Jump to ratings and reviews
Rate this book

Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang

Rate this book
Dia laki-laki Tionghoa yang tinggal bersama anak-anaknya melewati tahun 1965.

Berbagai kejadian menguji kekuatan hidupnya.

Dia bertahan.

Dia hidup melewati zaman.

Dia menua, hingga merasa telah hidup terlalu lama.

Kini, dia cuma menginginkan satu hal: Mati.

Ternyata, mati juga sama sulitnya.

266 pages, Paperback

Published December 20, 2022

9 people are currently reading
217 people want to read

About the author

Wisnu Suryaning Adji

7 books11 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
38 (21%)
4 stars
105 (58%)
3 stars
32 (17%)
2 stars
3 (1%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 30 of 56 reviews
Profile Image for Natasha Winchester.
74 reviews2 followers
January 8, 2023
Baca buku ini harus dalam keadaan lagi baik-baik aja. Karena sepanjang cerita, narasi dari sang kakek tua berasa banget depresifnya, berkali-kali dia bilang pengen mati. Bisa triggering banget buat yang suicidal, ada trauma kekerasan seksual, atau ada riwayat depresi. Salut sama penulis yang udah berhasil menggambarkan POV dari orang yang depresif dan penuh trauma. Nggak gagal sama sekali!

2 bagian awal buku ini agak slow paced menurutku. Agak membosankan. Maklum karena baru perkenalan. Cukup gloomy juga karena si kakek ini pemikirannya depresif banget dan salty sama semua orang (tapi kadang omongan salty-nya lucu juga😭).
3 bagian terakhir mulai rame karena konfliknya mulai kelihatan. Cukup page turner dan nggak bosenin.
Part terakhir makin berasa perihnya sama trauma yang dialami sang kakek dan istrinya, sampe berkaca-kaca pas baca.

Buku ini selesai kubaca dalam waktu 3 hari. Nggak nyesel sama sekali ngejadiin buku ini bacaan pertama di 2023.
Profile Image for Sejutaluka.
64 reviews9 followers
January 8, 2023
Sekira awal tahun 2000-an saya sempat menyewa sebuah ruko untuk warnet, pemiliknya seorang lelaki tionghoa yang berusia lebih dari 70 tahun. Beliau tinggal di sekitar di Jakarta Barat sedangkan ruko tersebut ada di Tangerang. Setiap tahun pasti datang untuk mengambil uang sewa dan menyerahkan surat sewa baru, yang istimewa dari peristiwa kecil itu adalah beliau dari Jakarta Barat ke Tangerang berangkat sendiri dengan menggunakan bis umum. Jalannya lambat mungkin menyesuaikan dengan otot-otot kakinya yang yg mulai mengendur, bicara perlahan dengan suara yang juga pelan, membaca surat kontrak pun demikian, tapi kejeliannya terhadap hal-hal kecil tak bisa dianggap tua. Keseluruhan sosoknya menyiratkan kekerasan sikap yang mungkin telah dibentuk sedari muda. Pak Yahya namanya, visualisasi beliau yang saya pinjam untuk menghadirkan karakter tokoh utama pada buku ini dalam benak saya.

Buku ini bukan tentang banyak hal, juga bukan tentang banyak karakter tokoh. Buku ini hanya tentang lelaki tua (yang tak diberi nama oleh penulisnya) yang menyiapkan makan malam terakhir untuk kemudian mengakhiri hidupnya.

Lelaki tua ini bermonolog menceritakan jalan hidupnya yang terentang panjang melewati sederet peristiwa besar di negeri ini, juga melewati perlakuan diskriminatif sebagian besar kita terhadap etnis minoritas. Tipis, ya memang terasa tipis 'taste' sejarah dan peristiwa sejarah yang disajikan si lelaki tua pada cerita panjangnya namun tetap saja saya menempatkan buku ini pada genre fiksi sejarah, toh bukankah kita tak pernah komplain ketika cappucino yang kita beli lebih terasa krimer dan gula ketimbang kopinya? dan saya pun yakin penulis menulis buku ini bukan untuk menambah deret baru pada list genre buku tertentu.

Walaupun hanya satu karakter tokoh yang menonjol pada buku ini namun karakter ini sukses menjadi sosok yang betul-betul utuh menggambarkan lelaki tua renta yang bosan dengan kebodohan-kebodohan kelima anaknya, yang menyalahkan sistem pendidikan nasional yang gagal mengusir kebodohan walaupun mengajarkan membaca, yang tak percaya orang lain sekedar hanya untuk melumasi engsel pintu kamar mandi, dan banyak lagi yang yang lainnya... :)

Tanpa mencoba menggurui pembaca untuk mendapatkan nilai hidup, buku ini menyajikan sebuah hidup lelaki tua yang perlu dipertahankan. Tanpa berdasarkan pada nilai doktrin kepercayaan apapun buku ini menyajikan kepercayaan yang teguh untuk terus merawat janji yang terlanjur terucap.

Mungkin banyak hal lain lagi yang bisa saya tulis tentang buku ini, namun ternyata saya terlalu bodoh untuk bisa mengutipnya, mungkin ini karena saya hasil dari sistem pendidikan nasional.... hehhhe... entahlah.

Oh iya, untuk Mas Wis, satu jam kita berbincang melalui telepon tampaknya tak sia-sia, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Mas Wis sukses menampilkan sosok lelaki tua tionghoa yang keras kepala seperti saya mengenal lelaki tua tionghoa yang juga keras kepala waktu itu. Sukses selalu untuk Mas Wis. Tabik!.

"Cukup wajar untuku seorang manusia biasa: baru menyadari harga kehidupan kalau sudah melihat betapa dekat kematian."
Profile Image for Damma.
152 reviews9 followers
February 18, 2023
Ncek. Malaikat Maut. Komunis. Revolusi. Kematian. Cinta.

Seorang pengusaha toko terpal yang hidup dalam kehidupan yang biasa-biasa saja dengan harapan kematian segera menghampirinnya. Serta mempunyai anak-anak yang hanya memikirkan kematian ia untuk harta warisan. Singkatnya ceritanya tuh seperti itu, namanya juga singkat jadi penjelasannya tidak detail agar tidak menimbulkan spoiler.
.
Kira-kira butuh sepuluh hari untuk menyelesaikan novel ini, bukan karena bosan tapi kesibukan. Ceritanya tuh asik, apalagi pas dikasih liat cara berpikir Ncek ini gimana. Bikin ngakak. Tapi makin jauh ceritanya mulai berubah jadi lebih gloomy dan gelap.
.
Membaca novel ini sungguh bikin boros highlighter-ku, soalnya banyak banget kalimat yang quotable. Rasanya setiap 5 halaman ada aja kalimat ter-highlight.
.
Timeline ceritanya maju mundur, dari kehidupan tua ke kehidupan mudanya yang serba terbatas dan penuh cobaan.
.
Oh iya, novel ini sepenuhnya membahas kehidupan seseorang sebelum dan sesudah tragedi 1965, bagaimana kejadian-kejadian tersebut bisa menyebabkan mental seseorang berserakan berkeping-keping layaknya setoples gula yang terjatuh ke lantai.
.
Biasanya saat kita mendengar novel dengan tema 65 atau 98 pasti banyak berfokus pada kejadiannya, sedangkan novel ini lebih menyoroti kehidupan, kognitif, dan mental individu yang mengalami kejadian tersebut. Nangkep gak kira-kira? 😅
.
Layak banget buat kalian jadiin list TBR tahun ini. Ada trigger warnings-nya juga: suicidal thoughts, depression, rape, bullying.
Profile Image for ran..
28 reviews3 followers
December 25, 2023
Ekspresiku baca tiga halaman terakhir novel ini adalah melongo 😲😲 karena agak tidak menyangka endingnya akan seperti ini. Lalu jadi tau kenapa di cover belakang dan halaman terakhir diberi trigger warning. Perjalanan hidup Si Laki-Laki Tua ini memang ngga mudah yaa. Dari kecil dia udah terlunta-lunta tanpa orang tua dan di masa tuanya pun dia “terlunta-lunta” juga meski punya banyak anak. Si Laki-Laki Tua juga merasa “ragaku hidup, tapi jiwaku telah lama mati” pasca peristiwa 1965 yang berhubungan dengan Komunis. Kehampaan ini semakin parah sepeninggal istrinya. Ia menghabiskan sisa hidupnya dengan mengelola Toko Terpal miliknya sembari menunggu Malaikat Maut menjemput. Sebenarnya bukan cuma itu saja, Si Laki-Laki Tua juga menceritakan perjalanan hidupnya yang full of surprised. Tentang bagaimana dia ketemu sama orang-orang baik karena dia juga sebetulnya melakukan banyak kebaikan, sehingga di masa-masa kritisnya dia selalu ketemu sama kebaikan yang datang dengan cara ngga disangka-sangka. Ending-nya agak surprised ya buatku. Sebaiknya novel ini memang dibaca dalam keadaan baik-baik saja karena triggering bagi sebagian orang. Ada mention suicide, rape, kekerasan, hingga mungkin depresi. ⭐️4.5/5
Profile Image for Aksara Raia.
48 reviews13 followers
February 16, 2023
4.5/5

Sejujurnya buku ini bisa aku selesaikan dalam tiga sampai empat hari kalau kegiatanku nggak seabrek ini, apalagi dua minggu terakhir yang mengharuskan aku buat fokus di sana.

