“Laskar Pemimpi menyorot isi novel-novel Andrea Hirata, Laskar Pelangi, Sang Pemimpi dan Edensor. Lewat buku ini sang penulis, Nurhady Sirimorok, telah memenuhi haknya sebagai pembaca karya Andrea, dan ia menafsiri karya Andrea dengan pikirannya sendiri. Ia berusaha membongkar paradigma apa yang ngendon di novel-novel karya Andrea: virus modernitas. Nurhady dengan ciamik, memaparkan bagaimana imajinasi modernitas menyebar laksana virus super cepat, bebas hambatan, dan menjadi faktor penggerak penting di dalam novel-novel Andrea.
Laskar Pemimpi, bukan semata-mata mengkritik habis karya Andrea. Tetapi berusaha menyodorkan hasil analisa yang tajam, dari sesuatu yang telah lama tidak disentuh dalam dunia sastra. Menurut hemat saya, Nurhady hanya meminjam novel-novel Andrea untuk menjelaskan apa yang merisaukan hatinya. Nurhady berusaha membersihkan kacamata kita yang telah buram karena terlewat asyik menyimak pandangan-pandangan yang homogen.
Semoga akan ada banyak karya yang mengkritisi isi produk sastra kita, dan semoga ada yang punya waktu luang, kesabaran dan keberanian untuk membeberkan dimensi politik dan ekonomi sastra kita. Tanpa pengetahuan soal itu, para pelaku sastra ibarat bermain pedang di lanskap gelap. Sibuk bergerak, menebas ke kanan dan ke kiri, kehilangan alasantama mengapa dan untuk apa seseorang menulis, kehilangan peta dan kompas sehingga tidak tahu sedang berada di mana, dan yang paling memprihatinkan tentu saja kehilangan alasan etisnya.” Puthut EA, penyunting.
Nurhady Sirimorok, sejak kuliah telah menekuni dunia penulisan baik sebagai penulis, penerjemah, dan penyunting. Esai-esainya tersebar di berbagai media. Salah satu karyanya adalah: Laskar Pemimpi: Andrea Hirata, Pembacanya dan Modernisasi Indonesia (INSISTPress, 2008)_ yang oleh beberapa pengamat sebagai salah satu kritik sastra terbaik di Indonesia selama beberapa tahun terakhir. Pada tahun 1999, Nurhady bersama M Aan Mansyur, Ari Hasriady, dan kawan-kawan lainnya, meng-inisiasi dan mendirikan Ininnawa_sebuah komunitas di Makassar yang menaungi empat organisasi: Biblioholic, Penerbit Ininnawa, Sekolah Rakyat Petani Payo-payo, dan Active Society Institute (AcSI).
Begitu melihat buku ini, saya tergelitik. Kritik terhadap karya laris Andrea Hirata, Laskar Pelangi dan kedua sekuelnya? (Buku keempat saat itu belum diterbitkan.) Wah! Jujur, meski terkadang membantu saya memutuskan untuk membeli sebuah buku atau tidak, ulasan yang hanya mengungkap keseruan atau pesan moral sebuah buku sering kali tidak memuaskan saya. Sering kali sebagian dari kita memaafkan cacat-cacat sebuah karya tulis karena pesan moralnya. Kita alpa melirik aspek-aspek lain sebuah buku. Oleh karena itu, karya Nurhady Sirimorok ini bisa jadi sebuah tambahan penting dalam dunia perbukuan kita, terutama karena kita kekurangan kritik sastra (atau kritik buku pada umumnya) yang baik.
Karya Nurhady penting karena bukan sekadar membahas kehebatan atau cacat penulisan—dan saya tidak hanya membicarakan tentang EYD atau ketepatan dengan isi KBBI—Laskar Pelangi. Ia menyelam lebih jauh, berusaha menunjukkan betapa kuatnya pengaruh orientalisme dan pandangan modernitas dalam karya Andrea Hirata ini.
