Suka banget sama buku ini, menjadi buku anak favourite ku selanjutnya. Cerita sederhana tentang Uta dan kesehariannya bermain dan berinteraksi bersama Teman dan keluarganya. Cerita dalam buku ini dibagi sesuai dengan judul peristiwa menarik yang Uta hadapi dalam hidupnya and it was so heartwarming, lucu dan mengajari ku banyak hal.
Paling penting buku ini mengajarkan ku untuk bersyukur dan tidak berhenti membuat kebaikan.
Pertama kali lihat cover buku UTA, aku sudah langsung jatuh cinta dan pengen banget baca buku ini. Apalagi ditambah ketika membaca blurbnya, rasa ingin baca buku ini semakin meningkat. Sebenarnya aku tau Kak Sketsa Ultra Pelangi sejak beliau menerbitkan buku anak yang berjudul "Gak Apa-Apa, Jangan Bersedih" tahun 2020, tapi UTA menjadi karya beliau yang pertama kali kubaca.
Membaca buku UTA tidak membutuhkan waktu yang lama buatku. Buku yang benar-benar menceritakan keseharian seorang anak perempuan super menggemaskan dan pemberani bernama UTA. Cerita sederhana khas keseharian anak kecil yang masih polos serta punya rasa ingin tahu yang besar.
Membaca buku UTA membuatku flashback ke zaman ketika aku masih kecil, aku merasa kehidupanku dan Uta hampir sama. Aku bisa merasakan apa yang Uta rasakan. Rasanya ketika Uta mendapat perlakuan yang kurang menyenangkan, ingin sekali kupeluk dia. Bahkan, ketika Uta bermain rasanya aku ikut bermain dengan Uta.
Dari buku UTA aku bisa merasakan bagaimana kondisi Indonesia di tahun 1992, aku bisa belajar beberapa kosa kata yang lazim digunakan di Kota Baubau, Sulawesi Tenggara.
Aku suka dengan pemilihan font yang digunakan untuk isi buku UTA. Font judul dan font isi cerita berbeda, tapi sangat pas sekali. Ukuran fontnya pun pas, tidak membuat mata sakit dan bosan ketika membacanya. Aku juga suka layout buku UTA, layout-nya benar-benar khas, unik, gemes dan tidak pernah kutemukan di buku lain. Seperti yang kubilang di awal tadi, kalau aku jatuh cinta dengan cover buku ini. Yah, covernya simple, tapi super duper menggemaskan. Covernya mewakili isi cerita dari buku UTA.
Buku UTA juga dilengkapi ilustrasi lucu yang menggambarkan scene cerita. Dilengkapi glosarium, sehingga pembaca yang belum mengetahui kata-kata lazim digunakan di Kota Baubau tidak bingung. Bahkan, buku UTA dilengkapi dengan denah daerah rumah UTA. Jadi, aku dan pembaca yang lain bisa mengetahui detail lokasi rumah UTA serta para tokoh pendukung cerita UTA.
Tokoh yang paling kusuka jelas Uta. Sebenarnya tokoh di buku UTA banyak, tapi semuanya punya peran penting untuk membangun cerita, bukan hanya sekadar tempelan. Karena ini cerita keseharian UTA, yang pasti buku ini sangat related dengan kehidupan sehari-hari kita dalam dunia sosial (kehidupan bertetangga). Kita bisa menemukan tetangga yang baik, yang protektif dengan anaknya, tetangga yang kurang baik, dsb.
Aku rekomendasikan buku UTA untuk kalian yang suka baca buku anak, buat kalian yang lagi cari bacaan ringan, buat kalian yang suka buku menggemaskan.
Oh ya, aku baca versi digitalnya ya. Aku baca di Gramedia Digital. Sepertinya versi digital dan buku cetak enggak ada yang berbeda. Kalian juga bisa baca buku UTA di google playbooks.
Uta ngingetin aku waktu kecil. Hidup bahagia yg cuma taunya main, ngga bobo siang, tiba-tiba dimarahin sama orang tua temen, dibilang cuma jadi "malapetaka" buat orang lain dan sebagainya. Fun tapi tetep buat kita bersyukur.
Relate banget sama kehidupan masa kecil dulu. Tinggal di perkampungan, rumah berlantaikan tanah, sementara kamar menggunakan alas perlak. Mencari mainan di tempat sampah; botol shampo bekas, tutup botol, gelas minuman bekas, macam-macam. Sungguh menyenangkan.
Buku yang bagus untuk mengajarkan nilai-nilai kebaikan pada anak.
Ada satu saat dimana Uta diejek karena miskin dan tidak bisa membeli gula-gula, saat Uta menceritakan itu kepada ibunya, ibu dengan kalem menjawab "gula-gula membuat gigi rusak, lihatlah gigimu" Uta sadar gigi dia paling sehat dari pada anak-anak lain. Saat ada yang kesulitan, seburuk apapun perlakuan orang lain terhadap kamu, Uta tetap membantu. Saat ada kesalah pahaman, Uta tegar dan mengelola emosinya dengan baik, dia menangis, dia bangkit, dan mencoba memperbaiki kesalah pahaman. Suatu ketika saat Uta ingin mainan, ia menyampaikan pada ayahnya, saat itu Uta tidak menjelaskan ingin mainan apa, tapi seketika ayahnya mengambilkan banyak mainan yang sudah sang ayah buat untuk putrinya, alasan tidak diberikan adalah karena Uta belum butuh, Uta bisa memilikinya jika butuh, bukankah itu bagus? Uta punya didikan yang bagus dari orangtuanya hingga dia punya sifat-sifat yang baik, manajemen emosi yang baik, dan pola pikir yang baik.
Ada lagi bagian yang sangat aku suka bagian saat anak-anak lain membahas seragam orangtua mereka, ada yang bilang ayahnya berseragam coklat, berseragam hijau, dan ada juga yang berseragam biru. Uta dan Maya ayahnya tidak memiliki seragam, tapi yang terpenting ia tahu, ayah Uta serba bisa dan tidak pernah membuat keluarga kelaparan. Rasa tanggung jawab, hal yang paling harus dimiliki setiap individu.
Buku ini mengajarkan banyak hal baik di dalamnya.
This entire review has been hidden because of spoilers.