Sudah saatnya kita membongkar persoalan patriarki dengan melihat perempuan dan laki-laki dalam model pendekatan relasional, tidak sendiri-sendiri. Kita tidak hanya perlu mengangkat pengalaman perempuan tetapi juga laki-laki yang satu sama lain tidak bisa dilepaskan. Keduanya bisa membebaskan diri dari ideologi ini, menemukan cara masing-masing untuk menjadi Subjek atas Diri. Percayalah, kita tidak membutuhkan objek untuk menjadi Subjek.
Revolusi feminin baru akan sungguh-sungguh terjadi jika ada revolusi maskulin!
I had unpleasant experience 2 days ago, dan itu karena ideologi kejantanan + pola pikir patriarkal.
Dalam proses membaca Akhir Penjantanan Dunia, aku nggak menyangka harus merasakan emosi marah, kesal, kecewa akibat pelecehan oleh seseorang yang memiliki relasi kuasa lebih tinggi dariku.
Selama aku berusaha mengelola emosi & meresapi perassaan itu, aku juga "unlearning" konsep patriarki yang selama ini rupanya masih aku langgengkan. Well, bu Ester sendiri juga bilang bahwa menggunakan perspektif feminis butuh belajar. Seseorang nggak langsung ujug-ujug punya sudut pandang kesetaraan gender.
Pelecehan yang aku alami terjadi karena adanya ideologi kejantanan yg menasbihkan bahwa dominasi adalah bentuk kekuatan. Bahwa superioritas dianggap sebagai kodrat laki-laki. Bahwa selain laki-laki maka dianggap sebagai makhluk yang inferior--termasuk di dalamnya adalah perempuan.
Bu Ester mengupas sampai membuatku tercengang tentang ideologi kejantanan. Bagaimana ideologi ini membuat laki-laki memiliki privilese untuk berbuat seenak jidat & menghilangkan pengalaman hidup perempuan. Termasuk, mendikotomi perempuan ke dalam trinitas Perawan - Ibu - Pelacur. Dan ketika kamu nggak bisa didudukkan pada salah satu kategori tersebut, kamu adalah orang yang nggak normal. Nggak sesuai dengan standar sosial. Efeknya, kamu nggak bakal mendapat imbalan manis dari masyarakat patriarkal (dicemooh, dialienasi, dilabeli negatif dkk).
Akhir Penjantanan Dunia terasa sekali sentuhan akademiknya. Dengan catatan kaki & perut di sana-sini untuk membantu pembaca memahami pesan. Ada banyak hal baru yang aku sadari & pelajari untuk menjadi manusia dengan perspektif feminis.
Buku ini barangkali akan terasa frontal dan vulgar karena sungguh blak-blakkan dalam menjelaskan "mengapa laki-laki merasa dirinya superior." Tapi, itu yang memang harus dihadapi. Perempuan harus memahami kalau ideologi kejantanan bersifat destruktif.
Entah aku menganggap serentetan kejadian belakangan ini sebagai berkah atau kutukan. Namun yang pasti, aku nggak mau tinggal diam didikte ideologi kejantanan yang sering terlontar dari mulut laki-laki (sok) dewasa.
(Aku mengunggah resensi buku & menuliskan tentang pengalaman buruk itu sebagai bentukku menerima rasa marah, kesal, kecewa terhadap pelaku & para bystander yang memilih untuk tidak menghentikan obrolan seksis tersebut. Seperti kata Offred dalam novel The Handmaid's Tale (Margaret Atwood), "Nolite te bastardes carborundorum. Don't let the bastard grind you down.")
Setelah "Ada Serigala Betina dalam Diri Setiap Perempuan" dan "Beuvoir Melintas Abad", Ester Lianawati kembali dengan karya non fiksi feminisme terbarunya, "Akhir Penjantanan Dunia". Jika diperbolehkan untuk membandingkan dari karya-karya sebelumnya, "Akhir Penjantanan Dunia" seakan menjadi langkah lanjutan penulis setelah mencoba menguji pemikiran pembaca tentang patriarki melalui "Ada Serigala Betina dalam Diri Setiap Perempuan". Beberapa hal terlihat berbeda dari buku-buku sebelumnya. Ester Lianawati kali ini bukan hanya fokus pada perempuan, namun juga menjabarkan tentang bagaimana laki-laki mengalami begitu banyak kerugian karena sistem penjantanan dunia (ideologi dalam budaya patriarki yang menempatkan laki-laki pada posisi superior).
