Agus Hadi Sudjiwo (lahir di Jember, Jawa Timur, 31 Agustus 1962; umur 47 tahun) atau lebih dikenal dengan nama Sujiwo Tejo adalah seorang budayawan Indonesia. Ia adalah lulusan dari ITB. Sempat menjadi wartawan di harian Kompas selama 8 tahun lalu berubah arah menjadi seorang penulis, pelukis, pemusik dan dalang wayang. Selain itu ia juga sempat menjadi sutradara dan bermain dalam beberapa film seperti Janji Joni dan Detik Terakhir. Selain itu dia juga tampil dalam drama teatrikal KabaretJo yang berarti "Ketawa Bareng Tejo".
Dalam aksinya sebagai dalang, dia suka melanggar berbagai pakem seperti Rahwana dibuatnya jadi baik, Pandawa dibikinnya tidak selalu benar dan sebagainya. Ia seringkali menghindari pola hitam putih dalam pagelarannya.
Saya pernah berteori tentang kelakar, joke, guyonan, atau lelucon itu tak ubahnya sebuah seni yang sangat identik dengan strategi; bisa diskemakan, dipetakan, tetapi pada praktiknya sangat peka terhadap konteks, situasi dan kondisi. Terlambat dalam tempo, atau bila salah tempat, kadar kejenakaannya akan surut semata cerita biasa yang nirtawa.
Begitu saya pernah memperhatikan seorang kawan yang secara teoritik dapat memahami beberapa trik kejenakaan, seperti kejutan layaknya twist pada sebuah cerpen, pemutarbalikan logika, satir atau mentertawakan kepahitan, atau bahkan yang paling sederhana, badutisme dalam kelakar yang paling rendah.
Dalam hal demikian buku yang saya baca dalam semalaman usai menyaksikan Cak Kartolo manggung semalam ini juga terdapat hal serupa. Cak Tejo yang saya tahu adalah seorang dalang, pandai bertutur tapi kejenakaannya banyak surut lantaran praktik kejenakaannya redup dalam caranya bertutur. Dalam hal ini dikarenakan oleh informasi yang membebani caranya menguraikan kelakar.
Meski di sisi tersebut bagi saya banyak mengandaskan harapan serbuan tawa saat membaca buku ini, di sisi yang sama, sebuah lelucon, yang secara teoritik yang saya percayai[1] sebagai keterampilan berpikir di luar kelaziman, merupakan sarana bagi mengenal yang lain dalam ranah pergaulan kita. Saya yang orang jawa peranakan, mendapatkan banyak informasi mengenai sanak kadang saya dari pulau di seberang Surabaya itu.
Buku yang saya temukan karena kebetulan saya mencarikan pesanan seorang kawan ini, banyak bercerita tentang Madura, baik itu kondisi alam, budaya dan sejarahnya. Sentuhan kelakar membuat Madura dengan segala pernak-pernik budayanya sebuah kekayaan tersendiri. Budaya dan cara pandang yang Madura yang "adiluhung" sekaligus dapat ditertawakan[2] dalam sentuhan kelakar menjadi sebuah kenyataan/kebenaran bersahaja[3].
Saya tidak akan berbagi di sini mengenai cerita Cak Tejo tentang karakter-karakter Madura yang digunakan sebagai alat bertutur. Selain saya juga tidak yakin mampu mempraktikan kelakar lewat media tulisan sesuai dengan teori-teori yang saya yakini. Itu semata karena saya yakin, kembali yakin, bahwa hal itu malah akan menjadikan cerita yang bila saya bagi di sini akan membuat anda hilang penasaran akan dialog budaya yang tersampaikan lewat buku ini.