Ceritanya mengalir tanpa harus ada pemahaman yang mendalam pada suatu hal jadi sebab buku ini seru!

Seorang laki-laki Tionghoa yang telah senja, menginginkan untuk segera mati tapi kita disuguhkan cerita kilas balik dan kisah masa kini secara bergantian dan dari sudut pandangnya. Membuat aku lebih bisa masuk ke dalam dinamika cerita.

Pembawaan karakter Ncek yang misterius di awal dan menjelang pertengahan hingga akhir aku jadi paham kenapa dia bisa sebegitu desperate dalam hidupnya yang sekarang. Bagaimana dia menjalani kehidupan di masa lalu yang membawanya pada sebuah trauma.

Dari Ncek, aku juga banyak belajar perihal mencintai seseorang, nggak mudah menyerah pada kejamnya hidup apalagi orang-orang yang amat membenci kita padahal sama-sama manusia kenapa penuh benci, sih?

Romantisme Ncek dan istri juga kegetiran perjuangan hidupnya membuat aku terharu, banget. Ada di bagian awal dituliskan puisi atau sajak. Lalu di bagian akhir dituliskan eulogi. Buku ini bagus, dengan format penulisan narasi yang unik!
Profile Image for Alfin Rizal.
Author 10 books51 followers
January 12, 2023
Begini. Entah menyederhanakan atau malah merumitkan, menurutku Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang ini novel tentang orang-orang yang seumur hidup menanggung cinta dan rasa bersalah sama besarnya. Mungkin cukup beruntung bagi mereka yang lekas mati. Namun, sial, tentu saja, bagi tokoh utama kita di buku ini yang tetap hidup dan harus menanggung seluruh rasa bersalah dan cintanya yang pilu.

Ia harus menyiasati hidup dari zaman ke zaman yang "..., tak pernah mudah untuk siapa pun yang hidup di situ." Dan, dari seluruh manis getir hidup yang telah dialaminya itu, ia berniat menyusun rencana besar yang, menurutnya, bisa menenangkan kematiannya.

Kita akan menyimak tokoh kita 'mengoceh' di sepanjang buku ini. Mengingatkanku pada tokohnya Carlos Fuentes di buku "Apollo dan Para Pelacur" atau entah kenapa kadang juga aku ingat Mario Vargas Llosa.

Tokoh kita di buku Rencana Besar ini akan 'mengoceh' tentang apa saja. Seringnya tentang kelima anaknya yang tak berbakti dan masa tuanya yang tak kunjung berhenti. Kadang mengenang betapa bucinnya ia kepada istri, lalu menilik luka masalalu yang merongrong hidupnya hingga kini. Trauma yang tak terobati. Pada kisah bagian inilah, mungkin, yang membuat buku ini berlabel Trigger Warning.

Memang ngeri. Pilu sekali terasa di beberapa bab (terutama bab "Pohon Bakau, 4").

Namun, sesekali dalam 'ocehan'-nya, ia pun berhumor dan ber-satire ria dengan luwes. Membikin kita bisa kembali stabil dan siap menyimaknya. Misal: "..., terlalu banyak orang bodoh gemar mengoceh tentang hal-hal yang tidak mereka pahami." (hlm. 103), atau "Sebelum ditepati", katanya, "janji harus dianggap sebagai kata-kata yang pasti diingkari." (hlm. 154), dan banyak lagi.

Lalu, apa buku ini termasuk fiksi sejarah? Ya. Tokoh kita ialah penyintas tragedi '65. Tapi, juga termasuk buku cinta? Ya. Tokoh kita cukup romantis dan bucin. Ia mengalami cinta dan tengah, mengutip puisi Jokpin, "berjihad melawan trauma."

Buku bagus.
Profile Image for tata.
113 reviews5 followers
May 21, 2023
Aku baca buku ini kurang dari sehari dan sebenarnya agak bosan dengan ceritanya. Aku nggak menampik tokoh-tokoh di sini menarik perhatianku, juga latar waktunya, apalagi penggunaan kata ganti “gadis itu”, “anak A sampai C” tanpa nama, menurutku Wisnu agak malas bikin kerangkanya dan nggak masalah, sih. Buku ini tentang seorang laki-laki tua Cina yang hidup lama dan mengalami berbagai masa pelik di Indonesia dan dia hanya ingin mati dengan tenang. Agak mirip banget dengan buku A Man Called Ove, somehow. Ia “merencanakan” kematiannya dengan “mendongeng”, alur kilas balik berkali-kali dan cerita yang baik. Aku selalu suka modelan seperti ini, jadi bacanya tenang dan nyaman. Ada beberapa adegan yang dikenai trigger warning dari penerbit. Untuk sebuah buku yang kisahnya menarik, dari sudut pandang yang unik dan jarang aku temui, buku ini patut dibaca.
Profile Image for Rei.
366 reviews43 followers
August 2, 2023
'Manusia berutang budi pada semua kepahitan dalam hidupnya, pada masa lalu, juga pada kenang-kenangan yang hendak dilupakan, karena kebahagiaan tidak punya kekuatan yang lebih besar daripada kepahitan untuk mengubah hidup seseorang, juga nasibnya.' -hal. 139.

Seorang lelaki tua keturunan Tionghoa berusia 70an tahun bangun setiap pagi dengan memastikan bahwa ia masih hidup, bahwa langit-langit kamar yang dilihatnya bukanlah langit-langit peti mati, ia tersenyum untuk menguji apakah otot-otot wajahnya masih berfungsi, dan menyahuti panggilan anaknya dari luar pintu, panggilan untuk memastikan bahwa ia masih hidup.

Sisa hidup Encek Tanpa Nama ini dihabiskan dengan menggerutu dan mengomel. Tentang mendiang istrinya yang meninggalkannya duluan sembari memaksanya berjanji untuk menjaga anak-anak mereka; tentang anak-anak dan menantunya yang dianggapnya bodoh dan tak berguna dan tak sabar menunggu kematiannya demi warisan; tentang sistem pendidikan yang bobrok; tentang para pegawai dan langganannya di toko terpal yang dikelolanya; tentang berbagai kejadian pahit yang dialaminya sepanjang hidupnya. Akhirnya, Encek memutuskan untuk mengundang sendiri Malaikat Maut. Ia mempersiapkan makan malam yang mewah dan elegan dengan hidangan-hidangan enak yang mengingatkannya pada mendiang istrinya, mengurus surat wasiat dan pembagian harta, dan terutama, mengunjungi panti asuhan tempatnya dulu dirawat, demi menutup semua trauma yang dialaminya sepanjang hidupnya.

Kata-kata 'bodoh' dan 'tak berguna' dan makian sejenis berhamburan dengan boros dalam narasi sang lelaki tua, yang sebenarnya lama-lama menjengkelkan juga (memang dia sendiri sepintar dan sehebat apa sih?). Namun kisah hidupnya yang keras dan diceritakan pelan-pelan terus memantik rasa penasaranku sehingga aku bertahan membaca buku ini sampai selesai. Tak bisa dimungkiri, hidup sang lelaki tua memang pahit: ia mengalami kekerasan di panti asuhan, hidup luntang-lantung di pasar dan bekerja demi makan untuk hari itu. Ia bertemu dengan sang istri yang putri seorang juragan beras dan hidupnya agak membaik, namun keberuntungannya ini membuat gusar sesama kuli pasar yang iri, ditambah lagi pergaulan rapat sang juragan beras dengan pedagang pasar lain yang sangat mendukung komunisme (walau kata ini tidak disebutkan terang-terangan; kita harus menerka-nerka saja walau agak jelas), yang juga menyeret ia dan istrinya menjadi korban kekejaman operasi penumpasan PKI yang menorehkan trauma mendalam.

