"Kematian" logosentrisme mengawali lahirnya dunia baru tanpa pusat, tanpa subjek, tanpa ontologi, tanpa sandaran makna dan kebenaran. Inilah dunia yang mengajarkan kita untuk liyaning liyan, menghormati yang-beda dalam keberbedaannya dan yang lain-lain dalam kelainannya.
Dekonstruksi Derrida adalah sebuah afirmasi akan yang-lain. Ia meneguhkan pentingnya perbedaan di tengah dunia yang dibayang-bayangi hasrat akan kebenaran yang "utuh" dan "tak retak".
Sebelum masa posmodern, dunia filsafat barat sangat bergantung pada logos dan suatu struktur pemaknaan yang baku dan kaku. Terlebih, sebagian besar fisuf, seperti Plato, begitu mengangungkan tradisi lisan dan menganggap tradisi tulisan (teks) sebagai racun yang akan menghancurkan kemurnian logos. Derrida membantah anggapan itu dengan menunjukkan bahwa hal-hal yang gagal diungkapkan oleh lisan justru bisa disampaikan dengan baik oleh tulisan, kemudian memberi argumen bahwa strukturalisme serta logosentrisme merupakan paham yang terlalu kaku hingga tidak dapat menerima variasi-variasi interpretasi makna bahasa.
Dengan menggunakan teori dekonstruksi dan differance, Derrida menelaah dan menginterpretasi ulang teks-teks narasi besar filsafat dan menyajikan kelemahan-kelemahan mereka, dan mengajarkan kita untuk tidak semena-mena dalam "membuat" dan mempercayai kebenaran. Derrida mengajak kita untuk terlebih dahulu meneliti ulang setiap klausul dan interpretasi dalam suatu proses yang dinamis, untuk menjadi lebih kritis, sebelum menerima kebenaran secara utuh.
"Derrida memperlihatkan bagaimana kebenaran, logos, phallus, atau pusat-pusat yang stabil tidak mungkin untuk hadir secara utuh. Kehadiran selalu membutuhkan sesuatu yang bukan bagian dari dirinya. Inilah bentuk dari differance sebagai strategi tekstual, yakni untuk menunjukkan kelemahan-kelemahan internal dari setiap sistem pemikiran apa pun yang hendak menstabilkan teks. Jadi, differance menstruktur setiap konsep atau teks yang hendak dibakukan. Ia menjadi "parasit" yang menggerogoti totalitas." - hal. 107
Meski tidak dapat didefinisikan, dekonstruski Derrida dapat dimengerti sebagai strategi pembacaan yang menunda kebenaran sebagai triadik kesadaran-kehadiran-tanda qua tuturan (speech) yang difiksasi oleh adanya subordinasi tulisan/teks (text) oleh tuturan. Penundaan dimungkinkan oleh adanya "differ(a)nce" yang menganulir fiksasi subordinasi teks oleh tuturan. Implikasi dari teranulirnya fiksasi subordinasi teks oleh tuturan adalah peminggiran (decentering) subyek yang dikonstitusikan oleh kesadaran-kehadiran-tanda qua tuturan. Dengan demikian apa yang disebut kebenaran tidak lagi dikonstitusikan oleh kesadaran-kehadiran-tanda qua tuturan, melainkan dikonstitusikan oleh ketidaksadaran-absensi-tanda qua teks.
Kebenaran yang dikonstitusikan oleh ketidaksadaran-absensi-tanda qua teks adalah kebenaran yang pada dirinya terkandung ketidakpastian; hal ini berbeda dari kebenaran yang dikonstitusikan subyek (baca: kesadaran-kehadiran-tanda qua tuturan) yang pada dirinya terkandung kepastian. Namun kebenaran yang pada dirinya terkandung ketidakpastian bukanlah satu-satunya kebenaran bagi Derrida. Diam-diam Derrida mengakui ada kebenaran mutlak. Kebenaran mutlak adalah kebenaran yang pada dirinya mengandung kepastian, namun kebenaran mutlak berbeda dari kebenaran yang dikonstitusikan oleh kesadaran-kehadiran-tanda qua tuturan. Dalam buku ini, saya hanya dapat menyimpulkan bahwa kebenaran mutlak adalah kebenaran yang dikonstitusikan oleh hal yang melampaui kesadaran.
Derrida lahir di Aljazair dari keluarga keturunan yahudi. Derrida terkenal dengan pencetusan dekonstruksinya. Disni saya tidak bisa menyebutkan bahwa dekonstruksi merupakan sebuah metode ataupun teori, karena menurut derrida sendiri dekonstruksi bukan merupakan teori ataupun metode. Pengertian dekonstruksi sendiri tidak pernah dijelaskan secara pasti oleh derrida, karena menurut derrida sendiri dengan memberikan definisi yang mutlak dekonstruksi, dikhawatirkan oleh derrida akan jatuh pada logocetris. Logocentris sendiri sangat berhubungan dengan pembentukan akan sebuah ide fix suatu hal. Pembentukan definisi yang fix ini sangat ditolak oleh derrida hal ini membuat kita akan buata terhadap realitas yang sesungguhnya.
