Jump to ratings and reviews
Rate this book

Nyanyi Sunyi Seorang Bisu #2

Nyanyi Sunyi Seorang Bisu 2

Rate this book
Sebuah autobiografi yang cukup cantik dan indah ditulis oleh Pram kepada anak-anaknya dan juga cerita jatuh bangunnya dalam kehidupan dan rumah tangga. Dalam edisi Bahasa Indonesia. Tapi ada edisi dalam Inggris.

338 pages, Paperback

First published January 1, 1988

24 people are currently reading
1168 people want to read

About the author

Pramoedya Ananta Toer

84 books3,110 followers
Pramoedya Ananta Toer was an Indonesian author of novels, short stories, essays, polemics, and histories of his homeland and its people. A well-regarded writer in the West, Pramoedya's outspoken and often politically charged writings faced censorship in his native land during the pre-reformation era. For opposing the policies of both founding president Sukarno, as well as those of its successor, the New Order regime of Suharto, he faced extrajudicial punishment. During the many years in which he suffered imprisonment and house arrest, he became a cause célèbre for advocates of freedom of expression and human rights.

Bibliography:
* Kranji-Bekasi Jatuh (1947)
* Perburuan (The Fugitive) (1950)
* Keluarga Gerilya (1950)
* Bukan Pasarmalam (1951)
* Cerita dari Blora (1952)
* Gulat di Jakarta (1953)
* Korupsi (Corruption) (1954)
* Midah - Si Manis Bergigi Emas (1954)
* Cerita Calon Arang (The King, the Witch, and the Priest) (1957)
* Hoakiau di Indonesia (1960)
* Panggil Aku Kartini Saja I & II (1962)
* The Buru Quartet
o Bumi Manusia (This Earth of Mankind) (1980)
o Anak Semua Bangsa (Child of All Nations) (1980)
o Jejak Langkah (Footsteps) (1985)
o Rumah Kaca (House of Glass) (1988)
* Gadis Pantai (The Girl from the Coast) (1982)
* Nyanyi Sunyi Seorang Bisu (A Mute's Soliloquy) (1995)
* Arus Balik (1995)
* Arok Dedes (1999)
* Mangir (1999)
* Larasati (2000)

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
304 (61%)
4 stars
118 (23%)
3 stars
49 (9%)
2 stars
17 (3%)
1 star
9 (1%)
Displaying 1 - 25 of 25 reviews
Profile Image for Indri Juwono.
Author 2 books307 followers
July 9, 2010
#2010-53#

Buku kedua ini aku baca dengan selang waktu hampir 9 bulan dari buku pertamanya. Ketika membaca buku pertamanya aku merasakan dementor effect, karena jadi nggak enak rasa, nggak enak hati, membayangkan yang dialami Pramoedya di Pulau Buru. Efek yang cukup lama untuk tidak gembira, hingga membaca buku lucu sesudahnya aku tidak bisa tertawa.

Karena itu aku akhirnya baca buku ini, dalam rangka rencana kunjungan ke rumah Pram di Bojonggede, dan wawwwww!!! Ternyata isinya manis dan menyenangkan. Membuat aku tersenyum dan terharu. Biografi masa kecilnya, curhat beliau, catatan tentang siapa ayah dan ibunya. Membuatku terpana dan terus menerus membacanya. Sampai-sampai aku menargetkan bahwa buku ini harus tamat sebelum kunjunganku ke rumah Pram akhir Mei lalu, jadi aku punya bahan untuk diskusi kehidupannya beliau. Dan ternyata tidak berhasil, berkaitan dengan suasana hati yang tidak mendukung kala itu, jadi hanya menamatkan beberapa bab yang bercerita tentang masa kecilnya. Dan membuat aku makin terpana dengan tulisan hati ini.

Kulanjutkan dengan membaca cukup lama di angkot menuju rumah Pram (akibat ketinggalan kereta). Pram, yang sangat mengagumi ibunya, yang berjuang untuk kehidupan dan pendidikan anak-anaknya. Tak heran, dalam tulisan-tulisannya, Pram banyak bercerita tentang perempuan. Tentang perempuan yang kuat dan tabah. Ah, aku jadi iri sama ibunya Pram. Bagaimana bisa hidup setegar beliau, ya?