Buku ini suram dan depresif, penggunaan diksinya juga menurutku agak bertele-tele. Latar sejarah yang membentuk karakter utama malah sangat singkat. Si karakter utamanya sendiri menjengkelkan karena terus mengomel. Tapi menyimak orang mengomel lama-lama seru juga haha. Kurasa memang ini yang menjadi keunggulan buku ini: gerutuan sang lelaki tua yang menyeret pembaca terhanyut dalam kehidupannya yang pahit. Endingnya, hmmm aku kurang paham.
Profile Image for Kezia Nadira.
60 reviews6 followers
May 13, 2023
"Ada dua kemungkinan mengapa kau bisa begitu mengingat masa kecil yang seharusnya terlupakan. Pertama, kau begitu bahagia. Kedua, kau begitu menderita. Aku yang kedua." - "Aku", hlm. 162.

———————————————————————————


Kutipan di atas seolah menggambarkan sosok "Aku" di kisah ini, yang sampai akhir cerita tidak kita ketahui nama aslinya. Kita mengenalnya sebagai "kakak" yang merupakan panggilan dari mendiang istrinya, atau "Ncek" oleh orang-orang sekitarnya, "Ayah" oleh kelima anaknya, dan walau ia sangat membenci panggilan ini, "Koh" oleh beberapa orang yang bahkan tidak mengenalnya.

Hidup si karakter utama begitu menderita, oleh karena itu ia merencanakan kematiannya sendiri karena si ajal tak juga kunjug datang di saat ia sudah tidak mau dan tidak tahan lagi hidup.

Buku ini mengangkat berbagai faktor yang berkontribusi dalam "merusak" jiwa seseorang, mengoyak kesehatan dan keadaan mentalnya, menggelapkan pikirannya, dan membenci hidupnya sendiri. Sosok "Aku" di dalam buku ini adalah contohnya, karakter seorang kakek beretnis Tionghoa berusia 76 tahun yang sangat ingin mati. Buku ini menjelaskan mengapa ia sangat ingin mati, dan bagaimana caranya ia memilih untuk mati.

Mari kita kupas cerita dalam buku ini!

Kisah dalam buku ini dibagi menjadi 5: Tabung Logam, Kamar Kosong, Telepon Genggam, Tongkat Rotan, dan Pohon Bakau. Pembagian dan penamaan chapter dalam buku ini bukan tanpa alasan, melainkan ada maksud tersendiri. Chapter "Tabung Logam" dinamai tersebut karena si Ncek (saya panggil saja si karakter "Aku" dengan sebutan ini) tidak bisa move-on dari istrinya yang meninggal, sehingga ia belum menyebarkan abu mendiang istrinya melainkan menempatkannya pada tabung logam. Chapter "Kamar Kosong" dinamai tersebut karena pada chapter in isi Ncek memutuskan untuk mengundang "malaikat maut" untuk menjemputnya melalu makan malam, yang akan diadakannya di kamar kosong di rumah ini. Kamar kosong di mana mendiang istrinya meninggal, kamar kosong yang sangat diperebutkan dan diributkan kelima anaknya, kamar kosong yang ia siapkan untuk rencana besarnya ini. Chapter "Telepon Genggam", menurut saya, dinamai begitu karena pada bagian ini si Ncek 'belajar' menerima teknologi - sesuatu yang dipahaminya sebagai alat yang membuat manusia semakin malas, yang sangat ditolaknya pada awal mula, namun ia gunakan untuk merencanakan makan malam terakhirnya. Chapter "Tongkat Rotan" adalah bagian di mana si Ncek mengingat masa lalunya, sewaktu ia ditinggal di panti asuhan oleh orang tuanya, dan memutuskan pergi saat berusia 10 tahun. Tongkat rotan adalah alat yang dipakai 'ayah asuh'nya di panti asuhan untuk memukulnya. Di sinilah ingatan-ingatan pahit si Ncek mulai bermunculan. Chapter terakhir adalah "Pohon Bakau". Dinamai begini karena Ncek ingin abunya dan abu istrinya bersama-sama disebarkan di pohon bakau, agar bisa 'hidup dan bertumbuh' lagi seperti pohon bakau. Tidak hanya itu, mendiang mertuanya (A Pe dan A Ko) yang telah sangat berjasa memperbaiki hidup si Ncek, abunya juga disemayamkan di sana.

Karakter Ncek adalah seorang lansia yang sendirian. Ia menuturkan bahwa ia selalu sendirian. Ia juga digambarkan tidak pernah tersenyum, melalui penuturannya bahwa dulu istrinya selalu bertanya kenapa ia tidakk pernah tersenyum - yang kemudian baru kita mengerti kenapa Ncek begitu "jarang tersenyum", saat membaca bagian keempat (Tongkat Rotan) sampai habis. Ia sangat benci kemalasan, kebodohan - ia bahkan suka memanggil orang bodoh dan mengutuk kebodohan mereka, ia benci sistem pendidikan nasional yang merusak otak generasi setelahnya, ia benci orang yang tidak bayar hutang, ia benci orang yang tidak teliti dan tidak becus melakukan pekerjaan seperti anak-anaknya - ya, ia benci kelima anaknya yang sangat haus harta dan bahkan tidak pernah memedulikannya bahkan untuk mengantarkannya makan bakmi, ia benci orang yang tidak bisa membedakan mana bakmie dan mie ayam atau kuotie dengan kwetiau, ia benci orang yang tidak tahu apa yang harus dilakukannya dalam pekerjaannya dan juga orang yang tidak mendengarkan saat orang bicara serta orang yang tidak bisa melakukan perhitungan dalam segala perkara dalam hidup.

Namun, sosok Ncek adalah gambaran dari kakek-nenek kita. Apa yang dijabarkan penulis tentang masa lalu dan perjalanan hidup Ncek lintas zaman adalah sedikit gambaran tentang apa yang kakek-nenek kita alami, dan bagaimana karakter kuat mereka terbentuk. Guratan dan kerutan di wajah mereka, sarkasme mereka dalam menanggapi hal-hal jaman sekarang yang dimiliki generasi muda, mental mereka, pola pikir mereka...semua terbentuk karena zaman. Seperti Ncek.

Ncek telah melalui banyak hal, apalagi sebagai orang "yang dibuang" oleh manusia yang membawanya ke dunia, orang yang disiksa dan tidak diberi keadilan dan terus diberi hukuman walau ia tak salah sedari ia kecil, orang yang harus hidup susah dan mampu bertahan - sampai tidur bersama kecoak dan tikus sebesar anjing, orang yang harus mencari makan di tempat sampah, orang yang berasal dari etnis Tionghoa yang berdasarkan sejarah kita, begitu banyak menjadi pelampiasan politik yang seperti kata Ncek, "memakan anak-anaknya sendiri". Ncek adalah korban peristiwa 1965. Revolusi yang digembor-gemborkan. Ia harus menyaksikan semua itu perlahan menggerogoti istrinya, tapi menggerogoti jiwanya lebih dalam lagi karena melihat bagaimana istrinya begitu terluka.

Ncek adalah definisi seseorang dengan trauma dan masa lalu yang begitu berat dan pelik, namun berusaha bertahan hidup hari demi hari, dan rasa trauma serta masa lalu itu menumpuk hingga sudah tak terbendung lagi. Ncek bilang ia selalu sendirian, apalagi selama 19 tahun sejak istrinya meninggal dengan kelima anaknya yang tidak mempedulikannya. Hal itu hanya memperburuk kesehatan mentalnya. Oleh karena itu di bagian akhir buku, penulis menyisipkan bahwa "Pecayalah, bahwa Anda tidak sendiri.".

Membaca ini mungkin perlu kestabilan mental yang baik, tidak dalam kondisi rapuh atau sensitif, karena dapat triggering dalam beberapa hal tertentu. Bahkan, saya membaca beberapa adegan di chapter "Tongkat Rotan" dan "Pohon Bakau" saja sangat merasa terkoyak.

Alur cerita dalam buku ini sangatlah tidak linear. Tidak ada pembagian waktu yang jelas. Terkadang, pada paragraf tertentu kita bisa dibawa ke zaman sekarang ke masa Ncek berusia 76 tahun, tapi di paragraf berikutnya kita bisa di bawa ke zaman masa lalu Ncek puluhan tahun yang lalu. Namun, masa lalu Ncek diceritakan dengan berurutan, walau dibagi dalam bagian yang acak dan tidak menentu: bagaimana ia bisa bertemu dengan istrinya, pendekatannya dengan gadis itu, bagaimana hidupnya berubah karena ditolong kedua orang tua gadis tersebut, tantangan dan rintangan dalam kisah cinta mereka, serta bumbu politik dan sejarah jaman dulu yang memang benar-benar terjadi di negara ini - yang justru menjadi "kunci" dari cerita ini, menjelaskan mengapa karakter Ncek begini dan mengapa Ncek sangat begitu ingin mati.

