Buku ini yang mengubah saya bahwa jalan hidup seseorang itu ditanggung sendiri. Sang tokoh utama walaupun dibenci dan dijauhi keluarganya tetap pada pendiriannya. Endingnya memang klise wanita yg dicintai si kuning memilih mati. Banyak hal yang menurut saya tidak bisa diterima tapi memang manusiawi. Tapi buku ini tetap memikat.
amazed by his (Kuning) perspective on life. tokoh Ani, kakak dari Kuning memang agak ngeselin, suka menghakimi hidup orang lain dan terlihat tidak mau menempatkan dirinya pada sepatu orang lain. namun, hal tersebut justru bikin aku penasaran sama latar belakang Centani sampai dia mempunyai pola pikir kayak gitu. beberapa kutipan yang aku suka dari buku yang bisa dibaca dalam sekali duduk ini:
"... Hidup mengalami dan memasuki. Bila harus melalui dinding-dinding dosa hitam menurut orang lain, apa yang kupedulikan? Segala perbuatan-perbuatanku tanggung jawabku sendiri kepada Tuhan. Manusia tidak bisa ikut bertanggung jawab atau mensucikan aku. Sebab aku tahu, bila manusia ditakdirkan bisa berkuasa atas baik dan buruk, manusia akan jadi orang bengis dan kejam."
"Ingin aku menghilangkan rasa mual terhadap manusia- manusia lain, yang hanya cinta pada kebaikan-kebaikan belaka, tanpa mengerti tentang keburukan, tapi tidak rela mengulurkan tangan pada yang jatuh dalam lumpur..."
"Aku tidak menantang dan berontak. Aku ingin hidup ini bisa bahagia berdasarkan kejujuran. Jangan berdasarkan tidak berani berjujur, karena takut melanggar hukum dan moral, karena sudah ditentukan begitu tentang baik dan buruk sejak dulu."
Sepanjang baca buku ini kayak dikasih siraman pertanyaan2 yg eksistensial dan agak nihilistik in a way. Tipikal buku yang multitafsir dan bisa bgt untuk jadi bahan diskusi. Suka sekali dengan pengandaian dan diksi yang digunakan karena tidak terlalu kaku tapi somehow tetep indah gitu. Terlalu banyak kutipan yang bagus sampe gatau berapa banyak yg mau aku kasih unjuk.
Dari sini memunculkan banyak pertanyaan buat aku personal kayak sebenarnya apa yang kita anggap baik dan buruk berasal dari kontruksi sosial. Apakah nilai-nilai yang kita pegang selama ini hanya sebatas hasil dari pergantian zaman dan pergeseran moral? Lalu dari cerita ini agama hanya digunakan sebagai alat justifikasi dari tiap perbuatan yang dianggap tidak bermoral, bukan salah agamanya, namun manusia yang seakan-akan terlalu menjadi hakim dunia dan tidak saling mengasihi antar manusia lainnya. Sangat relevan untuk bahan bacaan dan diskusi di standar dunia yang makin gila kayak sekarang.
Saya belajar kejujuran dari diri Marni dan Uing. Sikap Centani juga tersisip cukup banyak dalam diri saya, saya masih merasa hidup penuh penilaian buruk kepada orang-orang yang dikonstruksi sosialkan menjadi hal yang salah, buruk, lacur, jahanam. Saya merasa jauh lebih berdosa dari mereka.
Jalan hidup yang kamu pilih adalah tanggung jawabmu sendiri.
Banyak hal yang bisa saya dapatkan dari karakter tokoh Kuning, Marni, dan Meinar. Dari kaca mata terbuka, mereka sama saja, sama-sama lumpur seperti yang mereka bilang. Yang berbeda hanyalah jalan yang mereka pilih untuk mengatasi itu semua.
So far, novel ini masih relatable sampai di masa society 0.5 sekarang.
