Novel ini merupakan satu dari beberapa dokumen klasik yang penting pra-Indonesia dan merekam secara baik sepak terjang sejarah tanam paksa di teritori kolonial india pada tengahan abad 19 hingga menjelang peralihan abad 20, khususnya masyarakat gula di Jawa Tengah (Sukaraja)
Tidak diketahui siapa sebenarnya Haji Mukti, tidak diketahui juga apakah nama samaran atau nama sesungguhnya. Hikayat Siti Mariah, yang pertama kali diterbitkan dalam bentuk cerita bersambung di surat kabar Medan Prijaji pimpinan RM Tirto Adhi Soerjo di Bandung antara tahun 1910-1912, adalah satu-satunya karya Haji Mukti yang diketahui.
Hikayat Siti Mariah menduduki posisi yang cukup penting bagi sejarah perkembangan sastra pra-Indonesia karena merupakan satu-satunya karya sastra pra-Indonesia pada zaman tanam paksa (cultuur stelsel) antara tahun 1830-1890. Seperti yang tercantum dalam sampul buku tersebut yang berbunyi: "satu-satunya roman kurun ’tanam paksa’ 1830-1890".
Bahasa yang digunakan adalah bahasa Melayu linguafranca. Pada masa itu atau saat Pemerintah Kolonial Hindia Belanda menjalankan politik etis, perkembangan sastra ditandai dengan adanya penggolongan sastra, yakni sastra yang "diakui" kekuasaan dan yang "tidak diakui" kekuasaan. Sastra dalam bahasa Melayu linguafranca masuk dalam kategori yang "tidak diakui" kekuasaan, akibatnya sastra tersebut dianggap sebagai sastra rendahan, bahkan Melayu linguafranca sering disebut sebagai Melayu pasar atau Melayu rendah
Akhirnya saya menyelesaikan satu hikayat karya Haji Mukti. Saya cukup senang dengan pembacaan ini sebab ini buku pertama yang mengangkat latar dan waktu pasca Perang Diponegoro (1825-1830) dan sepanjang kebijakan cultuurstelsel. Ditambah lagi, cakupan perjalanan kisahnya mencakup banyak aspek kehidupan sosial masa itu yang nampaknya bikin saya bertanya-tanya untuk mencocokkan relevansinya dengan zaman ini.
Buku ini diterbitkan awal berkala selama dua tahun 1910-1912 oleh Medan Prijaji yang digagas oleh Tirto Adi Soerjo. Lalu buku yang saya baca ini diterbitkan ulang oleh Lentera Dipantara dengan Pramoedya Ananta Toer sebagai penyunting. Dari pengakuan penerbit, ada beberapa bagian naskah asli yang hilang. Seingat saya ada tiga bagian yang hilang. Dari tata buku, buku ini cukup tebal dengan 402 halaman. Meski tergolong tebal, kompleksitas cerita di dalamnya akan membuat pembaca membatin, “Ini kurang panjang.” Bagaimana tidak? Perjalanan Siti Mariah dari kecil hingga melebihi kepala tiga dengan segala konflik abad itu begitu memukau. Sayang juga, ada banyak kesalahan ketik dalam buku ini. Saya tidak tahu apakah sudah direvisi ulang untuk terbitan selanjutnya.
Dari segala kesan yang saya dapat dari buku ini, saya mencatat perihal penting bagi renungan saya pribadi. Pertama dari gaya bahasa dan alur cerita. Saya merasakan gaya bahasa yang dipakai oleh Haji Mukti hampir seperti cara Pramoedya bercerita, terutama dalam karya tetraloginya. Mungkin kesan ini muncul karena ada beberapa penyesuaian grammatika naskah asli (medan prijaji) dengan terbitan Lentera. Asumsi saya yang lain, bisa jadi Pramoedya juga terpengaruh gaya kepengarangannya dari Haji Mukti. Gaya bahasa yang hampir mirip bisa juga dilihat dari buku antologi cerpen Tempoe Doeloe, yang juga disusun oleh Pramoedya. Saya juga agak menelisik, karena Hikayat Siti Mariah ini mengambil sudut pandang konflik keluarga orang-orang Belanda campuran (kelompok borjuis kapital), apakah Pramoedya terinspirasi dari buku ini saat merancang Bumi Manusia? Hal ini dari anggapan bahwa Pramoedya Menyusun buku Bumi Manusia berdasarkan ingatan selama di Pulau Buru. Tentu asumsi ini perlu pendekatan yang lebih mendalam.