Mungkin kita bisa bingung dalam membaca cerita ini kalau tidak fokus, karena alur yang menurut saya agak "lompat" ke sana kemari. Tapi, saya cukup menikmatinya walau saya agak sulit menghubungkan ceritanya secara kronologi waktu (tahun). Selain itu, di sini sama sekali tidak ada nama karakter. Penulis hanya menempatkan karakter sebagai aku (sudut pandang orang pertama, yaitu si Ncek), lalu kelima anaknya dinamakan berdasarkan abjad (A,B,C,D,E) dan lainnya.

Walau begitu, saya sering sekali tertawa saat membaca buku ini. Tertawa geli, lho. Karena si Ncek ini adalah karakter yang penuh dengan sarkasme. Dan sarkasme yang dilontarkan penulis dalam tulisan ini begitu lucu dan membuat saya terkekeh sendiri. Seperti, bagaimana si Ncek kesal dengan penjual mie ayam yang memberinya begitu banyak kuah: "Mungkin, dia berpikir bahwa aku membutuhkan kuah sebanyak itu untuk mandi." (hlm. 68). Lalu, cara Ncek berkenalan dengan email dan teknologi lain jaman sekarang juga sangat lucu. Seperti pada halaman 90 di mana Ncek dikenalkan kepada Wifi, ia berkata: "Ia menawariku berkenalan dengan orang Cina bermarga aneh. Wai Fai.".

Dan masih banyak sarkasme si Ncek yang sangat lucu lainnya! Saya jadi mau mengacungkan jempol ke penulis karena telah mampu menggambarkan karakter si Ncek begitu solid, terutama dengan sarkasme-sarkasme yang sangat lucu ini, yang bisa menjadi sedikit "entertainment" di saat kita mengupas hidup Ncek yang pahit.

Pada kisah di buku ini, kita juga diajarkan untuk selalu berbuat baik kepada setiap orang tanpa pandang bulu. Kita tidak tahu bagaimana nasib kita di masa depan. Seperti Ncek yang membantu ibu pedagang nasi dekat pasar, tanpa diketahuinya nasibnya akan ditolong 2 kali karena kebaikannya itu. Oleh karena itu, Ncek menggambarkan kisah ini sebagai "kesialan" yang membawa "keberuntungan".

Konflik di dalam buku ini sebenarnya benar-benar terjadi di Indonesia. Sejarah kelam yang sudah menorehkan luka yang mendarah-daging dan takkan pernah bisa terhapuskan. Politik yang memakan anak-anaknya sendiri. Politik yang butuh kambing hitam. Politik yang memaksakan orang minoritas untuk mengakui tuduhan-tuduhan yang tidak pernah mereka lakukan melalui kekerasan, bahkan kematian. Orang-orang yang gemar merasa pintar, namun bodoh dan tidak mengerti apa yang diucapkannya. Orang-orang yang gemar mengotak-ngotakkan manusia berdasarkan rasnya. Tanggapan Ncek tentang orang-orang yang menyuarakan 'revolusi':

"Segala kata itu terlanjur diteriakkan dengan suara kelewat lantang sampai membuat mereka semua tuli." (hlm 118).

Pada tahun 1965, digambarkan bahwa banyak orang yang dihilangkan yang bahkan mayatnya saja tidak ditemukan. Tidak ada makna uang dan kemewahan pada tahun tersebut, karena yang berharga hanyalah kehidupan - yang baru kita sadari maknanya saat kita sangat begitu dekat dengan kematian. Dan bertahun-tahun berikutnya, di tahun 1998, terulang lagi kejadian yang sama.

"Tuhan seharusnya punya kekuatan untuk melindungi pengikutnya dari kekhawatiran akibat persaaan selalu sedang diserang oleh pengikut Tuhan lain." (hlm. 144), "Aku curiga telah terjadi penerjemahan serampangan atas ucapan Tuhan-Tuhan. Ada orang-orang tak dikenal yang tengah berdusta. Sebagian dari mereka telah meyakini dusta-dusta." (hlm. 145).

"Kematian orang-orang besar bisa menyeret hidup orang-orang kecil." (hlm. 225) adalah gambaran bagaimana kelamnya tahun 1965 pada masa itu. Pengambilan kuasa secara sepihak dengan iming-iming menstabilkan keadaan, demonstrasi tak kunjung henti, harga barang yang melonjak, mata uang yang tak ada artinya, kemiskinan di mana-mana.

Saya jadi sangat membenci kelima anak Ncek. Mereka hanya haus harta. Bahkan tidak memedulikan Ncek sebagai ayah mereka. Seandainya mereka tahu betapa besar pengorbanan Ncek untuk melahirkan dan membesarkan mereka. Bisa-bisanya mereka tega seperti itu ketika Ncek sudah lanjut usia! Saya sangat menyukai ending dari buku ini! Ncek berkata kepada anak-anaknya melalui eulogi yang ia siapkan,

"Aku adalah ayah kalian yang tak pernah pulih rasa sakitnya." (hlm. 265).

"Mati dengan tenang adalah kemewahan." (hlm. 77) yang membuat Ncek melakukan apa yang ia lakukan di akhir cerita. Permintaannya sangat sederhana: ia hanya ingin mati dengan tenang. Oleh karena itu, ia merencanakan "rencana besar" mengundang si malaikat maut. Kalian harus membaca buku ini, untuk mengetahui cara Ncek mengundang si malaikat maut. Seharusnya kalian bisa menebaknya sendiri saat di tengah-tengah cerita si Ncek menuturkan depresinya.

Semoga di luar sana, suatu saat, Ncek-Ncek seperti Ncek di kisah ini akan mendapatkan keadilannya atas "hukuman" dan "ketidakadilan" yang mungkin mereka dapatkan selama sepanjang sejarah negeri ini. Semoga mereka bisa mendapatkan balasan atas penderitaan yang mereka alami sebagai kambing hitam politik yang menyengsarakan. Semoga kita semua, mampu bertahan hidup di antara gejolak zaman yang tidak pernah menentu ini.

--------------------------------------------------------------------------
Beberapa kutipan yang saya sukai:

"Manusia selalu butuh cerita mengenaskan meski hanya dari sosok khayalan." (hlm. 77)

"Tidak boleh lagi ada perbedaan pribumi, atau bukan pribumi. Itulah mengapa pendidikan jadi penting." (hlm. 102)

"Terlalu banyak orang bodoh gemar mengoceh tentang hal-hal yang tidak mereka pahami." (hlm. 103)

"Memberantas buta huruf sambil menyabotase kemampuan membaca adalah sebuah ketidakmasukakalan." (hlm. 108)
Profile Image for Sinta Nisfuanna.
1,034 reviews64 followers
May 16, 2023
“Kupikir, aku sudah menemukan jawaban. Aku ingin bertemu Malaikat Maut. Situasi yang terjadi selama belasan tahun terakhir ini terasa berat tanpa kehadiran istriku, dan aku sudah bosan. Aku mau mati secepatnya.” h.37

Ncek, salah satu panggilan seorang pria tua Tionghoa yang jengkel dengan apapun di sekitarnya. Berulang kali, anak-anaknya menjadi omelan utamanya. Meski, sebenarnya aku merasa Ncek ini marah sekaligus sedih dengan upaya anak-anaknya untuk meletakkan streples di sela-sela makanannya, namun ditutupinya dengan omelan dan sindiran, yang kemudian ditunjukkan dengan kemampuannya untuk melawan, meski rasa sedih buah dari kasih sayangnya yang membuatnya menahan untuk tidak kebablasan.

Selengkapnya di https://timbunanresensi.wordpress.com...
Profile Image for Ragdi F. Daye.
5 reviews
March 3, 2025
Manusia berutang budi pada semua kepahitan dalam hidupnya, pada masa lalu, juga pada kenangan-kenangan yang hendak dilupakan, karena kebahagiaan tidak punya kekuatan yang lebih besar daripada kepahitan untuk mengubah hidup seseorang, juga nasibnya.” (hal. 139)

Ncek, seorang lelaki Tionghoa tua berumur 76 tahun ketika memutuskan harus mati. Dia ingin menyusul istrinya yang telah lebih dulu wafat 16 tahun lalu. Tak ada lagi keraguan. Dia telah gagal berulang kali. Terutama gagal melindungi istrinya dan kali ini dia telah menemukan cara untuk melaksanakan niatnya, yakni mengundang malaikat maut ke sebuah jamuan makan malam supaya mencabut nyawanya.