Penulis mengajak pembaca untuk menelusuri keseluruhan buku melalui beberapa bab. Mulai serba-serbi penjantanan, bagaimana dampaknya bagi perempuan, dampak bagi laki-laki, hingga di bagian akhir memberikan tawaran solusi dan perspektif dalam menyikapi kondisi ini. Banyak fakta-fakta yang menantang pemahaman tetap kita selama ini. Misalnya tentang adanya penelitian yang menunjukkan bahwa tinggi badan dan diameter tubuh antara laki-laki dan perempuan tidak jauh berbeda di zaman paleolitik, juga berkembangnya dugaan bahwa adanya perbedaan prioritas pemberian protein pada anak laki-laki dan perempuan di sejumlah negara. Lantas, fakta tersebut menimbulan pertanyaan apakah perempuan lebih lemah secara fisik dibanding laki-laki sejak awal atau justru karena ketimpangan gender?
Penulis juga mencari "asal muasal" ideologi ini hingga bagaimana ia berpengaruh pada kehidupan manusia, baik laki-laki maupun perempuan. Misalnya saja, perempuan dianggap lebih rendah dan kerap kali disalahkan hanya karena mengalami menstruasi, kemampuannya dalam melakukan pekerjaan fisik, hingga munculnya inferioritas karena kepatuhan yang selalu "diwajibkan". Hal itu kemudian membawa begitu banyak dampak pada bagaimana perempuan didikte oleh nilai-nilai lingkungan tentang "baik atau tidaknya" seorang perempuan hanya ke dalam tiga pilihan mengerikan : perawan, ibu, pelacur. Penulis juga mengajak pembaca pada penawaran perspektif tentang feminitas dan maskulinitas yang lebih cair pada diri laki-laki dan perempuan tanpa terikat pada stereotip yang ada selama ini.
Di buku ini, Ester Lianawati juga tampak lebih berapi-api dalam menjabarkan tentang patriarki. Ada rasa kekesalan, kekecewaan, dan kemarahan yang terasa selama membaca buku ini. Siapa sangka, buku non fiksi ini juga berhasil membuat saya tersedu di bagian ketika penulis mencantumkan pesan untuk putrinya, Louve.
"Kubesarkan kau dengan cinta, bukan atas kewajiban. Tiada kewajibanmu mencintaiku. Tiada pula kewajibanmu tuk menyenangkanku. Tak perlu memberiku cucu-cucu nan lucu jika bukan itu yang kau mau. Tak usah masuki perkawinan jika ia mengekangmu. Dengarkan bisikan hatimu, selalu ada harga dari keinginan kita, pilihlah yang terbaik bagimu, Jangan sesali keputusan-keputusanmu, Jangan takut berbuat kesalahan, selama kau petik pelajaran itu."
Buku ini tak terlalu banyak mengajak pembaca menelusuri teori-teori yang rumit, sehingga lebih mudah diterima melalui cara tutur penulis yang tak berbelit dengan contoh-contoh praktis. Sebagai pembaca yang kerap malas menelusuri catatan kaki, untuk buku ini saya justru tak ingin melewatkannya, karena sama pentingnya.
Pada akhirnya, bukan tentang gender, namun kesetaraan bagi semua. Sebagai sesama manusia, semua ingin diperlakukan sebagai subjek yang setara tanpa adanya dominasi. Merdeka memilih keputusan atas dirinya tanpa terikat pada ideologi penjantanan yang kerap justru merugikan baik laki-laki maupun perempuan.
Perubahan akan terwujud selama kita terus bertanya, berpikir ulang, dan meragukan sesuatu. Seperti yang Ester Lianawati kutip dari ucapan Francois Poullain de la Barre, "Manusia seharusnya meragukan semua nilai yang ada dalam masyarakat mengenai inferioritas perempuan inferior dan superioritas laki-laki superior."
Akhir Pejantanan Dunia Psikologis Feminis untuk Pembebasan Laki-Laki dan Perempuan by Ester Lianawati
Tinggal di lingkungan yang konservatif dengan paham patriarki yang kuat bukan hal asing bagi saya. Apalagi sebagai perempuan harus dapat memposisikan diri dengan tepat, jika tidak ingin mendapatkan label yang dianggap tidak layak di mata masyarakat dengan kondisi lingkungan diatas. Pemahaman feminisme yang saya dapatkan dan bagikan masih dianggap ekstrimis dan ironis karna mencoreng kodrat dan citra diri perempuan. Alhasil pengetahuan mengenai feminisme yang saya dapatkan (dari sumber manampun terutama dari buku) hanya saya simpan untuk diri sendiri.
Buku ketiga Bu Ester yang berjudul Akhir Penjantanan Dunia membahas lebih dalam dan jauh mengenai dunia patriaki dan bagaimana pemahaman feminisme bekerja di lingkungan ini (patriarki). Bahwa lingkungan patriarki tidak hanya (banyak) merugikan kaum perempuan tapi laki-laki pun juga mengalaminya. Buku yang sangat bagus untuk dijadikan pedoman wawasan agar dapat lebih berempati khusunya kepada sesama perempuan, bukan sekedar untuk melakukan perlawanan terhadap patriarki.