“Bila manusia ditakdirkan bisa berkuasa atas baik dan buruk, manusia akan jadi orang bengis dan kejam.” – Nasjah Djamin
Manusia hidup dari moral untuk moral, oleh karena itu banyak yang tak dapat menemukan eksitensinya sebagai manusia yang memberikan arti pada hidup. Kuning, tokoh utama dalam novel Hilanglah si Anak Hilang mencoba menentang gagasan tersebut. Ia memilih jalan hidupnya sendiri, mennghiraukan ajaran moral yang tertanam lewat keluarganya melalui agama. Kuning, seorang seniman yang merantau ke Yogyakarta, diperintah untuk pulang setelah lama tidak pulang bahkan ketika ayahnya meninggal ia tidak menengok. Ia telah memutuskan untuk hilang dari kehidupan keluarganya karena merasa telah melanggar moral dan menghinakan nama keluarga. Ia telah menjadi orang asing dan tidak ada gunanya kembali ke tempat asalnya. Kepulangan Kuning kali ini adalah permintaan dari kakaknya, Centani, yang ingin menjodohkan dirinya dengan Meinar. Namun, Kuning dengan tegas menolak. Ia telah memutuskan tidak akan menikah dengan siapa pun. Keputusan itu dilatarbelakangi kekecewaannya akan pengkhianatan Marni. Penolakan itu pun tidak disambut oleh baik oleh kakaknya, Centani dan Akbar, mereka terlibat pertengkaran hebat karena Kuning menyentuh Marni lagi yang ternyata tinggal dekat rumahnya. Ada dua tema yang menonjol dalam novel ini. Pertama, pertentangan moral, agama dan kebebasan hidup. Kedua, mengenai wanita yang digambarkan tidak bisa memilih dan kekuatan terakhir wanita, yakni menjual diri untuk memertahankan kehidupan. Keluarga Kuning yang memiliki latar belakang agama yang kuat tidak menerima keputusan Kuning memilih hidup bebas dan tidak menginginkan pernikahan. Bahkan, kakaknya, Centani mengutuk keras perbuatan adiknya yang pernah “kumpul kebo” dengan Marni. Mengetahui hal itu terulang, Centani melabrak Marni habis-habisan. Akbar sendiri menghajar Kuning, karena lelaki seperti adiknya itu mengakibatkan istrinya meninggalkannya. Lalu, lewat Meinar dapat terlihat bahwa moral dan tatanan berkembang di sekeliling manusia itu menghancurkan manusia sendiri. Pacarnya dulu mengakhiri hidupnya karena tidak kuat akan tekanan yang datang dari sekitar terhadap hubungan yang mereka pilih dan jalani sendiri. Lalu, merasa hidupnya tidak layak dijalani, Marni akhirnya bunuh diri. Sosok Utih, yakni paman Kuning ditunjukkan dalam novel ini sebagai seorang fatalis. Dulu ia adalah seorang idealis yang keras kepala. Masuk bui karena keterlibatannya dalam organisasi partai, walaupun dia bukan orang partai politik tapi ia adalah aktivis yang terlibat dalam gerakan yang memiliki afiliasi dengan partai terlarang. Bahkan, ia sempat dibuang ke Boven Digul. Tidak kapok berulang kali dibuang dan dipenjara, ia melakukan lagi perbuatan sesuai ideologiya: membagikan hasil panen kampung dan ternak sama rata. Dan hal itu membuatnya dipenjara kembali. Utih dimunculkan sebagai gambaran orang yang teguh memegang prinsip akhirnya hidup sia-sia dan menyerahakan dirinya kepada nasib. Karena tingkah lakunya itu istri dan anaknya meninggalkannya, dan di masa senjanya pun ia tetap menjadi orang yang sia-sia karena memertahankan prinsipnya. Ia tak mau menerima uang pensiuanan yang dianggap tidap pantas diterima olehnya karena ia tak mengerjakan apa pun. Dan pada akhirnya kebutuhan sandang dan papannya tergantung pada orang lain. Novel ini mencoba memberi penerangan kembali bahwa batasan moral dan agama telah usang. Moral dan agama lebih sering mengakibatkan orang terbentur dan dihadapkan dengan masalah yang kompleks, bahkan membuat seseorang sanggup menjadi hakim atas baik dan buruknya manusia. Melalui tokoh utama, Kuning dan pamannnya Utih tergambarkan bahwa sesorang harus realistis dalam menjalani hidup. Hilanglah si Anak Hilang berhasil mengisahkan kedua hal tersebut dengan tepat dan rapi.
Pertentangan antara dua paradigma yang berakhir tanpa penyelesaian, karena orang dengan paradigma umum menolak untuk berdialog dengan paradigma lain. Paradigma umum itu langsung menghakimi bahwa paradigma yang lain(yang bertentangan dengannya) itu salah. Yang lain itu menjadi terasing dari lingkungan. Bahkan jika tidak kuat bisa berakibat fatal.
Meskipun begitu, kekurangan di bagian penyelesaian pokok masalah tersebut diselamatkan oleh pemaparan pertemuan "satu lawan satu" antara Kuning, yang merupakan perwujudan ekstrim dari paradigma yang lain, dengan paradigma umum, paradigma lain, maupun orang yang masih ragu-ragu dengan paradigmanya.
Mungkin, ketika ketiadaan ruang untuk berdialog itu disebabkan oleh penutupan diri dari satu pihak, jalan yang paling baik adalah dengan berjalan masing-masing.
Permasalahannya adalah kemauan untuk membuka diri pada paradigma yang lain. Setidaknya, membuka diri untuk berdialog.