Hai Farah,
Apa kabar? Berapa usiamu sekarang? Kalau kamu membaca surat ini sekarang, usia saya sudah jauh lebih tua dari kamu. Mungkin kira-kira kita berbeda 18 tahunan ya. Saya seusia guru-guru kamu di sekolah saat ini. Iya, gurumu yang cantik itu, siapa namanya? Aduh kok saya lupa. Itu loh, yang sepupuan dengan Bapak Darnius guru seni lukis. Yaa, kira-kira saya sudah mirip seperti dia lah. Cantiknya.
*uhuk* *batuk-batuk*
Menyenangkan sekali, Farah, menjadi orang dewasa itu. Kami bisa tidur jam 2 pagi, kemudian menonton apa saja yang kami mau di televisi. Iya betul. Jam 2 pagi.
Tapi kami juga akhirnya mengantuk kok di tempat kerja kami di pagi hari :D
Oh, di dunia kami sekarang sudah tidak ada lagi acara Dunia Dalam Berita jam 9 sampai 9.30 yang selalu memotong jam tayang film yang sedang kamu tonton itu.
Masih tidak suka sama acara Dunia Dalam Berita? Sayang sekali, padahal itu lumayan penting lho. Minimal kamu jadi tahu apa yang terjadi di negara lain. Iya sih, emang bosenin. Bikin ngantuk. Makanya kamu selalu ngga berhasil melanjutkan nonton film yang terpotong itu, kan? Soalnya kamu besok harus bangun pagi untuk sekolah lagi. Kalau memaksakan diri untuk nonton, kamu baru bisa tidur jam 10.30, dan besok pagi kamu pasti ngantuk seharian di sekolah.
Loh?
Saya sudah mengoceh panjang lebar, tapi belum memperkenalkan diri ya?
Saya Farah. Iya, nama kita sama. Tanggal lahir kita juga sama lho. Tapi bedanya, saya lebih tua daripada kamu. Saat ini, kamu boleh deh menganggap saya kakak kamu. Kamu kan selalu ingin punya kakak perempuan? :)
Bagaimana si bawel Fira? Harusnya dia sekarang kelas 2 SD ya? Apa kabar juga Mama dan Papa? Apa kabar Ibu dan Bapak? Bahagia ya, Farah, saat bisa berkumpul dengan mereka semua :)
Amatilah baik-baik bagaimana Bapak selalu mempersiapkan dirinya sendiri sebelum waktu shalat Jumat tiba, Farah. Hiruplah dalam-dalam harum minyak wanginya yang selalu kamu suka itu. Dengarkan suaranya lamat-lamat, tatap matanya, berikan pelukan setiap kali mau berkunjung ke rumahnya.
Perhatikan baik-baik bagaimana Ibu memasak di dapurnya yang mungil itu. Nikmati setiap gigitan dari masakan yang ia buat untukmu. Iya, saya tahu, susu yang dia buatkan untukmu selalu kemanisan. Tidak apa, tidak perlu cemberut. Bagi dua saja di gelas yang lain, lalu mintalah untuk dituangkan sedikit air panas. Ya?
Ingat lah itu semua, simpan baik-baik di dalam kepalamu. Suatu hari, semua itu akan jadi kenangan berharga bagimu saat kamu dewasa.
Saya sudah tidak lagi memiliki kakek dan nenek seperti kamu, Farah. Kakek dan Nenek saya sudah meninggal dunia. Kamu beruntung :)
Apa Farah masih takut tidur sendirian di kamar dengan lampu dimatikan? Apa masih harus ada mama yang menemani hingga kamu tertidur, setelah itu, baru mama boleh pindah ke kamarnya sendiri? Tidak apa-apa. Nanti juga kamu belajar jadi berani. Nikmati saja masa-masa dimana kamu bisa memeluk mama sambil tertidur. Saya sudah jarang sekali bisa memeluk mama saya hingga tertidur. Kadang saya merindukan masa-masa saya bisa bercerita kepada beliau tentang apa saja sebelum kami tertidur.
Kamu masih takut berenang kah?
Saya beritahu satu rahasia kecil, mau? Lemak dan air tidak berteman. Lemak akan selalu mengapung di permukaan air. Dan tubuh kita bukan batu. Kita punya lemak yang bisa membantu kita tetap mengapung di permukaan air. Tapi tentu saja kamu harus mau menggerakkan kaki dan tanganmu. Jadi jangan pernah takut tenggelam, ya? Belajar saja pelan-pelan. Mama atau Papa bisa mengajarimu kok.
Dulu saya juga sama seperti kamu, saya takut menyentuh alat-alat elektronik. Karena saya juga takut kesetrum. Tapi saya punya cara sendiri untuk belajar bagaimana caranya supaya tidak kesetrum. Saya akan menggunakan alat bantu seperti ujung pensil untuk menyalakan lampu kamar, atau lap kering untuk memasang colokan kabel tv ke tempatnya.