Dalam buku Akhir Pejantanan Dunia pun tidak hanya mebahas tentang relasi diri dengan kondisi patriarki serta cara konsep feminisme menanganinya namun bagaimana wawasan feminisme dapat membantu kita sebagai individu untuk dapat memahami dan mengenali diri sendiri lebih dalam terlepas dari lingkungan patriarki yang sudah menjadi pengaruh kita tumbuh sedari lama. Serta bagaiamana paham feminisme diajarkan dan diberikan secara bertahap dan perlahan, sehingga pembaca dapat dengan mudah menyerap informasi kaya yang terdapat dalam buku ini.
Dari buku bu Ester saya banyak belajar dan makin paham serta mengenal lebih jauh makna dan arti serta tujuan dari feminisme itu sendiri. Bukan sekedar berdebat mengenai siapa angkat galon, mengapa ada sekat pembagi dalam transportasi publik apalagi mengenai hak dan kewajiban pekerja yang banyak diperbdebatkan karena perbedaan gender. Karena dimulai dari keingintahuan lah yang mengantarkan kita pada keterbukaan wawasan serta pemahaman akan konsep feminisme dan bagaimana cara meresponnya untuk dapat diterapkan dalam kegiatan sehari-hari dilingkungan patriarki.
Buku yang sangat layak, patut dan wajib dimiliki semua orang terlepas dari gender yang membedakannya, karena buku ketiga bu Ester ini mengupas tuntas dari hal mendasar (basic fundamental feminisme) mulai dari mitologi pembangun hingga hal yang kita anggap tabu untuk didiskusikan, karena betul apa kata bu Ester dalam buku ini ”Bahwa Semua yang Dikonstruksi Dapat Diruntuhkan (re: patriarki)”
This is probably the most relatable feminist book I’ve ever read. I have a lot of things to say about this book, tapi kayaknya gak bakal muat kalo ditulis semuanya wkwk.
Melalui buku ini, kita mempelajari ideologi kejantanan (yang terpisah dari gender). Ideologi kejantanan mendorong masyarakat patriarki utk membentuk imaji perempuan menjadi trinitas perawan - ibu - pelacur. This book is really refreshing tbh, terutama ketika saya merasa materi-materi tentang ideologi kejantanan yang dibawakan dalam buku ini cukup relatable karena saya sendiri juga tumbuh & hidup di lingkungan yang patriarki. Dalam buku ini, penulis menegaskan bahwa ideologi kejantanan turut mendorong opresi terhadap perempuan. Perempuan didorong utk “patuh” dan “tunduk” seolah-olah hal itu merupakan kodratnya, padahal seperti gender, kodrat pun juga merupakan konstruksi sosial. Dan yg melakukan opresi ini bkn hanya laki-laki, tapi sesama perempuan pun juga ternyata dibentuk oleh masyarakat patriarki utk menjadi mitra laki-laki dalam mempraktikkan ideologi kejantanan & pandangan misoginis terhadap perempuan lain. Yang menjadi korban dari ideologi kejantanan pun bukan hanya perempuan, namun laki-laki yang dianggap tidak merepresentasikan nilai-nilai kejantanan juga menjadi korban. Di buku ini saya mendapatkan beberapa insights menarik mengenai imaji trinitas yang telah disebutkan di atas tadi.
Saya pribadi menyukai buku ini karena penulis menggunakan data-data yang valid serta mengkaitkan satu fenomena dengan fenomena lain secara rasional. Selain itu, penulis mampu menyingkap psikologi di balik ideologi kejantanan. Yang membuat saya kurang sreg dari buku ini adalah terdapat bbrp bagian ayat Alkitab yang menurut saya diinterpretasikan secara kurang tepat sampai-sampai saya bertanya “Do we read the same Bible? Because I don’t remember seeing this verse before”. Overall, ini adalah buku feminisme yang saya rekomendasikan untuk dibaca siapapun (baik laki-laki maupun perempuan) 👏
Tiga bab pertama membuat saya bertanya mengapa isi dan sampulbuku ini nampak tidak selaras. Isinya mencekam, sampulnya ceria, setidaknya dalam impresi pertama saya. Sampul itu menampilkan sekumpulan orang yang terbang (dan mencoba terbang) dengan raut wajah bahagia dengan latar merah jambu. Ada lelaki, perempuan, ibu yang menggendong bayi, anak perempuan, perempuan muda, perempuan berjilbab, perempuan dengan crop top dan tank top. Menyenangkan sekali melihatnya.
