Bila Malam Bertambah Malam mengisahkan kesetiaan untuk memelihara cinta yang berbenturan dengan keangkuhan tatanan sosial yang membeda-bedakan manusia. Kisahnya berlangsung di Tabanan, Bali, di sekitar kehidupan Gusti Biang, bangsawan tua sisa-sisa feodalisme Bali. Gusti Biang masih ingin mempertahankan tatanan lama yang menjerat manusia berdasarkan kasta. Tapi putranya, Ratu Ngurah, jatuh cinta kepada Nyoman Niti, bedinde Gusti Biang yang menyadari kemerdekaannya sebagai pribadi. Guncangan pun tak terhindarkan akibat perbenturan antara nilai-nilai lama yang telah melapuk dan nilai-nilai baru yang hendak mekar. Dan kuncinya ada di tangan Wayan, veteran perang kemerdekaan dan kawan seperjuangan I Gusti Ngurah Rai yang gugur dalam Perang Puputan, yang selama bertahun-tahun setia mengabdi pada keluarga Gusti Biang. Siapakah Ratu Ngurah sebenarnya? Sejauh mana ia dan ibunya bisa mengakui kenyataan yang dibeberkan Wayan?
Putu Wijaya, whose real name is I Gusti Ngurah Putu Wijaya, is an Indonesian author who was born in Bali on 11 April 1944. He was the youngest of eight siblings (three of them from a different father). He lived in a large housing complex with around 200 people who were all members of the same extended family, and were accustomed to reading. His father, I Gusti Ngurah Raka, was hoping for Putu to become a doctor, but Puti was weak in the natural sciences. He liked history, language and geography.
Putu Wijaya has already written around 30 novels, 40 dramas, about a hundred short stories, and thousands of essays, free articles and drama criticisms. He has also produced film and soap-opera scripts. He led the Teater Mandiri theatre since 1971, and has received numerous prices for literary works and soap-opera scripts.
He's short stories often appear in the columns of the daily newspapers Kompas and Sinar Harapan. His novels are often published in the magazines Kartini, Femina and Horison. As a script writer, he has two times won the Citra prize at the Indonesian Film Festival, for the movies Perawan Desa (1980) and Kembang Kertas (1985).
Ini adalah kali pertama saya membaca karya Putu Wijaya. Berawal dari diskusi sastra dengan seorang teman, saya jadi tertarik untuk mengetahui seperti apa karya-karya beliau. Beruntung di iPusnas ada bukunya, jadi saya langsung pinjam.
"Bila Malam Bertambah Malam" mengambil latar di sebuah rumah bangsawan di Bali di sekitar tahun 50an. Tentang Gusti Biang, seorang janda tua pemarah yang benci pada apapun, khususnya pada pembantu perempuannya, Nyoman. Selain Nyoman, di rumah itu juga ada Wayan, seorang lelaki tua yang dengan setia mengabdi di rumah itu.
Konflik dimulai ketika Gusti Biang, yang semakin iri dengan kemudaan dan kecantikan Nyoman, memaki dan memarahi perempuan muda itu. Ia marah karena hal-hal sepele hingga berdelusi bahwa Nyoman berniat untuk meracunnya dengan obat-obat, yang sebenarnya didapatkan dari dokter.
Gusti Biang adalah seorang janda bangsawan yang kolot, ketinggalan zaman, dan begitu memandang tinggi kasta serta kebangsawanannya. Dia menganggap rendah orang-orang yang berada di bawah kastanya dan menganggap mereka patut diperlakukan seenaknya. Gusti Biang memiliki seorang putra bernama Ngurah, yang kuliah di Jawa (ternyata bagi orang Bali, Jawa itu sebutan untuk tempat di luar Bali). Ngurah baru muncul di bagian akhir cerita untuk menambah rumit konflik yang ada sekaligus memberikan penyelesaian atas cerita.
Sebagai karya pertama Putu Wijaya yang saya baca, pada awalnya saya merasa agak bosan juga. Tapi kemudian saya menjadi marah, kesal, dan benci dengan si Gusti Biang. Saya suka dengan si Wayan tua yang sudah tahu bagaimana cara menghadapi amarah tak terkendali Gusti Biang. Putu Wijaya begitu pandai dalam meramu emosi pembacanya sehingga saya merasa larut dalam cerita. Saya jadi ingin baca karya-karyanya berikutnya.
Saya sungguh berterima kasih pada iPusnas yang koleksi sastranya makin lama makin oke. Semoga saja semakin banyak karya-karya sastrawan Indonesia masuk di dalamnya sehingga generasi sekarang jadi mudah untuk mengaksesnya.
