"Dalam sebagian besar cerita Damhuri, kampung terungkapkan dalam bahasanya sendiri, bahasa yang mengungkap perbendaharaan kampung, tanpa harus berarti usang, karena baik persoalan, maupun sudut pandang dan pendekatannya, sepenuhnya berpijak pada masa kini. Bagai menjawab suatu nostalgia, sekaligus mengingatkan agar tak terlena…" Seno Gumira Ajidarma, novelis
----
Kenduri itu memang semarak, tapi keluarga mempelai laki-laki nyaris meninggalkan helat lantaran aneka juadah yang tersuguh ternyata bukan masakan Makaji, Juru Masak handal itu. Gulai Kambing terasa hambar karena racikan bumbu tidak meresap ke dalam daging. Kuah Gulai Rebung encer karena keliru menakar jumlah kelapa parut, lebih banyak air ketimbang santan. Maka, berseraklah gunjing dan cela yang mesti ditanggung tuan rumah. Bukan karena kenduri kurang meriah, tidak pula karena pelaminan tempat bersandingnya pasangan mempelai tak sedap dipandang mata, tapi karena macam-macam menu yang tersaji tak menggugah selera. Nasi banyak gulai melimpah, tapi helat tiada membuat kenyang.
Makaji tak mungkin menjadi Juru Masak di kenduri pernikahan Renggogeni dengan lelaki lain. Ngeri ia membayangkan betapa terpiuh-piuhnya perasaan Azrial, anak laki-lakinya, yang mencintai Renggogeni, lebih dari mencintai dirinya sendiri. Tapi Mangkudun (ayah Renggogeni) bulat-bulat menolak pinangan itu; jatuh martabat keluarga kita bila anak Juru Masak itu jadi suamimu…
Saya menyukai buku ini. Diceritakan secara sederhana tapi bermakna. Juru Masak adalah sehimpun cerita pendek dari uda Damhuri. Cerita yang ditampilkan banyak mengambil latar minangkabau sebagai kampung asal beliau. Dari sekumpulan cerpen ini, tentu saja yang paling menarik menurutku adalah cerpen berjudul Juru Masak. Bercerita tentang kegagalan cinta. Kasih tak sampai, pinangan ditampik....eh malah didapuk menjadi juru masak di acara pesta pernikahan kekasih yang diambil orang. Aduhai sakit dan pedihnya.
Kelebihan cerpen-cerpen Damhuri Muhammad adalah pengolahan dan penyajiannya yang paripurna. Setiap tema, alur, penokohan, bahkan kata per kata seperti dipilih dengan hati-hati dan diracik dengan sempurna. Seperti dalam kata pengantarnya, Bang Dam (begitu saya kerap memanggilnya) mengatakan bahwa menulis cerpen baginya seperti meraut sepasang bilah layang-layang. Butuh ketelatenan untuk terus-menerus meraut kedua bilah itu dari pangkal hingga ujung, sampai permukaannya benar-benar halus, dan imbang bila ditimbang. Jika Anda mengikuti perkembangan atau memerhatikan cerpen-cerpen Bang Dam, di berbagai buku kumplulan cerpen atau karya-karyanya yang terserak di berbagai media, Anda akan menemukan kualitas karya yang senantiasa terjaga. Sekarang saya mengerti tentang "pabrikasi" cerpen yang sering beliau sampaikan. Nah, sebetulnya saya ingin sekali memberikan empat bintang untuk kumcer ini, kalau perlu lima bintang. Karena saya sudah jatuh cinta bahkan sejak membaca kata pengantarnya. Sayangnya bintang itu terpaksa saya kurangi karena ending di dalam setiap cerpen di dalam kumcer ini. Di setiap awal dan tengah cerpen-cerpennya, alur dan narasi masih terjaga, tapi ketika masuk ke bagian ending, benang layang-layang itu mulai kendor. Entah karena kehabisan tenaga, atau karena memang disengaja. Bukan, bukan ending yang dibuat dengan tergesa, lebih karena ada semacam keterputusan antara konstruksi cerpen; awal-tengah-akhir. But overall, cerpen-cerpen di dalam kumcer ini keren.
