Jump to ratings and reviews
Rate this book

Ilusi Negara Islam: Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia

Rate this book
Gerakan garis keras transnasional di Indonesia terdiri dari kelompok-kelompok di dalam dan di luar institusi pemerintahan/parlemen yang saling mendukung untuk mencapai agenda bersama mereka. Bahaya paling jelas adalah identifikasi Islam dengan ideologi Wahabi/Ikhwanul Muslimin yang sangat ampuh membodohi umat Islam. Mereka menyusup ke bidang-bidang kehidupan bangsa Indonesia, terutama ormas-ormas Islam moderat, institusi pendidikan dan pemerintahan; dan dengan dalih membela dan memperjuangkan Islam, melakukan cultural genocide untuk menguasai Indonesia. Formalisasi agama ( Islam) yang mereka lakukan hanya dalih untuk merebut kekuasaan politik.

Merespon gerakan ini, PP. Muhammadiyah menerbitkan SKPP Nomor 149/Kep/I.0/B/2006 untuk menyelamatkan Persyarikatan dari infiltrasi partai politik seperti PKS. Nahdlatul Ulama juga mengeluarkan fatwa bahwa Khilafah Islamiyah tidak mempunyai rujukan teologis baik di dalam al-Qur’an maupun Hadits. PBNU mengingatkan bahwa ideologi transnasional berpotensi memecah belah bangsa Indonesia dan merusak amaliyah diniyah umat Islam

Ketegangan kelompok moderat dengan gerakan garis keras adalah manifestasi perseteruan al-nafs al-muthmainnah dengan hawa nafsu. Pengetahuan yang terbatas membuat hawa nafsu tidak mampu membedakan antara washîlah (jalan) dari ghâyah (tujuan), dalam memahami Islam pun kerap mempersetankan ayat-ayat lain yang tidak sejalan dengan ideologinya. Hal ini juga mencerminkan hilangnya daya nalar dalam beragama.

Buku hasil penelitian selama lebih dari dua tahun ini mengungkap asal usul, ideologi, dan agenda gerakan garis keras transnasional yang beroperasi di Indonesia, serta rekomendasi membangun gerakan untuk menghadapi dan mengatasinya secara damai dan bertanggung jawab.

322 pages, Paperback

First published April 1, 2009

22 people are currently reading
360 people want to read

About the author

Abdurrahman Wahid

49 books96 followers
Kyai Haji Abdurrahman Wahid, akrab dipanggil Gus Dur lahir di Jombang, Jawa Timur, 4 Agustus 1940 dari pasangan Wahid Hasyim dan Solichah.

Ayah Gus Dur, KH Wahid Hasyim, adalah putra pendiri organisasi terbesar Nahdlatul Ulama (NU), KH Hasyim Asy`ari. Sedangkan ibunya adalah putri pendiri Pesantren Denanyar Jombang, KH Bisri Syamsuri.

Gus Dur menikah dengan Sinta Nuriyah dan dikaruniai empat putri yaitu Alissa Qotrunnada Munawaroh, Zannuba Arifah Chafsoh (Yenni), Annita Hayatunnufus, dan Inayah Wulandari.

Sebagaimana dikutip dari situs resmi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, sejak masa kanak-kanak, Gus Dur mempunyai kegemaran membaca dan rajin memanfaatkan perpustakaan pribadi ayahnya. Selain itu, Gus Dur juga aktif berkunjung ke perpustakaan umum di Jakarta. Pada usia belasan tahun Gus Dur telah akrab dengan berbagai majalah, surat kabar, novel dan buku-buku.

Di samping membaca, Gus Dur dikenal hobi bermain bola, catur dan musik. Bahkan Gus Dur, pernah diminta untuk menjadi komentator sepak bola di televisi. Kegemaran lainnya, yang ikut juga melengkapi hobinya adalah menonton bioskop. Kegemarannya itu mendapat apresiasi yang mendalam di dunia perfilman sehingga pada 1986-1987 diangkat sebagai ketua juri Festival Film Indonesia.

