Negeri ini memang tidak buyar. Tapi sekian banyak orang telah mati, lapar, miskin dan terbuang sebagai pengungsi. Sejak Orde Baru berkuasa sebenarnya penderitaan rakyat telah bermula dan sudah menjadi takdir sosial kalau derita itu tanpa akhir. Dulu memang negeri ini diperjuangkan oleh segelintir intelektual yang berada bersama-sama rakyat dan merasakan langsung derita yang dialami.
Mereka seperti kekuatan nurani rakyat yang memiliki pendidikan dan kedudukan sosial yang lebih baik. Kaum intelektual ini tidak buta terhadap kenyataan sosial yang timpang dan tanpa ragu turun lapangan memimpin langsung perjuangan. Hari-hari ini kita menyaksikan gerbong intelektual itu berderet panjang dan melihat bagaimana kiprah mereka yang tak jarang mendukung secara fanatik rezim imperialis modal.
Mereka mungkin terlambat untuk belajar sejarah dan sudah tentu enggan merasakan derita yang dirasakan rakyat. Tulisan ini memang menggoreskan sesuatu yang lain karena mengingatkan kembali mandat cendekiawan yang berada di tengah masyarakat yang terbuang. Tulisan ini ingin menjaga kembali warisan suci tugas seorang intelektual yakni berjuang menegakkan dan mempertahankan martabat rakyat dari ancaman kolonialisme modal. Patut jika tulisan ini dibaca oleh semua kalangan yang rindu akan gagasan seorang intelektual organik.
Buku ini merupakan rangkaian tulisan yang mencoba mengingatkan pembacanya mengenai warisan suci tugas seorang intelektual, yakni berjuang menegakan dan mempertahankan martabat rakyat dari ancaman kolonialisme modal.
MANSOUR FAKIH (1953–2004), kelahiran Bojonegoro, menyelesaikan sarjana teologi di IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta tahun 1978, dan meraih Master dan Doktor bidang Pendidikan di University of Massachusetts at Amherst, Massachusetts, USA, pada tahun 1990 dan 1994. Pernah bekerja sebagai tenaga penyuluh lapangan pada program pengembangan industri kecil di LP3ES Jakarta dan Lembaga Studi Pembangunan (LSP). Lantas menjadi koordinator Program Pendidikan dan Pengembangan di Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M). Tahun 1993-1996 menjabat sebagai Country Representative Oxfam-UK/I di Indonesia, serta menjadi anggota Dewan Pengurus Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI). Pada tahun 1994, dia bergabung dengan sembilan kawan (Roem Topatimasang, Zumrotin K.Susilo, Wardah Hafidz, Abdul Hakim Garuda Nusantara, Fauzi Abdullah, Mahendro, August Rumansara, Roy Tjiong, Sugeng Setiadi, dan Wilarsa Budiharga) mendirikan Resources Management & Development Consultants (REMDEC) di Jakarta, suatu lembaga pelayanan fasilitasi dan konsultasi pengembangan kemampuan (capacity building) organisasi-organisasi non pemerintah dan masyarakat.
Pada rentang 1996-1997, Mansour Fakih bersama Roem Topatimasang menginisiasi suatu bentuk organisasi yang memfokuskan diri sebagai sistem pendukung gerakan sosial, terutama pada aras lokal dan akar rumput. Mereka berdua lalu mengajak beberapa kawan lama_para pegiat dan fasilitator senior ORNOP Indonesia seperti Rizal Malik, Sri Kusyuniati, Sita Aripurnami, Fauzi Abdullah, dan Wilarsa Budiharga mendirikan Institute for Social Transformation (INSIST) di Yogyakarta.
Tajuk Jalan lain memang sesuai dengan apa yang terkandung di dalam buku ini,
Terkadang kita sering buntu ketika menghadapi masalah, bagi kita penyelesaiannya hanya ada satu jalan, walhal kita lupa kita mampu mencari alternatif lain bagi menyelesaikan permasalahan itu.
Begitu juga dengan penulisan yang terdapat di dalam buku ini. Menyentuh tentang kesalafahaman ideologi seperti Marxisme, Fasisme, Anarkisme sehinggalah ke tokoh-tokoh revolusioner seperti Freire, Gramsci, Foucoult, serta Kadafi menyebabkan kita memikirkan semula tentang kefahaman yang sedang kita anuti,
Penulisan dalah bahasa yang mudah juga ringkas mampu untuk membuatka pembaca sukar untuk menghentikan pembacaan.
Mungkin kritikan itu perlu juga terutama dalam penyentuhan hal Gramsci tetapi secara kesuluruhan buku ini sangat bagus untuk dibaca
Tidak ada yang mudah jika hal tersebut susah. Tidak selalu menggembirakan jika sering menangis. Begitulah hidup, Saya sempat sangat percaya diri pada pilihan karier yang saya jalani hari ini. Kemerdekaan berkreasi dan berekspresi dalam tataran advokasi adalah nikmat yang tidak ternilai. Saya belajar dari banyak orang, dari seorang buruh pemanen sawit yang tiap kilo dihargai 50 rupiah. Saya juga bisa belajar dari dosen favorit Universitas Hawaii yang sangat baik selalu membalas email saya. Begitu mudah dan menyenangkan. Namun dibalik itu semua ada kemelut yang terjadi. Banyak hal-hal yang luput dari genggaman. Banyak yang harus saya relakan untuk tidak saya miliki hari ini. Kemudian hal-hal tersebut membuat saya merasa tidak layak dan tidak pantas menerima apapun. Bukannya kufur tapi saya sekedar merasa sangat bersalah jika tidak mampu memenuhi ekspektasi orang-orang. Sampai suatu hari saya membaca buku ini, buku yg awalnya saya pungut paksa dari meja kawan. Buku ini kemudian membakar satu sumbu yang kusut dan menyalakan api untuk membuka jalan lain. Ada ratusan jalan lain yang bisa kamu tempuh. Buku ini menyentil saya untuk kembali ingat bahwa saya harus mengadvokasi diri saya sendiri. Lebih kecurhat daripada review. Namun tak apalah untuk merayakan tandas baca. Terima kasih #MansourFakih atas sebuah #JalanLain ✨
saya baca buku ini pada tahun pertama kuliah. saya 'tumbuh besar' bersama buku ini dan karya2 Fakih lainnya. sungguh buku yang luar biasa.. membuat qta berpikir bahwa satu-satunya hal paling penting di dunia adalah 'berada di front terdepan...."