Percayalah, dengan keyakinan saya yang keras kepala ini, membaca buku ini, baik melalui pinjaman ataupun membelinya jika anda mampu[4], akan membuat anda mengenali Madura dengan lebih baik, karena didalamnya saya juga membaca Madura dari tuturan Cak Tejo dari berbagai sumber. Madura yang disajikan Cak Tejo berasal tutur tinular, faktual sejarah dengan centang perenang tokoh di dalamnya, tetapi sekaligus kemudian arif berkata dengan sahaja, "itu saya, itu Madura, itu lah kami, itu lah kita hahahaha" Demikian saya bayangkan Cak Tejo berujar dengan tak lupa menempatkan tawa yang medheni sekaligus ngangeni dalam tuturannya yang kurang lucu dibandingkan Gus Dur yang diaturi seabrek cerita ini, tapi sama sarat informasinya seperti celotehan Gus Dur yang penuh pengetahuan.
Cerita dari seorang dalang yang mengaku sejak tahun 1980-an tinggal di Bandung hingga bisa jadi modal penjarakan dengan dirinya (Maduranya), menghasilkan ramuan bahwa yang faktual sejarah, yang tutur tinular (yang bisa jadi dibebani pesan moral adiluhungisme), ataupun after the fact sebagai hasil rajutan keduanya yang terbangun dari penjarakan itu muaranya adalah warna-warni Madura yang merah, kuning, dan hijau (biru dalam cara pandang setempat).[5] Penuturan Cak Tejo membuat warna-warna itu hadir sebagai sesuatu yang wajar dalam keseharian kita, karena selain kelakarnya juga menjadi bagian kita, warna yang menghiasi pandangan mata itu yang perlu disadari oleh lebih banyak orang. Keragaman warna dan kelakar Madura yang dirajut dari perca-perca keseharian itu adalah kita karena tertawa itu akan semakin absah dan berafaedah bila kita adalah bagian dari yang ditertawai, seperti layaknya kita mentertawai diri sendiri. Bukan liyan yang diobyekkan untuk ditertawakan, yang saya curigai dapat terselip keangkuhan karena melihat "kerendahan/kelemahan" liyan itu.
Seperti pesan yang saya dapat dalam pertunjukan Cak Kartolo semalam , "menjadi Indonesia lewat kesenian", buat saya, buku ini mengajak untuk "menjadi Indonesia lewat kelakar". Kelakar sebagai bagian dari budaya sudah sepantasnya dapat terbangun darinya intercultural joke yang bukan sekadar persoalan salah paham dalam dialog dua budaya, tetapi kelakar yang tersintesa dari dua budaya. Ah saya berandai-andai. cukuplah itu sebuah hening yang saya peroleh dari buku ini. Mari tersenyum, tertawa atau apapun sak karep mu, asal tetap menjadi Indonesia! Iki dudu mekso, cuma anjuran keras kepala hahaha!
Note: [1] Baca: imani. Jadi sangat personal dan tidak boleh didebat karena ini adalah ranah pribadi yang kebetulan saya bagi kepada anda sekalian. [2] Bukan bahan tertawaan. wedi diclurit aku rek :p [3] Terimakasih kepada siapapun telah mengajarkan saya untuk pandai mentertawai diri sendiri. Tertawakanlah diri anda sendiri, sebelum ditertawai dan menertawai orang lain J [4] Saya tidak tahu apa hubungannya ungkapan “jika anda mampu” ini dengan pengantar Cak Tejo diawal buku dan pencantuman gelar haji di sampul buku ini. Terka sendiri saja yah! [5] Simak cerita yang pertentangan antara sumber tutur tinular tentang sikap Ratu Ibu terhadap suaminya Cakraningrat I dan fakta sejarah tentang sikap Cakraningrat I yang menjadi orang dekat Sultan Agung. Termasuk kekaguman yang bersumber dari tutur tinular terhadap Trunajaya yang merupakan cucu Cakraningrat I yang bersama Kraeng Galesong melawan kemapanan Mataram dengan fakta sejarah dari dokumen (yang tidak dicantumkan).