meski tidak sebergas dengan esai sastra atau resensi bukunya, kumpulan cerpen ini cukup menyuguhkan cerita yang layak dinikmati. bertamasya ke pelosok-pelosok kampung dengan menggunakan isu-isu aktual, tentu menjadi toleransi bagi masa lalu untuk muncul di kekinian. damhuri mahir untuk bercerita semacam itu.
saya paling suka dengan cerita Kesturi. kita seperti diajak untuk mengingat masa lalu yang pada dasarnya akan selalu ada. meski kita sudah berada di masa sekarang. sebuah usaha untuk melupakan masa lalu, menjadi cerita yang menarik ketika peristiwa-peristiwa itu menempel dalam hidup sehari-hari. bahkan pada tubuh.
satu-satunya yang mengganggu kumpulan cerpen ini cuma cover buku. seharusnya bisa lebih estetis dan imajinatif, sesuai dengan cerpen-cerpen yang ada.
Gasiang Tengkorak Sekilas dari penampilan Dinir, pemanjat pohon kelapa, nampak tidak beraturan, Perempuan jangan sekali-kali menghina ia sembarangan. Dinir mempunyai Gasing tengkorak yang membuatnya beristri sesuai seleranya. Korbannya kali ini Nurmala, seorang gadis yang pulang dari rantau, hendak meminta restu orang tuanya ada dokter muda yang hendak meminangnya di kota. Syukuran pun akan dibuat. Setiap acara tentu membutuhkan kelapa yang banyak. Nampak lah anak gadis ini oleh Dinir. Nurmala digoda oleh Dinir yang langsung dijawab ketus dan menyamakan Dinir dengan monyet. Dinir pulang dengan hati panas. Malamnya Nurmala pun terkena pukau gasing tengkorak Dinir. Siapa yg terkena gasiang tengkorak akan menurut kehendak yang punya. Dukun paling hebat pun tidak kuat menghalaunya.
Sumanda Anak laki-laki di kampung tidur di surau.Laki-laki tidak boleh tinggal di rumah.Di surau anak-anak belajar mengaji dan silat. Anak-anak belajar dan tinggal di surau sebagai bekal untuk merantau. Surau tidak pernah sepi dari riuh anak-anak mengaji. Pembangunan surau diperoleh juga dari orang-orang rantau yang pulang kampung. Sumanda tinggal di surau di usia tuanya. Ia jarang pulang ke rumah. Istrinya lebih sering di rumah anak menantu. Kecil di surau dan setelah tua terbuang ke surau. Bantu lah surau . Surau penuh oleh duda-duda tua yang dicampakkan anak bini.
Bigau Kurai adalah pendekar Kampung Lekung yang berumur 80 tahun. Tubuh ringkih dan kisutnya membuat orang-orang mengukur umurnya tak lama lagi. Sebelum Kurai meninggal, ia diminta mencari penerus ilmu silat dan pewaris rantai celeng. Konon rantai celeng yang tertanam di paha kirinya adalah sumber kekuatannya. Ia tidak mempan ditembak peluru. Rantai celeng ini didapatnya dari pertempuran dengan Bigau, makhluk jadi-jadian penjaga babi-babi liar di hutan Kampung Lekung. Candung yang suka mengaku cucu Kurai mendesak Kurai untuk mewarisi rantai celeng. Namun Kurai sudah mencium niat jahat Candung. Yang berhak mendapat rantai celeng adalah Bigau.
Anak Bapak Payudara bapak tumbuh tiba-tiba sekarang bapak bisa menyusui. Bapak berhasil memperempuankan kelaki-lakian bapak. Menggendong, memandikan , mengganti popok. Kenapa tidak dari rahim bapak sekalian Dedek lahir ? Ibu sibuk bekerja. Jadi anak bapak saja lah di rumah. Ibu dan bapak sering bertengkar karena bapak tidak bekerja dan di rumah saja. Setelah besar, Dedek lebih senang pergi dengan Ibu.
