Jump to ratings and reviews
Rate this book

Tanah Tabu

Rate this book
*Pemenang I Sayembara Novel DKJ 2008*

"Di ujung sabar ada perlawanan. Di batas nafsu ada kehancuran. Dan air mata hanyalah untuk yang lemah."

Mabel percaya takdir akan berakhir buruk jika kita tidak menjaga langkah, apalagi bagi perempuan seperti dirinya. Tapi Mace, sang menantu, belum bisa melupakan trauma pada masa lalu. Sementara Leksi, cucu kesayangan Mabel, masih suka semaunya sendiri. Beruntung ada ada Pum dan Kwee yang bisa diandalkan. Bersama keduanya, si kecil Leksi berlajar menjalani hidup yang keras di atas Tanah Tabu.

Dan, pada kita semua, Mabel berpesan, "Kita harus tetap kuat.... Jangan menyerah. Terus berjuang demi anak-cucu kita. Mereka harus mendapatkan kehidupan yang lebih baik."

Anindita tidak menulis sebuah novel etnografi dengan semangat eksotisme kolonial, melainkan dengan perspektif emik yang penuh empati. Melalui novel ini saya berkenalan dengan Leksi, seorang bocah Papua, yang dengan kenaifannya justru menunjukkan kritisisme cerdas; juga Mabel yang menjadi eksemplar seorang perempuan hebat tanpa perlu ribet dan genit dengan retorika la aktivis perempuan menengah-kota. -Kris Budiman, Kritikus Sastra, Juri Sayembara Novel DKJ 2008-

Sosok Mabel dalam novel ini menampilkan perempuan yang melawan diskriminasi dalam konteks sosio kultural dan politik masyarakatnya.
--Linda Christanty, Penulis dan Jurnalis, Juri Sayembara Novel DKJ 2008-

Tanah Tabu menarik bukan saja karena penguasaan atas materi penulisan yang baik, maupun penyusunan komposisinya, tetapi juga urgensi masalah, yang membuatnya sangat penting.
--Seno Gumira Ajidarma, Cerpenis, Novelis dan Wartawan, Juri Sayembara Novel DKJ 2008-

237 pages, Paperback

First published May 1, 2009

35 people are currently reading
1004 people want to read

About the author

Anindita S. Thayf

8 books26 followers
Anindita Siswanto Thayf. Lahir di Makassar, 5 April 1978. Jatuh cinta pertama kali dengan buku sejak usia taman kanak-kanak hingga sekarang. Mengawali kegiatan menulis karena suka berkhayal. Memilih menjadi penulis karena sudah bosan menunggu lamaran kerjanya diterima. Tanah Tabu adalah novelnya yang meraih juara pertama dalam sayembara menulis novel Dewan Kesenian Jakarta 2008.

Lulusan Teknik Elektro Universitas Hasanudin, Makassar, ini kerap dilanda grogi kalau diminta bicara di depan umum. Guna mendukung kegiatan berkhayal dan proses menulisnya, kini dia tinggal di Lereng Merapi yang sepi dan dikelilingi kebun salak pondoh bersama suami.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
324 (33%)
4 stars
359 (37%)
3 stars
204 (21%)
2 stars
43 (4%)
1 star
23 (2%)
Displaying 1 - 30 of 165 reviews
Profile Image for miaaa.
482 reviews420 followers
September 25, 2009
'Gunung itu bukan sagu. Bukan buah merah. Tidak diperjualbelikan. Tanah kita keramat, Nak. Tabu. Diciptakan Yang Kuasa khusus untuk kita, tahukah kau kenapa? Sebab Dia tahu kita bisa diandalkan untuk menjaganya.'

Pernahkan kita mendengar kata-kata seperti itu dari para politisi, para tokoh yang memperebutkan jatah kursi di Dewan, atau mereka yang bersaing menjadi Ketua Partai? Mabel bukan politisi, pejabat pemerintah atau lulusan universitas bergengsi. Tapi Mabel memiliki kearifan lokal, sesuatu yang terlupakan di tengah-tengah saling sikutnya setiap orang untuk kepentingan diri sendiri atau kelompoknya masing-masing.

Di awal bulan September ini, tiga orang trainer dari kantorku berangkat ke Jayapura untuk melaksanakan pelatihan untuk sejumlah pegawai BAPPEDA sana. Walau hanya melihat sedikit bagian Papua, mereka begitu terpukau. Salah satunya dengan penuh kekaguman berkata, 'Di sana kalau kau ingin makan ikan laut yang diperlukan hanya umpan dan pancing. Jika kau ingin makan sayuran, tinggal petik di halaman belakang. Dan jika kau ingin makan daging, ambillah peralatan berburumu dan masuk ke hutan. Semuanya sudah tersedia. Luar biasa bukan?'

Saat membaca buku ini, aku merasa miris bahkan malu. Aku ingat anak sponsorku yang tinggal di Maro, Kabupaten Merauke. Sebagai orang tua sponsor, aku bisa mengirimkan hadiah dua kali dalam setahun (bulan Juni dan November) di luar dana sponsor bulanan yang aku transfer lewat rekening bank. Keinginanku untuk membelikan hadiah selalu terganjal pertanyaan-pertanyaan, 'Jika aku membelikan buku dongeng anak apakah neneknya paham dan mampu membacakannya? Kalau aku belikan puzzle apakah Melania bisa memainkannya? Jika aku belikan sepatu apakah dia akan memakainya?'

Ada begitu banyak jika dan tanpa aku sadari secara tidak adil aku memutuskan orang-orang Papua itu bodoh, tidak tahu apa-apa. Bukankah cara berpikir seperti ini yang membuat semua pendatang di tanah Papua entah berkulit putih atau coklat mengeruk semua kekayaan tanah itu tanpa menyisakan buat penduduk aslinya?

ps. Aku sudah tahu hadiah Natal apa yang akan aku belikan untuk putriku hehe

ps2. Anindita, terima kasih untuk menuliskan sebuah cerita yang indah seperti ini :D
Profile Image for htanzil.
379 reviews149 followers
June 11, 2009
Tanah Tabu adalah novel karya penulis muda Anindita S Thyaf dimana novelnya ini merupakan satu-satunya pemenang lomba Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2008. Awalnya mungkin ia tak menduga kalau novel yang tercipta tanpa disengaja ini dapat memenangkan lomba menulis Novel DKJ 2008. Menurut pengakuannya ide untuk menulis Tanah Tabu datang ketika ia hendak melakukan riset untuk menulis buku non fiksi anak tentang keindahan alam Papua. Alih-alih menemukan berbagai keindahan tanah Papua, ia malah banyak menemukan berbagai ketimpangan-ketimpangan sosial yang terjadi di sana. Jiwanya terpanggil untuk menyuarakan ketidakadilan yang ia temui dalam risetnya. Atas dasar itulah maka Anindita berganti haluan dari menulis buku non fiksi tentang keindahan Papua ke sebuah novel yang sarat dengan kritik sosial dengan setting Papua.

Berdasarkan riset pustaka yang dilakukannya selama 2 tahun, ia dengan teliti mencoba mengenali sumber permasalahan rakyat Papua. Ia susun dan olah semua data yang ia peroleh menjadi sebuah cerita tentang perjalanan hidup sebuah keluarga . Ia hidupkan tokoh-tokohnya dengan karakter-karakter yang menarik, dan jadilah sebuah novel. Tanah Tabu dipilih menjadi nama novelnya karena ia beranggapan bahwa setiap tanah yang merupakan warisan leluhur pastilah ditabukan oleh turunannya yang berbakti. Ditabukan dalam arti dipergunakan sesuai manfaat dan kebutuhan, serta dijaga kelestariannya. Ironisnya tanah Papua yang ditabukan, dan diwariskan turun temurun itu kini sebagian besar hilang sudah, terdesak oleh orang-orang asing yang datang untuk mengeruk kekayaan emas Papua.

Novel ini mengisahkan kehidupan tiga generasi perempuan Papua yaitu: Mabel, Mace, dan Leksi. Mereka semua adalah satu keluarga penduduk asli Papua dari suku Dani, pewaris kekayaan alam Papua yang kaya namun ironisnya mereka hidup miskin dan menderita akibat terjarahnya tanah mereka oleh para pendatang yang dengan rakus mengeruk kekayaan alam Papua.

Walau ada beberapa tokoh utama dalam novel ini, kisah kehidupan Mabel merupakan kisah yang dominan dalam novel ini. Sewaktu masih kecil hingga beranjak dewasa Mabel diasuh oleh keluarga Belanda dan tinggal di Wamena, otomatis ia dibesarkan dan dididik dalam tradisi masyarakat barat. Namun ketika keluarga angkatnya harus pulang ke negeri asalnya, Mabel kemudian mengalami masa-masa kelam dalam hidupnya, dua kali pernikahannya mengalami kegagalan , ia juga pernah diculik dan mengalami siksaan hebat karena tuduhan bersekongkol dengan para pengacau keamanan. Semua pengalamannya inilah yang membuat Mabel kini menjelma menjadi sosok yang mandiri, tegar, pemberani, cerdas, dan memiliki wawasan dan cara berpikir yang modern dibanding para wanita Papua.

Dalam kesehariannya Mabel menjual sayur di pasar dan tinggal bersama Mace selaku menantunya dan Leksi, cucunya yang masih berusia 7 tahun yang hingga usianya kini belum pernah bertemu dengan ayah kandungnya yang meninggalkan Mace sebelum Leksi lahir. Lalu ada pula tokoh Pum sahabat setia Mabel, dan Kwe yang setia menemani dan menjaga Leksi kemanapun Leksi pergi. Selain itu ada pula tokoh-tokoh tambahan lain seperti keluarga Mama Helda dan anaknya Yosi yang saban hari harus menghadapi kemarahan ayahnya yang pemabuk.

Melalui novel ini terlihat dengan jelas bahwa penulis ingin mengungkap berbagai ketimpangan yang terjadi di tanah Papua. Novel ini dengan gamblang menyuarakan berbagai kenyataan pahit yang dialami penduduk Papua, terlebih ketika orang-orang asing mulai berdatangan ke kampung mereka. Mereka memang datang membawa perubahan dan modernisasi, namun dua hal itu ternyata tak dirasakan manfaaatnya bagi kehidupan penduduk asli Papua. Di tengah tempat yang justru terus menerus dipoles menjadi semakin modern dan indah, masyarakat Papua justru tetap menderita, miskin, terkena penyakit, dan bencana, salah satunya dikarenakan sungai yang tercemar akibat limbah dari pabrik tambang emas yang berdiri megah ditengah-tengah mereka.

“Perusahaan di ujung jalan itu hanya setia pada emas kita. Tidak peduli apakah tanah air, dan orang-orang kita jadi rusak karenanya, yang penting semua emas punya mereka. Mereka jadi kaya, kita ditinggal miskin. Miskan di tanah sendiri!” (hal 134)

“..kau mungkin tidak akan percaya kalau kubilang hutan ini sekarang tidak lagi menghasilkan sagu, sedangkan sungainya dipenuhi kotoran perusahaan itu. “ (hal 135)

Selain membongkar berbagai ketimpangan sosial yang terjadi di Papua, novel ini juga berbicara mengenai budaya patriakhi suku Dani yang amat merugikan bagi kaum perempuan. Lelaki adalah penguasa, sedangkan para wanita Papua dianggap sebagai mahluk yang lemah sehingga patut dilindungi dari serangan musuh, tetapi tidak dari penindasan keluarga sendiri. Hal ini terlihat jelas pada semua tokoh wanita dalam novel ini. Mabel, Mace, dan Mama Helda, mengalami nasib yang sama, mereka mengalami penderitaan fisik dan mental akibat perlakuan para suaminya tanpa bisa melawan. Hanya Mabel yang berhasil lepas dari belenggu nasibnya, dan ia yakin bahwa akar permasalahannya adalah karena jerat kebodohan yang menimpa perempuan Papua sehingga mereka terbelenggu oleh takdirnya yang hidup hanya untuk keluarga, suami, kebun, dan babi.

“Sejak dulu hingga sekarang nasib perempuan tidak berubah. Mereka terlalu bodoh untuk melawan, dan terlalu takut untuk bersuara. Ya, jadilah seperti itu. Tertindas di bawah kaki suaminya sendiri. Seumur hidup menjadi budak, hingga kematian memisahkan mereka”. (hal 170)

Melalui tokoh Mabel-lah suara perempuan Papua yang sebelumnya hanya berbisik dan nyaris membisu kini menjadi lantang terdengar. Mabel dengan berani melawan takdir perempuan sukunya dan menggugat berbagai ketimpangan yang terjadi di kampungnya. Mabel yakin bahwa satu hal yang dapat merubah takdir mereka adalah melalui perjuangan melawan kebodohan. Keyakinannya ini ditularkannya pada Mace selaku menantunya, karenanya betapapun sulitnya kehidupan mereka, Mabel dan Mace bahu membahu mencari uang agar Leksi bisa terus sekolah agar terlepas dari belenggu kebodohan yang menimpa para wanita Papua.