“Kelakar Madura Buat Gus Dur” adalah buku karya Sujiwo Tejo yang pertama kali saya baca. Ketika melihat judul buku ini, saya langsung terpikat untuk membacanya. Gus Dur dan Madura merupakan dua hal yang menarik bagi saya. Apa yang terjadi jika Gus Dur dengan gaya “nyeleneh”-nya dibalut dengan “Madura” yang penuh stereotip itu? Tentu saja jawaban-jawaban atas pertanyaan tersebut akan kita temukan di dalam buku ini.
Buku ini merupakan kumpulan cerita mengenai orang Madura dengan berbagai kepolosan, kejenakaan, dan keunikannya di dalam kehidupan sehari-hari. Cara berperilaku serta gaya pemikiran orang Madura yang “berbeda” menjadi garis besar cerita di dalam buku ini. Para pembaca diajak oleh sang “Dalang” (Sujiwo Tejo) untuk dapat menyelami karakter-karakter orang Madura yang dinilai tampak berbeda dari kebanyakan orang.
Hal yang menarik dari buku ini adalah bagaimana kejenakaan cara berpikir maupun perbuatan orang Madura dapat ditarik garis lurusnya kepada “kejenakaan” dari sosok Gus Dur. Korelasi “kejenakaan” antara Madura dan Gus Dur menjadi menarik untuk selalu disimak. Beberapa istilah maupun kutipan dari bahasa Madura yang disertakan di dalam buku ini pun menambah penjelajahan dan nuansa mengenai Madura bagi para pembacanya. Gaya penulisan yang sederhana dan santai membuat para pembacanya sangat nyaman untuk membaca buku ini. Beberapa kasus peristiwa yang melatarbelakangi beberapa cerita di dalam buku ini juga mengajak para pembacanya untuk berselancar ke masa lalu.
Namun tentu saja tidak ada buku yang sempurna, termasuk buku “Kelakar Madura Buat Gus Dur” ini. Dalam beberapa ceritanya, klimaks terjadi di pertengahan cerita tersebut, yang membuat endingnya terasa hambar. Hal itulah yang menyebabkan keseruan membaca cerita-cerita di dalam buku ini seakan berada di dalam wahana roller coaster, dengan kata lain “naik turun”.
Buku “Kelakar Madura Buat Gus Dur” karya Sujiwo Tejo ini merupakan sebuah karya mengenai cerita jenaka yang tidak hanya menghibur maupun memiliki nilai estetika, namun juga mengandung hal-hal yang dapat dijadikan bahan perenungan bagi para pembacanya. Balutan kisah mengenai gaya berpikir maupun perbuatan orang Madura yang jenaka menjadi bahan “guyonan” yang dapat ditertawakan sekaligus direnungkan oleh semua orang di dalam buku ini. Munculnya Gus Dur sebagai “tokoh lain” yang dihadirkan dalam setiap ceritanya memberi nuansa khas di dalam buku ini. Akhir kata, buku ini menjadi rekomendasi bagi orang-orang yang ingin tertawa melalui sifat-sifat orang Madura sekaligus menghadirkan kenangan dari Gus Dur. Selamat membaca!
Saya telah menunggu begitu lama untuk mendapatkan salinan dari buku milik Presiden Jancukers ini. Terbit di tahun 2002, buku ini adalah merupakan karya Sujiwo Tejo pertama sekaligus mengawali terbitan selanjutnya seperti The Sax, Dalang Edan, dan lain-lain hingga saat ini buku terakhirnya #Talijiwo. Bukan hal yang mudah untuk menggali-gali isi toko buku di Surabaya seperti di Jalan Semarang, ujung-ujungnya tidak ketemu.
