Jump to ratings and reviews
Rate this book

Dua Ibu

Rate this book
Dalam kehidupan ada dua macam ibu. Pertama, ialah sebutan untuk perempuan yang melahirkan anaknya. Kedua, ialah sebutan untuk perempuan yang merelakan kebahagiaannya sendiri buat kebahagiaan anak orang lain, dengan rasa bahagia pula.

Yang paling istimewa jika dua macam sifat itu bergabung menjadi satu.

Aku bisa bercerita karena aku memiliki.

Aku memiliki dan ia kupanggil Ibu.

Begitulah pengakuan Mamid. Demikian juga pengakuan delapan anak yang lain yang dikeluargakan karena kasih sayang ibu dan ayah.

Ini memang kisah kasih dan sayang, kisah perjalanan seks, kisah perkawinan, dan juga kisah kematian yang pendek. Ditulis dengan gaya album. Menyajikan suasana per adegan, tidak selalu berurutan tetapi berangkaian, kadang membawa emosi, menyeret kenangan, dan melahirkan penilaian.

Arswendo Atmowiloto menyampaikan pesan kecil kepada calon pembaca, "Mereka yang merasa tidak pernah dilahirkan seorang ibu, dilarang keras membaca buku ini."

Pemenang Hadiah Pertama Yayasan Buku Utama 1981 untuk Karya Fiksi Terbaik

304 pages, Paperback

First published June 1, 2009

14 people are currently reading
204 people want to read

About the author

Arswendo Atmowiloto

127 books156 followers
Seorang yang sangat terkenal di bidang jurnalistik, penulisan dan sinetron. Lahir di Solo 26 November 1948. Sempat kuliah di IKIP Solo selama beberapa bulan, lalu mengikuti program penulisan kreatif di Iowa University, Iowa City, Amerika Serikat (1979). Prestasinya sungguh luar biasa. Banyak karyanya yang telah disinetronkan dan mendapat penghargaan, di antaranya Keluarga Cemara dan Becak Emak, yang terpilih sebagai Pemenang Kedua Buku Remaja Yayasan Adikarya IKAPI 2002. Bahkan karena prestasinya pula, dia sempat masuk penjara selama lima tahun!

Kini ia mengelola penerbitan sendiri yang diberi nama Atmo Group. Ia tinggal di Jakarta dengan seorang istri yang itu-itu saja, tiga orang anak yang sudah dewasa, seorang cucu yang lucu, seekor anjing setia, ratusan lukisan buatan sendiri selama di penjara, serta sejumlah pengalaman indah yang masih akan dituliskan.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
83 (22%)
4 stars
153 (42%)
3 stars
108 (29%)
2 stars
14 (3%)
1 star
5 (1%)
Displaying 1 - 30 of 74 reviews
Profile Image for Endah.
285 reviews157 followers
July 27, 2009
Siapa yang lebih berhak menyandang sebutan ‘ibu’, seorang wanita cantik yang melahirkan kita tapu kemudian meninggalkan kita atau seorang perempuan desa sederhana yang dengan ikhlas dan penuh kasih sayang merawat serta mengasuh kita sebagai anak kandungnya sendiri?

Kurang lebih seperti itulah permasalahan yang dilontarkan Arswendo dalam novel lawasnya yang diterbitkan kembali sejak lebih setengah abad dari penerbitannya yang pertama. Dua Ibu, novel yang mengusung tema sosial, seperti kebanyakan novel Wendo, juga menghadirkan kisah drama kehidupan masyarakat kelas bawah. Sebuah kisah realis yang menyentuh tanpa dengan tokoh-tokoh orang miskin yang optimis dan selalu gembira dalam kekurangan mereka. Agaknya haram bagi tokoh-tokoh rekaan Wendo untuk mengeluh, apalagi meratap-ratap dalam kemalangan mereka.

Novel yang kuberi 3 dari lima bintang ini rasanya sudah pernah kubaca duluuuu sekali, saat aku kelas I SMA. Terus terang, tak ada yang tersisa dalam ingatanku ihwal novel ini kecuali judul dan pengarangnya serta bahwa aku telah menghilangkan buku yang kusewa dari taman bacaan “Intan” di dekat rumahku itu. Karena keteledoranku tersebut, aku kena denda harus menggantinya dengan uang senilai harga buku itu.

