Jump to ratings and reviews
Rate this book

Oskar Belajar Pergi

Rate this book
Di hari kematian ayahnya, seorang bocah lelaki memilih sebuah nama untuk dirinya sendiri. Ia melakukan perjalanan tanpa tujuan bersama seekor marmut yang ia panggil Teman Bicara. Mereka meninggalkan pondok di tepi hutan, Bunga Marigold yang sebatang kara, dan Pohon Tin yang meragukan. Dengan berbekal sebuah buku dongeng kumal, Sang Bocah Lelaki bertemu beragam manusia. Perlahan pertemuan-pertemuan yang asing itu bermuara pada sejatinya sang Bocah bermula. Sebuah misteri yang tak pernah sempat diungkapkan sang Ayah.

134 pages, Paperback

Published November 1, 2022

21 people want to read

About the author

Indah Darmastuti

7 books1 follower

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
1 (6%)
4 stars
6 (40%)
3 stars
8 (53%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 6 of 6 reviews
Profile Image for raafi.
933 reviews452 followers
November 15, 2022
Jujur, saya beli ini cuma karena ada nama pengarang di sampul bukunya. Setelah baca Pengukur Bobot Dosa: Kumpulan Cerita yang beberapa ceritanya menjadi favorit, saya tanpa babibu membeli buku dengan tokoh utama Oskar ini.

Sayang beribu sayang, ekspektasi saya berlebihan. Pertama, alih-alih kumpulan cerpen, buku ini ternyata merupakan prosa (atau novela atau cerita tanggung yang bisa dibaca dalam sekali duduk mengingat cuma 130 halaman dengan margin lumayan renggang). Entah kenapa poin pertama ini saja sudah membuat saya kecewa. Kedua, plot ceritanya bikin saya nggak bisa membaca buku ini dalam sekali duduk. Biar kujelaskan.

Oskar hidup dengan sang ayah di sebuah rumah terasing di tepi hutan dan sungai. Saat "ditinggalkan", Oskar memutuskan pergi dan bertemu dengan berbagai macam orang dengan profesi dan karakter yang berbeda. Sebetulnya, pertemuan-pertemuan Oskar dengan orang-orang itu menjadi poin bagus dari kisah ini. Kita bisa melihat keluguan Oskar yang minim wawasan mencoba untuk memahami dunia.

Beberapa rekan pembaca mengingatkan Oskar pada The Little Prince (kau tahulah The Little Prince yang mana). Aku pun merasa begitu. Keluguan yang dibawa oleh kedua tokoh tersebut sungguhlah mirip. Alur perjalanan dan pertemuannya pun terasa sama (meski orang yang ditemui dan isi percakapannya berbeda).

Sungguhpun, yang menjadi kerikil besar dan tajam pada kisah Oskar adalah kisah sisipan di dalamnya. Jadi, Oskar punya buku dongeng yang menceritakan tokoh Putri Bungsu yang patah hati karena cintanya dengan Pemain Cello tidak direstui sang ibu. Saat bertemu dengan orang-orang saat pergi, Oskar selalu menceritakan dongeng Putri Bungsu walaupun di bagian/adegan berbeda.

Repetisi penceritaan dongeng Putri Bungsu pada setiap pertemuan itulah yang membuat kisah Oskar jadi terganggu, lebih-lebih terasa tersingkirkan. Bahkan di bab-bab akhir, porsi dongeng Putri Bungsu lebih banyak ketimbang kisah itu Oskar sendiri. Belum lagi, makna dongengnya yang terlalu dewasa dan kurang pas untuk penokohan anak kecil macam Oskar (kau akan tahu maksud dari kalimat ini jika sudah menyelesaikan bukunya).

Saya mengapresiasi akhiran terbuka buku ini yang memberikan kesempatan pembaca untuk membuat kesimpulan sendiri terhadap ceritanya. Sayangnya, saya dibuat kecewa karena keterbukaan itu lebih pada interpretasi dongengnya dan bukan pada si tokoh utama Oskar. Sungguh amat hadeh.