Tentu pada umumnya beberapa di antara kita sudah sering membaca karya-karya Mbah Jancuk satu ini. Sebut saja Dalang Galau Ngetwitt, Jiwo J#ncuk, atau seri Lupa Endonesa. Gaya-gaya satir khas "Don Tejo Corleoncuk" ini sudah bisa ditebak arah jalannya. Begitu cukup ilmiahnya, melihat latar belakangnya yang pernah menjadi mahasiswa teknik sipil dan matematika ITB. Begitu cukup berbudayanya, melihat kiprahnya menjadi dalang yang telah digemarinya sejak menderikan karawitan ITB. Begitu cukup kecerdasan spiritualnya, melihat Sujiwo Tejo juga akrab dengan budayawan EMha Ainun Nadjib dan cukup apik dalam melagukan (bukan hanya melafalkan) ayat-ayat Quran.
Sejatinya beliau memang budayawan yang komplit. Namun dari sekian buku yang ia tulis, ada beberapa catatan kecil yang ternyata belum ditemukan dari buku ini. Berhubung ini merupakan karya pertama Sujiwo Tejo, sehingga masih dapat dikatakan prematur. Atau saya pun belum cukup klop dengan isi tulisannya. Bukan sebagai seorang Madura atau eorang Gusdurian, namun di dalamnya ada sejumlah bagian yang saya tidak tahu apakah ini merupakan pandangan beliau melihat Gus Dur sebagai seorang yang humanis atau dari sisi kejenakaannya.
Yang kedua, buku ini belum begitu menunjukkan kekhasan dari seorang Sujiwo Tejo yang belakangan ini tulisannya semakin nyablak, satir sana-sini, dan begitu bernas dalam menggambarkan situasi terkini. Namun ada beberapa kelebihan yang dimiliki buku ini, cukup memberikan ilustrasi yang terjadi ketika awal era reformasi yang diawali oleh pemerintahan Habibie yang kemudian suksesi ke Gus Dur. Selain itu, hubungan yang menarik antara orang Madura yang sulit untuk ditebak kekonyolannya (maaf bukan stereotip) dengan tindak tanduk mereka sehari-hari. Misalkan sejumlah karakter yang ditonjolkan oleh Sujiwo Tejo di bagian-bagian tulisannya dalam buku ini.
Namun, saya merekomendasikan anda untuk membeli buku ini, utamanya para Jancukers yang ingin melihat karakter penulisan Mbah Jancuk kita satu ini dalam membikin karya berupa buku. Hingga akhirnya digemari masyarakat seperti sekarang.
At last... after two month I'm abandoning this book, finally I'm done with it. So, Madurese people has been the "victim" for Indonesian anecdote for so long. So does what this book is talking about. It combines Madurese innocence, logic, and straght forward attitude toward problems, and packing it into a satirical comedic essay with the most iconic President at the time, Gus Dur as the main character. Simply amazing, and read at your own risk!...
Mbah Tejo, sosok yang tepat untuk ngomong soal Gus Dur, Madura, dan kelakar. Logika dan kejenakaan khas Madura digambarkan dengan pas oleh Mbah Tejo sekaligus membicarakan isu-isu yang ramai di era pemerintahan Gus Dur. Karena ini terbitan ulang, jadi di beberapa bagian kurang paham dengan isunya, tapi masih dapat dinikmati.
buku ini sebenarnya bisa menjadi pengantar asyik ke dunia orang Madura: budaya, karakter, dan sejarah mereka. Tejo dalam buku ini banyak menyelipkan hal-hal tersebut. Misalnya, bagaimana orang Madura itu sangat otonom tapi di sisi lain nasionalisme mereka tak boleh diragukan (seperti kaos garis-garis merah-putih khas orang Madura). Lalu, bagaimana pemerintah Hindia dulu tak begitu memerhatikan Madura, sehingga elite Madura ironisnya memperlakukan rakyat mereka lebih buruk daripada rezim Kolonial. Mbah sesekali juga menyinggung konflik etnis antara Madura dan Dayak di Kalimantan, periode kelam sejarah yang membunuh ribuan orang. Kita dengan begitu bisa menjadikan buku ini pijakan awal untuk lebih memahami Madura dan orang-orangnya.