Jo Ampok Engku anak lapau kini jadi orang surau. Engku hanya melewati teman-temannya yang asyik main di lapau. Pengunjung lapau biasanya memainkan Domini, Remu, Koa atau Putar Dadu. Ada bilik-bilik Lapau Sinaro yang khusus untuk taruhan yang lebih besar. Engku awalnya sering membantu Sinaro di lapaunya. Dari sini lah Engku bisa membiayai sekolahnya. Sekali-kali ia ikut berjudi hingga ia mahir dan mempunyai bakat alami penjudi untung. Penjudi kelas kakap seperti Jo Ampok sering memodali Engku. Sekarang Engku pun tak menoleh jika melewati lapau. Kawan-kawan lapaunya menganggap Engku sudah melupakan mereka. Jo Ampok kehilangan pemain tumpuannya dan akhirnya kalah terus. Jo Ampok jatuh sakit.
Juru Masak Kepiawaian juru masak sangat penting dalam setiap perhelatan. Apalagi untuk acara pernikahan jika masakan yang dihidangkan tuan rumah tidak enak akan dibicarakan tamu hingga berhari-hari. Gulai kambing yang hambar atau kuah gulai rebung yang encer akan membuat aib bagi yang punya acara. Pihak besan pun akan merasa tidak dihargai jika hidangannya tidak menggugah selera. Tukang masak Makaji terkenal hingga keluar Dusun Lareh Panjang. Anak tuan tanah Mangkudun, Renggogeni akan menikah. Azrial anak Makaji pernah ditolak mentah-mentah oleh Mangkudun. Tak pantas kau bersuami anak tukang masak,apa kata orang. Azrial merantau dengan membawa luka hatinya. Azrial membawa bapaknya ke rantau. Kenduri di rumah Mangkudun berlangsung meriah, makanan melimpah ruah tapi masakannya hambar saja. Dimana kah Makaji si juru masak Lareh Panjang ?
Anjing Buru Ayah adalah pemburu ternama di kampung mereka. Karena itu Ayah ebih mengasihi Kalupak, anjing buru, daripada anak darah dagingnya sendiri. Biaya untuk Kalupak tidak sedikit. Harga belinya saja sudah tergadai sepetak sawah. Ada nasi dingin lebih diutamakan ke Kalupak. Anaknya yang gemetar kelaparan sampai mencuri makanan anjing. Ketahuan langsung ditangani ayahnya. Tanpa ampun pukulan, tinju menghantam badan kuyu anak kecilnya. Jika istrinya ikut campur makin jadi amarahnya. Semua kebagian bogem mentah ayah. Kalupak mati. Kepalanya retak dihantam balok. Ayahnya marah besar dan menghajar seluruh anggota keluarganya. Anjing burunya mati. Ayah pun pergi dari rumah.
Tikam Kuku Setiap murid harus menyerahkan sebilah pisau siraut yang dibungkus kain kafan sebagai mahar sebelum pengajaran silat. Salah satu ujian silat murid-murid dari pendekar harimau campo adalah tikar gulung. Murid yang digulung tikar akan diserang tusuk dan tikam bertubi-tubi hingga koyak. Satu-satunya murid Harimau Campo yang berhasil lolos dari tikar gulung adalah Dahlan Beruk.
Sembilu Talang Perindu Tiga pendekat tanggung, Gacik Pangawan, Incekmato Batangkai, Sakatok Takujai, dikirim untuk mendapatkan talang perindu di gunung Seribu Bidadari. Talang Perindu benda keramat untuk ilmu pelet dapat membuat gadis-gadis bertekuk lutut.
Tamu dari Kampung Ada tamu dari kampung yang akan datang ke rumah Tanur. Ia sendiri tidak mengenalnya. Tamunya ini menumpang dua malam. Katanya ia mencari-cari tenaga kerja untuk dikirim ke Malaysia. Tamu ini menyebalkan dan nyinyir. Ia berusaha meyakinkan Tanur mereka masih ada hubungan kekeluargaan.
Ratap Gadis Suayan Raisya, janda beranak satu, selalu hadir di setiap rumah duka yang kehilangan keluarganya. Ia akan duduk di dekat jenazah. Ia melonjak-lonjak, mengelilingi jenazah sambil terus menyebutkan kebaikan-kebaikan mendiang semasa hidup. Kepiluannya melebihi duka dari keluarga yang ditinggalkan. Tanpa ratapan Raisya kematian terasa kurang khidmat. Menanak risau menjadi pekerjaan setelah suaminya meninggalkan dia dan anaknya.