Usaha Mabel berjuang melawan kebodohan kaumnya dan menggugat ketidakadilan yang dialami sukunya tak berhenti hanya untuk keluarganya saja. Ia lebarkan medan perjuangannya ke lingkungan sekitarnya. Sayangnya langkahnya terhenti juga ketika akhirnya Mabel tertangkap dan dibelenggu oleh pihak-pihak yang tak menyukai sepak terjangnya.

Walau sarat dengan pesan kriktik sosial, dan memiliki tema yang kompleks namun novel ini tak terkesan seperti menggurui atau mengkotbahi pembacanya. Anindita melebur berbagai pesan sosial yang hendak disampaikannya itu ke dalam kisah kehidupan para tokohnya sehingga berbagai pesan moral yang hendak disampaikan penulis dengan halus menyelusup ke dalam alam bawah sadar pembacanya. Cara bertuturnya juga sangat baik sehingga novel ini enak dibaca dan memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi, selain itu penulis juga menyertakan beberapa kalimat inspiratif yang menggugah kesadaran pembacanya akan banyak hal.

Selain ceritanya yang menarik, novel ini juga dituturkan dengan cara yang unik. Kisah Mabel dan beberapa tokoh lain dalam novel ini dituturkan oleh beberapa narrator secara bergantian menurut sudut pandangnya masing-masing . Uniknya tak hanya manusia yang menjadi narrator, melainkan seekor babi dan anjingpun tak ketinggalan untuk ikut menjadi naratornya. Hal ini tentu mengingatkan kita pada novel My Name is Red karya Orhan Pamuk dimana seekor anjing menjadi naratornya.
Namun dalam hal ini, apa yang dilakukan Anindita lebih berani daripada Pamuk, karena dalam novel ini porsi binatang sebagai narrator lebih dominan dan lebih berperan dibanding My Name is Red-nya Pamuk. Yang juga menarik dan yang membedakannya dengan Pamuk adalah kemampuan penulisnya yang dengan rapi menyamarkan jati diri kedua binatang itu sehingga sebagian pembaca akan tersentak kaget ketika mengetahui bahwa beberapa narrator dalam novel ini adalah seekor binatang.

Kisah yang menarik, gaya berutur yang, unik, memikat, kompleksnya tema yang diangkat (social, politik, feminisme, kapitalisme, militerisme,dll) dengan seting di provinsi paling ujung Indonesia yang jarang ditulis oleh penulis-penulis lokal kita tampaknya ‘mencuri’ perhatian para juri novel DKJ sehingga menobatkan novel ini menjadi juaranya.

Sayangnya dalam novel ini penulis tampaknya terlalu memberikan persepsi negatif terhadap kaum pria suku Dani. Tak ada tokoh pria baik dalam novel ini kecuali ayah angkat Mabel itupun karena ayah angkatnya seorang Belanda. Semua pria Papua digambarkan dengan begitu buruk, suka memukul, pemabuk, tak menghargai wanita, licik, bahkan seorang anak laki-laki (Karel), teman Leksi pun digambarkan sebagai anak yang sombong. Apakah memang semua pria Papua demikian?.

Novel ini juga kurang mengeksplorasi budaya Papua, padahal ada banyak hal sisi budaya lokal yang bisa diangkat, misalnya tarian perang suku Dani atau pesta babi yang menjadi bagian dari kehidupan mereka. Jika saja muatan budaya lokal ini bisa dimasukkan menjadi sebuah unsur cerita dalam kisah Mabel, tentunya novel ini akan semakin lengkap sehingga pembaca tak hanya mengetahui berbagai ketimpangan yang terjadi di Papua melainkan mendapat bonus tambahan berupa budaya lokal yang unik dan tentunya sarat dengan makna kearifan lokal.

Namun terlepas dari kelebihan dan kekurangan novel ini, apapun yang telah ditulis oleh Anindita dalam karyanya kali ini semakin membuktikan, bahwa karya sastra tak hanya memberikan hiburan sastrawi kepada pembacanya. Namun, sastra juga dapat menjadi alat kontrol yang dapat menyelusup di celah-celah yang memungkinkan dirinya dapat menyampaikan pemberontakan terhadap berbagai ketimpangan yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat.

Selain itu seperti yang pernah dikatakan oleh alm. Pramoedya Ananta Toer, “Pengarang itu korps avant garde, bukan penghibur... tugasnya melawan kejahatan dalam tulisan-tulisannya!”. Dan Anindita dalam novelnya kali ini telah menunaikan tugasnya, bukan hanya sebagai penghibur melainkan sebagai penulis yang melawan diskriminasi dan kejahatan terhadap keadilan dan kemanusiaan.

@h_tanzil
Profile Image for lita.
440 reviews66 followers
July 25, 2009
Papua – Papa Ua
Tanah di mana keindahan surga terwakili dari kelokan sungai-sungai Lembah Baliem dan Danau Sentani di atasnya, serta kekayaan duniawi berupa emas dan intan tersimpan di dalamnya.

Papua – Papa Ua
Anak tanpa Ayah, begitu orang Maluku Utara menyebut tanah tempat burung perlambang dewa Cendrawasih bertengger di pohon-pohon di dalam hutannya. Tanah tempat ribuan spesies tanaman dan hewan baru ditemukan setiap tahunnya.

Papua – Papa Ua
Tanah tanpa tuan. Tanah Tabu, di mana kekayaan alam dikeramatkan. Kekayaan alam yang hanya dinikmati dan diambil sesuai dengan yang diperlukan, tanpa keinginan untuk menguasai dan mengeruknya secara rakus.

Papua – Papa Ua
“Gunung itu bukan sagu. Bukan buah merah. Tidak diperjualbelikan. Tanah kita keramat, Nak. Tabu. Diciptakan Yang Kuasa khusus untuk kita, tahukah kau kenapa? Sebab Dia tahu kita bisa diandalkan untuk menjaganya.”

Papua – Papa Ua
Tanah di mana orang-orang kepercayaan-Nya mulai melupakan nilai leluhur nan luhur. Tanah pemukiman ksatria pemberani diadu domba dalam perang antar suku. Tempat para lelaki perkasa hanya punya gigi di depan para anak dan istri, namun takluk dalam cengkraman paha putih dan air api.

Papua – Papa Ua
Tanah tempat anugerah berubah menjadi malapetaka. Tempat di mana para penjaga Tanah Tabu diinjak-injak dan jadi miskin papa. Rumah para makhluk hidup yang hanya bisa menangis pedih dalam hati, termasuk anjing dan babi.(lits)

Tambahan: Salut untuk penulis, yang berhasil meracik jamu nan pahit tapi menyehatkan pikiran :)



Profile Image for Miss Kodok.
220 reviews18 followers
September 28, 2009
"Ketahuilah Nak. Rasa takut adalah awal dari kebodohan. Dan kebodohan-jangan sekali-kali engkau memandangnya dengan sebelah mata-mampu membuat siapapun dilupakan kodratnya sebagai manusia". (hal.163)

Betapa kata-kata ini mampu menghipnotisku untuk mengulang-ulangnya lagi dalam setiap denyut nadiku.

Mabel, Mace Lisbeth dan Leksi, potret kehidupan perempuan yang tidak ingin terbelenggu oleh tradisi kebodohan dimana perempuan sama sekali tidak dihargai. Mereka berusaha keras untuk menjadi orang-orang pandai yang dihargai ditengah segala keterbatasan mereka.

Berlatarbelakang kehidupan suku Dani di Papua, Anin mengangkat kisah kehidupan yang sangat menarik. Dimana orang2 Papua yang seringkali dianggap bodoh dan terbelakang oleh masyarakat kota seperti kita ternyata memiliki mata hati yang lebih tajam, memiliki hati nurani yang lebih mulia. Mereka ingin tetap menjaga alam yang telah memberikan mereka kehidupan walaupun ternyata mereka tidak mempunyai kekuatan yang cukup untuk mencegah datangnya orang2 yang mengeruk seluruh kekayaan dari tanah mereka dengan alasan untuk lebih 'memanusiakan' orang2 Papua. Justru tindakan mereka jauh lebih kejam dari binatang, kalau sudah begini, siapakah yang harus lebih di'manusia'kan ? Mereka atau para pendatang itu ?

Membaca buku ini di satu sisi membuat aku tersenyum karena seperti mendengarkan cerita dari 2 ekor binatang (anjing dan babi) yang semula tidak saling menyukai. Tapi di sisi lain membuat aku sempat menangis dan malu. Menangis karena begitu tidak adil kehidupan ini bagi Mabel, Mace Lisbeth dan Leksi, malu karena binatang seperti Pum dan Kwee saja mempunyai pola pikir menggunakan hati nurani yang bersih. Aku melihat bahwa Pum dan Kwee lebih mulia dari para manusia yang serakah. Padahal Tuhan menciptakan manusia sebagai mahluk yang paling sempurna, tapi dalam kenyataannya, manusia secara sengaja telah merendahkan diri mereka hingga lebih rendah dari binatang hanya karena hati mereka telah dikuasai oleh sebuah kata 'keserakahan'. Ironis memang.

Lihat saja nasib Mabel pada akhirnya, keteguhan hatinya untuk menyerukan kebenaran justru harus membawanya kepada penderitaan yang berulang.

"Takdir adalah peta buta kehidupan yang kau tentukan sendiri arah dan beloknya berdasarkan tujuan hidupmu. Takdir akan berakhir buruk jika kau tidak berhati-hati menjaga langkah".(hal.170)

This is such a great book. Two thumbs up for Anin.

For Jimmy: thank you for giving me this book.
*tetap bersabar menunggu peristiwa 10 tahun sekali terulang*
Profile Image for Jimmy.
155 reviews
August 16, 2009
“Kalau ada orang yang datang kepadamu dan bilang dia akan membuatmu jadi lebih kaya, bantingkan saja pintu di depan hidungnya. Tapi kalau orang itu bilang ia akan membuatmu lebih pintar dan maju, suruh dia masuk. Kita boleh menolak uang karena bisa saja ada setan yang bersembunyi di situ. Namun hanya orang bodoh yang menolak diberi ilmu cuma-cuma. Ilmu itu jauh lebih berharga daripada uang, Nak. Ingat itu.”(halaman 30)

==============================
Miskin dalam Gelimang Harta
Hutannya kaya. Alamnya eksotis. Sumber daya alam melimpah. Tanah Papua. Tidak heran dalam bait puisinya Garin Nugroho menggambar “Tanah kami tanah kaya / laut kami laut kaya / Kami tidur di atas emas / berenang di atas minyak”

Nyatanya, sebagian besar orang Papua tidak lagi bisa menikmati kekayaan alam mereka. Terpinggirkan di tanah sendiri, iya! Alih fungsi hutan serta pembukaan pertambangan dan perkebunan malah membuat sebagain besar rakyat Papua merana. Dulu, nenek moyang mereka (mungkin) bisa menikmati kekayaan alamnya dengan hidup berkecukupan. Tentu saja, karena mereka bisa hidup sederhana dan secara bijak menghormati alam. Mereka hanya mengambil kekayaan alam sesuai dengan kebutuhan hidup; secukupnya tanpa berlebihan apalagi serakah.

Tapi sekarang beda, keserakahan merajalela. Kekayaan alam Papua dikeruk seolah tidak pernah cukup. Boro-boro memberikan keuntungan bagi rakyat setempat, pengerukan kekayaan alam itu hanya memberikan keuntungan berlimpah kepada orang luar, orang luar pulau Papua dan bahkan luar negeri.

Tidak hanya itu, secara umum penduduk setempat mengalami kesulitan untuk mengenyam pendidikan. Terciptalah kebodohan, dan kebodohan semakin memiskinkan.

Perempuan Papua dan Kekerasan
“Tanah Tabu” berkisah tentang kehidupan perempuan-perempuan Papua yang ingin melenyapkan kemiskinan lewat pendidikan. Juga, tentang perjuangan hidup mereka dari penindasan kaum laki-laki. Nasib perempuan Papua itu diwakilkan oleh karakter 3 generasi: Mabel (nenek), Lisbeth (ibu), dan Leksi (anak/cucu)). Mabel dan Lisbeth sangat ingin Leksi, cucunya, bisa mengenyam pendidikan setinggi-tingginya. Terlebih Mabel, ingin Leksi menjadi pintar sehingga tidak bisa dibodoh-bodohi orang namun juga tidak membodoh-bodohi orang. Mabel yakin, pendidikan merupakan salah satu cara untuk mengatasi kemiskinan. Pengalaman hidup Mabel yang cukup keras membuat dia menjadi seorang perempuan yang mandiri dan kuat. Mengalami KDRT, seperti kebanyakan perempuan Papua, juga kekerasan aparat penegak hukum.