Masa remaja Gus Dur sebagian besar dihabiskan di Yogyakarta dan Tegalrejo. Di dua tempat inilah pengembangan ilmu pengetahuan mulai meningkat. Masa berikutnya, Gus Dur tinggal di Jombang, di pesantren Tambak Beras, sampai kemudian melanjutkan studinya di Mesir.

Sebelum berangkat ke Mesir, pamannya telah melamarkan seorang gadis untuknya yaitu Sinta Nuriyah, putri H Muh. Sakur. Perkawinannya dilaksanakan ketika Gus Dur berada di Mesir.

Sepulang dari pengembaraannya mencari ilmu, Gus Dur kembali ke Jombang dan memilih menjadi guru. Pada tahun 1971, Gus Dur bergabung di Fakultas Ushuludin Universitas Tebu Ireng Jombang.

Tiga tahun kemudian beliau menjadi sekretaris Pesantren Tebu Ireng, dan pada tahun yang sama Gus Dur mulai menjadi penulis. Beliau kembali menekuni bakatnya sebagaii penulis dan kolumnis. Lewat tulisan-tulisan tersebut gagasan pemikiran Gus Dur mulai mendapat perhatian banyak.

Pada 1974, Gus Dur diminta pamannya KH Yusuf Hasyim untuk membantu di Pesantren Tebu Ireng Jombang dengan menjadi sekretaris.

Dari sini Gus Dur mulai sering mendapatkan undangan menjadi nara sumber pada sejumlah forum diskusi keagamaan dan kepesantrenan, baik di dalam maupun luar negeri.

Selanjutnya Gus Dur terlibat dalam kegiatan LSM. Pertama di LP3ES bersama Dawam Rahardjo, Aswab Mahasin dan Adi Sasono dalam proyek pengembangan pesantren, kemudian Gus Dur mendirikan P3M yang dimotori oleh LP3ES.

Pada 1979, Gus Dur pindah ke Jakarta. Mula-mula beliau merintis Pesantren Ciganjur. Sementara pada awal tahun 1980 Gus Dur dipercaya sebagai Wakil Katib Syuriah PBNU.
Kiprahnya di PBNU semakin menanjak hingga akhirnya terpilih secara aklamasi oleh sebuah tim ahl hall wa al-`aqdi yang diketuai KH As`ad Syamsul Arifin untuk menduduki jabatan Ketua Umum PBNU pada muktamar ke-27 di Situbondo, pada 1984.

Jabatan tersebut kembali dikukuhkan pada Muktamar NU ke-28 di pesantren Krapyak Yogyakarta, 1989, dan Muktamar NU di Cipasung Jawa Barat, pada 1994.
Jabatan Ketua Umum PBNU baru ditinggalkannya setelah Gus Dur menjabat Presiden RI keempat pada 20 Oktober 1999.

Guru bangsa, reformis, cendekiawan, pemikir, dan pemimpin politik ini menggantikan BJ Habibie sebagai Presiden RI setelah dipilih MPR hasil Pemilu 1999. Dia menjabat Presiden RI dari 20 Oktober 1999 hingga Sidang Istimewa MPR 2001.

Gus Dur meninggal dunia di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta, Rabu (30 Des 2009) sekitar pukul 18.45 WIB, karena sakit.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
73 (43%)
4 stars
39 (23%)
3 stars
31 (18%)
2 stars
16 (9%)
1 star
9 (5%)
Displaying 1 - 21 of 21 reviews
Profile Image for Sandra Sopian.
123 reviews15 followers
November 20, 2016
Sebetulnya ini adalah hasil penelitian teks dan lapangan. tidak semata ditulis sendiri oleh KH. Abdurahman Wahid, melainkan oleh team yang diketuai oleh beliau, Buya Syafii Maarif dan Gus Mus. isinya menjelaskan tentang temuan di lapangan dengan membandingkan secara komprehensif antara kelompok2 transnasional (asing) yang berusaha untuk mengganti atau merubah ideologi negara Indonesia menjadi Islam.

