What do you think?


Sintong Panjaitan: Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando
Kisah dan pengalaman Letjen (Purn) Sintong Panjaitan, di dalam pelbagai peristiwa yang menyangkut politik dan keamanan di Indonesia, terutama keterlibatan KOPASSUS sebagai salah satu pasukan elit parakomando dalam peristiwa Mei 1998, Santa Cruz, dll.
520 pages, Paperback
First published March 11, 2009
Ratings & Reviews
Friends & Following
Create a free account to discover what your friends think of this book!
Community Reviews
Displaying 1 - 30 of 32 reviews
March 14, 2009
Aku belum baca bukunya sampai habis. Tapi menurutku, buku ini agak aneh.
Editingnya payah untuk ukuran penerbit Kompas. Entah karena penulisnya seorang wartawan foto dan bukan wartawan tulis. Jadi gaya penulisannya atau bertuturnya agak aneh. Mungkin aku terlalu membandingkan dengan Julius Pour yang menulis LB Moerdany atau Ramadhan KH yang menulis "Soeharto, pikiran, ucapan..."
Masih banyak typo error yg lolos. Penyusunan Bab masih tidak mengikuti perjalanan karir tokoh yang ditulis. Banyak pengulangan-pengulangan yang terjadi. bukan sekedar satu kalimat, bahkan kadang satu paragraf.
Meski dengan kekurangan itu, buku ini bercerita banyak mengenai apa yang sebelumnya belum pernah diceritakan mengenai TNI/ABRI. Sempat melirik bab-bab akhir, buku ini malah menceritakan orang lain, yaitu Luhut Panjaitan. Sangat tidak sesuai dengan judulnya
Yang menjadi pertanyaan, apakah penerbitan buku ini ada hubungan dengan Pemilu? Entahlah. Biar waktu yang bicara.
Editingnya payah untuk ukuran penerbit Kompas. Entah karena penulisnya seorang wartawan foto dan bukan wartawan tulis. Jadi gaya penulisannya atau bertuturnya agak aneh. Mungkin aku terlalu membandingkan dengan Julius Pour yang menulis LB Moerdany atau Ramadhan KH yang menulis "Soeharto, pikiran, ucapan..."
Masih banyak typo error yg lolos. Penyusunan Bab masih tidak mengikuti perjalanan karir tokoh yang ditulis. Banyak pengulangan-pengulangan yang terjadi. bukan sekedar satu kalimat, bahkan kadang satu paragraf.
Meski dengan kekurangan itu, buku ini bercerita banyak mengenai apa yang sebelumnya belum pernah diceritakan mengenai TNI/ABRI. Sempat melirik bab-bab akhir, buku ini malah menceritakan orang lain, yaitu Luhut Panjaitan. Sangat tidak sesuai dengan judulnya
Yang menjadi pertanyaan, apakah penerbitan buku ini ada hubungan dengan Pemilu? Entahlah. Biar waktu yang bicara.
March 15, 2009
Buku Sintong Panjaitan yang diluncurkan 11 Maret 2009 memuat penggalan perjalanan karir militernya selama kurang lebih 28 tahun sebagai prajurit. Sejarah menempatkan penugasan Sintong Panjaitan berada pada beberapa kesempatan dimana dia ikut sebagai pelaku sejarah.
Sejak lulus sebagai perwira muda dari AMN tahun 1963, ia ditugaskan dibeberapa pos beresiko berat. Sebagai prajurit, ia melaksanakan tugasnya dengan prestasi nyaris tanpa cacat. Dari keberhasilan demi keberhasilan, menjadikan ia terpilih menempati posisi yang kemudian hari menjadikan ia sebagai prajurit profesional yang dikagumi sekaligus disegani. Jabatan dan prestasi yang diperolehnya membuka peluang yang sangat besar untuk meraih posisi tertinggi di militer. Akan tetapi prestasi gemilang sering mempunyai "dua sisi" yang berbeda. Sisi pertama memungkinkan ia menapaki karir tertinggi, sisi kedua, kecemerlangan juga bisa menimbulkan "gangguan" bagi yang tidak menyukainya. Agaknya sisi kedua lah yang menimpa Sintong Panjaitan, sehingga ia terpaksa berhenti ketika karir militernya sedang menanjak.