KDRT tidak hanya dialami oleh Mabel dan menantunya, Lisbeth. Mama Helda, tetangga mereka, juga setali tiga uang bernasib sama, bahkan lebih parah. Digambarkan, para perempuan Papua harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya serta melayani suami. Sementara para suami mereka menghabiskan upah kerjanya untuk mabuk-mabukan dan berwisata “paha putih”. Pulang ke rumah hanya untuk menganiaya istri mereka dengan kekerasan fisik, psikis, dan verbal. Sebegitu rendahkah posisi perempuan Papua di mata para lelaki Papua sehingga layak diperlakukan seperti itu?

Buku “Luka Papua: HIV, Otonomi Khusus, dan Perang Suku” menggambarkan posisi kaum perempuan Papua sebagai berikut, “…kepala perang berlarian di barisan paling depan sambil berteriak, ‘Iyo nawago, iyo nawago. Inamoramo takasi agam tuwo (saya ibumu, saya ibumu, datang padamu. Panahlah aku supaya engkau memperoleh susu). Kalimat ini memiliki makna yang dalam. Ia datang sebagai seorang ibu yang memberikan segala sesuatu. Ia minta dibunuh agar musuh mendapatkan air susu ibu. Ada unsur pengorbanan, ada unsur kemenangan dan keselamatan di dalam perang. Selama perang adat, perempuan tidak boleh dibunuh…(halaman 135)

Pada halaman 139 dalam buku yang sama, dijelaskan “Perempuan, kata Thomas Wamang, sering menjadi pemicu konflik karena dalam masyarakat gunung perempuan mempunyai makna yang sangat penting. “Kenapa gara-gara perempuan, orang Amungme perang? Itu karena nilai perempuan sangat besar,” katanya. Artinya, bukan dari nilai perempuan itu, melainkan nilai hidup perempuan itu, karya perempuan (in nagao nin) bagi keluarga dan masyarakat, dan hatinya (nart nin). “Perempuan itu sumber kehidupan.” Karena itu, jika kehormatan, keamanan, dan keselamatan seorang perempuan terancam, akan terjadi reaksi massal terhadap pihak yang dianggap telah melakukan tindakan tercela itu.

Buku Luka Papua jelas menggambarkan kalau posisi perempuan sangat terhormat. Sayangnya, hal itu lebih sering dipraktekkan oleh orang-orang zaman dulu, orang-orang yang katanya hidup di zaman primitif. Jika orang zaman dulu bisa menghargai nilai-nilai hidup, serta dengan bijak menghargai alam, sebenarnya siapa yang primitif?

Perempuan, Pendidikan dan Kemiskinan
Umumnya, tidak hanya di Papua, orang-orang lebih suka memberikan kesempatan untuk mengenyam dunia pendidikan pada anak laki-laki. Sementara anak perempuan dianggap telah ditakdirkan untuk mengurus rumah tangga tanpa perlu mengenyam pendidikan. Benarkah seperti itu?

Seorang filsuf Ghana bernama DR James Emmanuel Kwegyir Aggrey (1875 - 1927) pernah berkata, “If you educate a man, you educate an individual. But if you educate a woman, you educate a whole family.” Cukup beralasan mengingat perempuan memang yang lebih banyak mengurus rumah tangga dan anak-anak. Jadi bisa dibayangkan jika seorang ibu rumah tangga yang berpendidikan menularkan pendidikan itu kepada anak-anaknya.

Dalam buku Room to Read yang ditulisnya sendiri, diceritakan kalau John Wood melalui organisasi nirlabanya juga lebih banyak memberikan beasiswa pendidikan kepada perempuan. Dengan alasan yang sama karena perempuanlah yang lebih banyak mengurus rumah tangga dan berhubungan dengan anak-anaknya. Sudah seharusnya perempuan juga diberi kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang setinggi-tinggi.

Tanah Papua: Kesaksian Perempuan di Tanah Keramat
Membaca buku “Tanah Tabu” ini seperti mendengarkan kesaksian karakter-karakter yang ada dalam buku. Menariknya, masing-masing kesaksian saling berkaitan dan membentuk sebuah cerita yang utuh. Miskin, tidak berpendidikan, dan teraniaya pula. Itulah nasib perempuan Papua yang digambarkan dalam buku ini.

Jika tanah Papua adalah tanah tabu, tanah keramat, tanah yang harus dijaga, pantaskah diperjualbelikan?

Jika perempuan Papua dianggap sebagai sumber kehidupan, pantaskah dianiaya dan dibiarkan hidup dalam kebodohan?

Pada halaman 163, Mabel berpesan kepada Leksi, “Ketahuilah, Nak. Rasa takut adalah awal dari kebodohan – jangan sekali-kali engkau memandangnya dengan sebelah mata – mampu membuat siapa pun dilupakan kodratnya sebagai manusia.
Profile Image for Kurnia Effendi.
2 reviews18 followers
October 26, 2009
Eksotisme. Itu yang terasa pertama kali saat membaca "Tanah Tabu". Novel dengan latar tempat dan kehidupan masyarakat Papua mungkin dapat dihitung dengan jari. Kehadiran Tanah Tabu karya Anindita Siswanto Thayf, seperti kelereng zamrud di atas nampan keramik putih. Kemilau. Cemerlang.

Apa yang menarik dari cerita pemenang tunggal lomba novel Dewan Kesenian Jakarta 2008 ini? Setiap pembaca memiliki kesan masing-masing, tentu. Secara subyektif saya menemukan beberapa kekuatan yang membuat novel ini pantas menjadi koleksi buku sastra Anda.

Pertama, sudut pandang pengisahan. Ada tiga tokoh penutur yang menyapa pembaca dengan ‘kau’ atau kata ganti memiliki ‘mu’ – membuat jarak begitu dekat, seperti ia (novel itu) sedang berbicara dengan kita (pembaca). Ketiga tokoh itu menjadi unik karena terdiri atas seorang bocah perempuan (Leksi) yang baru masuk sekolah dasar, seekor anjing tua, dan seekor babi. Masing-masing menjadi aku, bergantian menyampaikan cerita, dan informasi secara keseluruhan menjadi utuh kita terima. Novel dengan banyak ‘aku’ memang bukan hal baru, tetapi ini diwakili oleh manusia dan binatang.

Kedua, cara pengarang menyampaikan isi cerita seperti seseorang yang sedang mengupas bawang merah. Tak kunjung bertemu dengan buah atau biji di dalamnya. Setiap kulit adalah pintu menuju lapisan berikutnya. Dengan kata lain, tokoh yang disebut pada wal cerita, misalnya Mabel (Anabel) dan Mace (Lisbeth) baru kita ketahui secara detail setelah memasuki halaman-halaman tengah. Melalui kesaksian masing-masing tokoh, Pum (anjing setia Anabel) dan Kwee (babi peliharaan Mace yang seumur dengan Leksi), pembaca mengunjungi masa lalu ibu dan nenek Leksi.

Ya, mace itu sebutan ibu dan mabel sebutan nenek bagi Leksi. Jadi novel ini mengisahkan tiga perempuan dalam satu garis keturunan. Mereka lahir dan dibesarkan di tanah mereka, Papua. Digambarkan dalam perjalanan hidup sejak Anabel masih kecil: kehidupan masyarakat dengan koteka untuk kaum lelaki dan rumbai sebagai pengganti rok bagi kaum perempuan, sampai bertemu dengan masyarakat modern. Lintasan hidup dalam beberapa tahun itu bergerak dari Lembah Baliem sampai kota Manokwari dan Biak yang harus ditempuh dengan ‘burung besi’.

Ketiga, gaya bahasa Anindita tidak muluk-muluk, tetapi banyak metafor unik bermunculan yang mewakili pikiran sang tokoh. Saya pribadi sama sekali tak menganggap janggal pada kemampuan seorang bocah, seekor anjing, dan seekor babi, dalam menyampaikan pikiran-pikirannya sebagai reaksi atas kejadian yang mereka alami. Semua mengalir indah dan bergerak seolah kita hanyut dalam arus cerita itu.

Ketika Leksi diminta membayangkan rasa keju dengan mengumpamakan sagu yang lembut, betapa susah bagi si bocah. “Seperti membayangkan matahari itu segitiga, padahal satahuku itu bulat.” Saat Leksi menceritakan tentang ulat, pikiran anak-anaknya menyembul kuat. “Aku tak bisa melarang ulat untuk singgah di kangkung yang akan dijual. Aku juga tidak bisa berjaga di kebun seharian untuk menghalau ulat. Aku dan ulat punya kesibukan masing-masing.” Dan kita temukan lagi pengalaman Leksi bertemu dengan sorang pria remaja yang saat kehabisan uang akan menjual sepatunya (setelah telepon genggamnya juga terjual untuk mabuk). Apa kata Leksi kepada babi kesayangannya? Begini: “Kwee, kalau nanti kita mau pergi jauh dari rumah, jangan lupa bawa semua isi lemari. Biar kalau tidak ada uang untuk pulang, semua itu bisa kita jual.”

Keempat, novel ini terasa eksotik. Entah mengapa, membaca Tanah Tabu seperti membaca karya terjemahan atas novel Afrika atau Amerika Latin. Di sana tidak ada pemaksaan pengetahuan tentang latar dan bagaimana tokoh-tokohnya itu hidup. Semua alamiah dan sangat terasa kental, tanpa harus menghamburkan banyak penanda tradisi Papua. Dengan pemaparan natural sesuai aliran kehidupan sang tokoh, kita tahu bagaimana sifat kaum lelaki Papua, mata pencaharian mereka, dan…ini yang terpenting: sikap terhadap kaum pendatang yang mengeruk tambang emas.

Eksotisme memang akan muncul dari hal yang tidak biasa kita temukan sehari-hari. Bagi bangsa Barat, Indonesia yang berada di Timur dan terutama Bali, akan dianggap eksotik. Bagi kita yang hidup dengan fasilitas modern (karena pengaruh Barat), akan memandang tradisi Sumbawa, Lombok, Ambon, dan Papua sebagai sesuatu yang eksotik. Dalam novel ini, ada sebagian orang yang masih menganggap mobil dan kegiatan penambang itu sebagai hantu. Saya kira, kelebihan yang juga cukup menonjol di sini adalah sikap pengarang yang tidak memihak. Kebencian terhadap kegiatan orang asing yang tidak membuat masyarakat Papua hidup lebih baik itu, muncul dari tokoh-tokohnya sesuai dengan perasaan mereka.

Kelima, mari kita rasakan bersama dengan segenap indra, sehingga bentuk, warna, aroma, rasa, yang disampaikan oleh pengarang, tampak visual dan tercium oleh pembaca. Dalam hal ini, Anindita sebagai seorang pengarang wanita, demikian ‘tega’ mengisahkan bagaimana Mabel pernah ditahan dengan paksa, dihukum dengan pelbagai siksaan, yang seolah kita lihat dan rasakan. Tentu Pum yang menjadi saksi, melalui penuturan Mama Kori, sahabat sependeritaan Anabel di masa lalu.

*

Novel adalah prosa yang menyampaikan pergulatan pikiran para tokohnya, ‘revolusi’ yang mengubah kehidupan sang tokoh dari satu babak ke babak berikutnya secara signifikan, detail yang membangun karakter dan memberi gambaran jernih tentang pesan (walau tidak transparan). "Tanah Tabu" memenuhi ‘persyaratan’ itu. Tanpa emosi berlebihan, Anindita telah memukau para juri, dan pada akhirnya memberi pengalaman ‘baru’ bagi pembacanya. Napas sang pengarang dalam menggarap novel ini begitu stabil, sehingga sanggup membuat setiap bab menarik. Selalu ada informasi baru yang melengkapi, yang menyusun puzzle demi puzzle membangun tubuh cerita.

Kita kadang-kadang menjadi Leksi yang terpesona dengan sejarah ibu dan neneknya. Kita acap menjadi Pum yang menelan banyak pengalaman bersama si tuan, atau Kwee yang sedikit sok tahu. Kebetulan saja Anindita seorang perempuan, sehingga boleh saja novel ini dianggap sebagai suara perempuan yang tersaji melalui kesengsaraan dan pergulatannya di salah satu wilayah tertepi dari Indonesia. Tak kunjung habis rasanya, penindasan terhadap perempuan itu terjadi di pelbagai belahan bumi. Baik di jazirah Arab zaman kegelapan, Eropa, Amerika, bahkan Asia di masa kini yang dirasakan oleh TKW. Benar seperti yang diungkap Pum: para lelaki penyiksa itu seperti tak pernah lahir dari rahim permpuan.

