Jump to ratings and reviews
Rate this book

Biarkan Kematian Merayakan Kehidupan

Rate this book
Namun, wanita di hadapanku menangis. Ia merindukan anak yang tak pernah kami besarkan, mengenang pernikahan yang tak pernah kami langsungkan, dan mengingat ciuman yang dulu kami lakukan. Waktu tidak pernah mengubah nurani sekaligus naluri seseorang. Aku bertanya dengan lembut apa yang sebenarnya ia takutkan. Dengan bisikan yang hampir tak terdengar ia berkata bahwa dalam rahimnya bersemayam trauma abadi.
-Dilatasi Masa-


Tidak selamanya kematian ditempatkan dalam satu alur cerita yang identik. Seekor anak anjing menjadi saksi kematian berkali-kali, seorang ayah membawa pulang sang buah hati setelah istrinya meninggal, sepasang pelarian bersembunyi dari pembantaian, seorang anak mempertahankan makam sang bapak, seorang kakek menyerahkan sisa napasnya kepada sang laut, dan seorang pemuda yang mengakhiri hidupnya di tangga surga. Mereka adalah bagian dari ke-16 kisah yang mempertanyakan ulang: batas identitas dan pilihan minoritas.

Kematian di dalam buku ini, bisa bermula, berakhir, dan hanya berdiam di tengah-tengah untuk disadari bersama kehadirannya. Awi Chin merajut cerita-cerita tentang beragam kematian dari orang-orang yang telah ditinggalkan dan akan meninggalkan. Dia seperti ingin mengatakan bahwa kematian adalah sumber mata air yang mengaliri kehidupan. Dia membiarkan ke-16 cerpennya mengalir ke mana pun yang mereka inginkan, namun bermuara pada kepulangan yang paling jujur. Maka dari itu, kita patut merayakannya!

228 pages, Paperback

Published December 7, 2022

Loading...
Loading...

About the author

Awi Chin

10 books32 followers
Awi Chin is an Indonesian writer and translator, and the founder of the independent library Taksu Pustaka and the bookstore and sustainable café Taksu Book Café in South Jakarta. His debut Indonesian-language novel, Yang Tak Kunjung Usai (2020), received critical acclaim and marked his emergence as a distinctive literary voice.

He was longlisted for the Jakarta Arts Council Novel Competition in 2025, and his translation work appeared in Mekong Review (May 2026). His work has also been selected for the New Writers Speculative Showcase at the 82nd World Science Fiction Convention in Glasgow.

Awi was an Emerging Writer at the Ubud Writers & Readers Festival (2022) and a resident at AIR Literature Västra Götaland through Gothenburg City of Literature, Sweden. A Chevening Scholar, he holds an MSc in Creative Writing from the University of Edinburgh.

His writing engages with themes of identity, memory, queerness, grief, and cultural displacement, often moving between Indonesia and its global diasporas. He is represented by Jacaranda Literature Agency.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
1 (7%)
4 stars
7 (53%)
3 stars
4 (30%)
2 stars
1 (7%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 6 of 6 reviews
Profile Image for Sunarko KasmiRa.
313 reviews6 followers
December 11, 2022
Biarkan Kematian Merayakan Kehidupan merupakan KumCer karya Awi Chin yang berisi 16 cerita dengan kisah yang beragam namun masih memiliki keterkaitan tema dan benang merah yang serupa yaitu kematian. Meskipun cerita dalam buku ini bernuansa kelam, dipastikan setiap cerita mengandung pesan moral yang positif. Bahkan, bagi saya: kematian adalah ihwal yang paling dekat dengan kehidupan.

Menurut saya beberapa hal yang membuat KumCer ini menjadi menarik, yaitu:
1. Tema kematian yang ditulis dan disampaikan dengan sudut pandang yang sederhana. Meskipun bertema tentang kematian, cerita yang ada tidak lantas menakut-nakuti pembaca. Justru, kita akan disuguhi cerita yang kengeriannya memberikan pemahaman dan kesadaran tersendiri.

2. Hampir keseluruhan cerita yang ada memiliki latar belakang tempat dan padu padan budaya lokal daerah Kalimantan. Bagi saya, menikmati karya yang memiliki unsur budaya yang berbeda dengan asal muasal saya merupakan kemewahan tersendiri. Saya jadi punya wawasan baru yang beragam.

3. Mengangkat isu sensitif yang artinya berani untuk tidak disukai banyak orang. Selain memiliki tema kematian, cerita yang ada juga banyak sekali mengangkat tema-tema sensitif seperti sejarah kelam, isu lingkungan, kemanusiaan dan juga tentang gender.

Dari 16 cerpen yang ada, favorit saya adalah cerpen dengan judul Si Cantik Pony. Berkisah tentang seekor Orang utan bernasib malang yang dijadikan objek komersial oleh seorang wanita. Bukan sebagai tontonan, namun ia dijadikan pelampiasan nafsu laki-laki bejat. Favorit saya berikutnya adalah cerpen dengan judul Debu ke Debu yang mengangkat tentang isu lingkungan.