Di rumah Pram juga diskusi soal kehidupannya, pemutaran film dokumenter, dan ngobrol-ngobrol dengan mbak Astuti. Tentu berbeda penceritaan dari buku dengan yang dituturkan oleh mbak Astuti atau film tersebut. Buku kan ditulis oleh Pram sendiri, jadi emosinya, kegembiraannya, kesedihannya tergambar lewat ungkapan kata-kata yang terangkai.

Dan akhirnya pada acara tanya jawab, aku bertanya, kenapa sih buku-buku Pram dilarang? Soalnya dari sejak aku baca Bumi Manusia dan cerita-cerita lainnya yang diterbitkan oleh Lentera, rasanya ceritanya yang begitu saja. Tidak menyinggung soal ’bahaya laten komunis’ yang ditakutkan oleh pemerintah Orba. Kalau buku ’Nyanyi Sunyi’ jilid 1 kan memang banyak menyebut nama-nama pejabat Orba, jadi kupikir karena buku ini (yang hanya terbit 10 hari lalu dilarang), maka pejabat Orba menjadi alergi terhadap buku ini.

Jawaban dari mas Ronny karena memang buku-bukunya membawa ke arus pemikiran keterbukaan, kalau mau dipahami lebih dalam (ketahuan kan kalau aku hanya terperangah oleh kata-kata saja, tapi kurang mencerna), yang ditakutkan pemerintah, rakyat yang bebas mengungkapkan pendapatnya sendiri, menjadi berani seperti tulisan-tulisannya Pram. Yang lebih lucu (mengernyitkan dahi) info dari Amang soal isi SK pelarangan buku, salah satunya adalah karena kalau buku-buku Pram diijinkan, akan ada pengidolaan buku Pram, yang berakibat dengan kenaikan harga jual secara tidak wajar. Wah, pemerintah Orba, jawaban yang kurang bisa diterima nalar kayaknya. Kalau dilarang karena takut harganya mahal, ya diperbanyak saja, ditaruh di perpustakaan. Ini jelas upaya pengkerdilan pikiran masyarakat.

Dituliskan sebagai surat kepada anak-anaknya, tentang perjalanannya di Eropa, dan sampai ke sisi-sisi kehidupan pribadinya, perasaan inco (rendah diri) yang sering dialaminya. Melihat buku ini untuk lebih mengenal siapa Pram, siapa yang membentuk pribadinya seperti sekarang ini, siapa orang-orang yang mempengaruhi tulisan-tulisannya, bagaimana sikap beliau sebenarnya. Sangat beruntung berkesempatan membaca buku ini.

Setiap generasi muda punya tempatnya, waktu dan tantangan-tantangannya sendiri. Setiap generasi punya kecenderungan patriark atas yang lebih muda punya hak untuk memberontak. Hanya pemberontakan yang diekspresikan melalui pemesuman dan penggondrongan, menolak nilai-nilai yang dihasilkan oleh generasi sebelumnya. Boleh jadi satu hal yang kurang cukup lucu.
Terserah padamu sendiri.

dari halaman terakhir.


Profile Image for Nanto.
702 reviews102 followers
June 2, 2008
Buku memoar pribadi yang pada masanya sempat dilarang. Saya baca melalui photokopian dari seorang kawan yang pengagum Pram. Ada dua jilid yang dimiliki kawan saya itu. Warna kuning karena dia telah mengkuningkan dirinya dengan ikhlas. Kaum kuning yang nyeleneh memang kawan saya itu. Lupa saya jadi warna apa kalau kuning dan merah bercampur, pinky kah? hehehe Kapitalisme merah jambu ala Cina.

Satu bagian kecil dari memoar Pram ketika di-Buru-kan ini yang lekat di ingatan saya. Cerita kecil tentang apa yang dibawa oleh para orang buangan itu dari Jawa. Mereka yang hanya berbekal baju di badan dan sehela napas yang belum tentu sampai ke tanah seberang, ternyata membawa banyak hal buat masyarakat di sana.