Baiklah, saya tak ingin menjadi bekaca-kaca haru, tetapi berniat menempatkan "Tanah Tabu" menjadi bacaan yang akan saya ulang-ulang di kemudian hari. Setidaknya, Indonesia telah mendapatkan seorang pengarang yang mungkin menyusul posisi Ahmad Tohari atau Umar Kayam. Masa depan Anindita masih panjang.
Profile Image for harri pratama.
49 reviews20 followers
April 6, 2010
Di bumi cendrawasih ini Anindita S. Thayf akan mengenalkan kita pada Mama Anabel. Perempuan tua yang sehari-hari di sapa Mabel ini dilahirkan tahun 1946 di Lembah baliem, jayawijaya. Perempuan Komen dari Suku Dani ini bekerja sebagai pedagang sayuran dan tinggal di satu rumah bersama Leksi cucunya serta Mace Lisbeth, orang tua Leksi sekaligus menantu Mabel. Di rumah sederhana itu tinggal pula dua ekor hewan peliharan. Kisah Mabel dalam Tanah Tabu adalah kisah orang Komen.

Tema tentang papua yang diambil Papua Anindita membuat novel ini menjadi sangat unik, karena belum banyak disentuh dunia kesusastraan indonesia. Apalagi, kisah yang diangkat bukan soal eksotisme alam dan budaya pulau ini, melainkan sebuah kisah kelam orang papua, serupa kulit mereka yang sehitam malam.

Tanah Tabu, yang dalam novel ini berarti tanah keramat dan harus dijaga atas nama leluhur demi anak cucu mereka, tidak lagi dapat mengelak dari kehancurannya, terutama ketika datangnya perusahaan asing yang mengeruk emas bumi mereka dengan rakus. Hutan mereka tidak lagi menghasilkan sagu, sungai mereka pun dipenuhi kotoran yang berasal dari perusahaan tambang. Kerusakan itu jelas membuat kehidupan orang Papua, yang selama ini sangat bergantung pada keramahan alam, menjadi kian sulit.

Meskipun perusahaan asing berlaba milyaran dollar per tahun ini telah datang dengan mengiming-imingi kekayaan pada orang papua, tapi itu taklebih hanya tipu daya, “kalau anjing setia pada tuannya dan kucing setia pada rumahnya, perusahaan di ujung jalan sana hanya setia pada emas kita. Tidak peduli apakah tanah, air, dan orang-orang kita jadi rusak karenanya, yang penting semua emas punya mereka. Mereka jadi kaya, kita ditinggal miskin. Miskin di tanah sendiri! (halaman 133)” Kata Mabel. Dan, yang lebih memprihatinkan, Perusahaan ini semakin melegitimasi kekuasaan kaum laki-laki papua atas kaum perempuan.

Dalam sebuah kelompok yang menganut sistem patriarki seperti di Papua, perempuan berada dalam kuasa laki-laki. Pada awalnya sistem ini muncul karena perempuan dianggap sebagai makhluk yang lemah dan harus dilindungi. Karena itulah hanya laki-laki yang boleh bekerja di luar rumah, termasuk di perusahaan emas, karena dunia di luar rumah adalah dunia yang penuh bahaya.

Namun, dalam prakteknya, alih-alih melindungi, laki-laki malah menjelma menjadi makhluk yang paling merasa berkuasa atas kaum perempuan karena telah menghidupi mereka. Dengan uang yang diperolehnya, laki-laki merasa berhak melakukan apapun. Alkohol, perjudian,dan pelacuran, yang datang seiring semakin meraksasanya perusahaan emas itu, membuat mereka semakin lupa daratan dan benar-benar menelentarkan keluarga, “Begitulah laki-laki...kekuatan dan kegagahan membuat mereka merasa sebagai penguasa.lupa diri sebagai manusia. Takingat bahwa sebagian darah yang ditumpahkan demi kelahirannya dan keringat yang mengucur saat mengurusnya adalah milik perempuan (halaman 194),” Kata Mabel.

Anindita tidak hanya menggambarkan penindasan oleh negara asing, tapi pun negara sendiri. Kedatangan orang-orang berseragam dan bersenjata kiriman negara Indonesia membuat orang Papua dirundung ketakutan karena selalu merasa diawasi. Belum lagi orang-orang berseragam ini kerap membuat aturan-aturan seenaknya dan wajib dituruti seluruh warga jika tidak ingin dihukum. Mace Lisbeth pernah mengalami taruma akibat perlakuan orang-orang berseragam itu.

Begitu pula janji-janji manis negara tentang hidup sejahtera yang disampaikan lewat partai yang penuh bualan, “Orang-orang itu sadarkah, tidak? Justru mereka yang bikin rakyat kecil jadi makin tertindas. Janji-janji saja. Omong kosong. Cih! Kalau benar mereka mau bantu, kenapa harus ada imbalannya?Kenapa pula harus tunggu sampai pilkada selesai? Memangnya mereka pikir perut ini bisa kenyang kalau hanya diisi angin? (halaman 182)” Tegas Mabel.

Namun, Semua pengalaman buruk itu tidak lantas membuat nyali Mabel ciut. Selama masih bernafas, ia akan terus tegar dan melawan penindasan kaumnya.

Novel yang ditulis dengan riset selama dua tahun tentang kehidupan papua ini benar-benar membuat cerita ini kaya data. Novel yang ditulis dengan etnografis ini berhasil membongkar ketimpangan sosial yang terjadi di Papua akibat perkawinan modal asing dan negara. Menariknya, novel ini tidak terasa sebagai tulisan yang mengobarkan kebencian dan provokasi, karena disampaikan lewat bahasa sastra.

Tanah Tabu menjadi semakin menarik lantaran sosok Mabel tidak digambarkan melalui mulutnya sendiri, yang dapat menimbulkan kesan angkuh, tapi melalui tiga narator yang unik, yaitu Pum, anjing tua peliharaan Mabel, Kwee yang juga seekor binatang peliharan, dan Leksi, cucu perempuan kesayangan mabel.

Pum adalah anjing berambut putih yang sudah mendampingi Mabel sejak ia kecil. Kemana pun mabel pergi, termasuk ketika tinggal di rumah keluarga Belanda dan berpindah-pindah tempat dari Mindiptana, Manokwari, hingga Wamena, Pum selalu ada di sampingnya. Mereka takpernah terpisahkan sampai pada ujung usianya. Di masa tuanya sekarang ini, Pum akan banyak mengisahkan ketegaran Mabel dalam menghadapi hidup yang penuh kerikil.
Sementara itu, Kwee juga akan menceritakan kisah mabel dan keluarganya. Tapi, dengan porsi yang tidak sebanyak Pum, karena usianya jauh lebih muda dan belum banyak menyerap pengalaman hidup. Kwee akan lebih banyak membanding-banding dirinya dengan Pum, yang dianggap suka sok menggurui. Sesungguhnya Kwee tidak terlalu nyaman berada dekat-dekat dengan Pum.

Lalu, ada pula Leksi. Usianya tujuh tahun dan baru masuk sekolah. Di usianya yang sudah senja sekarang ini, Leksilah yang menjadi harapan Mabel untuk meneruskan perjuangannya, “Ada saatnya seorang pejuang harus mundur... Tapi, bukan mundur untuk menyerah, melainkan mempersiapkan penggantinya. Aku menaruh harapan besar pada Leksi. Aku tahu ia mewarisi darahku. Darah seorang pejuang (halaman 62).

Untuk dapat meneruskan perjuangannya itu, mabel dan Mace memasukkannya ke sekolah formal, karena bagi Mabel senjata yang paling ampuh untuk melawan penindasan kaumnya bukanlah dengan senjata, melainkan pendidikan,“kalau ada orang yang datang kepadamu dan bilang ia aka membuatmu jadi lebih kaya, bantingkan saja pintu di depan hidungnya, tapi kalau orang itu ia akan membuatmu jadi lebih pintar dan maju, suruh dia masuk. Kita boleh menolak uang karena bisa saja ada setan yang bersembunyi di situ. Namun, hanya orang bodoh yang menolak diberi ilmu cuma-cuma. Ilmu itu jauh lebih berharga daripada uang, nak (halaman 30),” Ucap Mabel suatu hari.

Kesimpulan itu didapat Mabel ketika pernah diadopsi keluarga Belanda yang datang ke tanah kelahirannya. Keluarga inilah yang membuka wawasan Mabel melalui bermacam-macam buku bacaan. Meskipun, ketika Mabel berusia sekitar 14 tahun, keluarga itu terpaksa meninggalkannya karena harus kembali ke negara asalnya.

Tapi, tidak sepenuhnya Mabel menyerahkan pendidikan cucu kesayangannya itu pada pendidikan formal. Sebagai orang Papua, Mabel juga merasa perlu mengajarkan Leksi cara membuat Noken, tas rajut papua yang dibawa dengan cara digantung di atas kepala, “...Sejak jaman nenek moyang dulu, setiap perempuan tanah kita harus bisa membuat noken. Noken yang bagus dan kuat berarti kesuburan dan kemakmuran yang lebih baik bagi suku si perempuan. Sebaliknya, kalau kau tidak bisa membuat noken, itu artinya kau belum dewasa dan belum siap untuk menikah, (halaman 227)” Itulah nasehat Mabel kepada Leksi.

Seperti halnya Pum dan Kwee, Leksi yang memiliki rasa penasaran yang sangat tinggi terhadap hal-hal baru yang ditemuinya, akan menceritakan kehidupannya bersama Mabel dan Mace. Dengan menghadirkan tokoh anak-anak bersama bahasanya yang lugu, Anindita menyelipkan bumbu humor namun tetap kritis, sehingga tidak membuat kening pembaca mengerut ngeri sepanjang cerita.

Simaklah adegan Leksi terheran-heran sekaligus terpukau ketika bertemu seorang pemuda papua berkulit gelap, yang berdandan ala pendatang yang memakai celana pendek, kaos oblong, topi berwarna cerah, serta sepasang sepatu kulit. Pemuda yang dijumpai Leksi di pasar ini menunjukkan sebuah telepon genggam berkamera. Leksi langsung terheran-heran sekaligus terpukau melihat wajahnya ada di sebuah benda kecil yang aneh itu.
Namun, beberapa hari kemudian, ketika Leksi berjumpa dengan pemuda itu untuk kedua kalinya di pasar, ia tampak sangat lusuh dengan pakaian yang sama dengan kali pertama mereka berjumpa. Pemuda itu terbaring di teras sebuah ruko dengan beberapa botol minuman keras berserakan di sampingnya. Saat Leksi menanyakan foto dirinya, si pemuda tidak dapat menunjukkannya karena telepon genggamnya sudah dijual. Ia malah meminta tolong kepada Leksi untuk meminjamkannya uang untuk ongkos pulang ke rumah.

Keputusan Anindita untuk menggunakan tiga narator ini sangat tepat. Karena mereka membuat Tanah Tabu menjadi cerita yang bisa dilihat dari banyak perpektif dan tidak membosankan. Ketiga narator ini mewakili derita tiga generasi perempuan papua. Pum mewakili jaman Mabel, Kwee untuk Mace, dan Leksi untuk generasinya sendiri.


Namun, ada sedikit catatan kecil dalam novel ini, terutama soal karakter Pum. Tokoh anjing tua yang cerdas dan gagah ini mengingatkan saya pada sekelompok hewan ternak yang berusaha menggulingkan kekuasaan manusia di Animal Farm karya George Orwell dan kera ajaib yang jago berfilosofis dalam Ishmael karya Daniel Quinn (mungkinkah karakter dalam novel-novel itu yang menginspirasi lahirnya tokoh Pum?). Tapi, Animal Farm dan Ismael adalah novel yang murni fiksi, sementara Tanah Tabu, meskipun fiksi, ditampilkan sebagai kisah yang bersifat nyata, sehingga menunttut kehadiran tokoh yang nyata pula, termasuk Pum.

Tapi, jika melihat umur Pum yang hampir seusia Mabel, sekitar 50-an tahun, rasanya mustahil. Ini disebabkan perbandingan usia anjing dan manusia yang berbeda. Usia satu tahun seekor anjing sama dengan 16 tahun manusia. Dua tahun anjing sama dengan 24 tahun manusia, sementara tiga tahun anjing sama dengan 30 tahun manusia. Dan, untuk setiap tahun berikutnya ditambahkan 4 tahun usia manusia.

