Riva tertarik pada sifat teman kuliahnya, anak baru bernama Elsa. Kontras dengan Riva yang suka bergaul dan punya banyak teman, Elsa punya sifat tertutup, dan hampir dibilang nggak pernah bergaul dengan teman-teman di Universitas Pratista. Kegiatan sehari-hari cewek tinggi berkacamata dan berambut lurus panjang ini di kampus selain belajar adalah menyendiri, sambil membaca novel-novel impor favoritnya. Tapi bagi Riva, sifat Elsa yang tertutup itulah yang menarik perhatiannya. Riva merasa Elsa menyimpan misteri, dan ia tertarik untuk mengungkap misteri itu.
Walau awalnya susah, Riva akhirnya berhasil mendekati Elsa, bahkan mengajaknya menjadi panitia acara Broadcast Weekend. Tapi gawat! Ternyata nggak cuma Riva yang tertarik pada Elsa, tapi juga Arga, sang ketua HIMAKOM yang udah lama ditaksir Riva. Dan kelihatannya Elsa juga seneng sama Arga.
Riva jadi pusing. Makin pusing lagi melihat Elsa yang jarang masuk, dan tambah pusing dengan kedatangan Saka, sepupunya yang merupakan anggota Interpol. Saka langsung mencurigai Elsa sebagai pembunuh bayaran internasional yang sedang dicari Interpol di seluruh dunia.
Tentu aja Riva nggak percaya pada tuduhan Saka. Nggak mungkin Elsa yang kalem dan lembut itu seorang pembunuh bayaran. Kenapa nggak cari orang lain aja sih buat dituduh?
Tanpa sadar, Riva terjebak dalam sebuah konflik dan konspirasi besar yang telah berlangsung selama lebih dari sepuluh tahun. Konflik yang melahirkan Mawar Merah, mesin pembunuh yang paling dicari di seluruh dunia.
Namaku unik, terdiri atas: Luna, dan Torashyngu. Tentunya itu bukan nama asliku. nama asliku adalah (hee..hee..hee.. masih rahasia. tebak sendiri yaa...) Dalam bahasa Spanyol, Luna berarti "bulan". Sedang Torashyngu,walau kayak nama Jepang, aq produk lokal loh. Aq pilih nama Torashyngu gw doyan banget segala hal berbau Jepang, dari mulai masakan Jepang, musik, hingga dorama. Penyanyi favoritku Ayumi Hamasaki, BoA, dan sedikit Laruku. Sedang film Jepang kesukaanku : YOMIGAERI (bagi penggemar J-movie wajib nonton nih film. Ceritanya bagus banget! Touching dan romantis!), sedang dorama banyak yang aq suka, tapi paling terkesan waktu nonton LOVE GENERATION-nya Takuya Kimura dan Takako Matsu. Ceritanya berupa cerita cinta sederhana, tapi bagus banget. Beberapa ceritaku bahkan terinspirasi dari J-Movie dan dorama yang pernah aq tonton, walau aq gak bakal jiplak abis-abisan, gak kayak sinetron kita yang doyan banget ngejiplak punya orang (Udah gitu gak mau ngaku lagi...)
Teenlit ini bukan bacaan ringan. Aku memberi 5 bintang karena aku memang doyan dengan bacaan yang menguras otak (?). Dan ini sinopsisnya ->
Riva tertarik pada sifat teman kuliahnya, anak baru bernama Elsa. Kontras dengan Riva yang suka bergaul dan punya banyak teman, Elsa punya sifat tertutup, dan hampir dibilang nggak pernah bergaul dengan teman-teman di Universitas Pratista. Kegiatan sehari-hari cewek tinggi berkacamata dan berambut lurus panjang ini di kampus selain belajar adalah menyendiri, sambil membaca novel-novel impor favoritnya. Tapi bagi Riva, sifat Elsa yang tertutup itulah yang menarik perhatiannya. Riva merasa Elsa menyimpan misteri, dan ia tertarik untuk mengungkap misteri itu.