Diskusi menjadi menarik karena apa yang menjadi fokus dari ideologi transnasional itu merupakan kampanye secara terang-terangan untuk menggunakan ideologi Islam atau khilafah islamiyah. tarohlah kelompok2 yang mempunyai agenda tersebut seperti wahabi, ikhwanul muslimin (pks), dan hizbut tahrir (HTI). tujuannya sama tetapi caranya berbeda. kalo melihat sejarah, semakin jelas terlihat betapa ketiganya terlahir dari rahim yang sama. :)

Untunglah di indonesia terdapat ormas islam besar yang menjadi pengawal dan penajga islam Indonesia. NU dan Muhamadiyah bahu membahu membendung pengaruh dan tantangan dari ketiga kelompok itu.

Sepenuhnya saya sepakat dengan isi buku ini, terlebih epilog dari KH Mustafa Bisri (gusmus), bahwa gerakan khilafah islamiyah ini bukan gerakan keagamaan, tetapi gerakan politik yang mengatasnamakan agama. betapa bahayanya hal itu, mereduksi pesan2 luhur dari agama itu sendiri. dan menjadikan keagungan islam dibatasi oleh sekup ideologi. islam itu agama, bukan ideologi. Oia, tidak ada justifikasi dari al-Quran maupun sunah tentang khilafah islamiyah. karena khilafah islamiyah ini merupakan wilayah ijtihadiyah.

Buku yang bagus untuk menyadarkan umat bahwa ada bahaya laten yang merongrong keutuhan NKRI. :)
Profile Image for Akmal.
Author 6 books139 followers
Read
November 19, 2009
Buku ini secara akademis sangat memalukan. Terlalu banyak hal yang dipaksakan di dalamnya, misalnya menghubung-hubungkan antara Wahabi dengan Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir dan Dewan Da'wah Islamiyah Indonesia (DDII). Setiap orang yang mempelajari secara serius pergerakan Islam internasional pasti tahu bahwa ketiga organisasi ini tidak punya kaitan pemikiran yang khusus dengan gerakan Wahabi.

Setelah buku ini beredar, bahkan orang-orang yang namanya disebut sebagai peneliti di dalamnya pun banyak yang mengeluh, karena hasil kesimpulan penelitian mereka tidak sama dengan yang dimuat di dalamnya. Malah ada yang menegaskan bahwa dirinya tidak pernah terlibat dalam penelitian yang melatarbelakangi penulisan buku ini.

Dari skala 1-5 bintang, saya beri nol.
Profile Image for rati.
52 reviews9 followers
August 12, 2009
Banyak dari kita sampai saat ini masih meremehkan bahaya gerakan Islam radikal, baik aliran Wahabi maupun Ikhwanul Muslimin, meskipun jelas2 telah melihat pengaruh mereka yang semakin besar di masyarakat (pemaksaan penerapan syariat di beberapa daerah dll).
Buku ini memang tidak menyenangkan bagi simpatisan aliran2 di atas, namun perlu dibaca semua kalangan untuk mengingatkan akan betapa berbahayanya mereka.
Membaca buku ini kita akan mengetahui betapa kuatnya jaringan yang telah mereka tanamkan di seluruh lapisan masyarakat, dan memahami, mengapa terorisme tumbuh subur disini: a.l. karena ideologi yang mendukungnya dibiarkan berkembang tanpa hambatan.
Sayangnya tampaknya tidak ada toko buku yang berani menjual buku ini.
Bukti pengaruh mereka yang telah cukup kuat?