Seekor anjing memiliki harapan hidup 14 tahun usia manusia, meski sebuah riset pernah mencatat ada seekor anjing di Australia yang mencapai usia 29 tahun manusia. Itu pun karena asupan nutrisi yang baik, sementara Pum hidup di perkampungan miskin dengan makanan sehari-hari ala kadarnya. Tapi memang jika keberadaan Pum memang ada, maka ia pantas untuk masuk catatan rekor dunia.

Selain itu, ketika membaca narasi-narasi Pum, anjing ini terasa sangat manusia. Memang, anjing termasuk binatang yang cerdas, bahkan sebuah riset menyatakan bahwa kecerdasan seekor anjing menyamai anak usia dua tahun. Tapi, apakah kemampuan menggambarkan kehidupan yang ideal dan menganalisa pelbagai masalah sosial, seperti kemampuan Pum dalam novel ini, terdapat dalam otak anak berusia dua tahun?

Kecerdasan Pum dan Kwee yang menyamai manusia itu pula yang mungkin membuat cara bertutur mereka hampir sama dengan Leksi, sehingga terkadang membuat saya kebingungan, siapa yang sebenarnya sedang mendapat giliran bercerita. Ini membuat saya harus membalikkan beberapa halaman ke belakang untuk memastikannya.

Meskipun demikian, novel yang memenangi sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta tahun 2008 ini tetap layak untuk di baca, seperti komentar Seno Gumira Ajidarma, Novelis yang juga menjadi juri dalam sayembara ini, Tanah Tabu menarik bukan saja karena menguasaan dan materi penulisan yang baik, maupun komposisinya, tetapi juga urgensi masalah, yang membuatnya sangat penting.

“Di ujung sabar ada perlawanan. Di batas nafsu ada kehancuran. Dan, air mata hanyalah untuk yang lemah.”
Profile Image for e.c.h.a.
509 reviews257 followers
September 17, 2009
*Manggil pake toa* Momo! Mbak mia! Panda! Bunda! Indri! Adhe! Mari kita mulai!! *Gunting pita, bagi2 tumpeng* Dgn ini resmi sy mulai baca barengnya :-)

------------------------------------------

Di ujung sabar ada perlawanan. Di batas nafsu ada kehancuran. Dan air mata hanyalah untuk yang lemah"

Dari manakah Gw harus memulai untuk membagi perasaan di kala membaca buku ini? Jujur gw banyak kehilangan kata saat menbaca buku ini, rangkaian kata-kata yang ditulis Anin sangat Indah. Mengantar secara perlahan ke sebuah Tanah Tabu, di ujung timur Indonesia. Kehidupan penduduk di Tanah Tabu khususnya Kaum Perempuan, yang banyak membuat gw terkejut. Begitukah perempuan diperlakukan di Tanah Tabu? Tidak ada artinya kah Perempuan di Tanah Tabu?

Secara tersirat Anin, mengungkapkan ke permukaan masalah-masalah pelik yang terjadi di Tanah Tabu. Sikap para pendatang, pemerintah serta penduduk aseli melalui pandangan seorang perempuan bernama Mama Anabel yang dipanggil Mabel.Mabel yang mengajarkan tentang kehidupan tanpa terkesan menggurui.

Uniknya, Anin tidak menggunakan sudut pandang Mabel sendiri tetapi melalui sudut pandang Pum, Kwee dan Aku; Leksi. Sehingga kita tanpa disadari mengenal sosok Mabel dalam pandangan mereka masing-masing, yang menilai sosok Mabel dengan cara mereka sendiri.

Dan,pada kita semua, Mable berpesan. "Kita harus tetap kuat...Jangan Menyerah. Terus berjuang demi anak-cucu kita. Mereka harus mendapatkan kehidupan yang lebih baik."
1 review
May 22, 2009
Tanah Tabu:

Membaca Luka, Membaca Perlawanan



Judul : Tanah Tabu

Penulis : Anindita S. Thayf

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tebal : 240 halaman

Cetaka : I, Mei 2009

Harga : Rp. 30.000





Papua

Di cover depan dituliskan bahwa Tanah Tabu merupakan Pemenang Lomba Menulis Novel DKJ 2008. Beberapa tahun terkahir ini DKJ memang rutin menggelar lomba penulisan novel. Salah satu pemenang lomba penulisan novel DKJ yang sempat bikin heboh adalah Saman karya Ayu Utami.

Sebagai novel pemenang lomba—apalagi pemenang pertama dan satu-satunya—tentu saya mengharapkan Tanah Tabu menawarkan sesuatu yang lain bila dibandingkan novel-novel Indonesia yang saat ini bertebaran di toko buku, yang rata-rata mengusung tema seragam: kalau tidak bertema keagamaan-keagamaan biasanya bertema seks. Oleh karena itu, dengan kehadiran Tanah Tabu saya berharap bisa menemukan tema lain.Apakah novel ini menawarkan tema lain itu?

Tanah Tabu berlatar lokasi Papua—sebuah lokasi yang jarang disentuh oleh novel-novel Indonesia . Ada tiga narator dalam novel Tanah Tabu: Pum, Kwee dan Aku. Mereka saling bergantian menceritakan peristiwa-peristiwa yang mereka alami atau pernah dengar. Antara Pum dan Kwee tidak jarang sering bersitegang. Pum yang merasa lebih tua merasa mempuyai hak untuk menasihati Kwee. Sementara Kwee yang lebih muda melihat Pum suka mengatur-ngatur. Tetapi mereka akan bersatu ketika melindungi tokoh Aku. Ke mana pun tokoh Aku pergi, Pum dan Kwee selalu menjaga dan menemani. Pum dan Kwee memang tokoh misterius dalam Tanah Tabu. Penulis novel ini, Anindita, begitu lihai menyembunyikan identitas Pum dan Kwee. Apabila tidak jeli kita akan terkecoh mengenal sosok Pum dan Kwee.

Tanah Papua dalam Tanah Tabu diceritakan sebagai tempat yang mengenaskan. Tanah yang kaya akan emas ini menjadi jarahan kaum pendatang. Penduduk asli hidup miskin dan terbelakang. Kehidupan mereka semakin terpinggirkan dari zaman ke zaman. Ketika mereka ingin menuntut hak, malah dituduh sebagai pemberontak. Melawan kesewenang-wenangan berarti harus berhadapan dengan orang-ornag berseragam dan bersenjata. Ironi-ironi inilah yang diceritakan secara bergantian oleh Pum, Kwee dan Aku dengan gaya mereka sendiri-sendiri, yang kadang lucu, kadang mengharukan.

Kompleksitas tema dalam Tanah Tabu yang meliputi masalah-masalah feminisme, militerisme, pasca kolinial dan politik, mampu ditulis dengan apik oleh Anindita. Terlihat kalau Anindita menguasai teknik penulisan novel dengan baik. Sudut pandang dalam Tanah Tabu memang melompat-lompat, tetapi tetap padu dalam sulaman-sulaman cerita yang utuh. Dengan teknik cerita yang “canggih” ini kita diajak masuk ke dalam suasana tanah Papua yang kadang-kadang magis, ironis, menakutkan dan penuh gejolak, dengan dahi tanpa harus berkurut, dan bisa-bisa justru kita tersenyum kecut. Dongeng lain tentang tanah Papua dalam Tanah Tabu ini memang menarik untuk dibaca.



Mabel: Bukan Perempuan Tangung-Tangung

Sosok Mabel dalam Tanah Tabu cukup sentral. Kwee menggambarkan Mabel sebagai perempuan sebesar gunung yang mampu mematahkan leher orang dewasa. Usia Mabel sudah tua tetapi masih bertenaga. Mabel lahir ketika Belanda datang ke Lembah Baliyem pada tahun 1946. Pasangan keluarga Belanda yang bertindak sebagai pemimpin rombongan kemudian menjadikan Mabel sebagai anak angkat. Mulailah Mabel berkelana mengikuti tuan barunya.

Ikut dengan keluarga Belanda menjadikan Mabel terpelajar. Ia mampu berbahasa Indonesia dan Belanda dengan baik. Ia banyak membaca buku. Walaupun begitu, karena ikut keluarga Belanda yang tidak ingin penduduk pribumi bisa mengenyam pendidikan yang baik di sekolah, Mabel pun dilarang sekolah.

Mabel berpisah dengan tuannya ketika Papua masuk kedalam wilayah Indonesia . Sang tuan harus meninggalkan Papua, kembali ke Belanda. Maka Mabel ditemani Pum harus hidup mandiri. Dari sinilah kehidupan Mabel yang sebenarnya dimulai.

Dua kali Mabel menikah. Suami pertama meninggalkanya setelah terjadi perang suku. Suami keduanya pergi setelah para penambang emas mulai berdatangan. Setelah itu, Mabel hanya hidup ditemani Johanis, anaknya, dan Pum, sahabat karibnya.

Sebagai perempuan yang menjadi tiang keluarga dan ibu, Mabel terus berjuang untuk hidup. Dia hidup dari berlandang dan menjaul hasil kebun. Awalnya, hidup Mabel tanpa ganguan sampai suatu malam ia ditangkap orang-orang berseragam dan bersenjata karena dituduh melindungi kaum pemberontak. Selama beberapa waktu ia disiksa dan diperlakuan tidak manusiawi agar mengakui kesalahan. Sampai akhirnya ia dibebaskan karena tidak terbukti bersalah. Sejak saat inilah Mabel mulai berubah. Ia yang awal-awalnya perempuan “biasa-biasa” saja berubah menjadi perempuan yang kritis terhadap kondisi lingkungannya. Siksaan ternyata justru menempanya menjadi perempuan yang tangguh.

Mabel mengkritisi pertambangan emas yang tidak memperhatikan penduduk pribumi, militer yang sewenang-wenang, para suami yang gemar main pukul terhadap istrinya dan partai politik yang suka obral janji. Dengan caranya sendiri ia bertumbuh sebagai seorang feminis, yang tidak hanya membela kaum perempuan semata, tetapi juga membela orang-orang pribumi yang tertindas. Bisa dikatakan, Mabel-lah sang penjaga Tanah Tabu dari tangan-tangan jahat yang ingin menjarah. Terhadap itu semua Mabel selalu menganjurkan untuk selalu melawan. “Kita harus tetap kuat…Jangan menyerah. Terus berjuang demi anak cucu kita. Mereka harus mendapatkan kehidupan yang lebih baik,” pesan Mabel.

Akankah Mabel mampu melindungi Tanah Tabu?



Antara Etnografi dan Pasca Kolonial

Tanah Tabu bisa dikatagorikan sebagai novel etnografi. Yaitu, sebuah novel yang ditulis oleh seorang penulis tentang “hal lain” yang baik secara goegrafis maupun antropologis berada di luar wilayah si penulis. Dalam biografi disebutkan Anindita dilahirkan di Makassar dan sekarang menetap di Yogyakarta . Dan, ia kemudian menjadikan Papua, sesuatu “hal lain”, sebagai latar lokasi dan tulang punggung novelnya. Maka lahirlah novel etnografi tentang Papua.

Sebagai novel etnografi, Tanah Tabu menarik untuk disimak, bukan saja sebagai karya sastra, tetapi juga sebagai kajian antropogi. Cerita yang terudar di dalamnya memberikan pandangan-pandangan baru tentang tanah Papua. Kisah-kisah yang ada membuat kita lebih memahami tentang Papua yang sampai sekarang terus bergejolak dan mengapa tetap melawan—bahkan ingin memisahkan dari Indonesia ..
Selain itu, Tanah Tabu juga mengudar gagasan pasca kolonial. Pasar dalam Tanah Tabu menghubungkan “dunia pribumi” dengan “dua asing”. Pengaruh-pengaruh pasca kolonial tergambar ketika Aku bertemu dengan seorang pemuda yang membawa hp produk terbaru ,tidak jauh dari pasar—hp sebagai simbol benda asing di kepala Aku yang “pribumi”. Juga di depan pasar ada jalan luas yang menghubungan dengan dunia lain yang hanya bisa dinikmati oleh kaum pendatang: komplek pertambangan emas. Komplek tersebut menampilkan dunia lain yang tidak boleh dimasuki oleh orang-orang “pribumi”. Dari sinilah jejak-jejak kolonial dalam bentuknya yang baru tergambar dengan jelas: dunia “penjajah” yang berbeda dengan dunia “yang dijajah”. Setelah Tentralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer, Tanah Tabu merupakan novel kekinian yang kembali mengangkat tema pascakonial. Tak pelak lagi kalau Tanah Tabu perlu diapresiasi secara lebih luas agar kajian pascakonial dalam karya sastra kembali bergairah.***

endhiq a. pamungkas, alumni fakultas filsafat ugm
Profile Image for Pera.
231 reviews45 followers
May 19, 2009
Tentulah penuh tantangan menulis buku dari sudut pandang seorang anak. Keluguannya, kesederhanaan dan kejujurannya melihat tempat tumbuh kembangnya, seringkali mengingatkan orang dewasa pada hal yang telah dianggapnya sepele. Seting cerita di Papua juga membuatku terbayang eksotisme kehidupan yang jarang kutemukan terungkap dalam novel. Hal inilah yang membuatku tertarik membaca buku ini.