Profile Image for Henzi.
234 reviews23 followers
February 7, 2023
Sabur Limbur dan Biarkan Kematian Merayakan Kehidupan merupakan dua dari 16 cerpen yang saya favoritkan dari buku ini.

Sabur Limbur, mengisahkan seorang pria yang terpaksa menjauh dari keluarganya karena memilih untuk menganut keyakinan yang berbeda. Papanya, yang menolak keinginannya, bersikeras agar anaknya untuk tetap di keyakinan keluarganya. Namun, karena anaknya—Yusuf—sudah bertekad, ia memilih untuk tetap bulat sama keputusannya. Akibatnya, ia harus hengkang dari rumahnya. Selama berpisah, ia mengamalkan dengan baik atas pilihan yang ia jatuhkan. Ia taat kepada agamanya. Sayangnya, pada suatu hari, ia mendapatkan kabar buruk mengenai papanya dari adik perempuannya, Mei Mei. Ia panik, shock, dan tidak percaya, bahwa ia harus kehilangan papanya. Ia sesak, mana kenangan terakhirnya bersama papanya tidaklah baik. Mereka belum sempat “berbaikan”. Saat membaca cerita ini, saya merasa ter-trigger sekaligus diingatkan untuk selalu berusaha menciptakan momen baik dengan sesama manusia. Sekalipun ada yang buruk, sebaiknya segera diperbaiki sebelum terlambat. Tidak mudah untuk menerima apalagi memaafkan diri, atas kesalahan yang mungkin kita lakukan sebelumnya, apalagi tidak bisa ditebus di masa kini. Seandainya saja penyesalan bisa datang di awal, ya.

Selanjutnya, cerpen kedua berkisah sesuai dengan judulnya—sama dengan judul buku. Seorang ibu, yang rela berkorban sampai dengan titik darah penghabisan, demi memberikan kehidupan kepada anak yang dikandungnya selama 9 bulan. Sang suami, sekaligus ayah dari sang anak, merasa terkejut, tak terima, belum mampu mencerna atas kejadian kilat yang menimpa kepadanya, karena kebahagiaan yang pernah mereka rencanakan sebelumnya berubah total. Bagian dari kehidupannya terasa direnggut, dibawa pergi oleh almarhum istrinya. Sebelum anaknya lahir, ia dan istrinya telah menyiapkan 3 set piama untuk dipakai bersama nanti. Namun, nasib berkata lain. Ia harus merelakan 1 set piama nganggur. Saking nyeseknya, ada momen di mana ia sengaja menyetel AC sampai suhu terendah, kemudian ia tidur dengan tanpa memakai baju dan selimut. Tujuannya supaya rasa sesak yang dirasakan bisa dikalahkan oleh dingin yang mencekam. Sebagai pembaca, saya juga turut merasakan duka yang dialami pria tersebut. Betapa pun baiknya kita merencanakan, aktualisasinya tidak akan selalu berjalan baik. Dari sini, saya belajar akan pentingnya untuk menghargai orang-orang yang masih ada dan hadir di dalam kehidupan kita.

Tidak hanya 2 cerpen yang disebutkan di atas, saya juga menyukai judul lain, di antaranya Si Cantik Pony, Debu ke Debu, dan juga Warui Hito. Masing-masing cerpen memiliki kisah yang berbeda, yang tentunya membawa pesan yang menarik pula untuk direnungkan.

Hal lain yang perlu diapresiasi adalah kuatnya budaya yang ditonjolkan dari setiap cerpen dalam buku ini. Salah satunya, adalah budaya dan bahasa Khek yang banyak diselipkan dalam cerpen ini. Namun, ada beberapa konteks yang menurut saya, diartikan dengan kurang tepat. Sebagai contoh, “khiw-khiw”, seharusnya adalah paman dari Mama. Ada pun paman dari Papa, dibagi jadi dua panggilan, yaitu “shuk-shuk” (adik dari Papa) dan “apak/pak-pak” (abang dari Papa). “Tun nyuk”, menurut saya tidak dapat disebut sebagai semur babi kecap. Secara harafiah, tun artinya kukus, dan nyuk adalah daging. Daging babi, dipadukan bersama dengan tumisan sawi asin kering (ham choi), ebi kering, cumi kering, lobak kering yang dikasih sedikit saos tiram dan juga kecap. Setelah itu, semua dicampur dan dikukus. Selain itu, ada juga di antaranya dialog Khek yang kurang beresonasi, sehingga kalau dibunyikan menjadi sedikit aneh. Namun, di luar dari semua itu, saya merasa senang budaya orang Khek dan juga budaya-budaya dari daerah lain bisa diperkenalkan melalui buku ini. Saya berharap, semoga buku ini dapat membawa banyak manfaat, terutama pesan kehidupan kepada setiap orang yang membacanya.
Profile Image for Millenysm .
68 reviews3 followers
November 27, 2023
3,5 🌟
Seusai menuntaskan "Yang Tak Kunjung Usai" dan "Debur Ombak Memanggilmu Kembali", saya kemudian memutuskan untuk melanjutkan marathon membaca karya Koh Awi dengan kumcernya yang bercover sangat 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘤𝘪𝘯𝘨 ini.