Tapi ternyata saya luput melihat area bawah sampulnya. Ada patung lelaki sixpack dengan penisnya menyembul begitu saja. Patung ini jatuh dari tempat seharusnya ia berdiri tegak. Jadi, sekumpulan orang yang menampilkan gestur kebebasan ini seperti merayakan jatuhnya patung maskulin ini. Di sinilah saya sadar ketika masuk bab keempat yang bertajuk Dari Penindasan Menuju Pembebasan bahwa buku ini menujukan dirinya kepada perdamaian.
Perihal Isi
Akhirnya saya menemukan satu buku feminisme yang adil sejak dalam pikiran. Sebab begitu ia jadi adil dalam laku hidup. Perdamaian yang saya maksud mungkin adalah perdamaian antara dua jenis kelamin yang nampaknya selama-lamanya berseteru dan makin berseteru setelah kemunculan feminisme.
Ester Lianawati dalam pengantar buku ini menjawab apa yang selama ini saya resahkan: apakah feminisme hari ini berjuang untuk kesetaraan gender atau malah ingin menjungkirbalikkan dominasi maskulin dan menggantinya dengan dominasi feminin?
Jika bisa saya simpulkan seluruh kritik Mbak sesederhana mungkin dalam satu kalimat, inilah jawabannya: feminisme rentan menjadikan laki-laki sebagai musuh, sehingga ketika laki-laki tidak dilibatkan, perjuangan feminisme seperti melawan angin.
Awal mula dl semua masih bersifat matrilineal, karena kehamilan masih bersifat misteri, peran sperma belum diketahui Sejarah patriarki dimulai dari ideologi, ideologi laki laki sbg gambaran otoritas Tuhan
Ratusan tahun perempuan hanya dianggap pengasuh/penjaga benih dari laki2, hanya bagian pasif seperti tempat penyimpanan dan adalah sperma yg paling berperan dalam prokreasi.
Sampai tahun 1975, suami yg membunuh istri yg berselingkuh mendapat pengampunan dr pengadilan..hih edan! Jd inget novel pengarang dari Brazil, Jorge Amado
Intinya sejak laki2 tahu kalau dia punya sperma (dan sel telur belum diketahui peran dan keberadaannya), mereka semua jadi sok kuasa atas perempuan dan tubuh perempuan
Dapat info menarik tentang gubuk gubuk menstruasi (tempat menampung perempuan yg sedang mens karena dianggap mencemari lingkungan)
Paparan mengenai pemerkosaan dan solidaritas maskulin sungguh bikin darah mendidih, "Kamu goyang tidak?" Pertanyaan seorang polisi di Jakarta terhadap korban pemerkosaan..
Kasus Shaina di Prancis, susah ya jadi korban pemerkosaan, ketika diam saat diperiksa dianggap berlaku tidak seperti korban..trus maumu apa pak pol?!
"Hasrat menjadi ibu baru bersifat pilihan bebas dan sadar jika perempuan memang sudah mengenal risiko, kesulitan dan konsekuensi dari peran yang akan ia jalani, bukan hanya sisi fantasinya." Well said bgt!
"Jika anak perempuan diwanti wanti untuk menjaga keperawanan, anak laki laki tidak pernah diingatkan untuk menjaga keperawanan ini." NAH!!
3 fungsi perempuan di zaman pejantanan dunia, yaitu sebagai perawan, ibu dan pelacur, dimana sebagai seorang ibu, perempuan dituntut untuk selalu patuh dan wajib diam di rumah, melahirkan dan mengurus anak, yg paling lucu adalah saat saya membaca bab ini, medsos lagi heboh dengan cerita seorang bapak yang sesuai kesepakatan berdua mengijinkan istrinya lanjut s2 ke inggris dan si bapak tetap stay di indonesia untuk mengurus anak mereka berdua, banyak yg menghujat si ibu sebagai ibu egois dan lupa kodrat..ideologi patriarki memang sudah sangat mendarah daging dan sulit dihilangkan.
Ada pemikiran menarik mengenai ilusi menjadi subjek padahal perempuan yg memilih menjadi objek tetaplah sebuah objek..hmmmm..njelimet juga ya..
"Anak perempuan juga dapat mengantarkan ibu pada kecemasan kecemasannya dan semua luka masa lalu." Loh kok ini bener banget!!
Persaingan antar perempuan juga diakibatkan oleh trinitas perawan, ibu, pelacur..membuat perempuan harus dipilih dibanding perempuan lainnya.
Bab Konstruksi Kejantanan, laki laki tidak terlahir jantan tapi dikonstruksi agar menjadi jantan yaitu dengan tidak menjadi seperti perempuan, karena perempuan juga dikonstruksi menjadi makhluk inferior..OMG!!!!
"Bayi perempuan sejak dini menginternalisasikan konsep tekanan dan kewajiban sedangkan bayi laki laki kebebasan." Yoi..pernah denger ucapan 'gpp anak laki laki nakal nakal dikit..harus nakal kalau jadi anak laki laki' like WTF!