"Di ujung sabar ada perlawanan. di batas nafsu ada kehacuran, dan air mata hanyalah untuk yang lemah"

Sebenarnya cerita novel ini penuh dengan kesuraman. Sesuram warna kulit orang-orang di lembah baliem, papua/irian. Kisahnya pun ditutup dengan kesuraman pula. Namun dengan sudut pandang anak, dan 2 ekor binatang teman setia membuat cerita ini menarik hingga membiusku agar tak melepaskannya sampai usai membacanya dan segera meresensinya.

Novel ini memaparkan keadaan perempuan di ujung timur Indonesia sana. Dimana Perempuan sejak dini diberi mimpi menikah, dan mengabdi pada suami dan keluarga...hanya itu!.
Melalui Mabel, yang sempat berkelana keluar dari kampung halamannya, novel ini seolah menegaskan bahwa kondisi ini ada dimanapun. Tersirat saat Mabel menyatakan keinginannya untuk sekolah kepada orang tua angkatnya, Tuan Piet_ si orang Belanda. Mabel mendapati kenyataan bahwa posisi perempuan tetap saja di persiapkan untuk urusan sumur dapur dan kasur meski di ligkungan paha putih sekalipun.

Novel ini juga bercerita kejamnya kapitalis yang menjadikan papua buruh di tanahnya sendiri. Bercerita tentang militer dan politik yang (dalam novel ini) selalu menyengsarakan dan memiskinkan rakyat. Mabel, menantu dan cucunya yang hidup menyewa rumah di tanah nenek moyangnya sendiri. Untuk sekedar dapat makan ayam, roti atau keju pun bagai meraih cita-cita yang akhirnya tak juga kesampaian.

Kebencian Mabel pada Pertambangan Emas, yang merusak sungai, pohon sagu, dan memabukkan para lelaki mereka, serta Kebencian Mabel terhadap Politisi dari suku asli papua yang justru menjual tanah nenek moyangnya kemudian mengakhiri kisah Mabel dalam penyiksaan. Yang tersisa hanya harapan. Harapan pada sang cucu, si Kecil Leksi. Pesan Mabel, Sekolah lah..dan rubah lah nasib suram negerimu.

Yah..Anak adalah harapan. Hanya harapanlah yang menjadi nyala agar tetap bertahan dalam suramnya hidup.

Entah disengaja atau tidak oleh penulisnya, tapi nyaris tak ada tokoh lelaki yang baik di novel ini. Satu-satunya mungkin hanya Tuan Piet_ si orang Belanda, yang menjadikan Mabel anak piaraan dalam keluarganya. Selebihnya, lelaki disini hanya berperang, mabuk dan memukul istri.
Lelaki yang gagah menaklukkan alam, tapi tak sangup menopang beban keluarganya.

Iseng-iseng aku menghitung umur Pum dan Kwe, si Anjing dan Babi teman setia tokoh cerita ini. Pum menemani Mable sejak usia 11 tahun, sampai punya cucu yang sudah sekolah. Hmm... adakah anjing berusia sampai 20 tahun?.

Yap..Seutuju!. novel ini memang pantas jadi pemenang sayembara novel DKJ 2008.
Profile Image for Helvry Sinaga.
103 reviews31 followers
July 15, 2009
Sebuah Novel yang memperkaya khasanah pengetahuan kita tentang Tanah Papua. Ketamakan akan harta berujung pada kesengsaraan. Namun, kesengsaraan tidak hanya milik yang tamak itu, tetapi juga orang yang ada di sekitarnya.

Berangkat dari studi yang dilakukan oleh Anin selama dua tahun, lahirlah novel yang bertemakan perjuangan akan kejujuran dan melawan kebodohan dan kemiskinan di tanah yang kaya raya alamnya, Papua.

Hadirnya tambang emas, bukan berarti kesejahteraan yang berlimpah. tetapi keserakahan dan kekerasan. Kehidupan masyarakat suku di tanah Papua menjadi tidak lagi seimbang. Para pria yang tadinya berkehidupan di hutan untuk berburu, menjadi beralih profesi menjadi buruh tambang, apa yang terjadi? perubahan kehidupan sosial baik di masyarakat maupun di rumah tangga. kepada siapa lagi dampaknya kalau bukan ke wanita dan anak-anak. Namun, kepribadian yang tangguh, ketulusan hati, kejujuran mampu membebaskan diri "penjajahan" dalam rumah tangga itu.

Mabel, singkatan dari Mama Anabel, seorang wanita yang berkepribadian kuat, memiliki integritas dan kejujuran, ia ingin agar cucunya Leksi, dapat membaca dan menulis. Tidak hanya itu, ia ingin cucunya menjadi orang yang berguna bagi masyarakatnya. Ia tidak ingin kehidpannya yang pedih terulang kembali pada cucu kesayangannya itu.

Perjalanan hidup yang penuh onak duri dan konflik, membuat Mabel matang dalam berpikir dan bertindak. Seringkali ia mendapat musuh atas tindakannya yang menolak segala bentuk tawaran bantuan, ia bisa menilai mana yang busuk, mana yang tulus. Hal itu ia tanamkan pada Leksi, seorang anak suku Dani yang tidak kenal papanya dari kecil.

Bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan, kira-kira seperti itulah isi novel ini. Banyak menceritakan suasana kehidupan masyarakat papua yang mungkin tidak pernah kita dengar sebelumnya. Bisa jadi ini adalah novel pertama tentang papua di Indonesia.

Penceritaannya sangat hebat, menurut saya sangat cerdas, berkelas, dan mampu membawa ke alam Papua serasa kita ada disana.Wajar jika novel ini menjadi juara pertama dalam sayembara Novel 2008.
Profile Image for Ipeh Alena.
543 reviews21 followers
October 17, 2019
Membaca Tanah Tabu, membuat saya merasakan ngilu terhadap perlakuan kasar para lelaki di sana. Memang, tidak semua. Anindita ingin menyuarakan suara-suara yang minoritas. Mengingat dominasi kaum pria karena sistem patriarki yang kuat. Bahkan, ketika tetangga mendengar pilunya pukulan dan suara ambrukan dari rumah sebelah pun sampai tidak berani membela. Karena, akan sama saja nanti hasilnya. Membela kekerasan, sama saja menawarkan malapetaka memasuki rumah. Itulah yang akhirnya harus dialami Mabel ketika bersuara menentang politikus yang blusukan ke pasar-pasar.


“Mereka para perempuan bodoh yang tidak mau berusaha mencari jalan menuju kehidupan yang lebih baik, lahir dan batin. Juga laki-laki sombong yang merasa dirinya lebih berkuasa dan tinggi derajatnya dari perempuan.” ~ Hal 136


https://www.bacaanipeh.web.id/2019/10...
Profile Image for erry.
120 reviews76 followers
May 2, 2010
“Di ujung sabar ada perlawanan. Di batas nafsu ada kehancuran. Dan air mata hanyalah untuk yang lemah” (Anindita S. Thayf – Tanah Tabu)

Penulisan dan penggambaran yang luar biasa tentang papua dan masyarakatnya. seperti diceritakan sendiri oleh orang yang terlahir dan besar di sana. Padahal, berdasarkan info seorang teman, Anindita bahkan sama sekali belum pernah menginjakkan kakinya di tanah papua saat menulis novel ini. ck ck ck..salut.

Hasil sebuah studi literasi dan penelitian yang mendalam? atau jangan-jangan penulis punya kemampuan supranatural yang membuatnya bisa pergi kemanapun, walaupun secara fisik ia tidak beranjak kemana-mana? *mulai ngehayal*

Benar kata pepatah, buku adalah jendela dunia. Dan di zaman sekarang buku dan internet bekerjasama mengantarkan kita ke tempat manapun di dunia. Menyusuri pedalaman manapun di belantara sana. Mempelajari kebudayaan apapun di masyarakat nun jauh di sana. Membawa imajinasi kita pergi melanglang buana. walaupun secara fisik tidak. Jadi kekuatan supranatural yang dikenal nenek moyang kita dulu, saat ini bernama "imajinasi".

Acung banyak jempol untuk novel ini. Untuk deskripsinya yang detail, untuk kisahnya yang orisinil dan baru, untuk penokohan dan karakternya yang kuat, untuk cara penceritaanya yang sempat membuatku terkecoh dan dibuat bingung akan siapakah kwee dan pum itu. Dan yang paling penting dari semua itu, adalah ceritanya itu sendiri. Tanah tabu adalah kisah tentang nasib orang-orang yang menjadi budak di negerinya sendiri. Menjadi miskin di tanahnya sendiri yang kaya raya, terpinggirkan dan terkucilkan. Ketika mereka hanya bisa jadi penonton yang termangu ketika hasil kekayaan alam mereka dijarah habis-habisan oleh pihak asing - yang ironisnya diamini oleh sebagian kecil pribumi penjilat dan haus kekayaan-. sebuah penjajahan jenis baru di negara yang katanya sudah merdeka sejak tahun 1945 ini.

Selain itu, kisah ini juga mengangat issue keperempuanan. Lagi-lagi tentang perempuan. Entah kenapa akhir-akhir ini buku-buku yang kubaca banyak yang bertemakan issue keperempuanan, atau paling tidak terkait ke arah sana. Sampai-sampai ada seorang kawan yang berkomentar bahwa di hampir semua tulisan dan review yang kutulis belakangan ini bernada sentiment “girl power” semua. Ha ha ha. Ada- ada saja. Hi brother, saya bukan seorang feminis, apalagi orang yang feminim. Dan saya tidak suka membaca femina ataupun meminum feminax setiap bulan :P saya adalah saya. Hanya saya. Saya hanya orang yang suka membaca dan sedang belajar untuk menuliskan dan mengemukakan pikiran-pikiran saya sendiri. terlepas dari apakah saya terlahir sebagai seorang perempuan ataupun lelaki. Karena sebuah ide, imajinasi tak bisa dimomopoli oleh satu kaum atau jenis kelamin saja. Dan kalaupun ternyata Tuhan menghendaki saya terlahir sebagai seorang perempuan. Ya sudah, terima saja. Syukuri, jalani, nikmati. Karena kita tidak bisa memilih kapan dan dimana kita akan dilahirkan, termasuk berjenis kelamin apakah kita. Yang bisa kita lakukan adalah berusaha dengan sebaik-baiknya. karena hidup adalah sebuah pilihan. Dan pilihan-pilhanlah yang akan membentuk jalan hidup kita. Karena kitalah yang menentukan dan membelokkan takdir. Karena Tuhan tidak akan pernah merubah nasib seseorang ataupun suatu kaum kalau mereka sendiri tidak mau dan tidak berusaha merubahnya.

Seperti yang saya bilang sebelumnya, kalau kita tidak bisa memilih kapan dan di mana kita lahir serta akan berjenis kelamin apa. Jadi, bukan salah dan kemauan saya kalau saya terlahir sebagai seorang perempuan. Juga bukan salah dan kemauan Annabel, Lisbeth, Mama Helda serta berjuta perempuan lainnya di seluruh dunia. Aku, kami, mereka tidak pernah memilih dan memutuskan untuk jadi perempuan. Kami hanya terlahir sebagai perempuan. Sesuatu yang kami terima tanpa protes. Yah, walaupun terkadang ada beberapa yang mengadu dan marah pada Tuhan karenanya. Bahkan tak jarang yang coba menghindari kenyataan. Tetapi apakah hanya karena kami terlahir sebagai perempuan – dan bukannya laki-laki – kami bisa diperlakukan dengan seenaknya dan semena-mena? Seperti raja dan alas kakinya? Di hampir semua budaya, entah itu Jawa, Papua, Eropa, Timur Tengah, Cina, Jepang dan yang lainnya. Entah kenapa kalau menyangkut issue yang satu ini agak sensi sepertinya. Bisa memacu perdebatan panjang yang tak kunjung usai. Orang boleh bilang kalau jaman sudah maju. Orang boleh berkata kalau kesetaraan itu sudah ada. Tetapi tetap saja, masih ada saja -di entah bagian bumi yang mana - terjadi penindasan dari jenis kelamin yang satu terhadap jenis kelamin lainnya. Seperti juga terjadi penjajahan atas kaum yang satu terhadap kaum yang lainnya. Itulah dunia. Tempat kita tinggal sekarang dan mungkin akan jadi tempat kita mati nanti. Tapi seperti apapun itu, jalani saja dan terus berusaha. Jangan mengeluh apalagi mencucurkan air mata. Seperti petuah Mabel yang bijak “Di ujung sabar ada perlawanan. Di batas nafsu ada kehancuran. Dan air mata hanyalah untuk yang lemah”
Profile Image for Nana.
405 reviews27 followers
June 18, 2016
Apa yaa...

