Tidak setiap pengarang memiliki energi untuk menembus dunia kisah dan misteri sebagaimana yang tertuang dalam novel ini. –Abidah El Khalieqy, pemenang sayembara novel 2003 DKJ dan penulis cerita film Perempuan Berkalung Sorban.
Sannaha terbangun dengan tulang-belulang terasa remuk dan sisa tenaga yang tidak berguna. Di sebuah gua, pinggir hutan misterius, dan ditunggui raja Purandara. Kenyataan membuatnya memaki diri sendiri adalah penjahat berjulukan Elang Merah yang menyelamatkan nyawanya dari keganasan musuh kerajaan nomor satu sekaligus pembunuh guru Sannaha.
Tidak ada kompromi. Sannaha bersedia menukar nyawanya untuk lolos dari gua itu. Meneruskan perjalanan ke istana Surawisesa, lalu kembali ke sarang Yaksapurusa sambil membawa 1.000 prajurit pilihan untuk membalas dendam.
Usaha Sannaha untuk lolos dari Purandara justru mengantarnya kepada ketidakpastian sekaligus bahaya besar. Sang putri mahkota masuk perangkap hutan misterius yang dihuni suku kuno bernama Thabugh. Segala keganjilan manusia ada dalam kehidupan yang terisolasi selama ribuan tahun itu.
Di Thabugh pula Sannaha kemudian justru menemukan mata rantai konspirasi raksasa yang ujungnya berupa makar mematikan yang mengincar tahta kerajaan Sunda. Dalam kepanikan keyakinan yang nyaris runtuh, Sannaha mati-matian berusaha lepas dari kepungan orang-orang Thabhug. Kali ini, kemungkinan itu begitu sempit dan mendekati tiada, meski Sannaha siap menggadaikan jiwanya.
Tasaro (akronim dari namanya, Taufik Saptoto Rohadi, belakangan menambahkan "GK", singkatan dari Gunung Kidul, pada pen-name nya) adalah lulusan jurusan Jurnalistik PPKP UNY, Yogyakarta, berkarier sebagai wartawan Jawa Pos Grup selama lima tahun (2000-2003 di Radar Bogor, 2003-2005 di Radar Bandung). Memutuskan berhenti menjadi wartawan setelah menempati posisi redaktur pelaksana di harian Radar Bandung dan memulai karier sebagai penulis sekaligus editor. Sebagai penyunting naskah, kini Tasaro memegang amanat kepala editor di Salamadani Publishing. Sedangkan sebagai penulis, Tasaro telah menerbitkan buku, dua di antaranya memeroleh penghargaan Adikarya Ikapi dan kategori novel terbaik; Di Serambi Mekkah (2006) dan O, Achilles (2007). Beberapa karya lain yang menjadi yang terbaik tingkat nasional antara lain: Wandu; novel terbaik FLP Award 2005, Mad Man Show; juara cerbung Femina 2006, Bubat (juara skenario Direktorat Film 2006), Kontes Kecantikan, Legalisasi Kemunafikan (penghargaan Menpora 2009), dan Galaksi Kinanthi (Karya Terpuji Anugerah Pena 2009). Cita-cita terbesarnya adalah menghabiskan waktu di rumah; menimang anak dan terus menulis buku.
Menemukan buku ini di lapak buku daring, lalu ingat sepertinya saya belum punya karya Tasaro yang ini.
Secara keseluruhan kisahnya bisa dinikmati, hanya ada "greget" yang kurang. Rasanya serba tanggung. Tapi walau begitu, olah kata seorang Tasaro memang punya nuansa tersendiri.
semula ragu dan menyangka ini mirip2 novel yg bertema jaman majapahit,,, tp kyknya lmyn juga... baru baca beberap halaman. kesan pertama sih kebanyakan deskripsi, terutama scene duel yg lmyn detil, dan juga adanya pemakaian conlang yg cukup menarik untuk bahasa yg digunakan sebuah suku Barbar, masyarakat yg bersentuhan dgn sang tokoh utama.. Lagipula unsur2 lokal terasa kental untuk novel fiksi fantasi yg bersetting dt tanah pasundan kuno ini
Aku baca ini kelas 3 smp! Bahasa yang indah banget, itu jagonya Tasaro GK. Buku ini bawa aku ke zaman duluuu waktu Indonesia dikuasai kerajaan. Makanya abis baca buku ini waktu kelas 2 SMA ada pelajaran sejarah sedikit banyak nyambung ngomongin pitaloka. hehehe sebenernya ini bukunya banget banget semua. tapi aku gak bisa review.
seperti biasanya, tasaro selalu bisa membuat saya penasaran hingga ke lembar terakhir. bersetting kerajaan, tentang dendam, tentang cinta, dan kekuasaan. meski saya kali ini tidak puas dengan endingnya, tetapi inilah ending yang dipilih tasaro...