Kisah bukunya sendiri tidak ada yang sempat membekas. Aku jadi tidak yakin apakah waktu itu aku benar-benar telah membacanya? :D Tetapi sudahlah, itu tak penting lagi. Yang penting akhirnya kini aku betul-betul membacanya.

Yang terutama aku suka dari karya-karya Arswendo adalah karena tema realita sosialnya. Setiap membaca buku-bukunya aku selalu merasa akrab dengan karakter-karakter dan persoalan-persoalan yang mereka hadapi. Begitu riil. Begitu dekat dengan keseharianku. Seperti layaknya tetangga.

Begitu pun dalam Dua Ibu. Berkisah mengenai seorang perempuan sederhana yang memiliki cinta seorang ibu bahkan bagi anak-anak yang bukan anak kandungnya. Ia memberikan segala yang dimilikinya dengan ketulusan dan keikhlasan hati seorang ibu sejati. Ia mengingatkanku pada ibuku.

Hal lain yang aku suka dari kebanyakan tulisan-tulisan Wendo adalah karena ia selalu menggunakan bahasa yang lugas, sederhana, namun tetap menarik dinikmati. Ia juga tak melupakan unsur humor sebagai bumbu yang menambah lezat cita rasa kisah-kisah rekaannya. Yang “menyebalkan”, humor-humor itu seringkali terasa pahit dan justru membuatku diam-diam menitikkan airmata. Seperti bercanda dalam duka gitu :D.

Lantaran ini karya lawas yang berjarak seperempat abad lebih, barangkali jika dibaca kembali saat ini–khususnya buat para pembaca muda yang tidak mengalami era 80-an–akan mendapati sebuah kesenjangan yang disebabkan kemajuan teknologi sekarang. Misalnya, dalam buku ini kita masih menemui kegiatan surat-menyurat sebagai salah satu bentuk komunikasi antartokohnya. Surat, yang dikirim lewat pos, hari ini mungkin sudah menjadi sebuah benda antik berkat kehadiran internet dan handphone. Siapa lagi di antara kita yang masih memakai surat untuk berkirim sapa dan kabar?

Namun, bagi pembaca sepertiku yang sempat mengalami zaman keemasan surat-menyurat (mulai dari surat cinta hingga sahabat pena), justru menjadi sebuah nostalgia. Kenangan romantis yang rasanya sudah tidak mungkin diulang kembali. SMS, email, dan facebook, tentu akan jauh lebih lekas, murah, dan praktis. Yang masih sanggup bertahan barangkali kartu pos. Itu pun hanya sebatas sebagai suvenir untuk dikoleksi ketimbang penyampai warta.

Surat boleh saja telah menjadi kuno dan ketinggalan zaman, tetapi kisah tentang ibu akan selalu hadir sampai kapan pun, bukan? Semangat itulah yang menjadikan Dua Ibu tetap enak dibaca hari ini. Sebab, seorang ibu tidak akan pernah menjadi usang dan dilupakan. Kita selalu memerlukan sosoknya, di kala sakit maupun senang. Seorang Malin Kundang pun diam-diam boleh jadi merindukan ibunya, setidaknya untuk membuyarkan kutukan.***
Profile Image for Asuka Mai.
635 reviews32 followers
August 15, 2023
Judul : Dua Ibu
Author : Arswendo Atmowiloto
Tebal : 304 hal
Terbit : Juni 2014 (cetul)
Penerbit : @bukugpu
ISBN : 9789792246841

Karya-karya pak Arswendo selalu membuat ku sangat menikmati ketika membaca setiap lembaran-nya. Pertama kali aku berkenalan dengan tulisan beliau ketika aku membaca buku Keluarga Cemara.

Di buku Dua Ibu ini, Pak Arswendo bercerita tentang Ibu yang sangat baik hati yang membesarkan 9 anaknya seorang diri. Bagaimana tidak, kesembilan anak tersebut bukanlah anak kandungnya, melainkan anak yang diberikan kepadanya atau dititipkan kepadanya.

Walaupun bukan anak kandungnya, Ibu rela memberikan segalanya kepada anak-anak tersebut. Termasuk rela berpuasa dan tidak makan demi anak-anaknya tercukupi dahulu.

Seringkali Ibu harus menggadaikan barang-barang dirumahnya. Ia dikenal sangat baik dan tak hanya anak-anak angkatnya yang mencintainya. Penduduk desa pun sangat menghormati nya dan tak segan meminta pendapatnya.

