Menyebut nama Betawi selalu mengingatkan kita pada bermacam-macam stigma negatif. Laki-lakinya tukang kawin, perempuannya pasrah, pendidikan tidak penting, dan anak mudanya ketinggalan jaman. Tapi benarkah demikian?
Novel Kronik Betawi karya Ratih Kumala ini bercerita tentang perjalanan kota Betawi dan anak daerahnya menghadapi modernisasi dan menepis berbagai persepsi miring terutama dari para pendatang. Kerelaan berbagi dengan kaum pendatang dalam mengais rejeki di ibukota ternyata tidak sebanding dengan dampaknya. Kota Jakarta bagai bukan milik penduduk aslinya lagi. Diceritakan, pembangunan yang sembarangan dan pertumbuhan permukiman bahkan telah menghilangkan asal-usul serta sejarah beberapa tempat.
Novel ini khas Betawi. Menghibur, menyindir, dan ceplas-ceplos. Sebuah pengingat, dokumentasi, dan apresiasi bagi nilai-nilai dan keluhuran budaya Betawi yang patut dibanggakan.
Ratih Kumala, lahir di Jakarta, tahun 1980. Buku pertamanya, novel berjudul Tabula Rasa (Grasindo 2004, GPU 2014), memenangkan Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2003. Novel keduanya, Genesis (Insist Press, 2005). Kumpulan cerita pendeknya, Larutan Senja (Gramedia Pustaka Utama, 2006). Buku keempat berjudul Kronik Betawi (novel/GPU, 2009) yang sebelum terbit sebagai buku juga terbit sebagi cerita bersambung di harian Republika 2008. Buku kelimanya berjudul Gadis Kretek (GPU, 2012) dan buku keenamnya adalah Bastian dan Jamur Ajaib (GPU, 2015). Novelnya Gadis Kretek (GPU, 2012) masuk dalam Top 5 kategori prosa Khatulistiwa Literary Award 2012, dan telah diterjemahkan ke Bahasa Inggris –Cigarette Girl (GPU, 2015), bahasa Jerman – Das Zigarettenmadchen (culturbooks publishing, 2015), dan tengah diterjemahkan ke Bahasa Arab untuk diterbitkan di Mesir.
Selain menulis fiksi, Ratih juga menulis skenario untuk televisi dan film layar lebar. Saat ini ia tinggal di Jakarta.
Belum lama ini beredar lelucon soal slogan baru Jakarta di twitter. Jakarta Berkumis alias berdebar kalau gerimis. Miris. Sama mirisnya dengan nasib orang Betawi. Jadi inget waktu mau ujian kompetensi untuk dapetin sertifikat dari ASITA. Waktu itu untuk guiding, gue gak tau mau cerita apaan, selain bahan wajib. Trus akhirnya dateng ke Bamus Betawi di Gedung Nyi Ageng Serang, Kuningan. Di situ dapet informasi soal kebudayaan betawi. Gue akhirnya memutuskan untuk mengulik tentang Tanjidor. Dari bamus gue tahu kalau ada salah satu grup Tanjidor yang tempatnya gak jauh dari rumah. Gue lupa namanya grupnya, tapi adanya di daerah Kalisari.
Gue dateng ke rumahnya pimpinan rombongan. itulah awal perkenalan gue sama Pak Marta Nyaat. Selain cerita gimana perkembangan kesenian betawi yang satu itu, dia juga berkeluh kesah. sedih karena gak lama lagi kayaknya kesenian ini akan makin tergusur. Generasi yang lebih muda lebih menyukai musik pop ketimbang musik tradisional. Pak Marta cerita kalau anaknya sendiri enggan meneruskan usaha kesenian miliknya itu. Undangan manggung pun semakin surut.
Sebagai salah satu keturunan Betawi, gue cuma bisa merasa tersindir, karena gak bisa mencintai dan melestarikan kebudayaan gue sendiri... entah sampai kapan orang betawi dan kebudayaannya masih akan bertahan...
PS. Ini buku GPU yang paling banyak typonya, sampe gue ragu kalo nih buku terbitan GM. belum lagi karena isi buku ini diangkat dari cerita bersambung di harian Republika. berarti harusnya kesalahan itu gak perlu ada. trus ada kesalahan CPM ditulis CMP di hlm.69 kalo gak salah.
PS. (lagi) makasih buat bang harun anak kampung tengah nyang udah minjemin ini buku :)
"... anak Betawi... ketinggalan zaman, katenye...."
Membaca buku ini akan mengingatkan kita pada sinetron “Si Doel Anak Sekolahan” yang diperankan oleh Benyamin Sueb dan Rano Karno. Seperti juga sinetron tersebut, buku ini juga mencoba memberi gambaran pada kita semua bahwa tidak semua masyarakat Betawi ketinggalan zaman.