Seakan-akan Penulis mencari jalan aman agar tidak perlu terlalu banyak bercerita seputar permasalahan orang Papua di novel ini dengan menggunakan POV seekor anjing, babi, dan seorang anak kecil sebagai narator. Jadi kayak antara mau ngangkat isu serius, tapi kok penggarapannya setengah-setengah karena apalah yang bisa diceritakan seekor anjing, babi, dan seorang anak kecil kecuali dari pandangan mata dan pengertian mereka masing-masing? Seandainya ada sudut pandang Mabel di sana... Atau biar lebih enak, POV 3 ajalah...

Lalu, mengenai main issue-nya. Sebenernya apa sih yang mau diangkat? Masalah ketimpangan gender? Masalah keterbelakangan masyarakat Papua yang selalu dimanfaatkan pendatang sejak zaman kolonial? Masalah politik (tapi yang mana: pilkada atau pemberontakan?)? Kok ya serakah bener mau diangkat semua padahal bukunya cuma 189 halaman? Eyke jadi pusying bacanya. Apalagi ending-nya. Busettt deh!! Nggak tuntas, nggak jelas.

Hummm...

Untung cover-nya yang edisi baru bagus. Dan ada anggrek hitamnya, sama kayak yang ada di halaman rumah gue.


Profile Image for Nike Andaru.
1,643 reviews111 followers
July 9, 2018
Wah, telat yak baru baca buku ini.
Buku ini hebat. Tentang bagaimana perempuan Papua yang berjuang melawan kebodohan, mencintai dan melindungi tanah air dari para 'penjajah'.

Cerita Mabel, Mace, Mama Helda, Pum, Kwee dan Leksi. Perempuan-perempuan dengan segala cerita kekerasan. Kekerasan dari suami, kekerasan dari orang berseragam, yang menganggap para perempuan itu bodoh.

Sungguh, saya mengharap ending yang menakjubkan, tapi ini terasa gantung begitu. Tapi buku ini tetaplah keren.
Profile Image for Indri Juwono.
Author 2 books307 followers
September 30, 2009
Satu tatanan sosial telah hancur karena pendatang.

Di Papua pun lelaki menjadi raja. Raja keluarga yang dinanti-nanti kelahirannya, begitu diutamakan, dielu-elukan, diharapkan di kemudian hari menjadi pemburu andal, menjadi kebanggaan keluarga.
Dan wanita menjadi pelengkap, dibesarkan dengan harapan tunduk, etika untuk bersikap pasrah, sanggup juga memikul beban keluarga, mimpi masa kecil untuk siap jadi pengantin.

Semua berubah ketika kulit putih datang. Janji2 untuk kehidupan yang lebih baik. Buruan mulai jarang, karena lelaki pindah lahan. Dari hutan ke pertambangan, dan dari memburu binatang menjadi memburu uang..
Dan kemanakah mengalirnya hasil buruan itu? Berubah pula. Tidak lagi untuk anak isteri. Tapi untuk dirinya sendiri. Untuk mabuk dengan pengaruh bawaan kulit putih. Untuk tetap jumawa sebagai laki2..

Apakah hidup wanita berubah?
Tidak ada perubahan disini. Wanita tetap bermimpi jadi pengantin yang cantik, tanpa tahu ada apa dibalik itu. Menghadapi sang raja keluarga dengan bilur2 perih di hati. Tetap harus berjuang untuk anak2nya supaya tetap makan sementara si pemburu kini pulang dengan tangan kosong. Ajaran pasrah yang tak boleh dikeluhkan.
Melayani tanpa bisa berkata kalah.

Dan ia yang terbebas, berusaha menghidupi diri tanpa laki2, karena panggilan untuk membaktikan pada anak lebih besar daripada harus menahan tekanan dibawah pukulan fisik dan sakit hati yang tak tertahankan.

Ia menjadi kuat, lebih kuat karena bangkit dari kekalahan. Dan Mabel, Mace Lisbet dan Leksi, ketiga wanita yang sangat kuat, tabah, dapat menggambarkan perjuangan wanita, mencoba lepas dari bayang2 laki2 yang mereka puja sebagai raja, tapi akhirnya mencampakkannya untuk tenggelam dalam mabuk dunia.

Tapi musuh terbesarmu bukanlah sesuatu yang kau anggap musuh, tapi musuh itu ada dekat sekali denganmu.. Dan saling tuding sebagai pengkhianat...

Profile Image for Irina R..
89 reviews2 followers
August 10, 2023
Another interesting novel from Indonesia. Previously, i have just posted a review on a book on Sumba Island (a neighbouring island of Timor and Flores Island in the East Nusa Tenggara province. This time,this novel brought me to another paradise island which is Papua New Guinea. Same as the previous novel from the Sumba island, this novel also is a feminist novel with the theme of empowering Papua's women through the character of Mabel.

In Perempuan Yang Menangis Kepada Bulan Hitam (literally translated as the woman who cried to the black moon/the local people regard as Wullan Poddu,some kind ethnical ritual where they observe certain pantang larang and perform some rituals),Magi Diela is the heroine of the story and my favourite character. In this novel,an older and much wiser woman named Mabel is the heroine of the story and of course my favourite character!

You could say that both women were awesome in fighting for the rights of women and of course their own rights. Same theme of women's emancipation and empowerment but in different context and issues covered. In Perempuan Yang Menangis Kepada Bulan Hitam,Magi Diela was fighting for her own rights,the right to marry whomever she loves and chooses for herself and the right to achieve her own dreams and career. To do all that,first she must fight against her ethnic traditions of Kahwin Tangkap (kidnapped and forced marriage/Yappa Mawin),she have to fight not only her captor Leba Ali but also against her own family especially her own father who chooses to stand for honouring ethnic traditions and family honour than protecting his own daughter against violence and patriarchal control of a man named Leba Ali

Through this novel, we will see how Mabel,another fearless character like Magi Diela stands up for her own rights and the rights of other Papuan women who were subjugated under patriarchy. Like Magi Diela, Mabel have been through a number of painful past experiences dealing with men which have taught her to be more resilient,self-reliant and stands up for herself and her own family particularly her own daughter in law and cute but very naive grandchild named Leksi. Mabel has seen not only how patriarchy works and destroys women's lives in Papua but also conquest/colonialism (penjajahan) of outsiders the Whites (i.e. the Dutch),how they encroached,steal and exploited (menjarah) Papua's natural bounties (such as the gold as Papua has the biggest/the most gold reserves in Indonesia). She have seen how the local people which consists of various tribes and ethnics fought and killed each other because of the gold and fighting for territories. How even the local sanggup menjadi penjilat kuasa asing demi uang dan kekuasaan walaupun hasil bumi sendiri tergadai.

She has also seen how women suffered being ill-treated and abused by their husbands who were always drunks and beating their wives and children. She has seen poverty. She has seen how the White colonialists treated the natives with double standards,with herself included when she was once adopted by a Dutch family when she was only 8 years old on the pretense of wanting to provide a better life for herself when all they ever wanted was a weaker and inferior subject to show their power and superiority and somebody to exploit. True enough,when she asked her adopted parents to send her to school,they simply refused by giving her excuse that she did not need school as she was already smart for she already knows how to read and write!. On one Christmas day,she witnessed a Papuan woman who tried to commit suicide by jumping from a tree in town. How the Whites simply ignored to try help to stop the woman from jumping and from helping to manage her dead body when she actually jumped to her death!.

Pokoknya,because of all of these things,Mabel became wiser as she knows who can and cannot be trusted. Mabel also choose to live on her own and to live independently,leaving her abusive husband behind and fend for herself. Later on, her daughter in law and granddaughter came to join her as a free and independent woman after her son (her daughter in law's husband) suddenly disappeared. Mabel also taught her naive but cute granddaughter Leksi to also stand up for herself and her own rights and to get education by sending her to school,something she have been deprived of for being a woman (as their patriarchal culture taught that women needs to obey their fathers,their brothers and husbands and must served them at home and doing women's jobs). As Mabel has always been rebellious since young, she decides and chooses her own paths,to do things that she wanted to do without conforming to familial norms and obligations.

In short, this is a very eye-opening story which inspires me and other women on the importance of being independent,self-reliant and to stand up for oneself and not be a damsel in distress. Instead of waiting for some so called knight in shining armour to come for the rescue, we women are capable of rescuing ourselves and protect our own family!. There are a number of deep,memorable and thought-provoking quotes in this short story,especially coming from Mabel,our heroine. I enjoyed reading her fight against injustices especially towards women's and exploitations of the country's bounties. I couldn't help but feeling amused by her granddaughter, Leksi's naughty and rebellious nature along with their loyal but very brave pets (a dog and a pig!). I love reading the dog's pov towards mankind as the dog like Mabel has wisened due to facing tough experiences in the past including near death experiences which almost caused him to become blind in one eye!). The only letdown is that the cliff hanger in the ending which propels me to deduct 1 point from this novel as i am very interested to know what happen to Mabel after she was arrested for being outspoken against the men (i.e. the penjilat yang sanggup menggadaikan negara dan bangsa sendiri demi kesenangan hidup).
Profile Image for Bunga Mawar.
1,356 reviews43 followers
May 23, 2009
Sebuah cerita yang diawali dengan deskripsi kuat.
Sebuah cerita yang dipenuhi dengan narasi dalam.
Sebuah cerita dengan alunan lagu menyayat sepanjang iramanya.
Sebuah cerita yang menghentak hati selama mendengarnya.
Sebuah cerita dengan akhir yang diam-diam tidak berharap kita saksikan.

Tapi percayalah, hidup bisa lebih kejam daripada sekedar membaca fiksi.
Profile Image for Daniel.
1,179 reviews852 followers
June 6, 2020
Aninditya S. Thayf
Tanah Tabu
Gramedia Pustaka Utama
237 halaman
7.2
Profile Image for DuniaFriskaIndah.
86 reviews9 followers
October 9, 2009
Udah baca bukunya dari minggu lalu. Tapi baru disajikan sekarang...
Gpp telat ya..dari pada tidak sama sekali.

Buku dengan cover seorang gadis kecil bertelanjang dada (eh salah) bertelanjang kaki matsudnya sambil tersenyum manis. Awalnya aku berpikir ini anak dari benua Afrika kali ya...eh salah ternyata produk lokal sendiri.

Tanah tabu mengisahkan Mabel seorang wanita yang hidup dengan pemikiran dan kemauan berbeda dengan masyarakat di sekitarnya.
Tatanan kehidupan masyarakat: yang hidup menyewa di tanah airnya sendiri (sedih bangat). Terpuruk dengan perilaku bahwa wanita adalah objek pendirita, Sedih dengan kebiasaan hidup para lelaki yang sangat suka dengan minuman, Bahagia dengan makan ubi-ubian saja, Menikah setelah mendapatkan haid pertama.

Dalam buku ini diceritakan Mabel adalah Nenek dari Leksi yang masa hidupnya penuh dengan cerita perjuangan atas dirinya, keluarganya, sampai ke perjuangan kepada tanah airnya. Menyuruh Leksi dengan keras untuk sekolah, walaupun Leksi belum paham mengapa dia harus sekolah, namun dia mau bersekolah untuk menyenangkan Nenek dan Mamanya.

Kisah hidup mabel juga diceritakan oleh Pengarang dengan meloncat-loncat (tapi tidak mengurangi kebagusan buku ini). Sisi pembicaranya juga melibatkan kwee dan pum yang menemani mereka sekeluarga. Sempat terkecoh karena penulis membuatnya dengan bahasa manusia, tapi maknanya dalam bangat sebagai teguran bahwa binatang saja dapat berpikir dengan cara manusia, tapi tidak dengan orang2 yang merusak Papua.

Ending ceritanya masih sangat gantung, Penasaran dengan nasib Mabel yang telah disiksa dan difitnah abis-abisan oleh orang yang tidak mengharapkan kehadirannya. Sedih bangat karena membayangkan seorang nenek tua harus menerima perlakuan seperti itu lagi.

