Mengenja nama Pramoedya Ananta Toer, terasa ada yang lain. Amat mungkin, seketika kesadaran pembaca akan tergiring pada bayangan idiom "kiri", Marxis, atau yang semacamnya.
Terlepas setuju dan tidak sengan sikap hidup atau ideologi Pram, setelah sekian lama diberangus hak-hak sipilnya, bolehlah melalui buku ini ia diberi kesempatan bicara. Sekalipun buku ini hanya bertutur tentang kenangannya pada saat menjalani masa pembuangan di Pulau Buru.
Melalui seorang Indonesianis kenamaan - Prof. Rudolf Mrazek - kenangan itu dapat Anda baca dalam buku ini.
Selayaknya buku biografi lain nya, informasi tentang sosok yang diangkat adalah nilai jual. Buku ini pun hampir sama, dengan mengandalkan kenangan maka jadilah informasi tentang reportase kisah Pram di Buru. Namun yang menjadi penting adalah Mrazek mampu mempertautkan kenangan Pram semasa jadi tapol yang sangat mewakili sosok Pram di mata orang banyak.
Oleh sebab buku ini berasal dari artikel jurnal, maka yang disajikan oleh Rudolf Mrázek di buku ini pada dasarnya semacam "rangkuman" dari sepanjang 10 tahun kehidupan Pramoedya Ananta Toer di Pulau Buru. Dengan gaya menulis dan berkisahnya yang khas, layaknya seorang pencerita dalam roman, Mrázek mendeskripsikan apa yang dipikirkan, digelisahkan, dan berbagai interaksi keseharian Pram selama dalam masa pembuangan, penahanan, dan kerja paksa di bawah rezim militeristik Orde Baru itu. Nyaris sekujur tulisan Mrázek di sini didasarkan atas "Nyanyi Sunyi Seorang Bisu", kumpulan surat-surat Pram yang sekaligus dapat dibaca sebagai otobiografi sekaligus kesaksian dan laporan pandangan mata dari sebuah tempat yang jauh dari kata normal, penuh siksaan, sekaligus tempat eksploitasi dilakukan tanpa batas oleh serdadu rezim.
Mrázek tidak menyoroti bagaimana kekerasan secara fisik bekerja, penuh impunitas, dan berlangsung tiap hari menimpa para tahanan politik yang sudah sedemikian rupa dinista oleh kekuasaan itu. Dalam artikel-buku ini, ia menyorongkan ihwal ketidakmendengaran, tuli, tunarungu, yang menimpa Pram sebagai sebentuk perwujudan bagaimana kebebasan dirampas sehabis-habisnya. Tuli menjadi penderitaan riil tapol, dalam hal ini Pram, tapi sekaligus sebagai simbol bagaimana 12 ribu lebih orang sengaja dibuat untuk "tidak mendengar" apapun berita dari luar, pun "dilarang berbicara" apapun kepada dunia luar. Kutipan yang paling kuat yakni apa yang Pram bilang: "Dan seperti bayi-bayi selebihnya modal untuk berkomunikasi hanyalah suaraku: jeritan, raungan, keluhan, rengekan. Dan bila modal komunikasi itu dirampas, ah-ya, siapa yang bisa rampas hak untuk berdialog dengan diri sendiri?"
Semogalah Simbah Mrázek berumur panjang, dan setelah ia menulis Sjahrir, menulis Amir, ia juga tergugah untuk menulis satu buku khusus yang panjang dan detail tentang Pram. Semoga!
Ku baca edisi penerbit "Mata Bangsa", ini merupakan sebuah terjemahan dari artikel panjang Rudolf di terbitan Indonesia.
Dimulai dari membandingkan P.A.T dengan Syahrir, melangkah maju, kita diajak berikut mendalami perjalanan batin Pram. Lewat surat-surat yang ditulisnya untuk keluarga.
Dari hasil penajaman penulis, kita sebagai pembaca melihat Pram dari dekat.
Sebuah penambahan wawasan bagi pembaca yang tertarik dengan hidup Pak Pram, juga kaitannya dalam keadaan hidupnya selama pembuangan di Pulau Buru. Tempat lahir sejumlah karya utamanya yang dikenal khalayak luas.
Ps: Di 2018 terdapat pameran surat-surat P.A.T, diinisiasi oleh seorang asal Jakarta, cerita pameran Pram bisa disimak di https://www.jawapos.com/features/31/0...