Buku perjalanan karir Sintong Panjaitan yang ditulis oleh wartawan senior Hendro Subroto, mencatat beberapa peristiwa penting dalam sejarah bangsa Indonesia. Buku itu bukan meupakan biografi, bukan pula otobiografi. Agaknya buku itu ditulis berdasarkan catatan Hendro Subroto sendiri, ditambah dengan penjelasan dari Sintong Panjaitan. Buku ini ditulis oleh Hendro Subroto, seorang wartawan perang TVRI, yang dalam berbagai penugasannya sebagai wartawan, sering menyaksikan dan meliput kejadian penting dimana Sintong Panjaitan ikut berperan.
Sebagai buku, apa yang ditulis Hendro Subroto, sebenarnya tidak terlalu istimewa. Beberapa bagian ditulis agak mendetail, tetapi dibagian lain, informasi yang disajikan kurang informatif. Derajat kedetailan antara bagian yang satu dengan bagian lain tidak sama. Bisa jadi Hendro Subroto, sebelum menulis buku, tidak dapat mengumpulkan data secara lengkap. Hal itu bisa difahami, karena untuk mendapatkan data detail dari instansi militer tidaklah mudah.
Secara struktur buku tersebut juga terkesan "memaksakan" eksklusifisme dengan menempatkan kejadian pada bulan Mei 1998 pada Bab-1. Lalu kemudian diikuti dengan bab-2 yang memulai catatan latar belakang kehidupan pribadi Sintong panjaitan sebelum menjadi tentara. Yang terasa lebih mengganggu adalah, banyaknya "salah ketik" yang terjadi terutama pada bab-1. Buku ini semakin lengkap dengan kata pengantar yang sangat berbobot dari Prof. Taufik Abdullah.
Review lanjutan ada di : http://togarsilaban.wordpress.com/200...
(Baca lagi0
Sejak lulus sebagai perwira muda dari AMN tahun 1963, ia ditugaskan dibeberapa pos beresiko berat. Sebagai prajurit, ia melaksanakan tugasnya dengan prestasi nyaris tanpa cacat. Dari keberhasilan demi keberhasilan, menjadikan ia terpilih menempati posisi yang kemudian hari menjadikan ia sebagai prajurit profesional yang dikagumi sekaligus disegani. Jabatan dan prestasi yang diperolehnya membuka peluang yang sangat besar untuk meraih posisi tertinggi di militer. Akan tetapi prestasi gemilang sering mempunyai "dua sisi" yang berbeda. Sisi pertama memungkinkan ia menapaki karir tertinggi, sisi kedua, kecemerlangan juga bisa menimbulkan "gangguan" bagi yang tidak menyukainya. Agaknya sisi kedua lah yang menimpa Sintong Panjaitan, sehingga ia terpaksa berhenti ketika karir militernya sedang menanjak.
Buku perjalanan karir Sintong Panjaitan yang ditulis oleh wartawan senior Hendro Subroto, mencatat beberapa peristiwa penting dalam sejarah bangsa Indonesia. Buku itu bukan meupakan biografi, bukan pula otobiografi. Agaknya buku itu ditulis berdasarkan catatan Hendro Subroto sendiri, ditambah dengan penjelasan dari Sintong Panjaitan. Buku ini ditulis oleh Hendro Subroto, seorang wartawan perang TVRI, yang dalam berbagai penugasannya sebagai wartawan, sering menyaksikan dan meliput kejadian penting dimana Sintong Panjaitan ikut berperan.