Dalam pendefinisian dekonstruksi, Derrida menyerahkan pada semua orang untuk menafsirkanya, karena menurut Derrida seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa ketakutan Derrida akan sebuah pembentukan ide fix yang menemui ujung. Dari penjelasan tersebut penulis mendefinisikan dekonstruksi ini adalah pola pemikiran yang menjelaskan sesuat tanpa dikotomi. Dalam hal ini dekonstruksi juga disebutkan Derrida bisa dikaitkan dengan tulisan, baik dalam hal pembacaan akan sebuah teks mauppun penulisan dalam teks. Dalam penulisan dalam teks sendiri dekonstruksi sendiri merupakan penulisan dengan dua tangan, maksudany disini dalam penulisan dekonstruksi penulis dalam menuliskan sebuah teks harus sanggu melakukan penulisan yang tidak bersifat diskriminasi, penyesihan, penciptaan sang liyan dan terhindar dari logika pemikiran oposisi biner. Pemikiran oposisi biner sendiri adalah gaya pemekiran yang mendikotomikan atau memisahkan antar benar dan salah, siang dan malam, laki laki dan perempuan. Karena menurut Derrida sendiri kerangka berpikir sepertii ini akan jatuh pada logosentrisme, karena yakin dan percaya bahwa yang awal lebih bersifat superior dan kedua bersifat inferor.
Dekonstruksi sendiri juga bisa digunakan dalam melakukan pembacaan terhadap sebuah teks. Dalam membaca sebuah teks dekontsrusksi mencari titik buta dalam sebuah teks atau blind spot. Dalam titikbuta di dalam teks ada hal yang terdesriditkan, ada yang disingkirkan, ada yang disubordinatkan. Dekonstruksi derrida sendiri merupakan bentuk penolakan terhadap tindakan tindakan penindasan dalam teks. Dekonstruksi sebenarnya memberikan kita sebuah pemikiran bahwa harus menghargai yang lain dan tidakn bisa melakukan tindakan menyingkirkan yang lain. Mamasuki dekonstruksi sendiri berarti harus siap masuk dalam gurun yang tak beurujung, seperti yang sudah dibahas sebelumnya dekonstruksi sagat menolak ujung akhir dan suatu yang fix. Dalam dekonstruksi sendiri sangat mementingkan sebuah proses dan menolak suatu yang final. Hal ini menurut Derrida jika kita sudah percaya sampai pada suatu yang final, fix dan akhir membuat kita berhenti untuk berproses, padahal dunia ini selalu berproses dan suatu kebenarabersifat relative, jika suatu kebenaran dianggap benar maka belum tentu kedepan kebenaran akan tetap benar.
Dalam dekontsruksi derrida sangat terpengaruh oleh nietsche, secara garis besar meskipun sebenarnya tidak bisa disederhanakan, dalam pemikiran nietsche sangat menolak akan kebenaran mutlak. Menurut Nietzche kebenaran mutlak dibalik itu ada sebuah hasrat akan kematian, jadi hasrat akan kebenaran dicurigai oleh Nietzche ada hasrat akan kematian. Pemikiran Nietzche inilah yang sangat mempengarui Derrida.
Sepertinya generasi pasca Derrida akan terjangkit sindrom differance ; para procrastinator yang hidup dengan menunda-nunda makna, ababil-ababil galau yang tidak pernah tau awal dan akhir, massa mengambang yang mudah digiring opini kebenaran, dan jiwa-jiwa setia nan tabah yang kering rindu dibuai janji akan perjumpaan dengan the Other.
Menyadarkan 1 hal yg lazim terjadi di kalangan pencari kebenaran: kita terlalu sembrono memproduksi 'kebenaran'. Literasi yang mumpuni untuk menilai dan menganalisis tulisan...
Sebetulnya buku ini menarik, Penulis sudah mengeluarkan kemampuannya untuk mengenalkan lebih mudah ttg derrida dan filsafatnya. Bintang 3 karna faktor sy kesulitan untuk memahami nya meskipun tetap bertahan sampai lembar terakhir. Pembacaan berikut mungkin bisa lebih banyak lagu pemahaman yg bisa didapatkan.
Gara-gara dulu Om aku mau ngasih nama buat adikku ada kata Derrida, aku pun penasaran. Jadi aku nanya ke beliau (waktu itu aku masih kelas 3 SMP). Dengerin penjelasan beliau pas ngomongin Derrida, terus pas ada kata Perancis disebut, aku langsung semakin penasaran dengan siapa itu Derrida.
Dan baru tahun ini diberi kesempatan akhirnya bisa baca buku ini. Kalau nggak dapat tugas UAS buat bikin makalah, terus milih sendiri filsufnya.
Dibaca 2019 Edit review 2021 karena ada typo 😂nggak enak juga dibacanya