Bab tentang pederastique, eraste dan eromene sungguh membagongkan
Di buku ini juga mengulas publisexisme, budaya melanggengkan stereotipe gender melalui media cetak, iklan , film dan televisi
Gara gara buku ini saya jadi tau kisah asli Sleeping Beauty yang ternyata sangat mengerikan!
Ternyata fase Andropause juga ada ya..laki2 pada usia lansia tidak mampu ereksi atau mempertahankan ereksi.
Lalu bagaimana cara mengakhiri patriarki? Dengan mengakhiri trinitas perawan-ibu-pelacur dan mendekonstruksi kejantanan.
"Seseorang yang memandang dirinya positif tidak akan melihat orang lain sebagai ancaman. Ia sudah merasa aman, percaya diri, dan mencintai diri."
Waah ternyata ada pria pro feminis di abad ke 17, Francois Poullain de la Barre..keren pemikirannya..apalagi di jaman itu..
Buku ini juga memberi tips penting tentang konsen tubuh pada anak laki laki dan perempuan..
Laki laki juga wajib baca buku ini..perempuan tidak bisa menghancurkan patriarki sendirian..peran laki laki disini sangat dibutuhkan..karena kalau pola pikir laki laki tidak ikut berubah sampai kapan pun patriarki bakal terus bercokol di muka bumi ini.
Akhir Penjantanan Dunia mampu membuka mata lebih lebar terhadap hubungan feminisme dan patriarki. Sejak awal ditegaskan bahwa perempuan sudah dijajah haknya dan inferior hanya karena dirinya perempuan. Patriarki membatasi gerak perempuan serta menuntut tetap patuh dengan banyaknya tuntutan. Penulis menyatakan patriarki tidak hanya merugikan perempuan, kaum lelaki pun merasakan kerugian itu. Sering terdengar “Laki-laki kok nangis”, “Laki-laki itu kuat”, dan sebagainya. Lelaki yang dianggap kurang jantan akan mendapat perlakuan yang kurang mengenakkan pula.
Buku Akhir Penjantanan Dunia cukup seimbang. Penulis mendeskripsikan feminis sebagai upaya penyetaraan gender, bukan perempuan lebih unggul ketimbang lelaki. Bagian yang paling menarik adalah esai narsisme seorang ibu. Bagi saya menjadi seorang perempuan itu istimewa, memiliki kemampuan melahirkan seorang manusia. Namun, ternyata hal itu bisa mendorong narsisme ibu. Merasa eksklusif dalam pengasuhan anak sehingga membatasi peran ayah. Bagian menarik lainnya adalah penghakiman tentang pemaknaan feminisme oleh perempuan lain. Awalnya saya merasa skeptis dengan contoh yang dipaparkan, terkesan menghakimi. Namun, di bagian akhir diberikan penjelasan yang cukup menjawab di subbab “Jadi, Apakah Beyonce Feminis?”.
Banyak sekali contoh eksisting tentang kerugian yang disebabkan oleh patriarki bagi perempuan dan lelaki. Namun, akan lebih nyata saat studi kasus memakai lokasi Indonesia. Penggalian progres pergerakan feminisme di Indonesia terlihat menarik.
- Laki-laki perlu menyadari bahwa kaumnya telah menindas perempuan dan sebagian dari kaumnya sendiri yang tidak memenuhi nilai-nilai kejantanan, dan bahwa penindasan ini tidak benar.
Setelah membumikan psikologi feminis sebagai bentuk kerja2 meretas patriarki, salah satunya lewat buku "Ada Serigala Betina di dalam Diri Setiap Perempuan", Ester Lianawati, psikolog & peneliti kajian psikologi feminis, pun pegiat advokasi pada perempuan korban kekerasan seksual, hadir kembali dalam karya baru ini.
"Akhir Penjantanan Dunia" adalah konsekuensi logis dari "Serigala Betina". Meretas patriarki membutuhkan tak hanya kegerakan perempuan dalam solidaritas bersama, tapi juga lebih jauh dari itu. Melacak ideologi yang mendasari lebih dalam, bagaimana kemunculannya dalam sejarah hingga dominan sampai sekarang, bahkan pengaruh2nya yang menampakkan diri dalam gerakan2 perempuan sekalipun. Juga untuk lebih inklusif & membuka percakapan2 dengan yang berbeda maupun yang ingin menjadi partner berjuang & berubah.
Lewat buku yang melacak ideologi "kejantanan" ini, Ester mencoba berefleksi. Seberapa jauh feminisme berbuah, tapi juga menghadirkan efek samping? Seberapa jauh obsesi akan kejantanan merasuk dalam sejarah, dan tak hanya pada laki2, tapi juga perempuan? Seberapa buruk dampak vonis perawan-ibu-pelacur terhadap kebertumbuhan perempuan? Bagaimana menghadapi ideologi kejantanan yang telanjur tertanam akibat bentukan lingkungan?
