dalam upaya mencari, bahkan menemukan cinta … yang urusannya nggak sesederhana jatuh cinta, hanya aku dan dia, apalagi di Indonesia.
Poin lebih untuk keterwakilan perempuan Indonesia yang digambarkan sangat jelas. Pun dengan adegan-adegan kocak (namun nyebelin buat tokohnya) yang terkesan sengaja dipilih untuk membuat pembaca ngakak.
Membaca karya kesembilan dari Margie seolah mengajak para perempuan single untuk merayakan keutuhan diri sambil tertawa bersama-sama.
Perfect. Its about their journey to find someone who fit into their life. Usaha mereka, semua yang mereka lalui sampe in the end kita masih nebak nebak siapa endingnya sama siapa, tapi malah dikasih tau that this jouney its not only about love, tapi juga prinsip, jati diri, dimana mereka berpijak, batasan mereka, dan apa yang sebenernya mereka inginkan dari sebuah pasangan. A wonderful ride ever!!!!
This entire review has been hidden because of spoilers.
Buku yang sangat ringan untuk dibaca dan komedinya segar. Kisa persahabatan perempuan yang belum menikah, saling menguatkan, dan saling support dalam menghadapi laki-laki yang masuk ke dalam hidup mereka dan cibiran orang-orang di sekitarnya karena belum menikah.
Beberapa adegan agak membingungkan, tapi bisa dilupakan. Tipe bacaan yang tidak perlu di-overthink, nikmati saja ceritanya.
Membaca novel ini berasa sedang membaca tentang kisah hidupku, hehe. Jess, Jo, Hanum, dan Icha, 4 sekawan overqualified dan sudah berumur [berdasarkan stigma masyarakat] adalah sekumpulan wanita yang sedang mencari jodoh. i feel you so much.
Novel ini bercerita sekaligus menampar bagi masyarakat yang patriarki, menjadikan wanita hanya sebagai komoditas, namun bersamaan dengan itu serasa dipeluk bagi para wanita pencari jodoh di usia matang, karena kamu nggak sendirian di umur sekian belum menikah. Still, you Go, girls!!
Ketika pria berusia matang, berpendidikan tinggi, doktoral, atau kerja di start up, menjadi CEO, dan belum menikah, dianggap keren dan jadi idaman para wanita. Namun, sebaliknya. Jika wanita berpendidikan tinggi, doktoral, menjadi CEO di perusahaannya, dan berusia matang, dicap sebagai perawan tua, dibilang makanya jangan pilih-pilih, sok mau ngalahin pria, kalau kepinteran nggak ada pria yang mau.
Nah, begitulah living with this society dan novel menceritakan wanita-wanita yang secara kualitas sangat tinggi: Jess, PhD lulusan oxford, Jo CEO dari perusahaan baja ringan rintisannya sendiri, Icha dosen kajian gender di universitas ternama di Indonesia, Hanum PNS Kementerian dan food vlogger. Namun, sayangnya [beruntungnya] mereka belum bertemu jodohnya.
Novel ini sangat begitu realitis bagiku. Jo yang independent woman dan strong ternyata membutuhkan sosok pria yang bisa memanjakannya. Hanum yang merupakan dosen kajian gender tetapi malah terjebak dengan hubungan yang toksik dan pacar yang overprotective. Jess, seorang PhD lulusan oxford, pintar, dan mempesona ternyata kalau dihadapkan dengan cinta, bisa lupa akan kepintarannya. Serta, Hanum, si food vlogger sekaligus PNS yang menjadi pelaku friendzone. Keempat wanita ini berjuang bahkan sampai mengikuti ritual 6 agama yang diakui negara demi mencari jodoh [baca: demi fit with the suck of this society].
Di sini kita diajak berpetualang dengan menampilkan 4 sisi wanita dan segala dinamikanya. Maknanya tuh dalem tapi penulis bisa mengemasnya dengan santai, fun, dan jokes yang ngena. Beberapa kali aku ketawa dan gemes sendiri dibuatnya. Serta, persahabatan dewasa mereka yang membuat aku merasa seperti dipeluk.
Selain penceritaannya yang aku suka, aku pun suka sekali dengan sampul dan ilustrasi di dalam bukunya. Sungguh merepresentasikan jalannya cerita.
Ending-nya sangat realitis. Apalagi kata-kata di epilognya. Ya, perayaan itu bukan hanya diakhiri dengan pesta pernikahan, tetapi keempat wanita ini bisa menerima, meraih, dan menjalani kebahagiaannya masing-masing.