Jakarta sedianya adalah milik masyarakat Betawi. Mereka menjadi juragan berhektar-hektar tanah secara turun-menurun. Tapi sayangnya masyarakat Betawi sering digambarkan sebagai masyarakat bodoh yang ketinggalan zaman. Akhirnya ibukota bukan lagi milik mereka. Masyarakat Betawi kini hanya menjadi masyarakat pinggiran sementara lokasi-lokasi elite nan strategis di ibukota dikuasai oleh kaum pendatang. Betapa ironis, masyarakat Betawi menjadi masyarakat yang terpinggirkan di kampung halamannya sendiri.
Buku ini berkisah tentang sebuah keluarga Betawi dengan segala permasalahannya. Kisah berawal dari keluarga Bung Juned yang memiliki 3 orang anak. Bung Juned dahulu bekerja untuk seorang Belanda bernama Tuan Henk yang memiliki peternakan sapi. Ketika Jepang masuk ke Indonesia, Tuan Henk kembali ke Belanda dan mewariskan rumah dan sapi2nya yang tersisa kepada Bung Juned. Jadilah Bung Juned mengawali hidupnya sebagai juragan sapi perah. Kisah kemudian berlanjut pada kehidupan ketiga anak Bung Juned: Jaelani, Jarkasi, dan Juleha dengan segala permasalahan mereka.
Jaelani: Menikah dengan Salomah setelah ditinggal mati Rimah istrinya. Dari Rimah, Jaelani dikaruniai 3 orang anak: Japri, Juned, dan Enoh. Sedangkan dari Salomah dikaruniai seorang anak bernama Fauzan. Japri dan Juned menggambarkan tipikal anak Betawi yang umumnya sering saya lihat di lingkungan tempat tinggal saya. Enggan bersekolah, malas dan maunya hidup langsung enak dengan mengandalkan warisan dari orang tuanya, Enoh bersuamikan seorang Betawi lain yang berpikiran lebih maju sehingga mempunyai kehidupan yang lebih mapan, sedangkan Fauzan adalah anak Betawi tipikal si Doel dalam serial televisi “Si Doel Anak Sekolahan”. Fauzan menjadi anak kebanggan orang tuanya karena berhasil mendapatkan beasiswa untuk kuliah di Amerika.
Jarkasi: Selalu bertentangan pendapat dengan istrinya mengenai kegemaran anak mereka Edah dalam melestarikan budaya Betawi. Eden tidak rela anaknya menjadi penari karena alergi dengan pandangan masyarakat di lingkungan mereka yang mengatakan kalau seorang penari bisa dicolek-colek dan “dibawa”. Setelah nyaris terperangkap dalam jaringan penjualan abg sebagai PSK ke luar negeri, Edah akhirnya bisa mewujudkan impiannya untuk menari di luar negeri sebagai duta budaya melalui seleksi yang diadakan sebuah Departemen Pemerintah.
Juleha: Tipikal wanita yang “nrimo”. Meski dalam hatinya tak rela, ia terpaksa mengizinkan suaminya menikah lagi demi mendapatkan seorang anak yang tak kunjung mereka dapatkan.
Cerita mengalir dengan gaya bahasa yang cerdas sehingga tidak membosankan untuk dibaca. Dialog-dialog yang terjadipun terasa hidup dan akrab dengan keseharian masyarakat Betawi yang sarat dengan pesan-pesan agama tanpa terkesan menggurui. Kadang kita pun akan tertawa geli membayangkan semua peristiwa yang diceritakan. Coba saja simak percakapan mereka ketika Fauzan lolos UMPTN untuk masuk ke Universitas Negeri terkemuka di Jakarta:
Fauzan: Beh ! Beh ! Berhasil ! Berhasil ! Paujan Berhasil ! Jaelani: Apaan ? Apenye yang berhasil ? Lu dapet lotere ? Fauzan: Lotere… lotere… haram! Jaelani: Nah terus apaan? Fauzan: UMPTN, Beh ! Jaelani: Apa? Umpetan ? Lu badan udah segede gini masih maen umpetan. Kagak malu ama jambul lu! Fauzan: Aah… Babeh, bukan umpetan. U-eM-Pe-Te-eN Jaelani: Apaan tuh ? Fauzan: Singkatan Beh, Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri Jaelani: Terus? Fauzan: Ini ujian masuk kuliah. Aye lolos ! Jaelani:Lolos! Lu lolos! Lu masuk kulia…! Nah… kalo lu udah selesai kulia, lu jadi apa? Fauzan: Jadi tukang insinyur, Beh! Kayak si Doel! Aye diterima di arsitektur! Jaelani: Horeeeeee…. Anak gue bakal jadi tukang insinyur kayak si Doel!
Sudah waktunya kita merubah pandangan kita tentang masyarakat Betawi karena ternyata masih banyak diantara mereka yang berpikiran maju, yang ingin meraih pendidikan sampai ke jenjang yang tertinggi. Buku ini mencoba membuka mata kita untuk melihat bahwa meskipun banyak dari mereka sekarang hanya menempati wilayah pinggiran tapi mereka bukanlah masyarakat yang terpinggirkan. Mereka adalah bagian dari kita, memiliki keinginan yang sama dengan masyarakat lainnya, maka sudah selayaknya lah bagi kita semua untuk tak lagi memandang sebelah mata pada mereka.