Kedua, dari alur cerita Hikayat itu sendiri. Secara garis besar, Siti Mariah adalah satu dari banyak tokoh cerita abad awal 19 tentang dunia pernyaian. Mariah menikah, memiliki anak, terpisah, konflik pencarian keluarga, dan kembali. Namun, rentang kisah yang nampak klise itu banyak sekali kerahasiaan sudut yang pintar dimainkan oleh Haji Mukti. Seolah-olah Haji Mukti ini mengetahui betul-betul cerita itu. Dan memang benar terlihat bagaimana keterlibatan Haji Mukti dengan penokohan. Haji Mukti melibatkan dirinya sebagai Sondari dalam hikayat itu, bahkan memainkan peran penting dalam penyelesaian cerita.
Ketiga, pabrik tebu dan gula. Saya tidak tahu menahu banyak dokumen sejarah tentang perkembangan industri pabrik gula dan tebu sepanjang cultuurstelsel. Jadi saya menganggap latar tempat hikayat ini, dengan tokoh yang bekerja dan menjalankan bisnis pabrik gula dan tebu, sebagai sebuah dokumen sosial pada zaman itu. Tempat yang ditekankan adalah pabrik gula Sukaraja dan Kalibagor. Sampai saat ini, pabrik yang masih eksis adalah pabrik yang ada di Kalibagor, tapi sudah dialihfungsikan oleh pabrik tekstil. Untuk memenuhi keingintahuan saya pada latar ini, saya bertanya kepada salah satu kawan yang berada di Sokaraja. Ia mengiakan adanya kehidupan pabrik gula saat itu. Ia menambahkan bahwa keluarganya juga bagian dari pegawai pabrik yang mendapatkan fasilitas rumah dan tanah. Sampai saat ini rumah pemberian itu masih dipertahankan.
Keempat, perdukunan. Perdukunan cukup menarik diperhatikan. Dukun Jiman adalah satu dukun dalam hikayat ini yang didatangkan dari Tangerang. Dukun Jiman diminta untuk memberikan jampi-jampi agar target klien itu bisa takluk. Pertanyaannya, kenapa dalam cerita itu dukun tidak identik dengan tempat mencari pesugihan? Apakah karena latarnya sudah orang-orang pabrik yang rasional akan uang dan bisnis? Tapi kenapa untuk urusan asmara masih menggunakan jasa dukun? Menarik. Ditambah kenampakan dukun dalam hikayat ini berperan sebagai jongos, bukan disakralkan seperti sekarang. Pandangan lain tentang dukun saya temukan dalam buku Pramoedya Ananta Toer berjudul Bukan Pasar Malam. Dukun dalam buku Bukan Pasar Malam justru datang dari seorang guru. Pram menjelaskan bahwa guru pada masa 1951 dianggap orang pintar. Jadi dianggap juga bisa mengetahui hal-hal tak kasat mata. Begitu juga ada dalam buku catatan Pramoedya Ananta Toer dalam Nyanyi Seorang Bisu. Ia banyak ditanyakan tentang pandangan ramalan nasionalisme Indonesia. Mereka bertanya pada Pramoedya dengan logika yang sama. Semakin orang bisa berfantasi abstark dan konseptual, maka orang lain akan menganggapnya orang itu dekat dengan hal-hal kebatinan. Sekarang, dukun agak berbeda. Ada penamaan lain: dukun dan orang pinter. Dukun condong seperti orang-orang sakti yang bisa memberikan uluran kemudahan dalam mencari pesugihan. Orang pintar bisa mencakup makna lebih umum. Dukun bisa jadi orang pinter. Orang bisa cakap pada konsep berpikir abstrak disebut orang pintar. Orang yang dipandang taat beribadah juga disebut orang pintar. Dan menariknya, dulu belum saya temukan fungsi dukun sebagai pencair rezeki. Semakin ke sini, ada saja orang datang ke orang pinter untuk mendapat cairan rezeki cepat. Jadi bagaimana?