Walau awalnya susah, Riva akhirnya berhasil mendekati Elsa, bahkan mengajaknya menjadi panitia acara Broadcast Weekend. Tapi gawat! Ternyata nggak cuma Riva yang tertarik pada Elsa, tapi juga Arga, sang ketua HIMAKOM yang udah lama ditaksir Riva. Dan kelihatannya Elsa juga seneng sama Arga.
Riva jadi pusing. Makin pusing lagi melihat Elsa yang jarang masuk, dan tambah pusing dengan kedatangan Saka, sepupunya yang merupakan anggota Interpol. Saka langsung mencurigai Elsa sebagai pembunuh bayaran internasional yang sedang dicari Interpol di seluruh dunia.
Tentu aja Riva nggak percaya pada tuduhan Saka. Nggak mungkin Elsa yang kalem dan lembut itu seorang pembunuh bayaran. Kenapa nggak cari orang lain aja sih buat dituduh?
Tanpa sadar, Riva terjebak dalam sebuah konflik dan konspirasi besar yang telah berlangsung selama lebih dari sepuluh tahun. Konflik yang melahirkan Mawar Merah, mesin pembunuh yang paling dicari di seluruh dunia.
Di sini kelihatan Elsa lebih berperan, tetapi di Mawar Merah: Metamorfosis, Riva yang lebih berperan. Jadinya aku sedikit kecewa, karena sudah terlalu mendalami karakter Elsa.
Sebagai pengarang muda di Indonesia, menurutku Luna sudah lebih dari cukup untuk bisa menggambarkan situasi ceritanya (seperti film-film action).
Di bawah ekspektasi tapi lumayan, masih tetep kepingin lanjut ke buku selanjutnya, wkwk.
Aku suka banget sama action-nya. Untuk ukuran teenlit, action di cerita ini intense banget. Untuk ukuran teenlit lho ya. Terus aku juga suka sama Saka,wkwk. Apa dia bakalan ada sesuatu sama Elsa? Aku lebih suka Saka sih ketimbang Arga, wkwk.
Sayangnya, semua tokohnya enggak berkarakter. Elsa sama Riva tuh mungkin bisa disebut unik tapi enggak tersampaikan dengan baik. Kayak datar aja mereka ini. Aku bahkan nggak bisa peduli sama mereka. Juga ada beberapa plot hole. Contohnya,gimana caranya nyulik presiden Amerika padahal penjagaan ketat kayak gtu? Gmana DM bisa nyusup2 ke gedung? Terus dalang dibalik semuanya juga enggak tersampaikan dengan baik. Aku nggak tahu apa ini mau bkin twist, fapi kupikir bukan sih, tapi misteri itu biasanya dikasih clue gtu kan, ini mah muncul tiba2, wkw.
Aku juga nggak terlalu suka sama writing style nya sih di beberapa bagian.
Tapi overall aku tetep suka dan Insya Allah lanjut buku slanjutnya.
Secara umum penceritaannya lumayan baik, meski ada sejumlah bagian yang dibuat terlalu berlebihan. Namun, hal tersebut bisa dimaklumi sebab buku ini target pembacanya adalah remaja.
Ini novel pertama kak Luna di tahun 2018 yang kubaca. Terakhir kali itu sekitar 4/5 tahun yang lalu. Nemu ini di ijak, rindu juga baca karangannya kak Luna, akhirnya kubaca novel ini.
Aku selalu suka tema yang diambil kak Luna. Gabungan teenfiction, misteri dan action. Setelah membaca D'Angel series, aku mungkin nggak akan pernah merasakan cerita dengan genre seperti ini.
Perpaduan antara persahabatan, keluarga, dan balas dendam. Penceritaan yang ringan jadi mudah dipahami. Akan tetapi, saat adegan action aku sempat menyerngitkan dahi untuk beberapa detik, karena masih sulit membayangkannya, lol. Jika kamu suka dengan cerita crime, action dengan bahasa yang ringan, kurasa novel ini cocok untukmu.
