Selepas studi S2 di Jerman Irkham langsung mencari kerja serabutan ke Toledo dan Roma. Baginya, ini satu cara untuk melawan hantu pengangguran, dan tentu saja demi memenuhi harapan dan mimpi adiknya, kekasihnya, dan yang paling utama adalah ibunya, yang doa dan air matanya selalu mengalir deras untuknya.
Namun, sepulang ke Limpah Kuwus yang ia dapat hanyalah kekecewaan demi kekecewaan. Ia terpukul karena ditinggal kekasih, lebih-lebih serasa tak punya muka karena harus terlunta-lunta dalam pengangguran. Dan hampir saja ia ambruk ketika masalah demi masalah melilit dirinya akibat terpaksa berbohong telah mendapat kerja kepada ibunya. Tapi bukan Irkham kalau tak pantang menyerah. Ia yakin perjuangan hidup tak kan pernah sia-sia.
Larut malam ketika Irkham tengah meratapi nasib, ibunya terus merintih mendoakan anaknya. Pintu nasib datang dari arah yang tak terduga. Setelah upaya dan doa terus menerjang badai, akhirnya Irkham bukan saja mendapat pekerjaan terhormat, tapi juga meraih cita-citanya lewat jalan yang hanya Allah saja yang tahu.
Sirin M.K., nama pena dari Kheron Sirin, lahir di Pemalang (Jawa Tengah), 17 Oktober 1975. Kegiatannya saat ini adalah sebagai UIN Jakarta yang diperbantukan di PTIQ (Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur'an) Jakarta, juga produktif menulis artikel,buku dan novel. Tulisannya tersebar di berbagai media nasional dan lokal, seperti Republika, Media Indonesia, Koran Tempo, Kompas, Lampung Post, dan sebagainya. Buku unik yang ditulis adalah Humor Para Fuqaha dan Humor Para Ahli Fikih 2 (2004 & 2005 Pustaka IMaN). Selain itu, dosen yang sejak SMA suka menulis cerpen dan humoris ini telah pula menelurkan dua novel: From The Shifr, Bangkit dari Titik Nol (Republika 2009) dan Doa Cinta (Edelweiss 2009). Penulis bisa dihubungi lewat email: kheronsirin@yahoo.com atau khaeronsirin@hotmail.com
Kasih ibu kepada beta Tak terhingga sepanjang masa Hanya memberi Tak harap kembali Bagai sang surya menyinari dunia
Lirik ini pasti sudah familiar di kepala kita. Hanya memberi, tak harap kembali. Lirik yang menggambarkan totalitas seorang Ibu dalam memberikan yang terbaik untuk anaknya. Seperti cerita keikhlasan tokoh Biyung yang memberikan doa dan cintanya untuk kedua putranya, Irkham dan Fitri.
Buku ini menunjukkan pada kita bahwa doa dan cinta seorang ibu itu tiada habisnya. Tiada yang lebih kita inginkan di dunia ini demi bisa melihat orangtua kita bahagia. Sekalipun apa yang diperbuat oleh anaknya sering kali tak luput dari salah dan dosa.