Jump to ratings and reviews
Rate this book

Negeri Sukun

Rate this book
“Orang-orang harus mengerti bahwa Negeri Sukun merupakan negeri yang unik. Negeri Sukun adalah negeri dengan ribuan sukun. Bila tidak sukun pun, rupanya adalah dhammatain. Sehingga setiap kali disebut, yang terdengar di akhir nama penduduknya adalah –un. Semua rata, tidak ada yang tidak sama. Kiai Badrun, Jarun, Muslimun, Hindun, Manun, Lailatun, Qomariyatun, Makmun. Semua –un. Tidak ada, atau lebih tepatnya, tidak boleh ada nama selain memakai akhiran –un. Ini adalah amar dari leluhur, katanya. Tidak boleh dilanggar meski tidak pernah jelas siapa yang memulai adat ini. Bahkan, Kiai Badrun sekalipun tidak pernah tahu sebenar-benar asal muasal warisan adat ini.

Semua nama penduduk di negeri ini juga hanya satu kata. Entah siapa pula yang membuat peraturannya. Namun, tradisi adalah jalan yang harus selalu dihormati. Mencederainya hanya akan menambah masalah negeri, kata para tetua.

Orang-orang pun percaya bahwa nama Negeri Sukun diambil karena nenek moyangnya selalu ingin hidup tenang dan rukun. Sakinah, intinya. Karena memang dua kata itu, sukun dan sakinah, punya akar makna yang sama. Maka, segala pertikaian, selisih pendapat, atau apapun harus di-sukun-kan, dihentikan. Berhenti pada satu titik, kadang berpanjangan dan konstan. Harakat-nya teratur, tidak sembarang bunyi atau mengetuk.”

238 pages, Paperback

First published March 1, 2009

3 people are currently reading
37 people want to read

About the author

Ahmad Fuady

8 books37 followers
Ahmad Fuady adalah dokter muda dengan kecintaan kepada kata-kata yang sedari dulu memikatnya. Begitu, katanya. Lahir di lingkungan madrasah, beranjak besar di pesantren, dan menjejaki kehidupan nyata lewat studi kedokteran membuatnya menikmati hidup tanpa harus terus mengeluh.

Tulisan Fuady dapat dengan mudah diakses di https://aafuady.com

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
3 (6%)
4 stars
13 (30%)
3 stars
23 (53%)
2 stars
4 (9%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 10 of 10 reviews
Profile Image for Truly.
2,764 reviews12 followers
August 30, 2009
Ahmad Fuady, yang belum lama lulus dari FKUI, sering dipanggil "Brother Ahmed" oleh teman2 karibnya karena kemampuan Berbahasa Arabnya yang fasih nian, merupakan sosok pria bersahaja dan sayang Ibu.Buktinya, dalam buku ini ada satu bab yang khusus membahas mengenai ibu.

Pintar, rendah hati dan pembawaannya yang tenang, membuat teman2 butuh waktu untuk sadar bahwa buku yang menarik ini dibuat oleh seseorang yang selama ini duduk dalam 1 ruang kuliah yang sama.
Tulisannya menunjukkan bahwa kedewasaan tidak pandang usia!

Buku ini berisi pandangan Brother Ahmed yang dituangkan dalam bentuk kisah kehidupan sehari-hari, yang semula dimuat dalam dalam blognya. Kalimat awal yang berbunyi Langit megap-megap.Hitam… Bumi gonjang ganjing…” mengingatkan pada awal saat pentas wayang dimulai, Gunungan. Mengawali kisah dikehidupan suatu tempat.

Alkisah, terdapat sebuah negeri yang mana sentosa bernama Negeri Sukun. Negeri dengan ribuan sukun ini, mewajibkan seluruh warganya memiliki nama dengan suku kata terakhir UN. Pak Kiai Badrun dengan istrinya Hindun memiliki dua orang murid kesayangan Jarun sontoloyo dan Manun. Kehidupan sehari-hari di Negeri Sukun tidak berbeda jauh dengan kehidupan dinegeri lainnya.

Ada cerita mengenai warga yang berebut menjadi tukar cukur dengan alasan tukang cukur bisa memerintah seseorang, termasuk seorang pejabat. Cerita mengenai si Jarun sontoloyo yang enggan menyupiri mobil mewah malah memilih bajaj, atau mengenai parcel yang berdatangan ke pondok Kiai.Warga yang nyaris diusir dari kampung karena memberi nama anak yang baru lahir tanpa akhiran UN. Semuanya merupakan kisah yang mengalir dengan indah untuk dibaca.

Ciri khas dari Brother Ahmed ini, setiap cerita terdiri dari dua bagian. Bagian pertama merupakan pembuka, lalu bagian kedua berupa pandangan dan pemaparan mengenai suatu hal. Biasanya bagian pertama dan bagian kedua dibatasi dengan kalimat “ Kiai tertawa…”

Tapi jangan khawatir, pandangannya memiliki dasar yang kuat. Misalnya saat bercerita mengenai sapi yang melarikan diri saat akan disembelih dan mengadukan nasibnya pada Kiai, tertulis pada footnote “ 5. lihat QS An Naml : 17-28”, guna menjelaskan paragraph “ Kiai sadar, dirinya bukan Nabi Sulaiman yang pandai berbahasa binatang, mengerti bahwa semut membicarakan pasukannya, dan bertanya pada burung Hudhud mengapa ia terlambat datang masuk dalam pasukan.5

Buku ini memberikan pencerahan jiwa mengenai dinamika kehidupan yang kita alami sehari-hari dari sisi anak muda, tanpa berkesan menggurui. Hanya keinginan untuk berbagi cerita.