Jauh di luar ekspektasi. Premisnya keren, saya tertarik baca karena temanya pembunuh bayaran, buronan FBI. Tapi yang berat cuma premisnya doang. Isinya...meh. banyak hal2 yg sy tanyakan, out of logic, ga jelas, di sini FBI CIA SS dan sebangsanya kok keliatan ga guna bgt wkwk. Yang paling bikin kesel: nyulik presiden Amerika dari lantai 40 penthouse dan entah dibawa ke mana sementara si hotel dijaga banyak pasukan. Dan ga ada penjelasan pula gimana Mawar Merah ngelakuinnya. Yah, untuk ukuran teenlit boleh lah, yang penting banyak aksi ya, plotnya juga menarik, sayang aja banyak hal-hal di luar nalar. Sekalian aja dibikin novel YA/misteri/thriller atau apa pun tolong biar lebih nendang😭
sekali lagi, gw terhanyut kedalam cerita yg Luna bikin..it's amazing! jarang2 gw bisa terhanyut dalam membaca sebuah teenlit. tapi teenlit karya2 Luna ini beda, it's suitable for everyone who loves to read. very worth to read!
Pertama baca buku ini waktu SMP. Walaupun ga inget keseluruhan ceritanya tentang apa, tp saya inget kalo saya suka buku ini. Karena ceritanya ga kaya teenlit yg cinta cintaan itu. Hampir 10 tahun kemudian ketemu lg sama buku ini, excited banget untuk baca karena judul dan pengarangnya keinget terus. Ternyata ekspektasi saya terlalu tinggi. Walaupun ga kecewa banget, tp ada beberapa part yg saya kurang suka. Terutama obrolan-obrola klise Riva dan kawan-kawannya. Bikin merinding 😂 mungkin karena usia juga jadi seleranya berubah. Tapi saya suka bagian action di kapalnya Keisp. Lumayan bikin degdegan. Dan pasti akan baca kelanjutannya karena saya gasuka ending yg gantung
Maksud hati pengen berkenalan dengan Luna Torashygu yang tulisannya lumayan banyak bertebaran di toko buku, namun sayangnya saya salah memilih buku.
Mawar Merah berkisah tentang Rachel Watson alias Mawar Merah, seorang pembunuh bayaran yang sedang dicari-cari oleh agen FBI. Untuk menutupi identitasnya, Rachel menyamar menjadi seorang mahasiswa bernama Elsa yang kuliah di Universitas Prastiti Bandung. Kebetulan Rachel memang memiliki darah Indonesia dari ibunya. Dan dia menjadi pembunuh bayaran karena ingin mengetahui dalang dalam kematian ayahnya yang seorang senator itu. Lalu berhasilkan Elsa membalas dendam atas kematian ayahnya?
Ide tentang seorang pembunuh bayaran perempuan berusia muda memang bukan hal yang umum bagi sebuah genre teenlit. Mungkin Luna berniat memberikan warna baru bagi dalam tulisan-tulisannya, namun sayangnya bagi saya tulisannya kali ini benar-benar gagal dan jauh dari realita. Apalagi jika orang yang membacanya sudah terbiasa dengan novel sejenis yang dituliskan dengan lebih apik (Shidney Sheldon misalnya), maka membaca novel ini akan membuatnya frustasi.
Anyway, nice try buat Luna. Semoga saya bisa mendapat kesan yang lebih baik di bukunya yang lain.
Setelah menyelesaikan 3 seri D-Angel, saya jadi tertarik untuk membaca cerita action kembali. Tapi ya memang untuk cerita ini entah kenapa seperti ada yang kurang ya.