Ester menjadi lebih tajam, lebih berani mengkritik peradaban & agama patriarkis sepanjang sejarah. Namun dia juga menjadi lebih lembut, lebih berani mengakui kerapuhan perempuan dalam kegerakan2nya, pun kekurangan dirinya dalam upaya menghadirkan keluarga setara & pengasuhan feminis.
Sebagai laki2 kelas menengah Jawa Kristen, kaum berprivilese yang dipanggil berefleksi lebih dalam, membaca ini menyegarkan juga menegur. Ada beberapa interpretasi Alkitab yang terasa bermasalah, tapi saya sadar bahwa tafsiran2 atas agama2 maupun ideologi2 patriarkis di sini merepresentasikan tafsiran terburuk yang jamak beredar di masyarakat, & dampak buruknya telanjur mengakar.
Saya berterima kasih untuk penulisan buku ini, yang memanggil pembacanya, apapun jenis kelamin & gendernya, untuk memeluk kedirian secara ajeg & saling memberdayakan dalam kesetaraan.
"Pantesan galak", "Nanti laki2 pada kabur loh kalau kamu baca buku beginian terus", "ngeri nih Intan bacaannya ginian terus", sampai "nanti calon suami kamu minder loh kalau kamu bacaannya gini" Adalah komentar2 yang paling aku ingat ketika aku mengunggah buku ini di stories. Padahal menjadi feminis bukan berarti menjadi kaum pembenci laki-laki atau ingin lebih superior dari laki-laki.
Definisi buku yang penuh gizi. Bukan saja karena pembahasannya yang lengkap mulai dari sejarah terbentuknya idelogi kejantanan, konstruksi sosial dan gender, fragile masculinity, persaingan antar-perempuan, relasi subjek-objek yang problematik, merugikan dan membahayakan bukan hanya bagi perempuan tapi bagi laki-laki juga. Sayangnya hal-hal ini sudah berakar dan disadari atau tidak, sengaja atau tidak akan terbawa ke pola pengasuhan anak dan akan terus menjadi lingkaran setan jika tidak ada upaya-upaya perlawanan dan perubahan untuk merubah relasi subjek objek menjadi relasi subjek-subjek.
Buku ini tidak hanya melihat dari pengalaman-pengalaman perempuan saja, pengalaman laki-laki yang bisa juga menjadi korban atas ideologi kejantanan yang sudah terbentuk sejak lama tentu tidak bisa diabaikan.
Mengutip bu Ester "percayalah, kita tidak membutuhkan objek untuk menjadi subjek".
Terima Kasih Mba Ester sudah buat buku ini 🙏. Sekaligus akhirnya saya mendapat jawaban yang selama ini saya cari sejak SD dan buku ini ternyata memberikan banyak jawaban yang mulai dari kenapa Laki-Laki dilarang melatih aspek kepakaan emosi dan akhirnya Laki-Laki tidak lebih dari robot, kenapa Laki-Laki tidak boleh memberi definisi menurut versinya, kenapa Laki-Laki bisa menindas sesama Laki-Laki yang tidak sesuai dengan sistem "Kenjatanan", lalu juga kenapa Laki-Laki tidak bisa melihat Perempuan sebagai subyek Manusia & justru tercipta Laki-Laki yang melihat Perempuan sebagai "obyek", kenapa muncul tipe Laki-Laki "bermasalah", dst. Karena Ideologi Kejantanan yang selama ini menjadi sistem sosial di masyarakat ternyata toksik dan memang tidak mudah untuk mendekontruksi ulang "menjadi Laki-Laki" dengan versi baru yang lebih manusiawi. Karena bahkan Laki-Laki tidak "menyadari" hal ini karena sudah mengakar di masyarakat. Lalu solusinya apa? tentu dengan mulai dari kita belajar mendefinisikan "apa itu Laki-Laki" menurut versi kita bukan dari sistem Patriarki apalagi dari ideologi Kejantanan yang toksik.
".......cukup sudah kita menuntut perempuan untuk menjadi perempuan sempurna. Jangan tambah lagi dengan menuntut perempuan untuk menjadi feminis sempurna." adalah kutipan yang saya turut mengaminkan. Feminisme sendiri hadir dalam beberapa gelombang, mengalami pasang dan surut. Setiap perempuan berhak atas pengalamannya masing-masing. Kita terus berubah. Diri kita saat ini bukanlah diri kita yang lima tahun lalu, misalnya.
