Ini pertama kalinya saya membaca buku Leila Aboulela. Maka ekspektasi saya tidak tersetting sejak awal, hanya saya terpesona dengan cover yang manis dan sebuah tanpa Pemenang CANE PRIZE 2000 membuat saya yakin dan memboyong dari tumpukan obral. Ditambah puji-pujian di halaman pertama, mantablah saya.
Cerpen pertama adalah Lampu Warna-warni yang juga dijadikan judul dalam buku ini. Cerpen ini manis sekali, saya langsung membayangkan cerpen-cerpen di Majalah Femina. Lampu-lampu kota di London dan seorang kondektur berwajah India, membuat 'tokoh aku' terbawa ingatannya pada Taha, kakaknya yang meninggal sehari sebelum hari pernikahan. Kenangan membuat perjalanannya menjadi lebih sedih. Tetapi bukan hanya itu saja, ada pergolakan budaya dalam cerpen manis ini. Aku merasa terasing di tempat ini, di mana kegelapan alam datang secara tidak wajar pada jam 4 sore namun orang-orang tetap sibuk ke sana kemari dengan urusan masing-masing seolah tidak terjadi apa-apa (hal.10) sebagai tanda ada pergesekan budaya dalam diri si aku, yang berdarah timur tengah. Atau penulis juga menyebutkan sosok perempuan yang berpendidikan: Ibuku, seorang wanita beriman, meratap dan menangis namun tidak menuangkan debu ke atas kepalanya atau merobek-robek pakaiannya seperti yang dilakukan para wanita tidak terpelajar (hal.16)
Cerpen Oleh-oleh menurutku juga seru. Problem pria Sudan yang menikahi wanita Barat, sangat terasa. Yassir menikahi Emma, yang ditentang oleh ibunya. Bahkan ibunya tidak berkenan memanggil nama Emma. Hanya dipanggil "Istrimu, siapa namanya?". Emma juga enggan bersilaturahim ke rumah Yassir. karena takut Malaria, dll. Suatu kali, Yassir pulang ke negaranya, dan Emma meminta oleh-oleh. Ya, di sinilah pergulatan emosi Yassir dan dilema.
dan cerpen Tamu adalah favorit saya. Bagaimana pergulatan seorang dokter bernama Amina di tengah kondisi masyarakat Sudan yang miskin dan tidak cukup fasilitas kesehatannya.Salah satu pasien anak bernama Hassan begitu dekat dengannya. Suatu kali dia mengantar Hassan ke rumah. Dan mampir. Dia membawa oleh2, makanan dan baju untuk Hassan. Keluarga Hassan miskin dan bisa ditebak banyak anak. Namun sebagai balasan keluarga Hassan balik berkunjung ke rumah Amina. Namun sayangnya bertepatan dengan kedatangan calon suami dan mertuanya. dan itu membuat tidak enak Amina. Keluarga Hassan datang membawa bingkisan yang isinya luar biasa. Di cerpen ini sangat terlihat manusiawi sekali. Orang berbalas kunjung, dan orang miskin selalu merasa inferior dan harus membawa aneka oleh2 berharga ketika berkunjung ke rumah orang yang dihormati.
Aku merasakan simbolisasi Burung Unta sangat menarik. Dibenturkan dengan budaya barat-timur. DIkisahkan adalah banyak orang dari Sudan ramai-ramai imigrasi ke Barat (Inggris) karena negaranya miskin, tidak layak huni, dan kisruh peranga saudara. tapi sayangnya, setelah imigrasi banyak yang tidak balik. Ini adalah dua bulan setelah aku dari Sudan, dan semuanya berawal dari semula. Saat di bandara dia bertemu dengan laki-laki yang dijuluku Si Burung Unta. Si burung unta juga punya istri asal negaranya yang diposisikan di rumah saja. Dan endingnya: Aku ingat mengapa istri si Burung Unta rasanya tidak asing bagiku. Dia adalah aku dalam versi yang lebih muda (hal.74)
Cerita Pemuda dari Kedai Kebab menceritakan tema yang sangat sensitif, terlebih setting di Inggris. Dina (Ibu Mesir-Ayah Skotlaandia) dan Kassim (Ibu Skotlandia-Ayah Maroko) berhubungan yang bermula sebuah penggalangan dana untuk Kosovo. Tapi kondisi kelaurganya berbeda. Kassim muslim sangat ketat, namun malu-malu dalam menjalankan syariat islam. Sebaliknya Dina, meski ibunya muslim, tapi sangat jauh dari dunia islam. Ibu Dina merasa dikucilkan keluarga besarnya di Mesir, karena menikahi lelaki Skotlandia. Dan tidak dibagi warisan. Maka ketika suatu siang, Dina melihat Kassim shalat ada ketakutan dan sekaligus ketengangan religius yang dirasakan Dina. ragu-ragu di dalam kesejukan spiritual yang ditawarkan Kassim dengan rumah orangtuanya yang kosong dan tanpa arah(hal.92)
Makan Siang Selasa bagi Nadia yang muslim di sekolahnya adalah risoto ayam, pai daging babi, terung tumbuk, kentang rebus, salad tomat dan kacang, kue serta yoghurt buah. Sedang ibu kantinnya Bu Hickson tahu tentang larangan daging babi bagi Nadia. Tapi siang itu Bu Hickson tidak hadir karena sakit. Dan Nadia dihadapkan pada kegamangan, antara mencoba pai babi atau seperti biasa. Nadia makan pai babi, dan sepulangnya Nadia sakit.