Kronik Betawi, ya tentang problematika orang Betawi. Diceritakan dari berbagai sisi, ada perempuan dan laki-laki. Dikemas dengan baik.
Orang Betawi selalu mengingatkan kita pada Si Doel Anak Sekolahan. Bener memang begitu dulu, bagaimana Babe Sabeni bahagia banget bisa menyekolahkan anaknya sampe kuliah, sampe jadi tukang insinyur. Begitu juga dengan Haji Jaelani dalam cerita ini.
Haji Jaelani : punya anak empat, Japri, Juned, Enoh dan Fauzan. Punya peternakan sapi hasil warisan tapi sayang kedua anak lakinya gak mau nerusin ngurusin sapi. Belum lagi dia harus merelakan tanahnya digusur dibangun jadi ruko.
Haji Jarkasi : adeknya Haji Jaelani, orang seni. Dia meneruskan kesukaannya dengam Gambang Kromong, khas Betawi. Walau udah berkurang peminaynya, dia tetap meneruskan kebudayaan itu. Anaknya, Edah juga suka menari khas Betawi.
Juleha : adeknya Jarkasi, harus rela suaminya, si penceramah agama, menikah lagi lantaran dia belum juga dikaruniai anak.
Permasalahan yang muncul dalam buku ini memang terjadi pada masyarakat Betawi, saya rasa Ratih Kumala melakukan riset mendalam soal ini. Dari gaya bahasa yang tertulis, terasa sekali Betawinya. Saya bisa merasakan bagaimana menjadi Jaelani, Jarkasi maupun Juleha. Ya, walau memang endingnya kerasa belum menyelesaikan semua persoalan yang ada, tapi tetap saja buku ini menarik.
Membaca novel lawas ini menyenangkan sekali, selain memang sudah langka juga menyaksikan bagaimana style awal-awal Mbak Ratih Kumala.
Secara isi novel ini sangat kaya akan isu antropologi manusia dan sosial Jakarta. Bagaimana keluarga Betawi harus tergusur oleh pembangunan Jakarta, juragan tanah di Karet harus berhadapan dengan pengembang, penipu, dan akhirnya tergusur.
Jakarta berubah dalam kehidupan sosial, juga pendatang yang mulai memenuhi sudut-sudut Jakarta.
Paling detail dan seru adalah bagaimana juragan tanah Betawi nggak mau pindah ke perumahan, sebab tidak ada kawan bergurau. Menurutku ini tanda perubahan komunal di lingkungan rural, harus berubah ke individu perkotaan.
Sangat menarik. Buku ini begitu menggambarkan suasana kehidupan sehari-hari warga Betawi, dengan berbagai anggapan dan paradigma yang menyelimutinya. Menceritakan kisah sebuah keluarga besar, yang masing-masing tokohnya memiliki konflik yang harus diselesaikan.
langsung aja, kenapa 4 bintang.
Konflik di sini tergolong ringan, tak perlu benar-benar dipikirkan, tapi nyata dan sering terjadi di sekitar kita. Sejujurnya, saya selama 3 tahun kuliah di Jakarta, kebetulan ngekos di kontrakan orang Betawi, dan seperti yang digambarkan di buku ini, orang Betawi begitu lekat dengan mata pencaharian ojek. Juga juragan kontrakan. Seperti bapak kos saya.
selain itu, di lingkungan kos banyak yang memelihara kambing, bukan sapi perah seperti di buku sih. Kesamaannya adalah, mereka cenderung tidak menguruskan ternak itu, dan melepaskannya begitu saja di lingkungan kampus saya. Pernah satu kejadian, dimana kambing masuk ke gedung kuliah tanpa ada yang mengawasi, ikut naik ke lantai 3, dan hampir masuk ruang kuliah. Ok, pikirlah dia ingin menuntut ilmu.
Selain itu mereka gemar melakukan syukuran, dan pasti akan menanggap hiburan. Mungkin sudah jarang yang menanggap gambang kromong, karena pengalaman saya mereka lebih sering menanggap dangdutan. Saya memilih tidur di kamar -_-"
Sebetulnya saya ingin memberi 5 bintang, tapi sayang sekali, di sini banyak sekali typo dan inkonsistensi penggunaan istilah Betawi. seperti kadang menggunakan pegimane dan pegimana, lalu saye,aye dan gue, dan banyak lagi. Hal ini membuat saya urung menyerahkan 5 bintang untuk karya Ratih Kumala ini ^^
Kisah satu keluarga Betawi dari jaman eyang sampe cucu-nya. Bagaimana kehidupan sehari-hari, dari jaman kompeni masih ada di bumi pertiwi hingga kapitalisme merajalela. Bagaimana budaya mulai tergusur oleh modernisasi.