Buku ini ditulis dengan bahasa yang sederhana dan asyik dibaca dengan khas Jawa berlatar di kota Solo. Pak Arswendo sendiri lahir di kota Solo ini.

Saat membaca buku ini, rasanya dibuat rindu kepada ibu kita. Karena buku ini ditulis pada jaman belum adanya telepon genggam, jadinya saat itu berkomunikasi dengan surat-suratan.

ada satu penggalan kata-kata dari salah 1 anak Ibu bernama Adam, saat ia harus kembali kepada orang tua kandungnya, Ia mengucapkan: " Saya akan buktikan bahwa saya tidak akan pernah meninggalkan Ibu. Sampai Ibu mati, saya akan tetap bersama Ibu. Kalau tak ada orang lain, saya yang akan mengubur Ibu".

Bayangkan secinta itu mereka kepada Ibu.

4 ✨ dariku untuk buku ini :)
Profile Image for Sam.
184 reviews17 followers
January 10, 2010
selesai membaca buku ini aq langsung berpikiran...
"aq ingin mama bahagia" ya, bukan hanya pd saat hidupnya tp juga ketika kembalinya. Buku ini membawakan semua peran seorang ibu, ia yang benar, ia yang bisa salah, ia yang selalu rela berkorban... dan anak memang segala-galanya. Pantaslah Tuhan meletakkan surga di telapak kaki ibu!

buku ini tak hanya mengungkap tentang ibu,
tapi juga dua sisi kehidupan... bagaimana mencinta dan dicintai berperan dalam kehidupan pernikahan.. bagaimana jodoh seringkali penuh kejutan dan tetap meninggalkan keheranan.. bagaimana kehidupan membawa manusia kepada SEMUAnya SEMUAnya -- tinggal minta...

kendati bagian terakhir kisah jamil,
seakan memberi kesan melenceng.. tp anggaplah itu ke-bandel-an penulis yang ingin memasukkan esensi politik dari ibu - sang pemberi hidup, semakin kita menjauh darinya semakin jauh napas kehidupan kita dan semakin rindu kita padanya, hehehe...

senangnya berhasil ketemu si pengarang di eve book club
plus dpt tanda mata di buku tersebut :)


aq ingin ibu bahagia
memang aq belum punya harta melimpah
atau memberi hadiah rumah
bahkan sekedar menyampaikan berita yang bs membuatmu mengharu biru
hai, ibu..
sembah sujudku
aq tetap berjanji, kan kubuat engkau bahagia
itu pasti!
Profile Image for Imas.
515 reviews1 follower
March 4, 2016
Novel ini bercerita tentang kisah kasih sayang seorang ibu dalam membesarkan sembilan orang anak yang bukan anak kandungnya sendiri. Anak-anak yang berasal dari orang tua yang berbeda-beda. Ada anak yang sengaja dititipkan atau diberikan oleh orangtuanya. Namun tak menghalangi nya untuk mencurahkan kasih sayang, memperlakukan mereka sebagai anak-anak yang lahir dari rahimnya. Mereka merasa bangga dan bahagia karena dibesarkan oleh seorang ibu yang begitu hebat meskipun hidup serba kekurangan. Mereka tidak ingin berpisah dari ibu seperti yang diungkapkan salah seorang anak Ibu, Adam saat diajak pulang oleh orangtua kandungnya. “Saya akan buktikan bahwa saya tidak akan pernah meninggalkan ibu. Sampai ibu mati, saya akan tetap bersama ibu. Kalau tak ada orang lain, saya yang akan mengubur ibu”.
Penulis menyampaikan dengan gaya khas yang sederhana, dengan nuansa Jawa, dan terkadang konyol. Karakter tokoh-tokohnya detil dan kuat. Buku ini mendeskripsikan seorang ibu secara lengkap, ibu sebagai makhluk luarbiasa yang rela berkorban untuk anak-anaknya, juga ibu sebagai manusia yang bisa salah.
Buku ini bercerita bukan hanya tentang ibu tapi kehidupan.

Semakin banyak hari jauh dari ibu, aku semakin rindu……………………….