Nurhady, hemat saya, cukup berhasil menyoroti bagaimana ‘ganas’nya Andrea menarik garis tegas antara kota, modernitas, pendidikan ala Barat (bagus) dengan hal-hal tradisional, berbau desa (jelek), bahkan tega memberi label ‘primitif’ pada hal-hal yang hendak ditinggalkan tokoh Ikal. Untuk melaksanakan tujuannya, Nurhady bahkan menelaah sejarah modernitas Indonesia, baik dalam hal politik maupun sastra. Nurhady gencar mengkritik pandangan Ikal yang seolah sangat mendewa-dewakan Prancis dan Barat pada umumnya.
Meskipun saya sepakat dengan Nurhady bahwa sekolah formal—dengan kurikulum yang digariskan pemerintah pusat—bukanlah satu-satunya sumber ilmu-pengetahuan yang berguna, saya berharap sebenarnya Nurhady lebih menajamkan fokus kritiknya. Apakah ia hanya menyoroti sekolah di Indonesia yang menurutnya sangat dipengaruhi Barat (dan yang, sebagai guru, saya rasakan sendiri, dibebani kurikulum yang terlalu berat dan tidak mengindahkan keberbedaan anak-anak didik), ataukah seluruh sekolah formal? Bagaimana dengan sekolah-sekolah kejuruan? Dan sadarkah Nurhady bahwa justru sekolah-sekolah di banyak negara ‘Barat’ kini sangat humanis, menyesuaikan pendidikan yang diambil anak dengan kebutuhannya? (Ingat, di Amerika Serikat murid bisa memilih mata pelajarannya sendiri, dan bahkan tersedia mata pelajaran yang sangat sehari-hari, seperti mengemudikan mobil, sementara di Indonesia kita tidak bisa.) Tentunya saya juga tidak berharap bahwa Nurhady ‘mengharamkan’ atau ‘mencap buruk’ semua sekolah formal. Jika seseorang ingin menjadi dokter atau insinyur, misalnya, tentu tak ada salahnya jika ia mengikuti pendidikan formal. (Yang, terus terang, memang tampaknya sangat didesain untuk membimbing anak-anak memilih jurusan kuliah yang dianggap ‘keren’ seperti kedokteran dan teknik. Saya dulu memilih biologi dengan sadar dan sudah kenyang dianggap ‘warga kelas dua’ karena pilihan saya itu.)
Meskipun saya sepakat dengan Nurhady mengenai betapa basi usaha ‘pelestarian’ alam dengan membuat hutan ‘konservasi’ yang melarang masyarakat sekitar masuk dan berinteraksi lagi dengan daerah tersebut, saya perlu mengoreksi Nurhady. Yang dideskripsikan Nurhady kini dalam ilmu biologi konservasi sebenarnya tidak disebut usaha ‘konservasi’, melainkan ‘preservasi’, yang sangat berbeda artinya dengan ‘konservasi’. Belajar dari kegagalan usaha ‘preservasi’, kini usaha-usaha konservasi (yang dirancang oleh para ahli biologi konservasi, yang mendapatkan ilmu dan kebijaksanaan mereka dari ilmu biologi konservasi ‘ala Barat’ dan pengalaman di berbagai penjuru dunia) dirancang dengan sangat menyadari bahwa manusia adalah bagian tak terpisahkan dari alam. Oleh karena itu, kini para ahli konservasi menerapkan sistem zonasi di taman nasional atau cagar alam.