Sedikit mengingatkan gw dengan model penceritaan di novel Bonsai - Hikayat Satu Keluarga Cina Benteng-nya Pralampita Lembahmata. Tutur bahasa khas Betawi yg lugas membuat pembaca mampu berempati terhadap uneg-uneg Bung Juned, Ipeh, Haji Jaelani, Haji Jarkasi, Juleha dan anak-anak mereka.
Benar-benar disuguhi aneka sajian berupa tokoh-tokoh unik, berbagai kisah hidup menukik, serta rona budaya yang amat lezat teracik. Bersiaplah mendapat kenalan baru yaitu seluruh tokoh yang hidup dalam rangkaian kehidupan dari generasi ke generasi. Polos, apa adanya, natural. Tergelak pada sudut-sudut tertentu dalam novel ini amat mengasyikkan. Terisak mengetahui kepedihan dari "para kenalan baru" kita juga alangkah menghanyutkan. Bersiap sembab. Nikmati terus jangan berhenti >> sisi-sisi manusiawi Kronik Betawi :) .
Lika-liku kehidupan keluarga Betawi. Yang pikirannya g mau maju ya mentok jadi tukang ojek. Motornya pun dikreditin babeh. Motor kredit dibawa trek2an pula dan kena ciduk karena kalah balapan. Pol2nya dimodalin lagi ama babeh biar enak jadi juragan rumah petak. Sedang yang keukeuh dengan cita2nya ya bisa berhasil juga tuh.
“Banyak yang hilang dimakan waktu, atau mungkin lebih tepatnya, dimakan peradaban. Walaupun saya tidak setuju menyebut musabab kehilangan itu adalah ‘peradaban’ sebab menurut saya sebutan itu hanya tameng bagi orang-orang yang serakah. Berkali-kali saya bertanya, tanpa tahu jawaban sebenarnya; apakah yang namanya peradaban itu berarti membangun banyak Gedung? Yang hilang tidak cuma tanaman-tanaman saja, yang menyisakan nama, tetapi sejarahnya juga ikut terkubur.” -hal 73.
Kronik Betawi berkisah tentang tiga generasi keluarga penduduk asli Jakarta sejak kota itu masih bernama Batavia di bawah pemerintahan Belanda. Bung Juned, generasi pertama, memiliki tiga anak: Jaelani, Jarkasi, dan Juleha. Jaelani melanjutkan usaha ayahnya beternak sapi perah, sementara Jarkasi menekuni kesenian gambang kromong, orkestra tradisional Betawi. Juleha menikah dengan Jiih, seorang pemuda Betawi yang setelah naik haji menjadi penceramah yang cukup terkenal.
Kehidupan warga asli Betawi ini tidak terlepas dari konfik keluarga: Jaelani yang kehilangan istri tercinta, Juleha yang pada akhirnya dimadu karena tak kunjung melahirkan anak, Jarkasi yang nyaris kehilangan putri semata wayangnya gara-gara human trafficking. Tak hanya itu, mereka juga harus bertahan dari arus peradaban yang dirasa semakin menggeser nilai-nilai dan kebudayaan orang Betawi. Dimulai dari penggusuran tanah yang sudah menjadi milik turun-temurun, anak-anak yang merasa lebih terhormat menjadi tukang ojek ketimbang beternak sapi, belum lagi kesenian tradisional yang pamornya semakin tergeser hingga nyaris kehilangan peminat sama sekali.
Ratih Kumala berhasil menyajikan konflik keluarga sekaligus krisis identitas dengan apik, ditimpali percakapan renyah dan celetukan jenaka dengan aksen khas Betawi yang pas. Ia juga menciptakan karakter-karakter sederhana namun kerap melontarkan pernyataan-pernyataan menyentil tentang esensi kemanusiaan dan peradaban. Buku ini meneguhkan posisi Ratih Kumala sebagai salah satu penulis favoritku.
Tertarik dengan kata “Kronik”, yang bila diterjemahkan berarti catatan peristiwa menurut urutan waktu kejadiannya. Hal ini selaras dengan alur dari novelnya, diceritakan secara runut menceritakan keturunan Betawi dimulai setelah sumpah pemuda sebelum jepang datang hingga masa reformasi menjadi latar waktu dalam novel ini. Novel ini seperti sebuah biografi, bukan biografi seseorang, tapi biografi sesuatu, biografi sebuah kota dengan etnis aslinya yang semakin terpinggirkan oleh pendatang dan pembangunan.
Kisah tentang Haji Jaelani, Haji Jarkasi dan Juleha. Ketiganya mewakili permasalahan-permasalahan yang terjadi di lingkungan masyarakat Betawi pada umumnya. Jaelani mewakili kalangan masyarakat yang tanahnya terkena gusuran. Padahal tanah tersebut merupakan tanah warisan dari babehnya (ayahnya). Adiknya yaitu Jarkasi mewakili golongan masyarakat yang memiliki mata pencaharian pertunjukan gambang kromong . Akhirnya karena perkembangan zaman, pertunjukan semakin sepi orderan. Selain sepi mereka pun hanya dibayar seadanya. Sementara adik mereka, perempuan satu-satunya, Juleha, mewakili golongan perempuan Betawi yang mengalami poligami. Juleha mewakili perempuan Betawi yang menolak adanya anggapan bahwa para suami yang menikah lagi itu merupakan sebuah tradisi.