Selain membawa kebudayaan bercocok tanam di tanah Jawa yang relatif lebih maju. Ada kebudayaan lain yang dibawa ke P. Buru. Budaya seksualitas orang Jawa. Bukan cerita seram kok. Cerita tentang kebiasaan masyarakat setempat yang bila melakukan hubungan suami-istri selalu pergi ke pinggir hutan. Di sana mereka melakukan dengan cara mereka. Lalu apa hubungannya dengan para tahanan dari Jawa itu? Tahanan dari Jawa memperkenalkan pada orang di Buru sana yang namanya hubungan badan model missionary. Mereka baru tahu "gaya baru" itu. Sebelumnya mereka biasanya setengah berdiri, alias doggy style. Penjelasannya seperti yang di sini bukan yah? Maklum saya sendiri masih bujangan. :-P

Itulah selipan cerita ringan dari sekian cerita yang ditulis Pram layaknya surat untuk anaknya. Cerita lainnya tentu adalah cerita kaum tahanan yang nyawanya bergantung pada banyak sipir di sana. Tapi kau masih terus menulis Pak Pram. Cerita duka dan kerasnya hidup di sana jauh dari cerita Cinderela, karena Pram memang bukan Cinderala. (Cindelaras barang kali? hehehe) Pantang menyerah memang kau ini.

Salut buat Bung Pram, seorang pejuang kehidupan!
Profile Image for Michiyo 'jia' Fujiwara.
428 reviews
April 21, 2013
Harus berkata apa?! Takjub? Terpana? Dan kemudian merenung.. bahwa pernah ada suatu zaman, dimana kebebasan mengemukakann pendapat dan kebebasan untuk menentukan sendiri jalan apa yang seseorang mau itu menjadi salah, tidak cukup dengan itu saja, bahwa sesuatu yang keluar dari mainstream.. dianggap menentang dan mengganggu stabilitas negara.. atas dasar itu seseorang dirampas bukan hanya haknya sebagai warga negara tetapi juga haknya sebagai seorang manusia, Cuma demi apa.. terjaminnya stabilitas? dan tentu saja langgengnya kekuasaan nya..

Ini adalah salah satu kisah manusia.. dari ribuan kisah manusia lainnya yang pernah merasakan bagaimana pedih dan derita yang mereka rasakan di negerinya sendiri..

Kisah-kisah ini adalah kisah keseharian, sebuah buku harian, sebuah kisah yang diceritakan dari seorang ayah kepada putra-putrinya, mengenai dirinya (betapa ia menaruh hormat pada ibu (sosok sang ibu, bahkan menjadi patokan penilaiannya terhadap sosok wanita dan neneknya (dari pihak ibu), yang telah kita kenal sebagai Gadis Pantai..kira-kira, hanya perkiraanku sekiranya seri lanjutan dari Gadis Pantai seandainya saja tidak diberangus oleh ‘ya kita itu siapa’..kira-kira akan seperti itu ya kelanjutannya..), lalu ceritanya mengenai maha luasnya dunia ini dengan kisah perjalananan yang pernah dilakukannya, mengenai kisah yang ia alami di nun jauh pedalaman Maluku sana, apa yang sebenarnya terjadi? Silahkan simak sendiri kisahnya, karena sungguh sayang untuk diceitakan disini satu persatu, karena aku bukan Pramoedya, aku bukan pemilik kisah-kisah itu..


Profile Image for Arman Dhani.
49 reviews18 followers
October 10, 2024
Pramoedya memperoleh pemikiran gilang gemilang dan karya baik ini bukan karena karbitan sejarah. Dimulai dari didikan ayahnya pendiri Klan Toer, Pramoedya muda melihat bagaimana ayahnya yang seorang Priyayi rela membuang segala privilage nya untuk terjun berorganisasi bersama rakyat, mengajarkan wanita baca tulis, organisatoris Boedi Oetomo. Seperti yang diungkapnya “ dan yang selalu aku hormati; tabah dalam mengambil keputusan dan memutuskan sesuatu… ia mempunyai pengetahuan luas tentang literatur jawa, sendiri seorang penggerak…”[vi]. Watak tak kenal lelah dan kemandirian yang membuatnya bertahan dari kejamnya Pulau Buru juga tak lepas dari peran Ibundanya. Pramoedya yang selama pengasingan hampir tidak pernah menggantungkan diri (dan memang tidak bisa mengharapkan) terhadap pemerintah, selalu berusaha untuk berdikari dalam pemenuhan kebutuhannya.

Watak mandiri dan sikap anti kompromi Pramoedya, yang digambarkan dalam buku ini membuat saya malu. Sebagaimana saya masih bergantung pada kakak dan sesekali pada orang tua saya. Pramoedya sendiri tidak mengelak dan mengakui bahwa kedua orang tuanya yang telah membentuk sikap dan kepribadiannya. “memang dua-dua orang tuaku menduduki tempat terpenting dalam awal kehidupanku. Sikap, tingkah, ucapan dan cita-cita mereka telah menjadi bagian dari diriku..”[vii]. pramoedya adalah sebuah model dari ‘hasil didikan sejarah’, di mana Ia menyerap pemikiran, tingkah laku dan sikap dari kedua orang tuanya. Dan dalam perkembangan hidupnya hasil didikan itu mengendap dan membentuk Pramoedya seperti yang kita baca dalam “Nyanyi Sunyi Seorang Bisu.”