Rencana Ncek tak kalah besar dengan rencana anak-anaknya yang berjumlah lima orang, sebut saja A, B, C, D, dan E—perempuan, laki-laki, laki-laki, perempuan, dan laki-laki. Mereka ingin menjual tanah dan rumah besar milik Ncek yang berkamar tidur 12 buah—1 kamar ditempati Ncek, 5 kamar anak dan menantu, 5 kamar para cucu, dan 1 kamar kosong. Hasil penjualan rencananya akan mereka bagi-bagi agar bisa keluar dari kemiskinan. Namun, Ncek tidak sudi. Sebelum meninggal, istrinya meminta Ncek berjanji untuk menjaga kelima anak mereka dengan sepenuh hidupnya. Dia menepati janji tersebut dengan menghidupi mereka di rumah besarnya hingga beranak-pinak. Sebuah toko plastik terpal menjadi sumber penghidupan yang tetap dikelola Ncek sambil menderita penyakit darah tinggi akut karena para anak tidak becus mengurus.
Bukan tanpa alasan Ncek ingin menyudahi hidupnya dengan rencana yang disusun sematang mungkin. Dia sudah mengalami penderitaan sejak kecil; dibuang orang tua sewaktu masih bayi, mengalami perundungan ketika tinggal di panti asuhan, menggelandang di pasar sebagai kuli panggul, diintimidasi karena dituduh komunis, menyaksikan anggota keluarganya dilecehkan di depan mata pada tragedi 1965, disiksa tentara, dan dijarah dalam kerusuhan 1998. Kehidupannya sudah luluh lantak. Menjadi masuk akal perilakunya yang cenderung defensif dan suka berkata kasar menyebut anak-cucunya sebagai manusia-manusia bodoh tak berguna. Berlapis-lapis peristiwa traumatik telah mengoyak-ngoyak jiwanya: “Ada dua kemungkinan mengapa kau bisa begitu mengingat masa kecil yang seharusnya terlupakan. Pertama, kau begitu bahagia. Kedua, kau begitu menderita. Aku yang kedua,” (hal. 162).
Wisnu Suryaning Adji sangat berhasil menghidupkan dua karakter ini: lelaki kuli panggul (yang kelak dipanggil Ncek oleh orang-orang di sekitarnya) dan sang gadis anak toke beras penggemar gula-gula asam (yang kelak menjadi istri Ncek dan meninggalkan kesan mendalam setelah kematiannya). Meski tidak diberi nama, termasuk tokoh-tokoh lain, namun mereka terasa hidup, nyata, dan memantik empati. Ncek yang terkesan sinis dan sarkas terhadap anak-anaknya, sesungguhnya memiliki hati yang lembut, tampak dari kepeduliannya kepada ibu berkerudung penjual nasi ampera yang di beberapa peristiwa seolah memiliki jejaring nasib dengannya, juga panti asuhan yang meski meninggalkan luka psikis mendalam namun tak bisa dimungkiri pernah menampung hidupnya selama sepuluh tahun. Karakter istri Ncek secara konsisten digambarkan sebagai perempuan yang tangguh, ulet, dan berhati baik, meski kekeraskepalaan jiwa muda membuatnya melawan orang tua. Ketangguhan perempuan itu terwujud dalam kerelaannya berpura-pura pulih dari luka demi mendukung sang suami yang juga trauma sehingga nyaris bunuh diri.

Meski kepingan-kepingan peristiwa di dalam novel ini disusun secara acak yang menuntut konsentrasi penuh agar memahami konstruksi realitasnya, novel ini tetap menarik dinikmati. Khususnya untuk menelusuri dinamika sejarah sosial etnis Cina di Indonesia dalam perspektif sastra. Ketegangan dan konflik mewarnai dinamika ini. Pilihan yang cerdik juga ketika Wisnu tidak memberi nama tokoh-tokohnya sehingga apa yang mereka alami menjadi pengalaman relevan dengan orang-orang yang terkait dengan peristiwa sejarah tersebut. Pengalaman individual yang sekaligus representasi general.

Baca ulasan selengkapnya di https://klikpositif.com/makan-malam-u...
Profile Image for Nabila Budayana.
Author 7 books80 followers
November 17, 2024
Di bagian-bagian awal saya berpikir, nuansa naskah ini mengingatkan pada A Man Called Ove karya Fredrik Backman. Pembaca harus panjang mendengar betapa sinis, depresif, dan menyebalkannya kakek tua pemilik bisnis terpal di kisah ini. Ia mengeluh, mengatai hampir semua hal, dan memandang dunia dengan sebal. Ia memiliki banyak anak dan cucu, namun sepertinya tak satu pun cukup signifikan untuk hidup si kakek.

Sepanjang buku, pembaca disuguhi perjalanan kakek dalam mempersiapkan kematian dirinya sendiri. Di sela proses itu, dihadirkan cerita masa lalu kakek yang perlahan-lahan melengkapi keutuhan puzzle cerita. Kisah ini berjalan dengan meronce alur maju-mundur. Mas Wis terlihat meleburkan setiap kisah flash back dan peristiwa masa kini tokoh dengan tak memberi batas yang kaku setiap kali berganti, sehingga menjaga bridging perpindahan yang halus pada pembaca.

Penulis menjanjikan tentang tahun 65 di buku ini. Saya kira ini akan penuh adegan sejarah. Ternyata kisah ini tidak sekental itu dalam menggunakan sejarah. 65 tetap menjadi bagian penting dari kehidupan tokoh, namun menyusup dengan cara yang berbeda. Ini lebih condong pada kisah si kakek yang bersinggungan dengan 65. Saya merasa di sini Mas Wis hati-hati dan menjaga porsinya dalam menggunakan sejarah untuk sebuah fiksi.

Meski merasa agak janggal dengan adanya bagian yang sengaja dipercepat di akhir, saya pikir upaya Mas Wis menutup akhir kisahnya dengan ledakan-ledakan tak terduga patut diapresiasi. Penulis tampak ingin mencoba menampilkan berbagai cara agar kisah ini tak disampaikan dengan cara biasa.

Lalu mengapa novel ini mengandung trigger warning? Karena memang ada kesepian yang kental, trauma kekerasan seksual, trauma penyiksaan yang pedih dan bertubi-tubi, trauma mental yang dihajar habis oleh kehidupan hingga akhir dari perjalanan tokoh.

Setelah sebelumnya juga membaca Rahasia Salinem dan Legenda Perompak Naga, karya-karya lain dari penulis, saya rasa penulis sesungguhnya selalu berhasil menampilkan dirinya meski dengan tema tulisan yang berbeda.
37 reviews
Read
February 5, 2025
Seorang kakek (Ncek) yang melewati tahun 1965 dengan susah payah. Bertahan hanya karena janji kepada mendiang istrinya untuk menjaga kelima anaknya. Siapa sangka kelima anaknya ini jadi benalu bahkan setelah mereka menikah dan punya anak. Ncek menghidupi anak-anak, menantu-menantu, dan cucu-cucunya dengan berjualan terpal.

Ncek besar di panti asuhan dan jadi korban bullying. Lalu Ncek mutusin buat kabur dan hidup di jalanan jadi kuli panggul sebelum akhirnya menetap jadi karyawan toko sembako A Pe. Setelah menikah dengan istrinya, Ncek mengalami kejadian yang bikin traumatis untuk keluarganya. Penjarahan di tahun 1965 ga bisa dihindari. Tokonya hancur, keluarganya hancur. Belum lagi salah satu pelaku penjarahan ternyata orang yang dia kenal.

Ini novel kedua yang endingnya bikin bengong sama kaya waktu aku selesai baca Di Tanah Lada kaya Kak Ziggy. Awal cerita sebenernya aku masih cekikikan sama cerita Ncek yang menggerutu kalo anak-anaknya bener-bener ga berguna. Yang kukira problem wajar di rumah antara ayah dan anak-anak. Tapi di 3 bab akhir, dibuat sedih sama kisah hidup Ncek. Apalagi bagian Pohon Bakau. Bikin emosi. Hampa dan depresi; Ncek setelah kejadian penjarahan.

Banyak yang bisa dijadikan renungan dalam hidup. Yang paling berkesan adalah momen saat Ncek ditolong oleh orang asing yang ternyata pernah ia tolong di masa lalu. Bener-bener gambarin kalo apa yang kita tabur, itu yang kita tuai.

Alur novel ini campuran, tapi tenang aja ga bikin bingung. Cuma mungkin di 2 bab pertama akan ngerasa kalo ceritanya terlalu bertele-tele dan mikir kalo Ncek ini salty mulu. Tapi setelahnya, page turner banget.
Banyak sarkas dari Ncek yang bikin ngakak apalagi sarkas tentang dunia pendidikan. Good job, penulis. Bisa jadi hiburan saat membaca kisah suram ini.
Novel ini aku rekomendasiin buat dibaca sama kalian yang suka tema his-fic. Apalagi banyak isu yang diangkat. Ga cuma kejadian 1965, tetapi kesehatan mental, dan keluarga.