Sebagai buku, apa yang ditulis Hendro Subroto, sebenarnya tidak terlalu istimewa. Beberapa bagian ditulis agak mendetail, tetapi dibagian lain, informasi yang disajikan kurang informatif. Derajat kedetailan antara bagian yang satu dengan bagian lain tidak sama. Bisa jadi Hendro Subroto, sebelum menulis buku, tidak dapat mengumpulkan data secara lengkap. Hal itu bisa difahami, karena untuk mendapatkan data detail dari instansi militer tidaklah mudah.
Secara struktur buku tersebut juga terkesan "memaksakan" eksklusifisme dengan menempatkan kejadian pada bulan Mei 1998 pada Bab-1. Lalu kemudian diikuti dengan bab-2 yang memulai catatan latar belakang kehidupan pribadi Sintong panjaitan sebelum menjadi tentara. Yang terasa lebih mengganggu adalah, banyaknya "salah ketik" yang terjadi terutama pada bab-1. Buku ini semakin lengkap dengan kata pengantar yang sangat berbobot dari Prof. Taufik Abdullah.
Review lanjutan ada di : http://togarsilaban.wordpress.com/200...
(Baca lagi0
April 7, 2009
Buku ini terkesan dipaksakan terbit sebelum pelaksanaan pemilu. Editingnya buruk, bahkan bisa dinilai sangat buruk untuk ukuran Penerbit Kompas. Banyak salah ketiknya.
August 2, 2018
penasaran pada buku ini
This entire review has been hidden because of spoilers.
February 16, 2019
Hanya bangga dengan dedikasi nya kepada NKRI
May 20, 2019
perjalanan seorang prajurit komando
Want to Read
November 4, 2019Nicee
This entire review has been hidden because of spoilers.
January 15, 2020
Well-written, banyak kisah menarik yg dulu cuma tau di permukaan. Ps: Betapa ugal2an nya menhan kita skrg waktu di militer dulu. -_-
March 24, 2020
Mantap
September 22, 2022
Ok
This entire review has been hidden because of spoilers.
March 27, 2009
Buku tentang perjalanan seorang Sintong Panjaitan ini menarik utk disimak, teristimewa pada momentum menjelang pilpres. Melalui bahasa penulis, Sintong Panjaitan memaparkan sejumlah peristiwa yang selama ini menjadi tanda tanya bagi publik. Daya tarik pertama diberikan dengan paparan kerusuhan Mei 1998 pada bab I. Sintong bertutur tentang Wiranto, Luhut, Benny Moerdani, Prabowo, dan tokoh2 militer lain dalam aneka peristiwa. Mulai dari kerusuhan Mei, aneka penumpasan pemberontakan, isu counter kudeta Benny, hingga kerusuhan st.cruz yang menggencet karir militernya. Wiranto dan Prabowo yang kini mencalonkan diri sebagai capres akan sedikit "terganggu". Sekalipun mereka barangkali punya versi cerita lain, atau alasan, atau apa pun itu,...dan sekalipun sidang pembaca dapat berpendapat bahwa baik versi Sintong, Wiranto, maupun Prabowo sama-sama tidak lepas dari subyektivitas,...namun satu hal yang dpt dipetik dari paparan cerita adalah bahwa ada "sesuatu" yang kurang beres dengan mereka. Bagi publik, paparan kejadian dalam buku ini menguak apa yang benar terjadi. Bagaimana dan mengapa itu terjadi sering tidak penting diperhatikan. Yang jelas, kerusuhan Mei (e.g) terjadi, dan sejumlah tokoh yang mencalonkan diri sebagai capres sekarang tidak mampu, mungkin juga tidak mau, mencegah dan atau mengatasinya. Buku ini, terlepas dari motif penulisnya, terkesan tergesa-gesa penerbitannya. Hal itu tampak dari tertemukannya banyak sekali kesalahan editing; hal yang tidak lumrah untuk buku-buku terbitan Kompas-Gramedia.
September 30, 2009
Buku ini mengisahkan perjalanan pengalaman Sintong Panjaitan dalam operasi-operasi tempur baik di dalam negeri maupun diluar nnegeri. Salah satu operasi membuat dunia kagum adalah Operasi pembebasan pesawat garuda Woyla yang dibajak dan penumpang disandera di Thailand. Operasi yang dipimpin oleh Sintong Panjaitan Berhasil melumpuhkan pembajak tanpa ada sabdera yang tewas.