Coba tanyakan pada Bapak, dimana tempat-tempat yang amat untuk memegang dan menyentuh alat-alat elektronik itu tanpa harus takut tersetrum. Bapak adalah ahli listrik yang hebat, lho. Kamu tahu itu kan?
Farah, saat ini seharusnya kamu sudah mulai bertanya-tanya, siapa saya, dan kenapa saya menuliskan ini kepada kamu. Saya tahu kamu punya banyak sahabat pena. Dan kamu akan sangat senang sekali kalau sahabat penamu itu mengirimkan surat ke kantor pos sekolah. Nah, saya adalah salah satu sahabat pena kamu sekarang. Saya mungkin akan beberapa kali menulis kepadamu. Tapi sayangnya, kamu tidak bisa selalu membalas surat saya ini. Karena katakanlah, saya tinggal berpindah-pindah.
Tapi kamu mau janji satu hal?
Kamu boleh tuliskan surat balasan untuk saya di buku harianmu. Tuliskan semua yang ingin kamu ceritakan kepada saya disana. Saya tahu kamu mulai suka menulis buku harian akhir-akhir ini. Nanti kalau kita bisa bertemu, kamu bawa ya, buku harian itu. Saya akan membaca semuanya, saya janji.
Saya tahu kamu ingin cepat-cepat jadi orang dewasa dan cepat-cepat jadi cantik.
Tenang saja, Farah. Nanti juga kamu akan cantik dengan sendirinya. Coba lihat Mama. Mama cantik kan? Nanti kalau sudah dewasa, kamu akan seperti dia. Jadirasanya, tidak apa-apa untuk sering main di luar rumah sepulang sekolah. Asal jangan lupa pulang setiap jam 4 supaya kamu bisa mandi sebelum pergi ngaji.
Tidak apa-apa untuk takut sesekali, Farah. Seperti kalau kamu belum selesai menghapalkan surat-surat pendek untuk pelajaran Agama Islam, atau pasal-pasal di UUD 1945 untuk pelajaran PMP. Tapi yang tidak boleh itu, lari dari tanggung jawab. Kalau kamu tidak masuk cuma karena kamu takut gurumu akan marah karena kamu tidak selesai menghapalkan, kamu yang rugi. Tidak bisa ikut pelajaran musik, olahraga, menggambar, tidak bisa jajan, tidak bisa ketemu teman. Iya kan? Mama selalu mau membantu untuk menghapalkan itu semua. Makanya tulis semua peermu di buku penghubung. Jangan sampai lupa.
Satu lagi, jangan pernah ragu-ragu untuk minta maaf kalau kamu tahu kamu sudah berbuat salah. Karena itu adalah hal yang paling benar untuk dilakukan. Setelah itu, kamu boleh bertanya bagaimana cara memperbaiki kesalahanmu itu. Setiap kesalahan pasti bisa diperbaiki, cepat atau lambat. Ya?
Saya tidak bisa menulis terlalu banyak hari ini. Tapi saya akan mengirimkan surat lagi kepada kamu. Mungkin kalau kamu sudah agak besar nanti. Tetap sayang pada adik dan orang tuamu, ya?
Salam sayang, Farah.
Catatan:
Kalau bisa, surat ini akan saya kirimkan kepada saya yang berusia 9 tahun dan sedang duduk ke kelas 4 atau 5 sekolah dasar :)
Farah kecil takut menyentuh barang-barang elektronik karena pernah kesetrum pintu pegangan kulkas Cosmos di dapur dulu.
Dan tidak cuma itu, adiknya pernah kesetrum pintu pegangan kulkas yang sama, lalu dia berusaha menarik tangan adiknya, lalu dia ikut kesetrum juga, lalu mama berusaha menarik tangan keduanya, lalu mama ikut kesetrum juga. Lalu setelah lepas dari pegangan kulkas yang nyetrum itu, ketiganya menangis sambil berpelukan. Besoknya mama baru memasang kain pelapis di pintu pegangan kulkas itu. Sejak saat itu, dia jadi takut sekali menyentuh alat-alat elektronik.
Tidak ada yang berubah saat saya menuliskan ini untuk diri saya sendiri di masa lalu. Hanya saja 2 orang tersayang yang kini tidak lagi bersama kami.
Kakek saya pergi meninggalkan kami semua pada tahun 1996, dan nenek saya menyusul beliau 12 tahun kemudian.
Ibu, dan Bapak, ketahuilah bahwa kalian selalu hidup di dalam hati dan jiwa saya, hingga hari ini. Dan saya rindu.
Dan saya telah membiarkan buku ini menarik saya kembali ke kehidupan masa kecil yang sederhana dulu. Saya yang belajar dari pengalaman mencoba-coba, yang takut akan banyak hal, yang suka merasa kalau adik saya menyebalkan dan curang, dan saya yang merasa senang akan hal-hal sederhana.