Buku setebal 651 halaman ini menemani saya dalam dalam beberapa hari awal menunaikan Ibadah puasa, selingan saat istirahat kantor, sehabis sahur dan pengisi waktu menunggu beduk berbunyi.
Buku ini adalah buku tentang Buya Hamka yang bercerita mengenai perjalanan hidup beliau sendiri, jatuh bangun selama sekitar 40 tahun hidupnya. Masa Ia lahir tumbuh dalam masa kanak-kanak di kampung halamannya Maninjau, Sumatera Barat, hingga menjalani sekolah yang tidak pernah ia tamatkan karena kenakalan-nya saat remaja, akhirnya harus berjuang menemukan kemasyuran ilmu dengan caranya sendiri yang seringkali bertentangan dengan Buya beliau (Haji Rasul, Ulama besar Minangkabau saat itu). Di sini kita menemukan sebuah kisah tersembunyi antara Buya kecil perceraian kedua Orang Tuanya, yang banyak memberikan dampak pada kehiupan Hamka selanjutnya. Mungkin cobaan juga yang menjadikan Buya bersumpah setia tidak menduakan Istrinya, hingga Istrinya meninggal dunia.
Sungguh berat cobaan dan tantangan yang tak hentinya ia dapatkan mulai dari masa kanak-kanaknya hingga pada masa matangnya saat masa awal kemerdekaan Indonesia (masa revolusi). Bagaimana beliau jatuh bangun dalam perjuangan hidupnya, dipuja dan dihina. Perjuangan garis belakang (barisan) rakyat yang ia jalani untuk menggembleng semangat umat dan rakyat agar bersatu dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia memang sangat luar biasa.
terakhir, Bagi saya dalam buku ini yang tak kalah pentingnya adalah, Buya menyampaikan bahwa Beliau juga manusia biasa yang tak luput dari salah dan kelemahan sebagai manusia. Berikhtiar terus mencari dimana tempatnya yang tepat diantara masyarakat. dan secara tidak langsung juga mengajarkan kita untuk jangan pernah berputus asa, betapapun beratnya rintangan hidup. Walau bagaimanapun pekatnya malam, fajar akan datang menjelang.