Disamping itu banyak operasi didalam negeri yang melibatkan Sintong Panjaitan dan operasi tersebut berhasil seperti Perebutan RRI diJakarta dari PKI, Penumpasa pemberontal Kahar Muzakkar, Operasi penumpasan gerombolan Komunis di Kalimantan Barat, Operasi kemanusiaan di Lembah X dll.
Selain Operasi Tempur, dilakukan juga operasi teritorial dalam pemenangan Irian Pepera dan itu berhasil.
Buku ini juga mengisahkan perjalanan karir dari Sintong Panjaitan di militer sampai di menjabat Pangdam IX/Udayana. Dengan karir militer yang bagus seharusnya Sintong Panjaitan bisa menjadi Panglima ABRI saat itu jika tidak ada "kejadian" di Dili yang dikenal dengan Insiden 12 Nopember 1991.
Juga Sintong Panjaitan mengisahkan kejadian sebenarnya pada peristiwa Mei 1998.
Dalam epilognya, Sintong mengatakan "Tentara tidak boleh terjebak Nepotisme"
Disamping itu banyak operasi didalam negeri yang melibatkan Sintong Panjaitan dan operasi tersebut berhasil seperti Perebutan RRI diJakarta dari PKI, Penumpasa pemberontal Kahar Muzakkar, Operasi penumpasan gerombolan Komunis di Kalimantan Barat, Operasi kemanusiaan di Lembah X dll.
Selain Operasi Tempur, dilakukan juga operasi teritorial dalam pemenangan Irian Pepera dan itu berhasil.
Buku ini juga mengisahkan perjalanan karir dari Sintong Panjaitan di militer sampai di menjabat Pangdam IX/Udayana. Dengan karir militer yang bagus seharusnya Sintong Panjaitan bisa menjadi Panglima ABRI saat itu jika tidak ada "kejadian" di Dili yang dikenal dengan Insiden 12 Nopember 1991.
Juga Sintong Panjaitan mengisahkan kejadian sebenarnya pada peristiwa Mei 1998.
Dalam epilognya, Sintong mengatakan "Tentara tidak boleh terjebak Nepotisme"
March 12, 2009
Buku ini memaparkan tentang perjalanan karir militer seorang Sintong Panjaitan, yang mengawali-nya dalam lingkungan pasukan khusus, sampai tugas terakhirnya sebagai penasihat presiden bidang hankam pada saat presiden RI dijabat oleh BJ Habibie.
Walaupun materi yang dipaparkan cukup bagus dan menambah wawasan bagi yang membacanya, banyak terjadi kesalahan editing/typo dalam naskah buku ini yang sangat mengganggu, sehingga informasi yang disampaikan terkadang rancu dan membingungkan. Hal-hal sederhana seperti pemakaian tanda baca yang baik dan benar terasa (seperti) terabaikan dalam penulisan buku ini. Padahal pada bio data singkat dipaparkan, penulis adalah wartawan senior TVRI yang sangat berpengalaman, ditambah dengan adanya 2 nama yang tercatat sebagai editor buku ini.
Mudah-mudahan ada tindak lanjut dari KOMPAS selaku penerbit.
Walaupun materi yang dipaparkan cukup bagus dan menambah wawasan bagi yang membacanya, banyak terjadi kesalahan editing/typo dalam naskah buku ini yang sangat mengganggu, sehingga informasi yang disampaikan terkadang rancu dan membingungkan. Hal-hal sederhana seperti pemakaian tanda baca yang baik dan benar terasa (seperti) terabaikan dalam penulisan buku ini. Padahal pada bio data singkat dipaparkan, penulis adalah wartawan senior TVRI yang sangat berpengalaman, ditambah dengan adanya 2 nama yang tercatat sebagai editor buku ini.
Mudah-mudahan ada tindak lanjut dari KOMPAS selaku penerbit.