Profile Image for Mandewi.
574 reviews10 followers
June 2, 2015
Cara penulisannya yang paling menarik perhatian. Satu babnya kebanyakan terdiri dari hanya tiga halaman. Cocok dan bisa dicontoh nih buat yang mikir kalau nulis novel itu berat karena 'napas'-nya harus panjang. *tunjuk diri sendiri*

Kalau dari segi cerita, nggak usah diragukanlah ya.. Om Arswendo gitu loh. Idola saya! ❤️

Intinya, sih. Tentang perjuangan seorang ibu yang membesarkan banyak anak yang tak semuanya darah dagingnya sendiri. Menyayangi semua yang dirawatnya dengan kadar yang sama. Pengorbanannya luar biasa.

Btw, ini ada kutipan keren dari halaman 12: "Kalau mungkin aku ingin kawin dengan Ibu. Padanya aku tak pernah sangsi bahwa aku mencintainya, dan padanya aku tak pernah sangsi bahwa ia mencintaiku."

<3 <3 <3
Profile Image for Dhani.
257 reviews17 followers
March 6, 2015
Suka tapi nggak pakai banget. Selalu terpesona dengan cara Arswendo bertutur. Padat dengan ruh Jawa, lengkap dengan filosofinya.Sayangnya, ceritanya nggak runut. Kadang terkesan semau- maunya pengarang. Kalau dia mau bahas Mamit, dia akan bahas terus. Lalu loncat ke Ratih, begitu juga.Hanya ibu yang jadi benang merah dari semua adegan di buku ini. Sayang yang kedua adalah beberapa adegan dewasa yang terkesan dipaksakan hadir. Kenapa saya bilang dipaksakan, tanpa adegan- adegan itu, novel ini akan baik baik saja. Atau ini yang dinamakan novel sastra? Entahlah..
Profile Image for Rina Suryakusuma.
Author 17 books111 followers
October 8, 2016
Saya suka cara berceritanya.
Sederhana, apa adanya, dan punya jiwa
Saya suka sama cerita yang disuguhkan oleh penulis, tapi nggak banget

Saya terenyuh baca tentang kebesaran hati si Ibu, tokoh sentral cerita ini yang nggak banyak dapat porsi. Justru saya kenal Ibu ini kebanyakan dari pikiran maupun surat anak-anaknya.

Ada beberapa kebingungan karena memang cerita ini nggak disusun runut, tapi biar begitu, saya cukup menikmatinya

It's a nice reading at the end

Profile Image for Aprilia Cheni.
2 reviews
March 21, 2015
"Setiap bangun, aku bersyukur. Satu hari telah lewat, ya Tuhan. Setiap akan tidur, aku bersyukur. Satu hari akan lewat lagi, ya Tuhan. Semakin banyak hari yang kulewatkan, semakin dekat jarak kembali ke Ibu."
Profile Image for Ani Andriyanti.
108 reviews4 followers
November 30, 2018
Bahasanya sederhana, tetapi ga biasa. Yang sangat mengganggu adalah ketika di dalamnya ada konten berbau seks yang sebenarnya tidak ada pun tidak berpengaruh terhadap isi buku ini. Balik lagi ya, poin ini penting soalnya buat saya :)
Profile Image for Tita.
32 reviews1 follower
January 9, 2015
karena banyak tokoh yang diceritakan, agak ribet dibaca sambung-menyambung.
tapi overall ceritanya menyentuh.
Profile Image for Brigitta.
4 reviews
May 2, 2015
Dua Ibu adalah buku pertama Arswendo yang saya baca.
Yang saya suka dari tulisan ini adalah detail-detail tentang suasana rumah nuansa Jawa...
Profile Image for HanungWL.
17 reviews1 follower
March 13, 2020
Sepertinya belum ada buku bertema "ibu" yang tidak membuat saya menangis dan ini salah satunya.
Entah bagaimana bagian ketika Ibu pada akhirnya meninggal dunia sempat membuat saya termenung, tercenung, kemudian menangis.

Dari buku ini saya, sebagai perempuan, jadi tahu bagaimana perasaaan anak laki-laki ketika ditinggal ibunya pergi untuk selamanya. Perpisahan saja sudah sulit, apalagi kalau ditinggal selamanya.

Saya suka penggambaran Arswendo yang menurut saya menyeluruh tentang cinta anak kepada ibu, baik anak laki-laki atau anak perempuan. Keduanya punya porsi cinta yang sama, meskipun cara penggambarannya berbeda.