Buku ini begitu intens, membuat emosi saya bergelora. Sedih, kesal, marah. Ada saat saya menangis ketika membaca buku ini karena saya merasakan dan mengalami semua yang diceritakan di dalam buku ini. Buku ini juga hadir sebagai pengingat untuk diri saya sendiri agar menjadi otentik dan menjadi subjek atas hidup saya dan tubuh saya. Mengingatkan apakah saya sudah menjadi perempuan yang puas dengan hidup saya, mengembangkan diri, mendukung para rekan perempuan dengan fokus pada kekuatan mereka, dan merayakan keberhasilan sesama rekan perempuan.
Semoga semakin banyak perempuan, di mana pun mereka berada, menjadi subjek atas diri dan kehidupan mereka.
Recommended banget buat teman2 yang lagi cari bacaan mengenai feminisme
Dari buku ini, aku belajar kalau feminisme itu ngga membenci cowok, justru sebaliknya feminisme punya mimpi untuk perempuan bisa berdaya seperti laki-laki
❤️Aku suka narasi Bu Ester yang sangat lugas, apa adanya dan pedas 🔥 Namun juga bijak untuk menarasikan perspektif dari dua sisi gender
❤️ Referensi penelitiannya banyak banget
❤️ Tdk hanya ilmu mengenai feminisme, aku jadi belajar banyak soal parenting dari buku ini🥹
🔴 Banyak istilah asing (terutama bahasa Prancis) 😆 tapi tenang aja ada penjelasannya singkatnya kok di catatan kaki 😉 namun ada bbrp bagian rumit yg butuh dibaca beberapa kali 😁
📝 Konklusi pribadi aku: Terlepas dari apapun gender kita, kita punya kebebasan untuk memilih jalan hidup kita (termasuk pilihan menikah & berkeluarga). Kita bebas menjadi diri kita yang otentik, tak terbatas pada stereotipe yang ada ❤️
This entire review has been hidden because of spoilers.
Membaca buku ini membukaku banyak hal, terlebih tentang konsep feminitas-maskulinitas. Pembaca diajak mengulik terkait dominasi maskulinitas menjadi toksik bagi perempuan dan bahkan laki-laki itu sendiri.
Ester juga membahas terkait peran-peran gender dan streotipe gender di masyarakat yang membuat perempuan terus terjebak dalam ketidakberdayaan.
Selain itu, dia juga membahas tentang relasi antara laki-laki dan perempuan dan konsen yang harus dipahami dalam berhubungan. Di akhir, Ester juga berbagi terkait parenting anak dengan perspektif feminis beserta penerapannya. Cukup menarik!
Di awal pembahasan, mungkin terkesan teoritis tapi semakin ke belakang, Ester mengemas buku ini menjadi lebih mudah dipahami karena diselipi contoh-contoh yang terjadi dari teori yang disajikan.
Ketika membaca buku Akhir Penjantanan Dunia ini, saya sering tertegun. Karena banyak hal, banyak konsep yang harus saya dekonstruksi dan saya pelajari ulang. Membaca buku ini benar-benar membuat saya unlearning dan re-learning banyak hal, terutama tentang konsep dan nilai yang ditanamkan pada perempuan. Termasuk bagaimana cara saya memandang perempuan lain, dan bagaimana saya memposisikan diri terhadap perempuan lain.
Saya tidak sabar untuk membaca buku berikutnya, "Dari Rahim Ini Aku Bicara", karena saya merasa buku berikutnya akan memberikan pengetahuan yang sama, bahkan mungkin lebih, bermakna lagi.
This book was the first feminism-theme work that I've read, and couldn't be more glad that it happened to be a 5-stars book that I'd recommend to anyone out there who's keen to understand more about feminism 🥰
sungguh buku yg sangat komplit utk belajar soal konstruksi gender, feminisme, konsep patriarki, ideologi kejantanan (ideologi yg menempatkan laki2 sbg makhluk superior) serta bgmn ideologi ini bekerja dan menghancurkan bukan hanya perempuan, tp jg laki2 itu sendiri.
pembahasannya rapi dan tidak bikin puyeng. bab2 pertama merunut secara historis asal-usul dominasi mzkulin yg kalau kita cermati sbnrnya tidak alamiah dan tidak qadarullah. ada wacana2 dominasi mzkulin yg terus diproduksi lewat berbagai sistem: teologi, mitos, budaya (penggambaran figur2 perempuan sbg monster akibat dr ketakutan laki2 thdp kekuatan tubuh perempuan, cerita Hawa yg bikin Adam melakukan dosa sehingga kita semua anak2 Hawa harus dihukum dgn mengalami rasa sakit ketika persalinan, stereotipe perempuan karena punya 'darah kotor' ketika menstruasi, dll).
bbrp poin yg menurutku menarik; (ada banyak tp aku rangkum bbrp) 😂
🕺patriarki jg menelusup dalam relasi cinta antara laki2 dan perempuan heteroseksual, dan dampak paling kacau yg terjadi adlh kekerasan dlm hubungan. patriarki membuat cinta heteroseksual penuh dgn ketidakotentikan; relasi ini penuh dgn manipulasi dan dominasi.