Dalam kesempatan lain Pramoedya pernah berujar, menulislah, karena dengan menulis kau tak akan dilupakan sejarah. Menulis bagi Pramoedya adalah sebuah perjuangan, perjuangan melawan lupa. Berusaha mengingat dan memberikan ingatan tersebut sebagai warisan bagi sejarah bangsa ini. Pramoedya adalah seorang penulis yang dalam terminologi Cak Nun “penulis selilit”,[viii] Anda tahu selilit? Peristiwa di mana ada semacam makanan yang menjadi benda asing dalam barisan gigi kita, yang mengganggu kita dan membuat kita tidak nyaman. Dan itulah Pramoedya, menjadi selilit sejarah bagi penguasa tiran Orde Baru dan pemerintahan fasisnya.

Dalam catatan pinggirnya, GM pernah berujar, “sejarah memang sebuah proses dari keadaan terbelenggu ke arah keadaan merdeka-dan riwayat hidup Pramudya Ananta Toer melukiskan itu. Di zaman perang kemerdekaan ia ditangkap dan dipenjarakan Belanda, karena ia anggota dari pasukan Republik. Di zaman ‘Demokrasi Terpimpin’ Soekarno ia dipenjarakan tentara, karena bukunya Hoakiau di Indonesia. Di zaman ‘Orde Baru’ ia dipenjarakan, dibuang ke Pulau Buru, dan kemudian dikembalikan ke Jakarta tetapi tetap tak bebas, selama hampir 20 tahun”[ix]. Tapi mungkin GM lupa, Pramoedya dipenjara bukan karena ia menulis, Pramoedya dipenjara karena ia berusaha jujur dan berani berkata tidak pada pemerintah Orba.

Pramoedya bukanlah GM dan Jacoeb Oetama yang rela berkompromi paska Malari (Malapetaka Lima Belas Januari 1974). Ia serupa Mochtar Loebis[x], serupa Soe Hok Gie, serupa Munir, serupa Marsinah dan serupa Wiji Thukul yang secara lantang menolak tunduk patuh dan “melupakan” penindasan yang ada di hadapan mereka. Pramoedya bukanlah seorang santo yang dapat dengan legowo memaafkan para penindasnya, ia manusia biasa yang bisa sakit hati dan dendam. Dan hal inilah yang membuat saya jatuh cinta pada karyanya.

Penjara apapun tak akan menyekap kerativitas dan kebebasan Pramoedya dalam berpendapat, berpikir dan menjadi diri sendiri. Penjara hanya sekedar belenggu, belenggu pengasingan dari hingar bingar dunia. Meminjam kata-kata Tan Malaka, “siapa Ingin merdeka, hendaklah mereka siap dipenjara.” Pramoedya telah melalui hal itu, dan menang melawan lupa. Dan mereka yang dibungkam akan tetap bersuara meski dalam kubur. Tak akan ada penjara yang sanggup memasung pemikiran, membelenggu kata-kata dan menahan kebebasan. Semua hanya menunggu runtuh, entah oleh waktu atau kerasnya si pesakitan dalam melawan! []


[vi] Pramoedya Ananta Toer, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu II. Hasta Mitra. Jakarta, september 2000 (hal. 4)
[vii] Ibid. 11
[viii] Istilah serupa pernah diberikan oleh Muhidin M Dahlan dalam obituari Pramoedya Ananta Toer “Pram, Buku yang tak selesai dibaca”
[ix] Majalah Tempo NO. 08/XXVIII/27 April - 3 Mei 1999
[x] Menarik, karena Mochtar Lubis adalah salah satu sastrawan “Manikebu” yang berseberangan pandangan dengan Pramoedya yang dianggap sastrawan Lekra. Dalam suatu waktu Mochtar Loebis pernah mencibir Tetralogi Pulau Buru, namun mereka sama-sama menjadi korban fasisme Orba saat harian Indonesia Raya milik Mochtar Lubis di bredel pemerintah Orba.
Profile Image for Tetrin.
110 reviews2 followers
October 19, 2019
Buku kedua lebih menceritakan how and why he become a person like that. Bentuk penceritaan melalui surat2 untuk anak2nya, yg pada saat membaca, ikut berharap surat2 itu sampai pada anak2nya.