Saya secara pribadi menyukai Ratsih atau Ratih, dari berbagai sisi. Menurut saya dia sangat lugu, tetapi bisa menggambarkan perasaannya dengan sangat jelas. Dia detail, tetapi juga singkat. Segala hal diceritakan kepada Ibu meskipun hanya melalui surat. Suratnya bisa berlembar-lembar panjangnya. Saya merasa sedikit banyak saya mirip Ratsih.

Membaca buku ini kadang sedikit bingung karena ada banyak sekali tokoh di dalamnya, tentu saja, selain sudut pandang Ibu. Semua cerita Ibu, dari sudut pandang semua orang lain yang berada di sekitar Ibu. Akan tetapi, pembedanya mudah terlihat dari panjangnya isi bab. Jika si anak lelaki yang bercerita, pasti pendek. Ketika si anak perempuan yang bicara, bisa berlembar-lembar! Itulah yang saya salut dari Arswendo.

Catatan:
ini buku kedua karya Arswendo yang sudah saya baca. Buku pertamanya Kau Memanggilku Malaikat tidak mengecewakan saya, begitu pula dengan buku ini.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for N.  Jay.
242 reviews9 followers
July 20, 2022
Buku ketiga dari pak Arswendo yg selesai saya baca, dan seperti biasa ditebak dari penulisannya sama ringan namun ada kedalaman juga dalam menggambarkan relasi ibu serta para anak-anaknya di buku ini. Yang sebagian kisahnya tersampaikan melalui Mamid dan surat menyurat Solemah serta Ratsih.

Membaca buku ini rasanya seperti menemui bagian dari masa lalu keluarga sendiri meski tidak sama persis, bagaimana sejarah keluarga yg diketahui anak-anaknya hanya sedikit sekali bahkan sangat samar seperti bisik-bisik sekilas.

Karakter ibu yg teguh dan keras kepala demi anak-anaknya sedikit mengingatkan saya pada ibuk yg secara tidak langsung menjadi orangtua tunggal bagi kami bertiga karena bapak merantau di kota yg jauh sekali dari desa tempat kami sekeluarga tinggal. Bagaimana dia tidak akan sungkan-sungkan mengorbankan tenaganya untuk memberi makan dan membahagiakan anak-anaknya.

Hanya saja membaca potongan ceritanya yg seperti kain perca ini sedikit membingungkan dan menimbulkan kekurangan kedalaman dlm melihat karakter lain, misalkan bapak atau pun orang-orang yg ternyata orangtua kandung masing-masing anak yg dimunculkan (mungkin akan lebih membantu seandainya serialnya masih ada dan ditayangkan ulang). Meski itu sendiri tidak mengurangi daya keseruan pembacaannya yg mengalir lancar dari penulisannya.

Dan seperti dugaan saya sejak lama, pak Arswendo ini memang mendedikasikan dirinya untuk menulis cerita persoalan keluarga saja, meski kadang ada bumbu romansa dan komedi disana sininya.
Profile Image for Sanya.
90 reviews8 followers
February 9, 2018
Sederhana, tapi saya suka. Tokohnya, seperti dalam novel Arswendo yang saya baca sebelumnya, kebanyakan anak-anak. Sebab, yang diceritakan adalah ibu, dan tidak ada ibu tanpa ada anak. Serunya, setiap tokoh kemudian berjalan meniti hidupnya masing-masing. Ada yang kembali bersama orang tua kandungnya, menikah dan beranak-pinak, mengembara menjadi petinju, dan ada pula yang 'ngintil' kakak-kakaknya. Sampai akhir, pembaca tidak diberitahukan secara gamblang siapa 'ibu' ini, dan kenapa ia mau menjadi seorang'ibu' yang merawat anak-anak yang bukan anaknya. Arswendo juga tidak menyoroti alasan kenapa anak-anak itu dibesarkan oleh si 'ibu', tapi lebih ke bagaimana anak-anak ini sangat menghormati seorang perempuan yang telah merawat dan mendidik mereka sampai dewasa atau bertemu dengan orang tua kandung mereka atau menjalani hidup dengan cara lain.
Profile Image for Farhane.
29 reviews19 followers
April 21, 2018
Buku ini memiliki jeda yang sangat pendek. Satu bab hanya berisikan tiga sampai empat halaman. Seperti karya Arswendo lainnya, ia lebih senang menggunakan bahasa sederhana dan sisipan bahasa daerah. Bagi saya yang orang Jawa, membaca tulisannya seperti pulang ke rumah dan menyimak cerita Mbah Kakung tentang falsafah hidup orang Jawa.