Tapi, saranku karena ada trigger warning, bijaklah dalam membaca yaa.

Dah ah, segitu dulu.
Have a nice day!
Profile Image for Lesh✨.
291 reviews4 followers
December 15, 2025
Buku ini menceritakan tentang seorang narator kakek tua berusia 76 tahun—yang tidak diketahui nama aslinya—sebut saja Ncek. Kakek tua ini lahir dan dibesarkan di sebuah panti asuhan tanpa tahu siapa orangtuanya.

Semasa kecilnya, kepala panti membebaskan Ncek dalam beribadah karena dari ciri tubuh digambarkan sebagai etnis Tionghoa. Di masa remajanya, Ncek mulai bekerja di toko beras dan bertemu dengan sosok sang istri yang saat itu menjadi anak dari majikannya.

Kisah cinta yang dialami dua insan itu menjadi pelik lantaran Ncek merasa perlu berhutang budi dengan A Pe (Tuan Beras) karena telah menampung hidupnya—ditambah diam-diam dia juga menyukai gadis itu. Merasa ada yang mencurigakan, A Pe pun terus menjodohkan anak gadisnya dengan pria lain. Begitu terus sampai akhirnya si anak gadisnya memilih jalan lain dalam menentukan akhir kisah cintanya.

Yang menjadi titik penting dalam cerita ini adalah kejadian di tahun 1965 yang menyangkut hidup dan matinya seseorang. Kejayaan yang sirna, hidup yang tragis, kehilangan, duka, ketakutan, serta ketidakberdayaan dipaparkan jelas dalam buku ini. Etnis Tionghoa harus menanggung akibat dari kejadian yang mereka tidak tahu apa penyebabnya.

Ncek selalu ingat bagaimana detail kejadian suram itu dari berdirinya toko beras hingga menjadi toko terpal. Sayangnya, kelima anaknya yang bodoh dan tak berguna, hanya memikirkan warisan dari bangunan itu.

Alur dalam cerita ini sungguh lambat diawal, tapi tenang saja begitu masuk pada pertengahan cerita, semua berjalan dengan runtun dan seimbang. Perpindahan alur maju mundur dituliskan dengan rapi, tanpa jeda pembatas, namun tetap konsisten sesuai timeline.

Membaca buku ini merasa teduh dengan karakter Ncek yang sangat setia terhadap sang istri. Lalu mengenai rencana besar untuk mati dengan tenang, sepertinya Ncek lebih jenius memikirkan cara yang paling tepat untuk mengakhiri hidupnya dengan damai dan berguna.
Profile Image for ⭑.
189 reviews7 followers
February 9, 2025
Sesungguhnya membaca ini saat keadaan benar-benar terpuruk, rasanya ingin sekali ada buku yang bisa mewakili perasaan ini dan buku ini adalah pilihan yang tepat. Ini kembali ke setiap individu, ya. Jika dirasa sedang unstable dan membaca buku ini berat maka berhentilah.

Buku ini memberikan gambaran bahwa meskipun sudah berumur, bukan berarti kamu kehilangan seluruh kemampuan mu. Bahkan sosok “Aku” ini masih bisa melakukan banyak hal sendiri termasuk menghafal dan menghitung. Bahkan untuk tetap bekerja. Rasa takut akan “dependency” terhadap seseorang serta takut jika orang lain tidak melakukan hal yang sesuai dengan yang diinginkan adalah nyata adanya. “Lebih baik melakukan sendiri daripada dilakukan orang lain lalu salah dan berujung harus melakukan sendiri,” mungkin seperti itu rasanya. Saya pribadi juga merasa seperti itu most of the time.

Buku ini juga membawamu pada gambaran masa lalu, betapa sulitnya seorang keturunan Tionghoa untuk hidup dengan segala rasisme, kekerasan, dan penculikan. Mengerikan. Tapi, mereka bisa bertahan.

Selain itu buku ini juga menggambarkan cinta, perjuangan dan kesabaran untuk mendapatkan hingga akhirnya hidup bersama seseorang yang dicintainya. Semuanya tidak mudah dan penuh pilu. Terlebih ketika ditinggal oleh istri tercintanya dan “Aku” harus tetap menjalani kehidupan ini. Repetitif. Sendirian. Cinta hingga akhir hayatnya dengan janji yang selalu “Aku” tepati. Dan fakta bahwa sekesal apapun dengan anak, pasti jauh di dalam lubuk hati akan tetap mencintai.

Sangat banyak kalimat yang menusuk dan menampar soal kehidupan ini, pintar dan bodoh, “common sense”, membayar hutang, dan hal lainnya. Soal kematian juga. Akan terlalu panjang untuk dijelaskan namun buku ini sangat amat bagus dan menyentuh untuk dibaca.

Terima kasih sudah mewakili perasaan saya disaat saya tidak bisa berkata apa-apa.
Profile Image for Kimi.
406 reviews30 followers
February 11, 2023
Ternyata mau mati saja sama sulitnya ya dengan hidup. Kita sudah siap mati, sudah merencanakan dengan membuat berbagai persiapan, tetapi ada saja yang menjadi kendala. Namun, bisa saja itu sebenarnya merupakan pertanda dari Tuhan atau kesempatan kalau kita harus menikmati hidup dan mencintainya selagi.

Tokoh utama dalam Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang selalu menunggu kapan ajalnya akan tiba. Enam belas tahun sejak ditinggal istrinya sudah terlampau lama. Ingin bunuh diri, tetapi dia tidak bisa karena dia sudah berjanji tidak akan melakukannya, sementara dia adalah orang yang selalu menepati janji. Semakin tua dia, semakin dia bertambah umur, dia semakin gusar.

Sepanjang cerita tokoh kita akan mengomel tentang apa saja, kebanyakan mengomel tentang anak-anaknya yang tidak berguna. Cukup melelahkan sebenarnya membaca dia yang selalu misuh-misuh, tetapi lama-lama jadi terbiasa karena ya saya jadi paham juga kenapa dia begitu. Tokoh utama dalam novel ini mengingatkan saya akan Ove dalam buku A Man Called Ove, yang sama-sama suka mengomel dan pemarah.

Dari ocehannya itu kita diajaknya mengikuti jalan hidupnya ke masa-masa yang tidak beraturan. Kadang jauh ke masa lampau di periode 1960an, lalu ke 1990an, dan ke masa sekarang (tahun 2017, latar waktu novel ini). Hidupnya memang penuh ujian, kejadian, atau apapun namanya. Dari masa kecilnya yang pahit, masa remaja yang sulit, masa dewasa yang berat, hingga masa tuanya menjadi sinis. Harus melalui tahun 1965-1966 dan 1998 dengan menjadi korban. Sungguh mengerikan apa yang menimpanya. Menimbulkan trauma berkepanjangan bagi istrinya, membuatnya merasa gagal menjadi suami karena tidak dapat melindungi istrinya.
Profile Image for Ira Nadhirah.
605 reviews
May 1, 2025
Rencana Besar Untuk Mati Dengan Tenang, Wisnu Suryaning Adji.

80% dari buku ni bercerita tentang rancangan kematian. Boleh dikatakan hampir setiap mukasurat berisi perkataan 'mati'.

Tentang seorang lelaki tua berbangsa Tionghua, yang sangat grumpy. Tidak pernah senyum. Membenci kelima lima anaknya dan sentiasa merasakan semua anaknya bodoh. Kemarahannya berpunca dari isteri nya mungkir janji kerana meninggal terlebih dahulu. Enam belas tahun selepas ditinggalkan isteri, akhirnya dia mula merancanakan kematian.

Rencana kematian ini di selang seli dengan cerita masa lalu bagaimana dia bertemu dengan isteri nya setelah dia kabur dari panti asuhan, sebab dibuli. Bagaimana di dalam setiap ujian hidupnya, dia masih mampu jatuh cinta dengan seorang perempuan. Meski pada ketika itu kedua dua mereka masih anak kecil.

Ada beberapa perkara aku kira pakcik Tionghua ini lucu, terutamanya part di mana dia suka ulang isteri nya kini berada di neraka menantikan kehadirannya. Selain itu, ada juga terselit jenaka menghadapi hidup modern di umur 70an bila dia perlu menggunakan internet dan emel bagi menempah makanan bagi upacara makan malam akhir sebelum kematiannya.

Cuma dia bab bab terakhir ada diceritakan kesemua trauma yang dia dan isterinya hadapi. Sehingga mereka hidup di dalam kesedihan dan ketakutan yang berpanjangan.