Intinya hanya balas dendam seorang cewek yang keluarganya dibunuh. Rachel yang mempunyai nama samaran berupa Elsa ini hanya mahasiswi biasa. Dikenal oleh teman2 nya sebagai cewek yang pendiam, kutu buku dan suka menyendiri. Riva yang penasaran dengan cewek tersebut berusaha mendekati dan mengajak dia berteman. Yang gk disangka2 Elsa ini adalah pembunuh bayaran yang selama ini dicari2 oleh Interpol.
Elsa menjadi pembunuh bayaran pun bisa dibilang terpaksa ya, ya itu karena dia mau cari siapa pembunuh ayahnya dan mau balas dendam.
Lambat laun penyamaran Elsa ini terbongkar oleh Raka yang adalah sepupu Riva. Awal mulanya Riva gk percaya. Ya iyalah mana mungkin sih anak pendiem gitu gk taunya pembunuh bayaran internasional. Ya tapi bisa dibilang justru yang pendiam itulah yang berbahaya.
Sebenarnya agak terganggu dengan tokoh si Riva ini yang kalau dibaca dari sinopsisnya adalah tokoh utama. Padahal jauh dari itu. Lebih ke sebelnya aja sama si Riva ini, entah kenapa lah.
Bukannya saya berlebihan, tapi novel teenlit telah menjadi kawan saya sejak awal saya suka membaca. Salah satu novel yang cukup berpengaruh dalam kebiasaan membaca saya adalah novel karangan Luna Torashyngu ini. Kapan lagi kita bisa membaca tentang kisah seorang pembunuh bayaran di genre remaja?
Awal mula membaca ulang novel ini adalah untuk menyegarkan ingat dan saya sedang malas membaca novel yang berat. Alhasil, saya pun memutuskan untuk membaca buku pertama dari serial Mawar Merah ini.
Seperti biasa, Luna Torashyngu berhasil menyajikan cerita yang sangat runut. Meskipun kadang merasa kalau kehidupan Elsa yang ganda itu terasa tumpang-tindih, tidak mengurangi kekhasan thriller Luna Torashyngu. Good job!
"Kenapa kita harus selalu memaksakan sesuatu yang sebetulnya nggak bisa kita dapatkan?"
This is the second time I read this book, which makes me remember my junior high school days. From the first time I read the Mawar Merah and D'Angel series, I knew I had fallen in love with this author who uses a unique name.
This book tells the story of Rachel Watson, who is actually a hitman by the name of Mawar Merah. The reason she became an assassin was to avenge the death of her senator father. To cover her identity, Rachel disguised herself as a student named Elsa, who attended Prastiti University with a closed personality, where she met Riva, who gave color to her teenage life.
I like Luna's writing because she always manages to develop each book's character development. The funny thing is that even though each series has different differences in the Luna universe, most protagonists have similarities such as naming themselves when talking to others. In addition, each character has a mystery behind them that makes us sometimes remember that everyone, with all their cruelty and annoyance, still has goodness in them.
From the synopsis, this book focuses on Riva, an ordinary girl who will later become a friend of Elsa, aka Rachel. Although for the size of thrillers and action adults, this book needs to be more detailed. But because it is teen-lit. I try to make myself, as a 17-year-old girl, able to like every detail so that it is imagined in my brain. Usually, I can make the sequence of images into a movie, but this time, I see it still as an imaginative novel, which is another level of experience of reading. Especially if you remember, I read this book for the first time at 15.
This book has plot holes that shouldn't be ruled out. I wondered how Elsa came to know The Sun and how long she was taught (well, maybe it will be revealed in the next book). The FBI, CIA, and SS scenes are never shown. They only tend to focus on Interpol but don't show any form of investigation that ends up in a plot twist. Plus, the kidnapping scene of Uncle Ian being the president of the United States doesn't make sense with so many SS on guard, especially since there's a scene where the president says, there's nothing here. Well, his wife must have heard that, right, and the SS are about to spring into action. However, since this is teenlit, many things have to be simplified not to be boring, and I can still enjoy it.