Kelima, pra-nikah. Konsep yang umum pada abad 18 sebagaimana tertulis adalah pengambilan perempuan Jawa oleh Belanda untuk dipersunting lewat jalur Nyai tanpa syariat sebelum masa matang ke pernikahan asli dengan wanita sebangsa. Cukup menyedihkan nasib perempuan Nyai itu dan anak-anaknya. Apabila Belanda itu mati, dan tidak dinikahi sah, maka anak dan istrinya tidak mendapat hak waris. Hal ini yang terjadi pada Ibu Mariah dan Ibu Sondari. Lahir dari ayah yang sama dari ibu berbeda. Mereka terlantar sebagai anak dari konsep pernikahan ini. Mekanisme pernikahan ini sepertinya yang menginspirasi Pramoedya menuliskan cerita Gadis Pantai. Konflik yang diangkat sama, nasib perempuan yang dinikahi sebelum mempelai pria nikah dengan peremuan bangsa setara.
Keenam, perkara gaji. Pengarang Haji Mukti, entah karena efek psikologisnya sebagai orang di kalangan borjuasi, menempatkan hampir keseluruhan cerita dengan tolak ukur gaji. Hampir disebutkan setiap tokoh itu mempertimbangkan gaji dalam mengukur kekayaan dan kemakmuran. Hal ini nampaknya terus berlanjut sampai sekarang. Orang lebih banyak bicara soal gaji daripada kemakmuran itu sendiri. Sebenarnya dalam cerita ini disebutkan kontras ide. Sondari tidak mendapatkan warisan dan memilih hidup dalam kemiskinan. Ia merasa miskin itu bisa bebas daripada punya banyak uang daripada resah menerus. Hanya saja, dalam perjalanannya, disebutkan bahwa Sondari menjadi kaya setelah menjalani kerjaannya di bidang konsulat Jedah. Sebagaimana diberitakan dalam Medan Prijaji dalam buku Sang Pemula, ada banyak konsulat pribumi yang melakukan banyak pungli pada jamaah haji. Haji Mukti bisa jadi terlibat sebagaimana dianggap dalam pengantar penerbit di awal buku ini. Poin lain yang tidak kalah penting adalah menunjukkan bahwa hampir tidak mungkin golongan miskin menjadi kaya tanpa melalui upaya kudeta (bisa warisan, pembegalan, dan korupsi)
Ketujuh, pergantian nama. Dalam cerita ini, ada satu yang agak membingungkan saya. Ternyata dulu orang bisa mengganti nama sebagai identitas baru saat ingin memulai kehidupan baru. Tokoh Mariah berubah menjadi Janda Esobier. Henry Dam menjadi Hubrecht Van Goldstein tot Amersfoort. Sondari menjadi Haji Mukti. Wongsodrono menjadi Karyodrono. Dan Joyopranoto menjadi Haji Abdullah. Di sini bisa kita lihat bagaimana pergantian nama ini menjadi hal menyulitkan di hadapan kasus-kasus pencarian keluarga. Dan ini sangat terang di dalam kisah ini.
Semua hal penting itu dikemas dalam satu runtutan cerita yang sangat kompleks. Jadi, bagi saya, dengan membaca buku, kita diajarkan satu bentuk dokumen sosial yang bisa kita jadikan refleksi tentang kehidupan sosial kita hari ini. Buku ini sangat disarankan untuk dibaca. Semoga catatan kecil ini memberikan sedikit suntikan motivasi bagi pembaca untuk memulai membuka halamannya. Tabik