Gue rasa gue butuh baca buku-buku kek gini. Biar nantinya gue tau gue harusnya nggak boleh sombong kalo gue makin tua lol gue nggak mau jadi kek Gusti Biang.
Baguss. Endingnya ga ketebak Cerita berada pada waktu sore ke malam, tidak sampai 1 hari dengan latar belakang sebuah rumah. Penuh konflik dan dialog antara 4 tokoh utama.
pertama baca buku ini waktu umur 14 tahun, Pada waktu itu saya belum mengenal budaya Hindu dan kasta, cukup menarik. Saat ini setelah pindah ke Bali dan lebih mengerti tentang budaya kasta, ternyata cerita dalam buku ini masih terjadi, meskipun tidak se ekstrim yang ada di buku ini :) Salut kepada orang2 yang lebih mengutamakan cinta daripada status sosial :)
Lagi gak mood bacain narasi yang panjang dan mendayu-dayu ala sastra jaman dulu kala, jadinya pas baca agak gak enjoy. Berasa terpaksa untuk nyelesainnya. Tapi, bisa aja aku nyelesain besok kan, eh akunya penasaran endingnya gimanaa wkwk.
Ini buku pertama dari Putu Wijaya yang aku baca. Aku suka cara penulis mencampurkan penggunaan gaya cakap Bali ke dalam narasi berbahasa Indonesia. Kukira bakal aneh, ternyata cocok cocok aja. Sayang sekali aku memang bukan tipe yg suka penulisan narasi kelewat puitis dan mendeskripsikan suatu hal dengan paragraf panjang, jadinya gak bisa menikmati secara benar pas baca. Meskipun gitu, masih ada bagian-bagian narasi yg aku suka karna emang paduan katanya indahhh sekali.
Untuk tokoh-tokohnya, bahh nyebelin. Dan penokohannya agak kurang, jadi bingung nentuin sifat-sifat mereka aslinya gimana. Akhirnya aku cuma menebak-nebak dari perilaku mereka ke satu sama lain. Mungkin ini juga alasan aku cuma ngasi bintang 3. Aku masih penasaran tentang hidupnya Nyoman dan gimana selanjutnya kisah percintaan dia sama Ngurah. Apalah yg diharapkan dari buku cuma 142 halaman ini.
Untuk bagian klimaks sih... bisa ditebak lah ya menurutku, gampang aja. Atau akunya aja yg udah paranoid dari awal wkwk. Oh ya, untuk latar tempat dan suasana yg dipakai juga sangat dekat denganku karena aku tinggal di Tabanan! Jadi aku tau beberapa daerah yg dimention di cerita ini. Mayan agak bikin aku ngerasa akrab sama situasi kondisi di sini. Yah, buku ini memang gak jelek-jelek amat untuk dibaca kok. Cocoklahh buat kalian yg suka novel sastra dan berkenan untuk mempelajari adat budaya keseharian masyarakat Bali yg masih kuno ini. Meskipun kayaknya jaman sekarang masih ada modelan gini sih, ehh gatau deh haha ✌️
📌"Baik icang cukup berpendidikan untuk mengerti berbalas budi. Tapi mestikah dengan berhutang budi, orang boleh direndahkan, dihina dan dicaci? Padahal icang punya kehormatan, punya hak. Icang bukan binatang! Biarlah icang pergi saja," -Tokoh Nyoman kepada tokoh wayan. *Icang = Saya dalam bahasa Bali.
📌-- "Sekarang orang tidak lagi diukur dari keturunannya. Kepandaian dan kelakuanlah yang meletakkan ukuran tinggi-rendah manusia. Sekarang tidak ada lagi bangsawan, kecuali nama-nama yang masih terus diwariskan. Tak hanya bangsawan, semua orang berhak dihormati!" - Tokoh Nyoman kepada Tokoh Gusti Biang 📌
Kurang dari 150 halaman, karya dari Putu Wijaya ini.. Bagi saya buku ini mengajarkan tentang buruknya akhlak seseorang yang tercermin dalam sebuah kesombongan dan peliknya budaya kasta yang terjadi di daerah2 nusantara hingga menimbulkan kearogansian dan bahkan seringnya tentang jodoh anak yang perlu "dijaga" karna memandang keturunan adalah nilai yg harus dijunjung tinggi. Benarlah apa yang dikatakan Rasulullah SAW dan apa yang diajarkan oleh beliau, ialah lebih mementingkan akhlak yang baik dari seseorang. Percuma bangsawan, kaya, dan berpendidikan tinggi apabila akhlak yang tercerminkan tidak lebih baik dari harga diri menurutnya yg "tinggi" itu di dunia. Masya Allah.. #ReminderDiri
⭐5 Kisah berlatar Bali yang mengusung mengenai perbedaan kasta. Bercerita mengenai bangsawan yang sombong dan sering bedain kasta, terutama sama pelayannya.