Selain itu, saya agak terganggu dengan cara Nurhady menggambarkan betapa usaha memberi nama Latin pada organisme membuat masyarakat melupakan nama lokal. Semua jadi diseragamkan. Terlepas dari apalah tujuan Linnaeus dan rekan-rekan sejawatnya pada zamannya, usaha pemberian nama Latin pada organisme saat ini tujuannya lain sekali. Tak seperti yang dituduhkan Nurhady (yang mungkin tidak punya pengalaman langsung dalam bidang ini, dan mungkin hanya mengutip orang lain yang, kata anak sekarang, selalu penuh ‘curigation’), penamaan Latin adalah cara saintis demi bisa memahami objek-objek biologis (organisme) dengan lebih baik. Sehingga meskipun saya menyebutnya ‘jagung’, orang Amerika menyebutnya ‘corn’, orang Inggris menyebutnya ‘maize’, saat bertemu kami semua bisa berbagi ilmu dalam kesepahaman bahwa yang kami bicarakan adalah sama-sama ‘Zea mays’. Jangan kira para ahli biologi hanya sibuk memberi nama Latin dan melupakan nama lokal. Bukalah buku semacam Botani karya van Steenis, atau buku panduan lapangan pengamatan burung terbitan LIPI. Tengoklah, nama Latin tercantum bersama-sama nama lokal di berbagai tempat. Jadi, bukan salah saintis dan binomial nomenklatur mereka sehingga pohon filicium sibuk disebut-sebut dalam buku Andrea. Itu kekurangcermatan Andrea sendiri meneliti nama lokal pohon tersebut.
Akhir kata, buku Nurhady bagaimana pun juga adalah tambahan berharga bagi dunia tulis-menulis kita. Saya mengharapkan ada semakin banyak karya kritis seperti buatan Nurhady yang satu ini. (Ah, tapi sebaiknya saya jangan cuma berharap dan mimpi saja, ya. Mengapa saya tidak mencoba menulis sendiri buku semacam ini?)
Sebagai catatan akhir, saya pikir buku ini sebenarnya dapat memetik manfaat dari penyuntingan yang lebih baik lagi; ini bukan sekadar masalahadanya kesalahan ketik di sana-sini, tapi juga isi yang terlampau bertele-tele di beberapa tempat.
aku nggak pernah menyadari kecacatan logika dalam buku Laskar Pelangi sebelumnya. begitu saya membaca ini, teringat semua kisah-kisah itu dan memang akan terasa pula keanehan kisah yg dituturkan. aku belajar banyak. hebat!
Dalam Sang Pemimpi, Andrea bercerita di jambi tentang kehidupan ketika masa-masa SMA. Tiga tokoh utamanya adalah Ikal, Arai dan Jimbron. Ikal- alter egonya Andrea Hirata, sedangkan Arai adalah saudara jauh yang yatim piatu yang disebut simpai keramat karena anggota keluarga terakhir yang masih hidup dan akhirnya menjadi saudara angkat dan Jimbron adalah seorang yatim piatu yang terobsesi dengan kuda dan gagap bila sedang antusias terhadap sesuatu atau ketika gugup.
Ketiganya dalam kisah persahabatan yang terjalin dari kecil sampai mereka bersekolah di SMA Negeri Manggar, SMA pertama yang berdiri di Belitung bagian timur. Bersekolah di pagi hari dan bekerja sebagai kuli di pelabuhan ikan pada dini hari, dari ketagihan mereka menonton film panas di bioskop dan akhirnya ketahuan guru mengaji mereka , kisah cinta Arai dan Jimbron, perpisahan Jimbron dengan ikal dan Arai yang akan meneruskan kuliah di Jakarta yang akhirnya membuat mereka berdua terpisah tetapi tetap akan bertemu di Perancis. Hidup mandiri terpisah dari orang tua dengan latar belakang kondisi ekonomi yang sangat terbatas namun punya cita-cita besar , sebuah cita-cita yang bila dilihat dari latar belakang kehidupan mereka, hanyalah sebuah mimpi.
Buku kritik terhadap karya Andrea Hirata yang sangat menarik. Nurhady berusaha menunjukkan apa yang menyebabkannya tidak menyukai karya tenar ini, pola pikir Andrea. Pola pikir yang memberikan jurang lebar antara kota dengan desa, yang memberikan label "primitif" terhadap semua hal yang ditinggalkan Ikal (desa), yang mendewakan pendidikan formal (dan melupakan pengetahuan lokal), yang berorientasi pada tren mimpi modern (sekolah ke luar negeri dan bekerja sebagai pegawai BUMN), dan masih banyak lagi.
Sungguh buku yang patut dibaca untuk membuka pemikiran bagaimana efek kedepan (yang penulis tidak inginkan) terjadi dari novel Andrea Hirata.