Niko, pemuda Indonesia peranakan Cina-Belanda, tak pernah menduga bahwa mencari belahan jiwa mesti ditempuh melewati rentang jarak dan waktu. Saat tugas kerja ke Cina, hatinya tertambat pada gadis dari desa Nanning bernama Pai Yin, padahal di Indonesia Niko sudah dijodohkan dengan gadis lain.
Prestasi yang melesat membuat kontrak kerja Niko diperpanjang selama dua tahun. Cinta Niko dan Pai Yin semakin kuat, bahkan Pai Yin menolak dikawinkan dengan pria lain dan memilih Niko. Namun situasi politik antara pemerintah Cina dan Taiwan yang memanas membuat Niko harus kembali ke Indonesia, meninggikan Pai Yin dan benih dalam rahim gadis itu.
Di antara kebimbangan harus mematuhi kehendak orangtua atau memilih Pai Yin, Niko memutuskan kembali ke Cina dan mencari Pai Yin. Tapi betapa kecewanya Niko karena Pai Yin menghilang tanpa meninggalkan jejak...
Lan Fang adalah seorang penulis kelahiran Banjarmasin. Alumni Fakultas Hukum Univ. Surabaya ini menulis sejak 1986. Karya-karyanya menjuarai lomba di tabloid Nyata dan novelette Femina 1998, 1999, 2003 dan 2005.
Lan Fang telah menerbitkan: Reinkarnasi (2003), Pai Yin (2004), Kembang Gunung Purei (2005), Laki-laki yang Salah (2006), Yang Liu (2006), Perempuan Kembang Jepun (2006), Kota Tanpa Kelamin (2007), Lelakon, Ciuman di Bawah Hujan (2010). Di tahun 2009 ia juga menerbitkan buku cerita anak: Kisah-kisah si Kembar Tiga (2009). Dan akan menerbitkan kumpulan puisi Ghirah Gatha.
Pai Yin adalah seorang gadis desa sederhana yang bekerja sebagai sekretaris di sebuah pabrik plastik di daerah Gaoshan, salah satu daerah di Kabupaten Fujian, Cina. Niko adalah seorang peranakan Cina-Belanda asal Indonesia yang datang ke Gaoshan untuk membantu menyelesaikan masalah di pabrik tempat Pai Yin bekerja. Pertemuan mereka di pabrik itu menjadi awal mula hubungan cinta mereka.
Hubungan mereka tidak berjalan lancar karena ditentang oleh orang tua masing-masing. Orang tua Pai Yin merasa Niko hanyalah seorang Cina keturunan ke-6 yang sudah tidak lagi bermarga dan tidak mengenal adat istiadat Cina. Bagi mereka Niko adalah seorang asing.
Di lain pihak, keluarga Niko ingin Niko menikahi seorang gadis terpelajar, berasal dari keluarga terhormat, modis, dan berada pada level yang sama dengan keluarga mereka. Bagi ayah dan ibu Niko, Pai Yin hanyalah seorang gadis desa yang terlalu sederhana dan tidak cocok untuk menjadi menantu keluarga.
Di saat konflik Cina-Taiwan memanas, Niko harus kembali ke Indonesia karena desakan pihak orang tua dan perusahaan. Dia berjanji akan kembali untuk Pai Yin, lalu pergi meninggalkan gadis itu tanpa mengetahui bahwa Pai Yin tengah mengandung anaknya.
Ketika Niko menepati janjinya untuk kembali, Pai Yin malah menghilang tanpa jejak. Bagaimanakah akhir kisah hubungan mereka? Mampukah Niko dan Pai Yin kembali bersatu?
Pai Yin adalah novel kedua karya Lan Fang yang saya baca. Novel yang sebelumnya, Ciuman Di Bawah Hujan, cukup mengecewakan dan membuat saya kurang tertarik untuk melirik karya Lan Fang yang lainnya. Tapi mengingat pengalaman saya dengan V. Lestari sebelumnya, saya rasa tidak adil kalau saya menghakimi Lan Fang sebagai penulis yang buruk hanya berdasarkan satu karya saja, karena itulah saya memutuskan untuk membaca "Pai Yin" ini dan bisa dibilang buku ini merupakan perbaikan "image" saya terhadap si penulis.
Alurnya cukup sederhana dan ringkas. Lan Fang mengangkat soal pengotak-ngotakkan etnis dan romantisme cinta dalam karyanya ini. Poin utama yang membuat cerita ini menarik adalah latar belakang sosial antar tokoh dan bagaimana nilai yang berbeda dianut keluarga kedua tokoh utama. Saat keluarga Pai Yin menganggap anak lelaki yang bekerja di Jepang, anak perempuan yang lulusan universitas, dan sebuah rumah beton bertingkat 4 adalah sebuah kehormatan, keluarga Niko menganggap kehormatan keluarga datang dari tingginya pendidikan dan pola hidup yang mereka pandang terhormat.