Jadi penasaran, nama makanan yang ada di negeri Sukukn apa yah selain suun, sukun miehun....apa nasikun atau nasun, ayun atau ayamun…
Profile Image for Suzan Oktaria.
345 reviews29 followers
August 22, 2010
Berbagai tema dirangkum dalam satu risalah pembuka dan empat puluh enam bab. Tema politik, sosial kemasyarakatan, renungan pribadi, keluarga, ritual keagamaan, hingga persoalan cinta dibahas dengan menarik. Tokoh Jarun yang sontoloyo dan Kiai Badrun yang penuh hikmah menjadi rangkaian cerita yang sesekali akan membuat pembaca tertawa, tergelitik, atau bahkan tersindir, sekaligus memberikan masukan dan nasihat yang berharga dalam kehidupan.

Secara umum, buku ini merangkai nasihat lewat cerita yang dialami tokoh-tokohnya. Berbeda dengan buku lain, nasihat di sini ditawarkan dengan santai, lewat lelucon dan obrolan-obrolan yang seringkali bernada satir.
Profile Image for Lazuardyas Zhafran  Ligardi.
15 reviews
January 8, 2021
Ahmad Fuady berhasil menggambarkan warna warni Tuhan dalam kumpulan cerita cerita pendek yang disajikan dengan ringan. Cocok untuk bagi yang ingin mengenal Islam secara sederhana. Buku ini adalah buku ayah yang saya 'aneksasi' kepemilikannya semasa SMA.
Profile Image for Arini Rusda.
20 reviews5 followers
April 19, 2012
Tertarik ma buku ini gegara ada kutipan di tumblr, jadi pingin beli tapi keknya bukunya uda pada out of stock dimana-mana. Cetakan 2009 bung! Akhirnya mutusin nyari di toko onlen, nekat mesen walopun ga ada tulisan ready stocknya. Dan ternyata emang stocknya ga lagi ga ada dan saya memutuskan untuk tetep nunggu sampe ada. Alhamdulillah seminggu kemudian ada berita baik, yey! *ini kok malah cerita gapenting .
Well, buku ini berisi sekitar 40-an cerita pendek tentang lika-liku kehidupan di Negeri Sukun. Pertama kali denger judulnya, saya pikir maksudnya sukun itu nama buah, jadi kirain negeri yang banyak tumbuh sukun gitu deh. Ternyata saya salah, sukun disini maksudnya tanda sukun dalam aksara arab yang merupakan tanda berhenti. Sukun dan Sakinah, dua kata yang memiliki akar makna yang sama.
Negeri Sukun merupakan negeri yang unik. Negeri Sukun adalah negeri dengan ribuan sukun. Bila tidak sukun pun, rupanya adalah dhammatain. Sehingga setiap kali disebut, yang terdengar di akhir nama penduduknya adalah -un.

Buku ini bercerita tentang Kiai Badrun, tokoh agamis di Negeri Sukun, yang senantiasa didatangi orang-orang di Negeri Sukun untuk sekedar tempat mengadu dan mengeluh tentang keadaan Negeri Sukun. Cerita-cerita ini mungkin pendek, namun sarat makna dan penuh kata-kata sindiran halus. Ya, tulisan dalam buku ini kebanyakan adalah satir tentang keaadan zaman dikemas dengan candaan ringan namun ngejleb dan menyindir. Dan yang dibahas juga beragam, tentang politik, sosial, self-reflection, cinta, keluarga, so komplit sekali lah ya.
Profile Image for Sa`ad Ahyat Hasan.
111 reviews17 followers
May 10, 2013
Well, waktu pertama lihat covernya, saya kira penulis buku ini adalah bang Ahmad Fuadi penulis Negeri 5 Menara. Tapi ternyata saya salah. :D Parahnya lagi, saya baru sadar setelah selesai membacanya. Waktu saya baca biodatanya di halaman terakhir, saya kaget, "loh, Ahmad Fuadi bukannya asli Sumatera Barat ya? kok ini tempat tanggal lahirnya di Jakarta?"

Dan setelah saya baca lengkap biodatanya, barulah saya sadar kalau ternyata yang menulis buku ini bukanlah orang yang sama dengan yang menulis Negeri 5 Menara.

Secara umum, buku ini hampir sama dengan buku-buku karya Emha Ainun Najib atau Gus Mus. Isinya kumpulan artikel. Tapi bedanya, artikel dalam buku ini dikemas sedemikian rupa sehingga mirip cerita berseri. Dengan tokoh utama Kiai Badrun dan santrinya, Jarun.

Isinya bermacam-macam, tapi yang jelas, tentang pandangan penulis terhadap kondisi budaya dan sosial yang ada di sekitarnya.

Satu lagi yang membuat saya terjebak adalah penggunaan kata "Sukun". Sebelum membacanya, saya kira "sukun" yang ada dalam sampul buku ini adalah buah sukun. Tapi ternyata bukan. Sukun yang dimaksud dalam sampul buku ini adalah tanda baca dalam bahasa Arab.

Kalau melihat background penulis yang merupakan mahasiswa FK, buku ini sebuah karya yang luar biasa.

3 Bintang! :)
Displaying 1 - 10 of 10 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.