Novel yang cukup menarik dengan kalimat ceplas ceplosnya khas orang betawi. Ditambah bagian bagian dari percakapan dalam novel ini yang membuat saya tersenyum lebar, karena bahasa betawinya. Sudah sangat lama hampir 10 tahun lebih jarang mendengar lagi bahasa tersebut, semenjak aktivitas lebih banyak di Bandung. Pada awalnya pembaca mungkin bingung karena begitu banyaknya tokoh, bingung pada awalnya uniknya, begitu sampai ditengah tak perlu membolak balik, kita akan mulai mengerti sedikit demi sedikit menjadi sebuah kesatuan yang menarik dan unik.
Anak Betawi, ketinggalan jaman, katenye~ Anak Betawi, gak berbudaye~ katenye~
Kronik Betawi hadir dengan latar tempat yang akrab ditelinga. Sebagai anak yang dibesarkan di lingkungan Betawi, buku ini rasanya seperti 'dekat' karena betul-betul menyentuh tiap sendi kehidupan masyarakat Betawi dan stigma-stigma masyarakat yang tumbuh dan melekat pada tiap individu baik laki-laki dan perempuannya.
Sistem patriarki yang selalu dibalut dengan agama seakan kental melekat dalam laki-laki Betawi, pun dengan perempuannya yang siap dijadikan istri ke 2 maupun keempat. Mereka hanya mampu menerima dalam getir walau dengan adanya embel-embel 'perempuan harus nurut sama suami' terpasang di kepala mereka masing-masing.
Mengenai keresahan lain soal tanah. Kepemilikan tanah di Jakarta, sudah bukan lagi milik orang Betawi asli. Kebanyakan dari mereka sudah melipir ke Jakarta pinggiran dan membentuk komunitas sendiri. Sementara, tanah bekas rumah mereka sekarang, khususnya di kawasan elit seperti Sudirman, Karet, Cikini, kini sudah beralih fungsi menjadi kawasan pusat perkantoran dan bisnis.
Ironi juga hadir kala monas sekarang bukan lagi satu-satunya bangunan tertinggi di ibukota (sekarang bukan yah haha) Kini, banyak gedung tinggi menjulang sehingga orang-orang sudah tidak lagi merasa bahwa Monas adalah satu-satunya bangunan yang 'wah' di masa kini.
Pun, segala keresahan yang terjadi di buku Kronik Betawi, sejujurnya menurut saya adalah bagian yang tidak bisa lepas dari kehidupan kebanyakan masyarakat Betawi itu sendiri. Jadi, terima kasih banyak karena sudah mengangkat isu-isu tersebut ke dalam buku. Saya jadu terpacu untuk bisa melestarikan budaya yang kini seperti tergerus oleh zaman.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Kronik Betawi merupakan novel karya Ratih Kumala yang bercerita tentang kemelut kehidupan tiga bersaudara yaitu H. Jaelani yang menuruni pekerjaan mendiang ayahnya menjadi juragan sapi dengan empat anaknya yang beraneka ragam tingkahnya dari yang pemalas dan berandal hingga si bontot yang akhirnya bisa menempuh pendidikan tinggi, meskipun seringkali ikut tawuran. H. Jarkasi yang mendedikasikan diri menjadi seniman gambang kromong meskipun ia tahu bahwa menekuni kesenian tradisional tersebut tidak menjajikan masa depan gemilang.Namun ia cukup berpuas diri dengan menjadi juragan kontrakan dari tanah yang diwarisi bapaknya. Kemudian, ada Juleha yang harus hidup dengan berbagi suami, rela tak rela ia harus menerima suaminya menikahi seorang janda kembang.
Selain menceritakan tentang intrik rumah tangga, novel ini juga menggambarkan bagaimana kehidupan di Jakarta bergeser dan melihat bagaimana orang-orang betawi yang lebih lama mendiami Jakarta justru perlahan harus menepi kepinggiran karena perkembangan arus zaman yang tidak dapat dibendung. Sekilas sy merasa visualisasi dari novel ini seperti film Si Doel, karena dialog yang digunakan penulis memang hampir keseluruhan dengan logat dan dialek betawi. Namun, tetap saja ini novel yang sungguh berlainan dan tidak ada kaitannya dengan film tersebut.