Ending ceritanya terasa kurang, karena pertemuan mereka terasa terlalu cepat dan kurang dramatis. Mengingat sebelumnya cerita ini diikutkan penulis dalam lomba cerber Femina (dan juga merupakan pemenang lomba tersebut), mungkin akhir yang terburu-buru ini dikarenakan faktor pembatasan jumlah kata/halaman sebagai syarat lomba.
Satu hal lainnya yang terasa mengganggu dalam cerita adalah kata-kata dalam bahasa Belanda yang tidak memilik penjelasan. Seperti spreken friend (yang saya tebak sebagai teman bicara), meisje (anak perempuan/gadis, kalau yang ini kebetulan saya tahu), getrouwd (alias menikah, menurut Bang Google Translate), atau jullie (kamu/Anda) yang muncul berkali-kali dalam cerita.
Secara keseluruhan, buku ini bisa dikategorikan sebagai bacaan ringan (ceritanya hanya sampai halaman 117). Cocok untuk mengisi waktu luang dan untuk orang yang suka membaca cerita tentang persilangan budaya.
Buku kecil yang lumayan menghibur. Pengisi waktu luang dan "camilan" setelah berturut-turut melahap bacaan yang tergolong "berat".
Sejujurnya ekspektasi awal saya terhadap buku ini begitu tinggi karena Lan Fang sudah ada dalam jajaran penulis Indonesia favorit saya. Sebelumnya saya baru membaca satu karyanya saja yang berjudul "Lelakon". Buku tersebut membuat saya terperangah dan mengagumi gaya kepenulisan Lan Fang.
Namun, buku ini terlalu "ringan" di mata saya, dan ceritanya terkesan klise. Saya hanya bisa memaksakan membaca sampai selesai sembari berharap ada sesuatu yang bisa saya dapatkan.
Sebenarnya selain soal perjuangan cinta, tema etnisitas (dalam hal ini: Cina) cukup menarik perhatian. Penulis mengungkap bahwa pengotakan golongan tak hanya terjadi antara orang Cina dan pribumi saja melainkan dalam lingkup keturunan Cina itu sendiri (entah totok maupun peranakan).
Saya pun baru tahu novel ini merupakan pemenang Penghargaan Lomba Cerber Femina tahun 1998, dan buku kedua Lan Fang. Hingga tak keliru kiranya jika saya menggolongkan buku ini ke dalam kelompok "not-my-cup-of-tea".
Mungkin ke depannya ada baiknya untuk saya agar mencari info berupa resensi sebelum memutuskan membeli dan membacanya. Pun "penyakit kambuhan" yang saya derita yakni secara impulsif menaruh ekspektasi berlebih terhadap sebuah buku karena mengagumi penulisnya perlu diobati.
Masih karena saya penasaran dengan Lan Fang, saya membaca novelnya lagi. Saya tidak menemukan kemewahan dalam gaya bahasa Lan Fang. Dari segi alur pun sederhana. Tapi, pada masa itu, novel ini memiliki bobot yang cukup OK bagi saya. Terlihat Lan Fang memiliki cukup pengetahuan, pengalaman, dan kecerdasan sehingga dia bisa menulis novel yang tidak hanya berisi tentang kata-kata indah dan romantisme yang menye-menye. Lan Fang memberikan pengetahuan pada pembaca lewat tulisan-tulisan ringan yang mudah dibaca. Tentang suasana politik, ekonomi, sosial di beberapa negara, Lan Fang tampakkan dalam novel ini. Dan saya beri harga mahal untuk itu. Yang membuat saya menyenangi novel ini adalah kisah cinta Niko dan Pai Yin yang dikemas dengan latar belakang yang sangat berbeda. Namun ada yang membuat saya kembali malas yaitu ketika sampai pada kehamilan Pai Yin. Kenapa ya, cerita di tahun-tahun dulu itu banyak hamilnya? Tapi, OK lah, kekurangan itu tidak begitu bermakna dibanding kelebihan lain yang ada di novel ini.
Cerita ringan, pengisi waktu luang yang ga banyak (karena bisa segera selesai dibaca), mudah ditebak jalan ceritanya. Yang membuat buku ini "sedikit tidak biasa" ialah dengan menyertakan sentuhan budaya yang mengajak kita untuk memahami sulitnya keputusan yang diambil tokoh cerita.