aku hanya bisa ke Indonesia kalau aku menanggalkan keindonesiaanku
...............................
Ironis.Namun itulah yang terjadi pada Sobron Aidit, penulis buku ini, yang baru bisa berkunjung ke tanah air setelah menjadi warga negara lain. Kumpulan cerpen Razia Agustus ini bercerita tentang bagaimana rasanya menjadi seorang pelarian, melihat negeri kelahiran dari jauh, dan berjuan di negeri orang.
Penyair sekaligus prosais, Sobron lebih dikenal sebagai cerpenis. Dua kali diganjar hadiah sastra. Yang pertama dari majalah Kissah/Sastra 1955-1956 yg kedua dari HR Kebudayaan 1961.
Awal sebelum membaca buku ini mencoba googling mencari resensinya, ternyata tak banyak yang menulis, bahkan ada satu resensi yang justru memberikan informasi salah tentang Sobron.
Sobron bukan orang pelarian, beliau hanya tak bisa pulang. Pada 1963 Sobron mendapat undangan untuk menjadi Guru Besar Sastra dan Bahasa Indonesia di Institut Bahasa Asing Beijing di sana Sobron pun menjadi jurnalis untuk Peking Review, keluarganya pun turut serta menetap di Beijing.
Sempat ditempatkan di pelosok desa untuk menjadi petani pada masa Revolusi Kebudayaan (1966-1976) oleh pemerintah Tiongkok, pada 1979 setelah Revolusi Kebudayaan Sobron bekerja di Radio Peking.
Pada 1981 Sobron menuju Paris, ditampung oleh pemerintah Perancis di penampungan pengungsi bersama ratusan orang yang berasal dari Asia dan Afrika.
Hingga akhirnya Sobron mendapatkan kewarganegaraan Perancis, barulah dia bersama Umar Said, Budiman Sudharsono dan JJ Kusni mendirikan Restoran Indonesia pada Desember 1982.
Sepenggal kisah perjalanan Sobron di atas diceritakan kembali pada buku ini dalam bentuk cerita-cerita pendek, membacanya seolah membaca sebuah memoar.
Pada dua cerpen awal Sobron berkisah tentang Bang Amat, yang sembunyi dan lari dari kejaran pihak berwenang. Menuturkan sosok dan karakter seorang abang dari POV seorang adik yang sangat menyayangi dan menjadikannya panutan.
Ada pula kisah tentang seorang panglima pangkalan udara yang "dihanggarkan" hanya karena dianggap tak bersih lingkungan. Tak pula pula Sorbon bercerita tentang Ayahnya yang minggat dari pulau Belitung ke pulau Jawa.
Semua cerpen berbahasa sederhana sehingga mudah menangkap ide utamanya. Namun tak jarang pokok pikiran disampaikan berulang, mungkin Sobron memang ingin menekankan hal-hal itu.
Untuk mereka yang telah membaca novel Pulang karya Bu Leila, gw pikir penting membaca kumcer Sobron ini, cukup banyak hal yang terkait dan berkaitan antara keduanya, sangat menarik.
"Cuma tragis dan paradoksalnya, aku hanya bisa kembali ke Indonesia kalau aku meninggalkan keindonesiaanku ini"
My heart really hurts reading this book. Page by page gives me more and more pain. The sins of this country is way too many. People have lost their lives, and their right to live a normal life because of the government's greed, to feed on their political and ideological ego.
Membaca buku ini, saya teringat novel Pulang karya Leila S. Chudori. Sebenarnya, saya terlebih dahulu membeli buku kumcer ini, tahun 2011, namun baru baca satu cerpen saya letakkan. Baru di tahun ini, setelah membaca novel Pulang, saya kembali membuka lagi Razia Agustus. Sobron Aidit menjadi salah satu narasumber untuk data novel Pulang. Bagaimana kehidupan eksil di Prancis yang dipaparkan oleh Leila S. Chudori saya dapatkan lagi dengan gamblang dari buku Razia Agustus. Tentang para pelarian yang di Prancis membuka restoran Tanah Air, tokoh aku yang yang menguasai teknik pengobatan dengan tusuk jarum, saya dapatkan dalam novel Pulang.
Miris mendapati bagaimana hidup para pelarian. Mereka bisa kembali ke tanah air, justru ketika mereka telah menanggalkan kewarganegaraan mereka dan terpaksa menjadi warga negara Prancis. Namun, ketika mereka pulang ke tanah air, apa yang bisa mereka lakukan? tak ada. Bahkan untuk sekedar ziarah ke makam keluarga mereka saja tak bisa. Memang tak ada yang melarang, namun hal-hal semacam ziarah yang mereka lakukan bisa membahayakan hidup orang lain yang secara langsung atau tidak langsung berhubungan dengan mereka. Sebuah fakta sejarah disajikan pengarang dalam buku ini. Semacam memoar hidup penulis ini disampaikan dengan bahasa yang lugas. Kadang saya nyaris bosan membacanya, tapi cerita di dalamnya menarik untuk saya yang suka dengan cerita berlatar sejarah.
Sobron Aidit mau nggak mau bikin ingatan tertuju ke kakaknya, DN Aidit. Gara-gara itu, ekspektasi waktu lihat buku ini, isinya cerita soal curahan hatinya tentang kakaknya. Dan saya salah! Hahaha...
Ini cerita perasaannya sendiri soal hidupnya di "pengasingan". Tapi buatku, konflik batinnya karena "diasingkan" kurang kuat dan jadi sekadar bercerita kehidupannya di Perancis. Iya, memang diceritain juga gimana susahnya dia hidup, tapi ya itu tadi, konflik batin dia sama kondisi politiknya Indonesia kurang kuat.
Well, at least... I wish I could meet you, Mr. Sobron Aidit.
Buku ini berisi kumpulan cerpen. Setting cerpen beragam dari Jakarta, Tiongkok dan Paris. Ketika membaca buku ini, seperti menikmati paparan sejarah Indonesia, dari jaman Soekarno hingga orde baru. Saya raba lebih dalam, selayaknya menikmati perjalanan hidup seorang Sobron Aidit. Bisa dibilang buku ini adalah memoar terselubung. Gaya bertutur orang pertama membuat kedekatan penulis dan pembaca nyaris tak berjarak. Namun penulis tetap bisa memaparkan detil setting nyaris sempurna.
Asyik. Saya suka hampir semua cerita pengalaman Sobron yang dituliskan dalam buku ini. Asyik saja membaca perjuangannya saat zaman kemerdekaan dan zaman orba saat dia tinggal di luar negeri karena tidak bisa pulang ke Indonesia. Bahkan, setelah pulang pun harus mikir-mikir untuk bertemu orang, dengan taruhan orang itu akan diciduk meskipun tidak bersalah. Miris, ya, zaman itu. :'(