Tapi setelah membaca buku ini, cakrawala saya tentang kehidupan lain di Papua terbuka. Dan menginginkan adanya lanjutan lagi dari buku ini.
Profile Image for Mery.
Author 40 books218 followers
October 4, 2009
Pertama beli buku ini karena tertarik sama covernya.
Lucu, liatnya polos banget anak itu ^^

tapi ternyata isinya bukan tentang anak kecil papua yang entahlah mungkin tersiksa atau apa...seperti dugaanku


malah justru lebih itu.

dengan 3 PoV, di sini kita bisa tahu bagaimana Pum, Kwee dan Leksi, 3 papua dengan gender dan usia yang berbeda memandang suatu peristiwa.

tapi satu dari semua adalah sama. mereka menceritakan Mabel dan Papua.

di sini penulisnya mengajak kita hidup dalam tanah papua yang tabu. yang hancur oleh bangsa sendiri demi hidup enak dan layak.

di sini juga mengangkat Isue bias gender, di mana laki-laki berkuasa baik di luar maupun di rumah. Wanita cuma dijadikan hiasan. Dipukuli, disiksa tanpa bisa mengalah.

tapi Mabel, wanita kuat, pemberani, dan berpikiran luas, dia memberontak. walau pernah punya nasib seperti itu, Mabel memberontak. bukan hanya dari suaminya, tapi juga dari Tanah milikny yang telah dikuasai oleh anjing2 yang penuh liur lantaran tulang berserakkan untuk mereka jilat...



entah kenapa buku ini mengingatkan aku pada Velutta, Amu, dan Rachel... dari The God of Small thing ^^
Profile Image for Imas.
515 reviews1 follower
July 17, 2020
Novel ini mengingatkan saya justru bukan pada penulisnya tapi pada seorang penulis perempuan lainnya yang lebih terkenal,lebih banyak memperoleh penghargaan, yang lebih saya puja karya-karyanya namun tak saya sangka memiliki pemikiran yang tidak saya puja.

Aku membaca novel ini secara tak sengaja setelah membaca salah satu buku peraih penghargaan di luarnegeri dengan gaya penulisan yang agak mirip namun dengan isi cerita yang berbeda yaitu dengan menceritakan suatu peristiwa dari sudut masing-masing tokoh.

Sebuah Novel tentang Tanah Papua, tertarik karena saat itu saya tinggal di Papua. Bercerita tentang ketamakan,perjuangan melawan kebodohan dan kemiskinan di tanah yang kaya raya alamnya.

Kehadiran tambang emas tidak mendatangkan kesejahteraan kepada pemilik sejati tanah Papua. Bahkan keserakahan dan kekerasan mengikuti dan merusak kehidupan masyarakat suku di tanah Papua. Pria-pria yang dulunya berburu, beralih profesi menjadi buruh tambang. Perubahan kehidupan sosial memberikan dampak terutama kepada wanita dan anak-anak.

Penceritaannya bagus, selayaknya novel ini menjadi juara dalam sayembara Novel 2008.
Profile Image for Sinta Nisfuanna.
1,027 reviews64 followers
April 22, 2011
Bercerita tentang tiga orang perempuan, babi, dan anjing. Mapel, Mace, Leksi dan dua anjing, Kwee dan Pum. Menariknya cara penulis memperkenalkan tokoh manusianya [Mapel, Mace dan Leksi] lewat 'mata' anjing, Pum, dan babi, Kwee. Apalagi cara penulis menunda sebuah kisah masa lalu membuat saya jadi terus merasa penasaran dengan kelanjutan kisah.

Kisahnya menyentil beragam permasalahan politik dan sosial secara tidak langsung dan halus. Saya suka sekali awal cerita tentang kaos kuning berlogo pohon beringin yang digunakan untuk mengepel pipis, cerdas! :P Masalah Patriarki juga diangkat lewat cerita masa lalu Mapel, Mace, dan Mama Helen, sumpah deh... ada rasa ngeri saat membayangkan yang terjadi dalam cerita. Uniknya cerita tidak menjadi berat walaupun mengangkat tema-tema yang berat. Sosok gadis cilik yang lucu, Leksi, anak Mace, mampu menjadi penyeimbang cerita sedih di dalam cerita.
Profile Image for Nenangs.
498 reviews
October 4, 2009
Bagusnya buku ini...udah ngga usah dibilang lagi deh...udah banyak skale yang mbahas, dan saya setuju ju ju ju...banget nget nget nget...
Makanya bintang empat pun sangat pantas, bahkan mungkin lima.

Jadi, apa masalahnya?
Yah...sebetulnya nggak begitu penting sih, cuma ada fakta yang agak mengganggu, dan karena faktanya itu muncul di awal cerita...well...kind of bugging me all the way to the end of the story. :P

Apaan sih?
1. Pum semestinya (hampir) buta warna parsial, ketertarikannya sama warna warni jemuran jadi terasa aneh. Untungnya yang paling disukainya adalah warna kuning. Bagaimana dengan Kwee? Kwee sudah pasti buta warna.

2. Berapa sebenarnya umur Pum & Kwee?

Ah sudahlah...yang diatas itu nggak penting.
A good read is a good read. Period.
Profile Image for Anggun P.W.
270 reviews91 followers
January 2, 2017
Terlalu banyak hal yang ingin diceritakan, sampai akhir dapetnya cuma setengah2. Mau berkisah tentang suku kah?politik kah?penjajah asing kah?semua gantung. kena tanggung deh.
Profile Image for Matchanillaaa.
89 reviews1 follower
December 25, 2024
Novel tentang kritik sosial dengan setting tanah Papua.

Bercerita tentang Leksi seorang anak perempuan yang hidup bersama Mabel (nenek), Mace (ibu) dan hewan peliharaannya bernama Pum dan Kwee. Namun kehidupan mereka dipaksa tegar semenjak tanah Papua dirampas para pendatang.

Bagi keluarga tersebut, tanah Papua adalah tanah tabu, mereka dilahirkan di Papua karena Tuhan tahu mereka mampu untuk menjaga tanah kelahiran mereka.

Melalui tokoh-tokoh di novel ini, pembaca dibawa untuk melihat berbagai isu sosial di tanah Papua, bagaimana tanah Papua di modifikasi menjadi lebih maju namun mengesampingkan kesehatan masyarakat karena dampak pertambangan emas. Akibatnya masyarakat Papua tetap miskin dan menderita. Tanah leluhur yang diklaim sebagai milik negara nyatanya membuat warga lokal semakin tersingkirkan.

Dari tokoh Mabel yang digambarkan sebagai perempuan cerdas, mandiri dan tegar, pembaca diajak untuk melawan budaya patriarki di Papua. Mereka merupakan bentuk perlawanan patriarki dan budaya kebodohan melalui pendidikan.
Namun kehidupan mereka semakin jungkir balik semenjak Mabel tiba-tiba diculik. Berbagai perspektif masyarakat tentang Mabel yang menghilang membuat Mabel semakin keras menyuarakan perlawanan. Mabel berusaha keras melawan oknum-oknum serakah dan setengah mati melawan penindasan kaum laki-laki.

(⁠ ⁠◜⁠‿⁠◝⁠ ⁠)⁠♡

Novel ini bercerita dari sudut pandang orang pertama namun dengan tokoh yang bergantian. Ada tiga tokoh perempuan dari satu garis keturunan dan ada juga sudut pandang dari hewan peliharaan mereka, sehingga pembaca bisa merasakan setiap emosi para tokoh termasuk sudut pandang dari seekor babi dan anjing yang setia pada tuannya.

Novel ini bukan hanya bentuk karya sastra, tapi juga bentuk etnografis yang mengkaji kehidupan dan kebudayaan suatu masyarakat atau etnik.
Profile Image for Widia Kharis.
47 reviews
October 19, 2020
Tanah Tabu memperkenalkan Papua dengan cara yang unik. Melalui kisah Mabel (Mama Anabel), Mace Lisbeth, dan Mama Helda, Tanah Tabu menguak berbagai problematika di tanah surga. Mulai dari ketimpangan gender, perang antarsuku, penjajahan, kemelut politik, dan represi militer.

Permasalahan yang saya rasa cukup berat itu, dituturkan lewat sudut pandang seorang anak perempuan bernama Leksi—putri Mace Lisbeth, cucu Mabel—dan dua ekor hewan piaraannya, Pum seekor anjing, dan Kwee seekor babi. Menarik sekali. Topik yang cukup serius dikisahkan lewat keluguan seorang bocah dan ketidakberdayaan seekor anjing dan babi. Sayangnya, hal ini justru membuat emosi yang terbangun jadi setengah-setengah. Pengalaman Mabel ketika pertama kali keluar dari Suku Dani, misalnya, tidak terasa begitu emosional karena dituturkan ulang oleh seekor anjing. Akan berbeda seandainya pengalaman itu diceritakan langsung melalui sudut pandang Mabel.

Banyaknya permasalahan yang diangkat juga membuat keseluruhan ceritanya jadi tanggung. Apa sih yang mau dibahas? Ketimpangan gender lewat sikap abusif pace-pace terhadap istrinya? Kehadiran para pendatang yang mengeruk kekayaan alam Papua? Perang antarsuku yang menelan banyak korban jiwa? Atau geliat politik yang dianggap oleh Mabel (dan kita semua, saya rasa) sebagai ajang tebar janji semata? Sampai pertengahan, saya masih belum menemukan letak dari inti masalahnya.

Namun, mengingat belum banyak karya sastra yang mengangkat kehidupan orang-orang Papua, Tanah Tabu memang menghawakan udara segar, dan pantas memenangkan sayembara novel DKJ 2008.
Profile Image for Sella   (claudieslibrary).
125 reviews10 followers
February 9, 2021
Pernahkah kalian curhat kepada hewan peliharaan? Maksudnya curhat yang bener2 curhat gitu... kayak “Anabul, aku hari ini sial banget di kantor soalnya pas mau pulang tiba2 bos kasih kerjaan dan aku jadi lembur😭😭” atau “Anabul, apa aku harus beli buku baru atau aku BBB aja?🤔”

Kalaupun iya kita cerita ke anabul, nggak mungkin mereka ngejawab tapi paling gak kita rasa lega aja kaaann.. bisa diliatin mata manjanya dan muka polosnya udah cukup ilangin stress.

Tapi di buku ini semua jadi mungkin! Gimana si anabul itu bisa bicara lohh😯 Si majikan yang tinggalnya di tanah Papua, sebut saja namanya Mabel, Mace dan Leksi adalah Nenek, Mantu dan Cucu yang sepanjang 3 generasi mereka suka curhat sama anabulnya; Pum dan Kwee. Si Anjing dan Si Babi 🐶🐷Jadiiii di buku ini tuh bakalan banyak banget POV-nya Pum dan Kwee. Isinya tentang gimana mereka menceritakan lagi perjalanan hidup dan curhatan majikannya yang penuh masalah dan ketidakadilan di Papua😆😆

Aku suka buku ini karena menurutku halus dan nyelekit secara bersamaan. Halus ya karena kritik tentang melawan partriarki & kesejahteraan Papua disampaikan dengan kalimat yang bijak dan beberapa tuturnya terkesan polos. Tapi nyelekit karena justru yang menceritakan itu dua ekor hewan dan seorang anak kecil, seolah mereka lebih bijak dari sekelilingnya🤭🤭😬

“Tanah kita keramat, Nak. Tabu. Diciptakan Yang Kuasa khusus untuk kita, tahukah kau kenapa? Sebab Dia tahu kita bisa diandalkan untuk menjaganya.” (Hal 74)

Rate : 4⭐️

Fact: buku ini pemenang sayembara novel DKJ 2008🥂 dan sudah diterjemahkan ke bahasa Inggris💫
Profile Image for Dayu.
Author 42 books17 followers
December 31, 2017
Tidak banyak buku fiksi berkonteks Papua yang ditulis dengan penceritaan yang memuaskan, dan ini adalah salah satu yang bisa memenuhi harapan itu. Memuaskan dahaga itu bicara tidak hanya berhenti pada narasi - narasi besar yang diceritakan dalam kisah buku tersebut, tetapi sudut pandang penceritaan yang baik, kisah - kisah mengalir yang tidak terasa dibuat - buat, senyata kisah itu pernah terjadi, karakter tiap tokohnya yang hidup dengan usianya beserta sudut pandang khas yang berbeda - beda tiap tokoh, kesalahan - kesalahan elementer yang mengganggu semisal kurang huruf dst akan sulit ditemui dalam buku ini.

Hanya satu saja pertanyaan yang cukup mengganggu, mengapa dalam cerita ini jika laki - laki itu masih kecil maka ia mau menangnya sendiri saat bermain ?, jika ia remaja beranjak dewasa maka ia akan berakhir di botol - botol minuman di pasar dan konsumtif saja suka beli barang-barang baru ? jika lelaki itu tetanggamu maka ia akan mencelakaimu, dan kalau ia suamimu maka ia akan melepaskan tanggung jawab menjadi suami yang baik ?

Mengapa tidak ada satu lelaki yang tidak senegatif itu (satu saja sudah cukup sih) dalam novel ini ?

Displaying 1 - 30 of 165 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.