Terdapat 16 cerpen dihadirkan dengan tema sentralnya yaitu kematian, yang dikemas dalam beragam genre dan isu-isu sosial, seperti drama pada cerpen Sabur Limbur yang mengangkat isu perbedaan keyakinan; horror pada cerpen Warui Hito yang mengangkat sejarah kelam di daerah Mandor; romance pada cerpen Bujang Dara dengan isu perusakan alam; dan mystery pada cerpen Kayau dengan isu perang antar suku.

Terdapat pula cerpen dengan narasi dari perspektif unik seperti pada cerpen Pohon Gantung Diri dengan narator seekor anjing, Penjajahan dalam Sembilan Paragraf dengan narator kuntilanak, dan Si Cantik Pony yang menceritakan kisah seekor Orang Utan.

Tak hanya itu, bagi pembaca yang sudah khatam novel Yang Tak Kunjung Usai dan Debur Ombak Memanggilmu Kembali maka siap-siap bernostalgia kembali dan sanyam senyum seperti orang sawan karena akan ada cerpen yang menghadirkan kembali tokoh-tokoh pada kedua novel tsb. Seperti pada cerpen Ngelaban Kenangan yang mengisahkan after story antara Saul dan Bagas, lalu cerpen Debu ke Debu tentang proses adulthood Abangnya Bagas, dan Pukul Raga yang mengisahkan side story dari Yohan si juru Ta Thung.

My personal favorit adalah cerpen Petilan Nehemia yang Bunuh Diri di Tangga Surga karena riset akan budaya Toraja yang sangat meticulous dengan gaya narasinya yang berpindah-pindah narator. Lalu cerpen Penjajahan dalam Sembilan Paragraf yang mengisahkan sejarah kota Pontianak dari persepektif mbak Kunti, dan kemudian cerpen Hela Terakhir sang Penyisir Ombak yang mengisahkan orang Bajau dengan narasinya yang sendu nan liris.

Harus ku akui, jika harus dibandingkan dengan karya tulis Koh Awi sebelum-sebelumnya, kumcer ini memiliki keistimewaannya sendiri. Dari beragamnya genre, gaya narasi, hingga isu-isu yang diangkat, dapat terlihat versatility Koh Awi sangatlah admirable, selain itu keseriusan riset pada beberapa cerpen is absolutely a chef's kiss .

As a conclusion, kumcer ini menjadi medium yang mengukuhkan kepiawaian penulis dalam meramu ide dan persepsinya kedalam bentuk cerita pendek yang dalam keterbatasan jumlah kata dan halamannya tetap substansial pada segi isu-isu dan pesan yang dibawa, menjadikan kumpulan cerpen ini cukup berkesan.
Profile Image for ⭑.
189 reviews7 followers
June 28, 2025
Sempat mangkrak di 2 cerita terakhir karena terkena reading slump dan sejujurnya membaca buku ini karena penasaran dengan spin offnya Bagas-Saul yang ternyata tidak kalah menyakitkan dan juga menghangatkan seperti buku Tak Kunjung Usai.

Namun begitu, seluruh kisah yang ada di buku ini memiliki diversitasnya masing-masing. Tidak hanya ada latar Kalimantan, tetapi daerah lainnya seperti cerita “Bunuh Diri di Tangga Surga” yang memiliki latar Tana Toraja. Bahkan juga ada cerita yang mengisahkan kisah nyata yaitu “Si Cantik Pony” yang sukses bikin merinding geli dan jijik.

Setiap kisahnya memiliki tingkat kesakitan dan kengerian yang berbeda. Pastikan ketika membaca ini dalam kondisi stabil karena cukup banyak hal yang dapat memicu pikiranmu sendiri.

Overall, still a good book to read dan bagian Bagas-Saul akan tetap menjadi kesukaan saya (personally).
Profile Image for Aarif.
74 reviews
October 12, 2025
apresiasi untuk sentuhan budaya di beberapa cerita, meski saya sendiri gak menemukan ketertarikan karena kesannya yg hanya sebatas sampul, juga ketiadaan kecakapan untuk menyusun gaya bahasa yg mampu mengimbangi tema buku, jadi berakhir hambar dan tanpa rasa.
Profile Image for Awi Chin.
Author 10 books32 followers
Read
January 30, 2023
Mari merayakan kehidupan bersama melalui kumpulan cerpen perdana saya, Biarkan Kematian Merayakan Kehidupan.
Displaying 1 - 6 of 6 reviews