Kisah kejayaan orang Betawi yang akhirnya semakin tergusur ditanahnya sendiri mengingatkan saya akan almarhum kakek, dari Bapak saya yang juga mengalaminya. Kemajuan Jakarta sebagai ibukota memaksa warga aslinya bergerak ke pinggir kota. Tanah-tanah dibeli negara dan swasta. Cerita bahwa pendidikan anak Betawi semacam kisah si Doel adalah benar adanya. Ratih Kumala pun begitu halus menuangkan perputaran waktu ketika tokoh-tokohnya menyusuri waktu di masa lampau. Sedemikian halusnya, sampai saya tahu-tahu terbawa ke era pendudukan Jepang hingga era Indonesia baru merdeka yang di ibukotanya terdapat Tram.
Ah, sebuah kekayaan yang hilang dari tanah Betawi, kekayaan budaya yang kini menjadi cagar budaya di Jagakarsa. Sekali waktu, saya jadi ingin main ke sana. Melihat dari dekat akar saya berasal.
Saya sudah lama berniat mau baca ulang buku ini. Perasaan, dulu pernah baca. Cuma, saya sengaja tahan untuk dibaca di bulan Juni saja, bulan ulang tahun Jakarta.
Nah, saat akhirnya buku ini saya pinjam, baru misteri terkuak. Rupanya saya dulu membaca cerita buku ini saat masih berupa cerbung di koran, makanya banyak lupa2 ingat dengan kisahnya.
Sebagai orang Betawi, saya nggak puas ceritanya berhenti di ujung buku seperti ini.
Sebagai pembaca, saya kecewa pada penyuntingan buku ini. Okelah kalau penulis sebenarnya nggak biasa bicara logat Betawi, jadi campur aduk nggak jelas. Namun selayaknya tim penyunting di penerbit besar ini bisa membantu dengan beberapa fakta sejarah nasional tentang reformasi. Atau karena mungkin memandang buku ini bukan novel sejarah, cukuplah dengan tidak menambah typo.
Buku yang cakep sekali penceritaannya. Tidak semua yang ada disini adalah kisah bahagia, ada perselingkuhan berujung kawin lagi, penipuan, hingga anak-anak yang selebor. Namun semua itu dikemas dalam narasi yang menurut saya.... "feel good". You can't help smiling reading through those pages. Saya menghabiskan sebagian besar proses membaca saat di pesawat maupun kereta komuter dari rumah ke kantor. Semoga penumpang di sekitar saya tidak menganggap saya "nggak beres" karena sambil senyum-senyum baca buku. Highly recommended! Ini sama asyiknya saat saya membaca Gadis Kretek.
awalnya dari segi cerita mungkin bintang 3, tapi karena ada latar belakang budaya yg kuat sekali dan saya senang mempelajari budaya2 indonesia, buku ini jadi nambah nilai bintang deh :D
3,5 / 5 —setengah bintang buat para tokoh perempuan di kisah ini: Ipah, Juleha, Rimah, Salomah, Enoh, Enden, Edah, yang kuat-kuat meski hidup ga selalu baik pada mereka.
"Emang orang Betawi itu tukang kawin ye? Aye kagak setuju kalo ini dibilang tradisi!" Juleha, belum Hajjah.
Tradisi Roti Buaya dalam budaya Betawi. Roti buaya sebagai lambang kesetiaan, pun sengaja dibuat besar-besar. Konon buaya adalah binatang setia, tidak seperti merpati. Buaya hanya hidup dengan satu pasangan seumur hidupnya, sedang merpati jika pasangannya pergi bisa mencari pasangan lain. Entah kenapa dua jenis binatang ini diartikan terbalik. Sebutan buaya darat untuk laki-laki berhidung belang yang doyan cari perempuan. Sedang merpati selalu dilambangkan kesetiaan dengan ungkapan "merpati tak pernah ingkar janji".
Sejarah Etnis Betawi Bukan cuma Belanda yang datang ke Sunda Kelapa. Semua orang dari suku yang berbeda-beda dulu datang ke tanah ini walaupun sempat dijadikan budak para kumpeni. Orang-orang pribumi itu hidup di tanah yang sama, di sini di Batavia. Awalnya mereka berkelompok-kelompok tapi lama-kelamaan, mereka tidak tidak lagi beragam. Nah, orang-orang pribumi yang ada di batavia ini memanggil dirinya orang betawi, yang kemudian dianggap sebagai etnis asli Batavia. Orang Betawi berbicara dengan bahasa sendiri, punya adat istiadat sendiri, yang adatnya merupakan percampuran dari beberapa suku yang awalnya berimigrasi ke Batavia. Misalnya, rumah tradisional Betawi sebenarnya merupakan kombinasi antara arsitektur Bugis, Makasar, Cina, dan Belanda. Selain itu, busana pernikahan untuk pengantin gabungan antara Bali dan Cina. Orang pribumi memang awalnya selalu di posisi sosial terendah. Jadi dulu untuk meningkatkan keberanian melawan, banyak beredar cerita-cerita kepahlawanan jago Betawi yang diceritanya berani melawan tuan tanah. Mungkin karena itu sampai sekarang orang Betawi tidak suka main di belakang. Kalau tidak suka, maju ke depan bawa golok.