Meski buku ini memuat satu kisah secara utuh, namun penuturannya bisa dibilang tak beraturan. Kisah tentang A belum tuntas, sudah bergeser ke B, lalu C, dan seterusnya. Tapi meski begitu, keindahan buku ini tidak hilang. Sekali lagi, ini adalah tentang pemilihan bahasa. Sederhana, tidak tinggi, tidak menggurui, tapi tetap mengena.

Secara tidak langsung, Arswendo ingin membuktikan bahwa sastra bukan soal kerumitan bahasa. Lebih dari itu: sastra ialah upaya menyederhanakan
Profile Image for Sri.
897 reviews38 followers
March 10, 2019
Arswendo memang jagonya menulis mengenai keluarga, dengan anggota keluarga yang masing-masing memiliki karakter unik. Kesamaan mereka, di buku ini, adalah semuanya pengagum berat ibu. Ibu layak ditulis dengan semua huruf kapital, IBU, karena kebesaran hatinya, keluasan kasih sayangnya.
Aku sendiri paling menggemari karakter Ratsih, atau kemudian menjadi Ratih. Ratih yang tak pernah jelas asal muasalnya (paling tidak Mujanah & Herit diketahui kakak beradik), mamah Mamid punya Om Bong dan Solemah sejak awal diceritakan menikah dengan Mas Jon, jadi berkesan nggak terlalu ngenes. Mamah Mamid malah hidup sangat berkecukupan.
Dan karakter siapa yang paling tidak kugemari? Ya tak lain Mamid itu sendiri :’). Mungkin karena Mamid yang paling makmur orang tuanya, yang paling baik nasibnya :P. Ah, enggak juga. Karena Mamid nakal, suka ngeboongin ibu sehingga ibu marah-marah pada ayah.
Profile Image for Menak Puji.
6 reviews
August 6, 2025
Yang menyenangkan dari gaya cerita Arswendo Atmowiloto adalah beliau tidak pernah benar-benar fokus menceritakan satu orang atau satu alur cerita dan lebih banyak memulai dengan penggalan-penggalan kejadian yang sederhana sambil disisipkan opini-opini yang dalam. contohnya dalam novel "Dua Ibu" ini, Beliau bisa dengan mudahnya menyisipkan sanjungan tentang ibu melalui kisah-kisah Mamid bersama kakak-kakaknya dan bagaimana interaksi mereka kepada Ibu maupun kepada sesama saudara. Menurutku jika ingin mengajarkan anak pentingnya silaturahmi hubungan terhadap saudara dan kerabat, pentingnya peran orang tua terutama Ibu dalam kehidupan anak, dan eratnya hubungan orang tua dengan anak tanpa harus ada ikatan lahir, Dua Ibu adalah buku yang tepat.
Terima kasih Pak Arswendo, telah menulis buku yang seindah ini.
Profile Image for Maya.
206 reviews8 followers
October 9, 2017
Hal yang membuat buku ini menarik bagi saya ialah kehidupan rakyat Jawa jelata sebagai latar belakangnya. Bagaimana Mamid, Ibu, dan keluarga berusaha menjaga nama baik mereka dengan mengadakan pesta pernikahan dan khitan yang layak, meskipun kehidupan mereka sangat melarat. Detil-detil dari dunia nyata yang diceritakan membantu menghidupkan imajinasi saya. Penuturan karakter-karakter yang lugu juga bisa menumbuhkan rasa simpati pembaca.