🕺laki2 jg jadi korban. tidak boleh punya sisi feminim, tidak boleh menangis, harus kuat scr fisik-mental-seksual, harus punya karakter pemimpin, harus mendominasi lingkungan, tidak lembek, tidak pemalu, tidak boleh mengeluh, tidak boleh menyerah. tuntutan2 ini jelas menekan laki2 dan bikin stress. angka bunuh diri laki2 itu 3,3 kali lipat lebih tinggi drpd perempuan.
🕺yg paling kocak; katanya feminisme sering nyinyir soal perempuan yg kepengen jd ibu. pdhl yg dipersoalkan bukan pilihan si perempuan, melainkan glorifikasi peran ibu. ia dijadikan sbg penentu nilai perempuan. perempuan belum sempurna kalau belum jd ibu (katanya bukan perempuan sejati), lalu pengalaman hamil & melahirkan yg fantastis dan ajaib (tp ngga pernah fokus pd kesulitan2 yg dihadapi ibu setelahnya; baby blues, depresi pascamelahirkan). pengetahuan feminis akan peran ibu justru dpt memberikan pencerahan pd perempuan dlm mengambil keputusan utk menjadi ibu (yg sadar akan risiko, kesulitan, konsekuensi).
—btw buku ini tidak hadir utk memusuhi laki2, yg dilawan justru ideologi kejantanan yg merugikan bukan hny perempuan tp jg laki2. pelaku praktik ideologi ini jg bukan hny laki2 tapi jg perempuan😃. kita tahu banyak perempuan2 yg jg jadi sohib patriarki dan menyerang perempuan lain yg dianggap tidak sesuai norma dll. makanya women support women jadi agak repot kalo women nya sendiri jg problematik wqwqwq. ayooo semua orang harus baca buku ini!!
Perfect. Essential for the people who claimed themselves as feminist in Indonesia since i think that people here need more of education about feminism and masculinity. Buku ini paket lengkap. Disusun secara apik, teliti, juga berdasarkan riset dan jurnal ilmiah, mengingat Bu Ester ini juga merupakan peneliti di Hypatia dan master psikologi dari Universitas Indonesia. Buku ini membuka perspektif mengenai perempuan juga laki-laki karena di buku ini, Bu Ester membela hak-hak perempuan, juga hak laki-laki. Semuanya setara. Disini juga dicantumkan bahwa menjadi laki-laki tak semudah kelihatannya, seperti mereka dituntut harus menjadi keras, tidak boleh menangis, juga sosok ibu yang terkadang menyepelekan perlindungan terhadap anak laki-laki, padahal laki-laki juga bisa menjadi korban pelecehan. Selama ini aku membaca buku mengenai feminisme biasanya memang tidak merendahkan laki-laki, tetapi juga tidak membela mereka sebagaimana mereka patut dibela sebagai manusia. Pada dasarnya tidak semua laki-laki arogan, merasa superior, dan sebagainya. Sebagian dari mereka justru juga tertindas oleh kaumnya sendiri, kaum patriarki. Aku juga suka bagaimana Bu Ester membicarakan mengenai pertumbuhan anak perempuan serta anak laki-laki dengan orangtuanya memengaruhi pertumbuhan emosional mereka. Aku benar-benar menikmati waktuku dalam membaca buku ini. Dan oh, bab terakhir mengenai parenting, serta cerita beliau mengenai anaknya yakni Louve dan Eloisa juga membuka cara pandangku mengenai cara membesarkan anak. I really enjoyed this book!
Buku ini menjabarkan secara runtut mengenai ideologi kejantanan yg diciptakan laki-laki sejak zaman prasejarah. Bu Ester kali ini lebih fokus menjabarkan bagaimana kerugian yg dialami laki-laki oleh ideologi tsb.
Laki-laki menjadi korban karena dianggap tidak merepresentasikan nilai-nilai kejantanan. Selain itu, buku ini juga menyinggung dampak ideologi kejantanan tsb bagi perempuan. Pada bagian akhir terdapat berbagai solusi dan pandangan untuk menyikapi penjantanan dunia ini.
Banyak hal di buku ini yg sangat relevan di dunia nyata, terlebih bagi kita yg dibesarkan dan hidup di lingkungan yg menjunjung tinggi budaya patriarki. Emosi, geram, kecewa, juga marah adalah rentetan ekspresiku saat membaca buku ini.
Buku non fiksi ini sukses membuatku tersentuh melalui prosa Bu Ester untuk kedua putrinya. “Jadilah feminis, jadilah narsis, jadilah otentik”. “percayalah, kita tidak membutuhkan objek untuk menjadi subjek”