Terlepas dari kekecewaan ini, saya masih akan menunggu karya cerpen pengarang berikutnya. Atau mungkin saya akan coba cari dan baca kumpulan cerpen-cerpen pengarang yang sudah terbit sebelumnya.
Profile Image for Yoyovochka.
313 reviews7 followers
July 2, 2023
Seperti biasa, Mbak Indah menyajikan cerita yang tidak biasa, dengan pelintiran plot di bagian akhir yang pada bagian awal tidak saya duga. Buku ini menghadirkan kisah Oskar, si anak lelaki yang bertualang bersama Teman Bicara-nya. Oskar punya tugas yang harus diemban dari almarhum sang ayah, yaitu menjaga agar buku dongeng yang ada di tasnya tidak diambil oleh penyihir jahat. Selama perjalanan inilah, Oskar dipertemukan dengan orang-orang yang menurutnya mirip dengan tokoh atau kisah di buku dongengnya: mimikri, mata-mata dan lainnya (baca sendiri yah). Gaya bahasanya enak dan lugu, khas anak-anak karena diceritakan dari sudut pandang Oskar. Tetapi sama sekali nggak berlebihan dan nggak bikin aku bosan karena kelewat kekanakan misalnya. Ini adalah kekanakan yang dalam ambang batas wajar, sesuai usia si Oskar sendiri yang masih senang-senangnya bertanya tentang ini itu. Kisahnya juga ringan, nggak ada lubang di plotnya buatku. Nggak kelewat drama, tetapi sebaliknya, memberikan pelajaran hidup tersendiri.
Profile Image for Rei.
366 reviews43 followers
November 22, 2022
Ayah Oskar meninggal dunia dengan hanya mewariskan sebuah buku dongeng tua beserta pesan, bahwa Oskar harus menjaga buku tersebut baik-baik. Konon buku itu ditulis oleh Peri Cantik dan Penyihir Jahat penghuni sungai akan berusaha merebutnya. Oskar lalu memutuskan untuk berkelana, meninggalkan rumah mereka di tepi sungai. Dengan hanya berbekal si buku dongeng dan Teman Bicara, marmut yang dulu diberikan ayahnya kepada Oskar untuk menjadi teman bicaranya, Oskar pun memulai perjalanannya.

Oskar tentu saja bertemu banyak orang di banyak tempat: lelaki buta di pasar, komedian tua di depan gedung teater megah, perempuan di pasar malam, peramal di pinggiran pabrik pakaian, bapak tua penggali sumur. Pertemuan-pertemuan ini memberi Oskar banyak pengetahuan baru, 'insight' tentang kehidupan manusia.

Apa yang membuatku tertarik dengan buku ini? Nama penulisnya tentu. Indah Darmastuti salah satu penulis yang buku kumcernya jadi favoritku. Mulanya cerita terasa apik, perjalanan dan pengalaman Oskar sangat mirip dengan Sang Pangeran Kecil yang mengamati kehidupan dan kerumitan orang-orang dewasa dengan keheranan (walau di buku ini Oskar rada overthinking dan gampangan frustrasi hanya karena ditanya namanya). Sayangnya di akhir cerita, tiba-tiba saja fokus beralih kepada kisah Putri Bungsu yang diceritakan di buku dongeng tua yang diwariskan kepada Oskar. Tiba-tiba Putri Bungsu menjadi tokoh utama, dengan konflik opera sabun yang membuatku 'etdaaaah!'. Aku cukup kecewa, karena aku senang berkenalan dengan Oskar dan tadinya kupikir ini buku yang cocok untuk dibacakan kepada anak-anak.

Selain itu, gaya penuturannya rasanya tidak sama dengan gayanya Mbak Indah saat aku membaca Mengukur Bobot Dosa yang mengalir dengan mulus. Terasa agak kaku, dan aku juga mendapat buku yang cetakannya tidak rapi, mendadak menipis di tengah-tengah. Cukup mengganggu.
Profile Image for Truly.
2,769 reviews13 followers
November 2, 2025
Ketika ada acara Club Buku Depok kemarin, ada buku gratis yang bisa diambil. Tak sengaja menemukan buku ini. Nama penulis yang membuat saya memilih buku ini. Kok bisa kelewatan buku inisih🙄.

Kisahnya tentang seorang anak laki-laki bernama Oskar. Ia berkelana setelah ayahnya meninggal. Oskar hanya membawa bekal berupa buku cerita warisan sang ayah dan ditemani seekor marmut imut (dari narasi sih begitu).

Perjalan tersebut seakan menjadi "sekolah" bagi Oskar. Tidak hanya mendapat jawavan atas banyak pertanyaan, juga mengerti dan memahami berbagai kosakata baru.

Di tempat yang ia singgahi, Oskar akan bercerita tentang buku yang ia bawa. Tanggapan orang beragam, namun hal tersebut yang membuat Oskar semakin memahami hidup.

Sayangnya, bagian bagaimana Oskar mengisahkan isi buku yang ia bawa, seiring perjalanan menjadi terlalu banyak dikisahkan, terlalu banyak diulang.

Selebihnya, buku ini mengajarkan bahwa kebijaksanaan dalam menjalani hidup, bisa diperoleh dari berbagai cara.
Profile Image for Wienny Siska.
51 reviews3 followers
December 22, 2022
Kisah sederhana tapi menepikan kita akan makna terdalam atas hidup. Dihadirkan lewat sudut pandang seorang anak yang menjejaki setiap hal yang ia temui sebagai sesuatu yang baru dan perlu dipelajari. Menelaah emosi, mencari tahu setiap hal yang dihadirkan dalam kehidupannya.
Profile Image for Setanta.
14 reviews
January 31, 2023
Personal Pros:
- Literally a child's book so it is not very heavy
- Great storytelling and analogy used in the story

Personal Cons:
- This kind of story is just not very appealing to me
Displaying 1 - 6 of 6 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.