January 5, 2016
Well di buku ini Sintong menceritakan perjalanan hidupnya. Mulai dari masa muda, menjadi prajurit Kopassandha (nama Kopassus dahulu), menjadi Pangdam, hingga akhirnya menjadi "kambing hitam" Tragedi Santa Cruz. Ia juga bercerita masa-masa ketika ia "diselamatkan" oleh Habibie dengan diangkat sebagai "orang kepercayaan"nya.
Di buku ini Sintong turut pula bercerita pengalaman ia menjadi komandan tim serbu pembajak woyla. Suatu momen terkenal ketika ia sedikit berseteru dengan Benny Moerdani mengenai efektivitas senjata yang hendak dibawa ke Thailand untuk menyerbu pembajak, yang setelah berdebat dan kemudian dicoba ternyata mengalami macet.
Buku ini cukup memberikan suatu perspektif bagi pembaca mengenai dunia Kopassandha dari perspektif seorang prajuritnya.
Di buku ini Sintong turut pula bercerita pengalaman ia menjadi komandan tim serbu pembajak woyla. Suatu momen terkenal ketika ia sedikit berseteru dengan Benny Moerdani mengenai efektivitas senjata yang hendak dibawa ke Thailand untuk menyerbu pembajak, yang setelah berdebat dan kemudian dicoba ternyata mengalami macet.
Buku ini cukup memberikan suatu perspektif bagi pembaca mengenai dunia Kopassandha dari perspektif seorang prajuritnya.
July 31, 2011
Seorang prajurit yang taat kepada komando tertinggi, tidak selalu merasa dia memiliki kekuatan untuk melawan kata hati nuraninya sendiri. Namun seorang prajurit sejati harus selalu siap dan sedia dalam apapun misi militer yang harus diembannya, terlepas resiko yang timbul yang akan menimpa dirinya seperti maut atau ancaman menolak perintah yang berakibat dapat diadili oleh mahkamah militer.
August 25, 2012
detailnya mengagumkan. aku yang semula awam di bidang jargon dan prosedur militer, sekarang jadi lebih ngerti. begitu pula peristiwa-peristiwa politik yang selalu membungkusnya. bacaan yang begitu menambah wawasan. tapi di akhir membaca, muncul pertanyaan sederhana: "apa sintong panjaitan seputih itu?"
Read
March 24, 2009didapat melalui indent semingguan, dibaca cuman 1/2 jam.. sayang, buku ini terlalu anti prabowo.. yg jelas marketingnya emang sukses neh!
Want to Read
March 25, 2009heboh banget buku ini
Read
April 22, 2009semoha semakin menambah kebenaran bagi sejarah Indonesia
Merged review:
semoga menambah kebenaran sejarah bagi Indonesia
Merged review:
semoga menambah kebenaran sejarah bagi Indonesia
May 26, 2009
ok lah..walaupun sedikit terganggu karena ada yang salah ketik, trus ada juga yang kalimatnya agak maksa. jadi kesannya agak kejar tayang gitu..
October 18, 2009
ha...ha...ha...isinya cuma pembelaan diri...kacian deh lo....
July 6, 2013
buku yang d paksakan untuk terbit sebelum Pemilu 2009,, sungguh d sayangkan
April 15, 2014
420 - 2014
June 6, 2014
This Book had a good story of this jenderal.
June 22, 2014
Literatur yg highly recommended buat yg pengetahuannya masih samar-samar tentang fakta di balik peristiwa Mei 1998 karena isinya disuguhkan secara sistematis dan transparan.
December 15, 2014
Great Book after all!
It show what's happening in the Indonesian military in the past..
Benny Moederani and the other!
It show what's happening in the Indonesian military in the past..
Benny Moederani and the other!
July 21, 2016
heroic story from general Sintong Panjaitan
April 3, 2012
Good book about an excellent soldier, but with bad editing
Displaying 1 - 30 of 32 reviews






