If u aRe Indonesian, this two books are a must have read books. Saya memang tidak hidup pada jaman itu, jd tdk bs menilai dengan baik mana yg benaar mana yg salah. But things I know, penahanan tanpa pengadilan, penganiayaan, dan pengkerdilan hak2 sbg warga negara adalah sesuatu yg tidak diinginkan oleh semua orang dan tidak sepantasnya dilakukan oleh negara.
Profile Image for Nonna.
137 reviews2 followers
September 2, 2023
surat-surat indah yang ditulis pram untuk anak²nya selama pembuangan di pulau buru. saking indahnya, saya lupa kalau ini non fiksi.
3 reviews1 follower
July 16, 2007
Saya harus sedar bahawa hidup kita tinggal seedikit jadi harus baik dengan semua orang. Apa lagi anak-anak kita. Novel ini juga mendorong saya menghasilkan sebuah autobiografi yang masih manuskrip dan penilaian sekitar 12 bab yang mengandungi 300 lebih halaman. Saya sangat mengharapkan ia berjaya dibukukan kelak. Impaks buku cukup dalam bagi jiwa saya yang kerdil ini. Bahasa Pram kadang-kadang sulit difahami dan ditanggapai tetapi mesra kepada pembaca. Ada kalanya bahsa sukar dimengerti. Itu bukan halangan untuk saya bernafsu membaca karyanya dan juga deretan novelnmya yang lain.
Profile Image for Biene_maja.
26 reviews
April 6, 2011
- Apa boleh buat, pengalaman adalah hak orang yang mengalami untuk diapakan saja olehnya sendiri, dan tak ada kekuatan yang bisa merampaskannya. Paling-paling orang bisa mendiskreditkan, dan untuk itu segudang alasan memang bisa dikerahkan, apalagi kalau memang tersedia dana dan kekuatan dan kekuasaan untuk mengerahkan - PAT

13 reviews
Read
July 26, 2007
One little story in the darkest side of New Order glorius regime. Story of stigmatized persons who was wrongly acused because of their voice offended to the government regime. Tragic. Written in the shockingly details.
Profile Image for Sam Haidy.
Author 4 books35 followers
December 4, 2010
di sini kita bisa melihat pram sebagai manusia seutuhnya: relasi sosialnya sebagai seorang anak, suami, dan ayah. sebagaimana biasanya, kelebihan tulisan pram ada pada detailnya dalam mengisahkan sebuah peristiwa beserta apa yg melatarbelakanginya
Profile Image for Resmi.
17 reviews2 followers
July 26, 2007
A dark side in human history.
Profile Image for mahatmanto.
545 reviews38 followers
April 1, 2008
ini bukan novel, tapi kumpulan surat-surat seorang ayah kepada anak perempuannya. dalam surat inilah tergambarkan situasi si penulis yang punya kadar dokumenter bagi perjalanan bangsa.
Profile Image for Ertina Priska Erlayas.
3 reviews2 followers
January 30, 2012
PS: jangan ada jeda terlalu lama dari membaca yang pertama. jika tidak mau duka menyelimutimu terlalu lama.
Profile Image for Ali.
25 reviews
December 26, 2012
cerdas penuh gizi.pesannya sangat kuat dan humanis

akan ada waktu buat baca ulang
13 reviews1 follower
December 1, 2014
Catatan harian dan penelisikan kehidupan pribadi mendalam dalam perspektif sang Maestro sastra Indonesia.
Profile Image for Maufiroh.
27 reviews1 follower
February 15, 2016
Berbeda dari buku pertama yg menceritakan pengalamannya selama menjadi tapol di pulau buru, buku kedua ini lebih menceritakan tentang kehidupan pribadi bersama orang2 terdekatnya, keluarganya.
Profile Image for Elyza.
61 reviews
August 26, 2015
Melihat sisi lain seorang Pram. Sebagai anak, suami, dan ayah.Must read.
Profile Image for Khatra.
2 reviews
March 30, 2016
saya membutuhkan ilmu dalam buku yang saya pilih. terima kasih.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Raihana.
4 reviews
June 3, 2016
Sama bagusnya seperti bagian 1. Tapi saya lebih suka bagian 2! Mungkin karena tidak banyak angka seperti bagian 1 hehe
Displaying 1 - 25 of 25 reviews

Join the discussion

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.