Profile Image for Elleonora Tambunan.
48 reviews3 followers
August 29, 2009
I give this book two stars for its terrible editing. I do not care much for the four supposed members of the research team who made a joint statement following the polemics upon the book, saying they were not involved (hence, cannot be held responsible) in the final conclusion of the research. After all, they never said the findings presented in the book were modified (modified is NOT the same with manipulated).

Having read numerous writings (particularly, in Multiply) on Islamic fundamentalist movement, written by those engaging the movement, I dare say at least 80% of the book content does reflect the actual situation in Indonesia.
Profile Image for Anjar Priandoyo.
312 reviews16 followers
September 30, 2018
I understand why everybody hates this book, at least it comes for three reasons: 1) this book is too short. 2) it biased. 3) its a provocation.

This book is too short. The total page is around 178 pages (from Ch 1 to conclusion), however, if excluded the narrative of global history, its only less than 108 pages (from Ch 3 to conclusion). The issue is super sensitive and controversial, and anyone that wants to write this topic needs to be very careful. This kind of book should be written at least around 300-600 pages.

This book is biased, it has a tendency to give accusation. The best way is that this book should be written by a more neutral researcher, either pure academic (e.g university) or pure social researcher that has no affiliation with certain religious movement. Publishing this book from a religious supporter is totally wrong.

The cover, the title, the introduction is wrong. Its also published in the wrong timing. I don't see any urgency to publish this book. From scientific approach certain basic writing need to be adjusted to avoid the bias. However, from an ordinary reader perspective (which I believe the reason for this book is published is not entirely for academic purpose), this book needs a lot of modification.
Profile Image for Agung Wicaksono.
1,089 reviews17 followers
August 31, 2019
Meskipun buku ini diterbitkan pada 2009 silam, ternyata masih bersesuaian dengan kejadian sekarang. Di sini, dijelaskan bagaimana masuknya ajaran-ajaran Islam radikal yang berniat mengubah Indonesia menjadi negara Islam.

Selain itu, studi kasus juga membuktikan bahwa gerakan Islam garis keras memang sudah kita bisa lihat efek-efeknya. Dari sweeping dengan dalih membersihkan maksiat dengan cara kekerasan sampai lewat gerakan politik dan organisasi-organisasi yang diakui negara.
Profile Image for Theresia.
Author 2 books20 followers
September 22, 2009
I guess this is the counter-Wahabi, the answer for the Wahabi movement that has been growing vastly in Indonesia. I neither am fond of liberal or fundamentalist Islam, but it's good to see people debating by using brain (therefore books), for once, not with mosque microphones or fists.
Profile Image for nadiyah.
8 reviews
June 13, 2022
Beberapa dari kita tumbuh dan percaya bahwa setiap individu memiliki kecepatan dan liku perjalanannya sendiri, termasuk dalam hal spiritual.

The Illusion of an Islamic State (berdasarkan analisis ilmiah) mengembalikan pemahaman dan keyakinanku sebagai seorang muslim dari lahir, tentang mana yang seharusnya dan mana yang tidak seharusnya di tengah riuhnya "kanan/kiri?" atau "utara/selatan/timur/barat?".