kalau di cerpen Pulanglah Sendiri, kembali dikisahkan Nadia yang sudah beranjak dewasa dan mulai berkenalan dangan perbedaan orang Timur-Tengah dan Barat dalam memandang pergaulan wanita. Di negara asal Ibunya Lateefa, Mesir, wanita tidak boleh membiarkan kakinya telanjang. Bahkan tidak diperkenankan nonton fim di bioskop. sedangkan di barat semuanya diperbolehkan. Kehormatan seorang gadis itu seperti batang korek api, apabila sudah patah sudah disambung kembali (hal.106)
Cerpen MUSEUM adalah favorit saya yang lain. Cerpen ini mengisahkan Shadia yang sedang mengambil master stastistika di Aberdeen. Di sana dia bertemu dengan Bryan, memakai tindik dan berambut gondrong namun pintar. Shadia awalnya sangat takut dan sungkan dengan Bryan, karena Anting-anting itulah yang membuatnya takut, juga rambut lurus panjangnya yang diikat dengan karet gelang. Shadian belum pernah melihat lelaki dengan anting-anting dan punya rambut sepanjang itu. (hal.124). Tapi justru Bryan membawa kegamangan sendiri, bukan persoala cinta, karena Shadia sudah dijodohkan dngan Fareed. Tapi pandangan orang Barat terhadap Afrika selalu berasal dari dunia ketiga. Bahkan keluarga Shadia lebih kaya dan terhormat daripada keluarga Bryan yang tukang kayu dan penjual gula-gula, serta kunjungan di museum Afrika bersama Bryan membuatnya sadar bahwa pandangan barat selama ini keliru. Di musuem menampikan kebohongan. Sudan-Afrika bukan hutan berisi belantara dan antelop, tapi manusia yang hidup, kaya, mercedes, punya 7Ups, dan perabot dari emas.Tjakeps!
Seorang lelaki muslim asli Sudan, Hamid menikahi Ruqayyah, asli Skotlandia yang sudah muslim dan menjanda dengan dua anak kulit putih Robin dan Sarah. Hamid membutuhkan visa dan Ruqayyah membutuhkan sosok suami yang mampu melindungi dan dua anak dari suami terdahulunya. Tapi ternyata Hamid tidak sebaik dan seislami Ruqayyah. Hamid suka minum alkohol dan pilih kasih pada anaknya, jadinya hanya MAJED anak kandungnya saja yang dikasihi Hamid. Simple tapi seru.
Ketiga cerita sisanya, Cerita Lama Cerita Baru, Hari-hari Berputar, dan Permadani Radia masih memakai gaya manis. Menurutku biasa saja, enak dibaca.
Selepas membaca, saya merasakan gelora berapi-api dari penulis yang ingin Sudan, negaranya dan Afrika dikenal Barat tidak hanya sebagai negara 'somewhere', dunia ketiga, atau kemiskinan saja. Di sana ada manusia dengan kehidupan yang sama atau bahkan lebih mulia. Dan posisi wanita muslim di tengah kehidupan muslim SUdan dan budaya Barat adalah hal seksi. Benturan budaya selalu menghasilkan patahan yang indah untuk diceritakan. Aku suka, pengen ke buku yang satunya The Translator. Suka!