Lesson learnt dari buku ini adalah, jangan lah kita berjanji akan siapa akan mati dahulu dengan pasangan kita. Ini adalah kerana, yang masih tinggal di dunia itu yang perlu meneruskan hidup dengan perasaan sedih dan amarah.

Saya suka vibe uncle ini. Marah dari mukasurat pertama sampai mukasurat akhir. Hidup ini memang kadang kadang tidak ada artinya.
Profile Image for Mawa.
172 reviews4 followers
February 23, 2024
Kita tak pernah tahu nama asli lelaki tua ini, tapi kita akan mendengarkan ceritanya tentang cintanya pada istri, trauma masa kecil dan anak-anaknya yang bodoh.

• pov aku : lelaki tua etnis tionghoa yg sudah lama hidup, bahkan saat bangun tidur dia membuka mata dan tidak ada dalam peti mati, jari2nya masih bisa digerakkan. Dia masih saja terus hidup. Dia lelah untuk hidup. Pemanas air yg kadang nyala atau tidaknya, engsel pintu berderit yg harus dia semproti dg WD-40. Istrinya sudah meninggal, dia berjanji padanya untuk terus hidup dan setiap harinya dia akan ngedumel kenapa dia masih saja bisa hidup.

• kita mengenal anak2nya dg sebutan A, B, C, D dan E. Ketidakharmonisan antara keluarga ini dalam satu rumah besar dg kelakuan bodohnya yg berharap rumah bisa mereka jual.

• kenangan bakmi di warung belakang pasar.
Mie ayam dan bakmi itu berbeda harus dipastikan.
Dan Ncek ini akan membuat pesta makan malam dg menjamu malaikat maut supaya sudi mencabut nyawanya.

• trauma masa lalu itu masih membekas bahkan terasa jelas. Bahkan istrinya tidak bisa untuk duduk di ruang tamu semua usaha dg mengecat ulang dan mengatur lagi dekorasi ruang tamu, istrinya tetap tidak akan mau ke ruang tamu.

• Mati dengan tenang adalah kemewahan.

Aku menyukai buku ini karena dua hal yaitu traumanya pada kejadian masa lalu di mana kata komunis bisa begitu mudah disematkan pada etnis tionghoa & coping grief lelaki tua ini setelah istrinya meninggal hari demi hari sebelum dan setelah dia tiada.
Profile Image for Ziyan.
87 reviews1 follower
February 4, 2024
I was instantly hooked because of one particular line on the back of the book: 'ternyata, mati juga sama sulitnya.' I was so enchanted when I finally dived into the story that I did not want to stop flipping pages. The story opened with an elderly man, our main character whose name was unknown till the end, doing his morning routine while regretting everything in his life at the moment. His main regret was that his death had not come yet. He anticipated the Grim Reaper every second, to let him reunite with his wife. Here, we follow the man's narrative, a combination story of his unfortunate past and his big plan to end his presently miserable life. The story jumped in between, but it was told neatly and well that it was just flowing. His past was about the change of fate after his eyes and heart caught a girl, the daughter of a rice merchant. However, his will to live crumbled down when the girl, that he eventually married to, passed away. He was left with children and grandchildren who could not care less about him but his legacy. He had all the reasons to be so irritable and blunt, yet he promised his wife to love the kids. His character reminded me of the movie 'A Man Called Otto.' Love was the root of many problems, but love was the one that brought immensurable happiness. There was a speechless awed moment through the end of the story, notably the eulogy. I just had to give this book the full stars it deserved.
Profile Image for Cahyo Prayitno.
173 reviews
November 8, 2023
Premis ceritanya mirip dengan Kakek Ove di novel A Man Called Ove. Sama-sama menceritakan kakek yang sudah lanjut usia yang ditinggalkan pasangan hidup dan depresi untuk ikut menyusul sang istri. Watak dan tujuan si kakek yang sama-sama mau mati dengan tenang.

Tokoh utama buku ini, si Kakek Tionghoa selalu sinis dan sarkastik terhadap semua hal di sekitarnya, baik itu orang-orang di sekitarnya maupun benda-benda di sekitarnya juga ikut jadi sasaran sarkasnya. Inilah yang menjadi ciri khas si kakek. Lucu tapi terkadang ngeselin.

Untuk pemilihan judulnya menarik, namun kurang menggambarkan isi ceritanya. Menurutku, rencana si kakek untuk mati dengan membuat acara makan malam bersama keluarga, terkesan bukan "Rencana Besar". Saya malah lebih tertarik dengan setiap flashback kisah hidup yang Kakek ceritakan. Lika-liku percintaan dengan kekasihnya, si anak penjual beras, justru lebih menarik daripada Rencana makan malam kakek. Dan saya masih belum mengerti, bagaimana caranya makan malam bisa mengakhiri hidup kalau tidak bunuh diri?

Satu hal lagi yang bikin kurang nyaman membaca novel ini, yaitu tidak adanya nama untuk semua tokoh di dalamnya. Bahkan, anak si Kakek saja hanya disebut dengan A,B,C,D,E. Dari banyaknya tokoh di novel ini, tidak ada satupun yang diberikan nama. Jadi kurang terasa personal dengan pembaca. Selebihnya, novel ini asik untuk dibaca.
48 reviews
February 26, 2025
Ini kali pertama saya membaca novel karya Wisnu Suryaning Adji. Saya langsung suka sekali cara penulis bercerita. Kalimat-kalimatnya ringan. Tidak banyak menggunakan diksi yang rumit hanya demi membuatnya terlihat indah.

Tadinya, saya kira ini novel dengan tema kriminal. Nyatanya, ini novel tentang kisah cinta yang tidak romantis-romantis amat. Lebih banyak berfokus pada kondisi sosial dan ekonomi tokoh utama. Melalui si tokoh utama ini, saya ditunjukkan rasanya menjadi yatim piatu, dirundung, hidup menggelandang, jatuh cinta dengan orang yang tidak sepadan, hingga akhirnya sukses dalam artian punya harta. Pahitnya kehidupan tidak terasa buruk selama bersama orang yang terkasih. Sebaliknya, manisnya kehidupan jadi terasa selalu pahit tanpa adanya sang kekasih.

Penulis tidak memberikan nama pada tokoh-tokoh dalam novel. Ini menarik sekali. Contohnya saja anak-anak tokoh utama hanya disebut dengan urutan kelahiran. Terkadang saya jadi harus mengingat-ingat anak yang manakah yang dia maksud.

Di perangkat pembaca buku elektronik saya sudah tersimpan Rahasia Salinem yang merupakan karya dari penulis yang sama dengan buku ini. Dan, saya tidak sabar untuk mulai membacanya.
Profile Image for Alyssa.
20 reviews1 follower
March 13, 2023
Dampak dari mencintai sangat besar; nyatanya cinta dapat memberikan dorongan untuk bertahan, disisi lain mencintai terlalu dalam bisa membuat kita tenggelam. Tenggelam akan perasaan bersalah, tenggelam karena salah paham, tenggelam karena tidak menemukan alasan untuk hidup selain untuk mencintai.

Nyatanya hidup harus dipenuhi cinta; cinta akan sesama, cinta kepada orang tua (jika ada), cinta terhadap pasangan (jika ada), cinta terhadap anak dan cucu (jika ada), serta cinta terhadap diri sendiri (sewajarnya).

Yakinilah jika cinta ada untuk membuat sandiwara hidup lebih manis dan tidak terasa seperti sedang menjalani hari dengan neraka sebagai latarnya. Cinta ada agar kita bisa mencicipi surga kecil di dunia yang banyak cobaan.

Tulisan ini lebih seperti kalimat positif yang bisa aku gaungkan sebagai ‘re-assurance’ bahwa aku (masih) baik-baik saja setelah membaca ini😅 tapi /sumpah/ aku bisa paham sisi grumpy dan makian Ncek yang dia lontarkan ke beberapa orang disekitarnya yang bertindak dan memperlakukannya seolah ia tidak bisa menggunakan otaknya sendiri untuk berpikir. Memang benar, ini sepertinya ada andil dari sistem pendidikan nasional.

notes: bacalah jika hidup dirasa sedang baik baik saja^^
Profile Image for Sandra Frans.
236 reviews3 followers
March 6, 2024
Bacaan menarik yang judulnya menggambarkan keseluruhan isi buku ini. Bercerita tentang seorang kakek yang menjalani hari tuanya dengan banyak menggerutu. Karena anak-anak yang tinggal bersamanya memperlakukan dia dengan tidak tulus. Hari-hari si kakek diisi dengan mengingat kembali memori yang mungkin bagi dia paling berharga. Yaitu bagaimana dia, pemuda sebatang kara, bertemu dengan gadis penjual beras di pasar, yang kelak menjadi istrinya.