Kesturi Laki-laki beraroma kesturi meminta wanita itu memberikan wangi zaitunnya. Kenapa tubuhmu bisa beraroma kesturi ? Ini adalah aroma perempuan masa laluku. Laki-laki kesturi meninggalkan kota wanita zaitun. "Wangi zaitunku mati terbunuh oleh harum kesturi tubuhmu, bau tubuh perempuan masa lalumu itu."
Mardijker Seorang bapak tua tampak berkeliaran di. sekitar Latanza Cafe. Mahasiswa yang menjadi pengunjung setia kafe tersebut mendekati bapak tua itu. Ia meracau "Kita semua memang orang-orang Mardjiker, termasuk kamu." "Apa itu Mardjiker ?". Kau cari tahu dulu arti Mardjiker dan jelaskan pada mereka.
Setting cerpen Damhuri Muhammad kental dengan alam budaya Minangkabau. Cerita gasing tengkorak misalnya mengangkat klenik asli dari Minang. Di cerita Sumanda, penulis kembali mengingatkan saya riuh rendah suara anak-anak mengaji di Surau masa kecil saya. Surau tidak hanya untuk tempat anak belajar tapi tempat tinggalnya bapak-bapak tua yang tidak dipedulikan anak istri. Cerpen Juru Masak mengangkat kisah cinta yang tidak direstui antara Renggogeni, anak tuan tanah Mangkudun dengan Azrial anak tukang masak. Mangkudun masih memikirkan martabatnya di masyarakat dibanding kebahagiaan anaknya sendiri.
Saya suka dengan cerpen-cerpen Damhuri Muhamad. Seperti menemukan rasa “pulang kampung” dalam membacanya. Diksinya juga indah tapi tidak terasa berlebihan. Di satu sisi saya bernostalgia masa kecil, sisi lainnya seakan-akan saya berada di ceritanya. Jika dibandingkan dengan kumcernya yang lain, saya lebih suka dengan Kumcer Lidah Sembilu. Setelah membaca buku ini saya semakin rindu dengan buah yang bernama Buah Kelimunting.
Saya suka dengan gaya bertutur Damhuri di cerpen-cerpennya ini. Saya hanya tidak suka kebiasaannya menghentikan cerita secara mendadak, dan kadang tanpa penjelasan ini. Bisa jadi ini dilakukan karena keterbatasan halaman (11 dari 16 cerpen di buku ini pernah dimuat di koran/tabloid). Atau memang begitulah style-nya dalam mengakhiri cerpennya.
Tapi walaupun begitu saya tetap suka cerpen-cerpennya, selain karena gaya bertuturnya itu juga karena muatan lokalnya yang luar biasa itu. Ada cerita tentang pelet, surau, judi, pemburu, pawang hujan, pendekar, juru masak,dsb. Khas Indonesia banget. Jadi saya kasih bintang 4 deh.
Cerpen yang saya lebih sukai dibanding lainnya. 1. Jo Ampok saya agak terhenyak dengan bagian akhir cerpen saat Jo Ampok yang senang berjudi bahkan saat sekarat pun bilang "laaaaa... nammmmm...." yang ternyata dia meminta kartu domino balak enamnya, dan dia baru meninggal setelah menggenggam batu balak enamnya itu. Dia meninggal sebagai penjudi sejati. Bahkan dia tak ingat dengan menyebut kalimat tauhid. Saya jadi teringat nasihat guru agama saya dulu. Jangan biasakan mengerjakan yang buruk-buruk, dan berharap bahwa pada akhir hidup kita bisa taubat. Karena kebiasaan itu akan jadi hal yang selalu kita ingat dan lakukan, dan sulit untuk mengubahnya.
2. Sumanda agak bingung mau tertawa atau trenyuh saat diceritakan surau penuh bukan oleh anak lelaki akil baligh yang tidak boleh menginap di rumahnya sebagai persiapan saat merantau nanti (yg mungkin hanya bisa tidur di surau), tapi penuh oleh bapak-bapak tua yang "terusir" dari rumah karena sdh pensiun dan tidak berguna lagi di rumah. Hehehe.