Lebih dari itu, ia memberikan gambaran konkret permasalahan mayor-minor, serta betapa (masih) mahal dan mewahnya harga toleransi di negeri yang katanya "berbeda-beda tapi tetap satu jua".
Profile Image for Nayla.
15 reviews
April 28, 2020
Semua orang punya translasi yang berbeda pada sebuah teks apalgi buku.. buat saya buku ini masih sgt relevan dgn kondisi masa kini.. sangat sangat relevan dengan apa yang saya lihat dan alami.. polemik politik tahun lalu, lingkungan organisasi dakwah yang saya ikuti di kampus.. persis seperti penjabaran buku ini.. memang beberapa kondisi sudah jauh berbeda, but this all still lead to the same things..
Profile Image for Afif Fauzi.
20 reviews1 follower
December 16, 2023
Membacanya di tahun 2023 dan masih cukup relevan dengan banyak peristiwa dari penerbitan sampai sekarang. Mulai dari manuver munculnya ISIS, FPI di pilgub DKI, pembubaran HTI, dkk.
Buku yang bagus dari segi pengumpulan data, tapi buruk di sisi penarikan kesimpulan
Profile Image for Mutia Fauzia.
13 reviews6 followers
Read
November 20, 2016
Saya berhenti membaca buku ini di Bab II, dan entahlah, apakah akan dilanjutkan kembali. Namun yang jelas, saya rasa pandangan mengenai Islam, entah garis keras atau moderat digambarkan dengan cukup jelas dalam buku ini. Walaupun agenda dari buku ini sangatlah gamblang, menentang adanya infiltrasi baik secara fisik atau pun ideologi aliran keras di Indonesia, namun bisa dibilang buku ini juga mengandung ambiguitas yang saya rasa kurang pantas untuk diperbincangkan atau diulas dalam sebuah buku. Wacana-wacana yang bersifat politis tentu tercium kuat dalam buku ini, meski saya akui, buku ini cukup berani membicarakan isu sensitif nan pelik yang tak kunjung berhenti mengguncang bangsa kita ini. Ah, seandainya beberapa kesalahan redaksional yang bisa dibilang cukup merusak esensi dapat dibenahi, mungkin saya akan merekomendasikan buku Ilusi Negara Islam ini.
1 review
January 18, 2010
Buku ini sebenarnya agak cacat. Karena ada beberapa peneliti yang namanya dicatut sementara mereka telah mengundurkan diri dari pembuatan buku ini. Selain itu, kelamahan buku ini juga ada pada referensi yang kebanyakan berasal dari internet, dan bukan thesis/jurnal/karya-karya ilmiah lain.

Meskipun begitu, buku ini paling tidak telah memberikan sinyal informasi bahwa gerakan Islam transnasional telah merebak di Indonesia.
Profile Image for  Δx Δp ≥ ½ ħ .
389 reviews159 followers
March 15, 2022
Negara Islam, kata yang membangkitkan harapan bagi satu pihak, dan (mungkin) menjadi ancaman bagi pihak lain.

Tak ada istilah dan sistem kenegaraan yang menimbulkan efek berlawanan sekuat kata ini. Di satu sisi dianggap sebagai awal kebangkitan, di sisi lain dianggap sebagai sumber ketakutan

(Ripiyu lengkap terlalu panjang buat ditampilkan di sini, liat ajah blog saya buat lengkapnya :))
Profile Image for Puji Lestari.
88 reviews21 followers
January 24, 2013
So poor!!!
Mengkambinghitamkan golongan lain sekaligus mengklaim golongan sendiri paling benar. Karya yang tidak bermutu.
1 review3 followers
January 8, 2016
sayang banget kebanyakan generalisasi. tapi secara eksperiensial saya setuju
Profile Image for Willy Akhdes.
Author 1 book17 followers
April 19, 2017
Buku ini termasuk salah satu buku kontroversial. Saya paham mengapa banyak orang dan kalangan tertentu yang antipasti terhadap buku ini. Fakta-fakta yang diungkap, dari hasil penelitian panjang beberapa peneliti, dianggap terlalu gamblang dan menelanjangi kelompok-kelompok tertentu. Dan, masyarakat kita sepertinya belum siap (tak akan pernah siap?) menerima suatu fakta yang membongkar keyakinannya. Bagi saya, pemikiran-pemikiran dalam buku ini penting untuk disebarkan dan diketahui secara luas guna menangkal paham-paham radikal kelompok fundamentalis yang semakin menjamur di negara ini.
Profile Image for Andry donath.
3 reviews1 follower
May 2, 2017
Wajib dibaca bagi mereka yang punya perhatian khusus dengan kondisi keagamaan di Indonesia,khususnya perkembangan radikalisme agama
Displaying 1 - 21 of 21 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.