Kisahnya diceritain tanpa bertele-tele, jelas mengalir hingga akhir dan dari awal hingga akhirpun alurnya runtut. Bagian yang menurutku unik dari kisahnya yaitu kisahnya ditulis dalam 1 waktu yang bahkan tidak memakan waktu 1 hari dan berlatar tempat di rumah bagian belakang dan gudang.
Kisah ini juga menyinggung mengenai perubahan zaman yang terjadi di Bali, yang mana kesetaraan menjadi hal yang lebih utama dari pada pembedaan kasta yang diagung-agungkan. Ada juga menyinggung mengenai peristiwa puputan.
Penuturan Putu Wijaya mengenai karakteristik masing-masing tokohnya juga tidak perlu diraguin lagi. Contohnya oenggambaran sosok Gusti Biang benar-benar sampai ke pembaca kesal, jengkel, dan gemasnya campur-baur jadi satu menghadapi sosoknya itu😬.
Ending kisahnya cukup membuatku greget banget karena tidak tertebak😖.
Jika cari buku yang anti ribet namun dengan permasalahan yang cukup padet ini cocok sih kata aku. Bisa dihabiskan sekali duduk dan sangat mengalir!
ceritanya padat, mengalir begitu saja. intens sejak awal hingga akhir. tak ada kesan bertele-tele dan memanjangkan cerita yg tidak seharusnya, walaupun ini sebuah novel. buku ini menceritakan tntg perubahan zaman yg menyebabkan perubahan perilaku dan budaya, khususnya perjodohan menurut kasta. ingin menyampaikan pesan bahwa masa telah berganti, pandangan thdp dunia sudah berubah.
Ini cerita terpadat, terjelas, gak bertele-tele yang pernah saya baca. Penokohan setiap tokohnya kuat dan ceritanya mudah diikuti. Sangat saya rekomendasikan untuk yang mencari novel agak singkat dan bisa selesai dengan cepat.
Sebuah drama tiga babak yang pedih dengan tokoh-tokoh gang saling menyakiti. Konfliknya disusun dengan rapi sampai klimaks yang impas dengan harapan pembaca.
Sepanjang cerita kayaknya berisi Gusti Biang yang marah-marah ke dua bedindenya, hahaha. Saya suka bagaimana Putu Wijaya menggambarkan suasana Bali yang kental dan fakta sejarah soal perang gerilya yang disisipkan di tengah-tengah cerita. Akhirnya agak plot twist ya, tapi nggak sekaget itu karena sejak awal memang sudah dijelaskan kalau dulu Bapa Wayan mengabdi di puri karena cintanya pada Gusti Biang—meskipun sebenarnya saya nggak akan menyangka kalau Ngurah itu anaknya Bapa Wayan.
Sebenarnya ada bagian agak aneh juga sih, yang masih saya pikirkan kenapa sikapnya Gusti Biang jadi kontradiktif banget setelah kenyataan yang sebenarnya terkuak "Terus ngapain selama ini adu mulut terus dan maksa Ngurah kawin sama perempuan bangsawan kalau sendirinya pada akhirnya luluh?!". Mungkin karena egonya sebagai bangsawan, kali ya. Ya pokoknya begitu, tapi secara keseluruhan saya menikmati Bila Malam Bertambah Malam.
Sebuah roman dengan latar di Bali ini cukup membuat aku terkesan. Putu Wijaya berhasil menghadirkan sebuah cerita yang menggugah emosi pembaca dengan tingkah laku setiap tokohnya. Bukunya tipis tapi isinya mengenyangkan.
Diawal kita diperlihatkan seorang bangsawan yang hidupnya seorang diri ditinggal mati oleh suaminya karena perang serta anaknya yang sedang merantau untuk menimba ilmu. Kekuasaan yang dimilikinya membuat gelap mata serta luka lama yang dipendamnya melahirkan sebuah dendam. Segala hal yang bertentangan dengan prinsipnya dikecam sedemikian rupa hingga menimbulkan luka bagi orang lain.
Roman ini seperti menyindir kebiasaan lama yang pengaruhnya ternyata bisa merugikan. Perbedaan kasta yang menyulitkan dua insan untuk bersatu—hal ini juga menjadi pembeda mana manusia yang paling baik dan paling buruk. Lalu kesombongan dan kebohongan yang bisa membawa bencana. Dalam hal ini Putu Wijaya seakan menekankan bahwa adab lebih penting diatas segalanya.