Kami keliling kota. Semua serasa dekat, sekarang ujung kota bergeser lebih jauh. Orang-orang sepertinya tidak bisa melihat lahan nganggur. Langsung saja dibangun gedung-gedung. Lahan nganggur itu bagi mereka sama dengan duit. Orang-orang macam saya ini yang kemudian tergusur. Saya merasa ada yang salah di kota ini.morang-orang yang menggusur kami adalah warga pendatang. Kenapa kami sampai bisa dikalahkan oleh warga pendatang? Saya merenung-renung sambil memandang ke atas, ke julang gedung-gedung yang berdiri sombong.
Membaca novel ini seperti mendengarkan cerita oom-ku, yang orang Betawi asli, mengenai kondisi orang Betawi di lingkungan tempat tinggalnya. Bagaimana tanah warisan keluarga dijual sepetak demi sepetak kepada pendatang untuk kebutuhan hidup sehari-hari (baca: makan minum), dan belakangan setelah tanah habis terpaksa kontrak rumah dari pendatang. Bagaimana anak-anak muda yang tidak mau sekolah dan lebih suka cari uang dengan ngojek, itu pun cukup ngojek sehari, lalu seminggu libur. Lho, kok banyakan liburnya? Yah, mereka lebih suka bersantai, yang penting hasil ngojek sehari cukup buat makan seminggu. Dalam novel, kondisi ini diwakili oleh Juned dan Japri, anak-anak Haji Jaelani yang kelakuannya bikin makan hati bapaknya.
Namun tentu saja, kondisi di atas hanya mewakili sebagian anak muda Betawi, sedangkan sebagian yang lain tetap berusaha maju, menyesuaikan diri dengan kebutuhan zaman, kondisi yang dalam novel diwakili oleh Fauzan, anak bungsu Haji Jaelani yang meneruskan pendidiksn hingga S2 ke luar negeri, atau Edah anak perawan Haji Jarkasi yang menjadi anggota kelompok tari GSP dan menjadi duta seni Indonesia di luar negeri. Dalam kehidupan nyata, masih banyak orang seperti oom-ku yang lebih mementingkan pendidikan tinggi bagi anak-anaknya, dan berusaha menanamkan hal yang sama pada keluarga dan lingkungan sekitar, agar anak-anak muda Betawi pada khususnya dan Indonesia pada umumnya tidak berakhir menjadi stereotip Juned-Japri.
Sedianya layak kuberi 3.5 bintang. Tapi dengan pertimbangan typo-typo yang bertebaran, akhirnya kubulatkan ke bawah saja.
buku ini benar benar di luar ekspektasi saya. saya kira buku ini bakal seperti buku humor yang kocak yang khas betawi, kalaupun ada makna di dalamnya tidak begitu mengena. namun ternyata buku ini memiliki sejuta makna! buku ini membawa permasalahan-permasalahan khas betawi dengan ciamik dan menarik. PLUS diselingi budaya betawi yang (menurut saya) sangat menarik!
buku ini membawa masalah-masalah utama para penduduk aseli jakarta ini, antara lain penggusuran lahan akibat 'kemajuan peradaban manusia' sehingga banyak warga betawi yang kehilangan mata pencaharian turun-temurun, kesulitan inkuluturasi budaya betawi kepada para betawi muda, 'budaya' menikah madu, dan juga stereotip bahwa anak betawi ketinggalan jaman, cenderung enggan untuk mengubah keadaan hidupnya ke arah yang lebih baik. dan penulisnya, ratih kumala membawakannya dengan santai, terkesan tidak mikir, tapi toh saya jadi kepikiran.
sebagai orang betawi, saya tercengang membaca buku ini. bagaimanapun, ini adalah fakta yang banyak diketahui orang, namun tidak banyak yang memikirkannya secara serius. dan dengan caranya yang unik, buku ini mengingatkan saya bahwa fenomena tersebut bisa menjadi ancaman, bukan hanya bagi suku betawi, namun juga bagi seluruh suku di Indonesia. (fin)
Asyik buat bacaan santai, menikmati tutur cerita dari jaman belanda sampai jaman betawi asli digusur. Bisa dibilang, buku ini memang menggambarkan lika-liku orang betawi sebagaimana nyatanya.
Menariknya, tokoh-tokoh dalam cerita tak ada yg benar2 bisa ditarik sbg tokoh utama. Masing2 tokoh punya "lahan" tersendiri. Dimulai cerita dari Bung Juned, Haji Jaelani, Haji Jarkasi, dan Juleha.
PoV-nya pun berbeda-beda di tiap babak (bab). Ada kalanya PoV orang ketiga. Ada kalanya PoV orang pertama. PoV orang pertama dibagi lagi menjadi tiga; berdasarkan H.Jaelani, H.Jarkasi, dan Juleha yg merupakan tiga kakak beradik kandung anaknya Bung Juned. Penuturannya jadi lebih enak dan akrab, tapi agak aneh sebenarnya ketika H.Jaelani menggunakan "saya" (bahasa Indonesia baku), dan Juleha menggunakan "aku". Kenapa tak seperti H.Jarkasi saja yg menggunakan "saye" atau "aye".