Mawar Merah Mosaik memiliki beberapa karakter utama yaitu Elsa, Riva, dan Saka. Namun disamping itu ada beberapa karakter yang memberikan bumbu tambahan yaitu Arga. Sosok Arga ini membuat cerita menjadi sedikit romantis—hanya sedikit tidak banyak karena novel ini akan berkutat pada masalah pembunuhan yang disebabkan oleh prihal politik pada jaman itu.
Masalah politik selalu saja membuat pertumpahan darah pada jaman Elsa kecil. Ayahnya terbunuh akibat masalah politik, berhubung pada saat itu sedang ada desa-desu suap-menyuap untuk mengesahkan peraturan RUU menjadi UU. Ayah Elsa menolak tegas untuk menerima suapan itu, alhasil ayah Elsa terpaksa harus disingkirkan dengan cara dibunuh.
Setelah kejadian itu. Elsa memilih masuk kedalam organisasi pembunuh bayaran dan mencari orang yang merupakan dalang dibalik kematian ayah Elsa. Sudah banyak tersangka yang Elsa datangi dan bahkan ada yang dibunuhnya karena gadis itu menemukan bukti bahwa dia yang membunuh ayahnya.
Aku tidak kasih detil, karena itu akan mengurangi ketegangan ketika kalian membacanya nanti. Secara pribadi sangat tegang ketika membacanya ditambah munculnya rasa ingin tahu hingga selesai bagaimana usaha Elsa untuk membalas dendam tentunya. Mengenai alurnya sangat menarik. Tidak membosankan. Alurnya begitu stabil, sangat mudah dan ringan untuk diikuti pembaca dari kalangan manapun. Aku sendiri mudah mencerna alur ceritanya, ya meskipun pada bagian politik aku tidak 100% memahaminya.
Gaya penulisannya menggunakan sudut pandang narasi. Aku sendiri sangat penasaran bagaimana kalau cerita ini dibuat dengan POV karakter masing-masing, pasti akan lebih menegangkan dan lebih seru. Para pembaca juga akan dapat mengetahui ketegangan karakter di setiap scene cerita. Tapi POV narasi juga sudah membuat aku menjadi tegang setengah mati. Tidak akan menututup novel ini kalau belum ending.
Garis besar, karakter yang berkontribusi pada novel ini adalah Elsa atau Rachel yang merupakan pemeran utama, Saka dan Riva. Aku menebak pada serial Mawar Merah Rachel akan menjadi patner dari Saka atau mungkin akan menjadi pasangan pada serial ini.
Jadi begini... dulu.. saya salah satu remaja yang hari-harinya dihabiskan bersama buku-buku jenis teenlit. Salah satu dari mereka yang tak sabar menunggu malam minggu karna itu artinya tak perlu repot-repot tidur karna besok tak ada sekolah, jadi bisa pinjam buku sebanyak-banyaknya dan habiskan waktu sama novel dan komik pujaan (meski nggak pernah janji nggak sentuh fiksi selama hari sekolah juga, sih). Intinya, saya ingat ketemu buku ini diakhir tahun-tahun sekolah itu, dan entah bagaimana takdir mempertemukan kami kembali saat ini. Saya nggak pernah sempat baca buku ini, masa itu. Tapi saya ingat benar kalau Luna Torashyngu adalah salah satu penulis favorit saya. Kebayang dong, bagaimana bersamangatnya saya saat akhirnya, saat ini, bisa baca buku ini (ada sedikit keinginan untuk bernostalgia dengan masa-masa dulu juga, sepertinya).
Nah, balon excitement saya seolah dikembangkan di bagian-bagian awal buku ini. Premisnya menarik. Menjanjikan cerita yang akan jadi luar biasa. Saya pikir. Buku ini tentang seorang pembunuh bayaran, soalnya. Tentu -harusnya- akan jadi seru dan menagangkan, bukan? Mengurai kasus. Menebak apa, bagaimana, dan mengapa semuanya terjadi. Hal-hal semacam itu. Tapi sayang, balonnya gak pernah tertiup sempurna. Sedikit demi sedikit udaranya keluar, lalu kempes seutuhnya. Balon itu. Seperti ketertarikan saya pada buku ini. Perlahan-lahan saya kehilangan minat. Saya nggak bisa benar-benar menghubungkan diri saya baik dengan dunia ini, atau pun tokoh-tokoh yang terlibat didalamnya.
