Jump to ratings and reviews
Rate this book

Banten: Sejarah dan Peradaban Abad X - XVII

Rate this book
Banten adalah negeri yang sangat kaya sumber sejaarh dan memiliki kekhasan karena berada di antara dua tradisi utama nusantara, yaitu tradisi kerajaan jawa dan tradisi kerajaan jawa dan tradisi tempat perdagangan melayu.

Kerajaan ini tidak menulis sejarahnya sendiri, tetapi juga merangsang banyak tulisan dari pengunjung-pengunjung asing. Alhasil, rekontruksi atas masyarakat. kebudayaan dan mentalitas di negeri ini lebih baik daripada di negeri-negeri lain di nusantara.

Kumpulan tulisan dalam buku ini membicarakan tiga topik utama, yaitu banten sebelum kedatangan islam, komponen- kmponen dari masyarakat banten zaman islam melalui tata perkotaan, perjuangan-perjuangan merebut kekuasaan dan terikatnya Banten pada dunia agraris, dan yang terakhir hubungan banten dengan pihak-pihak asing.

Buku ini ditulis untuk mereka yang paling dekat dengan sejarah Banten, yaitu orang indonesia sendiri, dengan harapan perhatian pembaca akn dicurahkan untuk melengkapi dan mendalami sejarah Banten yang begitu kaya.

430 pages, Paperback

First published December 1, 2008

10 people are currently reading
166 people want to read

About the author

Claude Guillot

24 books4 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
24 (57%)
4 stars
12 (28%)
3 stars
6 (14%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 3 of 3 reviews
Profile Image for Nanto.
702 reviews103 followers
Want to read
September 27, 2009
Karena bacaan Buku Jalan Raya Pos-nya Pram kemaren jadi teringat buku setengah baca ini. Sudah sampai beberapa bab, informasi yang ada di buku Pram yang diamini buku ini adalah thesis tentang Sunda-Kalapa. Walau Pram hanya menyebutkan tentang perjanjian Portugis dengan Banten saat masih menjadi bandar pra-Islam dibawah Pakuan Pajajaran. Namun Pram masih menyebutnya dengan Sunda-Kalapa. Buku ini lebih jauh, menyebutnya dengan Sunda dan Kalapa. Yang artinya Sunda itu Banten sekarang, dan Kalapa itu adalah Jakarta saat ini. Dua nama untuk dua tempat berlabuhnya kapal Portugis. Namun, jejak Portugis di Banten belum dapat dibuktikan dengan prasasti. Kecuali berita bahwa Portugis yang datang berlabuh ke sebuah bandar ramai, yang jelas itu bukan Jakarta masa itu. Karena yang ramai saat itu adalah Banten yang masih di bawah Pakuan Pajajaran. Bandar yang lebih makmur dibandingkan ibukotanya malahan. Sehingga penguasa lokal di sana lebih bebas berhubungan dengan pihak asing tanpa terlalu pusing dengan birokrasi di pusat.

Cek dulu yah informasi di atas!

Lagi-lagi buku yang dibaa harus dengan catatan di sebelah tangan.
Profile Image for Sudi.
76 reviews7 followers
October 19, 2012
Mengkritik pendapat Hoesein Djajadiningrat bahwa Banten didirikan pada tahun 1527 pada masa pendudukan oleh laskar Islam dari Cirebon, Guillot meyakini bahwa sejarah Banten dapat ditarik jauh pada abad ke-10 Masehi. Bersama dengan runtuhnya kerajaan Mataram Kuno di Jawa Tengah, sebagian besar penerus dinasti itu pindah ke Jawa Timur. Namun sebagian kecil memilih pindah ke ujung paling barat Pulau Jawa, mendirikan kerajaan Hindu-Syiwa di kompleks Banten Girang.

Sungguh jauh berbeda dengan kondisi sekarang Banten yang menjadi provinsi yang tertinggal, Banten pada masa itu berkembang menjadi kota pelabuhan internasional, terbesar di Asia Tenggara. Pelabuhan Sunda Kalapa di Batavia atau Jakarta tidak ada apa-apanya dibanding Banten. Perkembangan pesat perdagangan bebas di pelabuhan Banten juga menjadi sumber konflik kelas sosial antara golongan bangsawan (pangeran) dan golongan saudagar (ponggawa). Kaum ponggawa yang posisinya semakin menguat mulai turut campur dalam politik kerajaan, dengan mengatur agar raja yang masih bocah dilantik, sehingga harus ditunjuk wali raja yang pro-kepentingan perdagangan. Kaum pangeran yang merasa kekuasaannya digerogoti melakukan perlawanan, pecah perang saudara pada 1580-1609, berakhir dengan kekalahan telak kaum ponggawa, ditandai dengan pengusiran tujuh ribu orang kaum ponggawa ke Batavia.

Pengusiran kaum ponggawa diikuti dengan pembasmian ekonomi perdagangan lada. Pemerintahan baru dipimpin Ranamanggala menebangi pohon lada, diganti dengan kebijakan penanaman padi. Kecenderungan serupa “anti-saudagar” juga tampak dalam politik kerajaan Aceh dan Banjar, juga menjadikan ekonomi perdagangan lada sebagai sasaran tembak “kaum nasionalis”. Dilihat dari satu sisi, kebijakan ini seolah mematikan “kebangkitan kelas borjuasi nasional”, mencirikan kegagalan bangsa-bangsa Asia dalam transformasi menuju kapitalisme, jika kita mengasumsikan linearitas sejarah seperti terjadi di Eropa. Tapi kebijakan baru yang diteruskan oleh Sultan Ageng Tirtayasa mengikis hipotesis tersebut. Selain melancarkan proyek-proyek besar di bidang pertanian tanaman padi, pemerintahan Banten juga membangun sendiri armada kapal-kapal dagang yang melayari jalur-jalur penting perniagaan antara India, Macao, Manila dan Timor, menyaingi “perusahaan-perusahaan swasta” Kompeni milik Belanda (VOC) maupun Inggris (EIC). Peran “Kompeni Banten” dan pelabuhan berskala internasional itu akhirnya runtuh setelah pecah konflik antara Sultan Ageng dengan puteranya, Sultan Haji. Pasukan Belanda melancarkan intervensi mendukung Sultan Haji, menyusutkan peran pelabuhan Banten, untuk digantikan dengan Batavia, hingga sekarang.

Dari kota pelabuhan internasional, Banten surut menjadi negeri agraris.

(Kutipan dari "Ironi Banten Selatan", http://bacabaca.posterous.com/ironi-b...)
Displaying 1 - 3 of 3 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.