Dari segi pendalaman karakter, dapet banget lah ini! Alias berasa "feel" tiap2 tokoh. Sayangnya, ending seperti tergesa-gesa dihabiskan, walau solusi masing2 tokoh telah terpenuhi dgn baik.
Saya baca buku yg cetakan ke-2, sayang sekali masih ada beberapa typo yg tak sedikit. Tp ya sudahlah, yg penting ceritanya bisa dinikmati.
Cerita 3 generasi keturunan Betawi dimulai setelah sumpah pemuda sebelum jepang datang. Juned adalah seorang yatim piatu yang bekerja di peternakan sapi tuan Henk sebagai pengantar susu. Suatu hari dalam perjalanan mengantar susu hendak dirampok mendapat pertolongan Jiung yang punya ilmu. Ketika jepang datang tuan Henk kembali ke belanda dan memberikan sapinya ke Juned yang waktu itu sudah menikah dengan Ipah pembantu tuan Henk juga. Mereka mempunyai 3 anak Jaelani yang meneruskan peternakan sapinya, Jakarsi dan Juleha. Sama sperti Juned, Jaelani menikah 2x bedanya Jaelani menikah setelah istrinya meninggal. Dengan istri pertama Rimah, Jaelani mempunyai 3 anak Japri, Juned, Enoh. Salomah istrinya keduanya mempunyai seorang anak Fauzan satu-satunya anak Jaelani yang berhasil lulus sarjana. Jakarsi menikah dengan Enden mempunyai seorang anak sebiji mete Endah yang bercita-cita menjadi penari yang go internasional. Juleha menikah dengan Jiih tidak dikarunia anak bahkan Jiih menikah lagi dengan jande kembang. Meskipun Juleha sakit hati tapi tetap bertahan bahkan menguatkan tetangganya yang suaminya selingkuh.
Banjir itu datang tiba-tiba. Ibarat kentut. Tak bisa ditahan, tapi perginya lama. Meninggalkan jejak.
Ada buku yang kubaca karena tertarik resensinya, ada karena rekomendasi seseorang, ada pula yang karena gambar sampulnya. Buku ini sudah kubaca resensinya, sudah direkomendasikan dan sudah pernah pula kulihat wajah sampulnya, tetapi tetap belum kutertarik untuk membacanya. Sampai suatu ketika sempat kubaca beberapa larik kalimat pembuka di atas. Saat itulah aku ngakak berat, teringat suasana kantor beberapa tahun lalu di kawasan Sunter sehabis banjir besar, berusaha ngeringin komputer pake hand dryer!! Dan alhasil buku ini kubaca non stop habis dalam 3,5 jam minggu malam kemarin.
Buku ini adalah sebuah biografi, bukan biografi seseorang, tapi biografi sesuatu, biografi sebuah kota dengan etnis aslinya yang semakin terpinggirkan. Dituliskan sebagai kronik tiga generasi sebuah keluarga Betawi asli, dengan segala stereotipe dan bantahan terhadapnya. Sebuah potret buram penghuni ibukota yang terseok-seok, namun bagi yang mau, mampu melihat cerahnya langit setelah banjir.
Orang bilang orang Betawi itu ketinggalan jaman, kampungan, nggak berpendidikan, dan berbagai predikat buruk lainnya disandangkan pada orang Betawi. Buku ini menurut saya mampu mematahkan semua pendapat itu. Buku ini menyajikan kisah lika-liku kehidupan masyarakat Betawi dengan segala kebaikan dan keburukannya. Mereka memiliki cara mereka sendiri untuk bisa tetap survive di tengah kerasnya kehidupan di ibukota. Berkat buku ini, saya melihat masyarakat Betawi dalam perspektif yang berbeda.
Satu hal yang saya sayangkan dari buku ini adalah terdapat banyak kesalahan penulisan di dalamnya.
Kronik Betawi ini adalah karya Ratih Kumala pertama yang saya baca. Dan saya dibuat penasaran dengan karya-karya Ratih Kumala yang lain.
Ratih Kumala menggambarkan kehidupan warga Betawi dengan sangat menarik, mengalir apa adanya, dan seakan benar-benar diceritakan oleh masing-masing tokohnya. Saya suka buku ini dan banyak belajar tentang sejarah Jakarta, orang-orang yang tinggal dan hidup di dalamnya, serta kurang lebih memahami perasaan mereka yang kena banjir dan tergusur.
Walaupun bukan porsi utama dari buku ini, namun cerita favorit saya justru adalah kisah Juleha, sampai menitikkan air mata saat membacanya. Mungkin karena saya wanita dan mengerti apa yang dirasakannya. Mungkin kekurangan buku ini hanyalah tokohnya yang terlalu banyak dan konflik yang kurang tajam, namun itu tidak mengurangi rasa salut saya atas cerita yang dipaparkan dengan begitu menariknya oleh penulis.