Kisah ini ingin menyampaikan bahwa kasih Ibu yang selalu mengutamakan anak-anak sungguh bisa menyentuh, bahkan menumbuhkan rasa balas budi yang tulus dari lubuk hati Mamid serta saudara-saudaranya. Sekalipun tidak semua dari mereka memiliki hubungan darah, mereka tetap memiliki alasan untuk berkumpul kembali: Ibu.
Profile Image for Rakvenclaw.
21 reviews1 follower
August 13, 2023
Awal bertemu buku ini sewaktu mengunjungi Perpus Kota Malang. Kemudian lanjut baca di Gramedia Digital. Kehidupan masa reformasi dengan latar mayoritas Solo, kemudian kisah-kisah di kota lain seperti Jakarta, Malang, dan Surabaya. Terasa dekat karena membahas keluarga Jawa yang dibesarkan oleh seorang Ibu yang bukan Ibu kandungnya. Tentang anak-anak yang "dibuang" orang tua kandungnya sebab terlampau miskin pada masa itu, dan mereka begitu terhubung sebagai saudara tanpa ikatan darah. Melainkan karena kasih sayang seorang Ibu. Banyak hal yang dibahas perihal keluarga, pertumbuhan dan perkembangan anak, perkawinan, hingga beberapa sematan isu sosial di masa itu. Bacaan yang mengasyikan dengan begitu banyak karakter yang kuat dan unik.
Profile Image for Amal Bastian.
115 reviews4 followers
November 23, 2016
Tidak diperuntukkan bagi pembaca yang tidak atau kurang dibesarkan oleh kasih sayang ibu. Menuturkan cerita sederhana, dikemas dengan kesederhanaan pula, dan membacanya pun akan memahami betapa dibalik kesederhanaan dari sebutan wanita dengan peran ibu, terdapat mahligai kekuatan perempuan mahadahsyat. Mulai dari pengorbanan hingga cita-cita ilahiyah tak berpamrih. Arswendo mendefinisikan secara eksplisit tentang sebutan ibu, mana yang hanya biologis, mana yang memberi kesan magis. Dimunculkan dalam plot cepat dan terus memikat.
Profile Image for Sheeta.
215 reviews17 followers
November 24, 2022
Dua Ibu menceritakan tentang sosok dua wanita yang dipanggil "Ibu" namun memiliki peran dan sifat yang berbeda.

Mana yang kamu pilih:
Seorang ibu yang melahirkanmu, cantik, tetapi kemudian meninggalkanmu atau seorang ibu yang sederhana, tinggal di desa, dan merawatmu dengan sepenuh hati?

Seperti novel Arswendo lainnya, Dua Ibu juga menceritakan tentang kehidupan sosial dari masyarakat kelas bawah. Membicarakan tentang sosok dua ibu yang berbeda dan bagaimana seorang anak tumbuh. Ketika bersama ibu yang merawatnya dan ibu biologisnya.
Profile Image for Vanda Kemala.
233 reviews68 followers
October 29, 2019
Selalu suka cara Arswendo bercerita tentang kehidupan keluarga dan nggak perlu diragukan lagi.

Gaya bercerita yang tiap bab hanya 3-4 halaman, cukup membantu untuk memahami cerita dari tiap tokoh di buku ini, yang kebetulan cukup banyak.

Tapi dari banyaknya itu, semua bermuara pada hal yang satu. Ibu dan kasih sayangnya, yang sekalipun dalam keadaan papa, sama sekali tidak dibeda-bedakan antara anak satu dengan yang lainnya.

Entah itu yang lahir dari rahimnya sendiri atau tidak.
65 reviews
December 18, 2018
Beberapa quote yang saya suka:

Kemiskinan deka sekali dengan kejahatan. Kalau kau miskin tanpa menjadi jahat, kau akan memetik hasilnya. (page 47)

Bagiku mendengarkan pertengkaran lebih menarik daripada mendengarkan siaran keroncong atau musik pop. (page 140)

Bagus sekali ceritanya. Bagus gaya penceritaannya. Terhuraaa.
Profile Image for Afifah Shafa.
61 reviews3 followers
March 25, 2021
Tidak melanjutkan karena ada konten yang cukup vulgar. Tapi, secara penulisan, sangat sistematis dan tidak ada istilah-istilah sulit. Penggambaran kondisi ekonomi yang memprihatinkan juga dijelaskan dengan jelas.

Buku ini bagus, tapi bukan preferensi saya :)
Profile Image for Levinia Aldora.
91 reviews3 followers
October 6, 2017
Secara pribadi seakan mengajarkan aku bagaimana suatu saat nanti menjadi seorang ibu yang baik, karena tak senantiasa ibu yang melahirkan kita adalah ibu yang mengajari kita untuk hidup.
Profile Image for Nisiiwidi.
10 reviews
August 7, 2021
Sosok ibu di sini adalah sebagai benang merah tentang bagaimana kisah anak-anak tumbuh menghadapi kenyataan kehidupan.

Waktu membaca, aku terkaget-kaget karena menemui beberapa plot twist.
20 reviews
September 3, 2021
Membeli karena dari judulnya terlihat bagus, eh pas baca beneran bagus. Tapi agak kecewa dengan sikap tokoh utamanya, bukan tidak suka.
Displaying 1 - 30 of 74 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.