Review yang benar-benar tidak masuk akal, nampaknya.. Intinya, mungkin buku-buku Luna sudah bukan lagi zona nyaman saya.
Saya bukan pecinta Teenlit, kecuali karya Luna Torashyngu. . Entah kenapa, ada kesan berbeda saja saat saya membaca karyanya pertama kali dulu. Yes ! Ceritanya berbeda. Meski terkadang masih saja dibumbui romansa cinta di dalamnya, namun inti konflik ceritanya bukan itu. . Apa? Saya mungkin menganggapnya lebih ke science fiction 😁 namun dia santai, berisi tapi ngga berat, alurnya juga terasa berjalan cepat, makanya sekali duduk bisa langsung kelar. . Seperti Mawar Merah : Mosaik ini, dia judul pertama dari serial tetralogi Mawar Merah. Tak seperti serialnya yang lain, novelnya kali ini membahas tentang dunia action, pembunuh bayaran internasional bernama Rachel Watson. Seorang gadis remaja, yang memilih jalan 'membunuh' demi kebaikan, juga misi pencarian pembunuh ayahnya. Bukan sekedar membunuh, Ia hanya menerima 'target' yang menyimpang dari jalan kebenaran. . Namun, masalah datang saat tetiba penyamaran kode namanya mulai terbongkar. Pencarian digencarkan, mulai dari Agen FBI, CIA, hingga polisi Indonesia sekalipun. Dan siapa sangka, pertemuannya dengan pembunuh sang Ayah, justru membuka siapa dalang dibalik semuanya. . Cerdik ! Saya selalu suka bagaimana Luna menumbuhkan karakter 'cerdas' pada setiap pemeran utamanya. Sehingga pembaca, merasa dibuat tak ingin berpaling sebelum kelar. Penasaran? Rasanya lebih dari itu. . Kamu suka cerita ringan, santai, tidak berbelit namun bukan romance? Ini cocok sekali untuk dibaca 🤗
Nah, kembali lagi ke dunia per-agen-an yang penuh aksi seru-nya Ka Anul!
Jadi, kali ini ceritanya adalah tentang kisah seorang pembunuh bayaran yang lincah banget berkode “Mawar Merah” atau bersandi “Double M”. Kisah ini berlatar di berbagai tempat di dunia, karena menceritakan beberapa tokoh sekaligus. Tapi latar dominannya, lagi2, Bandung pastinya!>.<
Nah, si Double M ini hidup sebagai mahasiswi di sebuah kampus swasta di Bandung dan bersahabat dengan salah satu mahasiswi tomboi yang aktif di perhimpunan mahasiswa dan acara fakultas. Karena imej yang ditunjukin sehari2 gaada tampang kriminal sama sekali, jadi gaada yang menyangka tentang Double M ini. Ga kalah juga cewek tomboi tadi, menurutku mereka sama2 keren!
Seperti biasa, Ka Anul bisa menggambarkan keadaan kota Bandung yg cucok dengan baik. Dipikir2, karena baca novel2nya Ka Anul deh aku jadi suka cerita berbau teknologi rekayasa, tenknologi canggih yang didalangi hacker hebat atau agen2 rahasia yang penuh aksi tembak2an pistol dan pastinya CINTA BANGET SAMA KOTA BANDUNG!^^
Untuk ukuran novel teenlit, adegan actionnya bener2 dijelaskan dengan detail, rasanya bener2 kayak lagi nonton film. Alurnya juga diceritain dengan menarik, dari sudut pandang yang berbeda2. Luna cukup baik menghadirkan twist dalam setiap adegan, sampe aku gak bisa berhenti ngebalik halaman sampai akhir karena penasaran dengan kelanjutan ceritanya.