Cerita dengan plot maju mundur ini kemudian membawa pembaca untuk mengikuti si kakek menyusun rencana besar. Termasuk juga napak tilas beberapa kejadian hidup dia. Ikut terhanyut membaca pemikiran seorang yang sudah hidup lama, dan bagaimana dia mempersiapkan kematiannya dengan rinci. Sepertinya memang benar, kita masa kini adalah produk dari semua kejadian masa lalu.

“Pesan utamaku kepada mereka: didiklah diri kalian. Percayalah tidak ada orang yang bisa melakukannya lebih baik daripada diri kalian sendiri, atau kalian akan jadi bodoh”

Bacaan ringan namun punya banyak makna.
Profile Image for Mizuoto.
149 reviews1 follower
January 29, 2025
⭐: 4.5/5

Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang, sebuah novel muram penuh kegundahan batin dan luapan kemarahan yang dijalani oleh tokoh Aku (Ncek) pada usia tuanya.

Ada alasan yang menjadikan Ncek bersikap demikian dan novel ini cukup baik menggambarkan kehidupan Ncek yang keras lagi pahit, serta berhasil menangkap rasa sakit dan trauma tidak kentara sebagai penggerak cerita.

Pembaca bakal menyelami perjalanan kisah Ncek: Menjalani masa kecil di panti asuhan dengan perundungan dan kekerasan seksual hingga membuatnya melarikan diri dan terkatung-katung dengan kerasnya hidup di pasar dan jalanan, sampai kehidupannya perlahan membaik dan bertemu dengan sang istri (meski tidak direstui), tetapi kegagalan dan kekecewaan kembali menghampiri tatkala dirinya dan istrinya menjadi korban peristiwa 1965 dan berlanjut membuahkan kekesalan tidak berkesudahan terhadap semua hal pada masa kini.

Resensi lengkap bisa dibaca di sini
Profile Image for Safffff.
79 reviews
February 6, 2025
sebenarnya dari judul pun aku tau bahwa ini nggak akan jauh dari peringatan pemicu tentang kesehatan mental. aku daftarin beberapa yang aku temuin dari tiap membalik halaman; depresi, keluarga, ptsd, penindasan, kekerasan seksual, kematian, politik, kerusuhan. aku ngerasa agak beda ketika si bapak tua suka ngomel ini nyeritain kejadian waktu dia muda dulu, kayanya karena banyaknya kejadian pahit yang memungkinkan dia punya perubahan karakter. waktu muda dia kelewat penurut, pendiam, penerima. ada bagian dimana kerusuhan yang dialami banyak keluarga tionghoa diceritakan detail dan mentah. sialnya aku pernah denger dari keluargaku sendiri apalagi bagian yang sajadah disampirkan ke pagar. dan mungkin itu jadi salah satu dari banyaknya penyebab kenapa dia jadi begitu galak, marah-marah, kasar. laki-laki kalo ditinggal istrinya emang suka gitu. suka dengan penulisannya. puitis, lucu, sedih, berasa ikut kalut.
Profile Image for Sampaguita Syafrezani.
100 reviews
February 12, 2023
Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang
Wisnu Suryaning Adji
Bentang Pustaka, 2022

Tokoh utama dalam cerita ini adalah seorang laki-laki berusia 76 tahun keturunan Tionghoa, yang sejak awal mula cerita hingga akhir tak sekalipun penulis menyebut nama sang tokoh, istri, anak-anaknya, maupun tokoh-tokoh lain yang terkait dalam cerita ini. Hanya menyebut aku, istriku, anak-anakku si A, si B, si C, si D, si E, A Pe dan A Ko. Ini adalah cerita tanpa nama, tetapi tegas menggambarkan konflik dan tragedi yang melibatkan ras.

Pria tua kesepian yang telah hidup belasan tahun tanpa kehadiran istrinya mulai merasa bosan, kelelahan dan tentu saja kesepian, maka Ia menyusun rencana yang sangat rapi dan matang untuk mengundang Malaikat Maut yang tak kunjung datang.

Pak tua ini kerap mengatakan kalimat lugas dan sindiran pedas yang mengesankan begitu berjaraknya Ia dengan rasa, sekaligus menyiratkan betapa Ia menanggung rasa yang tak terperi selama puluhan tahun. Namun Ia belum memilih untuk mati.
Profile Image for Mor.
210 reviews7 followers
June 1, 2023
•[⭐ 4/5 ⭐]•



[ "Tapi, aku tahu: ketika manusia memiliki kebebasan absolut, bisa jadi, sesungguhnya dia merindukan ikatan. Manusia butuh pulang, dan manusia tidak bisa pulang kepada kebebasan. Manusia pulang kepada ikatan. Walau, bisa saja mereka tidak sadar tengah melakukannya." ]



Awal dan alur yang cukup lambat karena kita dibawa menyelami pemikiran dan masa lalu lansia 76 tahun yang tengah menunggu kematiannya. Kita bisa melihat bagaimana trauma dan depresi memengaruhi seseorang dan sekitarnya. Banyak sekali tragedi dan kejadian romantis yang dideskripsikan secara apik dan tersusun, benar-benar terasa seperti kita berada di dalam otak tokoh utama. Sayangnya, di akhir cerita, penulis terkesan terlalu terburu-buru untuk menyelesaikan ceritanya sehingga saya tidak mendapatkan penutupan yang berkesan, berbeda dengan bagian-bagian sebelumnya.
Profile Image for Nike Andaru.
1,647 reviews112 followers
November 4, 2024
87 - 2024

Di awal aku cukup sebal dengan bapak tua yang ingin mati sebagai tokoh utama dalam buku ini, tak ada hal positif yang keluar dari mulutnya. Seperti semua hal salah dan anak-anaknya pun tak pernah terasa melakukan hal benar.

Diceritakan dengan maju mundur, walo begitu enak aja bacanya. Cerita saat dia kecil, muda hingga perjuangan dengan trauma yang didapati keluarga tionghoa zaman itu.

Tahun 1965 semua menjadi menakutkan, bahkan jika diceritakan hingga saat ini. Luka itu tak akan pernah sembuh dan meninggalkan banyak kesedihan. Ketika kemanusian menjadi tak ada harganya. Bagian seperempat akhir buku ini menjadi sangat menarik, ketika semua membuat pembaca lebih paham kenapa ini dan kenapa begitu.

Sebagai buku yang diceritakan dari sisi pak tua yang aneh, pembaca jadi memahami betul bagaimana perjalanan hidupnya dan apa rencana besarnya untuk mati dengan tenang.
Profile Image for Farizka Dia.
100 reviews1 follower
May 28, 2024
Fiksi sejarah dengan tokoh utama serupa Ove di A Man Called Ove: sinis, alergi orang bodoh, dan bucin berat sama istri-nya yang sudah lama meninggal. Si tokoh "Aku" juga sama-sama memikirkan kematian setiap hari, karena apalah arti hidup kalau tidak ada lagi sosok istri yang menemani.

Ada plot twist yang lumayan mencengangkan. Ada dialog di panti asuhan yang membuat air mata tergenang.

Walau tokoh-tokohnya tidak bernama, percakapan antara si "Aku" dan istrinya terdengar romantis. Mereka saling memanggil "Suamiku" atau "Istriku" lmao. Walau ini berlatar belakang di kejadian tahun 1965, tapi tidak terlalu menjadi fokus utama.

Setelah membaca ini aku jadi ingin makan bakmi deh.

Trigger warnings: rape, death, suicidal thoughts, child abuse, depression, bullying
Profile Image for Sabrina.
50 reviews2 followers
November 20, 2025
Ini buku unexpected banget. Jujur di awal tuh lebih ke alur yang membosankan, bahkan sampai di tengah² belum nemu part yang gong gitu (dari konflik cerita, permasalahan cerita dan bumbu bumbu lainnya) itu ngga terlalu ditonjolkan di part awal sampai tengah. Justru gongnya diakhir sih. Kaya nangis gitu deh huhu, kasian sama si tokoh aku, yaitu lelaki tionghoa di buku ini.

Banyak hal yang sebenarnya bisa diambil dibuku ini. Buku ini kurang lebih membahas mengenai mental health gitu. Bisa diliat dari perilaku si lelaki tionghoa yang tidak ekspresif dan cenderung kaku. Tapi sikapnya itu lahir karena ia hidup yang berat dari sejak kecil sampai mau meninggalpun dia masih punya beban hidup yang berat huhu :(
Displaying 1 - 30 of 56 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.