Hanya saja, beberapa percakapan terasa canggung, jujur aku agak risih mendengar elsa yang posisinya disini sebagai pembunuh bayaran elit terus menerus menyebut namanya alih2 menggunakan kata ganti ketiga seperti aku, gue, atau saya pada setiap percakapan. Ucapan elsa yang terkesan lemah lembut sangat berbeda dengan gambaran sosoknya yang merupakan pembunuh berdarah dingin. Mungkin memang itu tujuan penulis tapi jujur buat aku hal itu agak mengganjal.
Overall ceritanya menarik dan seru buat diikuti.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Menurutku pribadi, ceritanya so-so aja. Mawar Merah dideskripsikan sebagai pembunuh bayaran paling dicari di seluruh dunia, bahkan sampai diincar FBI, CIA, dsb. Tapi dari pertarungan yang dilakukan M2, nggak keliatan epiknya.
Kalo aja penulis nggak menjabarkan kalau Mawar Merah diincar organisasi internasional seluruh dunia karena kemampuan hebatnya, mungkin masih bisa kuterima.
Kayaknya aku emang bukan termasuk target pembacanya kali ya. Soalnya kalau ini aku baca pas dulu, misal pas masih SMP, mungkin aku bakal suka😅😅
Pertama saya dibuat bingung karena banyaknya nama tokoh di novel ini. Ada Anna, Elsa, Rachel yang bikin mikir o ini jangan-jangan ini tu ini ya. Hmm... saya suka adegan saat MM beraksi! Apalagi saat bertemu dengan pembunuh bayaran SPIKE yang membunuh ayahnya.
Di novel ini juga ada cerita persahabatan antara Reva dkk sama Elsa. Ada juga cinta segitiga antara Rachel, Elsa, sama Arga.
aku baca buku ini udah lama banget (sebenernya baru sekitar tiga atau empat tahun lalu sih wkwkwk) tapi udah lupa jalan ceritanya gimana, tapi jujur cerita lama yang judulnya masih aku inget sampe sekarang (termasuk ini) itu berarti emang buku yang beneran berkesan (plis huhu sayang banget gak sih kalo sampe lupa cerita detailnya padahal aku yakin banget buku ini beneran keren) anyway ini emang worth it buat dibaca.
I won’t say anything beside recommend you guys to read this! Udah baca ini dari jaman SD atau SMP deh lupa, currently I decided to spare my time re-reading this series dan gak mengecewakan sama sekali, alias di umur segini, buatku, novel ini tetep worth to try. Karakternya banyak dan saling berhubungan, tapi gak bikin pusing.
Buku nya keren bangettt! Gasabar bgt baca buku ke-2 nya. Ini pertama kali aku baca buku kayak gini and super tertarik😍 semoga buku ke 2,3 dan 4 nya bakal cpt aku temuin soal nya di toko” buku rata” udh gaada :( 😩✊🏻❤️✨
Seruuuu!!! Ga bisa berhenti baca. Kalau kalian udah sering baca buku2 karya Tere Liye atau Andrea Hirata, baca buku teenlit kaya gini pasti cepet bgt. Kelar dalam 2 hari saking penasaran nya. Can't wait to read next parts, Mawar Merah: Metamorfosis.
aku kira bakal cerita teenlit yang kayak lovasket atau d'angel gitu, tapi ini ternyata banyak konflik politiknya dan tokohnya juga sedikit membingungkan. tapi adegan actionnya memang author tidak pernah mengecewakan sih:)
Cerita tentang pembunuh bayaran yang menyamar menjadi mahasiswa. Alurnya oke, actionnya juga oke, untuk penulisannya khas remaja sekali (disisipi bahasa gaul kekinian). Baca buku ini bikin penasaran sama kelanjutannya.